0 Terang Dunia ( Yohanes 9:1-41) - Bagian 2


Courtesy of Jesus Heals a Blind Man
Bacalah terlebih dahulu bagian 1 di sini



Oleh :  Bob Deffinbaugh, Th.M



Penyembuhan  pada orang buta ini bukan hal yang biasa dari beberapa sudut pandang. Paling utama dari semuanya, sebagaimana telah kita perhatikan sebelumnya, penyembuhan itu terlihat sepenuhnya sebagai inisiatif Tuhan. Maka, juga, kesembuhan itu tidak ditandai dengan  kesederhanaan yang terjadi pada penyembuhan-penyembuhan lainnya (bandingkan dengan Mat 9:27-30; 20:30-34). Yesus membuat    lumpur  dari debu dan ludah-Nya. Dengan campuran ini, Dia mengurapi kedua mata orang tersebut dan kemudian mengirimnya  ke kolam Siloam [Nampaknya ada hal signifikan bagi Yohanes pada kolam Siloam, dimana dia menginformasikan pada kita apa yang dilakukan di kolam pada  “mengirimnya ke kolam” (Yoh 9: 7), tetapi sulit untuk menentukan secara  tepat apa yang Yohanes maksudkan untuk kita tangkap. Charles Eerdman berpendapat, “Yesus secara terus menerus mendeklarasikan bahwa Dia sendiri telah diutus/dikirim  oleh  Tuhan, dan dia sekarang sedang mengisyaratkan   bahwa hanya dia  yang dapat menyembuhkan; bahwa dia telah memenuhi semua berkat yang dapat  terjadi di Siloam. Setiap hari perayaan  tabernakel  sebuah persembahan anggur telah dibawa dari kolam itu, untuk menunjukan pemberian-pemberian dari Tuhan bagi umat-Nya. Yesus sekarang sedang berkata bahwa  sebagaimana air Siloam akan membersihkan lumpur dari  kedua mata orang itu, demikian juga dia, Siloam sejati, , Dia yang dikirim  Tuhan, akan melenyapkan kebutaan jasmani, dan juga akan memulihkan penglihatan rohani bagi dunia.” Charles Eerdman, The Gospel of John (Philadelphia: Westminster Press, 1944), hal. 86.],memerintahkannya untuk membersihkan di sana. Ketika dia kembali dengan penglihatannya, maka  nampaknya   Yesus telah lama pergi.


Mengapa, kemudian, Yesus menyembuhkan orang ini dalam sebuah cara yang unik? Mari saya ajukan sejumlah alasan  untuk tanah dan pembasuhan. Pertama-tama, kita telah diberitahukan oleh beberapa  pihak  bahwa ludah dianggap oleh orang-orang di era Yesus memiliki nilai pengobatan . Dengan menggunakan tanah dan ludah, Yesus dikatakan mengakomodasikan atau memberikan  ruang pada diri-Nya terhadap kepercayaan umum di masa-Nya untuk memperkuat iman orang tersebut [“Dengan melakukannya, Yesus telah memberikan ruang pada diri-Nya sendiri terhadap keyakianan umum dalam efek-efek menyembuhkan pada tanah dan air ludah terutama pada kasus penglihatan lemah pada kedua mata, agar tanpa  keraguan dapat  menstimulasi   awal iman dalam diri orang buta itu, serta juga secara teknis melanggar peraturan-peraturan tradisional.” J. W. Shepard, The Christ of the Gospels (Grand Rapids: Eerdmans, 1939), hal. 360.]. Juga sebagaimana diutarakan oleh Shepard, Yesus Kristus secara teknis telah melanggar intepretasi Farisi dalam menjaga Sabat, karena mencampurkan ludah dan tanah dapat dinilai sebagai bekerja, dan aplikasi ludah pada Sabat secara kuat dilarang oleh tradisi Yahudi[Shepard, The Christ of the Gospels, hal. 360.].

Memperhatikan pendapat-pendapat  para ahli, saya akan mengajukan dua pendapat saya sendiri, yang jauh lebih pragmatis sifatnya. Mengolesi tanah pada kedua mata orang tersebut secara luar biasa telah memfasilitasi imannya dalam sebuah cara yang amat praktis. Bahkan  jikapun orang ini memiliki keraguan terhadap orang yang sedang mengolesi lumpur pada kedua matanya dan menjanjikan kesembuhan, dia masih harus  membasuh wajahnya, dan kolam Siloam berangkali adalah tempat yang terdekat, mujizat yang sesungguhnya terjadi jauh dari Yesus, dan berangkali jauh untuk dapat ditangkap dengan pandangan mata orang-orang  Farisi, yang sedang mencari-cari penyebab apapun untuk melemparkan tuduhan-tuduhan melawan Yesus. Konfrontasi dalam kisah ini adalah antara orang yang telah disembuhkan dan orang-orang Farisi, bukan Yesus dan orang-orang Farisi.




