0 Keadilan Allah (6- Selesai)

Oleh: Arthur W. Pink


KEADILAN ALLAH (6)



--Bacalah lebih dulu bagian 5
Ketiga, keadilan Allah dimanifestasikan dalam PENEBUSAN

Kita telah melihat bahwa keadilan Allah dalam  pemerintahan-Nya dalam dunia ini dimanifestasikan dalam nurani-nurani  manusia dan dalam alokasi-alokasi  Providence(pelaksanaan rencana Allah). Mari kita melihat bagaimana ini dinyatakan dalam  karya penebusan. Disini adalah dikehendaki  Yang Maha Tinggi untuk  memberikan sebuah tanda  demonstrasi kebenaran-Nya berdasarkan pada ketentuan-ketentuan Hukum yang telah Dia  kerangkakan. Tidak dimanapun juga prinsip-prinsip pemerintahan Ilahi diperlihatkan sedemikian gamblang seperti di sini—namun tidak dimanapun juga, kita dapat tambahkan, sedemikian krusial/pentingnya bagi kita untuk selengkapnya tunduk pada kitab suci jika pikiran-pikiran kita padanya untuk  menghormati Tuhan Allah.



Jika pekerjaan-pekerjaan penciptaan mengandung misteri-misteri yang melampaui kekuatan-kekuatan kita untuk memecahkannya, dan jika alokasi-alokasi  Providence kerap sangat  membingungkan, maka terlebih lagi kemegahan  pekerjaan penebusan—karya agung Allah—pasti dipenuhi dengan  takjub hormat pada  mereka yang  berupaya untuk merenungkan metoda dan makna penebusan. Hanya ketika kita menginterpretasikan dengan terang  tulisan kudus Kitab suci,  anomali atau ketaklaziman menakjubkan  penderitaan  Adil bagi yang tidak adil akan dijauhkan dari kesalahan-kesalahan yang paling menakutkan.



Dalam hubungan dengan karya penebusan, kita diperhadapkan dengan  sebuah penyajian impresif yang menakjubkan dari  sebuah Pribadi yang bahkan musuh-musuh terburukYna telah mengakui dibebaskan dari noda terkecil  ketidakmurnian. Dan yang   memiliki perilaku moral, Surga sendiri telah menyaksikan sebuah persetujuan yang tidak pantas, menghabiskan hari-hari-Nya dalam  penderitaan sedemikian dan mengakhiri karir-Nya dalam penderitaan berat semacam itu dimana Dia telah didenominasikansebagai “MANUSIA MALANG.”


Jika salah mendahului  penderitaan dan merupakan penyebab penderitaan, kemudian memandang Dia yang Kudus mengalami  kutuk Hukum  yang tak pernah susut kekuatannya, menghadirkan sebuah problem dimana  hikmat manusia jelas-jelas tidak mampu memecahkan.

Ya memang benar  tepat pada titik ini, bahwa   hujatan-hujatan orang kafir meraung-raung dengan nyaringnya. Tetapi inilah secara persis apa yang Kitab suci hendak giringkan pada kita, karena kitab suci secara  apa adanya  mengatakan pada kita bahwa memberitakan Kristus yang telah disalibkan adalahbagi orang-orang Yahudi adalah  sebuah batu sandungan dan bagi orang-orang Yunani  kebodohan.” Namun  nas yang sama ini segera menambahkan, “ Tetapi bagi mereka yang dipanggil, baik orang-orang Yahudi dan Yunai, Kristus adalah kuasa Allah dan hikmat Allah” ( 1 Korintus 1:23,24).


  • Terang pewahyuan Tuhan menyingkirkan apa yang merupakan sebuah batu sandungan bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Sejauh yang diutarakan Kitab suci,ekspresi kitab suci paling kecil-tidak dapat berbuat apapun atas hal ini  untuk  penunjukan Bapa atas Kristus untuk mati, adalah  menyatakan bahwa orang-orang percaya, “dibenarkan secara cuma-cuma oleh anugerahnya melalui penebusan yang datang oleh Kristus Yesus.



