0 IMAN ADALAH ANUGERAH ALLAH (1)

Oleh :  Pdt. Budi Asali, M.Div





IMAN ADALAH ANUGERAH ALLAH (1)



Iman merupakan pemberian / anugerah Allah

Ada banyak ayat yang menunjukkan bahwa ‘iman’ (bukankemampuan untuk beriman’!) memang merupakan pemberian / anugerah Allah kepada kita. Mari kita melihat ayat-ayat tersebut.

1.   Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Catatan: kata ‘itu’ (Yunani: TOUTO) sebetulnya hanya muncul dalam ay 8; yang dalam ay 9 sebetulnya tidak ada.

Tetapi ada banyak pro dan kontra tentang apakah kata ‘itu’ menunjuk pada ‘keselamatan’, atau kepada ‘iman’.

  • Adam Clarke (tentang Ef 2:8): “But whether are we to understand, faith or salvation as being the gift of God? This question is answered by the Greek text: tee gar chariti este sesoosmenoi dia tees pisteoos; kai touto ouk ex humoon; Theou to dooron, ouk ex ergoon; hina mee tis kaucheeseetai. ‘By this grace ye are saved through faith; and THIS (touto, this salvation) not of you; it is the gift of God, not of works: so that no one can boast.’ ‘The relative touto, this, which is in the neuter gender, cannot stand for pistis, faith, which is the feminine; but it has the whole sentence that goes before for its antecedent.’” (= Tetapi apakah kita harus mengerti, iman atau keselamatan sebagai pemberian / karunia dari Allah? Pertanyaan ini dijawab oleh teks  bahasa Yunaninya: tee gar chariti este sesoosmenoi dia tees pisteoos; kai touto ouk ex humoon; Theou to dooron, ouk ex ergoon; hina mee tis kaucheeseetai. ‘Oleh kasih karunia ini kamu diselamatkan melalui iman; dan INI (TOUTO, keselamatan ini) bukan dari kamu; itu adalah karunia / pemberian Allah, bukan dari pekerjaan / perbuatan baik: sehingga tak seorangpun bisa bermegah’. ‘Kata TOUTO, ini, yang ada dalam jenis kelamin netral, tidak bisa berarti / menunjuk pada PISTIS, ‘iman’, yang adalah feminin / perempuan; tetapi itu mempunyai seluruh kalimat yang ada sebelumnya sebagai penggantinya’.).
Catatan: dalam terjemahan LAI kata ‘ini’ yang dibicarakan oleh Adam Clarke diterjemahkan ‘itu’.

  • Barnes’ Notes (tentang Ef 2:8): “‘And that not of yourselves.’ That is, salvation does not proceed from yourselves. The word rendered ‘that’ - touto - is in the neuter gender, and the word ‘faith’ - pistis - is in the feminine. The word ‘that,’ therefore, does not refer particularly to faith, as being the gift of God, but to ‘the salvation by grace’ of which he had been speaking. This is the interpretation of the passage which is the most obvious, and which is now generally conceded to be the true one; see Bloomfield. Many critics, however, as Doddridge, Beza, Piscator, and Chrysostom, maintain that the word ‘that’ touto refers to ‘faith’ pistis; and Doddridge maintains that such a use is common in the New Testament. As a matter of GRAMMAR this opinion is certainly doubtful, if not untenable; but as a matter of THEOLOGY it is a question of very little importance.” [= ‘Dan itu bukan dari dirimu sendiri’. Artinya, keselamatan tidak keluar / dihasilkan dari dirimu sendiri. Kata yang diterjemahkan ‘itu’ - TOUTO - ada dalam jenis kelamin netral, dan kata ‘iman’ - PISTIS - ada dalam jenis kelamin feminin / perempuan. Karena itu, kata ‘itu’ tidak menunjuk secara khusus kepada ‘iman’, sebagai pemberian / karunia dari Allah, tetapi kepada ‘keselamatan oleh kasih karunia’ tentang mana ia telah berbicara. Ini adalah penafsiran dari text yang adalah paling jelas, dan yang sekarang pada umumnya diakui sebagai penafsiran yang benar; lihat Bloomfield. Tetapi banyak pengkritik, seperti Doddridge, Beza, Piscator, dan Chrysostom, mempertahankan bahwa kata ‘itu’ (TOUTO) menunjuk kepada ‘iman’ (PISTIS); dan Doddridge mempertahankan bahwa penggunaan seperti itu adalah umum dalam Perjanjian Baru. Sebagai suatu persoalan gramatika pandangan ini pastilah meragukan, jika bukannya tidak bisa dipertahankan; tetapi sebagai persoalan theologia itu adalah suatu pertanyaan yang tidak penting.]


  • A. T. Robertson (tentang Ef 2:8): “‘And that’ kai ‎‎touto. Neuter, not feminine tautee, and so refers not to pistis (feminine) or to charis (feminine also), but to the act of being saved by grace conditioned on faith on our part.” [= ‘Dan itu’ KAI TOUTO. Netral, bukan feminin / perempuan TAUTEE, dan dengan demikian tidak menunjuk pada PISTIS (feminin / perempuan) atau pada KHARIS (juga feminin / perempuan), tetapi pada tindakan diselamatkan oleh kasih karunia yang disyaratkan pada iman pada pihak kita.].

