0 KASIH DAN PERINTAH TUHAN (Bagian 3)

Oleh : Prof. D.A. Carson

[Bagian 2]...Menariknya, walaupun Yesus  hanya ditanyai soal perintah yang paling penting, Yesus mempersiapkan jawaban tidak hanya   untuk yang paling penting tetapi kedua yang penting: ” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). Nas  Perjanjian Lama yang Yesus kutip adalah Imamat 19:18. Kandungan bab itu   secara khusus ditujukan pada sebuah susunan perintah-perintah yang  mengusung hubungan-hubungan sosial;… ). Ayat krusialnya, 19:18, dibaca,  Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”



…. Ada satu fitur atau hal khusus lagi dalam teks kita… segera Yesus berkata kepada dia, “ Engkau tidak  jauh dari kerajaan Allah” (Mark 12:34). Apapun juga  maknanya Teks ini tidak mengatakan  kepada kita bahwa kita  mendapatkan penerimaan ke dalam kerajaan Allah oleh karena kasih kita



dalam Matius 5:17-20, Yesus telah mengatakan bahwa dia tidak datang untuk melenyapkan Hukum dan kitab Nabi-Nabi, tetapi untuk “menggenapi” semua ituini tidak bermakna bahwa Yesus datang untuk “mempertahankan” Perjanjian Lama  atau untuk menguatkan Perjanjian Lama atau untuk mematuhi Perjanjian Lama, tetapi secara sangat literal untuk menggenapinya   kita harus  berpikir tentang Yesus sebagai bait terahir, domba paskah terahir, imam besar  terahir, dan korban terahir pada  Hari Penebusan


 

Dalam konteks pewahyuan Perjanjian Lama, perintah untuk mengasihi Tuhan  dengan hati dan jiwa dan kekuatan ( Ulangan 6:4-5) diletakan dalam konteks mengenal Firman Tuhan, mematuhinya, dan meneruskannya :



(1) Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, (2) supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.(3) Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

(4) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,(7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.(8) Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,(9) dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.



Apa yang dimaksudkan disini adalah: mengasihi Tuhan tidak dapat dipisahkan  dari takut akan Tuhan dan  mematuhi dia. Pada satu sisi, mematuhi Tuhan disini bermakna  perintah-perintahnya, dan perintah utama yang telah ditekankan disini adalah perintah untuk mengasihi dia dengan hati dan jiwa dan  kekuatan. Pada sisi lainya, jika seseorang sungguh-sungguh mengasihi  Tuhan, kasih ini akan  menjadi motif kekuatan untuk mematuhi dia sepenuhnya—dan dalam konteks ini, mematuhi dia sepenuhnya membawa serta  kepatuhan, dan keistimewaan tinggal diam dan  berpegang ketat pada firman-firmannya dan    berkomitmen untuk meneruskannya/menyampaikannya  kepada generasi selanjutnya. Karena bagaimana bisa seseorang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan hati, jiwa, dan kekuatan, dan tidak ingin membuat dirinya dikenali, secara khusus  terhadap anak-anaknya sendiri? Mengabaikan wilayah ini   oleh karena itu tidak hanya ketidakpatuhan tetapi kurangnya kasih kepada Tuhan.



Jadi mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaanmu, bukan hanya “hati” kita ( dalam pemahaman biblikal), juga  pikiran-pikiran kita, bermakna mengenal  perkataan-perkataan Tuhan dan mematuhinya. Mengapa hal ini  menjadi mengejutkan? Ada begitu banyak teks yang  mengatakan hal-hal serupa. Sebagai contoh, beberapa bab selanjutnya, Kitab Keluaran  memberikan sebuah pandangan suatu waktu ketika akan adanya seorang raja di Israel dan  secara resmi memberitahukan apa yang menjadi tanggung jawab pertamanya : ” Apabila ia duduk di atas takhta kerajaan, maka haruslah ia menyuruh menulis baginya salinan hukum ini menurut kitab yang ada pada imam-imam orang Lewi. Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel" ( Ulangan 17:18-20).



