0 Renungan Reflektif Menyambut Natal 2016:

Oleh: Martin Simamora

Dimanakah Damai Sejahteramu Kauletakan, Pada Kristus Ataukah Pada Menurutmu Sendiri?


Ketika Kristus dilahirkan ke dalam dunia ini, berapa banyakah manusia yang memadang kedatangannya sebagai teramat penting.  Bukan sekedar  teramat penting sebagaimana saya dan anda memahami maksud  yang terkandung di dalam kata “penting” itu sendiri. Pada era jelang kelahiran Yesus hanya ada segelintir manusia yang mampu memandang ia yang dijanjikan Allah itu begitu penting untuk dikenali sehingga menjadi dasar tunggal baginya untuk menutup mata dalam kedamaian yang begitu menenteramkan jiwa. Dan kalaupun itu dapat terjadi, semata karena Allah sendiri menunjukan kebenaran semacam itu kepadanya sebagaimana Alkitab mencatatkan perihal itu bagi saya dan anda:

Lukas 2:25-32 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Berdasarkan penuntunan Roh Kudus saja ia dimampukan untuk memandang dan mengerti bahwa Mesias begitu penting bukan saja bagi kehidupannya saat ini tetapi bagi kehidupan setelahnya. Tak ada damai yang lebih dahsyat daripada apa yang telah dinyatakan Roh Kudus baginya: dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan

Dan beginilah pujian yang dilantukan oleh mulutnya:


Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel


Pujian ini luar biasa bukan saja karena ekslusivitas-Nya bagi Israel tetapi Sang Mesias juga merupakan satu-satunya keselamatan yang disediakan bagi segala bangsa. Sebuah pesan universal yang harus diketahui oleh dunia sebab Ia menjadi sangat menentukan bagi perjalanan dan kesudahan dunia ini.



Apakah kebutuhan dunia sesungguhnya atau apakah yang akan membuat damai sejahtera bahkan dalam anda akan menutup mata atau meninggalkan dunia ini? Biasanya apa yang membuat damai sejahtera bias dimiliki bahkan menjadi dasar ketenangan luar biasa untuk meninggalkan dunia beserta semua yang dikasihi adalah tersedianya jaminan kesejahteraan dan jaminan masa depan yang cemerlang bagi keluarganya dan keturunannya.



Dunia atau semua bangsa di dunia ini tentu saja memiliki begitu banyak problem besar yang kompleks mulai dari masalah ekonomi hingga masalah kelaparan akibat kemiskinan dan defisit pangan hingga masalah politik hingga masalah hak asasi manusia yang mengalami penindasan yang sanggup menciptakan danau-danau darah. Dan sebutkanlah apapun juga maka kita akan melihat pandangan manusia akan damai sejahtera  begitu berbanding terbalik dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi segala bangsa di dunia ini. Bagi dunia sungguh mustahil untuk berkata seperti ini:

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa


Dunia barangkali akan berteriak kepada langit: hai langit kami tak memerlukan dia tetapi kami memerlukan damai dan kami memerlukan kesejahteraan umat manusia. Bisakah Engkau melakukannya, atau tidakkah?


Dia yang adalah “keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” bukan tak memahami problem-problem sosial dan problem-problem dunia yang kompleks untuk dapat ditangani segera. Yesus pernah bahkan berada di dalam problem yang raksasa. Mari perhatikan hal berikut ini:


Yohanes 6:1-13 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini? Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.


