F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

0 Dari Debu Kembali Ke Debu



Kematian Dalam Pandangan Biblikal
Oleh: Wayne Jackson
Christian Courier
 

A intense haboob/dust storm hits parts of Arizona on July 9, 2018 (Photo: Mike Olbinski)
Pengantar
Ketika penulis Mazmur berseru nyaring “Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku. Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku” (Mazmur 55:4-5), ia mengekspresikan apa yang menjadi emosi berkecamuk pada begitu banyak orang yang sedang menghadapi momen-momen atau detik-detik kematian.

Bildad, sahabat Ayub, mengkarakteristikan kematian sebagai “raja kedahsyatan (atau terror-teror)” (Ayub 18:14). Dan penulis Surat Ibrani membicarakan mereka “yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibrani 2:15).

Walau hanya segelintir dari kita yang  mencapai sebuah kedewasaan iman sehingga memiliki ketenangan jiwa sebagaimana Paulus, sehingga mampu bersama-sama dengan Paulus berkata bahwa kita ingin pergi (mati, maksudnya, baca Filipi 1:22-23),namun secara pasti pencerahan kebenaran Perjanjian Baru menolong kita untuk menghadapi misteri-misteri kematian dengan roh-roh yang lebih tenang.

Apakah pandangan biblikal mengenai kematian?

0 Kematian Dalam Refleksi Mengenang Para Terkasih Yang Telah Mendahului Kita

Bagaimana Iman  Menghadapi Kematian

Oleh: Admin bible.org


1.Iman Menghadapi Kematian Secara Gamblang
Ibrani bab 11 kerap dirujuk sebagai “Monumen Iman”. Merupakan sebuah risalah iman banyak karakter yang  digambarkan dalam Perjanjian Lama. Sementara kita menemukan kata “iman” begitu sering dalam bab 11 tersebut, ada kata lain yang ditemukan berdampingan dengan iman-kata itu adalah kematian. Sementara setiap orang dari anggota-anggota  “Monumen Iman” tersebut memiliki iman, setiap dari mereka telah meninggal dunia tanpa menerima janji-janji yang mereka percayai dan bertindak di atas janji-janji tersebut dalam hidup mereka. Kita melihat, kemudian, iman biblikal adalah iman yang menghadapi kematian secara gamblang atau  secara langsung, memang, iman memandang melampaui kematian. Jika orang-orang berkata,”Dimana ada hidup, di sana ada harapan”,pria dan perempuan iman dapat berkata,”Dimana ada kematian, di sana ada harapan”. Karena iman adalah dasar bagi harapan dibalik kematian itu sendiri.

2.Iman Memperlakukan Kematian Secara Serius
Iman tidak berurusan dengan kematian dengan cara meminimalkannya, kematian berurusan dengan dosa sebagai sebuah soal yang sangat serius. Iman tidak memperlakukan kematian dalam sebuah candaan atau gurauan yang seperti apapun juga, sebuah kubur adalah soal serius. 

0 Ketika Tuhan Menuliskan Obituarimu (1)



Tulisan Allah Mengenai Kematian Nabi Musa:
Apakah  Yang Engkau Inginkan Untuk Allah Tuliskan Mengenai Hidup Hingga Pada Hari Kematianmu?
(Ulangan 34:1-12)
Oleh: Steven J.Cole, Th.M


Pengantar
Tetapi pertanyaan  pentingnya  bukan pada bagaimana anda menginginkan keluarga dan sahabat-sahabatmu akan mengenangmu, tetapi ini: “apakah yang akan Allah katakan jika Ia menuliskan obituarimu?” Dalam teks kita, kita membaca obituary yang dituliskan Allah mengenai Musa. Teks ini telah ditambahkan pada waktu setelah kematiannya: (Ulangan 34:10 “Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel”.). Namun  kita tahu bahwa Allah telah menuliskan obituary ini mengenai nabi besar  itu. Pelajarannya bagi saya dan anda:

