F O K U S

An Introduction to Christian Apologetics - 1

By: Dr.Paul Coulter What is ‘Apologetics’? What is ‘Apologetics’? The term ’apologetics’ derives from the Greek word apo...

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (15/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Yesus Kristus Dihadapan Iblis & Kuasa Pembebasan-Nya Atas Manusia

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Sabtu,30Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)


Bacalah lebih dulu: “bagian 14

Pendeta Erastus Sabdono versus Injil, Dalam Ketakberdayaan Allah Atas Corpus Delicti & Iblis
Sementara pendeta Dr. Erastus telah menunjukan bahwa Allah memiliki problem terhadap iblis untuk membuktikan kesalahan iblis secara telak tanpa dapat berkelit, sebaliknya injil secara keseluruhan membantah pengajaran tersebut bahkan menunjukan  Yesus sebagai yang memiliki kuasa apapun terhadap iblis atas manusia, sebab sama sekali tak ada problem corpus delicti ala pendeta Erastus. Pada injil bahkan kita melihat bagaimana Yesus memiliki hubungan dengan para murid-Nya secara langsung dengan iblis dan pemerintahannya yang bukan saja berupa  pengajaran atau sabda, bukan sekedar Yesus saja yang berurusan dengan iblis tetapi bagaimana Yesus  memberikan otoritas kepada para murid-Nya sehingga berkuasa untuk menaklukannya:

Markus 3:14-19 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Pada teks injil ini apa yang menjadi relasi Yesus terhadap orang-orang yang mau menjadi murid-muridnya bukan sebagaimana yang diajarkan oleh pendeta Erastus:

Manusia harus dihukum,tetapi Allah ingin mengampuni manusia. Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut. Ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang mebuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar. Iblispun terbukti dan pantas dihukum[halaman 37- “Aturan Main,” Majalah Truth edisi 26]  

Relasi antara Yesus dengan para murid bukan dalam konteks “corpus delicti” sehubungan dengan problem Allah terhadap iblis bahwa hingga saat ini tak ada bukti apapun yang membuktikan kesalahan iblis sehingga dapat pantas dihukum dalam cara apapun juga.


Relasi Yesus terhadap para murid-nya terkait iblis secara langsung adalah:

Para murid Yesus memiliki kuasa untuk mengusir setan

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (14/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Umat Manusia Dalam Pandangan Allah Yang Mengustus Yesus

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Rabu,27 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 11” dan” bagian 13”  

B.Realitas Kedua Manusia: Berdosa Dan Apakah kemudian Allah mengalami perubahan baik dalam kekudusan-Nya dan pandangan-Nya terhadap manusia, dosa dan iblis sehingga Sang Firman ketika datang Ke Dunia Dalam Rupa Manusia Hanya Menanggung Penghukuman Dan Berupaya Menjadi Corpus Delicti


Apakah manusia  memang berdosa secara tak tertolongkan untuk ditanggulangi olehnya sendiri dan apakah manusia menjadi berdosa karena memiliki  gagasan-gagasan dosa dan kejahatan yang datang dari luar dirinya yang berjuang keras untuk menjajah manusia sehingga, kemudian, baru dapat membujuknya berbuat dosa, ataukah datang dari dalam dirinya sendiri sebagai hal yang tak dapat dipisahkan dari eksistensi setiap manusia?


Pertanyaan beruntun semacam tadi menjadi begitu penting untuk ditanyakan sebab pendeta Dr. Erastus Sabdono ketika membingkaikan manusia dalam konsepsi corpus delicti alanya (saya menggunakan “ala” atau “versi” pendeta Erastus, sebab ia mengaplikasikan corpus delicti yang sama sekali tak menunjukan atau membuktikan kejahatan iblis selain membuktikan apakah seorang anak Allah/orang beriman memang dapat menjadi corpus delicti –kembali, ala pendeta Erastus- sebagaimana Yesus, yang pada pandangan pendeta Erastus, menjadi corpus delicti atau menjadi substansi kejahatan iblis adalah dapat menjadi taat dan menghormati Allah secara benar hingga pada kesudahannya atau mati) yang dapat membungkam iblis dalam pengadilan Allah. Dengan kata lain, manusia-manusia membantu ketakberdayaan Allah terhadap kecanggihan kejahatan iblis terkait barang bukti.