Saya tidak menuliskan kalimat yang panjang untuk menemukan suatu hal aneh yang telah terjadi pada pengemis buta ini. Tidak hanya dia tidak  buta lagi, tetapi dia tidak lagi meminta-minta (bandingkan dengan ayat 8). Orang-orang sekitar adalah yang pertama mengamati perubahan ini, tetapi tidak semua dari mereka setuju terkait bagaimana mereka semestinya menginterpretasikan apa yang telah terjadi. Beberapa orang meyakini bahwa orang ini hanya menyaru sebagai pengemis buta (ayat 9). Ketika mereka meminta dia untuk menjelaskan secara rinci semua hal,  hal yang dia  dapat dia katakana hanyalah bahwa seorang bernama Yesus telah menyembuhkan matanya, dan dia tidak tahu dimanakah dia berada ( ayat 11,12).

Orang  Buta Itu  Diberi Kesempatan  Memberikan Keterangan Atas Apa yang Telah Terjadi



Sementara Yesus telah memberikan kepadanya penglihatan, orang-orang  Farisi memberikan dia sebuah dengar pendapat.  Mereka yang  telah menyaksikan secara langsung bahwa orang itu telah disembuhkan tidak tahu bagaimana menangani situasi ini, sehingga mereka membawa orang ini kepada orang-orang Farisi )ayat 13). Walaupun ini bukan sebuah  rapat Sanhedrin, pertemuan ini juga bukanlah  juga pertemuan formal. Pertemuan ini sebuah badan yang lebih kecil, dilaksanakan sebagai  ajang mendengarkan keterangan pendahuluan untuk melihat jika ditemukan penyebab  yang memadai untuk membuat tindakan yang lebih tegas .



Pada  tahap awal mendengarkan keterangan ini, beberapa poin mengemuka disini. Orang tersebut  jelas-jelas telah disembuhkan oleh Yesus, dan yang paling menyolok, dilakukan pada hari Sabat. Bukti yang dihadirkan membawa pada dua kesimpulan yang kontradiksi. Sejumlah orang mengakui bahwa perbuatan besar semacam ini tidak bisa  tidak  merupakan perbuatan Tuhan. Sejumlah orang lainnya, menunjukan bahwa hari Sabat telah dilanggar, ini menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin berasal dari Tuhan (ayat 16). Berangkali dalam keadaan frustrasi mereka mengarahkan perhatian pada orang yang telah sembuh ini saja. Tidak seorangpun yang lebih memenuhi kepantasan untuk menimbang soal ini daripada diri orang ini sendiri. Apakah yang ada dibenak orang yang telah sembuh ini mengenai Yesus? Tanpa keraguan, dia menjawab, “Dia adalah seorang nabi” (Yohanes 9 ayat17).



Kesimpulan  ini sama sekali tidak dapat diterima olah orang-orang Farisi yang menentang Yesus. Sebagai akibatnya, mereka harus menginvestigasi soal  ini secara keseluruhan. Berangkali peristiwa ini hanyalah berita bohong. Berangkali orang ini hanya menyaru sebagai pengemis buta itu, sebagaimana yang telah diutarakan sejumlah pihak. Berangkali orang tuanya dapat memberikan setitik terang pada masalah ini.