Ef 2:8 - “Sebab karena kasih karunia (KHARIS - feminine)  kamu diselamatkan oleh iman (PISTIS - feminine) - ; itu (TOUTO - netral) bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,”.

  • Lenski (tentang Ef 2:8): “The neuter τοτο does not refer to πίστις or to χάρις, both of which are feminine, but to the divine act of saving us” (= Kata TOUTO yang berjenis kelamin netral tidak menunjuk pada PISTIS atau pada KHARIS, yang keduanya ada dalam jenis kelamin feminin / perempuan, tetapi pada tindakan ilahi menyelamatkan kita).

Kesimpulan / pandangan saya tentang Ef 2:8: sekalipun masih memungkinkan untuk menggunakan Ef 2:8 sebagai dasar untuk mengatakan bahwa iman adalah anugerah / pemberian Allah, tetapi mengingat perdebatan yang begitu hebat dalam persoalan itu, dan juga kuatnya argumentasi dari pihak lawan, maka saya berpendapat lebih baik kita tidak menggunakan ayat ini dalam menekankan bahwa iman adalah anugerah / pemberian Allah. Ada ayat-ayat lain yang jauh lebih kuat untuk menekankan hal itu, dan tanpa ada kemungkinan untuk diperdebatkan dalam artinya.


-

2.   Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”.


Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini.
  • KJV: ‘For unto you it is given in the behalf of Christ, not only to believe on him, but also to suffer for his sake;’ (= Karena kepadamu diberikan demi kepentingan Kristus, bukan hanya untuk percaya kepadaNya, tetapi juga untuk menderita demi kepentinganNya;).

  • RSV: ‘For it has been granted to you that for the sake of Christ you should not only believe in him but also suffer for his sake,’ (= Karena telah diberikan kepadamu bahwa untuk kepentingan Kristus kamu bukan hanya harus percaya kepadaNya tetapi juga menderita demi kepentinganNya,).

  • NIV: ‘For it has been granted to you on behalf of Christ not only to believe on him, but also to suffer for him,’ (= Karena telah diberikan kepadamu demi kepentingan Kristus bukan hanya untuk percaya kepadaNya, tetapi juga untuk menderita untuk Dia).

  • NASB: ‘For to you it has been granted for Christ’s sake, not only to believe in Him, but also to suffer for His sake,’ (= Karena kepadamu telah diberikan demi kepentingan Kristus, bukan hanya untuk percaya kepadaNya, tetapi juga untuk menderita demi kepentinganNya,).


Pertama-tama: karena adanya kata-kata ‘demi kepentingan Kristus’ atau ‘demi Kristus’ dalam Kitab Suci - Kitab Suci bahasa Inggris, maka saya merasa perlu menjelaskan arti istilah itu di sini.

  • Barnes’ Notes (tentang Fil 1:29): “‘In the behalf of Christ.’ In the cause of Christ, or with a view to honor Christ. Or, these things are brought on you in consequence of your being Christians.” (= ‘Demi kepentingan Kristus’. Dalam perkara Kristus, atau dengan suatu pandangan untuk menghormati Kristus. Atau, hal-hal ini dibawa kepadamu sebagai konsekwensi dari menjadinya kamu sebagai orang-orang Kristen.).
Catatan: kata-kata bagian akhir (yang saya garis-bawahi) rasanya tak masuk akal. Kalau ‘penderitaan’, memang bisa merupakan konsekuensi dari menjadi Kristennya seseorang. Tetapi bagaimana mungkin ‘percaya kepada Kristus’ merupakan konsekuensi dari menjadi Kristennya seseorang?



Sekarang kita melihat bahwa ayat ini mengatakan bahwa baik percaya kepada Kristus (iman) maupun penderitaan bagi Dia, merupakan karunia / pemberian dari Allah kepada kita (orang-orang percaya). Saya tak membahas tentang penderitaan pada saat ini. Jadi saya hanya menekankan bahwa ayat ini menyatakan bahwa iman adalah pemberian Allah.

  • Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,”.

Kedua: sekarang mari kita perhatikan kata ‘dikaruniakan’. Apa artinya?

  • Ralph P. Martin (Tyndale) tentang Fil 1:29: “‘It has been granted,’ echaristhē, is derived from charis, ‘grace’, ‘favour’. ... So the Philippians were called, not only to the privilege of believing in him - the ability to believe and the act of faith being itself a gift of God - but equally to endure privation and pain for him, as did the apostle himself (2 Cor. 1:5; 12:10).” [= ‘Itu telah diberikan / dianugerahkan / dikaruniakan’, EKHARISTHE, diturunkan dari KHARIS, ‘kasih karunia’, ‘kebaikan’. ... Jadi / maka, orang-orang Filipi dipanggil, bukan hanya pada hak untuk percaya kepadaNya - kemampuan untuk percaya dan tindakan iman itu sendiri merupakan suatu karunia / pemberian dari Allah - tetapi secara sama untuk menanggung / menahan kemiskinan dan rasa sakit untuk Dia, seperti yang dilakukan sang rasul sendiri (2Kor 1:5; 12:10)] - Libronix.

Catatan: kata Yunani EKHARISTHE berasal dari kata kerja cari,zomai (KHARIZOMAI) yang salah satu artinya adalah ‘to give freely’ (= memberi dengan cuma-cuma) - Bible Works 7.

