0 Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus (8)



Oleh: Martin Simamora


Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus(8)


Lukas 1:20- ilustrasi: tanais.info
Bacalah lebih dulu bagian 7

Kita telah melihat apakah yang memenjara semua manusia dan siapakah Yesus sehingga dia telah dikenali oleh nabiah Hanna sebagai Sang Pembebas (Lukas 2:38), dikenali oleh Elisabet sebagai dia  Sang Penguasa Absolut atas segala ciptaan (Lukas 1:43), dan Yohanes Pembaptis menyebutnya sebagai Anak domba Allah (Yohanes 1:29). Dan ketika Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak domba Allah maka sebetulnya itu melampaui apapun yang dapat dibayangkan, sebab dibalik sebutan semacam itu, sedang diindikasikan bahwa apa yang akan dilakukan oleh Yesus adalah sebuah tindakan yang sama sekali belum pernah ada satu manusiapun pernah dan memiliki kapasitas untuk melakukannya! Sebuah tindakan yang tak mudah bahkan akan dikatakan sebagai mustahil untuk dapat dilakukan oleh seorang  Mesias, Rabbi, Pemimpin, atau bahkan Pembebas sebagaimana dipahami oleh bangsa Yahudi [jika anda membaca saja Lukas 1:70-74 dan kemudian membandingkan dengan  Yohanes 1:29 serta Sang Surya Pagi yang justru harus berakhir sebagai kurban, maka ini adalah sebuah realita terkeras untuk dapat dikunyah oleh bangsa Yahudi terkait Mesias yang dinantikan- kita akan meninjau ini pada bagian-bagian mendatang].


Yohanes Pembaptis sebetulnya telah mengumandangkan bahwa Sang Rabbi Sang Messias Sang Pembebas Sang Terang Dunia, bukan hanya sepenuhnya manusia namun sekaligus didalam kesepenuhannya sebagai manusia, dia juga sepenuhnya  ilahi. Dan itu sukar untuk dibuktikan dihadapan manusia, apalagi saat Sang Kristus datang kepada Yohanes Pembaptis. Perhatikan apa yang dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis mengenai Sang Rabbi ini:
Yohanes 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." 


Kita tahu sekali bahwa Yohanes Pembaptis selagi di dalam kandungan telah melonjak kegirangan saat berjumpa dengan bayi (Yesus) yang bahkan masih didalam kandungan! Ya... saat  Maria mengunjungi Elisabet (Lukas 1:41). Jelas sekali, ketika Yohanes Pembaptis berkata “Dia telah ada sebelum akubukan sama sekali  hendak mengatakan bahwa Yesus telah lebih dahulu dikandung (bandingkan dengan perkataan Yesus pada Yohanes 8:58) daripada dirinya, sebab Yohanes Pembaptis lebih dahulu dikandung, jauh lebih tua daripada Yesus, sebagaimana dikatakan oleh malaikat Gabriel kepada Maria! Mari sejenak kita lihat:


Lukas 1:26-38
(26)Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,(27) kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.(28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."(29) Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.(30) Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.(31) Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.(32) Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,(33) dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."(34) Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"(35) Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.(36) Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.(37) Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."(38)   

Malaikat Gabriel mengunjungi Maria, pada saat  usia kandungan Elisabet telah  memasuki bulan keenam. Sehingga “Dia telah ada sebelum aku,” jelas di luar ruang dan waktu di dunia ini. Yohanes  Pembaptis sedang membicarakan eksistensi  Yesus yang datang dari Allah (bandingkan dengan Yohanes 1:1-2,14)


Mengapa Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak domba Allah?” Ini adalah sebuah sebutan yang mengindikasikan sebuah kematian atau dia kelak akan dikorbankan sebagai kurban atau korban penghapus dosa yang direncanakan dan dikehendaki sebagaimana telah menjadi ketetapan Allah (bandingkan dengan Imamat 16,  Ibrani 9:11-14, Ibrani 10:1-3). Jika Yesus adalah “Anak domba Allah?” Apakah Yesus  akan menjadi korban penghapus dosa? Yohanes Pembaptis sudah menjawabnya sejak dini, bahwa Yesus adalah Sang Penghapus dosa (Yohanes 1:29) dalam sebuah misi  kedatangan Mesias sebagai Anak domba Allah. Tidak ada cara lain!