Kedua orang tua dari orang buta yang telah sembuh ini sepenuhnya menutup mulutnya rapat-rapat. Sudah menjadi pengetahuan bagi mereka bahwa orang-orang Farisi telah mengeluarkan pernyataan bahwa siapapun yang mengakui Yesus sebagai Mesias akan dikeluarkan dari sinagog (atau di ekskomunikasi/dikucilkan) [“Ada dua, atau beberapa mengatakan ada tiga jenis ekskomunikasi/pengucilan dikalangan Yahudi,  masing-masing jenis sangat berbeda satu sama lain dalam derajat dan intensitasnya; dan Kristus menjadi hal utama dalam  ragam pengucilan ini , pemeriksaan paling tajam  diantara jenis ekskomunikasi  yang harus dilalui oleh pengikut Yesus  adalah  terkait  keyakinan mereka pada  Yesus (Yoh 16:. 2). Bentuk pengucilan paling lembut adalah dikucilkan dari sinagog selama 30 hari. Selama masa ini, jika dalam pengucilan ini tidak memperlihatkan tanda pertobatan, periode yang sama atau lebih lama, sesuai dengan kehendak pihak-pihak yang menetapkan hukuman ini, ditambahkan :dalam cara yang lain penghukumannya juga dibuat lebih tajam; penghukumannya disertai dengan sebuah kutuk; sehingga tidak satu orangpun mau berhubungan dengan dia mulai saat itu, bahkan tidak juga keluarganya, kecuali dalam hal yang sama sekali tidak dapat dielakan. Apakah si terhukum masih memperlihatkan kekerasan kepalanya, dia tidak terelakan lagi ada diujung dipisahkan dari persekutuan umat Tuhan, dikeluarkan dari kejemaatan— sebuah hukuman yang menjelaskan, sebagaimana banyak yang menduganya, pada hal menyerahkan kepada Setan dalam gereja Apostolik ( 1 Korintus 5:5 ; 1 Tim 1:20).” R. C. Trench, The Miracles of Our Lord (Grand Rapids: Baker, 1949), hal . 188-189. Bandingkan juga dengan  J. W. Shepard, The Christ of the Gospels, hal. 361-362, Edersheim, Life and Times, II, hal . 183-184, Leon Morris, The Gospel of John, hal. 488, catatan kaki : 35.]. Sebagai akibatnya, kedua orang tuanya membenarkan bahwa orang ini adalah putera mereka, dan dia memang terlahir dalam keadaan buta. Terkait dengan siapakah yang telah menyembuhkan dia dan bagaimana penyembuhan itu  terlaksana, mereka tidak dapat menduga atau berspekulasi. Jika orang-orang Farisi ingin mendapatkan informasi  yang lebih lengkap, tanyakanlah pada putera mereka, karena dia sudah cukup umur dan dapat berbicara bagi dirinya sendiri (Yohanes 9 ayat 21).




Kembali orang buta yang kini  telah sembuh (dapat melihat) dipanggil untuk menghadap orang Farisi dengan disertai  kata-kata perintah , “beri kemuliaan kepada Tuhan; kami tahu bahwa orang ini berdosa” (Yohanes 9:24) [Adalah sukar untuk membaca kata-kata di Yesaya 66:5 tanpa memikirkan kejadian yang ada dalam Yohanes 9: “Dengarlah firman TUHAN, hai kamu yang gentar kepada firman-Nya! Saudara-saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata: "Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, supaya kami melihat sukacitamu!" Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu.” (Yes 66:5).]. Maksud dari perintah ini tidak hanya bahwa orang ini  harus memberikan kemuliaan kepada Tuhan  untuk  kesembuhannya, dan bukan sama sekali kemuliaan untuk Yesus, tetapi perintah Farisi ini berdampak mengucapkan sebuah sumpah, berjanji untuk mengatakan seluruh kebenaran [“Frasa (Berikan Kemuliaan kepada Tuhan ) ini merupakan sebuah tuntutan serius untuk mendeklarasikan seluruh kebenaran. Bandingkan dengan Yosua 7: 19;juga bandingkan dengan I Esdras 9:8 -kitab apokrifa. Orang yang telah sembuh ini dengan deklarasi yang diucapkan sebelumnya (Yohanes 9:17) sudah  sungguh-sungguh melakukan penghinaan terhadap Tuhan. Dia kini dituntut untuk mengakui kesalahannya: untuk mengakui otoritas suara “Yahudi” yang menimpakan penghukuman padanya, dan untuk mengakui kebenaranya.” B. F. Wescott, The Gospel According to St. John (Grand Rapids: Eerdmans, dicetak ulang, 1973) , hal. 146.]. Pada titik ini, orang ini tidak berupaya menginterpretasikan peristiwa-peristiwa kesembuhan pada dirinya, tetapi dia dengan gigihnya memberikan  fakta-fakta: sebelumnya, dia buta, tetapi sekarang dia dapat melihat. Apapun yang diputuskan orang-orang Yahudi, mereka tidak dapat mengalihkan fakta-fakta tersebut.




Selanjutnya : (Bagian Terakhir)  Orang  Buta Melihat, Orang Melihat  Buta

The Light of the World (John 9:1-41) | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora



P O P U L A R - "Last 7 days"