F O K U S

An Introduction to Christian Apologetics - 1

By: Dr.Paul Coulter What is ‘Apologetics’? What is ‘Apologetics’? The term ’apologetics’ derives from the Greek word apo...

0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.H)

Oleh: Martin Simamora


Keberdosaan Manusia Tidak Dikarenakan Eksistensi dan Pelanggaran Pada Taurat, Sebab Sebelum Taurat Ada, Penghakiman Dan Penghukuman Telah Berlangsung

Bacalah lebih dulu: “bagian 6.G-6

Berdasarkan bagian sebelumnya, begitu jelas bahwa dasar penggenapan kelahiran Mesias semata pada rencana dan kuasa Allah untuk menggenapi rencananya itu sendiri. Sehingga dinamika manusia-manusia Israel tidak pernah sama sekali menentukan keberhasilan rencana Allah dalam sebuah kebergantungan Allah yang begitu tunduk pada kemampuan dan ketakmampuan manusia, sebab kedaulatan-Nyalah yang menentukan keterwujudan itu [sebagai salah satu contoh kasus, bacalah: Yesaya 1:2-9, 11-15,18, 19-20; Yesaya 39:5-7; Yesaya 40:1-11; Yesaya 42:18-25; Yesaya 43:22-28; Yesaya 45:1-8;Yesaya 47:1-11; Yesaya 48:1-11; Yesaya 48:12-22; Yesaya 49:8- Yesaya 50:3]. Kedaulatan Allah, di sini [sebagaimana yang ditunjukan dalam contoh kasus yang direkam Kitab Nabi Yesaya], hendak menunjukan bahwa apa yang dimaksudkan untuk terjadi berdasarkan rencana-Nya pasti terjadi, tak memedulikan keadaan-keadaan di dunia sebab perencanaan-Nya berlangsung di sorga dan Sang Mesias  itu sendiri pada mulanya  bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah [Yohanes 1:1-2].


Itulah sebabnya terkait rencana dan pewujudan-Nya telah dijamin sejak semula secara kokoh dan keras dengan menautkannya pada kebenaran diri nabi sebagai penyatanya, BUKAN pada bangsa Israel!

Perhatikanlah ini:

Ulangan 18:20-22 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."


Ini, tentang nabi-nabi yang menyampaikan  perkataan Tuhan untuk disampaikannya dan secara khusus ini mengenai Mesias. Perhatikan keutamaan pada kedaulatan kuasa Allah pada apakah yang diucapkan-Nya dan bagaimana akibatnya jika seorang nabi tidak mengucapkan sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya:

Ulangan 18:17-19 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.

0 Dialog Ringan:

 Seputar Makna Teologis
Gelar Yesus sebagai Putera Allah

Oleh: Dr. Bambang Noorsena, S.H., M.A.



Ungkapan "Anak”, tepat sekali seperti dikatakan orang sebelum kami, mempunyai dua makna: Pertama, “anak secara fisik”, seperti melahirkan seorang anak; dan Kedua, “yang dikiaskan sebagai anak”, karena dibuat demikian,meskipun dibedakan antara “lahir" dan“diciptakan”.
lrenaeus, The Reliques of the Elders lV,41-42.[1]

Apalagi, sebagian besar ayat-ayat ini (yang menentang paham “anak-anak Allah", penulis)ditujukan, menurut sebagian besar mufasir, kepada orang-orang Arab Mekah yangmengklaim bahwa dewi-dewi mereka, al-Lat, al-‘Uzza, dan Manat adalah anak-anak Tuhandan begitu pula dengan malaikat. Jadi, orang-orang Yahudi dan Kristen sering terkenagetahnya.
Mahmoud M. Ayoub, Profesor of Islamic
Studies pada Temple University, Philadelpia, USA.[2]




Tulisan ketiga ini, sudah barang tentu, merupakan sajian ringan, setelah kita melakukan “ziarah panjang” menelusuri sejarah. Mungkin saja kita dibuat pusing,capek, dan bingung. Mengapa beriman kepada Tuhan harus serumit itu? Apakah untuk menghadap Allah seorang harus menjadi filsuf atau teolog? Tentu saja, Tidak! Buktinya, Anda masih dapat menikmati tulisan terakhir ini, moga-moga saja dapat mewakili pergumulan-pergumulan, pertanyaan-pertanyaan, atau malahan keresahan-keresahan Anda selama ini. Temanya masih seputar Keesaan Allah, kedudukan Yesus sebagai Putera Allah,dan isu-isu teologis Islam-Kristen serta implikasinya dalam perjumpaan kedua “agama rumpun Ibrahim".

Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam bentuk wawancara ini berasal dari pengalaman dalam berbagai seminar, undangan ceramah dan mengajar, baik di lingkungan Kristen maupun Islam di Jakarta, Surabaya, Denpasar, Manado, dan beberapa kota lain. Di lingkungan Kristen, tema ini selalu muncul dalam ceramah di gereja-gereja dan di sekolah-sekolah Teologi. Sedangkan di lingkungan Islam, IAIN “Sunan Kalijaga” Yogyakarta, IAIN“Sunan Gunung Jati” Bandung, dan Universitas Paramadina-Mulya, malah mengangkatnya dalam forum-forum ISCS tersendiri. Memang, di lingkungan Islam tema-tema ini ditanggapi jauh lebih antusias, apalagi di forum-forum dialog antar-iman, meskipun di sana-sini juga sering ditanggapi dengan “nada curiga”.


Id Al- Milad (Natal) Di Bethlehem: Sebuah Sisi dari Hubungan
Kekerabatan Kristen-Islam di Timur Tengah

Kebiasaan Presiden Palestina, mulai dari Yasser Arafat, sampai Mahmud Abbas selalu mengikuti Perayaan Natalan di gereja adalah fenomena menarik, karena fenomena semacam itu asing di Indonesia. Bisa dijelaskan bagaimana komentar Anda?


Menarik memang kalau kita cermati hubungan Kristen-Islam di negara-negara TimurTengah, khususnya di Palestina. Saya teringat dengan Natal di Bethlehem tahun 2001, Israel melarang Arafat pidato di gereja. Biasanya, Arafat duduk di kursi paling depan. Istrinya, Suha membaca lembaran liturgi, turut merayakan ‘Id al-Milad. Begitulah umat Kristen Arab menyambut Natal. Tanpa kehadiran Sang Presiden, bagi orang Kristen Palestina, Natal rasanya “seperti ada yang kurang”.

0 Risalah Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono:

Oleh: Martin Simamora

“Keselamatan Diluar Kristen” Bagian 4&5”


Bagian 4A: Ini adalah lanjutan dari: “bagian-bagian terdahulu” Terminologi dosa dalam Alkitab adalah terminologi yang luas, didalam konteks-konteks biblikalnya, merujukan bahwa dosa memiliki 3 aspek: ketidakpatuhan pada atau pelanggaran hukum, pelanggaran hubungan antarmanusia, dan pemberontakan melawan Allah, yang merupakan konsep paling dasar. Penyederhanaan terlalu berlebihan berisiko, diantara istilah-istilah Ibrani yang paling umum, “hattat” yang bermakna sebuah standard, target, atau tujuan  yang tak tercapai; “pesa” yang bermakna pelanggaran hubungan antarmanusia atau pemberontakan; “awon” yang bermakna melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang benar atau melawan apa yang benar; “segagah” yang mengindikasikan kesalahan atau kekeliruan; “resa” yang bermakna ketidakber-tuhan-an, ketidakadilan, dan kejahatan; dan “amal,” ketika itu merujuk pada dosa, bermakna perilaku yang mendatangkan kerusakan/bahaya atau penindasan. Istilah Yunani yang paling umum adalah “hamartia”, sebuah kata yang kerap dipersonifikasikan dalam Perjanjian Baru, dan mengindikasikan pelanggaran terhadap hukum, orang-orang, atau Tuhan. “Paraptoma” adalah istilah umum lainnya untuk pelanggaran-pelanggaran atau kegagalan-kegagalan untuk mencapai standard. “Adikia” merupakan  makna yang lebih sempit dan kata legal, menggambarkan perbuatan-perbuatan ketidakbenaran dan tidak adil. “Parabasis” mengindikasikan pelanggaran hukum; “asebeia” bermakna ketidakbertuhanan atau ketidakhormatan terhadap Tuhan; “anomia” yang bermakna hidup tanpa pemerintahan hukum. Alkitab secara khusus menyatakan dosa adalah hal negatif. Dosa itu adalah kehidupan tanpa atau tak menuruti hukum, ketidakpatuhan, ketidakhormatan terhadap Tuhan, tidak percaya, keraguan, kegelapan sebagai lawan terhadap terang, sebuah kejatuhan sebagai lawan terhadap berdiri teguh, kelemahan bukan kekuatan. Dosa adalah ketidakbenaran dan ketidakberimanan [ Baker’s Evangelical Dictionary Theology: Sin atau tautan ini]. 

