F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

0 [Kesaksian Daniel B. Wallace] Perjalanan Iman dari Kognitif Menuju Sepenuh Jiwa dan Pikiran (Bagian I)


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D



Daniel B.Wallace Ph.D
Profesor Studi PerjanjianBaru di Dallas TheologicalSeminary
Melalui pengalaman penyakit kanker  yang diderita puteraku, saya sampai pada sebuah keyakinan  ketidakcukupan Alkitab saja untuk menangani krisis-krisis dalam kehidupan.  Saya membutuhkan sebuah  pengalaman yang bersifat eksistensial/ nyata  dialami sendiri bersama Tuhan. Saya  memulai tahun-tahun awalku sebagai seorang kharismatik dan mulai  merenungkan pada bagaimana Roh Kudus bekerja pada masa kini. Saya telah memandang kitab suci dalam sebuah terang baru dan mulai bergulat dengan pertanyan, jika Roh Kudus tidak mati pada abad pertama, apa yang saat ini sedang dia lakukan dewasa ini? Esai ini menawarkan 11 tesis   mulai mengeksplorasi jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.



Tulisan  ini  aslinya disampaikan sebagai sebuah pidato dalam   sebuah pertemuan   di Evangelical Theological  Society’s  Southwest  Regional tahun 1994  yang diselenggarakan oleh John Brown University di Arkansas. Tulisan ini telah dimodifikasi untuk selanjutnya dipublikasikan di Christiany Today, yang terbit pada  edisi 12 September 1994. Kini telah 13 tahun berlalu semenjak puteraku menderita kanker, peristiwa  yang  menjadi katalisator esai asli ini. Dia baik-baik saja—begitu baiknya pada kenyataannya,  bahwa dia berkompetisi dalam  tim olahraga   sekolah menengah selama empat tahun dan  menjadi wakil kapten dalam 2 tahun terakhir. Dia kini telah menyelesaikan  gelar kesarjanaannya di  Universitas Texas, Austin.



Pengantar

Saya seseorang  yang   percaya bahwa mujizat telah berakhir atau  menganut pandangan yang disebut “cessationist”.  Saya percaya  bahwa karunia-karunia tertentu dari Roh Kudus telah dipertunjukan pada tahap kekristenan perdana untuk mengotentikan bahwa  Tuhan telah melakukan sesuatu yang baru. “Karunia tanda-tanda” ini—seperti karunia kesembuhan, bahasa lidah,  tanda-tanda ajaib—sudah berhenti  bersama dengan kematian  rasul terakhir. Inilah yang saya maksud dengan “cessationism.” Beberapa  orang dengan pandangan semacam ini berangkali  menempatkan dirinya sebagai seorang “cessationist” yang “lembut” dimana mereka hendak mengatakan bahwa beberapa dari  karunia tanda masih berlangsung, atau bahwa karunia-karunia  tanda  hanya bisa terjadi pada tempat-tempat dimana injil disampaikan untuk kali pertama [ Ini apa   yang saya sebut  cessationism yang kosentrik sebagai lawan dari  cessationism yang linear.  Ketimbang memilih pendekatan linear  , tipe  cessationism  ini menegaskan bahwa seiringdengan  penyebaran injil , seperti efek riak air yang ditimbulkan oleh batu  yang dijatuhkan ke dalam  kolam air, sebuah ruang waktu  dalam lingkaran yang mengembang dari Yerusalem abad pertama, karunia-karunia itu masih ada pada   ujung terluar -lingkaran-lingkaran tersebut. Jadi sebagai contoh. Di negara-negara dunia ketiga pada saat  berita injil diproklamasikan, karunia-karunia tanda telah  diperlihatkan.  Pandangan ini kemudian akan meyakini bahwa karunia-karunia  tetap  ada pada  area di garis-garis paling ujung Kekristenan, namun akan menjadi lebih skeptik akan adanya karunia-karunia tanda pada area dimana “injil telah disampaikan dan karunia-karunia telah bekerja kala tersebut.”], atau mereka saat ini menjadi agnostis  mengenai karunia-karunia ini, oleh sebab itu bukan seorang (Kristen) yang  kharismatik. Untuk kepentingan argumen, saya akan mengambil sebuah garis keras. Dalam hal ini, apapun yang saya teguhkan atau iakan mengenai pelayanan  Roh Kudus saat ini tidak harus dipandang sebagai yang dimunculkan dari sebuah   lemari kharismatik. Saya ingin membahas sejumlah soal yang saya sendiri, sebagai seorang yang “cessationist”, memiliki perhatian atau kepedulian terhadap peran  Roh Kudus masa kini diantara orang-orang Kristen yang  berpandangan “cessationist.”

