0 KASIH DAN PERINTAH TUHAN

Oleh : Prof. D.A. Carson

Apapun hal yang   mesti dilakukan orang-orang Kristen, mereka mesti  berlaku manis, dimana “kemanisan” disini bermakna banyak tersenyum dan tidak pernah  mengisyaratkan bahwa seseorang dapat saja menjadi salah….bermakna memulihkan para pezinah ( sebagai contoh) pada jabatan pastoralnya berdasarkan pada petunjuk pertobatan samar belaka… Kasih  Tuhan yang memilih, …yang memilih Israel—bukan karena Israel  itu lebih besar dan lebih kuat atau lebih impresif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, tetapi karena Tuhan mengasihi bangsa itu ( Ulangan 7:7-8; 10:15). Kasih ini jangan dibingungkan dengan nas-nas yang memperkatakan kasih  providensia Tuhan, ….  Kasih Tuhan yang Kondisional. Baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sejumlah nas membuat kasih Tuhan kondisional   terhadap kepatuhan yang setia.., Yesus mengatakan kepada pengikut-pengikutnya, ”Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).

Ilustrasi
Credit :ima-g.ar.itb.ac.id



A. Sebuah Pengantar yang Memberikan Gambaran


Tiga tahun lampau, saya telah memberikan  beberapa perkuliahan yang pada akhirnya telah dipublikasikan dengan judul The Difficult Doctrine of  the Love of God [1]  atau Doktrin Sukar Kasih Tuhan. Hampir seluruh fokus dari perkulihan-perkuliahan tersebut tertuju pada cara-cara Alkitab mengutarakan kasih Tuhan. Saya telah mengutarakan  relatif sedikit mengenai  kasih Kristen, yakni  mengenai  kasih  orang-orang Kristen yang diminta untuk diekspresikan. Dalam buku ini  saya ingin memperbaiki sedikit keseimbangannya; tentu saja, pada bagian akhir  saya akan memperlihatkan beberapa cara dimana kasih orang-orang Kristen  merupakan sebuah refleksi kasih Tuhan.



Sebelum masuk kedalam topik,  caranya akan menjadi lebih mudah jika saya  meninjau dan sedikit mengadaptasi tiga poin yang telah saya  kemukakan pada serangkaian perkuliahan-perkuliahan pertama.


Pertama, budaya populer mondar-mandir  diantara  sebuah pandangan  sentimentil dan sebuah pandangan  kasih yang erotis. Pandangan kasih yang erotis diasup oleh televisi, filem-filem, dan buku-buku serta artikel-artikel tertentu; pandangan sentimentil dibesarkan oleh banyak  aliran, beberapa diantaranya  akan  kita pikirkan selagi kita melakukan pembahasan terkait hal ini, tetapi hasilnya adalah sebuah bentuk reduksionisme yang  berpepang pada budaya  ditaklukan oleh absurditasnya.



Diterapkan kepada Tuhan, maka pandangan sentimentil  menghasilkan sebuah  ketuhanan dengan semua kekudusan yang menakjubkan  dari sebuah mainan yang meninabobokan, dengan  semua integeritas moral  pada makanan ringan marshmallow. Dalam  kuliah-kuliah sebelumnya, saya secara ringkas telah mendokumentasikan poin ini dengan contoh-contoh dari filem-filem dan buku-buku. Diterapkan kepada orang-orang Kristen, pandangan sentimentil melahirkan harapan-harapan akan kemanisan-kemanisan transendental.  Apapun hal yang   mesti dilakukan orang-orang Kristen, mereka mesti  berlaku manis, dimana “kemanisan” disini bermakna banyak tersenyum
dan tidak pernah  mengisyaratkan bahwa seseorang dapat saja menjadi salah  mengenai  hal apapun ( karena melakukan hal ini bukanlah tindakan yang baik). Pada  gereja lokal ini bermakna mengabaikan disiplin gereja ( disiplin gereja bukan hal yang baik), dan dalam banyak konteks ini bermakna memulihkan para pezinah ( sebagai contoh) pada jabatan pastoralnya berdasarkan pada petunjuk pertobatan samar belaka. Pada akhirnya, bukankah gereja adalah tentang pengampunan? Tidakkah kita semestinya mengasihi satu sama lain? Dan bukankah itu bermakna bahwa diatas semuanya kita harus menjadi,baik, manis?  Hal serupanya juga terjadi terkait doktrin: huruf membunuh, sementara Roh memberikan hidup, dan setiap orang yang mengenal Roh adalah manis. Sehingga marilah kita mengasihi satu sama lain dan  menahan diri dari menjadi tegak lurus dan  tegak ketat terkait hal memecah  belah, yang disebut “doktrin.”



