F O K U S

An Introduction to Christian Apologetics - 1

By: Dr.Paul Coulter What is ‘Apologetics’? What is ‘Apologetics’? The term ’apologetics’ derives from the Greek word apo...

0 Saya TIDAK Oke, Anda Juga TIDAK Oke! ( Roma 3:9-20) - Bagian 3 - Selesai


a world in chaos - cnn money
Bacalah terlebih dahulu dua bagian sebelumnya : Bagian 1 dan Bagian 2

Oleh : Keith Krell, Ph.D


Dalam Roma 3:13-14, Paulus memberikan kategori lainnya: Perkataan kita bejat/rusak [ Lihat Matius 12:37; Markus 7:20-21]. Kita mengkhianati karakter kita dengan  perkataan kita. Hati kita membuat jalannya, dan mulut kita mengikutinya. Dalam dua ayat ini sekalipun  manusia  menjalankan pemeriksaan fisik tahunan. Sebagaimana anda ketahui ketika pergi ke dokter karena penyakit yang tidak diketahui, dokter umumnya ingin memeriksa mulut anda. Dia meletakan  semacam  stik  pada lidah anda dan berkata, “katakan ahh!” Nah disini Tuhan melihat kedalam mulut orang berdosa, dan ketika kita berkata, “Ahhh,” Tuhan berkata,”yak!” Paulus menuliskan dalam Roma 3:31a:” Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga.” Selama era Alkitab, pembalseman tidak dilakukan seperti  halnya juga pada saat ini. Lalu  ayat ini   berlanjut tanpa mengatakan bahwa sebuah kuburan yang terbuka pastilah bau!Dalam cara yang sama, Paulus mengatakan bahwa bau busuk kerongkongan manusia seperti jasad yang bau busuk. Menariknya, frasa “kubur  terbuka” secara  harfiah bermakna sebuah kubur yang menganga. Saya pikir   hal ini bermakna kita harus berhati-hati ketika kita menganga sehingga orang tidak melihat kerongkongan atau hati kita yang membusuk.

0 Pemelintiran Ayat (4) : Wahyu 3:20 dan Tawaran Keselamatan


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D
Esai ini merupakan  bagian dari  sebuah serial esai-esai singkat   dengan topik “Pemelintiran Ayat.” Tujuan dari esai-esai yang sangat singkat ini untuk menentang interpretasi-interpretasi tertentu pada kitab suci yang telah menjadi popular,  yang sesungguhnya hanya memiliki atau tidak memiliki dasar.

Esai-esai terdahulu : esai 1, esai 2, esai 3


Wahyu 3:20.  Setiap orang mengenal teks ini. Ayat ini merupakan ayat yang kita gunakan untuk “menutup/mengakhiri” ketika menuntun seseorang kepada Tuhan Yesus. Gambar yang kita lukiskan adalah: jika seseorang mengundang Yesus  masuk kedalam hatinya, mereka akan diselamatkan. Satu-satunya permasalahan dengan hal ini adalah: ayat yang dimaksud tidak sama sekali sedang membicarakan apa  yang sedang dimaksudkan. Teks ini (pada bahasa asli Perjanjian Baru) dibaca :
jIdouV e{sthka ejpiV thVn quvran kaiV krouvw: ejavn ti" ajkouvsh/ th'" fwnh'" mou kaiV ajnoivxh/ thVn quvran, kaiV eijseleuvsomai proV" aujtoVn kaiV deipnhvsw met j aujtou' kaiV aujtoV" met j ejmou' (“Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk. Jika  siapapun mendengar suaraku dan membuka pintu, Aku akan datang  kepada/mendatangi ( come in to) dia dan akan makan malam bersama dengan dia dan dia [akan makan malam] bersamaku”).  Frasa krusial untuk tujuan-tujuan kita adalah “Aku akan datang kepada  dia.” Teks ini kerap diambil sebagai sebuah teks tawaran keselamatan bagi orang berdosa yang terhilang. Pandangan semacam  ini didasarkan pada dua asumsi: (1) bahwa orang-orang Loadika, atau setidaknya beberapa dari mereka, sungguh-sungguh telah terhilang, dan (2) bahwa  eijseleuvsomai prov" bermakna "masuk kedalam (come into)."

