0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (25/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Ketiga
Anugerah Allah Tidak Pernah Diberikan Berdasarkan Pembuktian Corpus Delicti dan Tak Pernah Terjadi Kebersalahan Iblis pun Harus Dibuktikan Allah Berdasarkan Corpus Delicti

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Sabtu, 20Agustus 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 24

Kabar baik atau injil ketika berbicara inisiatif Allah” terhadap ketakberdayaan manusia, sama sekali tak menautkannya dengan pembuktian salah atau corpus delicti berdasarkan hukum Taurat yang baru datang ratusan tahun setelah Abraham, bapa orang beriman. Rasul Paulus terhadap pemberitaan injil atau kabar baik menegaskan “inisiatif Allah” itu tak berdasarkan pembuktian salah atau corpus delicti, sebab inisiatif Allah itu sendiri mendahului hukum Taurat:

Galatia 3:8 Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."


Galatia 3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.

Kejadian 22:16-18 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."


Galatia 3:17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.


Faktanya memang Hukum Taurat datang pada era jauh setelah Abraham, datang pada era Musa: “Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel:…”(Kel 19:1-3, bacalah hingga pasal 23), kala sebuah bangsa  bernama Israel telah terbentuk di bumi.


Berdasarkan ini maka relasi “inisiatif Allah” terhadap ketakberdayaan manusia bagi keselamatan manusia sendiri bukan berdasarkan pembuktian salah atau pembuktian corpus delicti dengan hukum Taurat, tetapi berdasarkan janji yang akan digenapi oleh seorang keturunan Abraham bernama  Yesus. Sehingga  pernyataan:


“…Hukum Taurat diberikan Allah untuk menunjukan bahwa manusia terbukti bersalah, atau menjadi “Corpus Delicti” untuk menuntun manusia kepada anugerah:bahwa dengan kemampuannya sendiri manusia tidak akan bisa memiliki keselamatan. Manusia tidak dapat selamat tanpa inisiatif Tuhan untuk menganugerahkan keselamatan itu


Sama sekali salah sebab “hukum Taurat” telah diberikan bukan sama sekali bertujuan untuk membuktikan manusia bersalah atau menjadi corpus delicti tetapi untuk membuktikan manusia terkutuk. Terkutuk melampaui apa yang dapat dijelaskan oleh “terbukti bersalah” atau “menjadi corpus delicti.” Hal ini jelas dari apakah relasi manusia terhadap hukum Taurat itu sendiri:

Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."- Gal 3:10


Kitab suci menyatakan bahwa kala seorang tak memenuhi apa yang menjadi tuntutan hukum Taurat secara utuh maka ia dikutuk, jadi bukan sama sekali terbukti bersalah. Perhatikan ini:

Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"- Ulangan 27:26


Ini mematikan sebab satu kali tidak menepati maka terkutuklah segera manusia itu pada waktu itu juga, dan seluruh umat harus berkata AMIN terhadap ketertimpaan kutuk pada yang tidak dapat menepati perkataan hukum Taurat itu. Sehingga memang kita akan menjumpai deret kutuk karena tidak menepati perkataan hukum Taurat semacam ini:

├Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:16


├Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:17


├Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:18

Kita menjadi dapat memahami mengapa rasul Paulus berkata “terkutuklah…terkutuklah…” kepada siapapun yang memberitakan injil yang lain sebagaimana dalam Galatia  1:6-10


├Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:19


├Terkutuklah orang yang tidur dengan isteri ayahnya, sebab ia telah menyingkapkan punca kain ayahnya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:20


├Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apapun. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:21


├Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah atau anak ibunya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ulangan 27:22


├Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!- Ul 27:23


├Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!-Ul 27:24


├Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah. Dan seluruh bangsa itu harus berkata: Amin!-Ul 27:25


Hukum Taurat menghendaki seluruh anggota bangsa harus berkata amin terhadap dampak pelanggaran setiap instruksi dalam Taurat yaitu: menjadi terkutuk. Sebuah sabda yang menunjukan  bahwa keadaan manusia telah dinyatakan berada dibawah kutuk, bukan lagi sekedar terbukti bersalah atau menjadi corpus delicti. Ini  adalah maut yang benar-benar gelap sebab terhadap situasi ini, Allah menuntut semua berkata: amin. Ini adalah sebuah pengaminan terhadap betapa kudus Allah dan betapa di hadapan Allah, tidak boleh ada sekali saja sebuah kesalahan, sebab akibatnya maut, yaitu terkutuk oleh Allah! Sehingga kita memahami lebih baik maksud teks ini:

Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"


Sebab ada tertulis, dapat kita temukan dalam Kitab Taurat yang berbunyi sebagai berikut:

Ulangan 21:23-24 Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu."