  • Allah telah menghadirkan dia sebagai sebuah korban penebusan, melalui iman dalam darahnya.


  • Dia telah melakukan hal ini untuk mendemonstrasikan keadilan-Nya, karena didalam kesabarannya dia telah membiarkan   dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya tanpa  dihukum—dia telah melakukan hal itu untuk mendemonstrasikan keadilan-Nya pada  masa kini, sehingga  menjadi  adil  dan dia yang  membenarkan mereka yang  memiliki iman dalam Yesus” ( Roma 3:24-26).


  • Tuhan Yesus Kristus sebagai sebuah korban bagi dosa, telah memperlihatkan hingga pada kesudahannya—mendemonstrasikan keadilan Allah dalam transaksi teragung  sepanjang masa, sehingga sekarang Dia  membebaskan pelanggar-pelanggar paling bersalah  yang percaya pada Juru selamat—tanpa menyalahi hak-hak pemerintahan-Nya; ya, memanifestasikan keadilan-Nya yang sangat dalam  cara yang demikian!


  • Walau Yesus Kristus tidak bersalah melanggar Hukum  Allah sedikitpun, ya, walaupun melaksanakannya secara sempurna dan ketaatan yang  terus-menerus—masih juga  Yesus Kristus telah menderita secara vikaris sebagai Pengganti umat-Nya. Atau tidak juga pengorbanan  menakutkan  ini telah dipaksakan Dia melawan kehendak-Nya sendiri:  malahan Dia telah  secara bebas mengambil  jabatan Penjamin/Penanggung dan secara sukarela melaksanakan tugas-tugasnya. Ini harus selalu dicamkan dalam benak—bahwa Dia yang  telah menghadirkan diri-Nya sendiri  sebagai Sponsor orang-orang pilihan Allah,  telah memiliki hak-hak dan  pererogatif-prerogatif yang bukan  merupakan milik mahluk-mahluk biasa. Dia adalah penguasa sepenuhnya atas kehidupan-Nya sendiri.


Dia secara sukarela telah mengambil natur kita dan menyelenggarakan hidup-Nya  untuk  maksud menyerahkannya sebagai sebuah tebusan bagi kita.


Dia sendiri secara gamblang telah membuat ini  tanpa kesalahan  ketika Dia  telah mendeklarasikan, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku" (Yohanes 10:17,18).



Jika Dia yang tidak bersalah secara sukarela telah menerima upah-upah dosa, maka kebencian Allah atas dosa  secara tanpa salah telah dimanifestasikan, otoritas pemerintahan-Nya terjaga, dan  syarat-syarat keadilan-Nya telah  dipenuhi sepenuhnya.



Semenjak  saat-saat paling awal  tampilan keadilan yang absurd--   seorang korban  tak bersalah menjadi dibantai  pada posisi orang  yang bersalah—mempertahankan sebuah tempat utama dalam  penunjukan-penunjukan  Ilahi bagi umat-Nya.



Pelembagaan Ilahi korban-korban pendamaian dan  penggunaanya yang berlimpah dalam  penyelenggaraan pemerintahan Allah telah dikerangkakan,  secara khidmat telah  tidak  diberlakukan oleh undang-undang pelanggaran Hukum, “Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa” (Imamat 17:10,11).




Dengan  pengaplikasian yang sedemikian kerap, dengan  kegunaan yang sedemikian bervariasi, dan dengan  sedemikian tinggi pentingnya, demikian darah-darah korban  persembahan pendamaian—dimana Roh Kudus  telah menggerakkan seorang rasul untuk berkata:



Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22). Betapa ini  adalah deklarasi-deklarasi yang  istimewa dan empatik!