0 Peristiwa-Peristiwa Monumental Dalam Injil:

Oleh: Martin Simamora

Rabuni!


Peristiwa berikut ini lebih dari sekedar kemonumentalan yang abadi sebab secara bersamaan telah menunjukan kekinian atau kekontempreran diri Sang Mesias dalam pandangan masyarakat Yahudi dalam ia seorang Yahudi:

Yohanes 20:14-17Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."


Dalam Alkitab Indonesia, dinyatakan: Maria berpaling kepada Yesus dan memanggilnya: Rabuni/Rabboni [bahasa Aram] yang artinya guru.


Yesus, dalam perjumpaannya dengan Maria, adalah guru yang bangkit dari kematian sebagaimana yang telah diprediksi dan diajarkannya sendiri kepada para murid dan orang banyak. Bukan sekedar, ia adalah guru yang bangkit dari kematian, tetapi ia  satu-satunya guru yang dapat segera pergi kepada Bapa dan secara bersamaan menyatakan bahwa Bapanya,juga, adalah Bapamu.

Itulah  Yesus di dalam kekiniannya, disamping di dalam kekekalannya yang  begitu sukar dan  hampir saja mustahil untuk diterima dan diakui manusia sebagai Anak Allah [Yohanes 1:34, 39; 5:25; 10:36; 11:4, 27; 20:31], Sang Kristus/Mesias [ Yohanes 1:17, 20, 25,41; 3:28; 4:25, 29; 7:26, 27, 31, 41, 42; 9:22; 10:24; 11:27; 12:34; 17:3; 20:31 dan Anak Manusia yang eskatologis [Yohanes 1:51; 3:13, 14; 5:27; 6:27, 53, 62; 8:28; 9:35; 12:23, 24; 13:31].


Itulah jati diri sebenarnya dan seutuhnya Yesus Kristus.

0 Peristiwa-Peristiwa Monumental Abadi Dalam Injil:

Oleh: Martin Simamora

Ia Lebih Dari Sekedar Gembala Bagi Setiap Orang Yang Beriman Kepadanya Di Dunia Ini


Salah satu pengajaran Yesus Sang Mesias terkait dirinya,yang sangat mengikat dalam relasi, adalah siapakah ia terhadap siapapun yang adalah para murid-Nya. Jenis siapakah ia ini, pada relasinya, bukan sekedar penggambaran kekuatan pada kesetiaannya dan penjagaannya, tetapi ia secara khusus hendak menunjukan keberkuasaannya atas perjalanan para muridnya dalam mengikut dan mengiringi bukan saja dirinya, tetapi apa-apa saja yang dikehendakinya, artinya: relasi semacam ini tidak terbatas kala ia berada di dunia ini namun kala ia meninggalkan  dunia ini. Kala ia berkata bahwa dirinya adalah gembala yang baik, ini bukan sekedar kebaikan karena ia baik atau lemah lembut atau memberikan makanan yang berkualitas baik, tetapi terkait penggembalaan semenjak di bumi ini  yang merupakan kehidupan yang dihidupi dan membina dan mengoreksi secara terus-menerus kehidupan para domba sebagaimana kehendak Bapa hingga meninggalkan kefanaan ini, menuju  ke tempat yang dikehendaki-Nya.


Dalam pandangan Yesus, kehidupan para domba bukan sekedar di dalam juridiksi perlindungan Allah saja, namun juga ada dalam penjagaan Sang Penguasa di dalam juridiksi Allah tersebut:

●Yohanes 10:1-2 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.


