F O K U S

"Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (7)

Oleh: Martin Simamora Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini- 3 Bacalah lebih dulu: “ bagian 6 ” Jika Yesus Sang Mes...

0 Menyambut Natal 2018 (4-Selesai)

Oleh: Martin Simamora


Natal Setelah Kesunyian Sabda Yang Panjang:
Sang Firman Berinkarnasi Menjadi Manusia Membawa Terang Manusia

Bacalah lebih dulu: Bagian1, Bagian 2, Bagian3

400 Tahun Kesunyian Firman
Selama 400 tahun (diperkirakan) Allah tak berfirman sama sekali kepada bangsa Yahudi diperhitungkan semenjak peringatan terakhir-Nya sebagaimana yang dicatat dalam Kitab Maleakhi:” Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” (Malaekhi 4:5-6). Era peringatan Malaekahi, sekitar tahun 430 Sebelum Masehi, bangsa Yahudi baru saja pulang dari pembuangan Babel (sebagai para pedagang, bukan sebagai gembala). Saart itu kerajaan Medo-Persian masih menduduki Israel, dan bait suci telah dibangun kembali. Baik hukum dan keimamatan Harun telah dipulihkan, dan bangsa Yahudi telah membuang semua berhalanya. Akan tetapi peringatan Malaekhi tersebut bukan tanpa sebab. Orang-orang Yahudi berlaku semena-mena terhadap isterinya, menikahi perempuan-perempuan penyembah berhala dan tidak memberikan  persepuluhan, para imam mengabaikan bait suci dan tidak mengajarkan jalan-jalan Tuhan. Singkatnya, orang-orang Yahudi tidak menghormati Allah.

Tahun 333 Sebelum Masehi,Israel jatuh kedalam pendudukan Yunani, dan tahun 323 Sebelum Masehi, jatuh kedalam pendudukan Mesir. Orang-orang Yahudi secara umum diperlakukan baik dalam pendudukan-pendudukan tersebut, dan mereka mengdopsi bahasa Yunani dan banyak kebiasaan Yunani, dan budayanya, dan di Mesir, Perjanjian Lama diterjemahkan kedalam bahasa Yunani. Terjemahan ini, disebut Septuaginta, dan dipergunakan secara luas, dan kerap dikutip dalam Perjanjian Baru..

Hukum dan keimamatan Yahudi masih berlangsung cukup memadai hingga Antiokhos Yang Agung dari Syria menduduki Israel pada tahun 204 Sebelum Masehi. Ia dan penerusnya, Antiokhos dari Epifanes, menganiaya orang-orang Yahudi dan memperdagangkan keimamatan, dan pada tahun 171 Sebelum Masehi, Epifanes menghancurkan kesakralan Ruang Mahakudus yang mengakibatkan perlawanan atau pemberontakan oleh Yudas Makabe yang masih turunan Harun, dan pada tahun 165 Sebelum Masehi, Israel berhasil memiliki kembali Yerusalem dan menyucikan bait suci. Akan tetapi peperangan terus berlangsung antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Syria sampai Roma menduduki Israel pada tahun 63 Sebelum Masehi dan pada saat itulah Pompey memasuki Ruang Mahakudus (ini sebuah pelanggaran tak terampuni karena hanya Imam Besar yang telah terlebih dahulu memenuhi tuntutan hukum taurat-seperti ia harus mempersembahkan kurban bagi pengudusan dirinya sendiri lebih dahulu-untuk melakukan pelayanan keimamatannya), dan sekali lagi mengejutkan dan rasa sakit hati yang mendalam bagi orang-orang Yahudi. Pada tahun 47 Sebelum Masehi, Caesar mengangkat Antipater, keturunan Esau, sebagai Prokurator/Wali Negeri Yudea, dan Antipater kemudian menunjuk dua puteranya sebagai raja-raja atas Galilea dan Yudea.

0 Menyambut Natal 2018 (3)


Oleh: Martin Simamora
Yesus Kristus Dalam Penantian & Kebenaran Para Nabi Perjanjian Lama:
Siapakah Dia & Semulia Siapakah Otoritasnya?

Bacalah lebih dulu bagian2

Kelahiran Mesias Kedalam Dunia Dalam Pengharapan dan Penantian Para Nabi Perjanjian Lama?
Pertama-tama adalah Yesus sendiri yang menunjukan bahwa kelahiran-Nya adalah hal yang telah diketahui dan dicatat  sebagai sebuah firman suci yang disampaikan Allah melalui perantaraan para nabi-Nya yang kudus. Mari kita membaca penjelasan Yesus mengenai hal ini:

Lukas 10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

Pada sejumlah kesempatan yang sangat krusial dalam pengajaran-pengajarannya, Yesus malah meletakan dirinya yang telah datang ke dunia ini sebagai sentral dan berita besar yang disuarakan oleh para nabi dan kitab suci:

Yohanes 5:46-47 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?"

Yohanes 5:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Bahkan Yesus sendiri tidak sekedar menunjukan dirinya berelasi dengan para nabi dan kitab suci dalam tulisan para nabi mengenai perihal yang akan datang namun ia lebih jauh menuturkan mengenai dirinya yang telah ada bersama-sama dengan para nabi tersebut dan berada dalam sejarah dan setiap era para nabi tersebut. Dan ini menjadi momen yang paling sukar bagi para pendengarnya, sebagaimana sejumlah episode berikut ini:
Yohanes 8:56-58 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."

Jika Yesus berkata bahwa almarhum Abraham telah mengenal-Nya sejak semula dalam sebuah sejarah purba, lalu siapakah Yesus? Tidak ada manusia yang baru lahir di zaman yang lebih maju dapat berkata:
▬Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita
▬sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.

Ia telah ada sebelum segala sejarah ada, sebelum waktu, ruang dan materi ada! Tetapi ia tak hanya ingin mengatakan bahwa ia adalah makhluk sorgawi ciptaan seperti malaikat atau lebih tinggi daripada malaikat. Bukan! Yesus tak sekedar membicarakan kekekalan semacam itu, tetapi ia membicarakan kekekalan sebagai Yang Mahakuasa: dalam sebuah cara yang menunjukan bahwa ia memang benar-benar mahakuasa dalam Ia telah menjadi manusia. Perhatikan sabda Yesus yang begitu mencengangkan ini:

Yohanes 8:51- Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9