0 Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus(6)



Oleh: Martin Simamora

Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus(6)


Bacalah lebih dulu bagian 5

Seorang ahli Taurat berdiri  untuk mencobai Yesus dengan sebuah pertanyaan: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"-Lukas 10:25. Ini adalah pertanyaan yang serupa dengan yang ditanyakan oleh orang  kaya yang telah lebih dulu kita pelajari, memiliki sebuah kemiripan identik: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Kedua-duanya mendasarkan pertanyaan tersebut pada kebenaran yang  memang terdapat di dalam hukum Taurat, baik si orang kaya: Markus 10:19-20 dan si ahli Taurat, sebagaimana yang diindikasikan oleh Yesus:

Lukas 10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

Setiap kali  berbicara mengenai “hidup kekal” maka pasti akan bertaut dengan apa yang harus kuperbuat agar mendapatkannya sebab demikianlah keadaan setiap orang yang hidup dibawah Taurat, selalu terpenjara oleh apa yang  harus dilakukan agar memilikinya. Pada si orang kaya, sekalipun Yesus telah memberikan jawabnya-apa yang harus dilakukan - telah  terbukti bahwa dia tak dapat melakukannya. Bagaimana dengan ahli Taurat satu ini, apakah dia akan berbeda daripada yang lainnya? Dapatkah ia memenuhi tuntutan hukum Taurat sebagaimana yang Yesus akan kemukakan. Saya ingin mengatakan bahwa  baik pada peristiwa dialog antara orang kaya dengan Yesus, dan dengan seorang ahli Taurat, adalah berbicara tentang mengasihi atau mengikut Tuhan dalam sebuah totalitas,  seperti “apa yang tertulis dalam hukum Taurat. Anda atau siapapun yang mengandalkan kehidupan kekal atau keselamatan berdasarkan perbuatan maka pasti tak terpisahkan dengan hukum Taurat dan kesempurnaan untuk memenuhinya. 



Menyangka Dapat Memenuhi, Namun Sesungguhnya Tak Berdaya

Terhadap pertanyaan Yesus ini, si ahli Taurat memberi jawaban sebagai berikut:

Lukas 10:27
Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."  


Jika kita membandingkan dengan orang kaya yang diminta oleh Yesus untuk melakukan “satu yang kurang”: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku- Markus 10:21, maka dapat dikatakan bahwa kegagalan si orang kaya itu terkait ketakmampuannya untuk Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap... segenap... segenap. Keenggenannya untuk menjual apa yang dimiliki (=semua)  bukan saja menunjukan bahwa belenggu dosa pada dirinya telah memenjarakan dirinya-mencegahnya untuk datang  kepada Yesus, sehingga memiliki kehidupan yang kekal adalah sebuah kemustahilan untuk diupayakan oleh manusia yang tak memiliki kuasa mandiri untuk menaklukan kuasa-kuasa dosa di dalam dirinya.



Poin paling krusial: “mengasihi Yesus yang dikaitkan dengan melepaskan atau memberikan diri secara totalitas dalam kesegenapan  bagi Yesus” kembali mencuat dalam dialog antara Yesus dengan si ahli Taurat. Jawaban si ahli Taurat memiliki dua hal yang sama besar dan sama sekali tak dapat dipisahkan satu sama lain. Tak bisa hanya diambil satu bagian untuk kemudian mengabaikan bagian lainnya (Matius 22:37-40):

(1) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu
(2) kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."   


Mengasihi Tuhan harus dengan sebuah totalitas, maka mengasihi manusia harus juga dalam sebuah totalitas. Pada mengasihi Tuhan totalitas adalah segenap hatimu, segenap jiwamu,segenap kekutanmu dan segenap akal budimu, maka mengasihi sesamamu adalah seperti dirimu sendiri- tak ada perbedaan atau diskriminasi antara dirimu dan pada yang anda tolong.


Pada kasus orang kaya yang diminta oleh Yesus untuk pergi menjual apa yang dimilikinya, baru  kemudian boleh kembali kepada dan mengikut Yesus, sebetulnya bukan semata Yesus  berbicara mengenai kecintaan tertinggi yang seharusnya ditujukan hanya kepadanya, namun secara  bersamaan berbicara  mengasihi sesamamu manusia seperti halnya anda mencintai dirimu, “seautoú”, tak boleh engkau mendiskriminasikan cintamu pada dirimu dan kepada orang lain, ketika anda mengasihi orang lain maka haruslah sebagaimana engkau  bertindak pada dirimu dalam sebuah aksi mencintai dirimu sendiri. Pada Matius 22:37-40 kita mendapatkan bahwa bagi  Yesus ini adalah 2 hukum yang sama pentingnya atau sama tinggi dan sama mulia,  yang ditegaskan oleh Yesus dengan sebuah pernyataan “pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."  Bisakah anda mengasihi orang lain dengan sebuah kesetaraan tindakan mengasihi sebagaimana engkau melakukannya pada dirimu sendiri?