Segelap apakah Keadaan Manusia  & Benarkah Didalam Ketakberdayaan Total Untuk Menanggulanginya?

Sehingga pertanyaan yang harus diangkat adalah: seberapa gelapkah  kegelapan di dunia ini sehingga tak dapat ditanggulangi oleh manusia atau harus dengan kedatangan Mesias sebagai Anak domba Allah? Jawaban  untuk pertanyaan ini dengan demikian telah menjadi pasti tanpa sebuah ruang sepekulasi apalagi untuk banyak opsi atau alternatif solusi. Memandang kepada apa yang sedang Allah lakukan pada momentum kelahiran  Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus Sang Immanuel kita akan melihat sebuah kemutlakan baik pada cara penyelamatan oleh Allah dan  sebuah kemutlakan keadaan manusia  yang dipenjara oleh kegelapan. Tentu pada waktu   mengatakan Yesus Sang Immanuel maka ini adalah sebuah sebutan yang akan dipahami sebagai melampaui mesias (bandingkan dengan Matius 1:23, Yohanes 1:14). Sama halnya dengan Yesus adalah Anak domba Allah.


Kita telah melihat persoalan kegelapan yang memenjara dunia beserta isinya, dan mengapa mutlak membutuhkan Sang Terang, melalui Injil Yohanes, pada bagian 7 sebelumnya. Sekarang kita akan memandang persoalan ini melalui  Injil Lukas, dan saya akan memulainya dari kelahiran Yohanes Pembaptis:

Lukas 1:5-25
(5) Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.(6) Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.(7) Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.(8) Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.(9) Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.(10) Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.(11) Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.(12) Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.(13) Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.(14) Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.(15) Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;(16) ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,(17) dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."...(24) Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya (25) Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.


Pada satu kesempatan melalui pengundian, imam Zakaria mendapatkan  giliran melakukan tugas  keimaman di hadapan Tuhan. Apa yang luar biasa adalah apa yang terjadi selanjutnya: Saat dia masuk ke dalam Bait Suci dan  membakar ukupan, tampaklah malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Jelas ini adalah peristiwa yang tak lazim dan tak diantisipasi sama sekali oleh Zakaria, dan  kunjungan malaikat Tuhan ini sungguh mendatangkan ketakutan yang luar biasa, sehingga malaikat Tuhan berkata: “Jangan Takut.” Hari itu Tuhan memilih Zakaria untuk melayani bait Allah melalui sebuah pengundian, tak ada yang kebetulan dalam hal ini, namun memang Zakaria telah dinantikan oleh Tuhan untuk masuk kedalam bait suci [bandingkan dengan Amsal 16:33, Yosua 14:2]


Tak hanya sampai di situ, malaikat itu melanjutkan perkataannya yang diluar dugaan Zakaria (bandingkan dengan Lukas 1:18), merupakan jawaban atas kerinduannya untuk memiliki seorang anak. Di usia senja dia mendapatkan jawabannya di saat dia sedang melayani bait Allah. Sementara seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang, Zakaria justru mendapatkan  jawaban doa pribadinya- bahkan lebih besar. Apakah memang benar demikian, bahwa malaikat di dalam bait Allah semata memberikan  jawaban pengabulan doa yang telah lama di nantikan? Faktanya, malaikat itu bukan SEMATA memberikan jawaban pengabulan atas doa kedua pasangan suami isteri lanjut usia,  sebab  sekalipun memang Elisabet, isterinya akan mengandung namun anak tersebut pada dasarnya telah dipisahkan (bahkan dalam realitanya dipisahkan dari ayah dan ibunya : Lukas 1:90- dia besar tidak dihadapan  orang tuanya namun dihadapan Tuhan) atau  dipilih untuk menjadi alat di dalam genggaman tangan  Tuhan, untuk melayani   maksud Tuhan yang begitu megah. Zakaria dan Elisabet  akan dan memang bersukacita (Lukas 1:58), namun perhatikan hal ini:
(1) ia akan besar di hadapan Tuhan
(2) ia tidak akan minum anggur atau minuman keras
(3) dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya
(4) dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya
(5) ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka
(6) ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia

Malaikat Tuhan  sedang memberikan jawaban yang melampaui kepentingan pribadinya atau apa yang menjadi kebutuhan akan jawaban doanya. Zakaria tahu sekali dengan demikian bahwa  anak yang akan dimilikinya adalah anak yang telah dikhususkan oleh Tuhan, bahkan secara lahiriah dia telah dikhususkan menjadi seorang yang tidak minum anggur atau minuman keras dan dibesarkan di hadapan Tuhan, dia  harus dipisahkan dari dunia ini-kegelapan pekat ini dan mengikut  kemana Tuhan menuntuNnya pergi, sebab Roh Kudus memenuhi dirinya.


Tetapi apa yang lebih luar biasa adalah pernyataan malaikat yang berbunyi “penuh dengan  Roh Kudus  mulai dari rahim ibunya.” Sejak dari dalam kandungan! Apakah dia   mesias yang dijanjikan itu? Jelas bukan kalau kita memperhatikan poin 6. Dia bukan yang  dijanjikan itu sendiri, namun dia harus mendeklarasikan kedatangan dia yang dijanjikan itu (bacalah kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai siapakah dirinya pada Yohanes 1:19-28). Kini sebuah transisi hebat sedang mulai  terjadi ketika Roh Allah berdiam bukan didalam  media-media kudus benda mati seperti  bait suci namun berdiam di dalam manusia-manusia yang dipilih dan dipersiapkan secara khusus oleh Tuhan (yang saya maksud Yohanes Pembaptis dapat mengetahui siapakah Yesus  sebab Roh Kudus berdiam di dalamnya-dia berjumpa dengan Allah dan mengetahui kehendak-Nya  tepat pada dirinya yang dipenuhi oleh Roh), bahkan sejak sebelum kelahirannya! Bahkan kelak Yohanes adalah seorang yang hidup di luar bait suci atau dia bukanlah seorang yang berada didalam sistem peribadatan yang diatur di dalam kitab Musa sehingga tak aneh kala antara dirinya dan para pemimpin agama resmi terjadi sebuah kebingungan yang pelik( bacalah  Yohanes 1:19-28). Bait suci tidak lagi menjadi sentral pengumandangan  kabar baik, namun  gurun dan oleh seorang yang bahkan bukan merupakan pejabat formal di dalam bait suci dimana kebenaran kitab Musa, kitab nabi-nabi dan Mazmur dikumandangkan!



Pada poin  dipenuhi Roh Kudus sejak di dalam kandungan, juga membuat jelas untuk dapat dipahami, mengapa saat Yohanes Pembaptis saat masih berada di dalam kandungan  ibunya dapat melonjak kala Maria yang baru saja diberitahu mengandung sang Mesias menyapa Elisabet ibunya, hal itu terjadi, tak lain dan tak bukan karena Roh Kudus yang memenuhi  Yohanes Pembaptis  memampukannya sekalipun masih berada didalam kandungan dapat mengenali Yesus yang sedang dikandung oleh Maria! Kita dapat berkata bahwa,  bukan hanya Simeon, Hana, dan Elisabet sudah dapat mengenali sang Mesias bahkan sejak dalam kandungan, namun bahkan kalai Yohanes Pembaptis masih berada di dalam kandungan, pun dapat mengenalinya oleh karena Roh Kudus! Dan pada puncaknya kita dapat berkata bahwa mengenal siapakah Yesus sangat bersentral kepada Allah yang memampukan seseorang untuk mengenalinya sebagai keselamatan yang datang dari Tuhan!