  • Sebab tidak ada pendamaian tanpa darah kecuali yang telah ditumpahkan dalam persembahan kepada Allah, yang mengakibatkan kematian pada korban, dan  yang mana kematian dari seorang korban yang  vikaris/ menggantikanAllah  menjaga/mempertahankan secara konstan dihadapan umat-Nya yang ada dibawah sistem ibadah khusus, fakta bahwa pengampunan tidak akan diberikan kepada para pelanggar-pelanggar,  maupun yang telah menikmati persekutuan dengan Dia—kecuali dalam  hubungan yang ketat dengan sebuah   pengunjukan  keadilan hukuman. 

  • Tetapi walaupun korban-korban  pendamaian sedemikian banyaknya  memberikan kesaksian pada kekudusan TUHAN, sedemikian banyak bukti-bukti kebenaran-Nya—namun dalam naturnya, aplikasi dan  kemujaraban—korban-korban ini tidak  menjangkau hingga membebani nurani, tetapi sebatas untuk menyingkirkan  pencemaran seremonial; dan  semata sebuah  type prafigurasi tugas keimamatan Mesias. Korban-korban pendamaian jauh dari secara penuh  memperlihatkan  kesempurnaan-kesempurnaan pemerintahan Allah, dan korban-korban tersebut semata bayang-bayang dan prawujud dari  yang harus dimanifestasikan ketika  “kepenuhan waktu  harus datang.”



  • Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibrani 10:4-10).



Disini adalah  transisi megah dari bayang-bayang menuju Substansi. Korban-korban khusus tidak memadai untuk memperlihatkan kebenaran Allah, dan  oleh karena itu semua korban itu, kedudukannya telah diambil alih  Korban sepenuhnya mencukupi. Tidak ada selain Anak Allah sendiri,  telah mengambil baginya kemanusiaan kita ( dikandung secara sempurna) dan telah datang kedalam dunia untuk mengerjakannya dalam realita, apa yang  telah dilakukan sebelumnya merupakan prafigurasi Dia.



Dalam nas diatas, Penebus kita yang terberkati berdiri sebagai seorang  korban sukarela, sepenuhnya pantas/layak untuk  membuat pendamaian dosa yang penuh. Percaya diri akan  kualifikasi-kualifikasi sempurna  pada dirinya sendiri untuk  melakukan   pekerjaan yang sulit, secara absolut  berkehendak untuk menjalani semua kepahitan penderitaan-penderitaan yang  terdapat  pada pelaksanaannya—dia telah menyatakan  kesiapan-Nya untuk melaksanakan usaha terbesar  yang pernah ada.  Tetapi mari kita secara seksama memperhatikan, sekali lagi, bagaimana  setiap hal diselesaikan pada KEHENDAK  Ilahi. “sesuai dengan “ maksud abadi”, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Efesus 3:11), yang telah diungkapkan dalam dalam kaitan dengan Kovenan Abadi, dimana telah secara bebas diterima oleh Mediator itu sendiri, dan yang  telah diberitahukan dalam kitab suci Kebenaran. Bahwa “kehendak” telah terlibat dalam  mengagungkan Hukum Allah dan  memperlakukannya terhormat (Yesaya 42:21). Ini telah melibatkan Anak   yang menjadi  Perwakilan Federal umat-Nya, masuknya Dia kedalam jabatan Penjamin/Penanggung, pelayanan-Nya sebagai  Substitusi,  dan    tindakan pendamaian-Nya bagi dosa-dosa mereka. Dan oleh “kehendak” yang sama itu kita diselamatkan. Betapa jelasnya ini mengonfirmasikan apa yang telah  kita  katakan tadi.



Ini akan membawa kita melebar jauh sekarang untuk masuk kedalam sebuah diskusi natur, disain, dan efek-efek Penebusan, sebaliknya kita harus  membatasi diri kita sendiri pada hubungan yang mana  Pemenuhan  Kristus  telah membawa pada demonstrasi kesempurnaan-kesempurnaan pemerintahan dibawah penyelenggaraan yang telah Dia lembagakan. Fitur mendasar penyelenggaraan tersebut adalah bahwa Tuhan Allah telah menempatkan mahluk-mahluk rasional-Nya dibawah  Hukum, dan  bahwa Dia  menjalankan hukum ini dengan imparsialitas (ketakberpihakan/keadilan) yang ketat, memberlakukan sanksi-sanksinya tanpa mempedulikan siapa orang-orangnya.


