0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (26/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Ketiga
Digembalakan Oleh Yesus Kristus Agar Tidak Serupa Dengan Dunia Ini Sebab Dibawa Keluar Dari Hidup Di bawah Maut Kepada Hidup Di Dalam Allah

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Minggu, 21Agustus 2016- telah diedit dan dikoreksi)
 
Moralitas pada relativitasnya dan problem abadi manusia- kredit: carlylestewart.com
Bacalah lebih dulu: “bagian 25

Penggembalaan Yesus bukan menggembalakan anda agar memiliki moralitas baik sebagai kontra terhadap segala dimensi negatif atau jahat di dunia ini, hal ini terjadi karena siapakah Yesus dan kuasa padanya yang mengerjakan apakah yang menjadi tujuannya ke dunia ini sehingga digenapi olehnya. Sementara itu, memang adalah baik bagi semua manusia untuk memiliki moralitas yang baik dan kehidupan luhur di dalam dunia manusia, tetapi juga jika anda mengakui siapakah Yesus sebagaimana Ia bersabda maka kita harus mendengar dan mentaati kebenarannya yang menunjukan bahwa kejahatan di dunia ini bukan berakar pada problem peradaban, etika moralitas dan keagungan spiritualitas manusia di dalam kehidupan. Yesus sejak semula menunjukan bahwa peradaban, etika moralitas dan keagungan spiritualitas manusia bereaksi begitu janggal terhadap kedatangan dirinya, menolaknya atau etika moralitas, peradaban manusia dan keagungan spiritualitas manusia menjadi buta dan tuli terhadap Yesus:

Yohanes 3:19 Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Ketika Yesus berkata “tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang,” yang dimaksudkannya adalah dirinya adalah terang.


Mengapa penggembalaan Yesus tidak berhubungan dengan sebuah kontra keras terhadap segala hal negatif terkait moralitas dan hukum, itu dikarenakan Yesus sendiri meletakan dirinya sebagai satu-satunya solusi bagi problem jahat dunia ini. Itu termasuk moralitas  di dunia ini telah berada dibawah penghakiman jiwa Sang Kristus. Mari perhatikan berikut ini:

Matius 15:17- 20Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."


Moralitas dunia adalah soal apakah yang benar dan apakah yang salah; apakah yang seharusnya dilakukan dan apakah yang tidak boleh dilakukan; apakah yang harus dikoreksi pada diri manusia agar kehidupannya hidup didalam apakah yang seharus dilakukan berdasarkan apakah yang benar dan apakah yang salah sehingga tak boleh dilakukan. Tetapi sama sekali problem moralitas ini tidak akan mendefinisikan manusia dan kemanusiaan sebagai memiliki problem kenajisan; sama sekali problem moralitas manusia tak akan dikaitkan dengan akar masalah sejatinya, yaitu “dari hati timbul segala  rupa kejahatan dan problem  moralitas itu.” Perubahan perilaku bisa dipastikan sebagai kemampuan manusia itu untuk menguasai dirinya dan mengontrol apa yang ada di hati dan pikirannya agar tidak melahirkan  problem moralitas di dunia ini dan problem kejahatan yang dapat melukai sesamamu manusia, tetapi disaat yang sama dapat dipastikan bahwa selama-lamanya manusia  tidak dapat mematikan dan membuang problem kenajisan yang datang dari hati. 


Sebab manusia tak akan pernah memiliki sumber pengudusan yang senantiasa terhadap problem kenajisan itu sendiri sementara hati sebagai sumber segala rupa kejahatan dan problem kemanusiaan, tetap berada dalam kehidupan diri setiap manusia. 


Moralitas dunia tidak mengenal sama sekali elemen kenajisan dan elemen pengudusan. Sebab ketika seorang dapat mengusai  hati dan perilakunya dari dorongan-dorongan kejahatan, itu sama sekali tidak diidentifikasikan sebagai sebuah problem kenajisan yang bisa ditaklukan dan bisa dikuduskan, atau setidaknya dibasuh oleh air suci perbuatan baik. Moralitas dunia tidak mengenal hal tersebut.


Itu sebabnya bagaimanapun perjuangan manusia itu dihadapan Allah, jika manusia itu tidak sanggup untuk mematikan sumber kenajisan dan menguduskan dirinya dihadapan Allah, bagi Yesus merupakan sebuah kemunafikan. Perhatikan ini:


Matius 23:25-26 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Matius 23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.


