0 DASAR KEKRISTENAN / INJIL

Oleh : Pdt. Budi Asali, M.Div








DASAR KEKRISTENAN / INJIL

Credit: okdefense.com


Hal-hal yang akan dibahas dalam bagian ini adalah:

  1. Dosa.
  2. Hukuman bagi manusia berdosa.
  3. Penebusan oleh Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitanNya.
  4. Iman / percaya dan pertobatan.
  5. Gunanya perbuatan baik / ketaatan, dan apa hubungan perbuatan baik / ketaatan dengan iman.


I Dosa.


1)Pentingnya kesadaran akan dosa.
Dalam point ini, yang menjadi tujuan saya bukanlah sekedar supaya saudara merasa bahwa diri saudara adalah orang yang berdosa, tetapi supaya saudara sadar bahwa diri saudara adalah orang yang penuh dengan dosa, sangat berdosa. 

Saya ingin menyadarkan saudara bahwa saudara bukan putih, ataupun abu-abu, ataupun putih dengan bintik-bintik hitam, tetapi hitam legam! Kesadaran akan dosa seperti itu adalah sesuatu yang sangat penting, karena kalau kita tidak menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa seperti itu, maka kita tidak akan merasa butuh seorang Juruselamat. Orang yang merasa dirinya baik adalah orang yang paling jauh dari keselamatan / paling tidak bisa diselamatkan.




Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
  • Ro 10:1-3 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

  • Luk 16:15 - “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah”.

  • Luk 18:9-14 - “(9) Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: (10) ‘Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. (11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.’”.

Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini:
  • Thomas Carlyle: “The deadliest sins were the consciousness of no sin” (= Dosa-dosa yang paling mematikan adalah kesadaran terhadap tidak adanya dosa) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 605.
  • Martin Luther: “The recognition of sin is the beginning of salvation” (= Pengenalan akan dosa adalah permulaan dari keselamatan) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 607.
  • Charles Haddon Spurgeon: “Nothing is more deadly than self-righteousness, or more hopeful than contrition” (= Tidak ada apapun yang lebih mematikan dari pada perasaan bahwa diri sendiri itu benar, atau yang lebih memberikan pengharapan dari pada perasaan berdosa) - ‘Morning and Evening’, September 29, morning.

  • Anonymous: “There is more hope for a self-convicted sinner than there is for a self-conceited saint” (= Ada lebih banyak harapan untuk orang berdosa yang sadar akan dosanya sendiri dari pada harapan yang ada bagi ‘seorang kudus’ yang menipu dirinya sendiri) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotation’, hal 345.

Alkitab jelas mengatakan tak ada orang yang baik. Ro 3:12 - “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.

Tetapi celakanya, ada banyak orang yang merasa dirinya baik. Ini adalah ‘orang kudus’ yang menipu dirinya sendiri. Contohnya adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada jaman Yesus.

Kesadaran akan dosa sendiri itu begitu penting, dan karena itu kalau dalam pelajaran ini saudara sepertinya ‘ditelanjangi’ dosa-dosanya, maka:


a) Jangan menjadi marah.
  • Yak 1:19-22 - “(19) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (20) sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (21) Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”.

Konteks dari Yak 1:19 itu adalah dalam urusan mendengar Firman Tuhan. Jadi ayat itu memperingatkan kita supaya tidak cepat marah pada saat mendengar Firman Tuhan.

  • Barnes’ Notes (tentang Yak 1:19): “The particular point here is, however, not that we should be slow to wrath as a general habit of mind, which is indeed most true, but in reference particularly to the reception of the truth” (= Tetapi hal yang khusus / terutama di sini adalah, bukan bahwa kita harus lambat untuk marah sebagai suatu kebiasaan umum dari pikiran kita, yang memang merupakan sesuatu yang benar, tetapi berkenaan secara khusus dengan penerimaan kebenaran).

  • Barnes’ Notes (tentang Yak 1:19): “We should lay aside all anger and wrath, and should come to the investigation of truth with a calm mind, and an imperturbed spirit. A state of wrath or anger is always unfavorable to the investigation of truth. Such an investigation demands a calm spirit, and he whose mind is excited and enraged is not in a condition to see the value of truth, or to weigh the evidence for it” (= Kita harus mengesampingkan semua kemarahan dan kemurkaan, dan harus datang pada penyelidikan kebenaran dengan pikiran yang tenang, dan suatu roh yang tenang / tak terganggu. Suatu keadaan murka atau marah selalu tidak baik / tidak menguntungkan bagi penyelidikan kebenaran. Penyelidikan seperti itu menuntut suatu roh yang tenang, dan ia yang pikirannya dikacaukan / diprovokasi atau dijadikan marah tidaklah dalam suatu keadaan untuk melihat nilai dari kebenaran, atau untuk menimbang bukti dari kebenaran itu).