  • Pulpit Commentary (tentang Fil 1:29): “On you it was conferred (e)xari/sqh) as a gracious gift, a free spontaneous act of Divine bounty. Faith in Christ is the gift of God, so is ‘the fellowship of his sufferings.’” [= Kepadamu diberikan / dianugerahkan (e)xari/sqh / EKHARISTHE) sebagai suatu karunia yang murah hati / bersifat kasih karunia, suatu tindakan spontan yang bebas dari hadiah / karunia Ilahi. Iman kepada Kristus adalah pemberian / karunia dari Allah, demikian juga ‘persekutuan dalam penderitaanNya’.].


Jadi, ayat ini secara sangat jelas dan tak terhindarkan menunjukkan bahwa ‘iman’ (kepercayaan kepada Kristus) merupakan karunia / pemberian cuma-cuma dari Allah. Perhatikan bahwa Fil 1:29 ini tidak mengatakan bahwa yang dikaruniakan adalah ‘kemampuan untuk beriman’, tetapi ‘iman’ itu sendiri! Kalau memang demikian, apakah kita, dengan menggunakan kehendak bebas kita, yang memilih untuk percaya atau tidak percaya kepada Kristus? Apakah ajaran ini, yang merupakan ajaran Arminian, sesuai dengan Fil 1:29 ini? Kalau kita percaya karena kita menghendaki untuk percaya, apakah iman itu bisa disebut sebagai pemberian Allah? Kalau yang dikaruniakan hanyalah ‘kemampuan untuk beriman’ maka memang orang yang dikaruniai itu bisa saja tetap tidak mau beriman.

Tetapi kalau yang dikaruniakan itu adalah ‘iman’ itu sendiri, bagaimana mungkin orang yang dikaruniai itu bisa tidak beriman? Dan ini secara pasti dan jelas mengarah pada doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak)!

  • Calvin (tentang Fil 1:29): “Here Paul clearly testifies, that faith, as well as constancy in enduring persecutions, is an unmerited gift of God. ... This passage is also at variance with the doctrine of the schoolmen, in maintaining that gifts of grace latterly conferred are rewards of our merit, on the ground of our having made a right use of those which had been previously bestowed.” (= Di sini Paulus dengan jelas menyaksikan, bahwa iman, maupun kekonstanan dalam menahan penganiayaan, adalah suatu karunia Allah yang tidak layak kita terima. ... Text ini juga bertentangan dengan ajaran dari guru-guru theologia abad pertengahan, dalam mempertahankan bahwa karunia-karunia dari kasih karunia yang diberikan belakangan adalah pahala / upah dari jasa kita, berdasarkan penggunaan kita yang benar terhadap hal-hal yang telah diberikan lebih dulu.).
Catatan: kata-kata Calvin yang saya beri garis bawah ganda jelas merupakan serangannya terhadap ajaran Arminian / Semi Pelagianisme.

  • William Hendriksen (tentang Fil 1:29): “Says Paul, ‘For to you it has been granted in behalf of Christ not only to believe in him but also to suffer in his behalf.’ It has been granted to you, says Paul; that is, as a privilege, a gift of God’s grace. ... to believe in him, that is, to rest on Christ, surrendering oneself to his loving heart, depending on his accomplished mediatorial work. The form of the expression as used in the original shows that here genuine, personal trust in the Anointed One is meant. ... Whether or not one regards Eph. 2:8 as proof for the proposition that such faith is God’s gift, the conclusion is at any rate inescapable that here in Phil. 1:29 faith - not only its inception but also its continued activity - is so regarded. It is at one and the same time God’s gift and man’s responsibility.” [= Kata Paulus, ‘Karena kepadamu telah dikaruniakan untuk kepentingan Kristus / demi Kristus bukan hanya untuk percaya kepadaNya tetapi juga untuk menderita demi kepentinganNya / demi Dia’. Itu telah dikaruniakan kepadamu, kata Paulus; yaitu, sebagai suatu hak, suatu karunia dari kasih karunia Allah. ... percaya kepada Dia, yaitu bersandar kepada Kristus, penyerahan diri sendiri kepada hatiNya yang mengasihi, bergantung pada pekerjaan pengantaraanNya yang sudah selesai. Bentuk dari ungkapan seperti yang digunakan dalam bahasa aslinya menunjukkan bahwa di sini yang dimaksudkan adalah kepercayaan / tindakan mempercayakan (trust) yang asli / sungguh-sungguh dan bersifat pribadi kepada Yang Diurapi. ... Apakah seseorang menganggap Ef 2:8 sebagai bukti untuk persoalan bahwa iman seperti itu adalah karunia / pemberian Allah atau tidak, bagaimanapun juga kesimpulannya yang tak terhindarkan adalah bahwa di sini dalam Fil 1:29, iman - bukan hanya permulaannya, tetapi juga aktivitas selanjutnya - dianggap seperti itu. Itu adalah pada saat yang sama karunia Allah dan tanggung jawab manusia.].


  • Jamieson, Fausset & Brown (tentang Fil 1:29): Faith is the gift of God (Eph 2:8), not worked in the soul by the will of man, but by the Holy Spirit (John 1:12-13).” [= Iman adalah pemberian / karunia dari Allah (Ef 2:8), tidak dikerjakan dalam jiwa oleh kehendak dari manusia, tetapi oleh Roh Kudus (Yoh 1:12-13)].

