0 Semua Yang Surga Perbolehkan: Homoseksualitas dan Makna Kasih (Cinta)- 1

Oleh : Dr. Kenneth Boa

it can’t be wrong when it feels so right…Itu tidak dapat salah ketika itu terasa begitu benar…”- Debby Boone, judul lagu dalam  You Light My Life ( 1977)



Semua Yang Surga Perbolehkan: Homoseksualitas dan Makna Kasih (Cinta)


Credit: richarddawkins.net
Sebanyak kegelisahan dan kebingungan sebagaimana pada gerakan feminis yang menguasai budaya Barat   dengan badai pada 1970-an, yang telah mendatangkan bagi orang-orang Kristen dan masyarakat secara umum,  tuntutan-tuntutan yang bahkan feminis-feminis  paling  radikal terlihat jinak dibandingkan dengan  gerakan-gerakan hak-hak homoseksual yang  mengemuka pada 1990-an. Tidak ada isu lain terlihat memprovokasi perasaan-perasaan lebih kuat didalam masyarakat daripada yang satu ini.


Sebuah kebencian yang hebat, pada faktanya, terlihat muncul ke permukaan mana kala subyek-subyek ini didisikusikan. Beberapa orang, termasuk sejumlah orang yang menyatakan diri mengikut Kristus, secara terang-terangan  membenci para pelaku  homoseksual. Mereka tidak hanya  obyek tindakan-tindakan  kekerasan yang didorong oleh kebencian, tetapi kerap dicaci  maki oleh  orang  yang jijik  dengan mereka.






Pada gilirannya, sejumlah pelaku homoseksual sama gamblangnya membenci siapapun juga, khususnya, orang-orang Kristen konservatif, yang mempertanyakan atau mengkritisi gaya hidup mereka.

Gereja-gereja Kristen dan individu-individu Kristen yang dalam tahun-tahun belakangan ini telah menjadi target-target pelecehan oleh para militan homeseksual yang berupaya untuk menyerang dan mengintimidasi orang yang  mereka pikir—secara benar atau secara salah—sebagai membenci mereka.





Memang  benar, para pelaku homoseksual yang  mendukung sebuah alternatif   gaya hidup yang lebih berani  terkadang bermusuhan terhadap para homoseksual yang   mengupayakan sesuatu yang lebih  “mainstream” sesuai dengan budaya umum.

Salah satu slogan-slogan favorit   gerakan hak-hak homoseksual dan mereka yang bersimpati dengan mereka adalah “  Benci bukan sebuah nilai keluarga.” Itu bukanlah sebuah nilai Kristen, juga. Dalam bab ini, kita  tidak  berhasrat untuk menambahkan bahan bakar  pada api kebencian setiap orang pada   mereka yang berorienstasi homoseksual. Tujuan pemikiran mengenai hal ini dan  isu etika lainnya bukan untuk memberikan  “kita” amunisi melawan “mereka,” tetapi  pertama-tama untuk memahami tanggung jawab-tanggung jawab  moral dan kemudian memampukan kita untuk berdiri bagi keyakinan-keyakinan kita dan secara tulus “mengatakan kebenaran didalam kasih” (Efesus 4:15) kepada siapapun yang akan mendengarkan.



Kasih (Cinta), Hukum, dan Seks

Kita  baru saja membicarakan mengenai  perlunya  kasih dalam etika debat atas homoseksualitas. Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang  diobsesi dengan  kasih. Lagu-lagu kita  memuliakan kasih dan  iklan-iklan  kita membuat kasih sebagai yang didambakan. Tetapi debat homoseksual, berangkali lebih daripada isu lain manapun,  mengekspos sebuah  fakta yang merepotkan tentang masyarakat kita: kita bahkan tidak setuju/sepakat  mengenai apakah kasih itu.





  • Sentral atau pusat klaim  gerakan hak-hak homoseksual adalah bahwa para gay dan lesbian seharusnya dibolehkan untuk mengasihi (menyintai) dalam cara mereka, dan itu adalah sebuah kegagalan untuk menerima mereka dan gaya hidup  mereka sebagai sebuah   bagian masyarakat  permanen dan terbuka, ini adalah sebuah kegagalan untuk mengasihi/menyintai.