0 Pemelintiran Ayat (3) : Apakah Mengasihi Diri Sendiri Biblikal? –Matius 22:39

Bacalah rangkaian esai-esai pendek sebelumnya : esai 1, esai 2


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D

Matius 22:39 sederhananya dibaca,” Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam komunitas-komunitas Kristen populer ayat ini kerap ditampilkan sebgai sebuah teks yang mengajarkan bahwa kita diperintahkan untuk mengasihi diri kita sendiri. Dengan demikian makna tersirat ayat ini adalah, ”Anda harus mengasihi sesama seperti  halnya anda seharusnya mengasihi dirimu sendiri.” Pandangan semacam ini nampaknya berasal dari para psikolog sekuler (yang mengajarkan aktualisasi diri sendiri sebagai peringkat teratas dalam rangkaian target-target seseorang). Dari sanalah kelihatannya menjadi  jalan  untuk masuk kedalam  risalah-risalah atau paparan-paparan psikologi Kristen.


Tujuan kita dalam esai yang singkat ini bukan untuk melacak sejarah interpretasi semacam ini, tetapi untuk mengajukan argumentasi bahwa interpretasi semacam ini keliru. Membongkar atau mempreteli makna ayat tersebut menghasilkan terjemahan yang diluaskan sebagai berikut: ”Kamu harus mengasihi sesama sebagaimana  kamu telah  mengasihi dirimu sendiri.” Jadi, mengasihi diri sendiri merupakan asumsi dalam teks ini, bukan perintah.

0 Saya TIDAK Oke, Anda Juga TIDAK Oke! ( Roma 3:9-20) - Bagian 2

Bacalah terlebih dahulu Bagian pertama di sini

Oleh : Keith Krell, Ph.D
Patut untuk dicatat  bahwa preposisi “dibawah” (hupo) merupakan sebuah istilah militer yang bermakna  berada dibawah otoritas seseorang atau sesuatu yang lain. Kata ini digunakan bagi  para prajurit yang berada dibawah otoritas seorang komandan. Dalam konteks ini, kata ini bermakna bahwa umat manusia didominasi oleh dosa. Kita berada dibawah kuasanya. Frasa “dibawah dosa” menyiratkan bahwa kita terlahir  penuh dengan dosa dan kemudian mulai  sadar sepenuhnya melakukan dosa setidaknya pada awal-awal usia  dini  tiga hingga enam bulan! Seorang  bayi yang  sedang disusui dan diberitahukan untuk tidak menggigit ibunya bisa jadi menatap  mata ibunya dan  menggigitnya lebih keras lagi. Seorang bayi yang  masih merangkak berangkali dimintai oleh ayahnya untuk berhenti, dan dia berangkali tersenyum dan semakin lebih cepat lagi merangkak menjauhinya. Kita sepenuhnya berdosa dan kita  “dibawah”  kuasa dosa disaat usia yang amat dini. Lebih jauh lagi frasa “dibawah dosa”  lebih daripada “dosa asal” dan kecenderungan kita untuk melakukan dosa-dosa tertentu. Problem kita adalah bahwa kita  diperbudak kepada dosa [Moo, The Epistle to the Romans, 201.]. Dengan kata lain, kita terlahir didalam dosa,  secara sadar berbuat dosa  sesegera mungkin, dan telah memperlihatkan dosa selama perjalanan hidup kita.  Sekali lagi, kita dibawah kuasa dosa.


Bukan  perbuatan yang baik untuk mengklaim kebaikan. Kita tidak ada baiknya, hanya Tuhan yang baik (bandingkan dengan Markus 10:18). Seperti sebuah pepatah lama orang Tiongkok, “ Ada dua orang baik—yang satu mati dan yang satunya lagi  belum dilahirkan”[ Dikutip oleh  S. Lewis Johnson, Jr. “Studies in Romans: Part IX: The Universality of Sin,” Bibliotheca Sacra (Apr 1974 131:522), 164.]. Poin Paulus disini sederhana : Saya tidak oke, anda juga tidak oke.