Tugas pertama raja, dengan kata lain, bukan untuk menunjuk  kepala staf-kepala staf gabungan  atau mengangkat seorang Sekretaris Negara yang baru. Tugas  pertamanya adalah untuk menyalin kepingingan-kepingan  Kitab suci yang sangat besar dengan tulisan tangan. Dia tidak sekedar mengunduhnya dari sebuah keping cakram ke  hard drive tanpa melalui otaknya; dia harus menyalinnya dengan tangan sejelas-jelasnya dimana salinan tulisan tangannya menjadi salinan yang dibaca secara harian  disepanjang sisa hidupnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar dia dapat  “menghormati” Tuhan Allahnya dan “ mengikuti secara hati-hati semua kata-kata dari hukum ini dan ketetapan-ketetapan ini,” Jadi terkait dengan Tuhan menuntunnya untuk membaca dan membaca  kembali Kitab suci; Kitab suci mengajarkan dia untuk menghormati  Tuhan dan melatih pikirannya untuk mengikuti semua kata-kata Tuhan. Dan ini pada gilirannya  bermakna bahwa dia akan belajar untuk tidak “menganggap dirinya sendiri lebih baik daripada saudara-saudaranya”—yang mana, tentu saja, bagian  yang hakiki dari mengasihi saudara-saudara dan saudari-saudarinya seperti dirimu sendiri.



Atau pertimbangkanlah Keluaran 8. Disana Musa memberitahukan kepada orang-orang untuk mengingat bagaimana Tuhan telah memimpin umatnya selama empat puluh tahun  di gurun. Perjalanan ini mencakup  berbagai tes, sejumlah penderitaan, bahkan  mujizat penyediaan. Semua hal ini  memiliki  maksud untuk membuat mereka rendah  hati dan mengajarkan mereka bahwamanusia tidak hanya hidup dari roti saja tetapi pada setiap kata yang keluar dari mulut TUHAN” ( Ulangan 8:3). Disini setiap kata yang keluar dari mulut Tuhan dinilai lebih krusial bagi keberadaan manusia daripada  makanan  yang menopang kehidupan jasmani. Dengan standard ini,  kegagalan Israel dan diri kita, secara mengejutkan sedemikian dalamnya  tersesat, sedemikian mengganggunya menyimpang. Secara kontras, ketika Tuhan Yesus mengutip  persis kata-kata ini, dia mengutipnya dalam sebuah konteks  yang memperlihatkan bagaimana dia secara sempurna menjaga prioritas-prioritasnya yang  berpusatkan pada Tuhan dan   karenanya bertahan terhadap  godaan ( Matius 4:4).



Orang tidak harus membatasi dirinya hanya pada kitab Keluaran. Mazmur 1, sebagai contoh,menggambarkan  orang yang  “diberkati” sebagai orang yang  “kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mazmur 1:2). Dengan kata lain, dia tidak semata  berkomitmen kepada  Firman Tuhan dalam hal yang teoritis, namun dia secara positif bersuka dalam Taurat Tuhan—sedemikian besarnya sehingga dia memikirkannya, membuka-bukanya dalam benaknya, merenungkannya siang  dan malam.  Singkatnya, dia mengasihi Tuhan dengan  hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan. Mazmur terpanjang dalam Kitab suci diberikan kepada tema yang membentuk dunia,  mengubah orang ( Mazmur 119).  Tidak   terlampau mengherankan, kemudian, bahwa ketika dia berkuasa, Yosua  dikatakan, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya” (Yosua 1:8).




Sehingga terlihat kemudian, bahwa jika Yesus memilik rasa hormat terhadap konteks dalam Keluaran yang sedang dia kutip dalam Markus 12, dia sedang mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan berhubungan dengan  membaca, mencintainya luar biasa, merenungkan, dan mematuhi kata-kata Tuhan.



Menariknya, walaupun Yesus  hanya ditanyai soal perintah yang paling penting, Yesus mempersiapkan jawaban tidak hanya   untuk yang paling penting tetapi kedua yang penting: ” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). Nas  Perjanjian Lama yang Yesus kutip adalah Imamat 19:18. Kandungan bab itu   secara khusus ditujukan pada sebuah susunan perintah-perintah yang  mengusung hubungan-hubungan sosial; menghormati  kedua orang tua, meninggalkan   bagian yang memadai pada ladang seseorang  yang sedang dipanen sehingga orang miskin dapat  mengambil keuntungan dari bagian yang disisakan, tidak mencuri atau berdusta atau  merusak keadilan, tidak mengambil untung dari orang cacat, dan banyak hal lainnya lagi yang sama. Semua  hal ini  dimasukan dibawah perintah  jadilah kudus sebagaimana Tuhan kudus,  untuk menghindari pemujaan berhala (Imamat 19:1-2,4). Ayat krusialnya, 19:18, dibaca,  Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”




Ini dapat mengklarifikasi sejumlah isu dengan mengajukan lima   ulasan.


Pertama, anak kalimat menyimpulkan, “Akulah TUHAN,”  mengingatkan kita bahwa dalam Kitab suci, komitmen horisontal untuk mengasihi sesama manusia didasarkan pada realitas vertikal: Tuhan ada, kita berhutang loyalitas kepadanya, dia mengatakan kepada kita perilaku apa yang dia harapkan, dan  adalah tidak mungkin untuk setia kepada Tuhan dan  mengakui dia sebagai Tuhan sementara itu kita memelihara kebencian terhadap sesama manusia. “Kasihilah sesamamu manusia,” Tuhan berkata; “Akulah TUHAN.”



