0 Ketika Tuhan Menghujani Parade Daud - Bagian 1

Tabut Perjanjian/Tabut Tuhan
sumber :bible-history.com

Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M


Pengantar

Ada hari-hari, tidak peduli seberapa  cermatnya kita merencanakan dan mengorkestrasikan peristiwa-peristiwa, semuanya menjadi berantakan begitu saja. Inilah yang terjadi pada Raja Daud. Setelah Daud menduduki kota Yebus, dia didalam hatinya berencana untuk mendapatkan kembali tabut perjanjian (disini disebut “tabut Tuhan”), yang telah disembunyikan di rumah Abinadab di Kiriat Yearim [Kiriat-Yearim di sini disebut  Baale-Yehuda  dalam  1  Tawarikh  13. Pada  Yosua  15, yang berbicara mengenai warisan suku Yehuda, kota ini disebut  Baalah (Yosua  15:9-11), dan kemudia disebut  Kiriat-Yearim (15:9).]. Daud secara cermat  berdiskusi dengan para pemimpin bangsa ini, dan kemudian inilah  langkah yang dilakukan oleh segenap bangsa itu :


(1) Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. (2) Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita.(3) Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya." (4) Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. (5) Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim.( 1 Tawarikh 13:1-5) [Apa yang dipaparkan oleh penulis 1 dan 2 Samuel secara ringkas dalam 2 Samuel 6:1, dipaparkan dengan detail yang jauh lebih rinci oleh penulis Tawarikh]


Semua perincian bagaimana memindahkan tabut tersebut ke Yerusalem telah dipikirkan secara menyeluruh dan persiapan-persiapan yang diperlukan telah dilakukan. Sebuah kereta baru telah diadakan untuk membawa tabut sejauh sekitar 6 mil atau  lebih ke Timur dan  sedikit ke selatan Yerusalem. Perjalanan ini akan melalui sejumlah perubahan ketinggian karena Kiriat- Yearim terletak di daerah perbukitan, dan demikian juga dengan Yerusalem, tetapi diantara keduanya terhampar area yang lebih rendah, yang berarti ada beberapa  manuver tanjakan dan turunan pada bukit. Ada sebuah sukacita besar  saat Daud dan  orang-orang Israel membawa tabut tersebut ke Yerusalem. Daud dan orang-orang yang menyertainya merayakan dengan segenap kekuatan mereka  ( 1 Tawarikh 13:8; bandingkan dengan  2 Samuel 6:5). Segala macam jenis instrumen  musik dan penyanyi berpartisipasi dalam selebrasi ini, dan dari konteks ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ada tarian yang antusiastik juga.
Foto : Kiriat-Yearim dari utara-
Courtesy of the Pictorial Library of Bible Lands. (BiblePlaces.com)
bible.org



Sekonyong-konyong sesuatu menjadi salah, dan  seekor lembu hampir membalikan kereta. Kita tidak diberitahu apa yang telah terjadi. Berangkali lembu itu tersandung, atau berangkali lembu-lembu itu  terkejut oleh gerak antusiastik pada sebagian orang yang  menari terlampau dekat. Entah bagaimana, untuk sesaat lamanya lembu itu lepas kendali, dan gerakannya   turut menggoyangkan kereta, menyebabkan tabut menjadi terguncang sedemikian rupa sehingga tabut itu  kelihatannya akan  terlempar  keluar dari kereta. Pikiran bahwa tabut akan hancur menghujam tanah sangat mempengaruhi  Uza, yang berjalan tepat di samping kereta yang dekat dengan tabut itu. Secara naluriah, dia mengulurkan tangannya dan menahan tabut itu  agar tetap ada di tempatnya. Ketika dia melakukan hal itu, Tuhan menimpakan kematian padanya. Selebrasi mendadak hening  berhenti. Suka cita berubah menjadi takjub dan bingung.  Suka cita Daud berubah menjadi amarah, karena Tuhan telah “menghujani paradenya.”  Semua yang  telah dilakukan Daud untuk menghormati Tuhan. Apakah Tuhan tidak mengerti? Mengapa Dia membunuh orang yang telah membantu selama bertahun-tahun merawat tabut itu? Mengapa Tuhan merusak sebuah peristiwa yang mengagumkan ini?



