0 Kemurnian Seksual Didalam Gereja (5) : Kala Gereja Membuat Dunia Terhenyak Dengan Skandal-Skandalnya!


Sekarang kita kembali ke bab 5. Dan sebagaimana kita telah tiba di kesimpulan sederhana pada saat ini saya ingin agar anda mengarahkan perhatian anda kepada pemikiran  tentang apakah yang harus dilakukan gereja terhadap hal ini. Ini adalah aspek korporat. Aspek personal telah kita lihat pada bab 6, aspek korporat ada pada bab 5. Apa yang kita lakukan tentang hal ini sebagai sebuah gereja  ketika kita mengetahui hal ini? Ibu yang periang ini berbicara  kepada Patricia dan saya, dan dia berkata, “Saya tidak dapat  membawa pastur/pendetaku  bertemu dengan suamiku. Suamiku telah pergi meninggalkan diriku. Suamiku sekarang tinggal dengan wanita lain. Saya tidak dapat  mempertemukan pasturku dengan suamiku. Saya telah  bertanya kepadanya, saya telah menanyai pendeta-pendeta terkait, tak seorangpun akan pergi. Tak seorangpun akan menemuinya dan menanyainya. Apa yang sedang saya coba lakukan adalah  memperlihatkan kepadanya konsekuensi dosanya?”Ada orang-orang yang menyarankan untuk bersikap  lemah lembut. Mereka  yang berpikir bahwa Tuhan akan mengampuni dan memulihkan dan Ia akan melakukannya dalam waktunya dan kita tidak seharusnya terlibat dan masalah ini bukan urusan kita, dan lain sebagainya. Apakah  yang harus dilakukan gereja?

Dimanakah posisi gereja dalam hal ini? Kita menemukan jawabannya  pada bab 5. Paulus sangat jelas menyatakannya dan anda akan melihatnya, saya yakin, bukti yang kuat akan ditemukan saat kita memperhatikan teks ini.

Bacalah terlebih dahulu bagian-bagian sebelumnya :

Hal pertama dalam panduan-panduan bagi gereja dalam  berurusan dengan dosa ini adalah mengetahui keberadaan dosa. Ayat 1 dan ayat 2 menyatakan pengenalan. Paulus menulis, “Memang orang mendengar.” Dengan kata lain, dosa ini diketahui oleh masyarakat banyak. Dosa ini adalah sesuatu yang diketahui oleh setiap orang. Dosa ini sangat diketahui oleh masyarakat. Dosa yang sangat disadari  keberadaannya oleh semua orang. Sangat  terkenal. “ Bahwa disana ada “pornaya (Yunani , akar kata pornografi), dosa seksual  yang dilakukan oleh orang yang belum menikah diantaramu. Dan dosa seksual semacam ini, berangkali dapat  melibatkan sebuah keadaan  hubungan seks antara seseorang yang telah menikah dengan pasangan suami atau isteri  orang lain yang diterapkan untuk dosa yang lebih luas. Dosa yang bahkan tidak  dilakukan/dijumpai diantara para penganut pagan.” Dengan kata  lain, anda memiliki reputasi dalam dosa seksual yang  bahkan sulit untuk direkonsiliasi, yaitu  ketika seseorang jatuh kedalam sebuah hubungan seksual dengan isteri ayahnya sendiri.

Gereja mengguncangkan/membuat dunia terhenyak jika anda  terlibat dalam dosa semacam ini. Dan saya beritahukan kepada anda bahwa dunia tak terhindarkan akan diyakinkan pada begitu  lemahnya integeritas gereja dan tidak ada bedanya (dengan dunia) jika mereka melihat pada skandal-skandal yang sedang berlangsung dan terus saja berlangsung didalam gereja dewasa ini. Gereja sedang menghenyakan/mencengangkan dunia. Dan Paulus  lebih terhenyak lagi kala gereja tidak  berbuat apapun  menghadapi hal ini.