Perhatikan, problem moralitas dan perilaku atau tindak-tanduk manusia memang menjadi fokus yang begitu tinggi tetapi begitu berbeda dengan dunia moralitas manusia. Di dunia manusia, ketulusan dan ketakmunafikan memang dituntut tetapi  nilainya adalah “ucapan dan perbuatan harus selaras” atau “apa yang diimani harus selaras dengan perbuatan di dunia ini” yang mana sama sekali tidak menekankan keadaan internal atau keadaan jiwa manusia tetapi pada keadaan atau kehidupan ragawi manusia pada mulut, pada kaki dan pada tangan agar tidak menjadi alat kejahatan. Jikalau manusia dapat menyelaraskan dirinya secara apa yang diimani dengan perbuatan atau apa yang diucapkan dengan perbuatan maka ia akan tampil seorang yang bermoral atau yang berbudi luhur, maka memang benar ia akan tampil sebagai orang yang bermoralitas dan berperilaku mulia, bahkan ia dapat menjadi orang yang begitu spiritual kala ia mampu mematikan raga dan mengendalikan jiwa dan pikiran yang mengandung berbagai hasrat negatif bagi sesama manusia dan bagi dunia. Tetapi sekalipun begitu, itu semua tak menunjukan bahwa nilai moralitas dan spiritualitas manusia dapat membersihkan jiwa sehingga tak berkejahatan sama sekali. Ini tepat sebagaimana sabda Yesus: “yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Moralitas dan spiritualitas dunia tak akan sanggup menguduskan hati dan dengan demikian membangkitkan jiwa yang mati, membangkitkan kematian jiwa semacam ini: “penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Tak disangkali bahwa memang benar moralitas dan spiritualitas dunia dapat membuat dunia ini lebih baik dalam pandangan dunia tetapi tidak menyelesaikan problem maut yang menyandera setiap manusia di dunia ini:

Matius 23:28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan


Jelas sekali bahwa  sementara moralitas dunia tak mengenal jati diri manusia sebagai mahkluk najis yang tak dapat dikuduskan oleh moralitas-moralitas mulia dan perbuatan-perbuatan baik, sementara Allah memandang  semua diri manusia, dengan demikian, semua adalah najis sekalipun memiliki moralitas dan perbuatan yang bernilai begitu mulia DI MATA MANUSIA. Pengajaran  moralitas Yesus  yang demikian telah membantu kita memahami mengapa pemazmur berkata begini:

Mazmur 14:1-3 Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik. TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.


Sehingga kita juga memahami mengapa rasul Paulus  pun menuliskan keadaan manusia sebagai sama sekali tak memiliki kebenaran DI MATA ALLAH:

Roma 3:9-12 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.


Ketika dikatakan bahwa “tidak ada yang berbuat baik,” ini bukan sama sekali hendak menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada satupun manusia yang bermoral dan berbuat baik, bukan itu maksudnya, sebab sebagaimana Yesus katakan dan ajarkan: ada dan banyak manusia yang berbuat baik hanya saja itu sama sekali tak bernilai di mata Allah dan tak mampu membuat manusia itu lepas dari kenajisan senantiasa pada dirinya, dengan kata lain inilah yang dikatakan Yesus tadi:

di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan


Penggembalaan Yesus dengan demikian terjadi karena  tidak ada satupun manusia yang sanggup melahirkan sebuah mekanisme untuk menguduskannya, termasuk dalam mentaati hukum Taurat akan senantiasa menunjukan realitas jiwa manusia itu adalah tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran, sementara melakukan apa yang menjadi ketentuan Taurat itu bahkan dapat sekalipun dapat mempertobatkan satu orang menjadi penganut mereka juga:

Matius 23:15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.


Itu sebabnya kepada setiap pengikut para ajaran ahli Taurat Yesus memperingatkan mereka, kalau tidak lebih baik dari mereka maka semua dan tak satupun yang dapat memiliki kehidupan kekal. Sebab tak satupun yang dapat menguduskan jiwa mereka dari segala kenajisan:


Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.