Yoh 1:12-13 - “(12) Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; (13) orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”.


3.   Kis 11:18 - “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: ‘Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.’”.

Perhatikan bagian yang saya beri garis bawah ganda.
KJV/RSV/NIV/Lit: ‘repentance unto life’ (= pertobatan kepada / menuju hidup).

Kata ‘repentance’ (= pertobatan) di sini pasti tidak menunjuk pada pertobatan dari dosa, karena:
a.   Kalau dilihat dari konteksnya, ini menunjuk pada percayanya Kornelius kepada Kristus dalam Kis 10. Jadi, kata itu harus diartikan menunjuk kepada iman.
b.  Kalau kata itu diartikan sebagai pertobatan dari dosa, maka kata-kata selanjutnya yaitu ‘yang memimpin kepada hidup’ akan menjadikan seluruh ayat mengajarkan doktrin sesat ‘keselamatan karena perbuatan baik’.

  • Calvin (tentang Kis 11:18): “This member, to give repentance, may be expounded two manner of ways; either that God granted to the Gentiles place for repentance, when as he would have his gospel preached to them; or that he circumcised their hearts by his Spirit, as Moses saith, (Deuteronomy 30:6,) and made them fleshy hearts of stony hearts, as saith Ezekiel, (Ezekiel 11:19.) For it is a work proper to God alone to fashion and to beget men again, that they may begin to be new creatures; and it agreeth better with this second sense; it is not so much racked, and it agreeth better with the phrase (phraseology) of Scripture.” [= Bagian ini, memberi pertobatan, bisa dijelaskan dengan dua cara; atau bahwa Allah memberikan kepada orang-orang non Yahudi tempat untuk pertobatan, pada waktu Ia memerintahkan injilNya diberitakan kepada mereka; atau bahwa Ia menyunat hati mereka oleh RohNya, seperti dikatakan Musa, (Ul 30:6), dan membuat hati keras mereka menjadi hati dari daging, seperti dikatakan Yehezkiel (Yeh 11:19). Karena adalah suatu pekerjaan yang hanya cocok untuk Allah saja untuk membentuk dan melahirkan manusia lagi, supaya mereka bisa mulai menjadi makhluk-makhluk / ciptaan-ciptaan baru; dan itu sesuai dengan lebih baik dengan arti kedua ini; itu tidak begitu menyakiti (?), dan itu lebih sesuai dengan ungkapan (cara penyusunan / pengungkapan) dari Kitab Suci.].
Catatan: kelihatannya Calvin mencampur-adukkan iman / pertobatan dengan kelahiran baru, mungkin karena iman tidak mungkin terjadi kalau tak ada kelahiran baru. Tetapi yang jelas ia mengatakan bahwa Allahlah yang melakukan hal itu.

  • Ul 30:6 - “Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.”.
  • Yeh 11:19 - “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,”.
  • Yeh 11:19 (KJV): ‘And I will give them one heart, and I will put a new spirit within you; and I will take the stony heart out of their flesh, and will give them an heart of flesh:’ (= Dan Aku akan memberi mereka satu hati, dan Aku akan meletakkan suatu roh yang baru di dalam kamu; dan Aku akan mengambil / mengeluarkan hati yang keras dari daging mereka, dan akan memberi mereka suatu hati dari daging).

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 11:18): To ‘grant’ this is something more than what Grotius makes it, to be willing to grant pardon upon repentance. The case of Cornelius was so manifestly one of grace reigning in every stage of his religious history, that we can hardly doubt that this very thing was meant to be conveyed here; and this is just the grace that reigns in every real conversion.” (= ‘Mengaruniakan’ ini adalah sesuatu yang lebih dari pada apa yang Grotius buat dengannya, mau untuk  mengaruniakan pengampunan atas pertobatan. Kasus Kornelius adalah kasus yang dengan begitu jelas tentang kasih karunia yang bertakhta dalam setiap tahap dari sejarah agamawinya, sehingga kita tidak bisa meragukan bahwa hal inilah yang dimaksudkan untuk disampaikan di sini; dan inilah persisnya kasih karunia yang bertakhta dalam setiap pertobatan yang sejati.).
Catatan: pandangan Grotius, yang saya beri garis bawah ganda, jelas merupakan pandangan tolol yang dipaksakan. Kis 11:18 itu mengatakan bahwa ‘Allah mengaruniakan pertobatan’, tetapi Grotius mengartikan ‘Allah mau mengaruniakan pengampunan kalau orangnya bertobat’, yang tentu saja merupakan dua hal yang sangat berbeda!



4.   Ibr 12:2 - “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”.
Kata-kata yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.
KJV: ‘Jesus the author and finisher of our faith’ (= Yesus pencipta dan penyelesai dari iman kita).
RSV: ‘Jesus the pioneer and perfecter of our faith’ (= Yesus pelopor dan penyempurna dari iman kita).
NIV: ‘Jesus, the author and perfecter of our faith’ (= Yesus, pencipta dan penyempurna dari iman kita).
NASB: ‘Jesus, the author and perfecter of faith’ (= Yesus, pencipta dan penyempurna dari iman).