Sementara saya masih memandang diri saya sendiri sebagai seorang Kristen yang berpandangan “cessationist,” beberapa tahun belakangan ini telah memperlihatkan kepadaku bahwa kehidupan rohaniku telah keluar dari jalurnya—bahwa agaknya saya, bersama dengan  banyak rekan lainnya dalam tradisi teologia yang saya pegang, telah belajar untuk bekerja tanpa  Pribadi ke-tiga dari Tritunggal.


Namun hal ini tidak menghalangi kerja akademisku.  Imanku telah menjadi sebuah iman yang kognitif (pada tatar intelejensia—red)—sebuah kekristenan yang berasal dari  leher ke atas. Sejauh saya dapat mengontrol teks, saya telah berbahagia. Saya menjalani kehidupan dalam  realita yang tidak utuh bahwa artikulasi teologia  hanya menjadi valid manakala hal itu didasarkan pada eksegesis yang baik dan tidak ada hal lainnya lagi. Seperti pepatah kodok didalam  air yang mendidih secara perlahan-lahan dalam pot, saya tidak merasakan bahwa saya sedang berada  dalam perjalanan  menuju penghancuran diri sendiri.
Karya : Daniel B. Wallace, tabel isi
buku dapat dilihat di sini

Tiga belas tahun lampau, Yang Mahakuasa  tiba-tiba saja dan secara bermurah hati menaikkan panasnya. Dia telah memberikanku sebuah panggilan yang membangunkanku untuk keluar dari pot tersebut.  Saya sekarang membagikan kesaksianku dengan pengharapan-pengharapan bahwa banyak yang lainnya yang sedang berada didalam kuali-kuali yang mereka buat sendiri berangkali dapat menyadari bahayanya—dan keluar.

Artikel memiliki dua bagian. Pertama sebuah  testimoni atau kesaksian pribadi. Saya berharap ini berkaitan dengan anda, pada beberapa hal panjang lebar mengulas tentang siapakah saya dan bagaimana Tuhan sedang bekerja didalam kehidupanku. Kedua, saya memiliki sebelas  tesis  yang  akan saya letakan diatas meja—tesis-tesis yang berhubungan dengan  kekurangan-kekurangan kita dalam  hal bagaimana kita berhubungan dengan Roh Kudus. Banyak dari hal-hal ini, seperti halnya juga dengan beberapa  orang lain, telah dibukakan oleh penulis-penulis buku ini (artikel ini merupakan salah satu isi dari buku  berjudul :Who's Afraid of The Holy Spirit- red). Menjadi doa kami bahwa volume ini akan menjadi sebuah pemicu untuk menggerakan orang-orang Kristen lainnya yang berpandangan “cessationist”   dimana mereka semua harus bertanya kepada diri mereka sendiri : Jika  Roh Kudus tidak mati saat  pada abad pertama,apakah yang sedang Dia lakukan di  dunia pada saat ini?



Perjalanan Spiritualku

Saya tumbuh besar dalam sebuah gereja Baptis yang konservatif di California selatan. Saya menjadi seorang yang  percaya pada usia empat tahun ketika sata mengikuti  Liburan Sekolah Alkitab pada  musim panas 1956. Saudara laki-lakiku, pada usia    lima setengah tahun, menuntunku kepada Kristus. Ironisnya, dia bukan seorang yang percaya pada saat itu. Dua belas tahun kemudian saya menjadi alat untuk membawanya kepada Juru selamat.