Jika membandingkan secara langsung pada Yesus, adakah ia didapati berbuat dosa? Perhatikan berikut ini:

Matius 26:57-60Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu. Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta.


Kita harus memahami bahwa “supaya ia dapat dihukum mati” merupakan hal yang begitu vital dan begitu divinitas bagi para ahli Taurat,  para imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama di hadapan kitab suci dan di hadapan Allah, sebab Kitab Musa telah memerintahkan mereka untuk mentaati setiap apa yang dituliskan Taurat, yaitu: “apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung ia pada sebuah tiang…” dan jika tidak maka mereka semua terkutuk! Pada faktanya mereka sebagai pihak yang berotoritas berdasarkan hukum Taurat telah mendapatkan dia berdasarkan taurat kudus: tak bersalah sama sekali. Bahkan ketakbersalahan Yesus tak dapat diretakan apalagi dihancurkan oleh kesaksian-kesaksian palsu yang dipersiapkan oleh Mahkamah Agama dan imam-imam kepala sendiri agar dapat menciptakan kesalahan yang sepadan  pada Yesus sehingga mereka dapat menimpakan hukuman mati bagi Yesus dan dengan demikian berdasarkan hukum Taurat: Yesus memang terkutuk!  Ini adalah jenis ketakbersalahan yang memang kudus sebagaimana Allah sebab hanya pada Allah saja manusia tak dapat menemukan kebersalahan bahkan kalau dirancangkan sebuah konspirasi para elit untuk menciptakan kesalahan-kesalahan berat yang tak pernah dilakukan!



Pada poin ini kita menemukan satu aspek penting pada diri Yesus sebagai manusia, bahwa ketakbersalahannya bahkan tak bisa dihancurkan oleh sebuah konspirasi jahat elit, hal mana pada manusia ini tak mungkin terjadi, sampai-sampai kita bisa menjadi tak tahu sama sekali apa sebetulnya yang terjadi akibat begitu banyaknya para saksi yang saling bersilang kesaksian melawan seorang yang sedang didakwakan. Yesus berdasarkan hukum taurat dan oleh para ahli Taurat, seluruh Mahkamah Agama dan imam-imam kepala tak dapat menemukan kesalahan pada diri Yesus sehingga terkutuk berdasarkan hukum Taurat! Sehingga kita dapat mengerti dimanakah letak kuasa dan dari manakah otoritas Yesus untuk dapat melakukan hal semacam ini:

Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"


Tak ada sama sekali relasi hukum taurat terhadap  manusia dalam relasi: kebersalahan manusia yang terbukti atau menjadi corpus delicti dengan hukum taurat dan berdasarkan hal inilah Allah berinisiatif. Faktanya: inisiatif Allah telah datang dan dinyatakan pada Abraham atau ratusan tahun sebelum hukum Taurat itu sendiri datang. Karena ketakbersalahan Yesus yang memiliki legalitas dari hukum Taurat dan para ahli Taurat beserta Mahkamah Agama dan para imam kepala maka Yesus memang benar sebagaimana perkataannya yang luar biasa itu: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi- Mat 5:17-18. Ia yang dijanjikan  sebelum taurat untuk melakukan inisiatif Allah terhadap ketakberdayaan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, adalah dia yang berkuasa untuk menggenapi hukum Taurat dalam cara yang menunjukan bahwa kutuk sama sekali tak bekerja padanya, selain ia telah dibuat menjadi kutuk bagi semua manusia agar ia dapat membebaskan manusia yang percaya padanya dari kuasa kutuk:

├Kisah Para Rasul 5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.

├2Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.


Jadi memang terbukti berdasarkan taurat, ia adalah manusia mahakudus dan tak bercela sama sekali dihadapan Allah dan dihadapan iblis sebelum ia sendiri digantung pada  kayu salib dan mengalami kematian. Ini pun diberitakan dalam Surat Ibrani:

Ibrani 7:26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.