Tidak  ada satupun dari hal ini  mengatakan bahwa “ ketidakmanisan” memiliki daya pikat untuk orang-orang Kristen yang bijak dan cermat dalam berpikir .  Hal ini semata hendak mengatakan bahwa dikepung budaya reduksi “kasih” yang angkuh dan percaya diri berlebih namun tidak dewasa, bahkan kasih Kristen, telah berubah menjadi "kemanisan"  tidaklah memberikan kita  jangkauan  berpikir yang melalui keragaman cara-cara yang dikemukakan oleh Alkitab  mengenai kasih Kristen, keragaman-keragaman konteks yang menuntut suatu  hal besar untuk diperlakukan lebih mendalam daripada kebaikan sentimentil.




Menyortir hal-hal ini  tidaklah  gampang. Sangat  terlepas dari tantangan-tantangan exegetical lazim, orang akan segera menemukan bahwa  isu-isu ini, walaupun tidak pernah kurang daripada exegetical ( hal tafsir Alkitab-editor Anchor), biasanya lebih daripada itu: tidaklah mudah untuk berpikir secara jernih dengan exegetical utuh ketika anda sedang diberitahukan bahwa karena kamu berkata bahwa perilaku-perilaku
tertentu itu salah, kamu  berlaku tidak manis, kamu tidak sedang memperlihatkan kasih Kristen. Jika orang-orang Kristen tidak manis, mereka tidak sungguh-sungguh mengasihi, dan itu  bermakna mereka adalah orang-orang munafik. Dan semua kita tahu  dengan malu bahwa  gereja telah  turut serta menghasilkan  orang-orang munafik, bukankah kita demikian? Jadi mendengarkan cemooh, dan tidak mengetahui sama sekali bagaimana menjawabnya, kita tergoda untuk berjongkok dalam lubang-lubang perlindungan kita dan  memutuskan untuk menjadi sedikit lebih manis. Jika kebenaran  diungkapkan, tekanan-tekanan yang turut menyertai akan sering muncul dari dalam gereja itu sendiri sama seperti  dari luar gereja. Godaan untuk mundur menjadi  berdiam “manis” segera saja membesar.



Kedua, jenis-jenis kasih yang berbeda telah diusulkan oleh beragam penulis tidak dapat  diselaraskan secara  aman dengan kata-kata spesifik. Berangkali analisa-analisa  yang paling terkenal adalah apa yang dikemukakan oleh Nygren, yang  telah menspesifikasikan tiga kasih:  kasih seksual dan erotis, yang dia kaitkan dengan kata benda ερως atau eros; kasih emosional, atau kasih persahabatan dan perasaan, yang dia kaitkan dengan  kelompok kata φιλεω atau fileo; dan kasih yang berkomitmen, komitmen mengorbankan  untuk kebaikan orang lain, yang dia pikir  sebagai kasih Kristen dan terkait dengan kelompok kata αγαπαω atau agapao[2]