Karena kita semua akan berdiri dihadapan Allah, kita harus hidup dengan obituari-Nya bagi hidup kita secara konstan dalam memandang hidup ini

Apakah maksudnya dengan kita harus hidup dengan obituary-Nya? Apakah benar Ia ada menuliskan obituari-Nya bagi setiap orang tebusan-Nya? Jawabnya: YA. Dan inilah obituari-Nya:

Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu- Matius 25:21

Akankah Ia menganggukan kepala-Nya dan berkata,” Pekerjaanmu hangus dalam perapian, tetapi oleh anugerah-Ku, masuklah kedalam sorga”:

Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.- 1Korintus 3:15

Atau, akankah Ia mengatakan kata-kata menggentarkan ini:
Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"- Matius 7:23

Obituari Allah mengenai Musa Mengajarkan kita beberapa poin penting bagi kita semua:

0 Pelajaran Hidup Yang Sukar (2)



Integritas Vs Jiwa Terpecah:
Andaikata Pendetamu
Keturunan Ular?
Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang- 2Korintus 11:15

Oleh: Martin Simamora


Lebih Besar Dari Sekedar Keselarasan
Integritas, mengacu pada KKBI, adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Dengan kata lain integritas adalah keseluruhan karakter seorang pribadi, bukan parsialnya sehingga tidak ada fraksi-fraksinya atau pecahan-pecahannya. Ketika  Yesus Kristus  mengangkat isu integritas, ia tidak secara khusus menyebutkan kata tersebut namun langsung pada jantungnya atau natur alami yang seharusnya dimiliki oleh seorang manusia. Perhatikan ini:

Matius 23:2-3 Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Pada teks di atas, kita menemukan sebuah fraksi atau pecahan pada karakter para ahli Taurat dan orang-orang farisi yaitu fraksi atau pecahan karakter yang terpecah antara apa yang mereka ajarkan atau perkatakan versus apa yang mereka perbuatan. Satu sisi mereka mengajarkan jangan begitu, jangan begini dan harus begitu sebagaimana juga harus begitu tetapi perbuatan pada diri mereka sendiri menunjukan sebuah keterpecahan karakter yang dijumpai pada perkataan dan perbuatan mereka, yang  oleh Yesus dikatakan: turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Secara cepat kita dapat mengatakan bahwa Yesus menghendaki sebuah kesatuan karakter dalam sebuah totalitas jiwa seorang manusia: apa yang terdapat dalam diri seseorang akan Nampak pada luar diri seseorang, itulah integritas. Jika sebaliknya, maka integritas seseorang dalam bahaya yang sangat serius dan menghancurkan dirinya sendiri sehingga sangat mungkin perkataan-perkataannya sangat bernilai untuk dituruti, tetapi tidak pada perbuatannya: turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Ini bukan sebuah situasi yang baik pada sisi apapun juga sebab tanpa teladan, kebenaran yang diajarkan tidak dapat memberikan perubahan karakter yang sesungguhnya. Tak heran salah satu kecaman  terhadap para pemimpin agama ini sangat mencengangkan:

0 Pelajaran Hidup yang Sukar


Oleh: Martin Simamora


Belajar Mencukupkan Diri Dalam Segala Keadaan


Pengejaran- Pengejaran yangTak Pernah Titik
Mari pertama-tama saya ajukan terlebih dahulu konteksnya agar tak disalahmengerti sebagai ketakproduktifan dan cepat berpuas diri. Dunia ini pada segala aspeknya tak akan selalu membahagiakan dan karena itu juga tidak akan selalu menyengsarakan. Kalau memperhatikan pernyataan demikian, seolah manusia memiliki semacam titik-titik ekuilibriumnya masing-masing yang merupakan titik-titik kepuasan atau ketercukupan hidup teroptimalnya yang khas. Tetapi faktanya tidak. Banyak hal, manusia ketika masih belum memiliki  hal-hal yang diinginkan dalam daftar keinginannya, beranggapan andaikata hal tersebut bisa didapatkannya, maka itu akan menjadi kebahagiaannya atau kepuasannya. Pada satu sisi lainnya, ada manusia ketika masih dalam situasi-situasi hidup yang tidak membahagiakan, menyedihkan hingga menyengsarakan, berpengharapan dengan sejumlah daftar apa-apa yang dianggapnya sebagai penyebab kesusahan hidupnya telah menyangka jika saja daftar itu dapat dihilangkan, maka ia akan menjadi bahagia dan memiliki kepuasan hidup yang diimpikannya. Pada faktanya, kedua hal tersebut tidak pernah terwujud sesederhana itu.