  • Calvin (tentang Yak 1:19): “as long as wrath bears rule there is no place for the righteousness of God” (= selama kemarahan memerintah di sana tidak ada tempat untuk kebenaran Allah).

Pada waktu mendengar Firman Tuhan seseorang bisa marah karena bermacam-macam alasan:

1. Waktu pergi ke gereja, hatinya sudah sumpek.
Ini bisa terjadi karena banyak hal. Mungkin karena di rumah bertengkar dengan istri, atau mungkin karena di jalan dipotong oleh becak / bemo, atau karena bermacam-macam hal lain yang terjadi sebelum orang itu datang ke gereja. Karena itu penting sekali kita datang ke gereja agak pagi, sekitar 15 menit sebelum kebaktian mulai, supaya bisa ada waktu untuk menenangkan diri dari kemarahan tersebut.

2. Khotbah itu menegur kehidupan saudara.
Misalnya saudara sering korupsi dan pengkhotbahnya membicarakan hukum ‘jangan mencuri’. Atau saudara sering berzinah, dan pengkhotbah berbicara tentang hukum ‘jangan berzinah’ dan sebagainya. Saudara harus belajar untuk mau dengan senang hati mendengar teguran dari Firman Tuhan yang menyatakan dosa-dosa saudara.

Perhatikan beberapa ayat dari Amsal ini:
a.  Amsal 10:17 - “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat”.
b.  Amsal 12:1 - “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu”.
c.  Amsal 15:5 - “Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak”.
d.  Amsal 15:10 - “Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati”.
e.  Amsal 15:32 - “Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi”.

Dan juga, saudara harus ingat bahwa kalau pengkhotbah memberitakan suatu teguran yang didasarkan Firman Tuhan, maka sebetulnya teguran itu datang dari Tuhan, dan bukan dari pengkhotbah itu sendiri. Jadi, kalau saudara marah, saudara marah kepada Tuhan, dan bukan kepada pengkhotbah itu saja.

3.  Khotbah itu menyerang kepercayaan / doktrin / aliran saudara.
Pada waktu saudara mendengar suatu ajaran yang bertentangan / berbeda dengan apa yang selama ini saudara percayai, jangan cepat-cepat menerima ataupun menolak / marah. Yang harus dilakukan adalah mendengar apa argumentasi / dasar Kitab Suci dari ajaran itu, lalu membandingkannya dengan argumentasi / dasar Kitab Suci dari apa yang selama itu saudara percayai. Kalau ajaran baru itu mempunyai argumentasi / dasar Kitab Suci yang lebih baik / kuat, maka saudara tidak boleh marah, atau bersikap acuh tak acuh, tetapi saudara harus menyesuaikan kepercayaan saudara dengan ajaran tersebut.

4.  Saudara merasa pengkhotbah itu cuma bisa berkhotbah tetapi dia sendiri tidak melakukan khotbahnya. Dalam kasus seperti ini, ingat bahwa:

a.  Seorang pengkhotbah harus mengkhotbahkan bukan hanya hal-hal yang bisa dia lakukan, tetapi juga hal-hal yang belum bisa ia lakukan. Kalau pengkhotbah hanya boleh mengkhotbahkan apa yang bisa ia lakukan dari Firman Tuhan, maka hanya sedikit yang bisa ia khotbahkan. Hukum terutama dalam Mat 22:37 tak bisa dikhotbahkan oleh siapapun, karena tak ada orang yang bisa melakukan hukum itu dengan sempurna! Seorang pengkhotbah harus mengkhotbahkan seluruh Firman Tuhan, dan tidak ada pengkhotbah yang bisa melakukan semua yang ia khotbahkan, kalau ia betul-betul mengkhotbahkan seluruh Firman Tuhan.
  • Alexander Whyte: “Only once did God choose a completely sinless preacher” (= Hanya satu kali Allah memilih seorang pengkhotbah yang sama sekali tidak berdosa) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 94.

b.   Itu urusan pengkhotbah itu sendiri dengan Tuhan.
Ro 14:12 - “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”.

c.   Saudara tetap wajib mendengar dan berusaha mentaati ajarannya yang benar itu.
  • Mat 23:1-3 - “(1) Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya: (2) ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah ‘menduduki kursi Musa’. Artinya ‘telah menjadi pengajar Firman Tuhan’. Dalam Mat 23:3b Yesus mengatakan bahwa mereka hanya ‘mengajarkannya tetapi tidak melakukannya’. Tetapi dalam Mat 23:3a, Yesus tidak menyuruh murid-muridNya supaya tidak mendengar / mentaati mereka, tetapi sebaliknya, tetap menyuruh mereka mentaati ajaran itu (selama ajaran itu benar).

