0 Kasih Tanpa Batas-Batas (Matius 5:38-48)- Bagian 1


Oleh :  Rev. Dr. Keith Krell


Beberapa waktu lalu, tetanggaku dan juga mitra kerjaku  secara mengejutkan  menjadi seorang 40 tahun yang berjiwa muda. Isterinya yang murah hati telah membelikannya sebuah  gym mini seharga seribu dolar. Ted dan saya berdiri bersisian terpana! Kita akhirnya akan mengangkat beban-beban sebagaimana  Tuhan pada dasarnya maksudkan. Hanya ada satu masalah: tiga kotak datar yang telah diantarkan terlihat sama sekali tidak seperti gym yang kita bayangkan. Kami harus mengatur sendiri  taman angkat berat ini. (saya membenci hal ini manakala tidak ada demo model!) Kami membaca melalui internet bahwa waktu kira-kira yang diperlukan  untuk merakit semuanya adalah delapan jam! Saya ingin  berteriak ketika saya membacanya!Membuat masalah ini semakin  menyiksa, petunjuk-petunjuk perakitannya mengerikan! Siapapun yang menuliskan petunjuk-petunjuk pemasangan pastilah seorang ilmuwan roket dari MIT dengan sebuah chip di bahunya, atau seorang yang sama sekali dungu dengan selera humor yang sadis, Tidak seperti diriku, Ted sangatlah   menyukai hal yang mekanik. Namun demikian bahkan Ted berkata,”Saya tidak pernah merakit apapun lebih sulit daripada Marcy 4300.” Pada waktunya kami telah merakitnya. Atau semestinya saya katakan, Ted akhirnya menaklukan proyek ini. Saya hanya memberikan alat-alat dan berupaya tidak membuat terlalu banyak kesalahan. Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah dengan mengikuti  petunjuk-petunjuk. Sekalipun petunjuk-petunjuk itu membingungkan, sulit, dan dapat dipertanyakan, tanpa adanya petunjuk-petunjuk itu kita akan karam. Oleh karena itu kami membaca seksama  setiap halaman, gambar-gambar foto, diagram, panduan langkah-langkah,  mengambil informasi    yang mungkin dapat membantu.

Demikian juga dengan dunia rohani, satu-satunya cara untuk berurusan dengan  sesuatu  khususnya  hal berat yang menciutkan  hati atau terkait dengan hubungan adalah dengan mempelajari petunjuk- petunjuk dalam firman Tuhan. Peringatan ini khususnya  penting  ketika tiba pada mengasihi mereka yang melukaimu.



Kita hidup didalam sebuah  masyarakat  dengan kekuasaan yang kasar: orang  yang memiliki tinju-tinju terkuat atau  senjata-senjata paling banyak akan menang. Sebagai ganti Golden Rule (Matius 7:12-red), etika kita adalah, “Lakukanlah terlebih dahulu kepada orang-orang lain, sebelum mereka melakukannya kepadamu.”  “Jika mereka melakukan  hal yang benar-benar jahat kepadamu, habiskan mereka semua sebelum mereka dapat melakukan hal  buruk lainnya.” Atau kesukaan diriku, “Saya tidak  marah, kalau saya  mendapatkan hal setimpal. “ Semua ekspresi ini merupakan respon-respon alami; akan tetapi, anda dan saya menghidupi kehidupan supernatural. Dalam Matius 5:38-48  Yesus berkata,”Ketika anda mengasihi tanpa batas-batas, anda menyerupai Tuhan.” Dalam 11 ayat, Yesus meletakan 2 komitmen pemuridan.


Ilustrasi Perang Suku :Dua suku ,
Suku Damal dan Dani terlibat perang adat
setelah Suku Damal menolak membayar denda kompensasi
atas pemerkosaan warga Suku Dani yang
diduga dilakukan oleh warga Suku Damal.
[plasamsn]
1. Melepaskan  “hak-hak” yang anda miliki (Matius 5:38-42)


Berlawanan dengan keyakinan popular, anda tidak memiliki hak. Ketika anda menjadi seorang murid, anda telah mendaftarkan diri untuk mati bagi dirimu sendiri [Mat 16:24–27; Mark 8:34–38; dan  Lukas 9:23–27.] Dalam Matius 5:38 Yesus berkata, “  Kamu telah mendengar firman: MATA GANTI MATA DAN GIGI GANTI GIGI.” Yesus sedang mengutip Hukum Pembalasan yang ditemukan dalam  3 nas dalam Perjanjian Lama ( Keluaran 21:24; Imamat 24:20; Ulangan 19:21)[dikutip kata demi kata dari LXX]. Frase ini mengakibatkan beberapa orang berkata bahwa Hukum Perjanjian Lama itu buas dan haus darah, tetapi hal itu tidak benar. Sebenarnya itu adalah permulaan belas kasihan.