Kepuasan diri dan kepuasan hidup, pada faktanya, dapat menjadi sebuah pengejaran hidup yang tak dapat didefinisikan sendiri oleh manusia itu. Mengapa? Karena pengejaran itu berangkat dari apa yang kita sangka sebab bahkan jiwa kita sendiri tak pernah bisa mensubstansikannya sedemikian rupa sehingga menggenapkan jiwa yang bergelora. Ya begitulah kita…kita mengejar apa yang kita sangka atau pikir akan membuat kita bahagia hanya untuk mendapatkan dirinya tetap saja tidak seberbahagia sangkanya, kita dengan demikian mendapatkan diri ini lebih berbahagia sebelum saya dan anda memulai pengejaran-pengejaran semacam itu.

0 Sihir Moderen (1)


Itu Mungkin Tidak Seperti yang Anda Sangkakan

Oleh: Pendeta Prof. Emeritus Richard G. Howe Ph.D


ulster.ac.uk:

SINOPSIS
Terminologi witchcraft atau sihir memunculkan bermacam-macam citra pada berbagai orang. Banyak orang dari dunia Barat akan dikagetkan mengetahui bahwa semakin dan semakin mereka lebih kontemporer, mereka sedang menganut sihir sebagai sebuah ekspresi yang tersedia bagi spiritualitas diri mereka sendiri. Namun demikian, pada sisi marginal atau terjauhnya sihir adalah seperti telah diketahui pada dunia masa lampau, adalah jelas bahwa sihir sedang menjadi lebih mainstream atau lebih diterima sebagai normal secara progresif di seluruh dunia.

Para penyihir adalah orang yang menghormati Tuhan atau dewa-dewa. Mereka mengupayakan sebuah hubungan yang lebih bersahabat dengan lingkungan alami mereka, mengejar seoptimal mungkin untuk mengenali kesakralan semua alam. Penyihir, lebih lanjut, berupaya mendayagunakan kekuatan-kekuatan kosmik dan psikik untuk melakukan perintahnya. Pada akhirnya, praktik sihir melibatkan pengetahuan dan keahlian dalam melaksanakan keyakinan-keyakinan yang dimilikinya melalui ritual-ritual yang dipercayai untuk mengikat sehingga dalam kendalinya dan memfokuskan energi-energi tersebut. Memandang mereka dalam sebuah kontras tajam dengan agama-agama okultik lainnya seperti Satanisme, para penyihir berupaya untuk mengelola kekuatan-kekuatan tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan pengalaman hidup mereka dan untuk mempromosikan kesembuhan dan komunitas.

Apakah ritual-ritual ini bekerja? Apakah ini bahkan pertanyaan penting untuk ditanyakan? Apakah yang mungkin  salah dengan semacam agama ini yang menampilkan kebaikan-kebaikan dalam perbuatan-perbuatannya? Sihir memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai siapakah kita sebagai manusia-manusia, mengenai apakah hubungan kita dengan sesama kita manusia dan dengan alam semesta seharusnya, dan tentang bagaimana kita seharusnya berelasi dengan Yang Ilahi. Beberapa orang Kristen mungkin dikejutkan mendapati perbandingan-perbandingan dan kontras-kontras yang dapat ditarik dari sihir dalam Kekristenan mereka sendiri.