Ilustrasi: kalau saudara bersama-sama teman-teman sekerja saudara sedang bicara dengan keras, bergurau, sehingga menimbulkan kegaduhan dalam tempat kerja saudara, lalu boss saudara merasa terganggu, dan ia lalu menyuruh seorang pegawai lain untuk menyuruh saudara tenang, maka saudara harus menuruti perintah itu, tak peduli pegawai yang disuruh boss itu sendiri membuat keributan! Kalau ia sendiri ribut, itu urusan dia dengan boss, tetapi urusan saudara adalah mentaati boss saudara!

Ada saat dimana seseorang bukan hanya boleh marah, tetapi harus marah, pada saat mendengar suatu khotbah, yaitu pada saat pengkhotbah memberikan ajaran sesat. Tetapi perlu diingat bahwa kalau khotbah / ajaran itu sesat, maka sebetulnya itu bukanlah Firman Tuhan. Sabar pada waktu mendengar ajaran sesat, bukanlah sabar, tetapi bodoh / blo’on.

  • 2Kor 11:4 - “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima”.

  • Wah 2:1-2 - “(1) ‘Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kananNya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. (2) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta”.

Perhatikan bahwa dalam 2Kor 11:4 ‘kesabaran’ seseorang pada waktu mendengar ajaran sesat justru dikecam, dan dalam Wah 2:2 ‘ketidak-sabaran’ seseorang (atau ‘kemarahan’ seseorang) terhadap nabi-nabi palsu justru dipuji.

b)   Jangan berhenti mengikuti pelajaran ini dengan alasan saudara merasa tidak damai, tidak sukacita dsb. Teguran dosa memang bisa membuat kita sedih, sumpek, gelisah dan sebagainya. Tetapi itu tetap tidak boleh membuat kita berhenti mendengar.

Bdk. 2Kor 7:8-10 - “(8) Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu - kendatipun untuk seketika saja lamanya - (9), namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. (10) Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian”.

Bandingkan Yudas Iskariot, yang berdukacita lalu bunuh diri, dengan Petrus, yang berdukacita (setelah menyangkal Yesus 3x) tetapi lalu bertobat.

Sebaliknya bersyukurlah atas kesadaran terhadap dosa itu, dan bertekunlah dalam belajar Firman Tuhan, karena dengan makin menyadari dosa, saudara akan lebih mudah untuk percaya kepada Yesus dan diselamatkan.


Sekarang bagaimana dengan orang-orang yang sudah sungguh-sungguh Kristen?
Apakah kesadaran akan dosa juga perlu bagi mereka? Jelas ya! Bagi saudara yang adalah orang yang sudah betul-betul percaya kepada Kristus, kesadaran akan dosa itu tetap merupakan sesuatu yang sangat penting, karena:
  1. Kesadaran terhadap dosa itu bisa memberikan kerendahan hati kepada saudara, dan menyebabkan saudara tidak sembarangan dalam menghakimi orang yang berbuat salah.

  2. Kesadaran terhadap dosa itu memungkinkan saudara menyesali dosa itu, minta ampun atasnya, bertobat darinya, dan lebih berjuang dalam pengudusan.



2)Kitab Suci/Firman Tuhan adalah standard untuk menentukan dosa atau tidak


Banyak orang menentukan sesuatu itu dosa atau tidak, dengan menggunakan standard yang salah.