Sesuatu yang perlu diperhatikan adalah bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘author’ (= pencipta) oleh KJV/NIV/NASB adalah ARKHEGON, yang mengandung kata Yunani ARKHE, yang biasanya diterjemahkan ‘beginning’ (= permulaan / pemulai), tetapi juga bisa diartikan sebagai ‘source’ (= sumber), atau ‘origin’ (= asal usul / asal mula).


  • Barnes’ Notes (tentang Ibr 12:2): “The word ‘author’ - archeegon - (marg. beginner) - means properly the source, or cause of anything; or one who makes a beginning. ... The phrase ‘the beginner of faith,’ or the leader on of faith, would express the idea. He is at the head of all those who have furnished an example of confidence in God, for he was himself the most illustrious instance of it. The expression, then, does not mean properly that he produces faith in us, or that we believe because he causes us to believe - whatever may be the truth about that - but that he stands at the head as the most eminent example that can be referred to on the subject of faith. ... The word ‘finisher’ - teleiooteen - corresponds in meaning with the word ‘author.’ It means that he is the completer as well as the beginner; the last as well as the first.” [= Kata ‘pencipta’ - ARKHEGON - (catatan tepi - pemulai) - secara tepat berarti sumber, atau penyebab dari apapun; atau seseorang yang membuat suatu pemulaian. ... Ungkapan ‘pemulai dari iman’, atau pemimpin dari iman, menyatakan gagasan / artinya. Ia adalah kepala dari semua mereka, yang telah memberikan suatu teladan tentang keyakinan kepada Allah, karena Ia sendiri adalah contoh yang paling menonjol darinya. Maka, ungkapan itu secara tepat tidak berarti bahwa Ia menghasilkan iman di dalam kita, atau bahwa kita percaya karena Ia menyebabkan kita untuk percaya - apapun adanya kebenaran tentang itu - tetapi bahwa Ia berdiri sebagai kepala seperti contoh yang paling menonjol yang bisa ditunjukkan dalam persoalan tentang iman. ... Kata ‘penyelesai’ - TELEIOTEN - sesuai / cocok dalam arti dengan kata ‘pencipta’. Itu berarti bahwa Ia adalah penyempurna maupun pemulai; yang terakhir maupun yang pertama.].
Catatan: saya hanya menekankan bagian yang saya garis-bawahi. Bagian tengah dari kutipan kata-kata Barnes ini bagi saya sangat tidak masuk akal, dan bertentangan dengan bagian yang saya garis-bawahi. Itu juga secara tepat dibantah oleh kata-kata Abraham Kuyper di bawah ini.


  • Abraham Kuyper: “Hence it may not be said that Jesus had saving faith. For Jesus was no sinner, and therefore could not have ‘that assured confidence that not only to others, but to Him also, was given the righteousness of the Mediator.’ We have only to connect the name of Jesus with the clear and transparent description of saving faith by the Heidelberg Catechism to show how foolish it is for the Ethical theologians to explain the words, ‘Jesus, the Author and Finisher of our faith,’ as tho He had saving faith like every child of God. Hence saving faith is unthinkable in heaven. Faith is saving; and he that is saved has obtained the end of faith. He no longer walks by faith, but by sight. It should therefore be thoroughly understood that saving faith refers only to the sinner, and that Christ in the garments of the Sacred Scripture is its only object.” (= Maka tidak bisa / tidak boleh dikatakan bahwa Yesus mempunyai iman yang menyelamatkan. Karena Yesus bukan orang berdosa, dan karena itu tidak bisa mempunyai ‘keyakinan yang pasti itu yang bukan hanya kepada orang-orang lain, tetapi kepada Dia juga, diberikan kebenaran dari sang Pengantara.’ Kita hanya harus menghubungkan nama Yesus dengan penggambaran yang jelas dan nyata tentang iman yang menyelamatkan oleh Katekismus Heidelberg untuk menunjukkan betapa bodohnya bagi ahli-ahli theologia Etika untuk menjelaskan kata-kata ‘Yesus, Pencipta dan Penyelesai dari iman kita’ seakan-akan Ia mempunyai iman yang menyelamatkan seperti setiap anak Allah. Jadi, iman yang menyelamatkan merupakan sesuatu yang tak terpikirkan di surga. Iman itu menyelamatkan; dan ia yang sudah selamat (maksudnya ‘sudah masuk surga’) telah memperoleh tujuan dari iman. Ia tidak lagi berjalan dengan iman, tetapi dengan penglihatan. Karena itu, harus dimengerti secara teliti / sepenuhnya bahwa iman yang menyelamatkan hanya menunjuk kepada orang berdosa, dan bahwa Kristus dalam pakaian dari Kitab Suci yang Kudus adalah satu-satunya obyeknya.) - ‘The Work of the Holy Spirit’, hal 397.

Ro 8:24 - “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?”.

Ibr 11:1 - “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”.
Dari dua ayat di atas jelaslah bahwa kalau kita sudah di surga, dan sudah melihat semuanya, maka tidak ada lagi iman!