Jika manusia memiliki natur yang begitu mulia untuk melawan iblis di pengadilan Allah, maka seharusnya ketakmuliaan  manusia harus berasal dari luar diri manusia itu sendiri. Dengan kata lain internal manusia adalah  tidak memiliki kenajisan walau barangkali belum sama sekali mencapai kesucian. Tentu saja untuk menjadi barang bukti yang sanggup mendakwa iblis hingga menjadi terpidana berkekuatan hukum, para anak-anak Allah itu juga harus manusia-manusia yang harus lebih kuat kemampuannya untuk mempidanakan iblis daripada Allah yang tak berhasil menyajikan barang bukti untuk mendakwa iblis hingga menjadi terpidana yang dapat seketika itu juga dibinasakan.


Apakah Yesus Kristus, setidak-tidaknya menyatakan bahwa manusia itu berdosa sama sekali dan senantiasa dibawah penghakimannya sebagaimana Allah pada era sebelum Ia Sang Firman menjadi manusia dan tinggal diantara manusia (Yohanes 1:14)? Mari kita perhatikan ucapan-ucapan Yesus berikut ini:

0 Belajar Di Kaki Yesus: “Sebuah Studi Untuk Pelatihan Seminari”-4


Merevolusi Misi Strategimu Dan Prioritas-Prioritas Kehidupanmu

Alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia: Martin Simamora


Ilustrasi:Robert L. Plummer, professor of New Testament interpretation at Southern Seminary, uses the award-winning tablet technology developed for his Elementary Greek course.

Bacalah lebih dulu: "bagian 3"

4.Apakah tepat untuk meninggalkan pelayananku saat ini agar dapat masuk seminari? Setiap orang Kristen memiliki pelayanannya sendiri, tepat dimana ia berada—barangkali sebagai seorang guru sekolah minggu, seorang penatua atau diaken, seorang anggota staf gereja, seorang pekerja di parachurch, atau hanyalah seorang yang berupaya memberikan kesaksian bagi Kristus di pekerjaannya. Kadang kamu dapat melanjutkan pelayanan-pelayanan semacam itu bahkan sementara anda di seminari. Mungkin ada seminari di daerah setempatmu dimana anda dapat menjadwalkan kelas-kelas yang tidak berbenturan dengan pekerjaan-pekerjaanmu saat ini. Ada juga sejumlah seminari yang memiliki program-program edukasi jarak jauh yang mana anda dapat tetap di rumah dan mengambil kelas-kelas tersebut melalui kaset atau kelas yang diselenggarakan melalui web atau situs di internet. Tetapi kerap para siswa harus membongkar tendanya dan pindah ke sebuah tempat baru agar dapat masuk ke seminari. Apakah itu bernilai?

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (13/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Umat Manusia Dalam Pandangan Allah Yang Mengustus Yesus

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Selasa,26 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 12” 

Allah dari tempat-Nya yang mahatinggi  telah memandang bahwa manusia itu telah berdosa dan telah berada di bawah penghakiman-Nya, sehingga begitu menarik untuk diketahui apakah, kemudian, Allah memiliki pemandangan  yang berbeda ketika pada era kedatangan Yesus Kristus kita membaca sabda semacam ini yang sekilas begitu berbeda nuansa dan “Allah”nya (begitukah??):

Yohanes 3:16-17 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.


Begitu besar kasih Allah akan dunia ini?Inikah Allah yang sama itu yang pada era sebelum Yesus datang begitu lantang menyatakan dirinya Sang hakim dan penghakimannya satu-satunya yang benar dan mutlak?


Kita harus memahami bahwa Allah  adalah Sang Hakim juga secara bersamaan adalah Allah yang menghendaki kehidupan bukan kebinasaan berdasarkan kasih yang begitu kokoh tegak dalam dan berdasarkan pengikatan janji diri-Nya dan tindakan dirinya untuk menggenapkannya kepada manusia  yang dikehendakinya sementara Ia sendiri adalah Sang Hakim. Misal pada episode-episode berikut ini:

0 Belajar Di Kaki Yesus: “Sebuah Studi Untuk Pelatihan Seminari”-3

Pada Akhirnya, Duduk Di Kaki Yesus Tidak Dapat Lain Selain Mengangkat Jiwamu


Alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia: Martin Simamora


Bacalah  lebih dulu:"bagian 2


Sekarang saya akan mengulas tujuh problem yang kerap dikemukakan banyak orang terkait masuk ke seminari:


1.Dapatkah saya membiayainya? Sebagaimana sebelumnya telah saya kemukakan, seminari atau S.T.T. tidak gratis. Yesus dan para murid-Nya juga membutuhkan dana untuk menopang diri mereka sendiri. Tetapi Allah telah mencukupi kebutuh mereka, dan dalam pengalaman saya, Allah telah menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang paling pokok pada orang-orang yang ingin dalam sebuah cara yang serius untuk memasuki seminari. Terkadang orang tak serius, untuk berbagai alasannya tersendiri. Dan untuk sejumlah orang, masuk ke sebuah seminari, benar-benar merupakan perjuangan yang tak main-main untuk mengalokasikan keuangannya untuk menopang dirinya untuk bisa masuk seminari atau bahkan tidak mungkin, sekalipun demikian. Tetapi itu tidak seharusnya menyurutkan semangat mereka yang sungguh-sungguh ingin mempelajari firman Tuhan di level seminari. Biaya perkuliahannya dapat terlihat mahal, tetapi sebuah upaya cermat untuk mendapatkan bantuan keuangan, program-program pinjaman, peluang-peluang bekerja sambil kuliah dapat benar-benar mengurangi kekecewaan akibat mahalnya biaya untuk belajar firman Tuhan di seminari atau S.T.T.

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (12/40)

Oleh: Martin Simamora 

Sepuluh Bagian Kedua
Umat Manusia Dalam Pandangan Allah Yang Mengustus Yesus

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Senin,25 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 11

Manusia dalam perbudakan dosa dan dalam penghakiman Allah, juga, dengan demikian menunjukan bahwa umat manusia bahkan untuk sekedar membicarakan, membangun dan menyelenggarakan penghakiman yang berkeadilan pun tak dapat terjadi berdasarkan dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah. Alkitab memberikan realitas tersebut pada kita.


Bagaimanakah pengadilan dan penghakiman dalam Alkitab  atau bagaimanakah Allah menegakan keadilan dalam penghakiman-Nya  di dunia ini,akan memberitahukan kepada setiap pembaca bahwa  manusia tak memiliki gagasan dan kemampuan untuk pada diri mereka sendiri menghadirkannya kecuali Allah memberikannya.

Perhatikanlah sejumlah teks berikut ini:  

Ulangan 1:17 Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan. Jangan gentar terhadap siapapun, sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah. Tetapi perkara yang terlalu sukar bagimu, harus kamu hadapkan kepadaku, supaya aku mendengarnya. 


Keluaran 18:19-23 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."


Keluaran 23:1-2 Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum.


Ulangan 10:17 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;


Ulangan 16:18-19 Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.


Bagi Allah pengadilan itu miliknya, termasuk yang diselenggarakan di dunia ini. Jika pada bagian sebelumnya, Allah dinyatakan sebagai satu-satunya hakim di dunia ini, maka pada teks ini dikatakan bahwa pengadilan dan keadilan adalah kepunyaan Allah. Lebih jauh lagi ditunjukan bahwa institusi pengadilan dan keadilan dunia ini termasuk kemampuan hakim untuk mengnagani sebuah perkara, sangat terbatas dan sangat bercela dihadapan pengadilan dan keadilan Allah

0 Belajar Di Kaki Yesus: “Sebuah Studi Untuk Pelatihan Seminari”

Oleh  John M. Frame

Satu-Satunya Pertanyaan Yang Tersisa Adalah, Bagaimana Anda Akan Duduk Pada Kaki Yesus?


Alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia: Martin Simamora


Bacalah lebih dulu: “bagian 1

Jadi saya meminta anda untuk mempertimbangkan kekhususan yang sungguh istimewa pada duduk di kaki Yesus. Kala ia dahulu hidup di muka bumi ini, Yesus telah mengunjungi sahabat-sahabatnya, saudari-saudarinya Maria dan Marta, di kota kecil Betania. Marta begitu disibukan dengan melayani para tamunya, tetapi Maria “duduk di kaki Tuhan dan telah mendengarkan pengajarannya” (Lukas 10:39). Marta telah kecewa terhadap Maria yang tidak membantu. Hal itu nampak menjadi sebuah keluhan yang pantas. Tetapi Yesus,kapanpun juga, mengejutkan kita oleh pemujian terhadap Maria. Dia telah “memilih bagian yang baik, yang tidak akan dirampas darinya”(ayat 42). Kini, normalnya memang saudari-saudari seharusnya membantu satu sama lain dalam menjalankan tugas-tugas di rumah, maukah anda mengalami kehilangan apapun juga? Marta telah melakukan sebuah hal baik dengan bekerja untuk melayani Yesus dan tamu-tamu lainnya.  Tetapi dia tidak sungguh-sungguh mengerti apa yang  hilang dari dirinya: Anak Allah yang kekal, sedang mengajar tepat di ruang keluarganya sendiri!