Apapun  analisa-analisa yang mengukur kebenaran  jenis-jenis kasih ini, saya telah memperlihatkan pada  tempat lain bahwa ada banyak bukti yang menyatakan bahwa kasih-kasih yang berbeda ini tidak dapat secara amat ditautkan dengan kata-kata yang dimaksudkan. Alkitab  memiliki banyak kata untuk menyatakan kasih seksual, sebagai contoh, namun kata  ini belum pernah digunakan adalah kata ερως atau eros. Dalam Alkitab Septuaginta, ketika Amon memperkosa  saudari tirinya, teks Yunani dapat berkata bahwa dia ‘telah mencintai” dia, dengan menggunakan kata kerja αγαπαω –agapao [LXX 2 Sam 13:1,4,15). Ketika Yohanes  mengatakan kepada kita bahwa Bapa mengasihi Anak, sekali  Bapa  mengasihi dengan φιλεω – fileo, dan sekali mengasihi dengan αγαπαω – agapao, tanpa ada pembedaan yang dapat dipilah. Faktanya, bukti bergerak  melampaui segelintir ayat-ayat  tersebut, tetapi saya tidak perlu mengulanginya di sini karena hal ini telah pernah disampaikan cukup sering[3].





Tidak sekali waktu saya menyatakan bahwa tidak ada  jenis-jenis kasih yang berbeda. Apa  yang sebenarnya sedang saya bantah adalah : jenis-jenis kasih spesifik tidak dapat diandalkan untuk ditautkan dengan kata-kata Yunani  tertentu. Konteks dan faktor-faktor lain akan turut menentukan, jadi bukan semata kosa kata. Jadi walaupun  masih ada banyak studi-studi yang  berbicara mengenai “Kasih yang bersifat agape atau sejenisnya[4], kata sifat yang  diupayakan untuk  ditransliterasikan secara simultan  menjadi tidak membantu ( karena maknanya  secara intrinsik tidak terlihat jernih dalam  bahasa Inggris--dan juga dalam bahasa Indonesia-ditambahkan oleh editor Anchor) dan menyesatkan ( karena pembedaan semacam ini memberikan  impresi yang salah  bahwa  bobot dari makna yang telah ditetapkan  berpijak  pada sebuah  kata Yunani manakala tidak demikian).




Analisa    tiga macam kasih  yang dikemukan Nygren bukanlah satu-satunya. Malahan  sosok terkenal C.S. Lewis lebih suka membicarakan  The Four Loves [5]. Mendasarkan dirinya pada kosa kata yang ada dalam tulisan-tulisan kuno  Yunani, dia menambahkan istilah στοργη –storgi ( untuk “kasih sayang,” secara khusus diantara anggota-anggota keluarga) dan membatasi kelompok kata φιλια / φιλεω atau filia /fileo untuk persahabatan. Sekali lagi pembedaan analitik mungkin sangat membantu, tetapi  hal semacam tidak harus ditautkan dengan kata-kata Yunani tertentu[6]. Terlebih belakangan ini telah menjadi umum dibicarakan mengenai 5 macam kasih[7]. Dua jenis “kasih” ditambahkan pada tiga jenis yang telah diusulkan  oleh Nygren adalah kasih saying untuk yang tidak sepenuhnya  personal, ditautkan oleh banyak penulis dengan  στοργη – storgi ( sebuah  analisa yang agak berbeda dari yang diajukan C.S. Lewis!), dan  kasih bagi diri sendiri ( amor sui:  penuh belas kasih, tidak ada kelompok kata Yunani yang ditautkan  untuk kategori ini).   Tetapi poin langsungku adalah :  bahkan jika  orang menerima bahwa ada tiga atau empat atau lima   jenis kasih yang dapat dibedakan,  mereka tidak dapat mengaitkannya ke  kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang berbeda.