Kedua,  kasih yang hendak  diperlihatkan bukan semata soal performa atau ketidakegoisan atau mengutamakan kepentingan orang lain yang dikehendaki, karena kasih disini lebih daripada  sikap. Kita tidak  berupaya untuk melakukan balas dendam atau membawa  sebuah dendam melawan setiap komunitas kovenan; sebaliknya, kita harus mengasihi sesama manusia[21].



Ketiga, saya harus menyebutkan sebuah detail kecil yang akan saya kembangkan hanya dalam kuliah akhir. Budaya kontemporer sedemikian hebatnya menekankan  pentingnya  harga diri, mengasihi diri sendiri, sehingga frasa kecil yang berbunyi “seperti dirimu sendiri” (“kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”) kerap dipahami sebagai sebuah perintah untuk  mengasihi diri sendiri, atau paling tidak sebuah persetujuan implisit mengasihi diri sendiri. Walaupun ide ini sangat populer dewasa ini,  gagasan ini paling jauh terlacak  ke  Agustinus[22]. Isu mengasihi diri sendiri dan tempatnya dalam pola Kristen pada hal-hal  yang agak pelik, namun untuk saat ini adalah memadai untuk menunjukan bahwa dalam nas ini, mengasihi diri sendiri bukan   yang diperintahkan atau  dipuji tetapi hal yang dimunculkan untuk  menimbulkan asumsi   atau pengandaian sebuah kondisi spesifik.
Keempat, dalam pernyataan ini Yesus tidak  memberikan spesifikasi bagaimana dua  perintah kasih ini, perintah untuk mengasihi Tuhan dan perintah untuk mengasihi sesama manusia, bertemalian satu sama lain. Ada banyak pandangan. Beberapa berpandangan bahwa kita mengimitasi apa yang kita kasihi. Sehingga mengasihi Tuhan  harus bertindak seperti dia, dan  karena kita mengasihi sesama manusia, kita akan mengasihi mereka,juga. Pandangan pandangan lain menganut bahwa mengasihi sesama  manusia adalah satu-satunya bukti yang kasat mata  bahwa kasih Tuhan  itu  sejati, karena Tuhan tidak dapat dilihat dan sesama manusia dapat dilihat. Masih ada  pihak lain yang berpandangan bahwa karena manusia diciptakan dalam citra Allah, mengasihi Tuhan adalah  perlu untuk mengasihi mereka yang diciptakan dalam citra-Nya. Semua gagasan ini, dan yang lain-lainnya,mendapatkan sejumlah jaminan dalam nas-nas biblikal lainnya.  Akan tetapi, dalam teks yang  ada dihadapan kita, Yesus tidak  menarik sebuah hubungan yang spesifik.




Kelima, banyak nas yang mengulangi perintah kedua ini atau sesuatu yang sangat menyerupainya. “Lakukan segala sesuatu didalam kasih, “ tulis Paulus ( 1 Korintus 16:14); atau kembali  muncul, “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Galatia 5:14).” dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita” (Efesus 5:2). “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik” (Yakobus 2:8). Lebih jauh lagi, orang  harus mempertimbangkan sebuah fokus yang agak sempit yaitu hal yang sangat umum dalam Perjanjian Baru—banyak ayat dimana orang-orang Kristen diperintahkan untuk mengasihi satu sama lain. Tetapi saya akan  kembali mengulas hal-hal ini dalam perkuliahan  berikutnya.



Ada satu fitur atau hal khusus lagi dalam teks kita yang  meminta ulasan sebelum saya mengakhiri sejumlah observasi teologis dan praktis. Fitur ini adalah  respon teman bicara (penanggap)  Yesus  dan kemudian jawaban  Yesus lebih lanjut.  Dia memberikan  tanggapan  secara bijak  dan menegaskan dukungannya pada jawaban  Yesus,(Markus 12:32-33), segera Yesus berkata kepada dia, “ Engkau tidak  jauh dari kerajaan Allah” (Mark 12:34). Apapun juga  maknanya, Yesus secara pasti mengatakan bahwa dia tidak dapat membayangkan penerimaan kedalam  Kerajaan tanpa membawa masuk serta perintah ganda  mengasihi ini. Teks ini tidak mengatakan  kepada kita bahwa kita  mendapatkan penerimaan ke dalam kerajaan Allah oleh karena kasih kita. Inilah secara tepat menjelaskan  mengapa Yesus dapat membuat  karakteristik  kasih menandai mereka yang ada didalam kerajaan, mereka  yang adalah murid-muridnya: “Kasihilah satu sama lain,” dia berkata. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:34-35). Tidak terlalu mengherankan, kemudian, bahwa dalam  surat pertamanya, Yohanes dapat membuat  kasih sebagai kriteria penting  bagi Kekristenan yang  otentik (misal: 1 Yohanes 2:3-6; 3:10b-18; 4:7-21).