Saya tumbuh besar didalam  gereja. Masa mudaku ditandai dengan  sifat malu-malu: saya bagaikan seorang Clark Kent yang tidak memilki  kepribadian lainnya. Saya seorang yang takut akan kehidupan, takut untuk mengeksplorasi, takut untuk  bertanya dengan suara lantang. Walaupun demikian—atau berangkali oleh karena ini, saya  menjadi  seorang pemimpin dalam  kelompok pemuda. Tetapi saya memiliki pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah disampaikan—pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah saya telah memiliki sebuah pengalaman Kristen yang otentik. Pada  usai enam tahun saya berada ditengah-tengah kehidupan  yang sedang diancam krisis: haruskah  atau tidakah bertanya pada Terri C. Ketinggalan zaman? Karena kekacauan yang melanda jiwaku, saya  dengan segera menyetujui ketika seorang teman mengundang saya ke sebuah  acara Kharismatik di Melodyland di Anaheim, California. Gedung dipenuhi banyak orang; beberapa ribu memenuhinya. Pembicaranya berkata beberapa hal yang mengganggu saya secara intelektual. Ketika dia memberikan sebuah panggilan ke depan/altar call, saya sudah siap untuk maju kedepan dan memberikan kepada dia sebuah pemikit. Ketika saya beranjak dari tempat dudukku, Roh Kudus meraih hatiku dan berkata, “Tidak, ini bukanlah  dasar  bagimu untuk maju kedepan.  Kamu harus benar dihadapan Tuhan.” Saat itu, Dia tidak berbicara secara audible (suara yang dapat didengar secara langsung.  Kata-kata ini tidak dituliskand alam huruf-huruf  berwarna merah.  Tetapi selagi saya  beranjak berdiri, sebelum, saya  mulai melangkahkan kaki saya, saya diliputi sebuah kesadaran akan dosaku. Roh Tuhan  jelas ada di tempat itu.

Selagi saya maju kedepan, empat atau lima ratus orang   mengalir maju kedepan menuju panggung. Dengan ratusan orang disana, saya sangat takjub ketika pembicara dengan mikropon di tangan, memilih diriku. “Mengapa kamu maju kedepan, anak muda?”dia menyelediki.” Saya datang untuk mendedikasikan kembali hidupku kepada Kristus,” Saya menjawab. Sebuah hal yang baik bahwa Roh Kudus telah mengubah hatiku sebelum bibirku berkata!



Malam itu, 6 Januari 1969, merupakan titik balik besar dalam kehidupanku. Saya masih merayakannya sebagai ulang tahun rohaniku ( kerena  tanggal persis dimana pertobatanku terjadi pada uisa empat tahun masih  merupakan peristiwa yang agak kabur).

Sebelum saya meninggalkan Melodyland malam itu, seorang pria mengundangku untuk mengunjungi sahabatnya di Huntington Beach. Saya bergabung  dengan kelompok tersebut dan saya menjadi seorang kharismatik. Kelompok ini sangat  bersemangat dalam  beribadah, berapi-api dalam penginjilan. Imanku  hidup. Kehidupan doaku  berkembang. Dan,untuk kali pertama dalam hidupku, saya memiliki semangat.

Saya dapat berdoa selama berjam-jama  setiap harinya, meminta Tuhan untuk menganugerahkan padaku karunia berbahasa lidah. Setelah pertemuan malam akhir minggu, ketika salah satu “rasul” (rasul Bob, saya yakin [ Saat itu ada 12 rasul di Light House. Kita saling mengenal  satu sama lain hanya dengan nama pertama mereka, kerena seperti kata rasul Bob, “para rasul  asli” hanya memiliki satu nama.”], mengetahui bahwa saya tidak  memiliki karunia berbahasa lidah, dia bertanya apakah saya telah dibaptis dengan Roh Kudus. Ketika saya menjawab tidak, dia menumpangkan  tangannya atas diriku dan hal itu dilakukan di pinggir jalan. Mengamati bahwa tidak terjadi apapun, dia meragukan keselamatanku.