Contoh standard yang salah adalah:

a)   Apakah yang ia lakukan itu merugikan / menyakiti orang lain atau menyenangkan orang lain.
Tindakan / kata-kata yang merugikan / menyakiti orang lain ia anggap sebagai berdosa, sedangkan tindakan / kata-kata yang tidak merugikan / menyakiti orang lain ia anggap tidak berdosa. Sebaliknya, kalau tindakan / kata-katanya menyenangkan orang lain, maka ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan.
Ini jelas merupakan omong kosong, karena orang lain itu, karena ia juga adalah orang berdosa seringkali menjadi sakit hati oleh tindakan / kata-kata kita yang benar, dan sebaliknya, seringkali menjadi senang karena tindakan / kata-kata kita yang salah.


b) Pandangan umum / manusia.
Ini jelas salah, karena seluruh dunia adalah orang berdosa sehingga sering terjadi bahwa suatu dosa dianggap benar oleh masyarakat, dan sebaliknya, sesuatu yang benar justru dicela / dikecam.
Illustrasi: Dalam kalangan orang gila, yang waras itu yang dianggap gila! Dalam gereja yang sudah meninggalkan Alkitab, orang kristen yang Injili / Alkitabiah dianggap sebagai orang extrim, fanatik, dsb.

Penerapan: Jangan melakukan sesuatu hanya karena semua orang menyetujuinya atau juga melakukannya, dan jangan menolak melakukan sesuatu hanya karena banyak orang menentang hal itu. Bisa saja, semua orang banyak itu salah semua! Kebenaran bukan demokrasi! Suara terbanyak belum tentu merupakan sesuatu yang benar! Pada jaman Yesus, hanya sedikit orang yang setuju dengan Dia, tetapi Dia yang benar!

c) Suara hati / hati nurani.
Memang kadang-kadang suara hati masih bisa dijadikan standard, tetapi seringkali tidak bisa.

Mengapa? Karena:


1.  Perlu diingat bahwa karena manusianya berdosa, maka suara hatinyapun ikut dikotori oleh dosa.
  • Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis”.
Karena itu suara hati / hati nurani tidak lagi bisa menjadi standard yang benar.

2.   Suara hati akan padam kalau tidak dituruti.
Seseorang yang mencuri / menyontek / berzinah untuk pertama kalinya, biasanya mendapatkan bahwa suara hatinya mengecam dirinya, sehingga ia menjadi gelisah, takut, berdebar-debar, dsb. Tetapi kalau ia meneruskan tindakan itu, maka lama-kelamaan suara hatinya akan diam.


3. Suara hati sangat dipengaruhi pandangan sekitar / umum.
Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang suka mencaci maki / mengeluarkan kata-kata kotor, tidak akan ditegur oleh hati nuraninya pada waktu ia mengeluarkan makian / kata-kata kotor. Seseorang yang melakukan dosa yang sudah umum dilakukan orang di sekitarnya, seperti berdusta atau ngaret (terlambat), mungkin sekali suara hatinya tidak akan menegur dia.

Jadi jelaslah bahwa suara hati ini tidak bisa dijadikan standard yang akurat untuk menentukan apakah sesuatu tindakan itu dosa atau tidak.

Penerapan: Karena itu, janganlah saudara berani melakukan sesuatu hal, hanya karena perasaan / hati saudara tetap merasa enak! Sebaliknya, janganlah saudara tidak melakukan sesuatu hal, hanya karena hati / perasaan saudara merasa tidak enak.

Standard yang benar untuk menentukan apakah sesuatu itu dosa atau tidak adalah Kitab Suci / Firman Tuhan!

Ini terlihat dari:
a)  2Tim 3:16 - “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Jadi ayat ini mengatakan bahwa salah satu fungsi Firman Tuhan adalah untuk menunjukkan kesalahan / dosa-dosa kita. Jadi Firman Tuhan itu seperti cermin bagi kita yang bisa kita pakai untuk melihat kejelekan-kejelekan kita sendiri.

b)  1Yoh 3:4 - “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”.

c)  Ro 3:20b - “oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.

Illustrasi: Dalam setiap negara ada undang-undang. Apakah tindakan kita salah atau benar tidak didasarkan pada apakah tindakan kita menyenangkan orang lain atau menyakiti hati orang, juga tidak pada pandangan umum ataupun pandangan pribadi, tetapi didasarkan pada undang-undang tersebut. Tidak peduli semua orang senang pada tindakan kita itu, atau hati / pikiran kita menganggap tindakan kita itu benar, ataupun seluruh masyarakat menganggap tindakan kita itu benar, tetapi kalau undang-undang menganggap tindakan itu salah, maka kita salah.

Kitab Suci / Firman Tuhan adalah undang-undang yang Allah berikan kepada kita, dan karena itu Kitab Suci / Firman Tuhan ini adalah standard hidup kita.