Apakah yang dimaksudkan Yesus dengan “tidak lebih benar?” apakah terkait “ucapan tak selaras dengan perbuatan?” atau semacam itu? Bukan, bukan itu, Pada dasarnya para ahli taurat dan orang-orang Farisi memiliki wibawa yang luar biasa di hadapan bangsa Yahudi, mereka memiliki kebenaran pada segenap aspek kehidupannya di hadapan manusia. Tetapi pada pandangan Yesus, mereka memiliki problem yang tak dapat diatasi bahkan oleh para ahli Taurat itu, yaitu:


yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.


Mereka orang-orang yang baik, berbudi luhur dan sangat tinggi kehidupan spiritualitasnya. Itu Yesus tak sangkali sehingga ia berkata “yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya.” Ketika Yesus berkata “tampaknya” maka Yesus sedang menyatakan begitulah kewibawaan dan keluhuran para tokoh agama itu ditengah masyarakat, tetapi di mata Allah kehakikatan jiwa mereka adalah “orang neraka” sebab “yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”

Realitas jiwa semacam ini, pun ditunjukan Yesus dengan sabda tauratnya yang berbunyi:

Matius 5:21-22 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.


Matius 5:27-30 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.


Ajaran-ajaran Yesus ini berpijak dari hukum taurat yang menunjukan kekudusan Allah tak bercela sehingga tak dapat dikompromikan dengan kelemahan atau kemaksimalan yang dapat dicapai manusia dalam moralitas. Kekudusan berdasarkan kemaksimalan yang dicapai manusia secara individual pasti menghasilkan pelanggaran, dan akan mendatangkan kutuk sebagaimana memang tuntutan-Nya: Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"- Ulangan 27:26, itu sebabnya ia tadi berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”


Perbuatan baik mendapatkan apresiasi setinggi kekudusan Allah itu sendiri. Dan kala setiap manusia dapat masuk ke dalam kehidupan sekudus adanya Allah itu sendiri maka ia memang dapat masuk ke dalam kerajaan sorga yang berarti bukan orang neraka, jika saja manusia itu  bukan sama sekali yang berada dibawah penghakiman sabda ini: yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.


Faktanya Yesus sudah menghakimi tak ada satupun yang sanggup. Sebab jika ada yang sanggup maka mustahil Allah bersabda kepada  dunia melalui Yesus dalam bunyi seperti ini:


Matius 5:17-18 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.


Penggenapan Yesus bukan saja pada apa yang menjadi tuntutan Allah pada manusia yang tak dapat dipenuhi karena kelemahan daging dan jiwa untuk menggenapinya tetapi penggenapannya akan melahirkan jalan  keluar bagi manusia dari problem ini. Itu sebabnya Yesus berkata “ Ia datang untuk menggenapi kitab para nabi.” Menggenapi kitab para nabi sama mustahilnya bagi manusia untuk mengatasi dan mengalahkan keadaan: yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran, sebab terkait ia  menggenapi kitab para nabi memang secara eksklusif hanya dia saja yang sanggup menggenapinya! Perhatikanlah ini:

╞Matius 1:21-22 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.


╞Matius 2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."


╞Matius 2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.


╞Lukas 3:4-6 seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan."

Yesaya 40:3-4 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;


╞Matius 3:13-15 Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku? Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.


╞Matius 8:16-17 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."


╞Matius 12:16-21 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."


╞Matius 26:52-54 Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"


╞Matius 26:56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.


╞Lukas 22:37 Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi."


╞Lukas 24:44  Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."


╞Yohanes 15:23-25 Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan.


Penggenapan-penggenapan semacam itu adalah hanya terjadi pada satu-satunya manusia, manusia Yesus Kristus. Penggenapan-penggenapan yang harus terjadi sebagaimana kitab suci tuliskan bahwa berdasarkan penggenapan sedemikian itulah maka ia dapat menjadi  Juruselamat dunia atas  ketakberdayaan manusia di dalam belenggu maut yang senantiasa akan memperbudak manusia dalam belenggu maut dengan buah kehidupan semacam ini: di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.


Begitulah realitas penggembalaan Sang Mesias atas jiwa-jiwa manusia yang akan diselamatkannya sehingga menjadi hidup  berdasarkan kehidupan Terang Manusia yang yang ada di dalam dirinya sendiri (Yohanes 1:4).