Dunia selalu bertarung dengan angka melawan angka, angka ketersediaan melawan angka kebutuhan atau permintaan. Dunia kini tak ada bedanya dengan dunia purba, senantiasa berkutat dengan angka surplus atau angka defisitkah. Yesus sendiri mengalami sebuah kedefisitan pangan yang begitu ekstrim dan mengalami defisit keuangan yang mengerikan. Yesus pernah hadir di dalam dunia yang begitu miskin dan begitu defisit, yaitu dunia pemerintahannya sendiri bersama dengan para murid. Mari kita menyimak laporan ekonomi para murid kepada Sang Pemimpin Yesus Kristus:


Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Inilah dunia dalam realitasnya tak saja di era purba pun sekarang. Pada Yesus, secara finansial dan  berdasarkan sumber daya yang dapat dibeli untuk menyediakan makanan untuk sedikitnya 5.000 orang lelaki SAJA tak akan atau mustahil tersedia. Fakta ekonomi pemerintahan Yesus adalah ini:

- Roti seharga 200 dinar atau setara dengan USD 14,500 ( rujukan: StudyBible Q&A) atau Rp. 193.212.500,00-jika Yesus memiliki uang sebesar ini- pun tak akan dapat memenuhi kebutuhan 5.000 orang sekalipun  diatur dalam potongan kecil saja.

- Di sini ada seorang anak, yang mempunyai 5 roti jelai dan 2 ikan.


Terhadap realitas ini, Yesus peduli dan sangat peduli. Jika tidak demikian maka mustahil Yesus mengadakan interupsi pada  sesi pengajarannya sendiri. Ia bahkan mengajak para murid-Nya untuk memikirkan atau untuk peduli terhadap kesejahteraan ribuan orang yang sudah bersusah payah mendatanginya. Yesus bahkan mengatasi problem  defisit super  ini:


Yohanes 6:10-12 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."


Yesus sukses mengatasai defisit super tersebut secara menakjubkan  sebab dilakukan secara mandiri dan tanpa menimbulkan hutang pada pemerintahan yang memiliki kekuatan ekonomi yang lebih dahsyat, yaitu rejim Romawi yang berkuasa! Bahkan surplus sehingga Yesus berkata: “kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Ini adalah prinsip penting dalam dunia yang penuh dengan problem dan ketakadilan: mengelola segenap sumber daya yang ada seefisien mungkin dengan memiliki cadangan atau simpanan makanan, sedikit apapaun atau sebesar apapun.


Tidakah Mesias seperti yang diperlukan oleh dunia? Dan berbicara kepentingan dunia maka  seperti itulah Juruselamat yang ideal dan seharusnya ada sehingga ketakadilan, kelaparan, kemiskinan dan penderitaan dapat dilenyapkan. Padangan semacam inilah yang seketika muncul kala menyaksikan Yesus mengadakan  mujizat didalam problem ekonomi yang super kompleks tadi. Perhatikanlah hal berikut ini:

Yohanes 6:14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."


Tetapi benarkah bahwa Sang Mesias adalah keselamatan bagi bangsa-bangsa di dunia dalam cara pandang dunia semacam ini? Yesus memberikan jawabannya dalam cara yang begitu dramatis dan mengejutkan:


Yohanes 6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.


Kelahiran Yesus bagi Simeoan adalah maha penting untuk terjadinya dalam makna: Ia adalah keselamatan yang disediakan Allah bagi segala bangsa. Bagi Simeon kedatangan Yesus, Anak Manusia itu sendiri adalah jawaban bagi dunia dan tak ada yang lain. Itu sangat cukup dan sangat melimpah baginya untuk menutup mata dan meninggalkan dunia ini. Tetapi dunia tak akan sanggup melihat sebagaimana Simeon yang telah menerima panduan Roh Kudus dalam masa tuanya menjelang  perjumpaannya dengan Sang Juruselamat dunia yang baru beberapa hari saja telah dilahirkan: “Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah"- Lukas 2:21-23.



Yesus secara konsisten menegaskan bahwa sekalipun dunia ini penuh dengan problem kehidupan yang mahakompleks dan Ia berempati dan memberikan solusi secara nyata, tetapi ia sama sekali tak ingin diikuti dan tak ingin dipandang sebagai yang datang dari Allah untuk menjawab problem-problem dunia ini termasuk penanganan kelaparan. Perhatikan dialog berikut ini:

Yohanes 6:25-26 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.


Dunia yang penuh problem membutuhkan Yesus, tetapi sekalipun Yesus menjawab problem dunia  yang sedemikian beratnya, ia tak menyatakan dirinya sebagai untuk itulah Aku datang.