Bukti klimaks akan hal ini, muncul dalam rencana Allah yang dibentuk untuk keselamatan  orang-orang pilihan-Nya. Dia tidak secara berdaulat mengampuni kesalahan-kesalahan mereka tanpa pemuasan/pelunasan apapun yang diterapkan pada Hukum-Nya yang telah dilanggar—tetapi telah menunjuk Anak-Nya sendiri untuk masuk pada posisi dan tempat mereka—dan telah dibuat menjadi sebuah kutuk  bagi mereka,  mengalami dalam Pribadinya sendiri penghukuman yang tidak disurutkan dari Hukum itu, sehingga  mereka dapat dibebaskan  secara benar.  Hal ini saja yang menjelaskan penderitaan Juru selamat  yang tak tersandingkan.


Apa  yang baru saja ditunjukan, itu sendiri  melaporkan kesengsaraan Penebus kita sebelum  menuju Salib. Sebelum tangan manusia manapun menyentuh Dia, sebelum  musuh manusia manapun mendekati Dia.



Dia telah berteriak, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya!” (Matius 26:38). Lihatlah Dia   rebah (dalam keadaan  tiarap) di Taman: Dia telah berada dalam  kesengsaraan tekanan mental: Dia  mengeluarkan  tetes-tetes keringat besar darah:  berkutat dengan “tangisan keras dan air mata.” Amatilah Dia pada Kayu pohon  salib yang kasar.

Matius 26:38
Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya!

Dengan kemurahan hati dan keluhuran budi yang tak terukurkan Dia telah  melakukan mediasi bagi para penyalib-penyalibnya. Dengan kemegahan yang mulia dan kemurahan yang tak tertandingi Dia telah  mengalokasikan sebuah tempat di Surga bagi salah satu penjahat yang sekarang di sebelah-Nya.(lihat Lukas 23:48)




Tetapi sebelum Dia menyerahkan nyawa-Nya Dia telah berteriak, “ Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau telah meninggalkan-Ku!Hanya ada satu penyebab yang memadai bagi penderitaan  tak terkatakan semacam ini, yaitu, Karakter Vikaris-Nya, penanggungan-Nya atas dosa yang diperhitungkan/dibebabkan  pada-Nya (karena Dia tidak  memiliki dosanya sendiri),  penjalanan-Nya atas kutuk Hukum di tempat mereka yang  sepatutnya dikutuk oleh Hukum.


Kitab suci berkata secara terus terang pada subyek penting ini bahwa tidak ada  dalih untuk kesalahpahaman akan maknanya. Kristus  telah “ terluka karena pelanggaran-pelanggaran kita, didera karena  kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya” (Yesaya 53:5). Dan mengapa demikian? Karena Allah telah  menjadikan Anak menjadi “berdosa  karena kita, dia yang tidak mengenal dosa” ( 2 Korintus 5;21), KarenaTuhan telah membuat semua kejahatan  kita, ditimpakan pada Dia” (Yesaya 53:6), karenaDiri-Nya sendiri, telah menanggung dosa-dosa kita dalam  tubuhnya sendiri di atas salib” ( 1 Petrus 2:24).


Dan apakah konsekuensinya? TUHAN ini telah berteriak, “Bangunlah, O pedang melawan gembalaku, melawan orang yang dekat denganku!Seru Tuhan Mahakuasa. Serang  gembala itu!” ( Zakaria 13:7).



Dibawah rejim yang Allah telah lembagakan, dosa harus dihukum dimanapun dijumpai—dan tiada pengecualian dibuat bahkan  pada  Domba tak bercela—ketika kejahatan-kejahatan umatnya  telah ditransferkan pada Dia. Oleh sebab itu, kita telah diberitahukan bahwa  penanggung Dosa telah “dipukuli Allah” dan kembali,” Adalah berkenan bagi Tuhan untuk mendera Dia’ ( Yesaya 53:4,10).