Penggembalaan Yesus  atas manusia agar keluar dari penggembalaan maut yang membuahkan ketakberdayaan maut  tadi, itu dilakukan berdasarkan penggenapan kitab suci dan apapun yang dituliskan oleh para nabi:


Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."- Lukas 24:44


Itulah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk juga mengajarkan bagaimana ia harus masuk ke dalam maut untuk membebaskan manusia dari perbudakan semacam itu, yang telah membuat  perbuatan-perbuatan baik manusia hanya membuat ia  bersih pada  bagian luarnya sementara pada bagian dalamnya tetap kotor, karena maut tak memberikan kehidupan Allah. Mari perhatikan ajaran-ajaran Yesus berikut ini:


▬●Matius 16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.


▬●Matius 20:17-19 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."


▬●Markus 8:31- Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.


▬●Markus 9:31-32 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.


▬●Markus 10:32-34 Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit."


▬●Lukas 18:31-34 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit." Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.


▬●Yohanes 16:16-20 Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku. Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?" Maka kata mereka: "Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya." Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: "Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.


Yesus memulai penggembalaannya di dunia ini dan itu barulah permulaan perjalanannya untuk menunjukan realitas ketakberdayaan manusia, menunjukan daya kinerja iblis atas manusia dan menyingkapkan apakah wujud kinerja iblis itu atas manusia dalam sebuah cara membelenggu secara abadi tanpa bisa dilawan untuk membebaskan diri dari realitas: yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Penggembalaan Yesus kini berlanjut masuk ke dalam pemerintahan dunia orang mati, pusat kendali perbudakannya atas manusia dalam cara memberikan dirinya untuk masuk dan ditelah oleh kematian sebagai yang berkuasa atas kematian dan memberikan kehidupan di dalam kematiannya. Peristiwa kematiannya adalah sabda Allah baginya untuk ditaatinya, dan penaatannya bermakna penggenapan kitab para nabi, sebuah ketaatan yang mendatangkan penggenapan kitab para nabi untuk membebaskan manusia dari kematian akibat dosa. Itu sebabnya saat kematiannya adalah saat yang disebut Yesus Kristus sendiri sebagai saat  yang mana Anak Manusia dimuliakan:


Yohanes 12:23-24 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.


Yohanes 12:27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.


Yohanes 12:31-33 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Penggenapan kitab para nabi adalah aspek kedua yang akan digenapinya di dalam dunia maut sebagai yang berkuasa untuk menghasilkan kehidupan bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi kepada  banyak orang atau sebagaimana sabda Kristus: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.


Itu sebabnya kematian Yesus dalam cara “apabila Aku ditinggikan dari bumi” merupakan keniscayaan untuk terjadi pada Yesus dan hanya Yesus saja yang berotoritas menggenapinya. Itu sebabnya kematiannya yang walaupun hina dan nista di mata manusia bahkan tak dimengerti mengapa harus demikian caranya sebagaimana sangka para murid dan banyak orang, tetapi itu adalah sebuah kebenaran, bukan  siasat iblis. Sebab Yesus telah  memberikan dasarnya, yaitu:


Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."- Lukas 24:44


Karena itu adalah firman Allah maka:

╬Adalah dusta besar untuk menyatakan bahwa yang disalibkan bukan Yesus Kristus atau seseorang yang diserupakan  agar mirip Yesus


╬Adalah sebuah penistaan untuk menyatakan bahwa yang disalibkan bukan Yesus Kristus atau seseorang yang diserupakan agar mirip Yesus sebab Yesus berkata “harus digenapi semua yang tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”


╬Yesus sendiri telah memberikan afirmasi berdasarkan kitab suci bahwa dirinyalah yang akan ditinggikan dari bumi pada kayu salib pada momen yang paling mencekam bagi para murid-Nya yang berjuang mati-matian untuk mencegah Yesus masuk ke dalam lorong kegelapan:

Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"- Matius 26:52-54


Yang disalibkan adalah benar-benar Yesus dan seperti dikatakan oleh Yesus, ia tak memerlukan segala rupa peluputan baik terbuka atau tertutup dan memerlukan pertolongan manusia. Ia telah mencegah pedang manusia untuk menolongnya dan Ia telah membuang pertolongan yang senantiasa terbuka dari sorga: 12 pasukan malaikat! Jika demikian maka menyatakan yang dimatikan adalah seorang yang diserupakan mirip dia sementara ia sendiri diangkat ke sorga, sungguh sebuah  dusta melawan: “bagaimana akan digenapi yang tertulis dalam Kitab suci.” Harus terjadi yang demikian sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci:

╬Yesaya 53:1-12 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.