0 Ayub Dalam Upayanya Mencari Tuhan Namun Tak Ditemukannya, Berkata:



Karena Ia Tahu Hidupku

“kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia.”
 Oleh: Martin Simamora


Rahasia Berkat Kehidupan Ayub Dalam Kemakmuran dan Dalam Kesengsaraan
Ayub dalam penderitaanya yang begitu panjang dan maha kompleks menunjukan posisi kehidupan rohaninya yang kokoh:

Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.- Ayub 23:11-12

Apa yang memampukan Ayub bertahan dan tetap terpelihara secara baik imannya kepada Tuhan adalah ia telah dipandu atau dituntun oleh firman-Nya: perintah bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya. Surat Yakobus mengenai Ayub menuliskan begini bagi kita semua:

Yakobus 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Sumber kekuatan Ayub untuk bertekun bukan terletak pada kekuatan jiwanya tetapi adalah ini, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Ayub:

Ayub 23:8-10 Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia. Karena Ia tahu jalan hidupku.

0 Menyambut Masa Tua, Walau Kini Masih Muda, Sehat & Gagah (2 selesai)



Oleh:Robert Morgan

Menjadi Tua Penuh Kasih Karunia:
Usia Tua Kita Pada Dasarnya adalah Puncak atau Klimaks Penutup Menara yang Telah Kita Dirikan Sepanjang Kehidupan Kita
Twin Tower WTC Construction-wirednewyork

Seseorang pernah berkata begini,”Semakin anda menjadi lebih tua, semakin anda menjadi seperti tempat yang akan anda tuju.” Dr. Paul Tournier mengungkapnya dalam cara yang lebih lunak. “Karakteristik-karakteristik dasar individual akan meningkat dan menguat seiring usia,” ujarnya.

Usia tua kita pada dasarnya adalah puncak atau klimaks penutup menara yang telah kita dirikan sepanjang kehidupan kita. Menara Salomo telah cacat oleh kecerobohan rohani dan berkompromi. Salomo terlalu sibuk dengan emas dan perempuan-perempuannya untuk mampu memberikan perhatian kepada Tuhannya. Salomo telah mendapatkan seluruh dunia, dan kehilangan jiwanya. Andrew Bonar, seorang tokoh besar Kristen, kerap mengingat kata-kata ayahnya untuknya: Andrew! Berdoalah agar kita dapat senantiasa berpakaian baik hingga kesudahan!

0 Menyambut Masa Tua, Walau Kini Masih Muda, Sehat & Gagah (1)



Oleh:Robert Morgan

Menjadi Tua Penuh Kasih Karunia: Lubang-Lubang Di Sepanjang Jalan yang Dilalui
Takut akan TUHAN itu suci,
tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
lebih indah dari pada emas,
bahkan dari pada banyak emas tua;
dan lebih manis dari pada madu,
bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu,
dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.- Mazmur 19:9-11

Menjadi tua penuh kasih karunia adalah tesis yang hendak menyatakan bahwa hari-hari terbaik orang Kristen adalah selalu atau senantiasa berada di hadapan- Nya. Tubuhku boleh saja menua, itu pasti, mengalami keausan dan kemerosotan, tetapi hanya untuk dibangkitkan pada satu hari yang sedang mendekat segera dalam kemuliaan. Sementara roh-roh kita bertumbuh semakin muda dan semakin  lebih kuat. 2Korintus 4:16 berkata bagi kita, “karena itu jangan kehilangan semangat. Walaupun secara tubuh fisik kita sedang semakin kehilangan daya dukung kehidupannya, namun tubuh rohani kita sedang diperbarui dari hari ke hari.” Dan Amsal4:18 berkata bagi kita “jalan orang benar berjalan seperti matahari terbit, semakin lebih cerah dan lebih cerah…” (TEV).

Mazmur 92 berkata “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.”