Kita dapat membuat penyelidikan lebih lanjut. Dalam  catatan singkatnya mengenai pengajaran Yesus tentang perintah  ganda untuk mengasihi, Matius tidak  memberitahukan kepada kita jawaban penanggap Yesus yang  disampaikan secara bijak atau penjelasan  Yesus. Sebaliknya, setelah mengartikulasikan dua perintah tersebut, Yesus hanya berkata, “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Matius 22:40). Dan mungkin ada  hubungan yang bersifat teologis antara pernyatan ini dan apa yang   Yesus katakan kepada penanggapnya dalam catatan Markus.




Saya akan mulai dari sisi Matius. Apakah   makna “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”? Ekspresi  hukum Taurat dan kitab para nabi” bermakna “Kitab suci,” apa yang  pada hari ini kita sebut Kanon Ibrani atau Perjanjian Lama. Tetapi apakah  maknanya  untuk mengatakan bahwa semua  Kitab suci “bergantung dua perintah ini”? Jika ini  satu-satunya pernyataan dalam Injil Matius, penilaian-penilaian kita tentang apakah maknanya akan menjadi sangat subyektif, karena imajinasi apapun dapat membayangkan sejumlah interpretasi yang  satu sama lain bersifat eksklusif.



Akan tetapi, faktanya, Matius sangat tertarik pada hubungan-hubungan antara “Hukum dan Kitab Nabi-Nabi,” pada satu sisi, dan pada pengajaran Yesus, pada sisi lainnya. Seperti yang telah dituliskan dalam Matius 5:17-20, Yesus telah mengatakan bahwa dia tidak datang untuk melenyapkan Hukum dan kitab Nabi-Nabi, tetapi untuk “menggenapi” semua itu. Saya  telah memaparkan argumentasi yang panjang di tempat lain[23]  bahwa ini tidak bermakna bahwa Yesus datang untuk “mempertahankan” Perjanjian Lama  atau untuk menguatkan Perjanjian Lama atau untuk mematuhi Perjanjian Lama, tetapi secara sangat literal untuk menggenapinya. Dalam penggunaan Matius terhadap kata kerja “menggenapi,” dia selalu menyimpan dalam benaknya bahwa sejarah penbusan  sedang bergerak maju, dan pewahyuan Perjanjian Lama  bergerak maju,  menantikan, memprediksi ( jika kamu suka) apa yang harus terjadi—dan apa yang akan datang tidak ada yang lain selain daripada  Yesus dan apa yang dia ajarkan dan lakukan. Sehingga Yesus dan kabar baik (Injil) yang dia sampaikan menggenapi pewahyuan yang lebih tua.



Sebuah poin serupa berulang  pada akhir  Khotbah Bukit: Untuk “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12). Beberapa bab kemudian kita kembali diingatkan  akan perkembangan keselamatan –historis ini ketika kita diberitahukan bahwa “ hukum Taurat dan kitab para nabi” telah dinubuatkan sampai dengan Yohanes Pembaptis; dari  sini menunjukan, yang mana ayat-ayat ini telah  menunjuk—terbitnya kerajaan—inilah apa yang dikhotbahkan.




Hal serupa, Paulus bersikukuh bahwa apa yang telah digenapi dalam satu firman, yaitu Imamat 19:18, perintah yang berbunyi kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, adalah keseluruhan  tabel kedua Dekalog ( 10 Perintah Tuhan): kasih adalah penggenapan hukum tersebut (Roma 13:8-10). Meskipun ada argumen  yang berlawanan, perintah ganda untuk mengasihi bukan semacam prinsip mendalam yang darinya semua perintah-perintah lain dari Kitab suci dapat disimpulkan-dideduksikan; juga bukan sebuah  pola  hermeneutika berjaring untuk meyingkirkan Hukum dari Perjanjian Lama yang tidak lagi harus kita patuhi, meskipun  masih memberkati mereka yang masih melaksanakannya; tidak juga  hal ini ditawarkan sebagai semacam pengganti yang bersifat  mereduksi  semua hukum Perjanjian Lama. Dalam derajat tertentu, hukum  kembar Kasih, kasih bagi Tuhan dan kasih bagi sesama manusia, mengintegrasikan semua hukum-hukum lainnya. Hukum kembar  kasih menegakan motif-motif yang tepat bagi semua perintah lainnya, yakni  mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama  manusia.