Hal inilah yang sedang ditunjukan atau disingkapkan oleh  Yesus kepada si ahli Taurat yang sedang mencobainya melalui sebuah pertanyaan. Perhatikan tanggapan Yesus selanjutnya:


Lukas 10:28
Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."



Jawaban si ahli Taurat adalah benar. Tetapi apakah sudah melakukan? Yesus menunjukan bahwa sebetulnya si ahli Taurat belum melakukannya. Sebaliknya Yesus memintanya untuk berbuat demikian  sehingga  apa yang didambakan atau diinginkannya dapat terwujud- hidup kekal. Dia sudah memberikan jawaban yang lurus atau benar atau orthos, namun tanpa perbuatan tidak akan mengalami berkat tersbut atau mendapatkan hidup kekal. Si ahli Taurat baru akan mengalami jika dia melakukannya secara benar atau lurus-tanpa sebuah kebengkokan sedikitpun. Yesus   jelas melihat ada kesenjangan besar antara apa yang diinginkannya dengan apakah  dia melakukannya. Yesus hanya melihat sebuah kemunafikan  hebat pada diri ahli Taurat, sama munafiknya dengan mengapa dia mengajukan pertanyaan itu sendiri, untuk mencobai atau sebuah motivasi yang  bengkok.



Dan kelihatannya, kemunafikan yang sedang tertangkap basah oleh Yesus ini berupaya keras untuk disembunyikannya dihadapan Yesus:


Lukas 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"


Si ahli taurat berupaya mendeklarasikan dirinya benar – dikaiōsai, dengan mengajukan pertanyaan berikutnya “Dan siapakah sesamaku manusia?


Namun, benarkah si ahli Taurat tersebut memang  telah memenuhi tuntutan hukum Taurat sebagaimana deklarasinya? Yesus menjawabnya dalam sebuah cara yang tak langsung , melalui sebuah narasi perumpamaan. Jawaban Yesus yang tak langsung, yang didalamnya sangat menekankan perbuatan yang dimaksudkan oleh Yesus dalam sebuah intensitas yang luar biasa, Yesus menjawab si ahli Taurat:


Lukas 10:30-35, 36-37
(30)Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.(31) Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.(32) Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. (33)Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.(34) Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.(35) Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.


(36) Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"(37) Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


Yesus memberikan sebuah jawaban melalui PERUMPAMAAN, untuk menjawab si ahli Taurat, bahkan secara nyata, Yesus memasukan kedalam perumpamaannya hal paling sukar bagi bangsa Yahudi untuk dapat terjadi, jika berbicara mengenai orang Samaria maka apa yang mengemuka adalah sebuah permusuhan antara bangsa Yahudi dan bangsa Samaria. Sebetulnya Orang Samaria  adalah orang setengah Yahudi. Sebenarnya memiliki pertalian darah dengan orang Yahudi itu sendiri, apa yang membuat mereka terpisah jauh adalah karena telah tercemar dengan  pernikahan campur dengan bangsa-bangsa asing dan pengaruh penyembahan berhala pada kehidupan rohani yang menjijikan Tuhan (coba baca 2 Raja-Raja 17:29-41, 2 Raja-Raja 18:9-11. juga bandingkan dengan Ezra 9:1-10, Nehemia 13:23-28).


Dalam menunjukan kasih kepada sesama manusia, Sang Rabbi Sang Mesias memasukan saudara  jauhnya, orang Samaria kedalam perumpamaan ini. Satu-satunya yang bukan aktual dalam Perumpamaan ini adalah  kejadian yang dikisahkan Yesus. Namun “orang Samaria”, “seorang imam”, “seorang Lewi”  adalah 3 tokoh yang mewakili keaktualan yang ada di dalam masyarakat nyata, demikian juga halnya dengan apa yang dikehendaki Yesus dan hukum Taurat terkait “mengasihi sesama” yang digambarkan melalui interaksi ketiga tokoh tersebut. Sekarang mari kita lihat   wujud  kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri dan siapakah sesamu didalam hal perumpamaan tersebut.