Jangan kehilangan kesempatan untuk duduk pada kaki Yesus. Banyak hal lain-lain yang penting, seperti pekerjaan rumah, bekerja  untuk penghidupan, dan pelayanan itu sendiri. Tetapi kita semua harus mengambil waktu menjauhi semua itu untuk merenungkan firman.

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (11/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Umat Manusia Dalam Pandangan Allah Yang Mengustus Yesus

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Sabtu,23 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “Bagian10” 

Sehingga terkait “umat manusia dalam pandangan Allah yang mengutus Yesus,”maka harus memperhatikan 2 realitas manusia dalam pandangan Allah. Memahami ini maka akan mengerti mengapa manusia tidak dapat diperlakukan oleh pendeta Erastus Sabdono sebagai corpus delicti [dalam interpretasi alanya] yang dapat digunakan Allah dalam pengadilannya melawan iblis, sehingga terpenuhilah keadilan-Nya secara sempurna. Satu hal dan memang menjadi satu-satunya kebenaran yang harus diperhatikan, dipertimbangkan dan ditinjau dalam Allah memandang manusia adalah  Siapakah Dia sejak semula kala berdiri dihadapan manusia berdosa. Dia sebelum mengirim Anak-Nya yang Tunggal.


Apakah Allah sejak semula telah menyatakan diri-Nya adalah hakim atas dunia sehingga dengan demikian realitas umat manusia adalah: berdosa dan telah berada di bawah penghakiman Allah.  Ini adalah realitas pertama.  Realitas pertama ini akan menunjukan juga apakah sejak semula Allah memberikan indikasi yang bagaimanapun bahwa Ia membutuhkan manusia-manusia yang mau menjadi pengikut-Nya dan mau menjadi bukti atau corpus delicti untuk menolong-Nya. Ini penting dan begitu penting sebab sebagaimana Yesus menunjukan ketakterputusan era sebelum kelahirannya dan era setelah kelahirannya dalam relasi eranya dan dirinya adalah penggenap era sebelumnya, atau era sebelumnya menuntun pada kedatangan-Nya seperti pada pernyataan semacam ini:

Lukas 24:25-27 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


Lukas 24:44-47 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Maka realitas kedua akan berbunyi: Apakah Allah, kemudian, setelah Ia mengutus Sang Firman ke dalam dunia ini menjadi manusia yaitu Anak Tunggal Allah,  kemudian mengalami perubahan baik dalam kekudusan-Nya dan pandangan-Nya terhadap manusia, dosa dan iblis sehingga Sang Mesias ketika datang hanya menanggung penghukuman dan berupaya menjadi corpus delicti yang menunjukan seharusnya  manusia-manusia yaitu anak-anak Allah dapat menjadi bukti atau corpus delicti yang dapat membungkam iblis sehingga melepaskan Allah dari ketakberdayaannya terhadap iblis? Realitas kedua ini akan menunjukan adakah ketakterputusan bahwa Sang Kristus telah dituliskan oleh para nabi untuk menjadi corpus delicti agar manusia dapat menjadi corpus delicti; apakah  para nabi telah menuliskan bahwa Yesus dan anak-anak Allah yang mau menjadi corpus delicti memiliki kemungkinan besar untuk membantu ketakberdayaan Allah dalam pengadilan-Nya, sebagaimana diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono?

0 Belajar Di Kaki Yesus: “Sebuah Studi Untuk Pelatihan Seminari” (1)


O… Orang-Orang Bodoh, Dan Hati Yang Lamban Untuk Percaya


Alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia: Martin Simamora


Pada sejumlah momen dalam perjalanan mereka bersama Yesus, banyak orang Kristen bertanya seharusnyakah mereka masuk ke seminari-apakah untuk memperoleh gelar atau hanya mengambil sejumlah studi. Saya telah mengajar di seminari-seminari selama tiga puluh lima tahun, dan saya telah melakukan sejumlah pemikiran mengenai pertanyaan ini. Dalam pamphlet ini, saya akan mendorong anda untuk masuk ke seminari jika anda bias, dan saya akan berupaya untuk membantu mereka yang sedang mencari pedoman untuk keputusan penting ini.