Ada problem yang lebih besar namun luput atau tak mampu dilihat semua manusia di dalam berbagai problem dunia yang senantiasa mengancam perdamaian dan kesejahteraan umat manusia. Tetapi apakah problem  mahabesar sesungguhnya yang tak dapat dilihat oleh manusia sementara Yesus tetap peduli dengan problem-problem sosial dunia ini? Mari  kita memperhatikan penjelasan Yesus berikut ini:


Yohanes 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."


Apa yang tak dapat dilihat manusia tetapi hanya Yesus yang dapat melihat adalah sebuah mahaproblem yang lebih maut ketimbang masalah kelaparan, masalah ekonomi, masalah kemiskinan, masalah hak asasi manusia dan masalah keamanan dunia ini, yaitu KEBINASAAN KEKAL.


Sebuah kesenjangan prioritas menganga begitu lebar dan begitu dalam sampai-sampai problem kelaparan dan berbagai problem dunia ini menjadi jauh lebih penting  untuk dibicarakan dan dikhotbahkan di hadapan Dia yang telah lahir di atas mimbar-mimbar pada perayaan natal. Tepat sebagaimana  kebanyakan orang pada era Yesus melakukannya.


Sementara dunia berharap Yesus mau memberikan apa yang dapat diberikan dunia namun dalam jumlah yang terus-menerus surplus, Yesus hanya mau memberikan apa yang hanya dimilikinya dan tidak akan ada dijumpai di dunia ini, sebagaimana sabdanya sendiri kepada orang banyak:

makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu


Roh Kudus melalui Simeon telah berkata bahwa Ia adalah keselamatan yang disedikan bagi segala bangsa, tetapi jelas bukan keselamatan dari problem kemiskinan, problem kelaparan, problem kesenjangan ekonomi dan problem politik dengan segala kompleksitasnya yang dapat melibatkan banyak bangsa di dunia ini. Yesus menegaskan kebenaran yang  telah diterima Simeon sebagai kebenaran yang memang hanya ada pada dan bekerja di dalam dirinya saja, yaitu: ia memiliki makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.


Allah bukan tak peduli dengan segala problem dunia ini termasuk urusan perut, karena jelas tak terbantahkan kelaparan dapat mengakibatkan kematian. Tetapi saat membicarakan makanan yang dapat memberikan kehidupan kekal, Yesus sedang membawa semua pendengarnya untuk mengerti bahwa manusia memiliki problem yang jauh lebih menakutkan untuk mereka takutkan dan untuk mereka kuatirkan sehingga mimbar-mimbar gereja ada saja yang menyuarakan khotbah yang melawan kebenaran Sang Kristus ini. Coba perhatikan pernyataan Yesus berikut ini:

Yohanes 6:31- 33 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."


Bagi manusia, Allah seharusnya peduli dengan problem sehari-hari mereka dan itu sudah lebih dari cukup, karena dengan demikianlah dunia ini akan penuh dengan kedamaian yang sungguh menjunjung kemanusiaan. Bagi mereka, seharusnya Allah terus-menerus memberikan bala bantuan pangan dari sorga untuk menjawab kebutuhan aktual manusia, jangan lain daripada itu.


Tetapi Yesus menyatakan bahwa bukan itu mahaproblem manusia. Bukan! Dan Allah bukan sedang ingin menyelesaikan masalah manusia dengan kebahagiaan semu dan kemudian di kekekalan akan mengalami malapetaka yang tak tertolongkan oleh manusia dan tak ada jalan keluar bagi manusia. Mari perhatikan penjelasan Yesus berikut ini:


Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Yohanes 6:48-51 Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."


