0 SARDIS : JEMAAT YANG HAMPIR MATI (Bagian 4)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.

Khotbah Minggu : 5 Mei 2013
Serial Khotbah 7 Jemaat (Part 5d)
SARDIS : JEMAAT YANG HAMPIR MATI.


Wah 3:1-6
– (1) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! (2) Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggalyang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna dihadapan Allah-Ku. (3) Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima danmendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Akuakan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datangkepadamu. (4) Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; merekaakan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. (5)Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akanmenghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapanBapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. (6) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkanapa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
Kita sudah membicarakan IV point dalam pembahasan tentang jemaat Sardis ini, dan sekarang kita akan melanjutkan pembahasan kita pada point selanjutnya yakni point V.

V. JANJI TUHAN BAGI JEMAAT SARDIS.
Pada bagian point IV kita sudah melihat bagaimana nasihat Tuhan pada jemaat Sardis yakni supaya mereka berjaga-jaga, supaya mereka memperbaiki diri dan supaya mereka mengingat kembali Injil dan bertobat. Jika mereka mau melakukan seperti nasihat Tuhan itu, mereka dikatakan sebagai orang yang menang. Dan untukorang-orang yang menang itu, Tuhan menjanjikan sejumlah hal pada mereka.



Berikut ini adalah janji Tuhan pada mereka :
Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.


Dari kata-kata Tuhan ini kita melihat ada 3 janji yang terkandung di dalamnya :
a. Tuhan berjanji akan mengenakan pakaian putih kepada mereka.
Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian;…”

Ayat ini jelas berhubungan dengan ayat sebelumnya yang berbicara tentang beberapa orang di Sardis yang tidak mencemarkan pakaian mereka (tidak hidup di dalam dosa).


Wah 3:4 - Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.

Itulah sebabnya dikatakan : “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian”. Artinya adalah barangsiapa yang menang akan dikenakan pakaian putih seperti yang diberikan pada beberapa orang Sardis yang hidup dalam kesucian itu.

Pada bagian sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa nasihat Tuhan pada jemaat Sardis diangkat dari latar belakang kota mereka sendiri yang pernah 2 kali ditaklukkan karena mereka tidak berjaga-jaga. Karena itu nasihat untuk berjaga-jaga adalah sebuah nasihat yang sangat familiar bagi orang-orang Sardis. Maka di sini janji Tuhan kepada mereka juga diangkat dari hal-hal yang sangat familiar dengan warga Sardis ini. Di sini Tuhan menjanjikan pakaian putih bagi mereka. Mengapa demikian? Karena pakaian putih bukanlah pakaian asing bagi orang-orang Sardis.

Sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa di Sardis ada pabrik kain dan pakaian dari kulit domba yang sudah pasti berwarna putih. Karena itu pakaian putih bukanlah pakaian asing bagi orang Sardis. Itu adalah pakaian produksi kota mereka sendiri. Dan menariknya adalah untuk orang-orang Sardis yang memproduksi pakaian putih ini, Tuhan justru menjanjikan pakaian putih bagi mereka yang menang.

Jakob P.D. Groen - Janji itu cukup jelas bagi penduduk kota Sardis, yang pada zaman itu terkenal sebagai ahli pakaian bulu domba (wol, putih). Mereka perlu mendapat pakaian dari TUHAN. (Aku Datang Segera, hal. 62).

Pakaian putih yang dijanjikan Tuhan Yesus ini pasti lebih putih daripada pakaian putih “Made in Sardis”. Saking putihnya bisa bercahaya seperti matahari.

Mat 13:43 - Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Wah 19:8 - Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!"…”

Perlu diingat bahwa pakaian dengan “warna surgawi” ini adalah pakaian yang sama yang dikenakan para malaikat dan juga Yesus dalam peristiwa transfigurasi.

Luk 24:4 - Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.


Wah 15:6 - Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.


Luk 9:29 - Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Jadi pakaian yang dijanjikan bagi orang-orang yang menang di Sardis ini adalah pakaian produk surga (“Made in Heaven”).

Janji pemberian pakaian putih bagi mereka yang menang juga bias dilatarbelakangi oleh tradisi Romawi kuno sebagaimana dikatakan Barclay.


William Barclay - Di dunia kuno jubah putih menandakan kemenangan. Padahari perayaan kemenangan Roma semua warga mengenakan pakaian putih; kota itu sendiri dinamakan urbs Candida, kota dalam keadaan putih. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 181).