0 Saya TIDAK Oke, Anda Juga TIDAK Oke! ( Roma 3:9-20) - Bagian 1


truthnet.org


Oleh : Keith Krell, Ph.D


Jauh beberapa  tahun lampau, seorang koresponden The London Times yang biasa mengakhiri artikel-artikelnya dengan kata-kata “what is wrong with the world Today?”[Apa  yang salah dengan dunia hari ini?]. Pada akhirnya, seseorang menanggapi kata penutup semacam itu, G.K. Chesterton (1874-1936), penulis dan apologet Kristen terkemuka, menuliskan  tanggapannya sebagai  berikut, “Dear Editor, What’s wrong with the world? I am.  Faithfully yours, G.K Chesterton [Editor  yang terhormat, apa yang salah dengan dunia ini? Sayalah yang salah. Hormat saya, G.K. Chesterton]. Dalam  kalimat yang tidak panjang tersebut, Chesterton dengan cantiknya merangkumkan pengajaran Alkitab terkait problem sentral duni ini. Masalahnya adalah orang! Lebih spesifik lagi, masalahnya adalah apa yang ada didalam diri kita—manusia batiniah kita atau pribadi kita [ Dwight Edwards, Revolution Within (Colorado Springs: Waterbrook, 2001), 41. Pada tahun  1948, Albert Einstein menggaungkan berbagai  ekspresi hati  Chesterton ketika dia berkata , “The problem lies in the hearts and thoughts of men. It is not a physical but an ethical one. What terrifies us is not the explosive force of the atomic bomb, but the power of wickedness in the human heart”(= Permasalahan itu terletak didalam semua hati dan pikiran  umat manusia. Bukan hal yang bersifat fisik tetapi yang bersifat etika. Apa yang menakutkan kita bukan  kekuatan ledakan bom atom, tetapi kekuatan kejahatan didalam hati manusia (see Edwards, Revolution Within, 43). Sebagaimana yang dikatakan  Pogo seorang teolog besar, “Kita telah bertemu dengan musuh dan dia adalah kita [Pogo adalah karakter  kartun].”

0 Pemelintiran Ayat (2) :Apakah Segala Sesuatunya Memang Bekerja Bersama-Sama Untuk Mendatangkan Kebaikan? Roma 8:28 didalam Konteksnya

Natural Disaster
Bacalah terlebih dahulu pengantarnya di sini


Oleh :  Prof. Daniel B Wallace, Ph.D


Anda telah mendengarkannya ribuan kali :”Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.” Ini merupakan keoptimisan abadi  yang digaungkan  bukan dalam  realita pencobaan tetapi dalam pemikiran penuh harap akan impian orang Amerika, akan keyakinan ala Hollywood, atau sebuah pandangan yang menekankan  kecenderungan  pencarian segala hal agar hal serba baik saja yang boleh terjadi. Semua kita tahu bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar—kita tahu anak-anak yang umurnya  dirampas  oleh kanker atau pengemudi mabuk, atau mereka yang ketagihan obat-obatan/narkoba  berasal dari keluarga yang baik, atau para kepala rumah tangga yang kehilangan pekerjaannya, atau para prajurit yang sekembalinya dari medan perang kehilangan anggota tubuhnya. Kita mengetahui berbagai tragedi yang jumlahnya tak terhitung dan penderitaan yang tidak diinginkan, namun demikian kita mengulangi mitos ini kepada anak-anak kita  dengan mata menatap tajam  berkata:”Jangan khawatir; semuanya akan baik-baik saja.”

0 Pemelintiran Ayat : Bacalah Ini Pertama-tama! - Bagian 1

Oleh : Prof. Daniel B Wallace, Ph.D



Ini merupakan  bagian pertama dari sebuah serial esai singkat bertajuk “ Pemelintiran Ayat.” Tujuan dari esai-esai yang sangat ringkas ini adalah untuk menentang interpretasi-interpretasi populer tertentu terhadap Alkitab yang  sangat sedikit atau tidak  memiliki dasar.