Malangnya manusia, sekalipun bahkan tak berdaya untuk mengatasi sendiri masalah sehari-hari  atau ada yang berpikir tak membutuhkan Tuhan untuk  mengatasi problem semacam ini sebab berpikir Allah tak pernah kelaparan dan Allah mana mungkin paham dan peduli dengan problem seperti ini, tetap merasa terhina dan marah ketika Allah mengajukan kebenaran-Nya kehadapan manusia:


Yohanes 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."[mereka bahkan tetap tak menerima kebenaran ini sekalipun Yesus telah menjelaskan bahwa maksudnya tidak seperti yang mereka sangkakan: Yohanes 6:54-55)


Yohanes 6:41-42 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Dalam Allah memberikan manna dari sorga dan dalam Yesus memberikan makanan dari perbendaharaan ucapannya yang memenuhi kebutuhan sedikitnya 5.000 orang, sama sekali sedang tidak mengangkat perihal-perihal dunia dengan segala problem sebagai tujuan tertinggi Allah dalam melakukan tindakan kasih-Nya dan dalam Ia  datang ke dalam dunia ini, tetapi ini:

Yohanes 6:57-58 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."


Ekspektasi semua manusia secara sempurna direpresentasikan oleh bangsa Yahudi. Bahwa Allah seharusnya seketika ini juga mengatasi problem-problem kehidupan mereka sehari-hari. Tetapi Yesus bahkan di episode-episode akhirnya bersama para murid khususnya pasca kebangkitan, tetap mengulangi pesan yang sama, bahwa ia datang kedalam dunia ini untuk mengatasi problem maharaksasa manusia, yaitu maut. Problem yang tak akan diselesaikan oleh Allah dengan mengatasi kemiskinan, kelaparan, kekacauan politik dan berbagai problem lainnya, selain jika Allah memberikan Yesus untuk diterima sebagai satu-satunya yang dapat membebaskan dari perhambaan maut sebab Yesus telah  menaklukannya berdasarkan ketentuan Kitab suci. Mari perhatikan dialog yang begitu menunjukan bahwa manusia tak akan pernah bisa memahami apakah kebutuhannya yang hanya dapat disediakan Allah melalui dan dalam  Yesus Kristus:


Lukas 24:13-27 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


Momen jelang natal dan pada natal adalah senantiasa momen  yang menentukan bagi siapapun manusia. Bagaimana ia memandang Yesus dan setinggi apa ia berharap pada Yesus. Jika sedikit saja tidak setinggi yang Yesus kehendaki, maka begitu menyedihkan untuk lebih memilih menerima berkat-berkat yang mengatasi kemiskinan dan mengatasi problem dunia tetapi tetap berada di dalam perbudakan maut.


Perhatikanlah berita apa yang anda dengarkan pada  acara-acara natalmu, pada khotbah-khotbah pendetamu, apakah sebagaimana Yesus mengkhotbahkan dirinya ataukah berlawanan. Jika berlawanan dengan  kehendak Yesus maka buatlah keputusan pada dirimu sendiri untuk  berdiri pada kebenaran milik siapakah? Kebenaran milik Yesus atau kebenaran versi pendetamu.


Pada akhirnya, marilah kita semakin peduli dengan sesama kita manusia siapapun juga mereka dengan mau memberi apapun yang bisa anda berikan sekecil apapun di dalam tragedi-tragedi kemanusiaan sekecil apapun juga, untuk menjaga kemuliaan kemanusiaan kita diantara sesamamu kita manusia, dan terutama di dalam dunia semecam inilah merupakan tempat  tersempurna bagi pesan mahapenting dari Juruselamat dunia bahwa ia datang untuk menyelamatkanmu dari problem mahamaut yang lebih mematikan ketimbang kelaparan, kemiskinan,kebodohan intelektual, kekacauan politik dan peperangan di dunia yang memiliki keakhiran totalnya pada sebuah masa mendatang.



Mari bangkit dan jadilah  terang yang menyelamatkan kemanusiaan dari perbudakan maut.



Dalam Tuhan kita berpengharapan!



Selamat Menyambut Natal Dalam Damai Sejahtera Kristus Bagi Dunia

Salam Damai Dalam Kristus,
Martin Simamora dan keluarga



P O P U L A R - "Last 7 days"