Jadi, kalau saudara mau melakukan sesuatu, maka jangan pedulikan orang lain menjadi senang atau tidak karena tindakan kita, dan juga jangan pedulikan pandangan umum ataupun hati nurani saudara, tetapi pikirkan lebih dulu bagaimana pandangan / ajaran Kitab Suci tentang hal itu. Kalau Kitab Suci menyetujuinya, maka lakukanlah; sebaliknya kalau Kitab Suci mengecamnya / menganggapnya sebagai dosa, maka janganlah melakukannya.


3)Terjadinya dosa


a)  Dosa bisa dilakukan melalui perbuatan, perkataan, ataupun hati / pikiran / motivasi yang salah.
1.  Melalui perbuatan (Kel 23:24  Im 5:18  Im 18:17,23  Im 19:20,29  Mat 23:3  Luk 23:41  Yoh 3:19  Kis 8:11  Kis 14:15  Kis 19:18  Kis 22:20  Ro 13:12). Misalnya berzinah, membunuh, dsb.

2. Melalui perkataan (Amsal 18:8  Amsal 22:12  Pkh 5:1-6  Pkh 10:12-13  Yes 3:8  Yes 8:20  Yes 32:7  Mat 12:31-37). Misalnya dusta, fitnah, mengeluarkan kata-kata kotor / cabul, memaki-maki, membicarakan kejelekan orang tanpa ada gunanya, dsb.

3.  Melalui hati / pikiran / motivasi yang berdosa (Ul 15:9  Ayub 21:27  Yes 29:24  Mat 15:19  Luk 5:22  Luk 6:8  Luk 9:47  Luk 11:17). Misalnya iri hati, benci, pergi ke gereja untuk cari pacar, memberi persembahan supaya diberkati oleh Tuhan, dsb.


b)  Dosa bisa dilakukan secara aktif atau secara pasif.
1.  Secara aktif, dimana kita melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah, misalnya kita berzinah, kita membunuh orang, dsb.

2.  Secara pasif, dimana kita tidak melakukan apa yang Allah perintahkan.
Yak 4:17 - “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.

Bandingkan juga dengan ‘kambing-kambing’ dalam Mat 25:31-46 yang dihukum karena tidak melakukan apa yang baik.
Contoh:
  • Tidak pergi ke gereja pada hari Minggu (kecuali karena sakit).
  • Tidak mau belajar Firman Tuhan / berdoa / memuji Tuhan / melayani Tuhan.
  • Tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran, perasaan (Mat 22:37). Saya kira setiap orang senantiasa berbuat dosa karena tidak mentaati hukum ini!
  • Tidak mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mat 22:39).
  • Tidak menolong mereka yang membutuhkan pertolongan / layak ditolong, padahal kita bisa melakukannya (Amsal 3:27  Mat 25:42-45). 
 
 

c)   Dosa bisa dilakukan dengan sengaja / disadari atau dengan tidak sengaja / tidak disadari.


Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

1.  Sekalipun dosa yang tidak disengaja lebih ringan dari dosa yang disengaja, tetapi dosa yang tidak disengaja itu tetap adalah dosa! (Kel 21:12-13  Im 4:1,13,22,27  Im 5:2-4,14,17  Bil 35:9-25  Ul 19:4-13  Luk 12:48).

  • Kel 21:12-14 - “(12) ‘Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati. (13) Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari. (14) Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu dari mezbahKu, supaya ia mati dibunuh”.

