0 Gereja Waspadalah (6) : PARA PENYESAT Merendahkan Karya Keselamatan Yesus Kristus !

Lalu apakah suara hati yang baik itu?

“Baik” berasal dari kata dalam bahasa Yunani “agathos”. Kata ini biasa digunakan untuk menyatakan   hal yang baik dalam artian memberikan hal-hal yang bermanfaat dalam hal  hasil-hasil dan tindakan-tindakan (Matius 7:11; Efesus 4:29; Roma 8:28); apa yang sehat, memiliki kemampuan, dan berguna serta juga apa  yang benar dan berguna secara moral. Suara hati yang baik, pertama-tama, adalah suara hati yang yang selaras dan benar  secara moral , tetapi juga sehat  atau mampu  berfungsi secara tepat. Hal ini berlawanan dengan sebuah suara hati yang telah terbakar  dan  mengeras (bandingkan dengan 1 Timotius 4:2) atau terkotori oleh sebuah sistem kepercayaan yang berdasarkan  perbuatan yang sia-sia (bandingkan dengan Ibrani 9:14). Suara hati yang baik, berlawanan dengan suara hati yang telah dicemari  atau dirusak, pertentangan-pertentangannya yaitu :

Bacalah lebih dahulu  bagian-bagian sebelumnya :



  1. Hati nurani dengan seperangkat standar-standar biblikal dan norma-noram atau konsep-konsep  tentang yang benar dan salah, suara hati yang telah dibersihkan dari pekerjaan-pekerjaan yang sia-sia (peraturan-peraturan seremonial dan perintah-perintah manusia) dan  sejalan dengan prinsip-prinsip anugerah Firman (bandingkan dengan Ibrani 5:14; 9:14).

  2. Suara hati yang  sensitif dan berfungsi secara tepat bertolak belakang dengan suara hati yang telah mengeras atau menjadi tidak sensitif baik karena perbuatan-perbuatan yang sia-sia ( jangan sentuh ini, jangan makan ini, dan seterusnya) atau karena diabaikan (bandingkan dengan 1 Timotius 4:2)

  3. Suara  hati yang bersih dari rasa bersalah dengan  berpegang pada  penuntun yang Tuhan berikan, misal dengan segera mengakui dosa, yang membersihkan suara hati (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 24:16; 1 Timotius 3:9)

  4. Hati nurani yang hidup menimbang dan menyetujui hanya pada pikiran-pikiran, tujuan-tujuan, motif-motif, kata-kata dan tindakan  dari hati yang selaras dengan prinsip-prinsip anugerah dan tujuan besar  yang berasal dari instruksi biblikal, yaitu kasih, perbuatan-perbuatan yang biak atau pelayanan dan karakter yang  meneladani Kristus.

Jadi, Titus 1:15 mendemonstrasikan bahwa kemurnian yang sejati tidak terletak pada pelaksanaan peraturan-peraturan dan ritual-ritual eksternal, tetapi pada kemurnian (kekudusan) batiniah hati yang telah dibersihkan dan diperbarui melalui  memercayai pribadi dan karya Kristus sebagai sebuah bagian yang telah selesai dan lengkap  bagi keselamatan kita (bandingkan dengan Ibrani 9:13-14). Hal inilah yang akan memimpin kepada kebenaran moral dan karakter hidup dan kapasitas untuk membedakan apa yang sesungguhnya baik dan jahat ( Ibrani 5:14). Jadi, obsesi menyimpang: kemurnian eksternal tumbuh dari  sebuah kegagalan untuk diam didalam  kecukupan karya Kristus yang telah tuntas. Dari sinilah mereka memutuskan/memisahkan diri mereka sendiri dari Dia yang dapat membersihkan dan memberi kuasa kepada mereka untuk hidup dalam kehidupan yang telah diberikan Kristus.


Pada Titus 1:16 Paulus memberikan  rangkuman  praktis dan tajam atas hal ini dalam kaitannya dengan guru-guru palsu

Pengakuan Mereka : “Mereka mengaku mengenal Allah.” Rasul Paulus membuat hal ini menjadi  cenderung empatik dengan susunan kata. Secara harfiah, “Tuhan, mereka mengaku mengenalinya.” Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, ini tidak berarti bahwa guru-guru palsu tidaklah mesti  bukan orang-orang percaya.

Salah satu dari banyak masalah yang dihadapi oleh gereja sejak semula adalah bahwa mereka yang telah datang kepada Kristus, selanjutnya berupaya  menambahkan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan Judaisme kedalam  kabar Anugerah. Inilah masalah yang dihadapi oleh Paulus dalam  Galatia (bandingkan dengan 3:1 dan seterusnya; 5:1-2,6,11; 6:15) dan yang dihadapi oleh gereja mula-mula (Kisah Para Rasul 10:45; 15:1 dan seterusnya, catatan khsusus pada ayat 5).