Dan dalam Yesaya 46, Tuhan berjanji “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Kita sedang diberikan contoh-contoh dalam Alkitab orang-orang yang tetap bersinar dan kokoh dalam usia-usia emas mereka, mendapati mereka dalam tahun-tahun paling akhir hidup mereka dalam keadaan yang paling produktif bagi kerajaan Allah. Kita memiliki teladan orang-orang seperti Kaleb dalam Perjanjian Lama; dan dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus yang memiliki hari-hari akhir kehidupannya telah didapati sebagai orang yang tak dapat ditindas, pekerja keras, meluangkan banyak sekali waktu untuk belajar, membaca dan menulis, dan bermurah hati. Tetapi ada satu nas mengenai menjadi tua dalam Alkitab yang kelihatannya melampaui semua yang lainnya. Saya telah menemukan satu bab dalam Alkitab yang menggambarkan proses menjadi tua dalam terminologi-terminologi yang sangat melankolik dan sangat mengerikan. Dengarkanlah cara Pengkhotbah12 menggambarkan proses menjadi  tua:

0 Kehendak Allah (2 selesai)


Oleh:P.A.

Pemikiran-Pemikiran Mengenai Kehendak Allah
Peran Doa
Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius6:10). Dan pada malam sebelum dia disalibkan dan mengalami kesengsaraan yang sangat menyiksanya (berada di pusat kehendak Allah tidak berarti kita kebal terhadap kesengsaraan!) dan doa yang tidak mempedulikan dirinya sendiri “tetapi BUKAN KEHENDAKKU tetapi KEHENDAKMU jadilah” (Lukas 22:42, bandingkan dengan Yoh4:34).

Jika kita mau melakukan KEHENDAK ALLAH  secara benar, marilah kita bersedia mengupayakan diri ini menyangkal diri sendiri. Kecuali kita menyangkal diri sendiri, kita tidak akan pernah melakukan kehendak Allah. Kehendak-Nya dan kehendak kita seperti angin dan ombak ketika mereka saling bertolak belakang. Dan tentu saja, Yesus akan membenarkannya “Aku selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan (kehendak Bapa-Nya) bagi Dia (Yoh8:29). Dan juga bila diantara kita ada yang kekurangan hikmat sehubungan dengan apa yang harus dilakukan dalam situasi yang sukar, Yakobus menginstruksikan kita untuk meminta kepada Allah, percaya bahwa Ia akan secara murah hati memberikan kita hikmat (Yakobus1:2-7). Kita juga harus meminta kepada Allah agar kita DIPENUHI DENGAN (dikontrol oleh) pengetahuan KEHENDAK ALLAH dala segala hikmat dan pengertian rohani, sehingga kita dapat berjalan dalam sebuah sikap memuliakan Tuhan, menyenangkan-Nya dalam setiap aspek, menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan baik dan meningkat dalam pengetahuan akan Tuhan” (Kolose 1:9-10).

Kita juga dapat berdoa sebagaimana Daud telah berdoa kepada Allah untuk mengajarkan kita untuk melakukan kehendak-Nya dan membiarkan Roh-Nya menuntun kita (Maz143:10)

0 Kehendak Allah (1)



Oleh:P.A.

Pemikiran-Pemikiran Mengenai Kehendak Allah


Peringatan:
Artikel ini hanyalah sebuah keping kecil atau sebuah ringkasan sederhana dari kebenaran-kebenaran mengenai topik yang sangat mengemuka  KEHENDAK ALLAH, tetapi diharapkan akan memberikan kepada saya dan anda sejumlah pedoman umum.

Pertama, kita harus membedakan antara KEHENDAK TERSEMBUNYI (RAHASIA) Allah dan KEHENDAK YANG TELAH DISINGKAPKAN Allah yang hanya dapat diketahui dalam restrospeksi (memandang kembali apa yang TELAH terjadi-bukan apa yang sedang dan apa yang akan terjadi) karena “hal-hal rahasia milik Tuhan”:

Ulangan 29:29 Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."