Yesaya 53:10 –BIS “TUHAN menghendaki bahwa ia menderita, dan menyerahkan diri sebagai kurban penghapus dosa…”


Kemudian
, itu adalah dalam karya penebusan, dimana kita telah melihat yang paling jernih, paling jujur, dan lagi  penyataan termegah keadilan Allah. Didalamnya kita belajar penilaian-Nya atas dosa, dan kebencian kudus-Nya atas dosa, natur dan kekerasan  hukum-Nya atas dosa.



Tidak hanya karya  penebusan  benar-benar  memperlihatkan kekayaan kemurahan Tuhan yang berlimpah dalam mengampuni para penjahat yang  memang secara pantas/patut dihukum—tetapi itu memanifestasikan  karakter keadilan Tuhan yang secara menakjubkan menginspirasi dan tidak dapat dihentikan atau diubahdalam penghukuman dosa yang  luar biasa dahsyat yang ditimpakan pada Domba Kudus!




Semakin kita merenungkan dalam doa  yang sungguh-sungguh akan perilaku Bapa dalam hubungannya dengan kepatuhan dan penderitaan-penderitaan Anak yang dikasihi-Nya—semakin jelaslah kita memandang Dia mempertahankan kehormatan  Hukum-Nya yang telah dilanggar, memuaskan/memenuhi klaim-klaim keadilan hukuman, menyediakan bukti tak terbantahkan akan  keadilan dan kebenaran-Nya, melalui inilah Dia diketengahkan  sebagai Dia yang secara tak terhingga  layak untuk mengendalikan dan mengelola alam semesta dan untuk memerintah dunia ini.




Akhirnya, Keadilan Allah akan secara terbuka dimanifestasikan di kesudahan dunia ini, ketika pemerintahan saat ini disudahi:


kemudian akan  ada”hari murka dan penyingkapan  kebenaran penghukuman Allah” (Roma 2:5). Tujuan-tujuan keadilan, sejauh perihal-perihal itu terdiri dari hukuman setimpal, akan dilawan oleh hukuman yang diumumkan pada setiap individu segera setelah kematian, karena itu memadai bahwa keadaan  manusia  dalam dunia yang akan datang selaras dengan karakter-karakter dan perilaku mereka dalam dunia. Tetapi pemeriksaan judisial yang megah  dirancang  bagi manifestasi akhir keadilan Allah dihadapan sebuah semesta yang  telah dikumpulkan, untuk menyatakan  berbagai ketidak jelasan dan ketakpastian dimana keadilan sebagaimana terselubungi dibawah beragam alokasi-alokasi Providence, dan untuk mendemonstrasikan sekaligus dan  bagi semua—dimana sang Penguasa Surga dan bumi tidak  membedakan orang-orang. Kemudian  kitab-kitab akan dibuka, persidangan adil diberikan, dan semua bukti dikemukakan dan setiap orang akan “menerima sesuai dengan perbuatan-perbuatannya.” Orang jahat kemudian akan diyakinkan bahwa masing-masing telah menerima sesuai dengan upah kejahatan-kejahatannya, sementara orang benar akan  berseru,” "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu!" (Wahyu 16:7).




Mari sekarang kita secara serius  berupaya, walau secara sangat ringkas, untuk  mengaplikasikan subyek penting ini dalam sebuah cara doktrinal dan praktis.


