0 Gereja Waspadalah (7- Selesai) : PARA PENYESAT Perhatikanlah Peringatan Keras Ini !

Keadaan Mereka : “Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” Dengan kata-kata ini rasul Paulus memperlihatkan kepada kita natur atau sifat sejati legalisme dengan menunjukan kepada kita betapa seseorang  menjadi demikian buruknya dan tiada berguna. Anak kalimat ini menggambarkan betapa legalis atau pengusung Hukum menyangkali Tuhan   walaupun mereka mengaku mengenal Tuhan secara intim dan mampu menuntun orang lain untuk mengenal Tuhan secara intim.

Bacalah lebih dahulu pada bagian-bagian sebelumnya :



“Durhaka” disini berasal dari kata bdeluktos yang bermakna, “ sangat buruk/sangat tidak menyenangkan, kebencian sangat hebat terhadap orang atau sesuatu.” Kata ini membawa pokok pikiran “kejijikan.” Kata ini hanya muncul didalam  Perjanjian Baru, walau kata bdelugma yang bermakna  “sesuatu yang  tidak disukai/tidak disetujui, kebencian yang sangat hebat terhadap seseorang atau sesuatu,” muncul sebanyak enam kali. Paulus menggunakan sebuah kata yang  sedemikian kuat maknanya untuk membantu kita memahami cara pandang Tuhan terhadap guru-guru palsu yang berpaling dari anugerah dan masuk kedalam legalisme dan yang mengajarkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka sangat dibenci karena mereka adalah pembunuh orang-orang yang terhilang.

Ada banyak pembunuh orang-orang terhilang pada hari ini. Permasalahannya adalah bahwa anda tidak dapat mengatakannya dengan melihat. Mereka tidak menggunakan kancing-kancing kecil yang memberitahukan kepada kita identitas mereka. Mereka juga tidak membawa tanda-tanda peringatan sehingga setiap orang dapat menjauhinya. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka membawa Alkitab dan menampilkan dirinya dengan kehidupan yang bersih, bertampilan menarik, anggota-anggota masyarakat yang tunduk kepada hokum. Hampir semua   mereka meluangkan waktunya di gereja-gereja, beberapa berada  diposisi  pemimpin  rohani. Banyak dari mereka begitu dihormati dalam komunitas mereka, tetangga-tetangga mereka tidak pernah menduga bahwa mereka tinggal berdampingan dengan pembunuh-pembunuh  ini.

Mereka membunuh kemerdekaan, spontanitas, dan kreatifitas; mereka membunuh sukacita serta juga produktifitas. Mereka membunuh dengan kata-kata mereka dan pena-pena mereka dan pandangan-pandangan mereka. Mereka membunuh dengan sikap-sikap  mereka bahkan lebih hebat ketimbang  dengan perilaku-perilaku mereka. Sangatlah sulit ada sebuah gereja atau organisasi Kristen atau sekolah Kristen atau kelompok misionaris atau pelayanan media yang tidak tersusupi bahaya semacam ini. Hal yang mencengangkan adalah bahwa mereka dapat masuk sejauh ini, hari demi hari, tanpa benturan atau tersingkap. Anehnya, pelayanan-pelayanan yang sama yang tidak  memberikan toleransi pada kesesatan selama 10 menit  kemudian akan menyingkir/memberi jalan dan mempersilahkan para pembunuh ini masuk ke semua ruang yang mereka perlukan untuk bermanuver dan memanipulasi orang-orang lain dalam  cara  bertahap, berbahaya dan tak pernah terbayangkan.  Semangat-semangat penghakiman mereka  tidak dapat dinilai. Taktik-taktik intimidasi berlangsung tanpa  pernah dikenali/diketahui. Dan pola pemikiran mereka yang sempit dengan segera dijelaskan atau dengan sigap dibela/dipertahankan. Ikatan yang  menghasilkan kejahatan yang tidak tersimpan cukup rapi dan dikemas dalam selubung bernuansa rohani.

Hari ini—tepatnya  hari ini—jutaan orang tinggal dalam kehidupan yang dilingkupi  rasa malu, ketakutan, dan intimidasi yang , mereka yang seharusnya merdeka, menjadi individu-individu yang produktif…Mereka telah menjadi korban, mereka ada seolah-olah ada di deret kematian bukannya dalam sukacita akan keindahan dan segarnya udara kelimpahan hidup yang dimodelkan oleh Kristus dan membuat  hal ini memungkinkan bagi semua pengikut Kristus untuk memilikinya.
Keseluruhan  paket ini, dengan satu kata, adalah anugerah. Inilah yang  diserang  terus-menerus, dengan begitu kasarnya…79
Misal dalam hal orang percaya dan  orang tidak percaya yang serupa/tidak ada bedanya, ini sungguh-sungguh hal yang menjijikan. Tak heran rasul Paulus dengan penuh perasaan yang amat mendalam menyatakan, “Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman.”(Titus 1:13)