Kabar yang diberikan oleh  malaikat kepada Zakaria dengan demikian telah menggeser pusat  penantian keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan dari bait Allah kepada Yohanes Pembaptis yang dipenuhi Roh Kudus dan berada di luar bait suci, di gurun. Penerimaan kabar gembira di bait suci oleh Zakaria juga adalah momentum terakhir  bagi lamanya sebuah penantian lama akan   kedatangan sang Mesias, bahkan saat sang Mesias masih dalam proses pembuahan ajaib oleh Roh Kudus, sebagaimana malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria bahwa dia akan mengandung seorang Mesias pada saat dia belum menikah dengan calon suaminya.


Perhatikanlah nubuat sang ayahanda Yohanes Pembaptis setelah dia terlepas dari kebisuannya (Lukas 1:18-21) setelah dia menuliskan nama anak tersebut –yang diperdebatkan (Lukas 1:59-62)-sesuai dengan apa yang disuruhkan oleh malaikat di bait Allah  (Lukas 1:63-65) :

Semenjak Yohanes Pembaptis lahir dan bertumbuh dewasa dihadapan Tuhan maka di alam terbuka dan bukan di dalam bait suci, kabar akan  hadirnya sang Mesias dikumandangkan:

Lukas 1:67-79
(67) Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya (68) Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, (69) Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, (70) --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus—(71) untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,(72) untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,(73) yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,(74) supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,(75) dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.(76) Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,(77) untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,(78) oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,(79) untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Saat Zakaria penuh dengan Roh Kudus dan bernubuat, dan kala tiba mengenai apa yang akan dilakukan anaknya, maka kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah mesias yang dinantikan itu, namun seorang nabi Allah Yang Mahatinggi.

Namun apa yang  sangat monumental adalah: nubuat tersebut telah menghasilkan momentum yang sangat ilahi terhadap keadaan dunia yang dikuasai kegelapan:

(1)keselamatan yang berdasarkan pengampunan
(2)Keselamatan oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita
(3)Keselamatan yang dibawa oleh Sang Surya pagi (anatolē) yang  terbit dari timur
(4)Sang Surya Pagi itu bukan datang dari dunia atau dari bawah namun datang dari atas atau  dari tempat  yang tinggi (upsous)
(5)Sang Surya pagi itu menerangi manusia-manusia yang tanpa kecuali (harus dikatakan demikian sebab tak ada yang tak membutuhkan terang Surya pagi) berada di dalam kegelapan (skotei) dan dalam naungan (skia= bayangan)  maut (thanatou= kematian)
(6)Sang Surya pagi itu akan melakukan penuntunan (kateuthunai=meluruskan) kaki-kaki manusia yang diselamatkan agar melangkah kepada jalan damai sejahtera (sebuah kontras tajam terhadap keadaan sebelumnya : diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut)

Terlihat nyata didalam nubuat  yang diucapkan oleh Zakaria, bahwa  segenap manusia berada didalam kesegenapan gelap, tanpa ada sebuah pengecualian. Mesias yang digambarkan sebagai Sang Surya pagi menunjukan bahwa  sebagaimana dunia tanpa matahari maka kegelapan gulita akan abadi menyelimutinya maka demikianlah Yesus Kristus  terhadap situasi segenap manusia, bahwa tanpa Yesus-Sang Surya pagi maka kegelapan gulita saja adanya tanpa ada yang dapat diperbuat oleh manusia untuk menanggulanginya. Sebuah ketakberdayaan yang mematikan. Nubuat tersebut bahkan berkata ‘diam  dalam  kegelapan dan dalam naungan maut.” Untuk menggambarkan ketakberdayaan semua manusia; untuk menggambarkan betapa manusia tanpa kecuali membutuhkan Yesus Sang Terang Sang Surya pagi!


Dengan demikian, ini pun merupakan kebutuhan Zakaria yang tak terelakan, sekalipun dia adalah seorang yang “benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Lukas 1:6), pun dia membutuhkan Sang Surya pagi.


Inilah momentum menjelang masuknya Sang Surya Pagi, kala  Zakaria mengumandangkanya dan kala Yohanes Pembaptis meneriakannya (bandingkan dengan Yohanes 1:23). Inilah momentum ketika segala sesuatu yang dituliskan oleh para nabi  Perjanjian Lama sedang mengalami momentum-momentum pewujudan termegahnya yang sangat dekat: ”seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus” Lukas 1:70 (bandingkan dengan: Ibrani 1:1-2 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.).