  • Sentral atau pusat klaim semua mereka yang menolak homoseksualitas adalah bahwa itu adalah cara yang tak dapat diterima  untuk mengekspresikan kasih atau cinta. Sehingga, hanya meminta  setiap orang untuk “mengasihi” satu sama lain, tanpa  memiliki semacam pemahaman bersama akan apakah maknanya, tidak akan  memecahkan debat homoseksual.

Kita telah menyebutkan dalam bab 12 bahwa salah satu karunia-karunia hebat yang Telah Allah berikan kepada kita dalam  Kitab suci adalah sebuah penjelasan  jernih  makna kasih. Sebagaimana  baik Yesus dan Paulus telah tunjukan, Hukum Perjanjian Lama menspesifikasikan  sikap-sikap dan perilaku-perilaku apa yang inkonsisten dengan kasih sehingga kita tidak membodohi diri kita sendiri untuk berpikir bahwa kita sedang memperlihatkan kasih ketika sebenarnya tidak.

  • Matius 7:12
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

  • Matius 22:37-40
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

  • Roma 13:8-10
Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.  Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Ini juga telah  mengajukan instruksi positif pada bagaimana kita harus mengasihi satu sama lain dalam  pernikahan-pernikahan kita, keluarga-keluarga, persahabatan-persahabatan, dan komunitas-komunitas.



Moralitas Biblikal adalah sebuah moralitas kasih, dan tidak ada yang kurang atau lebih—tetapi ini tidak  berarti bahwa kita menyandarkan pada perasaan-perasaan kita untuk menentukan apakah  makna kasih bagi kita. Sebaliknya, bila kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, yang adalah kasih ( 1 Yohanes 4:7-8), dan yang harus dikasihi dalam  cara yang Tuhan katakana pada kita. Kita  menjaga aturan-aturan Allah karena, sebagai anak-anak-Nya, kita tahu bahwa dia membuat aturan-aturan untuk kebaikan kita. Yesus telah berkata bahwa mereka yang mengasihi dia  melakukan perintah-perintah-Nya ( Yohanes 14:15, 21; 15:10).



  • Yohanes 14:15,21
Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."


  • Yohanes 15:10
Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.




Jika kita gagal melihat  prinsip kasih bekerja dalam  perintah-perintah tertulis dalam Alkitab, maka kita  harus menyelaraskan gagasan kita akan kasih.

Dalam Perjanjian Baru, contoh tertinggi  kasih dalam tindakan diberikan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang dikasihi. Yesus memperlihatkan pada kita bagaimana  mengasihi mereka yang mana masyarakat kita terlihat tidak dapat mengasihi, apakah hal itu  berdasarkan pada tindakan-tindakan mereka ( seperti  para pemungut pajak dan  mereka yang tidak bermoral dalam seksualitas) atau melalui apa yang bukan merupakan tanggungjawabnya  ( seperti para penderita kusta dan Orang-orang yang terlahir non Yahudi).

  • Mereka yang dalam penderitaan  hebat  bukan karena dosa mereka sendiri untuk memperlihatkan belas kasihan dan kebaikan.

Markus 1:40-41
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."

  • Mereka yang berbuat dosa   dan yang mengenali dosa-dosa mereka, kita  harus menawarkan sebuah kesempatan untuk  pertobatan dan untuk memperlihatkan pada mereka belas kasih dan pengampunan yang lembut.

Matius 9:11-13
Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. adi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." ( Juga lihat Lukas 15:1-32).



  • Mereka yang  berdosa dan yang dengan bangganya menyangkali dosa-dosa mereka, kita harus meninggalkan mereka dalam kebutaan  mereka.

Matius 10:14-15
Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."


Yohanes 9:40-41
Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."



Relevansi prinsip-prinsip ini  terhadap kontroversi homoseksualitas  harusnya  menjadi jelas. Jika kitab suci mengajarkan bahwa tindakan-tindakan homoseksual salah, maka kita tidak dapat menutupi  fakta atau menahan deklarasi  kehendak  moral Allah dalam  soal ini, lebih daripada  kita seharusnya dalam hal-hal lain. Tetapi  sasaran-sasaran yang hendak  dicapai sebagai orang-orang Kasih tidak boleh semata mengecam para homoseksual, tetapi mengulurkan tangan kita kepada mereka dan menawarkan mereka kasih, pengampunan, dan penyembuhan rohani dan moral yang Yesus juga telah lakukan  pada kita.