“Memang orang mendengar” (kalimat dalam bentuk sekarang”), semua orang mengetahuinya, bahwa anda memiliki semacam penyimpangan seksual  yang bahkan tidak dilakukan oleh mereka yang menjalankan praktek pagan, yaitu incest atau hubungan seks dengan seseorang yang memiliki hubungan darah langsung. Isteri ayahnya sebuah petunjuk seorang ibu angkat dan berdasarkan definisi Yunani, berdasarkan tulisan Checksalice, Cicero, dan Yuripides, hubungan seks  dengan ibu angkat dipandang sebagai Incest, sekalipun itu adalah ibu angkat. Hubungan seks seperti itu sama saja dengan ibu kandung sendiri. Dosa ini terjadi karena wanita ini masih menikah dengan ayahnya dan kata pornaya (Yun, akar kata pornografi) dugunakan dalam makna yang luas melingkupi hubungan seks antara orang yang menikah dengan pasangan lain.

Bisa jadi bahwa wanita ini  telah bercerai dari ayahnya dan  dalam hal keduanya masih melakukan hubungan seks maka keduanya jatuh kedalam dosa seksual: antara dua orang (pria dan wanita) yang tidak terikat dalam pernikahan sah. Apapun status pernikahannya, dan saya tidak tahu apakah kita dapat menjadi yakin  atas  hal tersebut, ada sejumlah hal  terkait hubungan itu yang saya ingin ketahui.  Nomor 1, ini merupakan hubungan incest  berdasarkan definisi Imamat 18, Ulangan 22, dan juga dalam pemahaman budaya Yunani. Nomor 2, ini adalah dosa yang sedang berjalan, berlanjut terus, langgeng, hubungan yang permanent, sebagaimana yang diperlihatkan oleh kata kerja bahwa dia  masih terus memiliki (HAS)  hubungan dengan isteri ayahnya. “HAS”, dalam pengertian  masih berlangsung hingga saat ini. Lebih jauh lagi, wanita itu nampaknya bukanlah seorang yang Kristen. Karena tidak ada kata disini yang digunakan berkaitan dengan  bentuk pendisiplinan apapun yang dikenakan kepadanya. Pendisiplinan diterapkan pada orang  yang memang menjadi bagian dari jemaat.

Sehingga disini seorang  yang mengklaim menjadi seorang Kristen, dia ada didalam gereja, dia terlibat didalam jemaat ini, dia terlibat dalam sebuah hubungan incest (dengan orang yang memiliki hubungan darah/ garis keluarga langsung), dia masih melakukannya, hubungan seksual dengan ibu angkatnya yang bukan seorang Kristen. Jika hal ini tidak menghenyakan/mengguncang diri anda maka sekarang lihat pada ayat 2 (1 Korintus 5),”Dan anda sombong kata Paulus.” Anda sombong mengenai hal ini. Anda tidak bersedih bahwa dia yang melakukan perbuatan semacam ini  harus dijauhkan dari antaramu.

Kesombonganmu  yang anda bangga-banggakan dan berlanjut ditengah-tengah perilaku seksual yang  amoral  dan meluas telah menyebabkan anda tidak menganggapnya hal yang serius.”Mereka begitu meninggikan hikmat yang terpatri dalam benak mereka dan begitu bangganya terhadap kelompok-kelompok yang mendukungnya dan kebanggaan mereka telah membutakan mereka, berangkali, menjadi dosa yang mengkanker  yang telah menyebar ke seluruh tubuh mereka.

Dan bisa jadi  mereka bahkan bangga akan dosa itu sebagai sebuah ekspresi  atau pendapat  yang mereka pikir adalah sebagai Kemerdekaan dalam Kristen, yang dapat diselesaikan dengan anugerah dari Tuhan, dan, oleh karena itu mereka menjadi toleran dengan dosa ini. Apapun juga pikiran dalam benak mereka, Paulus berkata,” Anda begitu sombong dan mengabaikannya sehingga bukannya bersedih/berduka atas kerusakan  yang dilakukan oleh hal-hal jahat ini yang beralngsung diantaramu, anda tidak berbuat apapun.” Sebuah sikap yang gampangan terhadap dosa ini adalah bahaya—sangat teramat bahaya.


Bersambung ke Bagian 6- selesai

Sexual Purity In Church, by John MacArthur  | Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"