Jelas pakaian putih yang dijanjikan Tuhan ini tidaklah bersifat hurufiah tetapi simbolik. Nah, apa artinya pakaian putih di sini? Ada banyak penafsiran tentang ini tetapi ada 2 penafsiran yang menonjol dan banyak dipegang oleh mayoritas penafsir :


1) Ada yang berkata bahwa pakaian putih di sini adalah simbol dari kebenaran/ kekudusan/kemurnian.

Jadi kalau dikatakan Tuhan mengenakan pakaian putih pada orang-orang yang menang, artinya adalah Tuhan sendiri yang akan membenarkan / menyucikan atau memurnikan mereka sehingga mereka akan menjadi sempurna.

Herman Hoeksema : Dalam Kitab Suci pakaian putih merupakan simbol dari kebenaran dan kekudusan dan kemurnian, dari pembebasan yang sempurna dari dosa dan kejahatan.



George Eldon Ladd - Ini adalah janji kemenangan dan kemurnian dalam Kerajaan Mesias pada waktu mereka yang telah tetap setia dalam masyarakat yang kafir dan jahat akan mengalami penyempurnaan persekutuan dengan Tuhan.


Di dunia ini, ketika kita sudah percaya, kita rindu untuk taat pada Tuhan. Kita rindu untuk hidup dalam kebenaran dan kesucian tetapi kita sering gagal. Kita rindu untuk menyenangkan Tuhan lewat kehidupan kita, tetapi seperti kata Firman Tuhan : “Roh memang penurut tetapi daging lemah” sehingga seringkali kita jatuh bangun dalam dosa. Kalau kita benar-benar orang percaya, kenyataan ini akan membuat kita menderita. Menderita karena di satu sisi kita ingin taat dan menyenangkan Tuhan, tapi di sisi lain kita seringkali berdosa dan menyakiti hati Tuhan. Kita mengalami apa yang juga dialami oleh Paulus :

Rom 7:15,19,21-23 – (15) Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (21) Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22) Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di dalam anggotaanggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hokum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.


Tapi kalau kita adalah orang-orang yang menang, suatu hari nanti ketika kita masuk di dalam Kerajaan Tuhan yang kekal (surga), Ia akan menyempurnakan kita sehingga kita hidup dalam kebenaran / kesucian dan tidak berbuat dosa lagi.


Ibr 12:23 – “…kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna

Pada saat itu kita menjadi kudus dan dengan kekudusan itu kita bisa memandang wajah Tuhan kita.

Ibr 12:14 – “… sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Sekarang ini kita belum melihat Tuhan dalam rupa yang sesungguhnya.

Ingat bahwa gambar-gambar Yesus yang populer sekarang ini bukanlah wajah Yesus yang sesungguhnya. Kalau kita orang Kristen yang sejati, kita pasti mempunyai kerinduan yang besar untuk melihat wajah Juruselamat kita seperti rasul Andreas yang ketika mau disalib di Ethiopia, ia berbicara dengan salib itu dengan kata-kata : “Oh salib yang mulia, bawalah aku sekarang pada Sang Guruku yang Maha agung karena hatiku sudah sangat rindu berjumpa dengan Sang Guruku. Bawalah aku, bawalah aku sekarang juga”. Dengan kata-kata itu Andreas naik ke atas salib dan dihukum mati sambil menyanyi. Atau juga seperti kata-kata dalam sebuah lagu tua :

“Saya rindu bertemu dengan Yesus
Saya rindu memandang wajah-Nya
Saya cape berjalan dalam dunia yang fana
Saya rindu bertemu dengan Dia”

Tetapi itu belum bisa terjadi karena kita masih berdosa. Ingat, tanpa kekudusan tidak seorang pun bisa melihat Tuhan. Tetapi satu hari nanti, asal kita menjadi orang-orang yang menang di dalam perjuangan iman kita di dunia ini, kita akan dikenakan pakaian putih (artinya kita akan dikuduskan / disempurnakan) dan pada saat itu kita akan melihat Tuhan kita muka dengan muka.

1 Kor 13:12 - Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Karena itu pula kita tidak boleh bersedih terlalu banyak apabila kekasih-kekasih kita meninggal dunia dalam Tuhan. Kita juga harus bersukacita karena mereka sudah mengenakan pakaian putih dan bias melihat wajah Juruselamat mereka.

2) Ada yang berkata bahwa pakaian putih di sini adalah simbol dari keikutsertaan dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah.

