0 Terang Dunia ( Yohanes 9:1-41) - Bagian 1


Yesus menyembuhkan orang buta di kolam Siloam
Foto : Travel ipodmember:Lraleigh


Pengantar


Pada tahun 167 SM, pasukan Antiochus menghentikan semua bentuk persembahan korban-korban Yahudi. Rakyat  Yerusalem, dibawah kepemimpinan
Mattathias, memberontak dan kemudian melarikan diri ke gurun. Tempat persembunyian mereka kemudian segera diketahui, dan pasukan-pasukan pemburu menuntut agar mereka bertobat dan menyerahkan diri.

Orang-orang Yahudi menolak untuk menyerah, tetapi mereka juga menolak untuk melakukan perlawanan karena saat itu adalah hari Sabat. Mereka tidak memblokade jalan-jalan masuk kedalam gua-gua mereka  atau melakukan perlawanan dalam bentuk apapun. Kira-kira 1000 pria, wanita, dan anak-anak meninggal tanpa perlawanan, karena mereka menganggap hari Sabat adalah kudus [“Man for Sabbath or Sabbath for Man?” William L. Coleman, Eternity, September, 1977, hal. 58.]



Kematian 1000 orang merupakan hasil dari keyakinan sepenuh hati bahwa Sabat tidak boleh dilanggar. Walaupun peristiwa telah terjadi hampir dua abad lampau sebelum penyembuhan orang buta yang dicatat dalam Yohanes bab 9, peristiwa itu memberikan sebuah rasa tentang intensitas keyakinan akan orang-orang Yahudi yang  bersungguh-sungguh pada apa yang diyakininya bahwa Sabat tidak dapat dilanggar. Sebagaimana  faktanya  rentang  waktu antara hari-hari Mathias dan Kristus tidak melemahkan keyakinan ini, tetapi memperkuatnya.


Kelompok  yang secara khusus berupaya untuk melindungi Sabat adalah orang-orang Farisi. Menyadari begitu banyak kekuatan-kekuatan pagan yang bekerja merusakan kemurnian iman Yahudi, orang-orang Farisi mengembankan pada diri mereka sendiri  tugas untuk menjaga kemurnian Judaisme dari pengaruh asing dan pagan. Sebagai akibatnya, orang-orang Farisi adalah masyarakat yang seperatis ( kata Farisi berarti  terpisah). Pada mulanya  bermotifasi saleh dan baik, sekte ini  semakin lama menjadi semakin kaku dan legalistik. Isu sentral Farisi adalah  mempertahankan Sabat.




Talmud Yerusalem    berisi 64 halaman, dan Talmud Babilonia berisi 156  halaman, dua kali lebih banyak, dengan peraturan-peraturan  pada pelaksanaan Sabat [Ibid. hal. 59.]



Kaum Farisi telah berhasil mengubah peristirahatan Sabat menjadi sebuah beban, ketimbang sebuah berkat.



“Para ahli taurat  membuat sebuah daftar  yang berisikan  empat puluh perbuatan atau tindakan terlarang untuk dilakukan pada hari Sabat , dengan satu yang disimpan (tidak diberlakukan), yang satu ini jika dilanggar  dalam pengetahuannya, membuat si pelanggar layak dikenakan hukuman rajam,  dan jika dilakukan tidak dalam cara yang sepenuh hati  harus mempersembahkan  korban penghapus dosa berat. Tiga puluh sembilan  perbuatan atau tindakan yang dilarang tersebut dalam bahasa teknis para legalis disebut “larangan induk/ bapak,” dan  sub-sub bagian dari   perbuatan  yang dilarang, turunannya disebut “ turunan-turunan”[ E. M. Blaiklock,, The Acts of the Apostles (Grand Rapids: Eerdmans, 1959), hal. 38.].

Sebagai contoh, membajak adalah sebuah “bapak” (maksudnya perbuatan utama) yang dilarang pada Sabat. Menggali adalah sebuah “turunan.”  Menyeret sebuah kursi diatas tanah dapat mengakibatkan semacam  alur, dan oleh karena itu perbuatan atau pekerjaan ini dilarang, tetapi menarik sebuah kursi diatas sebuah permukaan yang keras diperbolehkan. Contoh lain perbuatan atau pekerjaan   yang merupakan jenis  perbuatan utama (bapak) yang dilarang adalah membawa sebuah muatan, dan larangan ini disertai dengan  sekelompok  “keturunan-keturunan.” Menggunakan sebuah pakaian yang tidak diperlukan dilarang. Seorang penjahit pakaian  harus meninggalkan jarum dan perajutnya di rumah, dan seorang juru tulis harus meninggalkan alat tulisnya. Satu soal yang menyebabkan sebuah diskusi penting besar adalah apa yang dapat dilakukan seseorang jika rumahnya mengalami musibah kebakaran pada   hari Sabat. Tidak ada yang dapat dibawa kecuali  pakaian, jika pakaian  utama  ditutupi satu lapis pakaian lainnya pada saat yang bersamaan, garmen yang dapat dikenakan pada bagian luar, maka itu harus dilepaskan, dan kemudian orang  tersebut dapat  kembali lagi kedalam rumah untuk menggunakan (mengambil)  pakaian lainnya [Ibid].  Orang sekitar pasti akan datang untuk mengamati  pertunjukan ini ketiak rumah orang Yahudi yang tulus itu musnah terbakar!