Ia tak berdusta tentang dirinya yang harus mati dalam cara demikian dan ia telah menunjukan bahwa kematiannya memang adalah sabda Allah yang telah tersimpan di dalam kitab para nabi.


Mengapa ia harus menanggung dosa-dosa orang lain, bukankah jika demikian bukan keadilan? Jika keadilan yang dikejar maka yang seharusnya diterima adalah kebinasaan, sebab berdasarkan keadilan semua harus dihukum dan berada didalam kebinasaan. Bahwa ia harus menanggung dosa banyak orang memang telah merupakan ketetapan kudus Allah yang telah disampaikan dan telah dituliskan oleh nabi kudus-Nya.


Begitulah penggembalaan Yesus di dalam dunia orang mati, dalam cara: menyerahkan nyawanya ke dalam maut untuk mendapatkan banyak jarahan yaitu jiwa-jiwa manusia pemberontak yang dosa-dosanya telah ditanggung oleh Yesus di dalam maut.


Itu sebabnya yang disalibkan adalah benar-benar Yesus dan yang masuk ke dalam dunia orang mati adalah benar-benar Yesus dan didalam dunia orang mati itulah ia dapat menanggung dosa banyak orang  yang ia selamatkan dari dunia maut sehingga menjadi kepunyaannya dan hidup didalam-Nya.


Dia  yang disalibkan adalah benar-benar Yesus dan yang mati adalah benar-benar Yesus. Karena ia dipersiapkan Allah untuk menjadi  kurban penebus salah dan ia didalam kesemuanya itu berkuasa penuh untuk menggenapi kehendak Allah: Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Itu sebabnya yang disalibkan mustahil orang  LAIN yang diserupakan hingga mirip Yesus, sebab yang disalibkan harus orang yang diberi kuasa menjadi kurban penebus salah dan yang berkuasa menggenapi kehendak Allah secara jitu, sempurna dan kudus.


Ini memang sukar dan pasti mustahil untuk diterima begitu saja. Masakan   Yesus Sang Mesias harus senista ini agar dapat menggenapi maksud Allah? Tak bisakah cara lain saja? Tak peduli apakah sangkaan manusia, tetapi Allah sendiri melalui nabi Yesaya telah menujukan begitulah Yesus kelak akan menggembalakan manusia untuk lepas dari maut, tak peduli kita mengira ia adalah terhukum: Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Itu sebabnya Yesus pun berkata keras:


╬Matius 26:55-56 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.


Mengapa Yesus sendiri yang harus mati? Karena ia saja yang dapat menggenapi profetik purba semacam ini: “Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku!” (Zakaria 13:7). Siapakah yang paling karib dengan Allah? Perhatikan kesaksian  Yesus berikut ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”(Yohanes 5:19-23).



Itu sebabnya ketika mengatakan yang mati di kayu salib adalah seseorang yang diserupakan dengannya sementara ia sendiri diangkat Allah maka itu sama dengan mengatakan bahwa Yesaya 53:1- secara  keseluruhan tak pernah tergenapi dan ajaran demikian telah menunjukan ketaktahuan akan kehendak Allah atas Yesus sebagaimana telah dinyatakan oleh nabi Yesaya. Itu sebabnya Yesus berkata mengenai penggembalaannya untuk melepaskan manusia dari dalam maut yang  kebenarannya mencakup juga Yesaya 53:1-12, yang berbunyi: “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:25-27).



Menjadi tidak serupa dengan dunia, dengan demikian, melampaui tidak berperilaku jahat sebagaimana orang-orang jahat di dunia ini, tetapi juga berarti tidak meletakan kebenaran diri berdasarkan perbuatan-perbuatan baik sebagaimana pandangan moralitas semua manusia. Harus diingat bahwa untuk memiliki moralitas dan karakter unggul tidak perlu menjadi beragama apapun, sebab siapapun yang  dapat membangun moralitas dan karakter yang baik berdasarkan  kemuliaan  hati nurani kemanusiaan sendiri yang diperjuangkan untuk memerintah dirinya, tanpa perlu sama sekali mengenal Tuhan dan mengenal ayat-ayat suci dan mengabaikan apapun realitas manusia dalam pandangan Allah. Tepat seperti Yesus telah indikasikan sebelumnya.