Tafsiran ini diambil dari tradisi kuno yang berkenaan dengan pakaian putih di mana jubah putih adalah jubah yang harus dipakai jikalau menghadiri sebuah pesta resmi.

Pengkh 9:7-8 – (7) Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. (8) Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.

Orang tidak akan dibiarkan hadir dalam sebuah pesta tanpa mengenakan pakaian pesta ini (jubah putih).

Mat 22:11-13 – (11) Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. (12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. (13) Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Perlu juga diketahui bahwa hubungan Tuhan dan umat-Nya seringkali digambarkan sebagai mempelai laki-laki dan perempuan. Penggambaran ini ada dalam PL maupun PB.

  • Dalam PL.
Hos 2:18 - Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.

Yes 54:5 - Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya;…”

  • Dalam PB.
Yoh 3:29 - Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu….”

Mat 25:1 - "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.


Jadi kita orang-orang percaya sebenarnya adalah mempelai Kristus, Anak Domba Allah itu. Tapi sekarang kita belum kawin dengan Dia. Kita hanya baru bertunangan.

2 Kor 11:2
“… Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.


Kita bertunangan dengan Dia sejak kita percaya kepada-Nya. Lalu pesta kawinnya kapan? Nanti di surga!


Wah 19:6-7,9
– (6) Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. (7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. (9) Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba."…”

Catatan : Melihat ayat di atas ini bahwa ada pengantin perempuan dan juga para undangan, lalu kita sebagai apa di sana? Sebagai pengantin perempuan atau sebagai undangan? Jawabannya adalah kedua-duanya. Kita adalah mempelai sekaligus undangan.

Lalu pakaian apakah yang dikenakan oleh kita sebagai tamu sekaligus mempelai perempuan dalam pesta itu?


Wah 19:7-9 – (7) Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memulia-kan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. (8) Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!"… (9) Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba."…”

Jadi mempelai Kristus / para tamu dalam pesta kawin Anak Domba itu akan mengenakan kain / pakaian putih. Ini tentu ada hubungan dengan janji Tuhan untuk memberikan pakaian putih bagi orang-orang yang memang di Sardis.


Jakob P.D. Groen – Inilah pakaian yang dijanjikan dalam surat kepada jemaat di Sardis…” (Aku Datang Segera, hal. 265).
Jadi ketika Tuhan berjanji akan mengenakan pakaian putih kepada orang-orang yang menang, artinya adalah mereka akan diterima dalam pesta kawin Anak Domba itu sebagai mempelai perempuan-Nya dan sekaligus sebagai tamu-tamu-Nya.


William Barclay - Jubah putih di dalam Wahyu dapat diartikan bahwa orang yang setia akan diberikan jubah itu, karena mereka akan menjadi tamu di dalam perjamuan Allah. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 181).



Apa artinya semua ini? Ketika seorang laki-laki mengawini seorang perempuan itu berarti bahwa ia menerima perempuan itu di rumahnya, menjadi milik seutuhnya, dekat dengan dia dan memiliki hak di dalam rumahnya. Demikian juga ketika kita diterima sebagai “isteri” dari Kristus, kita diterima di dalam rumah-Nya di surga, kita menjadi milik seutuhnya dari Dia, menjadi begitu dekat dengan Dia selama-lamanya dan memiliki hak atas kerajaan-Nya. Mungkin syair lagu ini dapat menggambarkan ide tersebut :



“Sebuah istana tersedia bagiku
Di balik bukit di neg’ri seb’rang
Di sana nanti kita pun akan hidup
Bersama Tuhan selamanya”.

Dua penafsiran ini bisa kita gabungkan sehingga arti dari kita diberikan pakaian putih adalah bahwa kita akan dibenarkan / disucikan / disempurkan sehingga kita bisa melihat wajah Tuhan kita dan kita juga akan diundang dalam pesta kawin Anak Domba itu sebagai mempelai-Nya. Rindukah saudara akan hal ini?

Rindukah saudara dibenarkan / disucikan dan disempurnakan oleh Dia? Rindukah saudara untuk melihat Sang Juruselamatmu muka dengan muka?

Rindukah saudara hadir dalam pesta kawin Anak Domba itu? Rindukah saudara menjadi mempelai-Nya? Serindu-rindunya saudara, saudara tidak akan bias menerima semua itu kalau saudara tidak memiliki pakaian putih. Dan pakaian putih itu hanya diberikan pada orang-orang yang menang dalam perjuangan iman di dunia ini. Karena itu setialah terus kepada Tuhan, layani Dia dengan sungguh-sungguh dan saudara akan menjadi orang menang dan diberikanpakaian putih oleh-Nya.

Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian;…”

b. Tuhan berjanji tidak akan menghapus nama mereka dari Kitab Kehidupan.
Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan,….

Kitab Kehidupan adalah kitab yang berisi nama-nama orang-orang pilihan yang akan diselamatkan / masuk surga.

B. B. Warfield - Kitab kehidupan ..., yang merupakan simbol dari penetapan pada kehidupan kekal yang dinyatakan dalam Kristus dan diwujudkan melalui Kristus. (‘Biblical and Theological Studies’, hal. 306)

Ingat bahwa kitab ini hanya simbol saja yang menunjukkan bahwa orang-orang pilihan itu sudah tertentu dan mereka pasti akan selamat. Tidak mungkin terjadi kesalahan dalam hal ini, karena Allah itu maha tahu dan tidak mungkin salah.


Seorang wanita setengah baya terkena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. pada saat di meja operasi dan dekat dengan kematian, ia melihat Allah. Ia bertanya: ‘Tuhan apakah ini memang sudah saatnya bagiku untuk mati?’. Tuhan menjawab: ‘Tidak, engkau masih punya waktu sekitar 30-40 tahun lagi untuk hidup’.


Setelah sembuh, dengan pemikiran bahwa ia masih punya waktu beberapa puluh tahun untuk hidup, wanita itu melakukan operasi wajah, sedot lemak dan sebagainya. Ia lalu juga pergi ke seorang penata rambut, dan mengubah potongan rambut maupun warna rambutnya. Tetapi beberapa hari setelah itu, I mengalami kecelakaan dan mati. Pada saat bertemu dengan Allah, ia lalu bertanya: ‘Aku kira Engkau mengatakan bahwa aku masih punya waktu 30-40 tahun lagi untuk hidup. Mengapa aku mati sekarang?’. ‘Oh’, jawab Allah, ‘Aku tidak mengenalimu’.

Kalau Allah memang seperti itu, maka Ia pasti betul-betul membutuhkan suatu kitab supaya jangan sampai salah. Tetapi karena Allah itu maha tahu, jelas bahwa Ia tidak membutuhkan semua itu. Jadi kitab kehidupan hany merupakan simbol, yaitu simbol dari predestinasi.


Perlu diketahui bahwa orang yang namanya tercantum dalam Kitab Kehidupa akan masuk surga.

Wah 21:27 - Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang namanya tidak tercantum dalam Kitab Kehidupan itu? Sudah pasti mereka akan masuk ke neraka.

Wah 20:15 - Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

Yang menarik adalah dicatat atau tidaknya nama seseorang dalam Kitab Kehidupan sudah dilakukan oleh Allah sejak dunia dijadikan.

Wah 13:8 - Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.


Wah 17:8 – “…Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.

Memang kalau kita melihat Wah 13:8 dan Wah 17:8 di atas, itu berbicara tentang orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan.


Tetapi bahwa orang-orang tertentu namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan, secara implisit / tidak langsung menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa orang yang namanya ada dalam kitab kehidupan, juga sudah tercatat sejak dunia belum dijadikan.


Tetapi kalau demikian mungkinkah ada penghapusan nama dari Kitab Kehidupan? Rasanya tidak mungkin!
Mengapa? Karena :
Kalau nama seseorang dihapus dari Kitab Kehidupan berarti namanya tidak ada dalam Kitab Kehidupan itu. Tapi ayat-ayat di atas mengatakan bahwa orang yang namanya tidak tercatat dalam Kitab Kehidupan itu sudah tidak tercatat sejak dunia belum dijadikan dan bukan karena dihapus?


Tuhan itu maha tahu. Kalau memang Tuhan tahu bahwa seseorang akan
masuk neraka, untuk apa namanya dicatat sebelum dunia dijadikan dan setelah itu baru dihapus? Bukankah lebih masuk akal jika namanya tidak usah dicatat sejak awal?


Predestinasi / rencana Allah berkenaan dengan keselamatan manusia tidak mungkin gagal. Kalau sampai ada nama yang dihapus dari Kitab Kehidupan berarti rencana Allah tentang keselamatannya gagal. Dan ini bertentangan dengan kata Kitab Suci.


Ayub 42:2 - "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.