  • John Owen (tentang Ibr 12:2): “he works it in us, or bestows it on us, by his Spirit, in the beginning and all the increases of it from first to last. Hence his disciples prayed unto him, ‘Lord, increase our faith,’ Luke 17:5. ... So he is the ‘author’ or beginner of our faith, in the efficacious working of it in our hearts by his Spirit; and ‘the finisher’ of it in all its effects, in liberty, peace, and joy, and all the fruits of it in obedience: for ‘without him we can do nothing.’” [= Ia mengerjakannya (iman) di dalam kita, atau memberikannya kepada kita, oleh RohNya, pada mulanya / awalnya dan semua peningkatannya / pertumbuhannya dari pertama sampai akhir. Karena itu murid-muridNya berdoa kepadaNya, ‘Tuhan, tambahkanlah iman kami’, Luk 17:5. ... Jadi, Ia adalah ‘pencipta’ atau pemulai dari iman kita, dalam pekerjaan yang mujarab tentangnya dalam hati kita oleh RohNya; dan ‘penyelesai’ darinya dalam semua hasil-hasilnya, dalam kebebasan, damai, dan sukacita, dan semua buah-buah darinya dalam ketaatan: karena ‘tanpa Dia / di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa’.] - ‘Hebrew 12’, hal 25-26 (AGES).

Luk 17:5 - “Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ‘Tambahkanlah iman kami!’”.

Yoh 15:5 - “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”.


  • John Owen (tentang Ibr 12:2): “‘the author and finisher of our faith.’ - He both begins it in us, and carries it on unto perfection.” [= ‘pencipta dan penyelesai dari iman kita’ - Ia memulainya di dalam kita, dan meneruskannya / melanjutkannya sampai pada kesempurnaan.] - ‘Hebrew 12’, hal 27 (AGES).


5.   2Kor 4:13 - “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”.

  • Calvin (tentang 2Kor 4:13): “By metonymy, he gives the name of ‘the spirit of faith’ to faith itself, because it is a gift of the Holy Spirit.” (= Oleh suatu metonymy, ia memberikan sebutan ‘roh iman’ kepada iman itu sendiri, karena itu adalah suatu karunia dari Roh Kudus.).
Catatan: kata ‘metonymy’ berarti ‘use of the name of one thing for that of another assossiated with or suggested by it’ (= penggunaan nama / sebutan dari satu hal untuk untuk hal yang lain yang berhubungan dengannya atau dikesankan ditunjukkan secara tak langsung olehnya) - ‘Webster’s New World Dictionary’.


  • Charles Hodge (tentang 2Kor 4:13): “‘That same spirit of faith.’ ‘Spirit of faith’ may be a way of saying faith itself, or the word ‘spirit’ may refer to ‘the human spirit,’ and the whole would then mean, ‘having the same believing spirit.’ It is more in accordance with scriptural usage, and especially with Paul’s manner, to make ‘spirit’ refer to ‘the Holy Spirit,’ who is so often designated from the effects that he produces. (= ‘Roh iman yang sama itu’. ‘Roh iman’ bisa menjadi suatu cara untuk mengatakan ‘iman itu sendiri’, atau kata ‘roh’ bisa menunjuk pada ‘roh manusia’, dan maka seluruhnya akan berarti ‘mempunyai roh percaya yang sama’. Adalah lebih sesuai dengan penggunaan yang Alkitabiah, dan khususnya dengan cara Paulus, untuk membuat ‘roh’ menunjuk kepada ‘Roh Kudus’, yang begitu sering ditunjukkan / disebutkan dari hasil / akibat yang Ia hasilkan.).

Hodge lalu memberi beberapa contoh:
a.   Roh Kudus disebut ‘Roh ke-anak-an’.
  • Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
KJV: ‘the Spirit of adoption’ (= Roh adopsi).
RSV: ‘the spirit of sonship’ (= roh ke-anak-an).
NIV: ‘the Spirit of sonship’ (= Roh ke-anak-an).
NASB: ‘a spirit of adoption’ (= suatu roh adopsi).

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘adoption’ / ‘sonship’ adalah HUIOTHESIAS, yang berarti ‘pengadopsian sebagai anak’ (Bible Works 7).



b.   Roh Kudus disebut ‘Roh hikmat’.
  • Ef 1:17 - “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”.

c.   Roh Kudus disebut ‘Roh kasih karunia’.
  • Ibr 10:29 - “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.

d.   Roh Kudus disebut ‘Roh kemuliaan’.
  • 1Pet 4:14 - “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”.

Untuk ayat yang terakhir ini saya merasa tidak tepat penggunaannya, karena saya beranggapan bahwa ‘Roh Kemuliaan’ bukan berarti ‘Roh yang memberi kemuliaan’ tetapi ‘Roh yang mulia’. Bandingkan dengan istilah ‘The Lord of glory’ bagi Yesus dalam 1Kor 2:8, yang jelas berarti ‘Tuhan yang mulia’.

Jadi, kalau Roh Kudus disebut ‘Roh iman’, itu menunjukkan bahwa Ia adalah pemberi / penyebab dari iman itu.

6.   Yoh 1:12-13 - “(12) Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; (13) orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”.

  • William Hendriksen (tentang Yoh 1:13): “The evangelist teaches that God’s true children do not owe their origin to blood (physical descent; for example, from Abraham), nor to the will of the flesh (carnal desire, the sexual impulse of man or woman), nor to the will of man (the procreative urge of the male) but to God alone.” [= Sang penginjil mengajar bahwa anak-anak yang sejati dari Allah tidak berhutang asal usul mereka dari darah (keturunan fisik; sebagai contoh, dari Abraham), ataupun dari kehendak dari daging (keinginan daging, dorongan sex dari orang laki-laki atau perempuan), atau dari kehendak manusia / laki-laki (dorongan memperanakkan dari laki-laki) tetapi dari Allah saja.].