Mengingat bahwa Yusuf tidak memahami kehendak “rahasia atau tersembunyi” Allah dalam hidupnya sampai nanti ketika ia meninjau kembali ke belakang atas berbagai peristiwa hidupnya dan Roh telah menyingkapkan kepadanya bahwa ia dapat dengan penuh keyakinan berkata kepada saudara-saudaranya:

0 Konsili Nicea (2)


Apa Sebenarnya yang Terjadi Di Nicea

Kanon #6
Sementara kredo konsili merupakan pencapaian sentralnya, tetapi bukan satu-satunya hal yang telah diselesaikan oleh bishop-bishop selama pertemuan mereka. Dua puluh kanon telah dipersembahkan yang berkaitan dengan berbagai bidang persoalan dalam gereja. Apa yang paling menarik bagi kita masa kini, adalah kanon yang  berbunyi sebagai berikut:

Biarlah kebiasaan-kebiasaan khas setempat yang sudah ada sejak purba di Mesir, Libya, dan Pentapolis tetap berlangsung terus, bahwa Bishop Aleksandria memiliki juridiksi dalam semua hal tersebut, sebagaimana juga merupakan kebiasaan khas setempat bagi Bishop Roma. Sebagaimana di Antiokia dan provinsi-provinsi lainnya, biarlah gereja tetap mempertahankan keistimewaan-keistimewaan mereka[1]

Kanon ini signifikan karena ini medemonstrasikan bahwa pada saat itu tidak ada konsep sebuah kepala tunggal universal gereja dengan yuridiksi atas setiap orang lainnya. Sementara nanti bishop-bishop Roma akan mengklaim otoritas semacam ini, mencuat dalam perkembangan kepausan, pada saat itu tidak ada Kristen yang mengacu pada satu individual, atau gereja, sebagai otoritas final. Ini penting karena kerap kita mendengar tuduhan bahwa Tritunggal, atau pendefinisian Nicea akan ketuhanan Kristus, adalah sebuah konsep “Roma Katholik” “telah dipaksakan” pada gereja oleh Paus. Fakta sederhana atas soal ini adalah, ketika bishop-bishop berkumpul di Nicea mereka tidak mengakui bishop Roma sebagai apapun lebih dari pemimpin gereja paling berpengaruh di Barat[2]


Konsekuensi-Konsekuensi Sesudah Konsili
Orang-orang Kristen moderen kerap memiliki impresi bahwa konsili-konsili purba telah memiliki daya hapus masalah secara absolut, dan ketika mereka telah  membuat “keputusan,” kontroversi berakhir. Ini tidak benar.  Walau Nicea dipandang sebagai salah satu konsili teragung, konsili harus berjuang keras untuk penerimaan. Basis atau pondasi kemenangan finalnya bukan kuasa politik, juga bukan pengesahan agama mapan. Ada satu alasan pendefinisian Nicea bertahan dan berlangsung hingga kini: ketakcemaran dan kesetiaannya kepada kesaksian Kitab suci.

0 KONSILI NICEA (1)


Oleh: James White, Ph.D

Apa Sebenarnya yang Terjadi Di Nicea


Sekilas Pandang
Konsili Nicea kerap disalahpahami oleh bidat-bidat dan gerakan-gerakan religius lainnya. Kepedulian utama konsili tersebut secara jelas dan gamblang adalah relasi antara Bapa dan Putera, apakah Kristus adalah sebuah ciptaan, atau Allah sejati? Konsili tersebut telah menyatakan bahwa Ia adalah Allah sejati. Akan tetapi, para penentang ketuhanan Kristus tak begitu saja mengakui keputusan konsili. Faktanya, mereka hampir berhasil menggulingkan afirmasi pengakuan iman Nicea atas ketuhanan Kristus. Tetapi orang-orang Kristen yang setia seperti Athanasius tetap terus mempertahankan kebenaran, dan pada akhirnya, kebenaran menaklukan kekeliruan.