  • Bil 35:9-25 - “(9) TUHAN berfirman kepada Musa: (10) ‘Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan, (11) maka haruslah kamu memilih beberapa kota yang menjadi kota-kota perlindungan bagimu, supaya orang pembunuh yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. (12) Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili. (13) Dan kota-kota yang kamu tentukan itu haruslah enam buah kota perlindungan bagimu. (14) Tiga kota harus kamu tentukan di seberang sungai Yordan sini dan tiga kota harus kamu tentukan di tanah Kanaan; semuanya kota-kota perlindungan. (15) Keenam kota itu haruslah menjadi tempat perlindungan bagi orang Israel dan bagi orang asing dan pendatang di tengah-tengahmu, supaya setiap orang yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. (16) Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. (17) Dan jika ia membunuh orang itu dengan batu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. (18) Atau jika ia membunuh orang itu dengan benda kayu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. (19) Penuntut darahlah yang harus membunuh pembunuh itu; pada waktu bertemu dengan dia ia harus membunuh dia. (20) Juga jika ia menumbuk orang itu karena benci atau melempar dia dengan sengaja, sehingga orang itu mati, (21) atau jika ia memukul dia dengan tangannya karena perasaan permusuhan, sehingga orang itu mati, maka pastilah si pemukul itu dibunuh; ia seorang pembunuh; penuntut darah harus membunuh pembunuh itu, pada waktu bertemu dengan dia. (22) Tetapi jika ia sekonyong-konyong menumbuk orang itu dengan tidak ada perasaan permusuhan, atau dengan tidak sengaja melemparkan sesuatu benda kepadanya, (23) atau dengan kurang ingat menjatuhkan kepada orang itu sesuatu batu yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, sedangkan dia tidak merasa bermusuh dengan orang itu dan juga tidak mengikhtiarkan celakanya, (24) maka haruslah rapat umat mengadili antara orang yang membunuh itu dan penuntut darah, menurut hukum-hukum ini, (25) dan haruslah rapat umat membebaskan pembunuh dari tangan penuntut darah, dan haruslah rapat umat mengembalikan dia ke kota perlindungan, ke tempat ia telah melarikan diri; di situlah ia harus tinggal sampai matinya imam besar yang telah diurapi dengan minyak yang kudus”.

  • Ul 19:4-6,11-12 - “(4) Inilah ketentuan mengenai pembunuh yang melarikan diri ke sana dan boleh tinggal hidup: apabila ia membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak membenci dia sebelumnya, (5) misalnya apabila seseorang pergi ke hutan dengan temannya untuk membelah kayu, ketika tangannya mengayunkan kapak untuk menebang pohon kayu, mata kapak terlucut dari gagangnya, lalu mengenai temannya sehingga mati, maka ia boleh melarikan diri ke salah satu kota itu dan tinggal hidup. (6) Maksudnya supaya jangan penuntut tebusan darah sementara hatinya panas dapat mengejar pembunuh itu, karena jauhnya perjalanan, menangkapnya dan membunuhnya, padahal pembunuh itu tidak patut mendapat hukuman mati, karena ia tidak membenci dia sebelumnya. ... (11) Tetapi apabila seseorang membenci sesamanya manusia, dan dengan bersembunyi menantikan dia, lalu bangun menyerang dan memukul dia, sehingga mati, kemudian melarikan diri ke salah satu kota itu, (12) maka haruslah para tua-tua kotanya menyuruh mengambil dia dari sana dan menyerahkan dia kepada penuntut tebusan darah, supaya ia mati dibunuh”.

  • Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.


2.  Kesengajaan memperberat dosa, sehingga biarpun suatu dosa relatif kecil (seperti ngaret / terlambat, iri hati, berdusta, dsb), tetapi kalau terus menerus dilakukan dengan sengaja, ini diperhitungkan cukup berat!


d)  Semua tindakan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, baik secara eksplisit maupun secara implicit, adalah dosa.


Sebagai contoh
, perzinahan secara explisit bertentangan dengan hukum ‘jangan berzinah’ (Kel 20:14). Pembunuhan secara explisit bertentangan dengan hukum ‘jangan membunuh’ (Kel 20:13). Tetapi bagaimana dengan tindakan merokok? Tidak ada ayat Kitab Suci yang secara explicit bertentangan dengan tindakan ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa orang Kristen boleh merokok. Ada hukum kasih dalam Mat 22:39 yang memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Tindakan merokok jelas merusak diri sendiri, maupun orang-orang lain di sekitar si perokok itu, dan karena itu merupakan tindakan yang tidak mengasihi, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang lain. Jadi, sekalipun tindakan merokok tidak bertentangan secara explicit dengan ayat manapun dalam Kitab Suci, tetapi tindakan itu bertentangan secara implicit dengan ayat Kitab Suci. Jadi itu tetap merupakan dosa.


4)   Hukum Taurat (10 Hukum Tuhan) terdapat dalam Kel 20:3-17 dan Ul 5:7-21, dan merupakan bagian Firman Tuhan yang mempunyai fungsi khusus dalam menunjukkan dosa-dosa kita.
  • Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.
  • 1Tim 1:8-11 - “(8) Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, (9) yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, (10) bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat (11) yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku”.

Dalam pelajaran-pelajaran yang akan datang, sambil mempelajari arti dari 10 Hukum Tuhan itu, marilah kita membandingkannya dengan hidup kita sendiri supaya kita bisa mengetahui / menyadari dosa-dosa kita.



-o0o-

P O P U L A R - "Last 7 days"