Itu sebabnya dalam mendorong kehidupan  yang baik, yang bermoral dan berbudi luhur kepada jemaat Tuhan, setiap rasul akan menautkan apa yang harus terjadi dan dialami oleh  hati manusia agar tidak sebagaimana Yesus hakimi  nampaknya benar di depan manusia tetapi dalam dirinya penuh kejahatan dan kedurjanaan. Misalkan saja dapat kita temukan dalam Surat Yakobus berikut ini:


Yakobus 1:16-27 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.’


Jikapun ini dipandang sebagai instruksi moralitas maka ini sungguh berbeda dengan dunia dengan segenap  moralitasnya. Nampak luarnya bisa sangat mirip tetapi realitas dalam diri manusia pada apa  yang menuntunnya untuk berlaku dan mengejar penghidupan yang tak serupa dengan dunia atau tak dicemarkan dengan dunia akan sangat berbeda, sebab yang menuntunnya bukan hati yang menjadi sumber kenajisan bagi manusia tetapi “firman yang tertanam di dalam hatimu.”  Manusia dalam Tuhan sangat bergantung pada firman dan ini bukan sekedar omongan dimulut namun tidak memiliki kehidupan, tetapi harus memiliki kehidupan: “firman yang tertanam.” Tanpa firman yang tertanam maka mustahil hati manusia anak Allah itu tak tercemar oleh dunia. Pencemaran yang dibicarakan di sini adalah  pada “hati” yang hanya dapat dicegah oleh firman yang tertanam  atau oleh kehidupan hati yang dipandu oleh firman Tuhan. Jadi inilah sebabnya perbuatan baik itu sendiri tidak dapat menguduskan manusia tetapi apapun perbuatan baik yang dihasilkan oleh firman yang tertanam di dalam dirimu pasti merupakan ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, sebuah perubahan dramatis dari realitas ini:


“..yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”


Itulah realitas dari kehidupan yang dihasilkan oleh Sang Kristus dan sabdanya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup- Yohanes 8:12. Pada dasarnya perbuatan baik dan moralitas setiap anak-anak Allah di dunia adalah salah satu bagian kecil saja dari realitas yang dihasilkan oleh kebenaran sabda ini: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya- Yohanes 15:1,” yang menjadi satu-satunya penyebab kehidupan anak-anak Allah tidak serupa dengan dunia ini atau tidak dicemari dunia ini sehingga dapat masuk ke dalam penggenapan yang berbunyi: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:8) dan “Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Surat Yakobus menyebutkan firman yang tertanam di dalam hati, itu sebuah pernyataan yang menyingkapkan realitas kehidupan di dalam hati  manusia yang hanya dapat dihasilkan jika manusia itu memiliki relasi dengan Allah di dalam kasih-Nya. Itulah yang dinyatakan Yesus Sang Mesias dan menjadi dasar kebenaran di dalam Surat Yakobus. Perhatikanlah ini: “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku (Yohanes 14:24).” Yakobus meneruskan kebenaran yang diterima dari Yesus Kristus kepada jemaat gembalaannya, bahwa hanya manusia yang memiliki relasi mengasihu Allah akan memiliki firman yang tertanam di dalam hati. Itu sebabnya berelasi dengan Allah pada pokoknya berbicara hati yang padanya ada firman yang tertanam dan membuahkan ketaatan pada firman. Di sini menjadi melampui moralitas dan karekater mulia dalam hidup tetapi  bagaimana manusia memiliki relasi dengan Allah menjadi bermoral dan menghasilkan sebuah kehidupan ibadah yang sejati di hadapan Allah. Adakah moralitas dunia membicarakan “firman yang tertanam di dalam hati” dan “dilepaskan dari perhambaan dosa?” Jelas tidak, dan karena itulah para pengikut Yesus tak boleh tercemar oleh dunia ini dalam memandang moralitas dunia yang terlepas sama sekali dari Kritus dan firman-Nya yang tertanam di dalam hati. 
 

Bersambung ke bagian 27

Segala Kemuliaan  Hanya Bagi Allah










P O P U L A R - "Last 7 days"