Tetapi bahasa “penggenapan”  mencuatkan sesuatu yang lebih lagi. Semua hukum  dalam Perjanjian Lama, tentu saja semua   firman perjanjian lama, bertindak bersamaan untuk menantikan sesuatu yang lebih lagi, menunjuk pada sesuatu yang melampaui firman-firman perjanjian lama itu sendiri. Semuanya menunjuk pada kedatangan kerajaan, injil kerajaan; semua menunjuk pada sebuah waktu ketika hidup  secara tepat  dijalankan dalam  alam semesta Tuhan, dapat disimpulkan dengan kepatuhan  pada perintah untuk mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan dan dengan  perintah untuk mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.



Add caption

Hampir semua orang Kristen telah mengetahui  akan elemen profetik  atau prediksi pada setidaknya sejumlah Hukum-hukum: kita harus  berpikir tentang Yesus sebagai bait terahir, domba paskah terahir, imam besar  terahir, dan korban terahir pada  Hari Penebusan, dan seterusnya. Kita mengikuti argumen -argumen para penulis Perjanjian Baru menyebabkan pelukisan Perjanjian Lama atas ritus-ritus dan pelembagaan-pelembagaan, walaupun integral terhadap Perjanjian Lama dan secara benar dijalankan oleh mereka yang  ada dibawah kovenan ini, secara simultan  menunjuk pada hal akan datang, yang dinantikan, dan jadinya telah diprediksikan, sebuah realitas yang lebih besar daripada ritus-ritus dan pelembagaan-pelembagaan tersebut—sebuah realita diri  Yesus sendiri yang  sudah menggenapi. Argumen  yang dipaparkan disini  adalah sesuatu yang agak sama,  secara umum, dari semua    hukum Taurat dan kitab para nabi. Sebagai contoh, didalam kerajaan yang sempurna kita tidak akan lagi memerlukan sebuah perintah untuk melarang membunuh. Ini bukan karena membunuh akan ditoleransi/diberi ruang, tetapi karena membunuh akan menjadi yang tak terpikirkan ( terlepas dari  tantangan membunuh seseorang dengan tubuh kebangkitan!); benci  menjadi hal yang tak terpikirkan; sebaliknya, kita akan mengasihi satu sama lain. Jadi ini bukan seolah-olah kerajan yang sempurna itu menghapus perintah untuk membunuh ; malahan, kerajaan yang sempurna itu menggenapinya. Kerajaan  itu meneruskan  panduan benar  yang didalamnya mengandung  poin-poin larangan membunuh.



-
Krisis Politik Mesir yang berkepanjangan kini  meradang,
gambar ini menujukan insiden 2011:

A masked protester throws a gas canister towards Egyptian riot police, not seen,
near the interior ministry during clashes in downtown Cairo, Egypt, on November 20, 2011.
Firing tear gas and rubber bullets, Egyptian riot police on Sunday
clashed for a second day with thousands of rock-throwing protesters
demanding that the ruling military quickly announce a date to hand over
power to an elected government.
(AP Photo/Tara Todras-Whitehill)- The Atlantic


Lebih  jauh lagi, walaupun kerajaan yang sempurna itu belum datang, namun ada sebuah pengertian dimana kerajaan tersebut telah dilantik/diresmikan; kerajaan itu telah dimulai; kerajaan itu sebagian telah diwujudkan. Hal ini meninggalkan pada kita sejumlah ketegangan-ketegangan mengerikan, tentunya. Kerajaan telah datang, tetapi masih sedang datang; kita telah diubahkan  oleh kelahiran baru, tetapi kita belum memiliki tubuh-tubuh kebangkitan; kita telah diregenerasi,  tetapi kita belum mengalami bahwa transformasi sempurna yang bermakna bahwa kita tidak lagi melakukan dosa; kita mendengarkan pemerintahan  /berkuasanya kerajaan  Tuhan, tetapi kita mengakui bahwa ini masihlah sebuah dunia yang  bengis dan hancur dimana konflik antara   baik dan jahat  masih berlangsung terus. Inilah yang merupakan    hal yang   teramat  eskatologi   Perjanjian Baru, etika-etika Perjanjian Baru.




Jika apa yang telah saya katakan  tentang kata-kata Yesus dalam Injil Matius adalah benar,  akan tetapi, kita secara  tiba-tiba mendapatkan diri kita dekat dengan apa yang Yesus  katakan  dalam Markus.  Pada sisi Matius, “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."” (Matius 22:40), karena  perintah-perintah ini memunculkan panduan atau petunjuk   yang ditunjukan hukum  Taurat dan kitab nabi-nabi, yaitu  kedatangan kabar baik  tentang kerajaan. Pada sisi Markus, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" (Markus 12:34)—untuk memahami dan mematuhi dua perintah ini akan sangat terkait dengan apakah makna menjadi berada didalam kerajaan Tuhan.