  • Pertama, manifestasi-manifestasi keadilan Tuhan semacam ini sebagaimana yang telah disajikan dihadapan kita, haruslah  sungguh-sungguh  mempromosikan pelaksanaan kerendahan  hati mendalam dihadapan Allah dalam segenap  persekutuan kudus kita dengan Dia. O sahabat Kristen, jika kita memahami  langkah/tindakan  apapun kebenaran keadilan Tuhan yang sangat jujur ini, kita harus secara pasti  merasakan kepatutan pedoman/petunjuk itu,”Mari kita  menerima anugerah dimana kita dapat melayani Allah dalam cara yang dapat diterima dengan hormat dan takut  yang  ilahi—karena Allah kit adalah api yang menghanguskan!” (Ibrani 12:28,29).  Kita harus secara serius berupaya untuk memiliki sebuah kebiasaan yang tetap  untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa Obyek penyembahan kita adalah Dia yang adalahmulia dalam kekudusan, disegani dalam  pujian, melakukan perbuatan-perbuatan ajaib!” Sebuah cara pandang semacam ini diadaptasikan untuk membangkitkan  kekhidmatan, hormat yang bergairah,dan  membawa penundukan.



  • Kedua, manifestasi-manifestasi keadilan Ilahi  sebagaimana telah disajikan dihadapan kita, seharusnya menghangatkan hati kita dan  menyalakan  roh pujian, O betapa sebuah perbadaan yang dibuat apakah keadilan itu  untuk—atau melawan kita.


    Keadilan Allah sekarang ini untuk orang percaya terlemah dan paling tidak  pantas, karena alasan sederhana tetapi memadai—bahwa  keadilan itu melawan Penebusnya terberkati.


    Allah tidak dapat dua kali menuntut pembayaran—pertama pada tangan Penjamin kita yang berdarah, dan kemudian kembali pada kita. Karena pedang keadilan Allah telah  bersarungkan dalam sisi sang Pengganti—saya pergi  bebas. Karena Dia telah menerima  upah-upah dosa di tempatku—utang-utangku sepenuhnya telah dibebaskan. Karena Dia telah diberlakukan pada Hukum,  sebuah kepatuhan  Vikaris (Pengganti) yang  mengagungkan dan  membuat Hukum menjadi terhormat— kebenaran-Nya yang sempurna diperhitungkan  pada hidupku. Karena  saya telah meletakan percayaku pada karya-Nya yang telah selesai, saya dibenarkan dari semua hal. Tentu saja, kemudian, saya harus menyerukan,”Mulutku akan  mengisahkan kebenaran-Mu dan keselamatan-Mu sepanjang hari!” (Maz 71:15). O  pujian dan  pengabdian seperti apakah yang  setimpal bagi Dia. “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran!” (Yesaya 51:10).




  • Ketiga,manifestasi-manifestasi keadilan Allah semacam itu sebagaimana telah disajikan dihadapan kita, membentuk sebuah peringatan serius yang tak terkatakan kepada yang tidak diselamatkan. Meskipun  pertimbangan keadilan Allah harus  memenuhi orang-orang percaya dengan damai dan sukacita—namun keadilan adalah hal yang menakutkan bagi orang yang tanpa Kristus untuk merenungkannya.

    Itu adalah sebuah keadilan yang tidak dapat dibengkokkan, tidak dapat dilemahkan, dan  tidak berubah. Itu adalah sebuah  keadilan yang tidak pernah dikesampingkan  oleh pertimbangan-pertimbangan sentimental, dan yang tidak dapat dibeli dengan janji-janji, atau disuap dengan air mata.




    Kebenaran sejati akan keadilan Allah,  menuju  pada nurani-nurani mereka yang  aman dalam dosa-dosa mereka
    , mengatakan, “O  orang yang tidur, berserulah pada Tuhanmu” (Yunus 1:6). Ini dikatakan dengan suara yang mengguntur, dan  Legislator (Pembuat Hukum) yang tidak dapat dibengkokkan untuk mengeksekusi ancaman kutuk-Nya  terhadap para pelanggar.


Jika Allah”  tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri” (Roma 8:32),”  hampir secara pasti Dia tidak akan menyayangkan siapapun yang pada akhirnya menghina dan menolak Dia. Bahkan sekarang murka-Nya tertuju pada mereka ( Yohanes 3:36), dan kecuali mereka bertobat—segera mereka akan merasakan kekuatan penuh penghukuman di Danau Api .


The  Justice of God |diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"