Hal utama dari semuanya, apakah seminari itu? Sebuah seminari, tentu saja, sebuah institusi akademik yang mengajarkan pengetahuan dan keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk pelayanan Kristen. Mengatakan “pelayanan” di sini, saya maksudkan baik pelayanan-peyanan resmi/formal dari gereja dan pelayanan-pelayanan independen gereja: pelayanan-pelayanan kampus semi gereja atau  gerakan-gerakan komunitas semi gereja  atau ”parachurch,” misi-misi, pelayanan-pelayanan kasih, dan lain sebagainya. Tetapi seminari juga menawarkan peluang-peluang bagi siapapun yang ingin menggali firman Tuhan secara mendalam. Kebanyakan seminari menawarkan program-program master yang terbuka bagi orang yang tidak dipanggil untuk pelayanan yang bersifat sepenuh waktu, dan mereka menawarkan status “murid khusus” bagi orang yang hanya ingin mengambil  satu atau dua studi, untuk memperdalam pengetahuan akan Kitab suci.


Jadi sebuah seminari bukan hanya untuk para professional, bukan hanya bagi mereka yang sedang mencari kualifikasi berijazah untuk pentahbisan. Tujuannya lebih luas daripada itu: merupakan tempat bagi orang untuk mempelajari firman Tuhan bersama-sama. Dan,semenjak Yesus adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia (Yoh 1:14), belajar di seminari adalah belajar di kaki Yesus.

0 Mengenali Penyesatan Di Sekitar Kita

Oleh: Steven J. Cole

Mengapa Mentaati Yesus Bukan Opsional(-6-)
“Lesson 28: Why Obedience Is Not Optional (Luke 6:46-49)

Alih bahasa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia: Martin Simamora


Bacalah lebih dulu:”bagian 5
Kesimpulan
Apa yang dapat kita lakukan untuk memastikan bahwa rumah kita dibangun di atas batu ketaatan pada Kristus, bukan di atas pasir? Yesus menyebutkan tiga hal (Lukas 6:47): datang kepada-Nya, dengarkan perkataan atau atau firman-Nya, dan bertindaklah di atas firman-firmannya.


Pertama, anda harus datang pada Yesus. Ini hendak menyatakan sebuah hubungan personal, hubungan antara pribadimu dan Yesus Kristus. Dalam nas paralel di Matius, Yesus berkata pada orang-orang munafik yang telah mengerjakan semua hal yang begitu mengesankan dalam nama-Nya,”Aku tidak pernah mengenalmu”(Matius 7:23). Apakah anda mengenal Yesus dan apakah Yesus mengenalmu? Kekristenan bukan sebuah system aturan-aturan dimanakan anda memutuskan untuk mulai mengerjakan apa yang ada pada daftar. Kekristenan pada dasarnya sebuah hubungan personal atau kehidupan yang dipimpin dan bersedia dipimpin oleh kebenaran yang berasal dari Juruselamat yang telah bangkit, yang hidup. Dosa-dosamu telah memisahkanmu dari-Nya. Tetapi Ia telah mencurahkan darah-Nya untuk mendamaikan dengan Allah setiap orang berdosa yang akan berhenti percaya pada dirinya sendiri dan perbuatan-perbuatan baiknya sendiri dan yang akan atau mau percaya dalam darah Yesus sebagai satu-satunya yang secara sempurna melenyapkan dosa.

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (10/40)

Martin Simamora

Itu Sebabnya Bukan Untuk Menjadi Corpus Delicti

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Kamis,21 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)


Bacalah lebih dulu: “bagian  9

Anak-anak Allah seharusnya dan harus berjuang menjadi corpus delicti atau menjadi bukti di pengadilan Allah, terjadi kala anak-anak Allah tersebut dapat meneladani Yesus yang telah berhasil menjadi corpus delicti atau bukti bahwa mereka seharusnya  juga dapat mentaati dan menghormati Allah sehingga dapat menjadi corpus delicti atau bukti yang dapat menolong Allah yang tak berdaya untuk membungkam iblis. Inilah corpus delicti yang sedang dimaksudkan oleh pendeta Erastus.