Mereka yang bertindak sebagai juru-juru bicara gereja Kristen, apakah sebagai guru-guru atau penulis-penulis atau penginjil-penginjil, harus memperjelas ini ketika mereka berbicara mengenai homoseksualitas, bahwa dosa  seksual  pada intinya adalah sebuah  masalah universal pada ras manusia. Tidak hanya semata homoseksualitas, atau bahkan paling dominan, bentuk dosa seksual dalam masyarakat kita. Karena setiap orang  yang  secara teratur terlibat dalam tindakan-tindakan homoseksual, ada sedikitnya lima ( dan berangkali lebih) yang secara regular terlibat dalam perzinahan atau dosa-dosa “heteroseksual” lainnya.

Sangat sukar bagi orang dewasa manapun di Amerika saat ini, kelihatannya, dapat secara jujur mengklaim memiliki  hidup yang sepenuhnya menjauhi hubungan seksual di luar  lembaga pernikahan. (Kadang-kadang terlihat hampir tidak ada siapapun yang bahkan mengetahui apa makna “tidak melakukan  hubungan seksual diluar  pernikahan!). Lebih serius lagi, sebagian besar mayoritas orang-orang   yang melakukan kejahatan seks—perkosaan, hubungan seks sedarah, dan hal semacam ini—adalah laki-laki. Mengabaikan fakta-fakta ini ketika berurusan dengan  homoseksualitas , menyembunyikan kebenaran dalam diskusi dan  menghalangi  kritisme-kritisme yang berdasar atas gaya hidup dan gerakan homoseksualitas  untuk terdengar.


Pada sisi lain, ada mereka yang percaya  yang secara keseluruhan terlampau banyak perhatian telah diberikan dalam etika-etika Kristen terhadap masalah-masalah seksual.


Mereka menunjukan bahwa Yesus  tidak mengatakan apapun tentang homoseksualitas, sangat sedikit mengenai seks sama sekali, dan  Yesus telah banyak berbicara   tentang ketamakan, kemunafikan, dan  dosa-dosa lain yang senantiasa  ada pada orang-orang paling religius di masa itu. Bishop Episkopal John Shelby Spong, misalnya, telah menuliskan:

Compared to the sin of idolatry, for example, or to the ritual details of temple worship, the time spent on homosexuality by the biblical authors is minuscule. There is not one reference to homosexuality in any of the four Gospels. The argument from silence is not a powerful one, but it does suggest that those who consider this “the most heinous sin” must be terribly disturbed that our Lord appears either to have ignored it completely or to have said so little on the subject that no part of what he said was remembered or recorded.

[=dibandingkan dengan dosa pemberhalaan, atau pada detail-detail  ritual kuil  pemujaan, waktu diluangkan pada homoseksualitas oleh penulis-penulis biblikal amat kecil. Tidak ada satu rujukan  pada homoseksualitas dalam salah satu dari empat Injil. Argumen dari kesunyian  bukanlah sebuah argument yang  manjur, tetapi itu memang menganjurkan bahwa mereka yang menganggap  ini “ dosa  yang paling jahat” pastilah menjadi sangat terganggu luar biasa bahwa Tuhan kita muncul biak untuk mengabaikannya sepenuhnya atau mengatakan sedemikian  kecil pada subyek dimana tidak ada bagian dari  apa yang telah dikatakan diingat atau telah dicatat.  - John Shelby Spong, Living in Sin? A Bishop Rethinks Human Sexuality (New York: HarperCollins — Harper San Francisco, 1990), 135-36.]





Meskipun  pernyataan-pernyataan faktual yang diutarakan Spong tentang  kurangnya penekanan pada homoseksualitas dalam Alkitab dan kesunyian Yesus dalam Injil-Injil pada dasarnya memang benar,  dia  harus berhati-hati  mendasarkan   konklusi-konklusi moral pada penekanan relatif  pada porsi-porsi tertentu dalam Kitab suci. 



Sebagai contoh, hanya satu dari sepuluh  Perintah mengenai seks ( dua jika anda  memperhitungkan   cukup menyeluruh untuk   mencakupnya, perintah ke sepuluh  yang melarang  menginginkan milik orang lain), tetapi juga hanya ada satu perintah    tentang  menghormati hidup. Bahkan jika kita memutuskan bahwa  perintah  jangan  membunuh adalah lebih penting daripada perintah yang melarang perzinahan ( atau, katakanlah, bersaksi palsu),  semua ini membawa otoritas ilahi yang sama. Allah hanya harus berkata “tidak” sekali untuk sesuatu yang memang salah!