Pembicaraan dengan cepat menajam. “Kamu tidak bisa sungguh-sungguh percaya Alkitab,” ujar seorang Latter-day Saints kenalanku, “karena kamu tidak benar-benar tahu kitab-kitab apa yang mencakupnya. Kamu tahu, segerombolan orang berkumpul dan telah memutuskan kanon kitab suci di Konsili Nicea, memilih sejumlah kitab-kitab, menolak yang lain-lainnya.” Beberapa lainnya mendengarkan percakapan di South Gate of the Mormon di Salt Lake City, itu adalah Sidang Umum LDS, dan saya kembali mendengar bahwa Konsili Nicea telah dihadirkan sebagai titik sejarah sesuatu “yang salah telah terjadi”, dimana sejumlah kelompok tanpa nama, tanpa muka “telah memutuskan” bagiku apa yang seharusnya dipercayai. Saya segera mengoreksinya mengenai Nicea-tidak ada satupun yang telah diputuskan, atau dikatakan, mengenai kanon kitab suci pada konsili tersebut.[1]

Saya telah diingatkan betapa sering frasa “Konsili Nicea” digunakan sebagai penudingan oleh mereka yang menolak iman Kristen. Para pengusung New Age kerap menuduh konsili tersebut telah membuang ajaran reinkarnasi dari Alkitab.[2] Dan tentu saja Saksi-Saksi Yehovah dan kritik-kritik ketuhanan Kristus juga ditudingkan pada konsili tersebut sebagai ‘permulaan tritunggal’ atau pertama kali ketuhanan Kristus telah dinyatakaan sebagai ajaran orthodoks.” Pihak-pihak lainnya melihat Konsili Nicea sebagai permulaan penyatuan gereja dan Negara dengan menyorot partisipasi Kekaisaran Roma, Konstantin. Beberapa bahkan berkata, konsili ini adalah permulaan gereja Roma Katholik.

0 Perspektif: Dosa dan Penderitaan (2)


Oleh: Martin Simamora

Ketika Allah Melakukan Perhitungan-Perhitungan Di Muka Bumi Sekarang Ini: Akankah Ia Akan Mengutarakan-Nya Secara Terus Terang?


Embed from Getty Images



Allah Melakukan Perhitungan-Perhitungan Di Muka Bumi
Sebagai Allah yang berdaulat, Ia melaksanakan kebenaran, kekudusan dan keadilan-Nya memerintah secara sempurna tak bercela. Secara sempurna dan tak bercela di sini, maksudnya, bahkan Ia tak memerlukan pertimbangan makhluk-makhluk ciptaan dimanapun juga untuk mendasarkan keputusan-keputusan-Nya apapun juga, walau dalam indra-indra manusia sangat mungkin janggal dan menggelikan. Ketika Ia mengadakan perhitungan-perhitungan dalam kaitan memerintahnya kebenaran, kekudusan dan keadilan-Nya maka memang satu-satunya pertimbangan adalah IA sendiri dan hanya bagi diri-Nya sendiri. Sehingga tak mengherankan kalau eksekusi perhitungan-perhitungan Allah melawan beragam wujud dosa/penyimpangan bisa menjadi keterkejutan bagi manusia bahkan sekalipun Ia memutuskan untuk mengungkapkan maksud-Nya untuk melaksanakan atau mengeksekusi perhitungan-perhitungan di muka bumi ini. Dalam beberapa kasus, Allah memang menyingkapkan maksud-Nya dalam melakukan perhitungan-perhitungan-Nya perhatikan sejumlah peristiwa berikut ini:

▬Kepada Abraham: Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?- Kej 18:17

▬Kepada Nuh: Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

▬Kepada Musa: Dan TUHAN berfirman: "Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat. Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi.-Keluaran 3:19-20

