0 Ketika Tuhan Menghujani Parade Daud - Bagian 4 Selesai


Bacalah terlebih dahulu bagian 1 di sini ,bagian  2 di sini dan bagian 3 di sini


Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M

Empat Pelajaran Penting Bagi Kita



Teks ini dipenuhi dengan pelajaran-pelajaran bagi kita. Pertama, ada pelajaran-pelajaran yang dapat kita pelajari dari Uza. Kita tidak tahu banyak mengenai Uza.  Kita tidak tahu pasti tentang hubungannya dengan Tuhan. Kita tidak tahu apa motivasinya pada waktu meraih dan menyentuh tabut. Pada umumnya saya cenderung untuk menilai dia dalam keraguan. Saya cenderung untuk berpikir bahwa dia  sebenarnya kuatir tabut itu  mungkin  jatuh ke tanah, dan menyentuh tabut itu  tidak terlihat baginya menjadi sebuah masalah serius jika dia  sedang berupaya untuk menyelamatkan tabut itu.

Kita tahu bahwa Uza tumbuh besar bersama dengan tabut didalam rumahnya  ( 1 Sam 7:1-2; 2 Sam 6:2-4). Apakah dia menjadi terlalu terbiasa dengan benda-benda kudus? Ini pasti sebuah kemungkinan. Bahaya yang sama juga ada bagi kita. Setiap minggu kita mengenang karya penebusan Kristus di salib Kalvari dengan merayakan komuni di meja perjamuan Tuhan. Orang-orang kudus di Korintus mulai melihat hal ini sebagai sebuah ritual, dan perilaku mereka di meja perjamuan tidak menyenangkan Tuhan. Paulus  berkata kepada orang-orang kudus ini bahwa mereka  telah gagal untuk “menilai tubuh secara benar” (1 Korintus 11:29). Karena kegagalan ini, sejumlah orang Korintus telah  terserang penyakit, dan beberapa orang bahkan mati ( 1 Korintus 11:30). Marilah kita sepenuhnya menyadari akan kekudusan Tuhan dan  kesakralan ibadah kita, Tuhan tidak  menganggap ringan  ketidaksensitifan kita terhadap kekudusan-Nya.



Ananias dan Safira lebih mempedulikan apa yang orang pikirkan  daripada bagaimana Tuhan memandang mereka. Dan karena itu mereka berdusta kepada Roh Kudus dengan  berkata bahwa mereka telah memberikan semua dari hasil penjualan properti  mereka, dan bukan mengatakan hanya sebagian dari hasil penjualan ( Kisah Para Rasul 5:1-11).  Tuhan adalah kudus yang memanggil umatnya kepada kekudusan ( lihat 1 Petrus 1:14-16). Dia memandang dosa kita secara sangat serius. Ketika  Herodes gagal memberikan kepada Tuhan kemuliaan dan menerima pujian manusia sebagai pujian kepada Tuhan, Tuhan menimpakan kematian kepadanya ( Kisah Para Rasul 12:20-23). Memandang rendah kekudusan Tuhan dapat menjadi hal mematikan.



Uza adalah pengingat bagi kita bahwa  kekudusan Tuhan demikian kudusnya sehingga manusia yang berdosa tidak dapat mendekat padanya, kecuali Tuhan memberikan sarana-sarana untuk mendekat. Setelah kejatuhan manusia di dalam  Taman Eden  Tuhan telah mengusir Adam dan Hawa dari taman itu. Tuhan telah menyediakan bagi mereka penutup, tetapi hal ini hanyalah sebuah solusi yang parsial. Ketika Tuhan  membebaskan bangsa Israel dari belenggu Mesir, Dia memberikan kepada mereka Hukum-Nya. Kemuliaan dan kemegahan-Nya telah disingkapkan kepada orang-orang Israel:



(16) Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. (17) Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung.(18) Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.(19) Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh.(20) Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas. ( Keluaran 19:16-20)



Lebih dari dua kali Tuhan menegakan perbatasan-perbatasan, lewat dari garis batas itu  tidak ada manusia atau binatang dapat melaluinya. Tuhan sudah membuat Musa memperingatkan orang-orang akan  bahaya terlampu dekat kepada Dia:



(12) Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. (13) Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu." (Kel 19:12-13)


(20) Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas(21) Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: "Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. (22) Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka."(23) Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus." (24) Lalu TUHAN berfirman kepadanya: "Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya."(25) Lalu turunlah Musa mendapatkan bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka.(Ulangan 19:20-25)



Saya teringat dengan kata-kata Musa, berbicara kepada orang-orang  Israel sebelum mereka memasuki tanah  yang  telah dijanjikan:



(15) Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. (16) Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.(17) Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;(18) seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.(19) Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. (Ulangan 18:15-19)




Di sana, di Gunung Sinai, orang-orang Israel mulai memahami kekudusan dan kemuliaan Tuhan. Mereka secara benar  memiliki pengertian bahwa untuk  menjadi terlampau dekta pada Tuhan akan berakibat fatal. Mereka telah memutuskan bahwa mereka  membutuhkan seorang mediator untuk   mengetengahi dengan Tuhan untuk kepentingan mereka. Mereka meminta  Musa untuk mengisi peran ini, dan dia telah menyetujuinya, memuji mereka atas keputusan mereka. Mereka bukan orang yang berperilaku pengecut (atau setidaknya bukan benar-benar pengecut); mereka bijak. Orang yang berdosa membutuhkan seorang mediator untuk mendekati Tuhan yang kudus.


Tabernakel, tabut, imam-imam dan korban-korban menyediakan sebuah solusi jangka pendek, tetapi masih ada kebutuhan akan  sebuah solusi permanen bagi masalah dosa  manusia dalam mendekati Tuhan yang kudus. Tuhan sendiri  yang telah memecahkan masalah ini didalam diri Yesus Kristus. Dalam inkarnasinya (kelahirannya sebagai seorang anak di Bethlehem), Tuhan yang mengambil wujud tubuh manusia. Dia telah disamakan dengan manusia berdosa untuk menyediakan sebuah solusi abadi bagi masalah dosa kita, dan bahaya mendekat pada Dia.


Kita hanya dapat berdiri didalam takjub kedatangan  Yesus Kristus  dalam inkarnasi-Nya ( kelahirannya, datang ke dunia sebagai Tuhan-manusia yang tanpa dosa). Dengan kagum, kita baca kata-kata dari rasul Yohanes:


Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.(Yohanes 1:14)



(1) Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. (2) Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.(3) Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.(1 Yohanes1:1-3)



Melalui Dia maka kita memiliki pengampunan dari Tuhan dan keberanian untuk masuk kedalam hadirat Tuhan:



(5) Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,(6) yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.(1 Tim 2:5-6)



(19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,(21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. (22) Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (23) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. (Ibrani 10:19-23)



Undangan Injil dalam Perjanjian Baru adalah: bahwa manusia berdosa ditarik mendekat kepada Tuhan melalui darah Yesus Kristus :


(16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4:16)



(25) Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.(Ibrani 7:25)




(8) Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! (Yakobus 4:8)


Peringatan dari Alkitab : bahwa Yesus Kristus akan mendekat pada saat penghakiman pada semua  yang telah menolak untuk mendekat pada-Nya melalui iman:


(5) Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.(Mal 3:5)

Sudahkah anda mendekat kepada Tuhanmelalui iman didalam Yesus Kristus, satu-satunya ketentuan Tuhan bagi manusia untuk masuk kedalam persekutuan bersama dengan diri-Nya? Jika belum, saya mendesak anda untuk  melakukannya pada jam saat ini juga. Tuhan akan membiarkan kita pergi ke neraka dalam cara yang kita sukai, tetapi jika kita akan pergi  ke surge, harus dengan cara sarana-sarana  yang telah disediakan oleh Tuhan sendiri—darah yang telah tercurah dari  Yesus Kristus, Tuan kita.


Kita dapat belajar dari Mikhal. Mikhal  berperan sebagai semacam prototipe  pembenaran diri sendiri oleh ahli Taurat dan Farisi di era Yesus. Seperti Mikhal yang telah menikmati posisinya sebagai puteri raja, demikian jugalah dengan ahli-ahli taurat yang telah menikmati posisi istimewa mereka sebagai para pemimpin rohani Israel. Mereka  takut kehilangan  kekuasaan mereka, dan mereka takut kehilangan status mereka. Mereka menantang Yesus terkait otoritas-Nya. Mereka memandang pada Yesus dengan   hina karena Dia dikaitkan dengan orang rendahan. Sama seperti Mikhal tidak berbuah (memiliki anak), demikian jugalah pada orang-orang Farisi. Mereka yang mau beribadah pada Tuhan harus datang kepada Dia dalam kerendahan hati, bukan dalam kebanggaan. Sejauh ini kisah kita bertutur, Mikhal merupakan satu-satunya orang yang tidak bersuka cita beribadah kepada Tuhan. Tidak heran, karena dia dikuasai oleh dirinya sendiri.