  • Matthew Henry: “Man is called ‘flesh and blood,’ because thence he has his original: but we do not become the children of God as we become the children of our natural parents. Note, Grace does not run in the blood, as corruption does. Man polluted ‘begat a son in his own likeness’ (Gen 5:3); but man sanctified and renewed does not beget a son in that likeness. The Jews gloried much in their parentage, and the noble blood that ran in their veins: ‘We are Abraham’s seed;’ and therefore to them pertained the adoption because they were born of that blood; but this New-Testament adoption is not founded in any such natural relation. ... it is the grace of God that makes us willing to be his.” [= Manusia disebut ‘daging dan darah’, karena dari sana ia mendapatkan asal usulnya: tetapi kita tidak menjadi anak-anak Allah pada waktu kita menjadi anak-anak dari orang tua alamiah kita. Perhatikan: Kasih karunia tidak mengalir dalam darah, seperti kejahatan mengalir dalam darah. Manusia yang telah dikotori ‘memperanakkan seorang anak laki-laki dalam gambarnya sendiri’ (Kej 5:3); tetapi manusia yang dikuduskan dan diperbaharui tidak memperanakkan seorang anak dalam gambar itu. Orang-orang Yahudi banyak bermegah dalam asal usul mereka, dan darah mulia yang mengalir dalam pembuluh darah mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham’; dan karena itu milik merekalah pengadopsian itu karena mereka dilahirkan oleh darah itu; tetapi pengadopsian Perjanjian Baru ini tidak didasarkan pada hubungan alamiah seperti itu. ... adalah kasih karunia Allah yang membuat kita mau untuk menjadi milikNya.].

  • Kej 5:3 - “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.”.

  • Mat 3:9 - “Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!”.

  • Yoh 8:33,39,40 - “(33) Jawab mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?’ ... (39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (40) Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.”.

Saya tidak mengerti mengapa Matthew Henry mengatakan ‘Perjanjian Baru’. Menurut saya, bahkan dalam jaman Perjanjian Lama, kelahiran baru juga datang dari Allah!
  • Yeh 11:19 - “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,”.

  • Calvin: “But faith is the principal work of the Holy Spirit. ... to believers in Christ is given the privilege of becoming children of God, who are born not of flesh and blood, but of God (John 1:12-13). Contrasting God with flesh and blood, he declares it to be a supernatural gift that those who would otherwise remain in unbelief receive Christ by faith. Similar to this is that reply of Christ’s: ‘Flesh and blood have not revealed it to you, but my Father, who is in heaven’ (Matthew 16:17).” [= Tetapi iman adalah pekerjaan utama dari Roh Kudus. ... kepada orang-orang percaya dalam Kristus diberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah, yang dilahirkan bukan dari daging dan darah, tetapi dari Allah (Yoh 1:12-13). Mengkontraskan Allah dengan daging dan darah, ia menyatakannya sebagai karunia supranatural sehingga mereka yang seharusnya tetap tidak percaya, menerima Kristus oleh / dengan iman. Mirip dengan ini adalah jawaban Kristus: ‘Daging dan darah tidak menyatakan ini kepadamu, tetapi BapaKu, yang ada di surga’ (Mat 16:17).] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter 1, no 4.


7.   Mat 16:15-17 - “(15) Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ (16) Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!’ (17) Kata Yesus kepadanya: ‘Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga.”.
  • KJV: ‘for flesh and blood hath not revealed it unto thee, but my Father which is in heaven’ (= karena daging dan darah tidak menyatakannya kepadamu, tetapi BapaKu yang ada di surga).

Perhatikan bahwa Petrus baru memberikan suatu pengakuan iman yang benar tentang Kristus dalam Mat 16:16, tetapi Yesus lalu mengatakan bahwa hal itu bukan dinyatakan oleh ‘manusia’ (KJV/Lit: ‘daging dan darah’) kepadanya, tetapi oleh Bapa yang di surga!

  • Calvin (tentang Mat 16:17): “‘Flesh and blood hath not revealed it to thee.’ In the person of one man Christ reminds all that we must ask faith from the Father, and acknowledge it to the praise of his grace; for the special illumination of God is here contrasted with flesh and blood. Hence we infer, that the minds of men are destitute of that sagacity which is necessary for perceiving the mysteries of heavenly wisdom which are hidden in Christ; and even that all the senses of men are deficient in this respect, till God opens our eyes to perceive his glory in Christ. Let no man, therefore, in proud reliance on his own abilities, attempt to reach it, but let us humbly suffer ourselves to be inwardly taught by the Father of Lights, (James 1:17,) that his Spirit alone may enlighten our darkness. And let those who have received faith, acknowledging the blindness which was natural to them, learn to render to God the glory that is due to Him.” [= ‘Daging dan darah tidak menyatakannya kepadamu’. Dalam diri satu orang, Kristus mengingatkan semua orang, bahwa kita harus meminta iman dari Bapa, dan mengakuinya bagi kemuliaan kasih karuniaNya; karena pencerahan khusus dari Allah di sini dikontraskan dengan daging dan darah. Maka kami menyimpulkan, bahwa pikiran manusia tidak mempunyai kecerdasan yang perlu untuk mengerti misteri-misteri dari hikmat surgawi yang tersembunyi dalam Kristus; dan bahkan bahwa semua indera manusia kurang dalam hal ini, sampai Allah membuka mata kita untuk mengerti kemuliaanNya dalam Kristus. Karena itu, jangan ada orang, sambil bersandar dengan bangga pada kemampuan-kemampuannya sendiri, berusaha untuk mencapainya, tetapi hendaklah kita dengan rendah hati membiarkan diri kita untuk diajar secara batin oleh Bapa segala terang, (Yak 1:17), sehingga RohNya saja bisa menerangi kegelapan kita. Dan hendaklah mereka yang telah menerima iman, mengakui kebutaan yang adalah alamiah bagi mereka, belajar untuk memberikan kepada Allah kemuliaan yang adalah hakNya.].