Sehingga saya diam-diam meninggalkan kelompok  tersebut. Pada bulan-bulan berikutnya, saya bersekutu di Calvary Chapel, dimana gerakan Kharismatik baru/neo charismatic bermula. Pada akhirnya, dan dalam cara yang cukup alami, saya meninggalkan gerakan kharismatik sama sekali. Saya telah  melihat banyak penyimpangan, dan  telah mengamati bahwa banyak hal tidak  sesuai dengan  kitab suci. Tetapi semangatku bagi Tuhan tidak  padam. Saya menjadi bagian  gerakan Yesus sebagai seorang non kharismatik. Saya   masih terus  berdoa, menginjili, dan membaca Alkitabku. Pada kenyataanya, ada sebuah bentang waktu yang panjang dimana saya membaca Perjanjian Baru, dari depan ke belakang, setiap minggunya. Saya melihat tangan Tuhan didalam setiap hal. Dan Tuhan menganugerahku sebuah takaran semangat yang tidak dan  pasti tidak secara alami berasal dari diriku sendiri.   Walaupun saya telah meninggalkan gerakan kharismatik, memerlukan waktu yang panjang bagi saya  untuk menggantikan hasratku bagi Yesus Kristus dengan sebuah hasrat untuk Alkitab.

Isi buku ini dapat dilihat
di sini
Karena ketertarikanku akan hal-hal spiritual, saya memutuskan untuk berkuliah di sebuah akademi seni-seni liberal Kristen. Saya   masuk ke Biola University, menikahi seorang gadis Irlandia  yang juga belajar di perguruan tinggi itu, dan  kemudian saya masuk ke Dallas untuk mendapatkan pelatihan teologia yang lebih lagi.



Sepanjang tahun-tahun tersebut, setelah  masuk ke sebuah perguruan Kristen dan sebuah seminari yang berpandangan “cessationist,”  saya mulai tergelincir  menjauh dari hubungan awalku dengan Tuhan yang  bersemangat. Pengertianku akan kitab suci semakin meninggi, tetapi perjalananku bersama Tuhan melambat hingga merangkak.  Saya memilih postur pembelaan  dan apologetik dalam studi-studi kitab suci. Dalam beberapa tahun terakhir, Saya mulai mempertanyakan kecukupan   pendirian semacam ini—mengakui, dan menyadari pada akhirnya bahwa hal tersebut tidak memuaskan kerinduan-kerinduanku  yang demikian mendalam.

Joe Aldrich, presiden Multnomah Bible College, sekali waktu berkata kepada saya, “Rata-rata membutuhkan lima tahun bagi  para lulusan untuk mencairkan  diri dari pengalaman semacam itu.”  Kebanyakan lulusan seminari, saya duga,  proses pencairan itu bisa datang dari perjalanan peristiwa-peristiwa alami. Tetapi membutuhkan sejumlah krisis sebelum Tuhan mulai menghangatkanku kembali. Satu hal yang sungguh-sungguh memberikan  panas yang luar biasa adalah apa yang telah terjadi pada puteraku, Andy,  tiga belas tahun lampau—ketika dia berusia delapan tahun.

Pada Desember 1991, Andy ditendang  pada perutnya dalam sebuah peristiwa kekerasan di sekolah. Dia mengalami sejumlah  kesakitan pada perutnya yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kepribadiannya berubah.  Dia tidak lagi anak yang  bahagia  serta kocak; dia muram, ketakutan, dan letih. Dua bulan kemudian, melalui sebuah   tindakan tidak bijak yang dituntun  untuk terjadi, Andy membiarkan pintu kamar mandinya terbuka ketika isteriku melintasinya. Isteriku melihat sesuatu yang menakutkannya: air seninya berwarna coklat. Pada  hari yang sama  itu, dia membawanya ke dokter  keluarga kami. Ini memulai serangkaian pertemuan dengan  para dokter dan para spesialis. Tidak satupun dari mereka memiliki petunjuk apa yang salah. Pada akhirnya, Andy dimasukan ke Rumah Sakit Anak pada 20 April 1992, dijadwalkan untuk menjalani biopsi  ginjal.