“Keji” berasal dari kata apeithes. Terminologi ini merujuk pada sebuah ketidakpatuhan yang mengakibatkan  hilangnya kepercayaan atau sebuah kegagalan untuk dapat didekati.80 Kegagalan untuk dapat dipercayai atau kegagalan untuk tinggal didalam pribadi dan karya Kristus sebagai Juru selamat sebagai seorang yang tidak percaya atau gagal untuk tinggal didalam kecukupan akan kematian dan kebangkitan hidup sebagai seorang Kristen yang membawa kepada kepatuhan pada kehendak Tuhan. Dalam konteks ini, apeithes menunjuk pada problem kemunafikan. Mereka menyangkal Yesus Kristus oleh kemunafikan  mereka. Mereka mengkhotbahkan satu hal, tetapi secara pribadi melakukan yang lain, sebagai akibatnya, mereka menyangkal Tuhan dengan menjalani kehidupan yang tidak konsisten dan dalam kesesuaian dengan kebenaran anugerah. Secara menakjubkan, Petrus adalah ilustrasi akan hal ini.

2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.  2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"(Galatia 2:11-14, penekanan oleh penulis)


Ralph Keiper telah memberikan sebuah ungkapan yang mencerahkan terhadap peringatan Paulus terhadap Petrus :

”Petrus, saya mencium aroma daging ham dari nafasmu. Anda lupa dengan aturan-aturanya.  Pernah suatu waktu anda tidak akan memakan daging  ham sebagai sebuah bagian dari pengharapan keselamatanmu. Kemudian setelah anda percaya kepada Kristus, maka hal itu tidak lagi menjadi masalah bagi anda  untuk memakannya. Tetapi sekarang ketika mereka yang memantangkan makan daging ham datang dari Yerusalem, anda  beralih kembali ke cara-cara kosher. Tetapi aroma daging ham masih tercium pada nafasmu. Anda sungguh tidak konsisten. Anda mendorong orang-orang  bukan Yahudi untuk menjalankan hukum Yahudi yang tidak pernah dapat membenarkan siapapun juga…Petrus, dengan kembali kepada Hukum, anda sedang memotong/memutuskan kekuatan untuk hidup dalam kesalehan.” 61

[“Peter, I smell ham on your breath. You forgot your Certs. There was a time when you wouldn’t eat ham as a part of your hope of salvation. Then after you trusted Christ, it didn’t matter if you ate ham. But now when the no-ham eaters have come from Jerusalem you have gone back to your kosher ways. But the smell of ham still lingers on your breath. You are most inconsistent. You are compelling Gentile believers to observe Jewish law which can never justify anyone.… Peter, by returning to the law, you undercut strength for godly living.”81]

Dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik” menunjukan kepada  kita ke buah, hasil dari apa yang sedang  berlangsung kala orang berpaling dari kebenaran anugerah dan kecukupan dari telah selesainya karya Kristus, tidak hanya untuk keselamatan atau hidup  kekal, tetapi untuk  penyucian atau  mengalami sebuah kehidupan yang diubahkan Kristus. “Tidak sanggup” berasal dari kata adokimos, yang bermakna, “menolak, tidak bertahan dalam ujian,” dan kemudian “ tidak layak, tidak  bernilai, tidak siap/sanggup.” Ini adalah bentuk negatif  dari dokimos, “menyetujui atau menerima,”  telah lulus dari ujian. Terminologi ini telah “digunakan sebgai sebuah terminologi tekhnis untuk asli/otentik, terhadap koin/mata uang yang sedang berlaku, tetapi juga diterapkan pada orang-orang yang menikmati/mengagungkan  penghargaan umum.” Jadi, adokimos telah digunakan dalam beberapa cara yang menarik :

Kata ini digunakan untuk menggambarkan sebuah koin palsu yang memiliki bobot  dibawah standard. Kata ini digunakan untuk menggambarkan seorang prajurit  pengecut yang gagal dalam waktu ujian  pertempuran. Kata ini digunakan untuk  menolak seorang kandidat  bergabung, seorang pria dimana masyarakat memandangnya sebagai yang tak berguna dan tidak memiliki nilai. Kata ini juga digunakan pada sebuah batu yang  ditolak untuk dipakai dalam pembangunan karena memiliki sebuah cacat didalamnya, batu itu ditandai dengan sebuah huruf besat A,   inisial adokimos, dan kemudian disingkirkan, sebab tidak sesuai untuk ditempatkan dimanapun dalam bangunan…82

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, salah satu tema dari  buku ini adalah “pekerjaan-pekerjaan baik.” Salah satu tujuan kita dalam hidup ini adalah menjadi berguna dalam melayani Kristus dan dalam pelayanan terhadap sesama. Akan tetapi ini hanya dapat dilakukan melalui iman dalam Kristus,  dan melalui tinggal dalam kecukupan hidup-Nya  sehingga kita dapat menjadi  layak/pantas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik sehingga mereka dapat melalui ujian pada penghakiman Tuhan.