Walaupun kita hanya memiliki  sedikit saja informasi tentang hal ini pada permukaannya, anda dapat dengan mudah melihat, mengapa Yesus memandang peraturan kaum Farisi sebagai beban yang berat pada orang-orang Yahudi (bandingkan dengan Matius 11:28-30; 23:1-4). Mereka yang terlatih dalam Hukum juga piawai dalam  merancang cara-cara untuk melepaskan diri dari peraturan-peraturan yang amat  ketat, yang mereka buat sendiri [“Fitur terburuk dari peraruran yang mereka buat adalah  manakala pembuatan aturan-aturan yang begitu banyak terbukti tidak mungkin terlaksana, maka dalih-dalih kasuistik dirancang oleh para pakar legal yang sama, sebagai sarana-sarana untuk mengloloskan diri yang dengan sarana semacam ini mereka dan orang lain dapat menghindari peraturan-peraturan mereka sendiri. Sebuah fiksi yang bermanfaat, disebut “Koneksi.” Sebuah perjalanan Sabat adalah 2000 hasta keluar kota; tetapi anggaplah seseorang ingin pergi lebih jauh dari itu pada hari Sabat. Pada hari Jumat dia dapat melakukan perjalanan ke perbatasan dan menyiapkan cadangan makanan sebanyak dua menu. Pada titik ini  maka secara tehnik telah menjadi kediamannya, dan pada hari Sabat dia dapat melakukan perjalanan ke rumahnya ini, dan selanjutnya dilakukan demikian. Atau mengutip  contoh yang lain, adalah melanggar hukum pada siang  di hari Sabat untuk membawa apapun dari satu rumah ke rumah lainnya. Tetapi misal saja beberapa rumah terlihat ada dalam satu halaman atau satu kawasan. Maka warga  yang  ada dalam satu kawasan tersebut  hanya perlu menyiapkan sedikit makanan disini pada hari Jumat, dan seluruh area itu dianggap sebagai satu rumah pada hari Sabat, semua tetangga di kawasan ini dapat saling mengunjungi/berpergian dengan apapun yang mereka inginkan. Metode efektif lainya yang dirancang oleh para  ahli hukum untuk menghindari  regulasi-regulasi  pelaksanaan Sabat adalah  apa yang dikenal sebagai  “maksud.” Sebagai contoh, adalah  melanggar hukum untuk memakan sebuah telur yang secara  sembrono telah disajikan pada hari Sabat. Tetapi jika seseorang telah menyatakan sebelumnya  bahwa ayam petelur  itu  telah dimaksudkan untuk menu makanan, telur itu menjadi sah,  sebagai sesuatu yang keluar dari ayam betina yang telah ditentukan untuk dimasak.” E. M. Blaiklock, Acts, p. 39.].  Terburuk dari semuanya, tradisi-tradisi  Farisi telah disangkutpautkan dengan  Hukum Perjanjian Lama sehingga melanggar tradisi-tradisi ini dipandang sebagai melanggar Hukum Tuhan.




Latar belakang semacam inilah yang melingkupi penyembuhan orang buta sebagaimana dicatat dalam Injil Yohanes bab Sembilan. Sebagai akibat dari mujizat ini,   ada sebuah benturan langsung lainnya antara kaum Farisi dengan Yesus Kristus. Dari kisah ini, kita belajar  tentang sebuah kebutaan yang lebih berbahaya dan menghancurkan daripada semata kehilangan penglihatan jasmaniah. Disini kita mendapatkan orang buta itu diberikan penglihatan dan  orang yang dapat melihat dibutakan.

Orang Buta Menerima Penglihatannya
(Yohanes 9:1-12)


Pada Yohanes bab 8, Yesus Kristus mengalami sebuah konfrontasi besar dengan orang-orang Farisi. Yesus secara terbuka telah mengklaim   adalah Tuhan (bandingkan dengan ayat 58) dan  sebagai akibatnya, orang-orang  Farisi berupaya melempari Yesus dengan batu.