Daud ingin  tabut Tuhan ada di Yerusalem, ada bersama dengan dia. Kini Uza telah mati, Daud tidak mau melanjutkannya, dipenuhi ketakutan membawa tabut ada dekat dengan dia di Yerusalem. Dia telah memutuskan adalah lebih aman untik menyimpan tabut di sebuah tempat jauh yang aman,  sampai dia akhirnya dapat memahami apa kesalahan yang telah  terjadi. Apakah masalahnya? Apa yang menjadi salah? Dan apakah solusinya? Teks alkitab  tidak pernah  benar-benar  memberitahukan kepada kita. Itu seperti teka-teki atau rahasia yang  dimaksudkan untuk kita pecahkan sendiri. Jawabannya ada didalam Alkitab, sebagaimana yang akan kita lihat, dan ada aplikasinya untuk kehidupan kita  hari ini, tepat sebagaimana juga  untuk mereka diwaktu lampau. Namun juga ada dimensi lain pada kisah ini yang tidak kita sebutkan, dan itu adalah kisah Mikhal, yang juga “menghujani Parade Daud.” Dari kisah ini juga kita mempunyai pelajaran-pelajaran untuk dipelajari. Mari kita dengarkan  dan kemudian mempelajari apa yang Roh Tuhan miliki  untuk kita dalam teks ini.


Tuhan Menghujani  Parade Daud
( 2 Samuel 6:1-11)


(1) Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya. (2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. (3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. (6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. (7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (8) Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. (9) Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" (10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. (11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.

Kita menemukan  apa yang salah di sini dengan kembali ke  sejarah Israel pada waktu Tuhan memberikan Israel Hukum, ketika Dia telah memberikan kepada mereka  instruksi-instruksi terkait pembangunan dan pemindahan tabut itu. Ini adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan kepada Musa terkait  tabernakel dan tabut perjanjian.



(8) Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. (9) Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya." (10) Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. (11) Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya. (12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (13) Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (14) Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. (15) Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya. (16) Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. (17) Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya. (18) Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. (19) Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. (20) Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. (21) Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. (22) Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel." (Keluaran 25:8-22)



Ketika tabernakel untuk kali  pertama siap, hadirat Tuhan hadir di sana pada tabernakel itu :



(34) Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci, (35) sehingga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci. (Keluaran 40:34-35)



Tuhan telah memberikan instruksi-instruksi yang sangat jelas mengenai tabut Tuhan. Dia tidak hanya  telah memberikan intsruksi-instruksi yang spesifik tentang bagaimana seharusnya tabut itu dibuat, Dia telah menunjukan siapa  yang seharusnya membawanya dan bagiaman seharusnya tabut itu dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Pada Bilangan 5, Tuhan memberitahukan secara tepat bagaimana seharusnya tabernakel itu  seharusnya diturunkan dan dibawa ke tempat perhentian selanjutnya. Secara khusus perhatikan kata-kata pada ayat 15:



(15) Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk mengangkat barang-barang itu; tetapi janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati. Jadi itulah barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani Kehat.(Bilangan 4:15; lihat juga  Bilangan 7:9)



Kita mesti mengingat dari Keluaran 25:14-15 bahwa tabut memiliki  gelang-gelang, yang melaluinya kayu pengusung dimasukan, dan tiang-tiang pengusung   merupakan sarana bagi orang-orang  Kehat untuk memindahkan tabut.