www.stpaulsmedford.org
Kita dapat belajar dari Daud. Daud berperan  sebagai sebuah prototipe Kristus dalam teks kita dan seterusnya. Dia  adalah seorang  raja dan seorang imam  (dia mengenakan sebuah kain lenan efod). Daud  tidak mengenakan jubah-jubah kebangsawanannya dan telah  merendahkan dirinya,  persis seperti Yesus Kristus  yang  tidak menggunakan jubah-jubah kebangsawanannya dan telah merendahkan diri ( Filipi 2:5-8; lihat juga Yohanes 13:1 dan seterusnya). Daud telah menolak adanya pembedaan kelas-kelas apapun ketika berhubungan dengan beribadah. Ibadah yang benar tidak akan membiarkan adanya pengelompokan-pengelompokan yang inferior dan yang superior. Injil membuat manusia menjadi setara. Kita semua adalah orang berdosa, telah dihukum pada penghukuman kekal Tuhan. Dan kita semua  yang telah diselamatkan tanpa perlu   adanya kepantasan dan upaya-upaya, semata berdasarkan pada karya penebusan Kristus di  salib Kalvari. Bagaimana kemudian Daud dapat melakukan apapun tetapi   sepenuhnya   rendah hati dalam beribadah kepada Tuhan, sekalipun isterinya  memandang rendah pada dirinya?



Akhirnya, artikel ini memiliki  sebuah nilai besar  katakanlah dalam hubungannya dengan kontroversi kharismatik/non kharismatik didalam  gereja dewasa ini. Ada dua ekstrem, ada dua pengutuban, dan kita  cenderung untuk  bergerak ke  salah satunya (dan terkadang ke satu sisi lantas ke sisi lainnya). Pertama adalah   bebas sebebas-bebasnya(sembrono). Daud dan  semua yang orang yang lain demikian  hanyut didalam penyembahan mereka, mereka kelihatannya lupa siapakah yang sedang mereka sembah—Tuhan yang kudus. Kita dapat sedemikian terbawanya dengan elemen emosi dari penyembahan kita sehingga kita sama sekali kehilangan penguasaan diri. Dalam momen yang menggairahkan, hal-hal yang jelas-jelas Tuhan larang terlihat agak permisif, bahkan perlu dilakukan (seperti memegang tabut). Uza demikian larut dalam kegairahan membawa  pulang tabut Tuhan, tetapi dia lupa untuk memberikan perhatian yang cukup pada Tuhan dan  Firman-Nya. Uza telah mati karena ketidakhormatan-Nya. Marilah kita jangan pernah melupakan hal ini. Antusiasme tidak pernah merupakan sebuah pembenaran untuk ketidakpatuhan kepada Firman Tuhan.



Bagi kebanyakan orang, bahaya  yang saya ungkapkan ini, sulit untuk dipandang berbahaya. Kita tidak dalam bahaya dalam menjalankan ibadah kita. Ibadah kita yang demikian kaku atau demikian tertata rapi sehingga tidak ada kemungkinan  ada kejadian yang tidak direncanakan untuk terjadi. Dengar baik-baik. Saya tidak menentang struktur, dan ada banyak hal yang  bisa  dikatakan untuk sebuah apresiasi keagungan Tuhan dalam ibadah kita. Tetapi beberapa dari kita tidak mengangkat tangan kita atau mengeluarkan suara karena kita terlalu angkuh untuk melakukannya. Seperti Mikhal, kita lebih peduli dengan martabat kita daripada dengan Tuhan. Mari kita mewaspadai dari menghindari antusiasme dalam ibadah kita karena kita berpikir hal itu  merendahkan kita.



Dua ekstrem disingkapkan dalam teks kita, dan kedua-duanya salah. Ibadah yang penuh antusias, yang merendahkan kekudusan Tuhan dan melanggar  Firman Tuhan, adalah salah, dan tidak peduli seberapa hebat antusiasme yang anda tambahkan, itu tetap salah sampai ibadah  secara benar  memandang Tuhan dan sampai ibadah itu secara benar mendekati Tuhan. Ibadah  yang megah, menghindari emosi dan antusiasme, yang sepenuhnya karena kita terlalu angkuh untuk merendahkan diri  kita dihadapan Tuhan , juga sama salahnya. Ibadah yang pertama menghasilkan ketandusan; maka ibadah yang kedua menghasilkan kematian. Marilah kita berupaya untuk beribadah kepada Tuhan seperti  yang pada akhirnya dilakukan oleh Daud dan Israel, yang berselaras dengan Firman-Nya, dengan kerendahan hati, dengan hati yang dipenuhi dengan suka cita dan ucapan syukur, dan dengan antusiasme.


Selesai

When God Rained on David’s Parade (2 Samuel 6:1-23) |diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora



P O P U L A R - "Last 7 days"