Jadi rasanya tidak masuk akal bahwa ada orang yang mula-mula namanya tercatat dalam Kitab Kehidupan itu dan lalu kemudian bisa dihapus namanya.


Lalu bagaimana dengan Wah 3:5 yang secara implisit mengatakan demikian?


Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan,….

Perhatikan! Yang menang namanya tidak akan dihapus dari Kitab Kehidupan. Bagaimana dengan yang kalah? Secara logis akan dihapus dan dengan demikian keselamatan mereka menjadi hilang. Ini pandangan Arminian!

Apa yang dikatakan di atas memang logis. Jikalau yang menang namanya tidak akan dihapus dari Kitab Kehidupan, maka yang kalah pasti namanya dihapus.

Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa orang Kristen sejati pasti akan menang karena Tuhan sendiri yang akan membuat mereka memang.

Rom 8:35-37 – (35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.


Ini masih ditambahi lagi dengan Rom 8:38-39 yang menjamin bahwa tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita (orang Kristen) dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Wah 17:14 - Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia”.

2 Kor 2:14 - Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya…”.

Kalau orang Kristen sejati pasti menang (tidak mungkin kalah), maka jelas bahwa Wah 3:5 itu berlaku untuk setiap orang Kristen sejati dan dengan demikian penghapusan nama dari kitab kehidupan itu tidak mungkin terjadi.


Kalau orang Kristen sejati pasti menang, maka yang kalah pasti Kristen KTP. Kristen KTP bukan orang percaya dan karena itu namanya sebenarnya tidak pernah ada dalam Kitab kehidupan. Kalau begitu mengapa Alkitab berbicara tentang penghapusan nama dari Kitab Kehidupan sebagaimana dalam Kel 32:32- 33?


Kel 32:32-33 – (32) Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." (33) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.


Tentu kita tidak bisa mengartikan bahwa bisa terjadi perubahan dalam rencana kekal Allah. Istilah ‘penghapusan nama’ itu hanya untuk menunjukkan bahwa Tuhan akhirnya menyatakan bahwa orang-orang reprobate (yang ditentukan untuk binasa), yang untuk sementara kelihatannya terhitung bersama-sama dengan orang-orang pilihan, sebetulnya sama sekali tidak termasuk di dalamnya. Itu saja! Jadi sebenarnya itu hanyalah bahasa antropomorfis saja.



Tuhan menggunakan bahasa itu hanya untuk menyesuaikan dengan pikiran Musa / manusia yang terbatas. Istilah antropomorfis semacam ini banyak di dalam Alkitab dan tidak boleh diartikan bahwa itu terjadi sungguh-sungguh.


Contoh :
Tuhan itu maha tahu bukan? Kalau Dia maha tahu Dia tidak perlu mencari tahu sesuatu bukan? Dia tidak perlu mengharapkan informasi darimana pun juga bukan? Dia tidak mungkin keliru menduga bukan? Tetapi Alkitab menggunakan bahasa penggambaran seperti itu untuk Allah.

Kel 18:20-21 – (20) Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. (21) Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."


Yer 3:7 - Pikir-Ku: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepada-Ku, tetapi ia tidak kembali….”

Ini bahasa antropomorfis. Kita tentu tidak boleh mengartikan ayat-ayat itu seolah-olah Allah memang perlu mencari tahu dan bisa keliru menduga.


 Kalau Allah maha tahu, Dia tidak perlu berpikir / mempertimbangkan pilihan di antara 2 opsi bukan? Tetapi Alkitab menggunakan bahasa penggambaran seperti itu untuk Allah.


Kej 18:17 - Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?

Lagi-lagi ini bahasa antropomorfis. Kita tentu tidak boleh mengartikan ayat-ayat itu seolah-olah Allah memang perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan tertentu.

Demikian juga dengan penghapusan nama dari Kitab Kehidupan. Itu tidak pernah sungguh-sungguh terjadi. Itu hanya bahasa antropomorfis saja.

Budi Asali - Kitab kehidupan hanya merupakan simbol dari predestinasi. Penghapusan nama dari kitab kehidupan tidak benar-benar ada. Istilah itu digunakan hanya karena Allah menyesuaikan diri dengan pengertian manusia yang terbatas, sehingga Ia menggambarkan tindakan-Nya seperti tindakan manusia yang mencatat, menghapus dan sebagainya. Orang yang ‘dihapus namanya’ adalah orang Kristen KTP, yang sebetulnya tidak pernah tercatat di dalam kitab kehidupan itu. Bagi orang percaya / pilihan, namanya sudah ada dalam Kitab Kehidupan sejak dunia belum dijadikan dan tidak mungkin akan dihapuskan. Puji Tuhan!