Menyalahgunakan Ayat, Menyalahgunakan Tuhan

Orang-orang Kristen evangelikal mendasarkan kehidupan mereka  pada Alkitab. Kita percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan dan oleh karena itu berotoritas atas kita dalam hal-hal iman dan prakteknya. Alkitab mengindikasikan  kebenaran-kebenaran besar mengenai siapakah Tuhan, bagaimana kita dapat berhubungan dengannya, bagaimana kita dapat memahami diri kita dan dunia. Singkatnya, Alkitab mengandung kata-kata kehidupan. Orang-orang percaya menggunakan Alkitab untuk memandu mereka dalam mencari tahu kehendak Tuhan, dari hal yang monumental hingga duniawi. Kita membaca Alkitab untuk mendapatkan pengharapan serta juga untuk  menggali kebenaran. Alkitab berdampak pada keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, dan perilaku kita. Singkatnya, Alkitab adalah  pipa saluran menuju surga: tanpa Alkitab, kita  terhanyut, tak terlindungi  di tempat yang  tidak bersahabat.

0 Jujur Kepada Tuhan! Dia Bukan sebuah “Pit Stop” (Bagian 3 Selesai)


Bacalah terlebih dahulu  Dua bagian sebelumnya di sini untuk bagian 1 dan di sini untuk bagian 2


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D

Kedua, Pengakuan dosa melibatkan sebuah  pengakuan akan  ketidakcukupan dan kebutuhan kita
. Ketika saya mengaku, “Tuhanku, Aku mengakui dosa-dosaku. Dan aku berjanji, aku tidak akan melakukannya lagi! Saya  sesungguhnya sedang bertindak tidak jujur dengan Tuhan. Dengan nafas yang sama kita mengatakan kepada Tuhan kita telah kacau dan bahwa kita  memiliki kemampuan untuk tidak melakukan kekacauan lagi! Tetapi bukankah Yesus berkata,”Diluar Aku , tidak ada yang dapat kamu lakukan”? Dan bukankah Paulus berkata bahwa “tidak satupun yang berbuat baik, tidak seorangpun”—dan bahkan  orang-orang percaya secara konstan “kehilangan kemuliaan Tuhan”?

Pada sisi lain, adalah baik untuk mengungkapkan  keguncangan dan kengerian atas dosa kita dihadapan Tuhan. Tetapi ketika kita mengungkapkan ketidakpercayaan (“Bagaimana bisa saya dapat melakukan hal itu?”) maka kita nyaris dalam bahaya untuk berpikir bahwa kita memiliki kemampuan untuk kembali ke jalurnya  terlepas dari Roh Kudus.  Pada dasarnya,  pengakuan adalah menjadi jujur dengan Tuhan mengenai siapakah kita.

0 Jujur Kepada Tuhan! Dia Bukan sebuah “Pit Stop” (Bagian 2)


picstopin.com

Daniel B. Wallace, Ph.D


Bagian 1
: Salib menyediakan akses kepada  Bapa: memberikan kepada kita sebuah kelahiran baru sehingga kita sungguh-sungguh  merupakan anak-anak Tuhan. Namun demikian, orang-orang Kristen masih berdosa. Kita masih manusia  yang rusak. Sekalipun kita adalah anak-anak Tuhan, kita kerap tidak berjalan bersama dengan Tuhan sebagaimana seharusnya. Dan itu adalah keberdosaan kita yang masih berlangsung, setelah kita diselamatkan, yang menyebabkan kita berupaya untuk menutup-nutupi perbedaan-perbedaan moral antara Tuhan dan diri kita sendiri.



B. Pengakuan Kebobrokan/Kebejadan oleh Manusia (1 Yohanes1:6-10)

Setelah Yohanes  membangun penjelasan tentang siapakah Tuhan, dia kemudian  beralih kepada kita dan bagaimana hubungan kita  dengan Tuhan. Yohanes tidak akan  mengizinkan kita untuk merasionalisasikan ( semacam upaya pembenaran) dosa kita. Menjadi berada didalam terang Tuhan berarti menjadi  dipaparkan terhadap kebenaran tentang Diri Tuhan dan diri kita.

Namun demikian ada sebuah problem  sukar yang kita hadapi. Pada ayat 6-10, Yohanes  mengimitasi atau meminjam  tiga pandangan keliru  yang dianut oleh para  penentangnya dalam penjelasannya dan kemudian memperlihatkan bagaimana   dalam pandangan-pandangan tersebut kehilangan hal pentingnya. Kesemua hal yang terlewatkan adalah segala hal yang terkait dengan kebobrokan/kebejadan manusia; semua hal yang terkait dengan bersembunyi dari terang.