Banyak penulis yang memiliki kategori-kategori yang secara khusus  merupakan analisa filosopi atau teologi sistematik yang telah mendebatkan hubungan yang ada diantara lima jenis kasih ini. Salah satu yang paling menarik dan kreatif adalah Timothy Jackson, dengan bukunya berjudul Love Disconsoled: Meditations On Christian  Charity [8]  berpendapat bahwa  apa  yang dia sebut sebagai kasih  agapic atau agape “memiliki sebuah prioritas tunggal  terhadap semua bentuk-bentuk kasih lainnya;  jenis ini mendahului  jenis-jenis lainnya  begitu saja dan mengatur jenis-jenis lain secara epistemis/ kognitif”[9]. Dengan kata lain, dia melihat empat jenis kasih lainnya—kasih erotis,  kasih persahabatan, kasih yang kurang daripada terhadap  obyek personal, dan  bahkan kasih bagi diri sendiri---sebagai “bertumbuh keluar dari agape sebagai buah-buah yang pantas, ketimbang sebagai sepenuhnya tak berhubungan dengan (atau bahkan berkontradiksi satu sama lain) agape sebagai rival-rivalnya yang gampang. Kasih-kasih itu  berbeda, tetapi mereka tidak antithesis”[10]. Saya telah banyak  belajar dari Jackson dan yang lain-lainnya[11], dan saya terus mendalami apa yang telah mereka tuliskan. Tetapi kategor-kategori mereka, walaupun  secara heuristic atau kajian mencerahkan, tidaklah mendemonstrasikan perihal-perihal yang mengontrol Kitab suci. Jadi dalam kuliah-kuliah ini, saya telah mengadopsi tujuan yang  jauh lebih sederhana dalam memahami bagaimana kasih telah dimandatkan   atas pengikut-pengikut Yesus yang bekerja dalam  sejumlah nas-nas  berbeda dalam Alkitab dan berangkai dengan tema-tema lainnya dalam Perjanjian Baru.




Ketiga, ini akan membantu pengembangan argumen  saya jika saya mengambil waktu saat ini untuk meninjau dan merangkumkan secara sangat ringkas salah satu tema-tema sentral dari  buku kecilku yang terdahulu,  The Difficult Doctrine of Love of God.  Saya ada  berpendapat bahwa Alkitab  berbicara tentang kasih Tuhan  setidaknya dalam  lima cara yang dapat dibedakan.


(1)Kasih Bapa kepada sang Putera ( misal Yohanes 3:35; 5:20) dan kasih sang Putera kepada Bapa ( Yohanes 14:31). Kasih intra-Trinitarian ini, jika saya boleh menggunakan istilah ini, yang tidak dikembangkan sampai belakangan ini, bukanlah kasih penebusan: bukan
Bapa tidak juga Putera yang memerlukan  penebusan. Tidak  juga ini merupakan  "jenis" kasih yang dicurahkan  meskipun terdapat ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan pada sosok yang dikasihi. Tidak hanya  memang Bapa dan Anak mengasihi  satu sama lain, tetapi  masing-masing terhadap satu sama lain dapat mengasihi dengan kasih yang terlampau   hebat untuk dapat diukur.

(2)Kasih  providensia (pemeliharaan) Tuhan  atas seluruh alam semesta. Tidak hanya Tuhan telah  menciptakan alam semesta dan menyebutnya “sangat baik” (Kejadian 1:31), tetapi bahkan  dalam kondisi kekacauan dan pemberontakan, Yesus mengajarkan kita  bahwa Tuhan
credit: Sunshine City- delroso.deviantart.com
menyebabkan mataharinya untuk terbit bagi yang jahat dan yang baik, dan mengirimkan hujan  atas orang benar dan orang tidak benar” (Matius 4:45). Bahwa ini adalah sebuah tindakan kasih pada pihak Tuhan diperlihatkan dengan apa yang Yesus katakan selanjutnya :
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Matius 5:46).  Dengan kata lain, tanggung jawab kita   untuk mengasihi musuh-musuh kita didasarkan pada  fakta bahwa Tuhan secara providensia mengasihi orang yang  tidak adil dan adil.


(3)Tuhan  teramat merindukan,mengundang, mencari, menyimpan kasih. Dia adalah Tuhan yang mengasihi dunia (Yohanes 3:16) hingga kesudahannya—yaitu  orang-orang yang
akan percaya kepadanya dan memiliki hidup kekal. Dia adalah Tuhan yang ber teriak, “Demi Aku yang hidup,… , Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11).  Tentu saja ini agak berbeda dari kasih Bapa kepada Anak; memang, untuk mengatakan setidaknya, dapat dibedakan dari kasih providensia Tuhan.