Video : dialog antara Bart Ehrman Vs Daniel B Wallace. Ehrman seorang anti Kristen- 14-Febuari 2012
Sebelum biopsi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan sonogram. Kita mengantisipasi terjadinya penggumpalan darah pada ginjal, tetapi sonogram memperlihatkan bahwa sesuatu yang lebih serius ditemukan. Berangkali itu ada sebuah tumor. Seorang dokter  menyarankan operasi untuk penyelidikan/eksplorasi ketimbang biopsi. Ini terdengar gila bagiku!  Membedah “Beaker”ku![ nama julukan Andy. Sejak usia 4 tahun dia menirukan suara-suara karakter  beaker, tokoh dalam Sesame Street di program PBS]. Kami setuju, dengan perasaan berat, untuk menjalani prosedur ini.

Operasi dilakukan pada  Rabu , 22 April. Itulah saat mimpi buruk dimulai. Salah satu dokter mentaklimat kami sedari awal:

Tuan dan ibu Wallace, Saya tidak terlalu mengkhawatirkan operasi ini. Apa yang diperlihatkan Sonogram berangkali hanyalah sebuah gumpalan darah. Dan jika itu bukan gumpalan darah, maka, paling mungkin, itu adalah sebuah  tumor yang jinak. Dan jika itu tidak jinak, maka itu berangkali sebuah  tumor Wilm (tumor  ginjal pada anak yang diduga cacat bawaan pada ginjal dan kerap terjadi pada anak kembar , jika ingin tahu lebih  informatif  baca di sini red].  Ini merupakan kanker ginjal bawaan yang dijumpai pada  anak-anak. Penyakit ini dapat ditangani dan disembuhkan. Akan tetapi jika ini bukan tumor Wilm, ada sebuah kemungkinan kecil bahwa apa yang dimiliki anak anda merupakan  sel carcinoma ginjal. Tetapi  yang semacam ini merupakan kanker yang jarang terjadi pada anak-anak yang kemungkinannya sangat kecil.
Jam-jam  selama dan setelah operasi dilangsungkan, kami mendapatkan diri kami terpukul oleh gelombang demi gelombang berita menakutkan. Andy, benar-benar, mengidap Renal Cell Carcinoma (RCC). Dan yang diidapnya bukanlah jenis yang normal—yang itu saja sudah mematikan. Andy mengidap  jenis   RCC yang lebih ganas. Pada 1992  kurang lebih sepuluh anak-anak telah didiagnosa di seluruh dunia telah menjalani kehidupan selama dua tahun dengan   jenis RCC ini. Tanpa  operasi radikal,  jelas-jelas penyakit ini tidak dapat ditangani dan disembuhkan, demikian sejauh ilmu kedokteran mengetahuinya.

Ada kabar-kabar baik  dalam semuanya ini, berita-berita yang yang menjaga karakter, berita-berita yang telah memberikan kepada kita pengharapan bahwa anak lelaki kami dapat hidup. Pertama, pelaku kekerasan yang telah menendang Andy pada perutnya berangkali telah menyelamatkan nyawanya. Hanya  sepertiga kasus-kasus RCC mengalami gejala air seni yang  berdarah. Gejala-gejala lain yang bisanya terjadi adalah sakit perut ringan dan  demam suhu rendah yang jarang  terjadi [ Kasus pertama telah dilaporkan di Amerika (1934) juga  sakit perut yang ringan, kenyataanya, anak tersebut telah meninggal sebelum kedua orang tuanya menduga apapun juga yang pantas untuk mendapatkan perhatian dokter]. Tendangan ke perut itu berangkali telah memicu  air seni berdarah. Kedua, salah seorang dokter yang  bersikeras  untuk melakukan operasi penyelidikan/eksplorasi,  bukannya  melakukan biopsi  juga telah menyelamatkan  kehidupan Andy. RCC sangat berpotensi menjadi kanker pada setiap kasus yang  tercatat dimana sebuah biopsi  yang dilakukan berakhir dengan kematian pasien. Ditengah-tengah keheranan, dalam kebingungan, dalam  teriakan kepada Tuhan,  aku masih melihat Tangan Tuhan dalam semua ini.