Nah, kalau begitu apakah arti dari janji Tuhan kepada orang-orang yang menang dalam Wah 3:5 bahwa nama mereka tidak akan dihapus dari Kitab Kehidupan?

Artinya adalah bahwa mereka pasti akan diselamatkan! Janji yang sama berlaku bagi setiap saudara yang sungguh-sungguh percaya. Dalam hidup ini ada banyak penderitaan, kesulitan, tantangan dan pencobaan tetapi Tuhan akan memimpin saudara di jalan kemenangan dan karena itu saudara pasti akan menjadi orang yang menang bahkan lebih daripada pemenang dan kalau saudara adalah orang yang menang, nama saudara tidak akan pernah dihapus dari Kitab Kehidupan-Nya. saudara pasti akan diselamatkan! Tidak peduli kapan pun saudara mati, dengan cara apa pun saudara mati, saudara pasti selamat / masuk surga! Tapi kalau saudara hanya orang Kristen KTP yang tidak sungguh-sungguh percaya pada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, janji dalam Wah 3:5 itu tidak berlaku bagi saudara. Saudara adalah orang yang kalah dan nama saudara akan dihapus dari Kitab Kehidupan yang sebenarnya berarti nama saudara tidak pernah dicatat di sana. Karena itu segeralah percaya sungguh-sungguh pada Yesus!



c. Tuhan berjanji akan mengaku nama mereka di hadapan Bapa-Nya dan para malaikat-Nya

Wah 3:5 - Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.

Janji ini sesuai dengan kata-kata Yesus sewaktu Ia ada di dalam dunia :
Mat 10:32-33 – (32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga”.

Mark 8:38 - Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu di tengahtengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan BapaNya, diiringi malaikat-malaikat kudus”.


Luk 12:8 - Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.


Orang-orang yang tidak percaya / orang Kristen KTP seringkali malu / takut mengakui Yesus / “iman” mereka pada Yesus seperti yang dilakukan pemimpin- pemimpin Yahudi. (Yoh 12:42-43). Orang-orang seperti ini mungkin akan menjadi “aman” tetapi Tuhan sendiri tidak akan mengakui mereka di hadapan Bapa-Nya di surga melainkan akan menyangkal mereka.

Renungkan ini, apakah dalam hidup saudara, saudara sering tidak mengakui Yesus di depan manusia? Misalnya malu berdoa pada waktu makan di tengah-tengah orang kafir, kalau memimpin doa di tengah-tengah orang beragama lain, lalu takut menyebut nama Yesus / Kristus, takut mengakui diri sebagai orang Kristen apalagi hamba Tuhan karena takut hubungan dengan orang lain menjadi rusak, dll? Kalau ya, bertobatlah! Karena kalau sampai Tuhan menyangkal saudara, itu sebuah bahaya besar!


Adam Clarke - Hendaklah diingat, bahwa tidak diakui oleh Kristus berarti tidak mempunyai Dia sebagai Pengantara ataupun Juruselamat. Menghadap / tampil di hadapan pengadilan Allah tanpa mempunyai Kristus sebagai Pembela kita, dan sebaliknya, mendapatkan Dia di sana sebagai Hakim kita, dan sebagai seorang saksi yang menentang kita, - bagaimana seseorang bisa memikirkan hal ini, dan tidak mati dengan ketakutan?


Tetapi orang-orang yang percaya sungguh-sungguh adalah orang-orang yang tidak malu / tidak takut mengakui Yesus / imannya pada Yesus di hadapan manusia walaupun pengakuan itu bisa membawa konsekuensi yang berat pada hidupnya. Mereka bisa dibenci, dikucilkan bahkan dibunuh. Tetapi untuk mereka, Yesus berjanji akan mengakui mereka di hadapan Bapa dan para malaikat-Nya.

Simon Kistemaker – Di pengadilan tertinggi Surga, di hadapan Allah dan malaikat-malaikat-Nya, Tuhan Yesus mengakui nama-nama mereka yang mengakui nama-Nya di bumi. Tuhan Yesus menjadi satu dengan umat-Nya dan tidak malu mengakui mereka saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan. (Ibr. 2:11).
- AMIN -

P O P U L A R - "Last 7 days"