Karena itulah KEBANGKITANNYA DARI KEMATIAN BUKAN SAMA SEKALI  MENUNJUKAN barulah IA TERBUKTI BERSALAH atau barulah ia terbukti Anak Allah. Ketakbersalahannya tidak baru terbukti oleh kebangkitan, tetapi kebangkitannya adalah buah alami bahwa ia sejak sebelum mati di kayu salib tidak bersalah. Itu sebabnya ia satu-satunya manusia yang di dalam kematiannya berkuasa menaklukan kematian sebab ia telah masuk ke dalam kematian sebagai yang tak dapat ditaklukan maut di sepanjang kehidupannya:


Ibrani 2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;


Itu sebabnya kematiannya telah dinyatakan oleh para rasul, tidak sebagaimana Ulangan 21:23-24 tetapi:

Kisah Para Rasul 2:23-24 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.


Kebangkitan Yesus ada hubungannya bahwa ia berdasarkan hukum taurat dan selengkap para ahli Taurat, Mahkamah Agama, dan para imam kepala yang tak dapat menemukan kesalahan yang membuat dia adalah yang terkutuk  dalam wujud mati digantung di kayu salib selain itu merupakan tindakan Allah menyerahkannya sebagai yang kudus dari-Nya. Itu sebabnya “tak mungkin ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” Itulah dasar mengapa Allah membangkitkannya, yaitu Ia kudus sejak  sebelum datang ke dalam dunia, di dalam dunia, di dalam kematian. Karena ia kudus sekudus sebelum ia dating ke dalam dunia yang telah dibuktikan berdasarkan hukum  taurat kudus oleh ahli-ahli taurat dan mahkamah agama, maka memang tak ada dasar baginya untuk selamanya dalam kuasa maut itu. Ia satu-satunya terbukti di dalam maut di hadapan iblis dan di hadapan Allah sebagai satu-satunya manusia kudus  berdasarkan hukum Taurat kudus dan mulia.


Ini penting untuk diketahui secara benar, agar kita mengetahui bahwa Yesus Gembala Agung atas para domba atau atas setiap orang beriman kepada-Nya memang adalah dia yang mahakudus bahkan didalam kemanusiaanya. Ia, dengan  demikian, satu-satunya yang dapat menggenapi tuntutan kekudusan hingga sama sekali tak memiliki keinginan atau hasrat berdosa secara tak bercela:

Matius 5:20 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.


Dan ia satu-satunya manusia yang tak memiliki kenajisan pada dirinya sejak pada jiwanya, atau ia satu-satunya yang mahakudus dalam ia adalah manusia karena hukum kenajisan ini tak bekerja pada dirinya: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang." (Matius 15:18-20)


Pemberitaan injil bukanlah memberitakan Allah yang bercelah dihadapan iblis, bukan juga pemberitaan Yesus Sang Anak Allah yang tak berkuasa atas dosa dan kerajaan maut sehingga hanya sanggup menjadi corpus delicti atau bukti kejahatan dalam cara yang begitu janggal dalam pengajaran pendeta Dr. Erastus, sebab ketika Yesus mentaati dan menghormati Allah hingga mati dan mati di kayu salib, bukan untuk menunjukan bukti atau corpus delicti atas kejahatan iblis yang kemudian seharusnya membuktikan bahwa anak-anak Allah pun dapat menjadi corpus delicti untuk membungkam iblis,  sebab  kematian Yesus adalah misi Allah atas Anak-Nya yang tak bercela di hadapan-Nya, yang tak bercela dihadapan hukum Taurat di dunia, dan yang  tak bercela di hadapan iblis baik di atas bumi dan di dalam kerajaan maut! Agar ia dapat membebaskan manusia dari perhambaan iblis pada seumur hidup manusia.