Menyembunyikan diri-Nya dari kejaran , Yesus  meninggalkan bait suci.  Adalah mungkin bahwa  perjumpaan Yesus Kristus dengan orang buta ini  telah terjadi ketika Dia sedang meninggalkan bait suci [“Hubungan antara penutup bab sebelumnya dan  pembuka bab ini terlihat amat erat, yaitu dengan tepat menyimpulkan bahwa semua telah terjadi dalam satu hari, dan itu adalah sebuah hari Sabat (ayat 14).Tetapi pelanggaran yang mana pada penutup-penutup bab sebelumnya, dan ketenangan yang menjadi pembuka bab ini, menunjukan sesuatu yang agak  meragukan. Pada semua peristiwa, transaksi-transaksi pada kedua bab tidak dapat jauh terpisah dalam hal waktu.” David Brown, The Four Gospels (Carlisle, Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, Reprint, 1976), hal. 407.]. Selagi Yesus bergerak meninggalkan tempat, Dia memperhatikan seseorang yang buta. Tidak ada    petunjuk bahwa orang buta ini berteriak kepada Yesus, atau tidak ada seorangpun yang menarik perhatian Yesus pada  orang buta ini. Faktanya, hal sebaliknyalah yang nampaknya  terjadi dalam kasus ini. Sejak permulaan hingga akhir, pemulihan orang ini adalah sebuah penyembuhan dengan inisiatif yang datang dari Tuhan Yesus.


Ketika para murid mempelajari bahwa orang ini telah buta sejak lahir, mereka masuk kedalam sebuah diskusi filospis, bertanya kepada Yesus, “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"(ayat2). Para murid tidak salah dalam membuat hubungan antara dosa dan penderitaan manusia, sebab semua penderitaan  adalah akibat kejatuhan manusia (bandingkan dengan Kejadian 3:16 dan seterusnya). Lebih lanjut, sakit penyakit terkadang merupakan akibat langsung dari dosa dalam kehidupan seseorang ( Imamat 26:16; Ulangan 28:22; 1 Korintus 11:30; Yakobus 5:15). Dosa-dosa orang tua juga dapat berdampak pada anak-anak mereka ( Keluaran 20:5). Tetapi keragu-raguan para murid  telah merefleksikan pemikiran sezaman mereka, ketika mereka secara terburu-buru berkesimpulan bahwa dosa seseorang telah menyebabkan kebutaan ini. Sebagaimana R. Ammi menuliskan: ”Tidak ada kematian tanpa dosa, dan tidak ada  penderitaan tanpa  ketidakadilan”[ R. Ammi, Shab. 55a (Soncino edn., hal. 255), sebagaimana dikutip oleh  Leon Morris, The Gospel According to John (Grand Rapids: Eerdmans, 1971), hal. 478.]


Bagi orang Yahudi, penderitaan yang hebat tidak dapat dianggap sebagai bagian dari dosa yang besar. Respon Yesus mengejutkan  para muridnya untuk kembali kepada kenyataan ketika Yesus menjawab,” Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).




Melalui pernyataan Yesus ini, Tuhan kita tidak sedang memaksudkan bahwa orang ini dan orang tuanya tanpa dosa, karena  Semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan” (Roma 3:23). Yesus dengan jelas menyatakan bahwa   adalah maksud Tuhan bahwa orang ini mengalami kebutaan, bahkan sejak kelahirannya. Ketimbang menekankan pada  pertimbangan-pertimbangan manusia untuk menjelaskan penderitaan orang ini, Yesus mengalihkan perhatian para murid kepada  maksud ilahi,  agar  “pekerjaan-pekerjaan Tuhan dapat diperlihatkan didalam dia” (ayat3). Kita akan mengatakan lebih lanjut mengenai penderitaan didalam kehendak Tuhan  nanti, tetapi respon Yesus terhadap pertanyaan para murid lebih diarahkan terhadap sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka ketimbang pada instruksi  yang bersifat doktrin. Murid-murid seperti halnya kebanyakan kita, cenderung berfilosofi tentang penderitaan manusia daripada melakukan tindakan aktif atau nyata terhadap penderitaan yang dialami manusia. Yesus tidak punya waktu untuk  melakukan penyelidikan secara spesifik pada apakah  penyebab penderitaan orang ini. Waktu sudah  larut; waktu-Nya terbatas. Mereka harus mengerjakan pekerjaan Tuhan selagi ada kesempatan (bandingkan dengan ayat 4).



Persis sebelum kisah penyembuhan orang ini, Yesus membuat pernyataan ini : “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia" (Yohanes 9:5). Perkataan Yesus ini untuk menegakkan sebuah hubungan yang jelas antara penyembuhan orang buta ini dan klaim-Nya  bahwa Dia adalah “terang dunia” (Yoh 18:12; bandingkan dengan Yohanes 1:4; 12:46). Apa yang Yesus klaim sebelumnya, sekarang Dia pertunjukan melalui mujizat ini.




Selanjutnya : Orang Buta Yang TelahSembuh Diberi  Kesempatan UntukMemberikan Penjelasan



The Light of the World (John 9:1-41) | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"