0 Jujur Kepada Tuhan! Dia Bukan sebuah “Pit Stop” (Bagian 1)




Pit Stop dalam balapan  Formula 1
wikimedia.org
Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D

Pengantar


Salah satu kerinduan  yang teramat mendalam pada diri umat manusia adalah selalu ingin berkomunikasi dengan  makhluk yang lebih tinggi. Para imam kepercayaan-kepercayaan kuno sangat disanjung  oleh masyarakat umum; kota-kota Yunani telah menciptakan dewa-dewa mereka sendiri; agama-agama misterius telah menjanjikan komuni atau persatuan  dengan sebuah ketuhanan melalui ritus-ritus rahasia dalam cara yang luar biasanya  persis dengan Masonik dan Mormon.

Manusia modern sedikit lebih canggih, tetapi dia  masih  merindukan keintiman dengan sebuah makhluk yang lebih tinggi. Masa kini, “tuhan-tuhan” kita  biasanya adalah para selebriti.  Kita  berupaya kenal dekat dengan para pemain baseball dan ratu-ratu kecantikan, bintang-bintang filem, dan presiden-presiden ( yang mana terkadang satu orang pada saat yang sama).

0 M A N U S I A (Part 3)




Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN)

“R E V I V A L”
Kebaktian Minggu : Jam 09.00 di Hotel Sylvia Lt.4; Pemahaman Alkitab : Rabu, Jam 17.00 di Hotel Dewata

Khotbah Minggu, 11 Nov 2012
M A N U S I A (Part 3)
By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.


Dalam bagian 1-2, kita sudah membahas 4 hal seputar penciptaan manusia :
      1.    Manusia diciptakan melalui perundingan ilahi.
      2.    Manusia diciptakan langsung dan segera.
      3.    Manusia diciptakan pada hari ke enam
      4.    Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Sekarang kita akan melihat fakta-fakta yang lain lagi :

V.    MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN MULTI ASPEK.

Mengamati catatan Alkitab tentang penciptaan manusia maka akan terlihat bahwa sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia telah menggabungkan 2 unsur penting di dalam diri manusia yakni debu tanah dan nafas hidup/roh.

Kej 2:7 - Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

0 M A N U S I A (Part 2)

 

Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN)

“R E V I V A L”
Kebaktian Minggu : Jam 09.00 di Hotel Sylvia Lt.4; Pemahaman Alkitab : Rabu, Jam 17.00 di Hotel Dewata

Khotbah Minggu, 7 Oktober 2012

M A N U S I A
(Part 2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.



Pada bagiansebelumnya (Part 1) kita sudah belajar 2 fakta tentang penciptaan manusia yakni :

1.    Manusia dicipta melalui suatu perundingan ilahi.
2.    Manusia dicipta langsung dan segera.

Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan kita dengan melihat fakta-fakta yang lain dari penciptaan manusia.

III. MANUSIA DICIPTAKAN PADA HARI YANG KEENAM.

Jika kita memperhatikan urut-urutan / ordo penciptaan, kita akan mendapati bahwa manusia diciptakan pada hari keenam, hari terakhir dari 6 hari penciptaan oleh Allah.

Kej 1:27,31 – (27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (31) Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Jika kita membaca sejak ayat 24 maka terlihat bahwa manusia bukan satu-satunya yang diciptakan pada hari keenam. Pada hari yang sama Allah juga menciptakan segala binatang.

Kej 1:24-25 – (24) Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian. (25) Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

0 [Kesaksian Daniel B. Wallace] Perjalanan Iman dari Kognitif Menuju Sepenuh Jiwa dan Pikiran (Bagian III Selesai)

Bagian 1:Namun hal ini tidak menghalangi kerja akademisku.  Imanku telah menjadi sebuah iman yang kognitif (pada tatar intelejensia—red)—sebuah kekristenan yang berasal dari  leher ke atas. Sejauh saya dapat mengontrol teks, saya telah berbahagia. Saya menjalani kehidupan dalam  realita yang tidak utuh bahwa artikulasi teologia  hanya menjadi valid manakala hal itu didasarkan pada eksegesis yang baik dan tidak ada hal lainnya lagi. Seperti pepatah kodok didalam  air yang mendidih secara perlahan-lahan dalam pot, saya tidak merasakan bahwa saya sedang berada  dalam perjalanan  menuju penghancuran diri sendiri.