Meskipun  memang benar bahwa Yesus tidak pernah menyebutkan homoseksualitas dalam Injil-Injil, kesunyian ini tidakmenganjurkanapapun kecuali, berangkali, bahwa subyek ini bukanlah isu kontroversial antara Yesus dan para pemimpin Yahudi—yang akan menyiratkan, pada gilirannya, bahwa dia telah setuju dengan  penilaian mereka bahwa tindakan homoseksual adalah  berdosa.



"Hubungan seks dengan anak dibawah umur"

Karena    alasan yang sama ini, Injil-Injil tidak mencatat Yesus mengomentari keberdosaan mempersembahkankan anak sebagai korban, hubungan seks dengan binatang, hubungan seks dengan anak –dibawah umur,dan berbagai variasi perilaku seksual lainnya.


Orang akan  mempertanyakan  Spong ini memiliki validitas apapun untuk  berpikiran bahwa karena Yesus tidak berkata apapun tentang hubungan seks dengan binatang, hubungan jenis ini tidak sama sekali sebuah dosa yang mengerikan!



Bahwa Yesus telah memandang dosa seksual sebagai sebuah masalah serius telah dinyatakan jelas oleh  fakta bahwa dua dari  6 subyek dalam koreksi  Yesus  atas etika Farisi dalam Khotbah Bukit ( Matius 5:21-49) bertalian dengan hubungan pernikahan ( Matius 5:27-32; bandingkan dengan Matius 19:3-12).


  • Matius 5:27-32
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.



Dalam banyak kasus, protes Spong , bahwa homoseksualitas  mungkin tidak seberbahaya seperti yang dipikirkan “orang-orang Kristen pemercaya Alkitab” bukanlah pernyataan yang tulus, karena dia berpikir  homoseksual bukan dosa sama sekali.




Paulus mengulas   lebih kerap dibandingkan dengan Yesus ( menilainya pada Injil-Injil)  dengan isu-isu terkait dengan seksualitas:

  • Roma 1:24-27
Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.  Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

  • Roma 2:22
Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?

  • Roma 13:9,13-14
Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!...  Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.


  • Galatia 5:19
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,


  • Efesus 4:19
Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.


  • Efesus 5:3-5
Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.  Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.


  • Kolose 3:5
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

  • 1 Tesalonika 4:3-5
Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,  upaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,

  • 1 Korintus 5:1-13; 6:9-7:40.


Sementara rujukan-rujukan ini  cukup banyak untuk memperlihatkan bahwa Paulus  berpendapat masalah ini  sama pentingnya, semuanya ini tidak  mendominasi pengajaran etikanya hingga pada sebuah  derajat bahwa dia dapat dituding menjadi obsesif dengan masalah-masalah seksual. Sejauh dia menyampaikannya dimana Paulus memberikan   lebih banyak perhatian ketimbang apa yang   telah dilakukan Yesus, alasannya berangkali bahwa orang-orang  Non Yahudi yang  telah menjadi percaya secara khusus lemah didalam area ini.



Ini mungkin  menjadi hal yang diyakini dimana para penganjur gaya hidup homoseksualitas akan begitu saja menolak pengajaran Alkitab pada soal bahwa ini tidak diajarkan. Meskipun memang benar, pada faktanya banyak orang-orang homoseksual dan orang-orang lain yang mempertahankan  klaim gaya hidup mereka  bahwa Alkitab tidak memberikan pengecaman  homoseksualitas  sebenderang  orang-orang Kristen pada umumnya  mengklaim.



Memang benar, ada sebuah komunitas signifikan hari ini yang mengku orang-orang Kristen—beberapa bahkan menganggap diri mereka sebagai Injili— yang secara terbuka mengaku sebagai orang-orang   bergaya hidup homoseksualitas. Kita, kemudian, tidak dapat semata mengasumsikan pemahaman kita atas Alkitab pada pertanyaan ini, tetapi  harus   bersiap untuk memperlihatkan apa yang  sesungguhnya Alkitab katakana mengenai homoseksualitas dan  untuk menjawab argumen-argumen yang  digunakan untuk  melawan interpretasi tradisional  pengajaran Alkitab.



Bersambung ke Bagian 2: Apa yang Alkitab Katakan



All That Heaven Allows: Homosexuality and the Meaning of Love |diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"