Dan hukum itu merupakan fondasi semua hukum sipil yang ada. Walaupun mengizinkan pembalasan tetapi hukum itu sendiri membatasi pembalasan-pembalasan dengan menetapkan batasan-batasan. Hukum itu dimaksudkan sebagai sebuah  penyeimbang keadilan[Hampir semua komentator Alkitab meragukan bahwa hukum ini dimaksudkan untuk diterapkan secara harfiah didalam setiap kasus, tetapi hukum ini merupakan  sebuah metafora grafik untuk menegakan  persamaan derajat  atas kehilangan  yang dialami dalam sebuah kejadian. Michael J. Wilkins, Matthew. NIV Application Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2004), 248.]


Jika seseorang merontokkan gigi saya, saya lakukan hal yang sama. Dan jika saya mencungkil matanya, dia mendapatkan mata saya. Pembalasan sebagaimana yang kita ketahui  menetapkan untuk mendapatkan lebih daripada seharusnya. Kita  ingin mendapatkan lebih dari sebelumnya. Kita mengingingkan 2 mata  untuk satu mata atau sebuah nyawa untuk satu mata[David L. Turner, Matthew. Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Baker, 2008), 174.].




Tetapi hukum didalam Perjanjian Lama telah membatasi pembalasan dan membuat pembalasan menjadi tidak setimpal. Dengan kata  lain, orang hanya akan mendapatkan  kembali apa yang telah hilang dari mereka (seperti sediakala). Sebagai tambahan, hukum ini  mengandung  belas kasihan karena hukum ini membatasi pembalasan terhadap pelaku kejahatan. Hukum Perjanjian Lama tidak mengizinkan seluruh anggota keluarga untuk melakukan tindakan pembalasan. Ketika dirugikan, kita cenderung mengerahkan semua kekuatan keluarga dan teman-teman untuk melakukan pembalasan.


Jika seseorang memotong telingaku, saya ingin memenggal kepalanya. Dan jika saya memenggal kepalanya, saudaranya akan membunuhku, dan jika dia membunuhku, saudaraku akan membunuh saudaranya, dan dengan cepat kami akan   terlibat dalam sebuah  perang keluarga lalu perang suku dan pada puncaknya seluruh bangsa. Jadi apa yang terlihat sebagai sebuah hukum  yang haus darah sebenarnya sebuah cara membatasi kekejaman dan  pertumpahan darah [Haddon W. Robinson, What Jesus Said About Successful Living (Grand Rapids: RBC, 1991), 153] Lebih lanjut, sementara hukum ini mengizinkan orang untuk membalas dalam batas-batasan,  hukum ini tidak mensyaratkan   pembalasan agar menjadi setimpal [David S. Dockery & David E. Garland, Seeking the Kingdom (Wheaton: Harold Shaw, 1992), 62.]. Jadi dalam Perjanjian Lama sekalipun, orang dapat melepaskan  hak pembalasannya.


Tentu saja, pengajaran Yesus secara umum jauh diatas dan melampaui hukum dalam  Perjanjian Lama. Dalam  Matius 5:39a Yesus mendeklarasikan,” Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan (melakukan pembalasan terhadap )[ Kata  anthistemi (“melawan ”) hanya mucul disini pada Matius. Dalam bentuk pasif  kata ini berarti “melawan”; tetapi,dalam bentuk aktif  kata ini berarti “membalas.”Disini, kata ini bermakna  main hakim sendiri.] orang yang berbuat jahat…” Kata yang diterjemahkan menjadi “melawan” dalam konteks ini bermakna “jangan berbuat  kejahatan terhadap kejahatan’[Donald A. Hagner, Matthew 1-13. Word Biblical Commentary series (Dallas: Word, 1993), 130.].


Yesus sedang membicarakan balas dendam, bukan melindungi diri sendiri. Dia tidak sedang memerintahkan kita untuk menjadi lemah dan pasif; Dia sedang mengatakan  kepada kita untuk tidak  berkeinginan membalas dendam.  Yesus  menginginkan kita untuk mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri, “Jika seseorang melakukan sesuatu yang jahat kepadaku, bagaimana saya bisa meresponnya dengan  hanya mengakibatkan hal yang baik?’[Thomas Long, Matthew. Westminster Bible Companion (Louisville: Westminster/John Knox, 1997), 63.]. Jelas ini merupakan sebuah standard yang tinggi untuk dijalankan dalam  kehidupan! Karena itulah, gaya pemuridan Yesus bukanlah  cambuk-cambuk rohani.




Selanjutnya : Apakah makna  tidak membalas terhadap orang yang jahat



Love Without Limits (Matthew 5:38–48)  | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"