Ginjal Andy telah diambil  dalam operasi dan menjalani sejumlah ragam tes yang tidak menyenangkan dimana tubuhnya diperiksa untuk mengetahui adanya kemungkinan sisa-sisa kanker. Uji sumsum tulang adalah hal yang paling traumatik. Isteriku yang berani menggendong Andi dalam dekapan tangannya selam 20 menit selagi putera kecilnya mencengkramnya, berteriak di telinganya,”Hentikan mereka, Mami!Hentikan mereka! Enam hari pengujian  menunjukan tidak ada jejak kanker.

RCC Pada anak begitu langka dan kasus   yang dialami Andy merupakan yang pertama dilaporkan di Amerika Serikat sejak 1984. Secara global, Andy merupakan anak yang ke-161 yang pernah didiagnosa mengidapnya. Tidak ada kelompok-kelompok   pendukung. Sebelum Andy keluar dari  rumah  sakit, sebuah tim yang terdiri dari 10 orang dokter tidak dapat memutuskan apakah perlu menjalankan kemoterapi. Tindakan ini secara  terbatas  menjadi upaya pencegahan, tetapi untuk RCC, pencegahan adalah segalanya. Jika kanker  berkembang kembali tapi pada bagian tubuh lainnya, dia akan meninggal (sejauh statistik mengatakannya). Tak ada anak yang selamat setelah terkena RCC. Pilihan ada pada kami apakah menjalani kemoterapi atau tidak.



Kami memutuskan untuk menjalani kemoterapi, karena resikonya jika tidak melakukan, bertanya-tanya apakah kemoterapi  akankah membunuhnya, merupakan hal yang terlampau besar untuk kami tanggung. Saya tidak dapat menggambarkan dengan cukup baik    akan seperti apakah enam bulan kedepan—bagi Andy, bagiku dan bagi maminya, bagi tiga saudara laki-lakinya. Tetapi saya dapat katakan kepada anda bahwa saya berada dalam kegundahan emosi yang amat sangat. Saya marah kepada Tuhan dan mendapatkan Dia menjadi jauh. Disini anak lelaki kecil kami tersayang kehilangan rambutnya, dan kehilangan bobot badannya. Pada satu titik dia hanya berbobot empat puluh lima pound (atau sekitar 20 kilogram lebih sedikit-red). Saudara kembarnya pada saat itu berbobot delapan puluh lima pound. Andy begitu lemah sehingga kita harus  menggendongnya kemanapun, bahkan ke kamar mandi.

Melalui pengalaman ini, saya mendapatkan bahwa Alkitab  tidak memadai. Saya membutuhkan Tuhan dalam sebuah cara yang personal—bukan sebagai obyek studiku, tetapi sebagai sahabat, pemandu, dan penghibur. Saya membutuhkan sebuah pengalaman eksistensial (nyata dialami langsung) dari Dia yang Kudus.  Terus terang saja, saya menemukan Alkitab bukanlah jawaban. Saya mendapatkan bawah Kitab suci membantu—bahkan secara otoritas membantu—sebagai pemandu. Tetapi tanpa merasakan Tuhan, Alkitab hanya memberikan sedikit  pelipur lara. Di tengah-tengah “musim panas dari neraka,” Saya mulai memeriksa apa yang telah menjadi imanku.  Saya menemukan kerinduan untuk  menjadi lebih dekat kepada Tuhan, tetapi mendapatkan diriku tidak dapat melakukannya  melalui sarana-sarana normal: eksegesis, pembacaan kitab suci, eksegesis lagi. Saya percaya bahwa saya memiliki  Tuhan yang  kepribadiannya dilucuti   sebegitu hebatnya sehingga ketika saya benar-benar membutuhkan-Nya saya tidak tahu bagaimana berhubungan dengan Dia. Saya merindukannya, tetapi menemukan banyak komunitas  dengan  begitu banyak batasan-batasannya dalam lingkungan kristenku yang berpandangan “cessationist.” Saya mencari Tuhan, tetapi yang kudapati hanyalah sebuah    kematian karena tercekik  oleh Roh tradisi evengelikalku demikian juga dengan hatiku sendiri.




Selanjutnya : SEBELAS TESISKU


Introduction: Who's Afraid of the Holy Spirit? The Uneasy Conscience of a Non-Charismatic Evangelical| diterjemahkan dan diedit oleh : Martn Simamora

No comments:

Post a Comment

Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9