Bagian 2 :Pada saat yang sama, problem pada banyak non Kharismatik adalah walau mereka  mengklaim  bahwa Tuhan dapat menyembuhkan, mereka berlaku seolah dia tidak akan menyembuhkan. Kita kerap tidak percaya akan kemampuan Tuhan—kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Tuhan dapat menyembuhkan.



(8) Banyak broker-broker kekuasaan dalam evangelikalisme, semenjak pergantian abad, merupakan  orang-orang berkulit putih, para pria yang obsesif kompulsif
.  Semenjak era para Princetonian/para teolog   keluaran Princeton Theological Seminary ( Hodge, Warfiel, Machen, dan lainnya) , Evangelikalisme non kharismatik Amerika telah didominasi oleh  akal sehat Skotlandia,  pasca pencerahan, otak kiri ( logik, analitik, dan obyektif) , orang-orang kulit putih. Situasi ini mengungkapkan bahwa kita menyembunyikan  sebagian citra Tuhan, menyembunyikan sebagian kesaksian Roh, dan oleh karena itu kita tidak sejalan dengan sejarah Kekristenan [ Terkait hal ini, lihat  Vern Poythress, “Modern Spiritual Gifts As Analogous To Apostolic Gifts: Affirming Extraordinary Works Of The Spirit Within Cessationist Theology,” Journal of the Evangelical Theological Society 39 (1996) 72-102, dimana dia membenarkan adanya  mujizat-muizat dikalangan  “cessationist.” Bagian argumentasinya yang patut dicatat” bahwa para penganut pandangan cessationist  pada abad ke-19 merasakan kehadiran Tuhan dan telah melihat perbuatan-perbuatan Tuhan berlangsung yang tidak sesering pada para   cessationist  masa kini) . Implikasi-implikasi dengan demografik semacam ini  bermacam-macam. Tiga diantaranya adalah sebagai berikut.

0 [Kesaksian Daniel B. Wallace] Perjalanan Iman dari Kognitif Menuju Sepenuh Jiwa dan Pikiran (Bagian II)

Sebelas Tesis

Daniel B. Wallace, Ph.D
di Indonesia- dalam acara Sola Scriptura
Inilah  pengalaman penyakit  kanker  yang  diidap oleh anak lelakiku yang membangunkan semua kesadaranku, yang  membawaku kembali kepada hal-hal yang paling mendasar. Dan diluar pengalaman ini saya sedang bergulat dengan isu-isu praktis tentang pneumatology ( doktrin Roh Kudus).

Saya hendak menawarkan sebelas saran, sebelas tantangan—sebelas tesis jika anda  mau—yang berkaitan dengan area-area ini dalam kehidupanku sendiri yang Tuhan sampaikan. Saya belum sampai dengan 95 buah—dan ini bukanlah  Schlosskirche of Wittenberg (Gereja di Wittenberg).  Tetapi saya  berharap dan berdoa agar esai ini akan membantu orang-orang Kristen lainnya penganut pandangan “cessationist” terhindar dari perangkap  dimana saya terjerembab   kedalamnya.

0 [Kesaksian Daniel B. Wallace] Perjalanan Iman dari Kognitif Menuju Sepenuh Jiwa dan Pikiran (Bagian I)


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D



Daniel B.Wallace Ph.D
Profesor Studi PerjanjianBaru di Dallas TheologicalSeminary
Melalui pengalaman penyakit kanker  yang diderita puteraku, saya sampai pada sebuah keyakinan  ketidakcukupan Alkitab saja untuk menangani krisis-krisis dalam kehidupan.  Saya membutuhkan sebuah  pengalaman yang bersifat eksistensial/ nyata  dialami sendiri bersama Tuhan. Saya  memulai tahun-tahun awalku sebagai seorang kharismatik dan mulai  merenungkan pada bagaimana Roh Kudus bekerja pada masa kini. Saya telah memandang kitab suci dalam sebuah terang baru dan mulai bergulat dengan pertanyan, jika Roh Kudus tidak mati pada abad pertama, apa yang saat ini sedang dia lakukan dewasa ini? Esai ini menawarkan 11 tesis   mulai mengeksplorasi jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

0 Pemahamanku Terhadap Doktrin Biblikal Pemilihan

“Saya  begitu gembira bahwa Tuhan memilihku sebelum  penciptaan dunia, karena  Tuhan tidak pernah memilihku setelah aku dilahirkan!” Charles Haddon Spurgeon.