Tabut menyertai  orang-orang Israel   kemanapun mereka pergi ketika mereka berada di gurun. Tabut itu berada  di depan orang-orang   Israel kala mereka melintasi Sungai Yordan ( Yosua 3:14-17). Kita mendapatkan bahwa tabut  cukup sering disebutkan dalam 1 dan 2 Samuel. Samuel tidur dekat  tabut ketika kanak-kanak ( 1 Samuel 3:3). Ketika orang Israel dikalahkan oleh orang-orang  Filistin, mereka secara serampangan membawa tabut itu  kedalam medan pertempuran sebagai semacam mantra. Mereka tidak hanya  kalah dalam pertempuran tetapi mereka juga kehilangan tabut itu ( 1 Samuel 4). Dua bab selanjutnya (5-6) dari 1 Samuel merupakan kisah bagaimana Tuhan mewabahi orang-orang Filistin, sehingga mereka akhirnya memutuskan tidak menginginkan tabut itu  ada diantara mereka.  Apa yang paling menarik adalah cara mereka memilih untuk memindahkan tabut itu kembali kedalam territorial Israel. Para imam Filistin dan  para peramal telah memberikan instruksi-instruksi kepada para pemimpin Filistin  terkait bagaimana tabut itu seharusnya dipindahkan. Perhatikan instruksi-instruksi ini dan akibat dari instruksi-instruksi tersebut :



(7) Oleh sebab itu ambillah dan siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi.(8) Kemudian ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda emas, yang harus kamu bayar kepada-Nya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi. (9) Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tangan-Nya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita."(10) Demikianlah diperbuat orang-orang itu. Mereka mengambil dua ekor lembu yang menyusui, dipasangnya pada kereta, tetapi anak-anaknya ditahan di rumah. (11) Mereka meletakkan tabut TUHAN ke atas kereta, juga peti berisi tikus-tikus emas dan gambar benjol-benjol mereka. (12) Lembu-lembu itu langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes; melalui satu jalan raya, sambil menguak dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sedang raja-raja kota orang Filistin itu berjalan di belakangnya sampai ke daerah Bet-Semes. ( 1 Samuel 6:7-12)


Tidak mengejutkan bahwa orang-orang Filistin memilih untuk memindahkan tabut dengan sebuah kereta baru, ditarik  oleh dua ekor sapi.  Pertama, orang-orang  Filistin tidak  memiliki Hukum, sehingga pastilah mereka tidak  mengetahui  bagaimana Tuhan telah menginstruksi pemindahan tabut. Lebih  jauh  lagi, dimanakah mereka menemukan orang Kehat untuk membawanya?  Lebih terpenting lagi bagi orang-orang Filistin, metoda pemindahan tabut ini memberikan kepada mereka sebuah tes, sehingga mereka dapat menentukan apakah semua wabah yang menimpa mereka memang sungguh-sungguh tangan Tuhan atau semata “kebetulan buruk”saja. Fakta bahwa dua sapi mau meninggalkan anak-anak mereka dan tanpa seorang pengendali, sapi-sapi itu menarik kereta itu masuk kedalam territorial terlalu sulit untuk menjadi sebuah kebetulan. Ini  merupakan tangan Tuhan.


Problemnya adalah, bahwa orang-orang Israel mengimitasi orang-orang Filistin ketimbang mematuhi Tuhan. Saya yakin bahwa instruksi-instruksi yang telah diberikan Tuhan didalam Hukum  semata terlupakan ketimbang  memang dengan sengaja diabaikan  atau tidak dipatuhi. Tabut itu tidak pernah  dibawa selama  bertahun-tahun lamanya. Tabut itu  telah lama tidak beredar, tidak digunakan, ada dirumah Abinadab selama 20 tahun lamanya sebelum dikembalikan dan digunakan untuk keperluan tertentu ( lihat  1 Samuel 7:2; 14:18-19). Mudah untuk melihat mengapa tak seorangpun memperhatikan secara khusus  instruksi-instruksi yang telah  diberikan oleh Tuhan untuk  pemindahannya  di gurun.