 
C.  BEBERAPA  REFLEKSI TEOLOGIS DAN PRAKTIS



Berangkali poin-poin berikut ini akan  menarik sejumlah material  dalam perkuliahan ini secara bersamaan.



Pertama, kita tidak  dapat  gagal untuk memperhatikan  bahwa kedua perintah-perintah ini adalah perintah-perintah. Terkadang  ada keberatan bahwa kasih tidak dapat diperintahkan : orang jatuh cinta, atau orang  memiliki gelora cinta, atau cinta/kasih menjadi dingin, tetapi perasaan sayang, dikatakan, tidak dapat diperintahkan. Memang benar, itulah  persisnya mengapa beberapa orang telah mempertahankan pandangan keliru bahwa kasih “agapic”, kasih Kristen, adalah komitmen yang   berasal dari kehendak untuk kebaikan orang lain, mengabaikan  emosi-emosi yang  dapat dirasakan orang. Kehendak atau kemauan dapat diperintahkan, demikian argumennya; perasaan kasih sayang tidak dapat. Hal ini memberikanku  cakupan untuk menghendaki hal    yang baik dari  seorang bajingan yang saya benci secara emosi—ini sebuah elakan yang manis. Kasihilah sesamamu dan bencilah hal emosionalnya. Tetapi kita telah melihat bahwa sebuah pandangan “agapic” semacam ini  telah digugurkan oleh pembukaan ayat-ayat dari 1 Korintus 13, dimana Paulus memperingatkan  pada jenis kedermawanan yang sungguh-sungguh bahkan  pada derajat seseorang mengorbankan diri sendiri  dimana ia  memberikan semua harta benda   dan  bersedia untuk dibakar di tiang tetapi tetap tidak memiliki kasih.  Bukan seperti ini, pandangan sempit semacam ini mengenai  kasih tidak boleh dibiarkan  menyebar atau meluas. Kita tidak bisa  melepaskan diri dari kesulitan ini secara gampangan. Kitab suci memerintahkan  kita pada setiap  aspek keberadaan kita untuk melakukan, untuk menginginkan, untuk mempercayai, untuk mengasihi.



Kegagalan kita untuk merespon seutuhnya terhadap  perintah-perintah pertama dan kedua—merupakan, fakta bahwa kita tidak dapat mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan dan mengasihi sesama  manusia seperti diri kita sendiri—ini bukan  berfungsi menunjuk pada  dugaan ketidakmampuan mendasar perasaan kasih  sayang untuk  dapat diperintahkan tetapi menunjuk pada  kelemahan moral kita. Kegagalan adalah sebuah fungsi untuk kejatuhan. Persis seperti Paulus dalam  fungsi-fungsi  hukum, pada bagian, untuk mengungkapkan keterhilangan kita, ketidakmampuan moralitas dan  kesalahan  dalam perbuatan, dan   kemudian untuk  menguatkan  pelanggaran-pelanggaran kita,  maka juga disini: dua perintah besar ini mengungkapkan  ketersesatan kita, ketakberdayaan moralitas kita dan kesalahan tindakan-tindakan kita, dan  memperbesar  pelanggaran-pelanggaran kita.  




Kedua, poin pertama menjadi lebih jelas ketika kita mengingat bahwa kegagalan untuk mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan adalah untuk  melengserkan Tuhan dari tahtanya’ itu untuk  menidakkan atau mengingkari Tuhan, untuk menegakan sebuah berhala di tempat Tuhan. Karena  jika kita mengasihi atau mencintai sesuatu yang lain lebih daripada Tuhan,  benda ciptaan  lebih daripada Pencipta, kita telah menyerah pada hal paling inti dari semua pemujaan berhala.


Itu sebabnya segala bentuk pengingkaran, segala bentuk  tidak mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan, disamakan dengan   perzinahan (contoh : Kel 34:11-16; Im 20:4-6; Bil 15:38-40; Hak 2:16-17; Hos 1-3; Yes 1:21; Yer 2-3; Yehezkiel 16,23)[25]: ini adalah  menghianati kasih  dimana kita berhutang pada Tuhan, dengan mengasihi yang lainnya lagi. Dan itu sebabnya nabi Hosea dapat (Tuhan tolong kami!) menggambarkan Tuhan maha kuasa sebagai kekasih yang dikhianati cintanya: umatnya telah  membangkang  terhadap dua perintah ini. Bukanlah hal yang menyamankan untuk merefleksikan  bagaimana kerapnya  hati kita berubah-ubah, hati semua  orang perjanjian baru berasal dari Tuhan, membelakangi Tuhan kembali dan  berulang menjadi   menghianati kasih  yang maha kuasa.