Begitulah Yesus dalam menggambarkan kehidupan orang percaya yang diakuinya sebagai domba-dombanya. Ada beberapa aspek mutlak dalam kehidupan domba-domba atau orang-orang percaya, yang harus diperhatikan:

0 Peristiwa-Peristiwa Monumental Abadi Dalam Injil:

Oleh: Martin Simamora


Antara Yesus Dan Petrus, Semua Murid, dan Semua Manusia


Dalam catatan-catatan injil ada catatan-catatan yang begitu  iconic atau begitu monumental karena mencatat peristiwa-peristiwa yang melampaui realitas yang disajikannya. Itu disebabkan oleh apa yang tidak mungkin ditangkap oleh mata dan persepsi manusia, harus diungkapkan oleh Yesus Kristus dalam ungkapan-ungkapan realitas yang hanya dapat dikenali dan dihidupi oleh Yesus sendiri. Diantaranya adalah: apa yang terjadi antara Yesus dan Petrus.

Mari kita melihatnya:

Markus 8:31-33 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Sebetulnya, Yesus tidak secara eksklusif berbicara  kepada Petrus, tetapi kepada semua murid-muridnya. Bukan percakapan untuk mengisi waktu kosong atau bualan dongeng dan fantasi, tetapi sebuah pembicaraan yang akan mengiritasi jiwa dalam sebuah kepedihan yang begitu memerihkan,sehingga tak mungkin jiwa hanya diam saja, lantas tersenyum bahagia. Dan Petrus memberanikan diri untuk menegor dan menghentikan pernyataan Yesus tersebut.


Pada Yesus, ia telah menyajikannya sebagai sebuah pengajaran yang begitu khusus dan penting bukan saja agar para murid dapat mengetahui peristiwa yang akan datang, namun mempersiapkan mereka untuk masuk ke dalam waktu-Nya yang segera menjemput Yesus untuk masuk ke dalam penggenapan kehendak Allah di sorga untuk terjadi di bumi, sebagaimana Kitab Suci telah menuliskannya.


Ia mengajarkannya  secara terus terang. Ia memang kepada orang banyak atau kepada non murid-murid-Nya tidak mengajarkannya secara  terus terang namun bagaikan berteka-teki  sehingga begitu sukar dan begitu tinggi untuk dijangkau. Misalkan:

0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.G-6)

Oleh: Martin Simamora

YEDIJA:
“Dikasihi Allah Karena Karunia-Nya Pada Manusia Yang Berada Dalam Kebinasaan, Bukan Karena Manusia Memperjuangkan Kebenarannya(6.G-6)”




Relasi  Yesus terhadap hukum Taurat sebagai dirinya yang menggenapi sehingga tidak ada satu bentuk ke-antara-an antara dirinya dengan hukum Taurat, tak hanya:

Matius 5:17 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.


yang menunjukan apakah tujuan kedatangan Yesus itu, bahwa Ia dan firman yang telah dituliskan oleh para nabi itu, sama sekali tak terpisahkan, tetapi juga,  oleh pernyataannya itu, maka kitab-kitab suci itu sendiri sama sekali tak akan berarti atau belaka pepesan kosong,jika tanpa penggenapan yang terletak hanya pada dirinya:

Matius 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.


Bahkan bahwa dirinya adalah satu-satunya penggenap   hukum Taurat, kitab para nabi dan Mazmur, merupakan kebenaran yang diberitakan kepada banyak orang, sebagai sebuah sentral dan struktur utama tunggal dalam kebenaran yang harus diberitakan kepada manusia. Dalam hal itu, Yesus menekankan kebenaran ini adalah soal hidup atau mati, seorang bahkan dinyatakan murtad atau tidak, berdasarkan penerimaan dan kesetiaan pada kebenaran Yesus adalah penggenap tunggal hukum Taurat dan kitab para  nabi:

Matius 13:18-23 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."


Yesus adalah firman tentang kerajaan sorga. Nabi Yohanes Pembaptis menyatakan kebenaran ini berdasarkan ketetapan nabi Yesaya atas dirinya dan  atas siapakah Yesus:

Matius 3:1-Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."