Berikut ini adalah sebuah ringkasan diskusi  mengenai apa yang saya  mengerti tentang  apakah maksud doktrin biblikal :pemilihan.

(1)Pemilihan tidak berarti  bahwa Tuhan  semata-mata  telah mengetahui  siapa yang akan percaya dan berdasarkan hal ini telah memilih mereka. D.L  Moody menyatakan bahwa  pemilihan bermakna :”Tuhan telah memilihku bagi dirinya sendiri, tetapi iblis telah memilihku untuk dirinya sendiri.Pilihanku adalah penentunya.


Apa yang dikemukakan bukan apa yang dimaksud dengan pemilihan atau “pilihan.” Tuhan tidak akan memilih kita; sebaliknya, kitalah yang akan memilih dia dan dia pada dasarnya tidak mengetahui tentang hal ini. (Lebih  lanjut,iblis, mahkluk ciptaan, akan ditempatkan dalam satu pesawat setara dengan Tuhan.).  Kesaksian kitab suci konsisten bahwa Tuhanlah yang melakukan tindakan memilih, bukan kita-manusia. Bandingkan hal ini dengan :

0 Neraka : Spiritual atau Sungguh-Sungguh Sebuah Tempat atau Keduanya?

Oleh : Daniel B. Wallace,Ph.D

Judul  diatas  merupakan sebuah respon atas pertanyaan apakah neraka semata pemisahan rohani dari Tuhan atau  apakah sebuah tempat penghukuman jasmaniah yang dialami secara sadar.

Secara langsung, pertanyaan ini  mengenai  apakah kita semestinya menginterpretasikan Alkitab secara harfiah pada bagian-bagian yang mengulas neraka. Bandingkan   khususnya dengan Wahyu 20:10 ,” dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.  Kitab Wahyu berbicara tentang neraka pada dasarnya lebih banyak daripada kitab lainnya, akan tetapi bahasa kitab ini agak simbolik. Terkadang sebuah interpretasi diberikan oleh  seorang malaikat: ketika interpretasi diberikan oleh malaikat, kita tidak seharusnya mencari interpretasi lainnya. Tetapi  dalam bahasan kali ini  bukan ini  masalahnya. Namun demikian dalam menginterpretasikan simbolisme pada kitab Wahyu dan pada Alkitab sebagai sebuah keseluruhan, kita harus selalu camkan dalam benak kita satu faktor kunci : gambaran melambangkan sesuatu. Jadi, sebagai contoh, seseorang tidak dapat begitu saja mengambil 1000-tahun kerajaan dan tujuh tahun  kesulitan besar dan berkata bahwa kedua peristiwa tersebut merujuk pada sebuah masa yang panjang. Penggalian  arti lebih  lanjut diperlukan.

0 Apakah Neraka Sungguh-Sungguh Berlangsung Abadi?


Oleh : Travis Allen
Director of Internet Ministry

Satu pandangan yang kelihatannya menunjukan pertumbuhan yang kuat dewasa ini dikalangan  evangelical adalah annihilationism. Ada sejumlah  variasi kecil, namun pandangan ini pada dasarnya mengajarkan bahwa Tuhan pada akhirnya akan melenyapkan orang-orang tidak percaya dari eksistensinya. Beberapa Annihilationist memberikan  ruang untuk murka ilahi tetapi mereka tidak membolehkan hal itu berlanjut hingga danau api. Dengan kata lain, mereka tidak  akan mengizinkan Tuhan melakukan penghukuman dalam kekuatan penuh, yang kekal, penghukuman yang nyata/dialami secara sadar. Bagi mereka, danau api adalah tempat   yang sepenuhnya membakar dan pada akhirnya memusnahkan orang-orang berdosa. Apakah mereka melihat kematian sebagai akhir, ataukah mereka melihat penyiksaan-penyiksaan neraka sebagai yang berdurasi terbatas, hasilnya sama saja—sebuah penyangkalan neraka yang kekal.