Inilah momentum keselamatan berdasarkan pengampunan dosa-dosa dan bukan berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum Taurat – Kitab Musa. Inilah yang menjelaskan mengapa Yesus Sang Terang Sang Rabbi Sang Mesias sekalipun menyetujui kebenaran hukum Taurat namun tak memvonis wanita berzinah itu dengan hukuman mati, namun memberi vonis bebas sebagai tanda pengampunan- rahmat dan belas kasihan dari Allah yang diberikan oleh Sang Mesias Sang Terang. Inilah yang menjelaskan mengapa sekalipun orang kaya itu dapat memenuhi semua tuntutan hukum Taurat namun dimatanya tetap “kurang atau tak memadai” sebab tetap ada sebuah kegelapan yang teramat kuat di dalam dirinya sehingga pada akhirnya lebih memilih bersedih takut kehilangan kekayaan daripada meninggalkan kekayaan dan mengikut  Yesus Sang Terang sehingga memiliki kehidupan kekal- sebuah keotentikan betapa hebatnya kegelapan itu membeliti jiwa manusia sekalipun  dihadapannya berdiri Sang Terang Sang Mesias (Yohanes 3:19) dan sekalipuin dia sukses memenuhi tuntutan Taurat!




Bagi Allah, semua manusia berada di dalam kegelapan dan didalam naungan maut, sebagaimana dinubuatkan oleh Imam Zakaria! Sebuah kondisi absolut yang tak dapat ditanggulangi manusia selain hanya dapat ditanggulangi oleh Sang Surya Pagi- Yesus Kristus.


Dan jika manusia berada didalam kegelapan dan didalam naungan maut,  maka memang dapat dipahami Yesus berkata kepada para murid-muridnya:

Markus 10:24 (24)Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah (25)Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."(26) Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"(27)    Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."


Sebagaimana telah kita pelajari, ini adalah dialog antara Yesus dan para murid terkait orang kaya yang bertanya “apa  yang harus kulakukan  untuk dapat memiliki kehidupan kekal.- Markus 10:17” Dan tak ada yang dapat dilakukan manusia jika masuk ke sorga adalah berdasarkan apa yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Bahkan seorang  Zakaria yang melakukannya secara sempurna termasuk  di antara manusia yang membutuhkan Sang Surya Pagi untuk hadir di dunia yang gelap ini.


Mustahil bagi manusia untuk mengupayakan dirinya untuk dapat memiliki kehidupan kekal, namun tidak demikian bagi Allah. Mengapa Yohanes Pembaptis kemudian mengatakan bahwa Sang Mesias adalah Anak domba Allah? Apakah  hubungan antara Yesus Anak domba Allah yang dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis dan pernyataan Yesusbagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah.” Apakah yang dapat dilakukan oleh Yesus, yang merupakan  kemustahilan untuk dilakukan oleh  manusia untuk memiliki kehidupan kekal?


Kita akan melihatnya pada bagian 9. Sementara itu, pelajarilah  bagian ini, dan ada baiknya keseluruhan serial ini jika anda belum pernah membacanya sama sekali. Bacalah dan renungkanlah, saya berdoa agar kiranya  Yesus Sang Mesias Sang Terang Sang Surya Pagi berkenan untuk menyinari dirimu sehingga kegelapan segera sirna seketika dan anda dapat melihat, mengenali dan berlari kepada Yesus Kristus Sang Terang Sang Mesias yang akan memerdekakan anda dari belenggu kegelapan dosa ini. Dalam kasih karunia Tuhan, saya akan tetap menuliskan bagian-bagian selanjutnya, walau saya juga harus berterus terang bahwa untuk saat ini saya tak terhindarkan tidak bisa  hadir di blog ini setiap hari, untuk menyajikannya secara   teratur, setiap harinya.


AMIN
Segala Kemuliaan Hanya Bagi TUHAN

P O P U L A R - "Last 7 days"