Jadi , untuk  “mengaku mengenal Allah” dapat bermakna: semata mengenal Dia sebagai  Juru selamat ( bandingkan 1 Tesalonika 1:8), tetapi maknanya dapat juga menjadi: sebuah pengakuan mengenal dia lebih dalam dan lebih intim dengan cara menjalankan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang mereka upayakan untuk diberlakukan kepada orang lain. Istilah dalam bahasa  Yunani untuk “mengenal” dalam ayat ini adalah “oida” yang dapat bermakna “menjadi teman sekerja (secara intim), dalam hubungan yang dekat “ (bandingkan dengan Matius 26:72, 74; Yohanes 7:28).77 Walaupun kata  “ginosko” bermakna “mengenal, mengenal cukup lama, mengenal dengan sangat akrab,” digunakan, konsep ini  jelas ada dalam sudut pandang jawaban Juru selamata kepada Filipus. Yesus tidak sedang mempertanyakan apakah Filipus mengenali Yesus sepenuhnya atau Juru selamatnya. Sebaliknya, Yesus sedang menanyai kedalaman pengetahuannya terhadap diri Yesus.

Hal-hal ini tidaklah berubah. Kita sedang melihat hal yang sama pada hari ini. Beberapa mengklaim memiliki pengalaman yang lebih  dalam atau memiliki pengetahuan yang lebih dalam karena  mereka tetap menjalankan pantangan-pantangan atau mereka berbahasa lidah, bersikukuh bahwa siapapun yang  ingin menjadi sungguh-sungguh rohani harus melakukan hal yang sama.

Tindak-Tanduk mereka :” tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia.” Menyangkal berasal dari kata arneomai (yun), yang bermakna, “menolak, mengabaikan, menolak untuk mengakui atau menerima, menolak otoritas.” Tetapi penyangkalan dapat memanifestasikan  wujudnya dalam berbagai cara. Ini dapat bermakna menentang mengenali sesuatu seperti menyangkal bahwa Yesus adalah inkarnasi Kristus ( 1 Yoh 2:22) atau ini dapat diterapkan untuk kegagalan orang percaya untuk memedulikan hal ini demi  dirinya sendiri, sebuah perilaku yang  tidak konsisten dengan mereka yang berjalan dalam persekutuan dengan Juru selamat ( 1 Tim 5:8).

Pada umumnya,…arneomai berarti mengundurkan diri dari hubungan sebelumnya dengan dia menjadi tidak setia. Ini adalah makna pada  penyangkalan Petrus (Markus 14:30, 68,70). Lawan  untuk penyangkalan ini adalah “memegang teguh” (Wahyu 2:13), atau “menjadi setia ( Wahyu 2:10). Digunakan secara absolut, arneomai dapat bermakna melepaskan diri dari persekutuan dengan Yesus Kristus ( 2 Timotius 2:12).

Dengan kata lain, guru palsu ini, jika sungguh-sungguh diselamatkan, telah tegelincir kembali kedalam peraturan-peraturan manusia  atau legalisme dan telah terlepas dari anugerah jalan hidup atau hubungan anugerah sebelumnya yang dahulu dimilikinya bersama Tuhan ketika ia pertama kali  menerima Yesus.

Ketika seorang percaya hidup didalam  terang, kuasa, dan kemerdekaan yang berasal dari anugerah Tuhan, dia baik pria dan perempuan memiliki kuasa untuk menolak hal-hal yang tidak saleh sebagai bagian dari kehidupannya (bandingkan dengan Titus 2:12). Tetapi untuk seseorang  berpaling dari  kehendak anugerah, dalam derajat tertentu, membawa kepada sebuah kehidupan yang menyangkali Dia dengan  tindakan-tindakan yang hanya memberikan sedikit atau tanpa bukti adanya persekutuan atau Roh yang memberikan kekuatan untuk berjalan bersama dengan Tuhan. 

Sebuah kebenaran penting dalam Perjanjian Baru adalah : salah satu dari hasil-hasil dari berpaling  dari konsep anugerah-bahkan sebagai orang-orang percaya—tindakan ini membuat kita berada didalam kendali kedagingan atau pola-pola dominan  dalam kehidupan kita. Hal ini ditekankan oleh Paulus dalam Kolose 2:23 dan Galatia 5:1-5. Dengan kata lain, menambahkan sistem-sistem yang berdasar pada upaya-upaya manusia untuk keselamatan atau penyucian bermakna bahwa keuntungan-keuntungan yang ada pada posisi baru kita didalam Kristus  menjadi tidak lagi beroperasi selama semangat legalisme itu ada. Ini mengarah pada sebuah revisi injil yang berarti kita telah terlepas dari cara hidup dalam anugerah kedalam kesia-sian hidup  yang berada dibawah kuasa kedagingan (bandingkan dengan Galatia 5:1-5 dengan 16-26).

Jadi bagaimana mereka menyangkal Dia?  Hal ini dijelaskan dalam kalimat berikut ini yang menunjukan kondisi mereka yang sebenarnya. Terlepas dari anugerah, jatuh kedalam legalisme adalah sebuah hal yang mengerikan karena apa yang sedang terjadi, tidak hanya terhadap orang  yang telah sedemikian jatuhnya, tetapi karena apa yang dilakukan oleh kejatuhan itu terhadap  berita anugerah kemuliaan Tuhan   dan kepada orang lain. Jadi dalam menggambarkan kondisi mereka. Paulus memiliki beberapa kata-kata yang kuat.

Bersambung ke Bagian 7
Study By: J. Hampton Keathley, III | Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"