Disamping semua  hal ini, siapa yang mau mebawa tabut dengan  tangan ketika tabut itu dapat saja dibawa dengan kereta  lembu? Andai saja saya hidup di zaman tersebut, saya  ingin menggunakan kereta lembu juga, terutama jika saya adalah salah satu dari orang-orang yang dipilih untuk membawa tabut dipundakku. Ini masuk akal. Cara itu lebih mudah. Tetapi cara demikian bukan merupakan cara Tuhan yang telah dituliskan. Dan metoda yang telah Tuhan tetapkan bukan  saja sebuah cara yang tidak masuk akal. Itu adalah aturan yang  memiliki  alas an-alasannya. Alasan menyentuh tabut merupakan tindakan serius diungkapkan kepada kita dalam ayat  2 dari teks kita :



(2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. ( 2 Sam 6:2)



Dalam Keluaran 25, Tuhan telah mengatakan kepada Musa bahwa Dia akan menemuinya dan berbicara kepada dia dari atas tabut, diantara kerubim ( 25:22). Tuhan memilih untuk memanifestasikan kehadiran-Nya didalam tabernakel, khususnya dari tabut. Ketika kemuliaan Tuhan pertama-tama memenuhi  tabernakel,  bahkan Musa tidak dapat masuk ke dalam (Keluaran 40:34-35). Manusia berdosa tidak  dapat terlalu dekat dengan Tuhan yang kudus.


Tidak heran Uza terjatuh mati karena meletakan tangannya pada tabut itu. Tabut itu kudus. Tabut itu tidak boleh disentuh. Siapapun yang menyentuhnya akan mati. Dengan menggunakan kayu-kayu pengusung, manusia dapat memindahkan   tanpa menyentuh tabut itu sendiri. Dan orang-orang ini   berjaan dengan langkah yang sama satu sama lain, memberikan stabilitas pada tabut. Menempatkan tabut diatas kereta lembu membuat tabut  rentan terhadap  gerekan kereta yang kurang stabill, dan membuatnya  cenderung jatuh  dari kereta. Satu-satunya cara untuk menghindari kejadian seperti ini adalah menahan  tabut dengan tangan, sebagaimana yang dilakukan Uza, dan  mati.


Daud dan mereka yang terlibat dalam memindahkan tabut telah salah dalam beberapa hal.  Pertama,mereka telah kehilangan kagum dan hormat yang harus dimiliki  untuk kekudusan Tuhan. Kedua,mereka telah  melupakan instruksi-instruksi  jelas yang telah Tuhan turunkan dalam hukum  Taurat untuk memindahkan tabut. Dan ketiga, mereka telah melupakan sebuah pelajaran sulit yang telah dipelajari pada  masa lalu mereka yang tidak terlampau jauh. Ketika tabut dikembalikan kepada orang-orang Israel oleh Filistin, kecerobohan pada bagian sejumlah orang Israel telah mereka bayar dengan  nyawa mereka :



(19) Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya. (20) Dan orang-orang Bet-Semes berkata: "Siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang kudus ini? Kepada siapakah Ia akan berangkat meninggalkan kita?" (21) Lalu mereka mengirim utusan kepada penduduk Kiryat-Yearim dengan pesan: "Orang Filistin telah mengembalikan tabut TUHAN; datanglah dan angkutlah itu kepadamu." ( 1 Sam 6:19-21)



Betapa ironinya bukan melihat orang-orang Israel mengimitasi orang-orang Filistin. Ketakhormatan orang-orang Filistin  telah membawa wabah atas kota-kota mereka. Mereka menjadi takut pada Tuhan dan terutama pada tabut-Nya, dan berupaya untuk  mengirimkannya   kepada orang lain di tempat lain. Kini, ketika tabut dikembalikan kepada orang-orang Israel, mereka tidak menghormati dan  dipukuli oleh Tuhan sehingga mereka juga ingin  mengirimkan tabut itu kepada orang  lain. Pelajaran dari  1 Samuel 6 sudah dilupakan oleh 2 Samuel 6, dan bolehkah saya mengingatkan anda bahwa dalam teks aslinya, dua  kitab ini sesungguhnya satu kitab. Beberapa tahun, atau beberapa bab, dan pelajaran-pelajaran  telah dipelajari dalam cara yang sulit semuanya itu kemudian dilupakan dengan   cepat. Mengapa kita mendapatkan  lebih mudah untuk menghidupkan (mengulang)  kembali sejarah daripada belajar dari sejarah itu?



Selanjutnya : Akhirnya  Sampai Di Rumah


When God Rained on David’s Parade (2 Samuel 6:1-23) |diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora


P O P U L A R - "Last 7 days"