▬Kepada Yesaya: Turunlah dan duduklah di atas debu, hai anak dara, puteri Babel! Duduklah di tanah dengan tidak bertakhta, hai puteri Kasdim! Sebab engkau tidak akan disebutkan lagi manis dan genit. Ambillah batu kilangan dan gilinglah tepung, bukalah kerudungmu; angkatlah sarungmu, singkapkanlah paha, seberangilah sungai-sungai! Biarlah auratmu tersingkap dan aibmu kelihatan! Aku akan mengadakan pembalasan dan tidak menyayangkan seorangpun, kata Penebus kami, TUHAN semesta alam nama-Nya, Yang Mahakudus, Allah Israel.- Yesaya 47:1-4

Dan seterusnya anda akan menemukan pola-pola semacam ini dalam Alkitab, bahwa Allah melakukan perhitungan-perhitungan di muka bumi ini.


Pada hakekatnya, sebagaimana telah saya kemukakan, bahwa secara umum (Karena ada pengecualian bagi Ayub dan Yesus pada ketiadaan relasi penderitaan terhadap dosa sebagai konsekuensi ) penderitaan atau kesengsaraan manusia sebagai individu hingga sebagai bangsa, berakar dari dosa. Celakanya lagi, dalam kemajuan zaman, dosa-dosa pun merevolusi jiwa manusia sedemikian rupa sehingga telah menakarnya bukan dosa, tetapi setidak-tidaknya tidak baik atau kurang baik dan setingginya kurang bermoral atau tak bermoral, tetapi bukan dosa. Karena dosa pada gagasan katanya lebih tinggi dari sekedar soal benar dan salah atau soal bermoral dan tak bermoral, tetapi apakah benar atau apakah selaras dengan kehendak dan kekudusan Allah di hadapan mata Tuhan! 

0 Perspektif: Dosa dan Penderitaan


Oleh: Martin Simamora



Mengapa Allah yang Baik Bersanding Dengan Penderitaan?

Embed from Getty Images

Abraham & Orang-Orang Era Yesus Kristus Dalam memandang Penderitaan
Ketika diperhadapkan dengan realita penderitaan dalam berbagai rupanya, segera manusia akan menyergap dan memberondong Allah dengan sejumlah pertanyaan yang tak satupun manusia dapat mengerti sepenuhnya pertanyaan itu sendiri, dan demikian juga dengan jawabannya. Abraham dalam sebuah peristiwa yang sangat unik terkait dengan penderitaan yang akan dialami oleh penduduk kota-kota, mengajukan sebuah penentangan yang sangat nekat untuk dilakukan oleh seorang manusia dihadapan Allah yang mahakuasa, dengan suara lantang penuh tegoran keras menghardik Allah: Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:25), sebagai responnya terhadap ketercengangnya pada apa yang tersembunyi namun disingkapkan Allah kepada Abraham: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (Kej 18:17).

Dimanakah keadilanmu ya Allah? Apakah Engkau akan membiarkan orang-orang tak bersalah turut tersapu habis dalam murka-Mu? Masakah Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? Bukankah pemikiran Abraham ini sama dengan pada umumnya manusia?

Apakah Tuhan adil menyelamatkan yang satu dari malapetaka dan membiarkan yang lainnya binasa? Dimanakah keadilan Allah sehingga tidak menyelamatkan saja seluruh kota Sodom dan Gomora agar jangan sampai turut binasa orang-orang tak bersalah bersama-sama dengan orang-orang jahat di mata-Nya?"bagaimana jika ada 40,30,20 dan 10 yang tak bersalah turut serta binasa?!"

sebagaimana Abraham telah memandangnya, dunia ini diperintah dengan pandangan sedemikian juga. Bahwa keadilan, wajib seperti ini: upah dan pengukuman seharusnya ditimpakan sesuai dengan perbuatan seseorang. Menyimpang dari ini, maka Allah tidak adil atau setidak-tidaknya kurang adil! Jadi, HARUS: Penderitaan adalah upan dosa, jadi jangan sampai menimpa orang yang tak bersalah.

Problem penderitaan memang dipahami dalam 3 sudut pandang dalam Alkitab:
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9