(4) Kasih  Tuhan yang memilih, kasihnya yang selektif. Dia adalah Tuhan yang memilih Israel—bukan karena Israel  itu lebih besar dan lebih kuat atau lebih impresif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, tetapi karena Tuhan mengasihi bangsa itu ( Ulangan 7:7-8; 10:15). Kasih ini jangan dibingungkan dengan nas-nas yang memperkatakan kasih  providensia Tuhan, untuk setiap orang tanpa pengecualian adalah penerima kasih semacam ini, sebagaimana disini keseluruhan poinnya adalah : kasih Tuhan membuat pembedaan-pembedaan. Itu mengapa Tuhan dapat merangkumkan kasih ini dengan merujuk pada kategori-kategori yang membedakan: “demikianlah firman TUHAN.


"Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau
,” kata Tuhan (Maleakhi  1:2-3) —sebuah pembedaan dilakukan, Paulus memperlihatkan, hal itu didasarkan pada  pemikiran Tuhan  sebelum baik Yakub dan  Esau “dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat” (Roma 9:10-12). Hal serupa dalam Perjanjian Baru :” Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Cara-cara  memperkatakan ini dibedakan dari nas-nas yang berbicara mengenai kerinduan Tuhan, kasihnya yang  mengundang, masih ada lebih banyak lagi  nas-nas yang membicarkan kasih providensia Tuhan atas semua tanpa  pembedaan.

(5) Kasih Tuhan yang Kondisional. Baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sejumlah nas membuat kasih Tuhan kondisional   terhadap kepatuhan yang setia. Dalam Dekalog, sebagai contoh, Tuhan berjanji untuk memperlihatkan kasih “kepada
beribu-ribu generasi  dari orang-orang yang mengasihiku dan memelihara perintah-perintahku” (Keluaran 20:6, penekanan oleh  author). Yesus mengatakan kepada pengikut-pengikutnya, ”Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10). Kitab  Yudas memperingatkan para pembacanya, “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal” (Yudas 21), memberikan impresi yang tak terelakan bahwa adalah mungkin juga untuk tidak tetap tinggal dalam kasih Tuhan.



 Berlanjut ke Bagian 2, nantikanlah



Love In Hard Places- Bab 1  | Diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora


Catatan-Catatan Kaki :


[1]Wheaton, Ill.: Crossway Books, 2000.

[2]Anders Nygren, Agape and Eros (New York: Harper and Row, 1969).

[3]I summarized some of the evidence in Exegetical Fallacies, 2nd ed. (Grand Rapids: Baker, 1996), 31- 32, 51-53.

[4]E.g., Stanley J. Grenz, The Moral Quest: Foundations of Christian Ethics (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1997), esp. chap. 8; Lewis B. Smedes, Love Within Limits: Realizing Selfless Love in a Selfish World (Grand Rapids: Eerdmans, 1978), passim. Both books, I hasten to add, include many good things; the latter stands within a tradition of thoughtful Christian expositions of 1 Corinthians 13. Compare, for instance, Jonathan Edwards, Charity and Its Fruits (London: Banner of Truth, 1969 [1852]); William Scroggie, The Love Life: A Study of I Corinthians xiii (London: Pickering and Inglis, n.d.). One of the reasons why some ethicists (e.g., Grenz, 280) are still claiming a distinction in the Greek words is because they rely on older works (e.g., Gustav Stählin, “uike@x jsk,” TDNT 9.128,134) that presupposed an isomorphic relationship between form and meaning. Linguistics has long sincedemonstrated how impossible that view is.



[5]New York & London: Harcourt Brace Jovanovich, 1960.

[6]The book to read is Robert Joly, Le vocabulaire chrétien de l’amour est-il original? Φιλειν et Αγαπαν dans le grec antique (Bruxelles: Presses Universitaires, 1968).

[7]See the elegant summary of this discussion in Timothy P. Jackson, Love Disconsoled: Meditations on Christian Charity (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), ch. 3.

[8]Op. cit.


[9]Ibid., 56.

[10]Ibid. C. S. Lewis gave a similar priority to αγαπη.

[11]See especially the excellent bibliography in Jackson, Love Disconsoled, 231-244.

[12]Sipre, on Lev.

P O P U L A R - "Last 7 days"