Yesus adalah penggenap segala kebenaran dalam kitab suci, dalam sebuah cara yang menunjukan bahwa tanpa kedatangan kerajaan Allah sebagai satu-satunya yang menggenapi kehendak Allah, maka semua itu adalah omong kosong. Para nabi perjanjian lama dengan demikian hanyalah sebuah mulut penuh dusta kala menyampaikan kebenaran dan tanpa penggenapan:

0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.G-5)

Oleh: Martin Simamora

YEDIJA:
“Dikasihi Allah Karena Karunia-Nya Pada Manusia Yang Berada Dalam Kebinasaan, Bukan Karena Manusia Memperjuangkan Kebenarannya(6.G-5)”


Jika berdasarkan perjalanan  kelangsungan atau kelanggengan takhta Daud bukan sama sekali sebuah kebenaran berdasarkan ketaatan: Daud, monarkinya, dan keluarganya terhadap hukum Taurat, sehingga pun kelahiran Mesias dari eksistensi bangsa ini, dengan demikian, tak terelakan  berdasarkan kasih karunia Allah, lalu bagaimana dengan eksistensi hukum Taurat itu, apakah relasinya dengan Yesus Kristus, apakah hukum itu lenyap?


Relasi Yesus terhadap hukum Taurat, bukan saja diungkapkan oleh Sang Mesias sendiri. Ia menautkan dirinya dengan hukum Taurat  dalam kemanusiaannya yang sejati, namun tidak sama sekali dalam kegagalan demi kegagalan. Tapi, itu pun tidak hendak menyatakan sebuah kesempurnaan kemanusiaan di dalam atau berdasarkan kekuatan atau ketekunan kemanusiaannya, tetapi kesempurnaan keilahiannya atau kedivinitasan atau ketuhanannya yang begitu berkuasa atau begitu berdaulat atas setiap perjalanan kehendak Yesus untuk menaati semua yang telah dituliskan oleh Kitab Suci,sebagai manusia. Itu sebabnya, Ia,tak terhindarkan, dihadapan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,bukan saja ditakar begitu kurang ajar dalam ketentuan-ketentuan agama yang berlaku dan seharusnya pun dihormatinya, tetapi telah ditakar sebagai ia yang walaupun manusia telah menyamakan dirinya dengan Allah. Yesus Sang Mesias dalam Ia membangun relasinya dengan Hukum Taurat, dalam semacam itu, karenanya telah menempatkan dirinya mengatasi hukum Taurat itu dalam pengajaran-pengajarannya dan dalam instruksi-instruksinya, sehingga Ia berkata penuh ketajaman bersabda: “Ikutlah Aku” atau “Akulah kebenaran” atau “Akulah Jalan,” atau “Akulah hidup,” “Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab nabi-nabi,” bahkan Ia pun merelasikan dirinya dalam sebuah relasi yang begitu sukar untuk diterima,kala Ia juga menempatkan dirinya dalam relasi dengan pra-hukum Taurat. Bukan sekedar berbicara pra-eksistensinya, tetapi hendak menyatakan bahwa saat Ia berkata: “Akulah kebenaran,” “Akulah jalan,” “Akulah hidup,” dan “Ikutlah Aku,” pada dasarnya adalah kebenaran dirinya jauh sebelum hukum Taurat itu ada diterima di era nabi Musa. Jika demikian, maka memang, relasi Yesus terhadap hukum Taurat, pastilah bukan sebuah relasi semacam ini: “pra eksistensi Yesus baru ada karena hukum Taurat terlebih dahulu diadakan.” Pra Eksistensi[eksistensi sebelum Ia datang sebagai manusia]Yesus Sang Mesias, bukan ada  atau diadakan karena janji-Nya kepada Adam dan Hawa, Abraham, Musa hingga dinantikan Simeon yang secara khusus ditetapkan Allah tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Mesias.


Yesus memang memiliki relasi yang begitu ketat dengan kitab suci: hukum Taurat, Kitab Para Nabi, dan Mazmur. Simeon menunjukan kebenaran ini, Ia hidup dan beriman berdasarkan apa yang telah dituliskan kitab sucinya mengenai kedatangan Sang Mesias. Mari kita perhatikan hal ini melalui Simeon.
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9