Yak 1:17 - “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”.


  • William Hendriksen (tentang Mat 16:17): “In continuing his address to Peter, Jesus emphasizes that ‘flesh and blood,’ that is, merely human calculation, cogitation, intuition, or tradition, could never have produced in this disciple’s heart and mind the insight into the sublime truth that he had just now so gloriously professed. ... It was, says Jesus, ‘my Father who is in heaven’ who had disclosed this truth to Simon Bar-Jonah and had enabled him to give buoyant expression to it.” (= Dalam melanjutkan kata-kataNya kepada Petrus, Yesus menekankan bahwa ‘daging dan darah’, yaitu, semata-mata perhitungan, perenungan, intuisi, atau tradisi manusia, tidak pernah bisa menghasilkan dalam hati dan pikiran dari murid ini suatu pengertian ke dalam kebenaran yang agung yang sekarang baru ia akui dengan begitu mulia. ... Adalah, kata Yesus, ‘BapaKu yang di surga’ yang telah menyatakan kebenaran ini kepada Simon bar Yonah / bin Yunus dan telah memampukan dia untuk memberikan pernyataan yang meluap / gembira kepadanya.).

  • 8.   Mat 11:25-27 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (27) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”.
Kata-kata bagian akhir “dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”, dalam NASB diterjemahkan dengan lebih tepat yaitu: ‘and anyone to whom the Son wills to reveal Him.’ (= dan siapapun kepada siapa Anak menghendaki untuk menyatakan Dia).

  • William Hendriksen (tentang Mat 11:27): “Since the Son knows the Father he, he alone, is able to reveal him, and does reveal him (John 1:18; 6:46; 14:8–11). Therefore to the words ‘nor does anyone know the Father but the Son’ there is added: ‘and he to whom the Son is willing to reveal (him).’ This must not be interpreted to mean that the Son is reluctant to reveal the Father, for just a moment ago (verse 25) the Son has been praising the Father for having revealed salvation to his humble children. The words indicate that the salvation of God’s children is dependent not upon anything in man but solely upon revelation, and that this revelation, in turn, is based solely upon the will and delight of both the Father and the Son, for not only as to essence but also as to purpose Father and Son are one (John 10:30). From start to finish therefore salvation is based on sovereign grace.” [= Karena Anak mengenal Bapa, Ia, Ia sendiri, bisa menyatakan Dia, dan memang menyatakan Dia (Yoh 1:18; 6:46; 14:8-11). Karena itu kepada kata-kata ‘tak seorangpun mengenal Bapa kecuali Anak’ di sana ditambahkan ‘dan ia kepada siapa Anak itu menghendaki untuk menyatakan (Dia)’. Ini tidak boleh ditafsirkan untuk berarti bahwa Anak itu enggan untuk menyatakan Bapa, karena sesaat yang lalu (ayat 25) Anak telah memuji Bapa karena telah menyatakan keselamatan kepada anak-anakNya yang rendah hati / sederhana. Kata-kata itu menunjukkan bahwa keselamatan dari anak-anak Allah tergantung bukan pada apapun dalam diri manusia tetapi semata-mata pada wahyu / penyataan dan wahyu / penyataan ini, dalam urut-urutannya, didasarkan semata-mata pada kehendak dan kesenangan dari baik Bapa dan Anak, karena bukan hanya berkenaan dengan hakekat tetapi juga berkenaan dengan tujuan / rencana Bapa dan Anak adalah satu (Yoh 10:30). Karena itu, dari awal sampai akhir, keselamatan didasarkan pada kasih karunia yang berdaulat.].

  • Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”.

  • Yoh 6:46 - “Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.”.

  • Yoh 14:8-11 - “(8) Kata Filipus kepadaNya: ‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.’ (9) Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. (10) Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya. (11) Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”.

  • Calvin (tentang Mat 11:27): “‘None knoweth the Father except the Son, and he to whom the Son shall be pleased to reveal him.’ ... The passage may be thus summed up: First, it is the gift of the Father, that the Son is known, because by his Spirit he opens the eyes of our mind to discern the glory of Christ, which otherwise would have been hidden from us.” (= ‘Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak, dan ia kepada siapa Anak itu berkenan menyatakan Dia.’ Text ini bisa disimpulkan seperti ini: Pertama, itu merupakan karunia dari Bapa, bahwa Anak itu dikenal, karena oleh RohNya Ia membuka mata dari pikiran kita untuk melihat kemuliaan Kristus, yang kalau tidak akan tersembunyi dari kita.).

-BERSAMBUNG-

P O P U L A R - "Last 7 days"