Ketiga
, jika dalam eksposisi terdahulu saya telah  menginterpretasikan  bagaimana  seharusnya apa   makna mengasihi Tuhan dengan hati kita ( dalam pemahaman “hati” yang biblikal) dan pikiran,  kemudian orang-orang Kristen serius harus menangkap kembali kebiasaan-kebiasaan membaca Alkitab yang dilakukan  generasi-generasi terdahulu. Tidak boleh lagi kita bahagia dengan slogan-slogan seperti  “Sebuah ayat sehari menjauhkan iblis” ;  kita mesti tidak terlampau bahagia dengan  makanan spiritual apapun yang kita terima dari pertemuan-pertemuan publik  sementara  itu kita tidak mengubah pikiran-pikiran kita (Roma 12:1) dengan Firman Tuhan. Bahkan didalam gereja, ada sebuah peningkatan   kebutahurufan biblikal. Dampak tekanan-tekanan budaya terhadap kita, tidak sedikit dari media, begitu  hebatnya menghancurkan sehingga hanya sebuah pikiran yang telah memiliki pengertian dalam pemikiran  pikiran-pikiran Tuhan pada dirinya akan dapat bertahan terhadap  serangan-serangan  gencar.



Apa yang dituntut dari setiap  orang percaya yang dapat membaca adalah setia, menghormati, pembacaan yang disiplin dan membaca Firman Tuhan secara berulang, sebuah pembacaan yang dilakukan dalam sebuah  hasrat besar  penuh perhatian. Dan apa  yang disyaratkan oleh  pembacaan semacam ini adalah waktu. Saya  tidak sedang memaparkan sebuah legalisme baru. Saya sedih mengetahui bahwa   adalah mungkin membaca Alkitab merupakan sebuah hal yang teramat dan semata menjadi kebenaran diri sendiri atau  berkubang dalam  ketakpercayaan; tetapi saya meragukan bahwa adalah mungkin untuk mematuhi perintah pertama tanpa  membaca Alkitab sebagai hal yang besar.
Credit :http://adamlickey.com



Generasi-generasi terdahulu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jemaat yang buta huruf dengan liturgi yang diisi dengan banyak  pembacaan Kitab suci, pengajaran-pengajaran terjadwal dan berulang, perayaan-perayaan yang dirancang untuk mengulangi kisah-kisah besar  yang berdiri pada titik-titik balik  sejarah  penebusan. Hari-hari ini hampir semua gereja-gereja evangelical telah menanggalkan semua perangkat-perangkat ini yang membantu membentuk   generasi-generasi sebelumnya yakni orang-orang yang memikirkan/merenungkan pikiran-pikiran Tuhan.



Hari ini bahkan perayaan-perayaan yang masih kita lakukan, yang disponsori gereja kita: Natal dan Paskah, kerap lebih berhubungan dengan makan-makan atau  berperilaku manis di sekolah daripada mereka melakukan  sesuatu dengan  sejarah biblikal. Kor-kor yang membantu kita merayakan tidaklah sebagaimana mestinya mengajarkan kita bagaimana  untuk merenungkan pikiran-pikiran Tuhan. Sehingga dengan lenyapnya pembacaan Alkitab, apa  yang mengajarkan kita bagaimana   merenungkan pikiran-pikiran Tuhan  sebagaimana dia? Bagaimana di dunia kita  dapat mengasihi dia dengan  hati dan pikiran  jika kita tidak semakin mengenal dia, mengetahui apa yang dia sukai dan apa yang dia muak,mengenal apa yang telah dia singkapkan, mengetahui  apa-apa yang dia perintahkan dan apa-apa yang dia larang?


Lebih lanjut, jika mengasihi Tuhan dengan hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan memerlukan waktu dan upaya, demikian jugalah dengan mengasihi sesamamu manusia. Beberapa teman menyatakan secara  lembut  memesona bahwa mereka mengasihi seluruh dunia bahkan  meskipun mereka tidak mengorbankan waktu untuk orang lain  manapun  selain daripada seperangkat teman-teman mereka sendiri. Penganut pagan  manapun dapat melakukan hal itu. Bukanlah suatu hal yang  baru terkait  tekanan waktu. Disini Luther berkata:




Saya  hampir dapat mengatakan bahwa saya memerlukan dua sekretaris; Saya hampir-hampir sulit melakukan hal lainnya sepanjang hari selain menulis surat-surat. Saya  adalah pengkhotbah biara; Saya telah mempercayakan orang lain untuk membaca di meja; Saya diharapkan untuk berkhotbah setiap hari dalam  gereja paroki; Saya adalah kepala sekolah biara; Saya adalah wakil Ordo biara yang berarti  sebelas kali sebelumnya berkhotbah[ karena ada sebelas  biara di distrik]; Saya adalah pegawai yang bertanggungjawab atas kolam ikan ;Saya bertindak sebagai  pengganti; Saya  memberi kuliah tentang Paulus dan mempelajari Mazmur-Mazmur; dan kemudian semua ini   surat-menyurat  ini memakan   bagian waktuku   yang terbesar; Saya hampir-hampir saja tidak memiliki waktu tersisa untuk doa-doa pribadiku, belum lagi godaan-godaan khusus dari daging, dunia, dan si iblis. Semuanya ini memperlihatkan  betapa aku ini adalah seorang pemalas.[26]



Masih demikan banyak lagi yang dapat dikatakan mengenai perintah-perintah pertama dan kedua. Saya  belum lagi menggores permukaannya. Setelah itu, akan ada refleksi perenungan dan panjang pada sebuah bagian nas-nas terkait,  ini adalah  respon terhadap kasih Tuhan ( Kolose 3:12-15; 1 Petrus 1:8; 1 Yohanes 4:11). Walaupun kasih  Kristen tanpa kecuali merupakan kewajiban  orang-orang Kristen, itu merupakan buah Roh (Galatia 5:13). Ini dicirikan dengan kerendahan hati dan kelembutan ( Efesus 4:1-2); dalam  meyerupai sang Guru, itu menjauhkan dari pembalasan ( 1 Pet 3:8-9). Tak terelakan  penguasaan diri menjadi  semboyan ( Roma 14;13-15) sebagai orang Kristen belajar untuk mengasihi dengan hati dan sikap tidak kurang dengan tindakan ( 1 Kor 13).



Credit: animationresources,org

Tetapi “ Kasih di  tempat-tempat yang keras- Love in Hard Places” adalah tema kita. Apakah tempat keras ini? Apakah ini tempat yang paling keras dari semuanya, tempat asal muasal kasih—hati dan kehidupan kita. Ada sebuah  filem kartun lucu mengenai  seorang pengkhotbah yang sedang berdoa. Pada panel pertama, kita mendapati dia sedang berlutut,  berucap dihadapan Tuhan,”O Tuhan,  pukulilah musuh-musuhku karena kejahatan dan perilaku mereka.” Pada panel  kedua, dia bahkan menjadi jauh lebih berapi-api:”Timpakanlah  penghakiman yang ganas atas mereka, upah yang adil atas  hati mereka yang jahat.” Pada panel ketiga, dia menjadi lebih personal; “Semoga kawanan-kawanan  burung nasar menyergap kepala musuhku yang paling sengit  . Pada panel terakhir, kawanan-kawanan  burung nasar  mengerumuni seluruh dirinya, dan si pengkhotbah  berhenti berdoa,” Ugh, mari saya ulangi lagi bagian itu.” Dalam kata-kata Pogo (tokoh utama kartun) yang tidak ada matinya si pengkhotbah berkata,” Kami telah bertemu dengan musuh tersebut, dan dia ada didalam diri kita.”


Tidak ada selain injil yang akan melunakan tempat yang  keras ini; tak seorangpun, hanya Roh yang dapat meregenerasi  hati  manusia. Dan  kerja  pelunakan ini tidak akan selesai sampai  semuanya dilunakan.




Bab 1 Selesai




Bersambung ke – Bagian  4,/blink>  “Love in Hard Places’ Bab 2 “Love Anda Enemies, Big And Small | diterjemahkan dan diedit oleh Martin Simamora



Catatan Kaki:



[21]The statement of Davies and Allison, Matthew, 3.241, is doubly mistaken: “Love of God, like love of neighbour, is not firstly an attitude or affection but—as the example of Jesus shows—a way of life,the sweat of labour for Another.” Certainly love of God, like love of neighbour, is “a way of life,” but the negation (“not firstly an attitude or affection”) makes little sense and merely preserves an erroneoustradition; worse, the “example of Jesus” shows us nothing of the kind.

[22]City of God, 19.14. He goes so far as to put love of self alongside love of God and love of neighbor.

[23]D. A. Carson, Matthew, EBC 8 (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 140-147.

[24]I use “commands” and “commandments” indistinguishably.

[25]See especially Raymond C. Ortlund, Jr., Whoredom: God’s Unfaithful Wife in Biblical Theology, NSBT
 (Leicester: InterVarsity Press, 1996).

[26]From a letter by Martin Luther to his personal friend Lang, 1516.


P O P U L A R - "Last 7 days"