0 Apa yang Alkitab Katakan Mengenai Neraka




Oleh : Sid Litke

Fakta-Fakta Utama Mengenai Kekekalan
(1). Setiap orang akan berada dalam kekekalan baik di surga atau neraka :

  • Daniel 12:2-3
    Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal. Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.
     
  • Matius 25:46
    Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal." 
  • Yohanes 5:28Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya
  • Wahyu 20:14,15
    Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

0 Kedaulatan dan Kesetiaan Tuhan


Saling Mengenal Satu
sama lain
[Sumber :Getting to know your spouse]
Mengenal Tuhan yang sepenuhnya berdaulat atas seluruh kehidupan hanya dapat memberikan kelegaan dan damai jika kita juga mengerti   totalitas natur-Nya—keseluruhan atributnya dan bagaimana atribut-atribut itu bekerja secara bersama-sama untuk menyatakan  siapakah Dia dan  apa maknanya dalam  hal-hal praktis. Pernikahan dan persahabatan seperti apakah yang anda miliki jika anda hanya mengetahui satu hal  saja tentang pasangan anda? Jika semua yang anda ketahui tentang suamimu adalah dia seorang atletik, maka hal ini tidak akan berdampak banyak pada sebuah perkawinan, bukan? Tidak, anda harus juga tahu hal lain  tentang   sifat-sifat  karakternya.

0 Yesus Menenangkan Badai


Marine Insight

Oleh : Carl Gobelman M.Div


Penenangan badai oleh  Yesus dalam sebuah kisah yang ditemukan di semua injil synoptik, dan merupakan kisah yang paling disalahapahami secara universal oleh banyak orang Kristen. Hampir pada semua khotbah  yang saya dengarkan pada kisah ini  dari pelayanan  Yesus di bumi berubah menjadi   khotbah “Yesus dapat menenangkan badai-badai kehidupanmu.”  Kisah Yesus menenangkan badai berubah menjadi sebuah metafora : laut menggambarkan kehidupan seseorang, badai menggambarkan kesulitan-kesulitan yang datang dalam kehidupanmu, dan Yesus dihadirkan sebagai  sosok yang dapat menghardik kesulitan-kesulitanmu dan  menenangkan dirimu dan memberikan kepadamu ‘damai yang melampaui pengertian.’ Aplikasinya kemudian adalah sebuah nasehat untuk memilki iman yang lebih lagi. Hanya jika kita memiliki iman yang lebih lagi kepada  Yesus, maka badai-badai dalam hidupmu {sambil menyebutkan sebuah  masalah yang menjadi situasi yang dialami secara pribadi} akan ditenangkan {atau sesuatu yang  sewarna dengan ini}.


Selagi penerapan-penerapan ini dijalankan, maka hal ini bukanlah  hal yang mengerikan atau kesesatan, tetapi  penerapan   semacam ini  membuat kisah  tersebut  kehilangan  poin  yang terkandung dalam nas firman tersebut  sepenuhnya! 

0 Apa yang Anda Benci Tentang Yesus? – Bagian 2 Selesai



Bagian 1 : Kerap kali ketika saya bertatap muka dengan orang-orang non Kristen dalam sebuah dialog rohani, merupakan hal yang umum untuk mendengarkan   sebuah keluhan berantai tentang gereja, perilaku orang-orang Kristen munafik, dan seterusnya. Beberapa kritisme benar adanya sementara yang  lainnya tidak memiliki dasar kebenarannya....

Seorang skeptik  Bertrand Russel  menuliskan kalimat berikut ini yang ada didalam bukunya berjudul Why I am Not a Christian : “Ada sebuah ketimpangan serius bagi  pemikiran saya  terkait karakter moral Kristus dan itu adalah bahwa Dia percaya akan adanya neraka.  Saya  sendiri tidak merasakan  bahwa siapapun juga yang benar-benar berbelas kasihan  dapat percaya pada  penghukuman kekal…orang akan menemukan sebuah amarah pendendam secara berulang terhadap  orang-orang yang  tidak mendengarkan  khotbah Yesus…saya harus katakana  bahwa saya memikirkan semua doktrin ini, bahwa api neraka  sebuah penghukuman bagi dosa, adalah sebuah doktrin kejam.”
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9