Yesus Kristus sendiri secara publik  telah menujukan kematiannya akan terjadi sebagai yang berkuasa atas maut atau sebagai yang tak berada dibawah kutuk karena melanggar hukum Taurat dalam cara bagaimanapun juga, sebagaimana pernyataannya ini: “Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”- Mat 12:39-41; “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”- Mat 16:21”; “Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama”- Mat 27:62-64." Kematian Yesus bukan tanpa tujuan, namun bukan tujuan yang tak berdaya terhadap kematian, sebaliknya Yesus sendiri berkata: “sesudah tiga hari Aku akan bangkit.”  Ini membuktikan ia telah menyatakan dirinya sebagai yang mahakudus terhadap maut sehingga tak ada dasar bagi maut untuk menyandera dirinya selain membuktikan Yesus telah menaklukan kematian dan iblis dan menunjukan bahwa kini di dalam dirinya setiap manusia yang beriman padanya telah memiliki sebuah kehidupan yang menaklukan kuasa kematian sekalipun ia akan dan dalam kematian. Itu sebabnya Ia bersabda:

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"- Yohanes 11:25-26


Bahkan ia sendiri menyatakan sebagai yang berkuasa untuk menggembalakan setiap orang beriman untuk tidak masuk ke dalam dunia orang mati selama-lamanya tetapi ia sendiri akan membimbing  keluar setiap orang beriman untuk masuk ke dalam hidup bersamanya  bukan hidup bersama maut. Bahwa ia adalah gembala yang suaranya berkuasa membimbing saya dari kematian, Nampak dalam sabdanya berikut ini:


Yohanes 5:24-25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.


Sehingga jelas, Ia bukan hidup berjuang penuh ketaatan dan penghormatan penuh pada Allah dan mati dalam kebenaran sehingga dapat menjadi corpus delicti  bagi anak-anak Allah sehingga mereka dapat membungkam iblis. Ia dihadirkan ke dalam dunia ini bukan juga untuk menjadi seorang martir atau demi dirinya sendiri di hadapan Allah dalam rangkaian-rangkaian pembuktian diri di hadapan Allah, sehingga ia terbukti Anak Allah? Tidak demikian yang disaksikan oleh Yesus  beserta para rasulnya!


Ia, seperti dinyatakannya sendiri, datang untuk membebaskan manusia yang percaya kepada-Nya dari perhambaan dosa atau maut seumur hidupnya: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka- Yoh 8:36." Sang Kristus bukan datang ke dalam dunia ini untuk memiliki relasi dengan manusia-manusia yang mau percaya kepadanya untuk bersama-sama bekerja menjadi corpus delicti, tidak pernah demikian, sebab sejak semula Allah tak pernah punya masalah dalam keadilan peradilan-Nya terhadap…. Iblis!. Cobalah perhatikan pernyataan Yesus berikut ini bahkan sebelum ia masuk ke dalam kematiannya sendiri:

Yohanes 12:22-23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.   


Jikalau anda ingin memahami apakah benar Yesus datang untuk menjadi corpus delicti bagi anak-anak Allah, maka  teks di atas tadi merupakan kulminasi pengajaran Yesus mengenai realitas kematiannya.Perhatikan bagaimana Yesus menggambarkan kematian yang harus menimpanya: (a)Anak Manusia dimuliakan ;(b)jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah dan (c) sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Ia sedang menggambarkan kematian dan kuasa yang bekerja atau hanya bekerja jika ia mengalami peristiwa kematian, bahwa kala mati dan dikuburkan itu dialaminya sebagai dia satu-satunya manusia yang berkuasa atas kematian.


Ketika  ia berkata  jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, itu menunjukan kuasa produktivitas hidup pada dirinya sementara ia sendiri mati. Ia datang ke dalam dunia ini untuk mati  untuk menaklukan iblis, agar dapat memberikan hidup kepada siapa yang mau percaya dan menerima diri-Nya.  Begitulah relasi Yesus terhadap orang-orang beriman, bukan sebagaimana diajarkan pendeta Erastus.


Penulis Surat Ibrani telah membungkam pengajaran corpus delicti pendeta Erastus:

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya DENGAN JALAN DEMIKIAN Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut-Ibrani 2:14-15.”


Itu sebabnya tak pernah kematiannya merupakan jalan untuk menjadi corpus delicti atau jalan yang diadakan Allah untuk kepentingan diri-Nya yang  cemas atau dag-dig-dug karena bercela dihadapan iblis!



Kematiannya adalah JALAN yang akan membebaskan setiap yang percaya dari perhambaan iblis!  Untuk kepentingan manusia yang tak berdaya atas  kutuk maut berdasarkan inisiatif Allah sejak Abraham atau sejak hukum Taurat itu sendiri belum ada di dunia ini.



Bersambung ke Bagian 26



Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah

P O P U L A R - "Last 7 days"