Melalui kehidupan baru orang-orang percaya didalam Kristus—sebagai orang yang dikeluarkan dari kegelapan kepada terang Kristus—kita dapat berdiri dan disetujui dalam Kristus (Bandingkan dengan Roma 16:1) dan dibuat menjadi layak/sesuai (dengan kualifikasi) untuk turut   bersama-sama dengan orang-orang kudus (bandingkan dengan Kolose 1:12-14). Namun walaupun kita layak untuk mendapatkan bagian bersama dengan orang-orang kudus (menerima upah), kita harus tetap  tinggal dalam kesetiaan dan tinggal didalam  keyakinan dalam Kristus yang teguh sehingga kita tidak hidup diluar sumber kehidupan dan kecukupan-Nya. Dasarnya adalah bahwa Kristus sendiri akan meluluskan kita dalam penghakiman terhadap pekerjaan-pekerjaan kita (dokimazo, “uji dan menerima atau ditolak”) pada Tahta Penghakiman (Bema) Kristus dimana kita akan menerima hal-hal yang telah kita lakukan dalam kehidupan ini (bandingkan dengan 1 Korintus 3:13; 2 Korintus 5:9-10; Roma 14:10,12). Betul sekali, Dia bahkan saat ini adalah penguji semua hati kita (bandingkan dengan 1 Tesalonika 2:4).83


Kesimpulan

Sebagaimana jelas terlihat referensi atau kaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Yahudi (Sunat) (Ayat 10) dan dengan mitos-mitos Yahudi dan perintah-perintah yang berasal dari manuia (ayat 13), guru-guru palsu berupaya melakukan revisi atau pengubahan doktrin keselamatan dan/atau penyucian dengan menambahkan perbuatan-perbuatan agamawi tertentu (yang boleh dilakukan dan  yang tidak boleh dilakukan) kedalam berita Injil. Dan ingatlah bahwa injil bukan sekedar berita keselamatan dari  hukuman dosa, tetapi berita yang mencakup pembebasan Tuhan dari kuasa dosa dan berkuasa atas semua kehidupan kita. Sebagaimana  pada orang-orang Galatia, yang tidak memegang Injil sejati, tetapi sebuah penyimpangan berita anugerah. Guru-guru palsu ini tidak hanya harus diperingatkan dengan keras sehingga dapat menyingkapkan kekeliruan mereka, tetapi menetapkan kebenaran dalam sebuah cara sehingga guru-guru palsu, berserta dengan mereka yang mendengarkan pengajaran mereka, dapat menjadi benar dan sehat dalam iman—tubuh kebenaran apostolik sebagaimana yang telah diteruskan oleh para rasul termasuk Paulus. Tanpa  ini, mereka akan tetap dalam kondisi yang menghancurkan sebagaimana digambarkan dalam ayat 16,” Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.”

Dengan mencamkan ini didalam benak kita, kita dapat membandingkan pernyataan Paulus dalam Kolose 1:11. Disana ia berbicara tentang hasil-hasil menjadi dipenuhi dengan pengetahuan kehendak Tuhan dalam semua  kebijakan dan pengertian rohani. Dalam konteks orang-orang Kolose, ini bermakna sebuah pengertian akan semua bahwa orang percaya itu memiliki Kristus. Salah satu dari masalah-masalah yang dihadapi orang-orang percaya Kolose adalah guru-guru  palsu yang mengajarkan, menambahkan iman dalam Kristus, seseorang perlu melaksanakan peraturan-peraturan agama dan asketik tertentu (pantangan atau disiplin diri yang harus dilakukan agar sempurna/suci/layak-red- bandingkan dengan  Kolose 2:4,6-23). Jadi salah satu dari akibat-akibat memiliki pengetahuan yang utuh ini adalah “ membawa buah dalam setiap perbuatan baik, bertumbuh dalam pengetahuan Tuhan, menjadi diperkuat dengan semua  kuasa sesuai dengan kedahsyatan kemuliaannya untuk memperlihatkan semua kesabaran dan keteguhan.” Dengan kata lain, semuanya ini mungkin, untuk  tinggal dalam perbuatan-perbuatan baik atau tindakan-tindakan rohani, tetapi semuanya ini menjadi ditolak sebagai  yang tidak menghasilkan buah karena perbuatan-perbuatan kita tersebut telah dihasilkan diluar keyakinan penuh didalam Kristus. Kecuali perbuatan-perbuatan kita adalah produk dari sebuah kehidupan yang diberi kuasa oleh  anugerah Tuhan dengan berdiam dalam kecukupan dan pemampuan yang diberikan oleh Kristus, maka perbuatan-perbuatan kita menjadi adikimos,”ditolak, tidak berguna” dan sangat “tidak berbuah,” atau jauh sekali dari standard dan penilaian Tuhan.

Selesai

Referensi lihat pada
Study By: J. Hampton Keathley, III | Martin Simamora



P O P U L A R - "Last 7 days"