Itulah bukti yang diperlukan Allah dalam pengadilan Allah terhadap iblis dan bagaimana bukti itu diproduksi dan menunjukan apakah bukti atau corpus delicti itu, yaitu:bahwa anak-anak Allah dapat meneladani Yesus. Ajaran pendeta Erastus telah sama sekali tak berseiringan dengan:

Iblispun terbukti dan pantas dihukum


Bukti yang dapat dimiliki anak-anak Allah dan bagaimana mereka harus berlaku agar dapat menjadi corpus delicti atau bukti kejahatan iblis, sama sekali tak akan berbicara untuk memberikan sokongan pada penghakiman dan penghukuman Allah terhadap iblis. 

Mengapa?

Ke-corpus delicti-an pada anak-anak Allah yang diajarkan oleh pendeta Erastus adalah  ini:
Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang membuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar

sama sekali tidak membuktikan tindakan kejahatan yang telah dilakukan oleh iblis dan bagaimana iblis melakukan tindak kejahatannya, tetapi membuktikan, di hadapan Allah, bahwa anak-anak Allah dapat meneladani Yesus.  Bukankah dikatakan oleh pendeta Erastus bahwa menjadi corpus delicti berarti “seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar” sebagaimana Yesus Kristus?

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (9/40)

Martin Simamora

Problem Dunia: Siapakah Yesus Sesungguhnya?

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Rabu,20 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)


Bacalah lebih dulu “bagian 8

Corpus delicti, oleh pendeta Erastus Sabodono, bukan saja telah me-redefinisi ketuhan-an tetapi juga kemanusiaan (perendahan) Anak Tunggal Allah  dalam cara yang begitu berlawanan dengan eksistensi dan pengajaran Yesus yang telah datang ke dalam dunia. Eksistensinya atau siapakah dia  tak perpisahkan dengan pengajarannya seperti nampak dalam ucapannya seperti ini:

Yohanes 10:27-28 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.


Yohanes 10:36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?


Lukas 5:24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

Tak ada sama sekali relasi untuk tujuan menjadi corpus delicti bagi anak-anak Allah terhadap Yesus tetapi:”memberikan hidup yang  kekal” dan “memberikan kepastian tidak akan binasa sampai selama-lamanya.” Apakah yang Yesus kehendaki agar diketahui oleh manusia? Jawabnya adalah tentang siapakah dirinya dan apakah tujuannya yang berkaitan dengan kuasa dan otoritas untuk mewujudkan tujuannya, yaitu: “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.”

Bukan agar manusia tahu bahwa Allah memiliki problem, yaitu: bercela dihadapan iblis sehingga belum bisa membuktikan iblis bersalah sampai ada manusia-manusia yang memberikan pada Allah bukti-bukti yang akan menegakan keadilan Allah di hadapan iblis.

0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (8/40)

Martin Simamora

Problem Dunia: Siapakah Yesus Sesungguhnya?

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Selasa,19 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)


Bacalah lebih dulu: “bagian 7

Telah dinyatakan oleh Yesus sendiri berdasarkan perkataan dan perbuatannya, bagaimana Ia dan perkataannya berkuasa atas setan dan pemerintahannya, maka “siapakah Yesus” menurut Sang Mesias itu sendiri, telah sama sekali menolak pengajaran pendeta Dr. Erastus Sabdono mengenai  siapakah dan apakah tujuan dan karya Yesus Kristus di dalam dunia ini yang sebatas untuk menanggung penghukuman tanpa kemerdekaan dari pemerintahan iblis dan menjadi corpus delicti bagi kepentingan anak-anak Allah. Perhatikan ini kembali:

“Manusia harus dihukum,tetapi Allah ingin mengampuni manusia. Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut. Ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang membuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar. Iblispun terbukti dan pantas dihukum[halaman 37- “Aturan Main”]”  


Dalam upaya mengokohkan pengajarannya tentang siapakah dan apakah tujuan kedatangan Yesus, maka untuk menentang Yesus,pertama-tama, pendeta Erastus harus menuliskan kembali apakah yang menjadi maksud pengutusan Yesus ke dalam dunia ini oleh Bapa: “Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut.  Sehingga oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI” 

Jenis pengajaran yang melawan kebenaran yang diucapkan oleh Yesus sendiri:
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9