0 Simon dan Simon (4) : Pergi Ke Neraka Dengan Dirimu dan Uangmu !

Kata-kata pertama Petrus sangat kuat, menandakan  betapa seriusnya dosa Simon. J.B Philips  menangkap aroma ini dalam sebuah terjemahan yang hamper mendekati maksud yang terkandung didalam teks aslinya :

“Pergi ke  neraka  dengan dirimu dan uangmu”[ To hell with you and your money] (Kisah Para Rasul 8:20)

Perkataan ini  tentu saja menyingkirkan keraguan atas keselamatan Simon. Jika orang ini sungguh-sungguh diselamatkan, maka anda juga pasti aman selamanya, tetapi kata-kata Petrus tidak akan memberikan kepadanya sebuah rasa  jaminan yang palsu. Mari kita ingat bahwa Petrus, dirinya sendiri, telah mendengarkan beberapa kata-kata koreksi yang sangat kuat dari Yesus Kristus :

“Enyah dari hadapan-Ku, Setan!”[ “Get behind Me, Satan!”] ( Matius 16:23)

Bacalah lebih dahulu bagian-bagian sebelumnya :



Tepat sebagaimana Petrus dipanggil “Setan” oleh  Tuannya untuk mengekspresikan  pikiran-pikiran dan hasrat-hasratnya, sehingga Simon  telah dinyatakan sebagai seorang kafir/penganut pagan, karena ia  berperilaku demikian  pada masa itu.

Kecaman  Petrus ini menyengat, tetapi ini bukalah  apa yang sebenarnya kita  harapkan. Simon tidak ditegur karena motivasinya yang tidak benar, walaipun orang sulit meragukan motif-motifnya yang tidak murni. Bukankah ia tidak menginginkan  kemampuan untuk memberikan Roh Kudus  sehingga dapat menghasilkan uang, atau setidaknya memperoleh kuasa dan prestisius, dan untuk memajukan dirinya? Saya  menduganya juga demikian, tetapi bukan ini yang dikecam oleh Petrus.

Tudingan Petrus  bukan pada motivasi Simon, tetapi pola pikirnya. Bukan pada  sikapnya yang menjadi  problem yang paling serius, tetapi asumsi-asumsinya. Pada dasarnya adalah bahwa Simon telah berpikir bahwa ia dapat membeli karunia Tuhan:

”Semoga perakmu binasa dengan dirimu, karena engkau  berpikir kamu dapat memiliki karunia dari Tuhan dengan uang!”[ “May your silver perish with you, because you thought you could obtain the gift of God with money!”] Kisah Para Rasul 8:20

Kemampuan  untuk memberikan karunia dari Roh Kudus adalah sebuah pemberian, sebagaimana yang saya mengerti, sebuah karunia yang  dibatasi bagi para rasul. Itu sebabnya mengapa Filipus tidak dapat memberikan Roh Kudus agar turun kepada orang-orang Kudus Samaria. Ketika Simon  mencoba untuk membeli kemampuan untuk memberikan Roh Kudus kepada  orang-orang lain, ia mendasarkan tindakannya pada asumsi bahwa karunia Tuhan dapat dibeli dan dijual.

Mengapa soal ini menjadi sebuah masalah serius? Karena adanya kesalahan  pemahaman, sebuah penyimpangan anugerah. Ada sebuah hubungan yang bersifat langsung antara karunia-karunia rohani dan anugerah. Faktanya, karunia-karunia rohani adalah “anugerah-anugerah.” Kata yang digunakan untuk “karunia” adalah  kata yang digunakan untuk “anugerah. Karunia rohani apapun adalah sebuah karunia anugerah. Itu berarti bahwa karunia rohani tidak dapat diperoleh atau diamankan oleh upaya manusia. Itu sebabnya mengapa karunia-karunia diberikan dalam kedaulatan :
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

Karunia-karunia Roh dan karunia keselamatan semuanya adalah karunia-karunia dalam makna yang sama bahwa keduanya adalah karunia-karunia anugerah, keduanya adalah karunia-karunia yang dianugerahkan dari Tuhan yang sebenarnya tak patut bagi kita, tetapi secara berdaulat diberikan pada manusia, tanpa pertimbangan kelayakan seseorang menerimanya. Tak satupun  karunia Tuhan yang pernah pantas diterima oleh sipenerima, dan oleh sebab itu kita harus selalu  mengucap syukur kepada Tuhan atas pemberian-pemberian ini.  Demikian juga, kita tidak pernah bisa memiliki kebanggaan ats karunia apapun yang kita terima.

Inilah sebabnya mengapa dosa Simon sangat serius. Ini adalah sebuah dosa melawan anugerah itu sendiri, dan olehnya sebuah jenis dosa yang sangat serius. Kata-kata Petrus dimaksudkan untuk mengguncangkan Simon, untuk menandai  kejahatan pada tindakan-tindakannya dan mendatangkan pertobatan. Sebagaimana saya memahami kata-kata pada ayat-ayat 21 dan 22, Petrus tidak berbicara terlalu banyak mengenai keberdosaan Simon secara umum, tetapi lebih  cenderung dalam hal-hal dosa spesifik, dosa mencoba  untuk membeli karunia Tuhan. Dosa inilah yang disorot, dan inilah dosa dimana Simon harus bertobat dan mencari pengampunan dan pemulihan Tuhan.

Kecaman Petrus mengambil terminology dalam Ulangang 29:18.(118) Perhatikan bahwa teks ini dalam konteksnya yang lebih luas :

Bukan hanya dengan kamu saja aku mengikat perjanjian dan sumpah janji ini, tetapi dengan setiap orang yang ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita, yang berdiri di hadapan TUHAN, Allah kita, dan juga dengan setiap orang yang tidak ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita. Sebab kamu ini tahu, bagaimana kita diam di tanah Mesir dan bagaimana kita berjalan dari tengah-tengah segala bangsa yang negerinya kamu lalui,  dan kamu sudah melihat dewa kejijikan dan berhala mereka, yakni kayu dan batu, emas dan perak itu, yang ada terdapat pada mereka. Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh. Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan sumpah serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati, dengan berkata: Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil--dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan-- maka TUHAN tidak akan mau mengampuni orang itu, tetapi murka dan cemburu TUHAN akan menyala atasnya pada waktu itu; segenap sumpah serapah yang tertulis dalam kitab ini akan menghinggapi dia, dan TUHAN akan menghapuskan namanya dari kolong langit. TUHAN akan memisahkan orang itu dari segala suku Israel supaya dia mendapat celaka, sesuai dengan segala sumpah serapah perjanjian yang tertulis dalam kitab hukum Taurat ini.

Konteks firman  peringatan ini adalah kala mendekati  jalan masuk Israel kedalam tanah perjanjian. Tuhan telah membuat sebuah perjanjian (kesepakatan) dengan umatnya, sebuah perjanjian yang berisikan janji-janji berkat-Nya jika mereka mematuhi perintah-perintahnya, tetapi  janji-janji penghakiman jika mereka memberontak melawan-Nya dengan mengabaikan hokum-hukumnya. Umat Tuhan telah diberikan hukum untuk membedakan mereka dari bangsa-bangsa disekeliling mereka. Berperilaku seperti bangsa-bangsa lain adalah perbuatan mengabaikan perjanjian Tuhan, dan menjadi ”sumber yang menghasilkan buah beracun dan  pahit.” Ini pasti mendatangkan penghakiman Tuhan.

Bersambung.

Simon and Simon (Acts 8:1-25) Study By: Bob Deffinbaugh | Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"