Yesus membuka sebuah kisah  kemanusiaan yang memilukan:
seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Nampaknya, ada sebuah titik dalam rute perjalanan itu yang sangat rawan dengan tindak kejahatan dengan kekerasan, dan seorang  yang tak disingkapkan siapakah dia –tak jelas apakah dia orang Yahudi ataukah bukan, kecuali dia seorang yang berasal dari Yerusalem- telah disergap oleh perampok. Tak hanya dirampok habis-habisan sehingga tak ada  lagi yang tersisa pada dirinya, tak ada lagi apapun yang dapat disebut sebagai harta bendanya. Tak hanya dirampok habis-habisan hartanya, juga dipukuli dan nampaknya dipukuli secara  hebat sehingga dalam keadaan sekarat. Dia ditinggalkan begitu saja dalam keadaan tak berdaya bukan hanya kehilangan semua harta bendanya namun kini terancam kehilangan nyawanya. 


Di rute perlintasan para pejalan seperti ini pastilah dia memiliki kemungkinan cukup besar untuk  dapat dilihat dan ditemukan, sehingga memiliki peluang untuk diselamatkan dari resiko kematian, tetapi hal sebaliknyalah yang terjadi:

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan

Ada 2 orang yang melintasi tempat kejadian perkara dan melihat kondisinya yang mencemaskan namun baik seorang  Yahudi yang adalah seorang Imam dan seorang Yahudi yang adalah seorang Lewi, sekalipun melihat korban tergeletak dalam keadaan kritis dengan matanya,berada dekat sekali dengan korban dan mengetahui bahwa pastilah korban tersebut membutuhkan pertolongan, namun membiarkannya! Melewatkannya dan meninggalkannya dalam kesekaratan di jalan perlintasan tersebut! Baik orang Lewi dan Imam tersebut adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran hukum Taurat- Kitab Musa sehingga  pasti mengetahui hukum kasih tersebut:

Imamat 19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Baik Imam tersebut dan seorang Lewi itu adalah orang yang mengetahui kebenaran, bahkan mengajarkannya namun tidak berbuat sebagaimana yang dituntut oleh firman Tuhan.


Hingga satu tokoh dalam perumpamaan ini muncul. Seorang Israel yang tak lagi murni, namun nampaknya dia dapat lebih baik menerapkan hukum kasih yang pernah mereka dengar dan pernah diajarkan kepadanya.  Seorang Samaria yang adalah Israel yang sesat- yang terhilang dalam kesalahan-kesalahannya, namun kelihatannya dalam kisah yang disampaikan  oleh Yesus ini, jauh lebih baik dalam menerapkan hukum kasih:
“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan

Tak hanya dia adalah seorang  yang pernah mendengarkan  dan diajarkan hukum Taurat, dan walaupun dia telah menjadi begitu kabur dengan kebenaran yang pernah diperdengarkan dan diajarkan kepadanya, namun jelas dia memiliki kasih yang luar biasa, yang menggerakan hatinya untuk berbuat demikian:

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.”

Dia tak sekedar mengambil resiko dalam menolong seorang korban. Pernahkah anda berhenti untuk menolong seorang korban kecelakaan yang tergeletak di jalan raya? Apakah anda berhenti dan menolongnya? Anda menghentikan kendaraan anda dan bergegas berlari memberikan bantuan untuk segera menyelamatkan nyawa korban ke rumah sakit, tentu dengan uangmu sendiri! Atau, pernahkah anda menolong seseorang yang baru saja menjadi  korban kejahatan yang kebetulan anda temukan saat anda melintas, entah anda berjalan kaki atau anda mengendarai kendaraan, ditikam perutnya tangannya menutupi luka yang mengucur darah sambil mengerang kesakitan minta tolong, terduduk di trotoar dan banyak orang mengabaikan sebab  takut terlibat- mungkin takut dimintai keterangan oleh Polisi(?), atau ala kadarnya melihat namun kemudian pergi meninggalkannya untuk banyak alasan yang tak diketahui. Inilah juga situasi yang dapat dihadapi oleh orang Samaria ini. Dia mengambil sebuah resiko besar, menolong seorang korban di lokasi yang kemungkinan besar adalah rawan. Dia dapat saja menjadi korban segera berikutnya pada saat sedang menolong.


Kasihnya telah mengalahkan ketakutan dan kasihnya telah menempatkan dirinya dalam bahaya besar demi menolong korban. Ia kemudian menaikannya ke tungganganya, dan membawanya ke penginapan, untuk merawatnya.  Betapa ini sudah dinilai  berlebihan” bagi masyarakat kita yang moderen, untuk dilakukan  bagi seseorang yang tak dikenalinya sama sekali? Mengapa nekat mengambil resiko keamanan dan resiko keuangan-bagaimana kalau keuangan rumah tanggaku menjadi terganggu karena menolong? Tak menggunakan hikmatkah, orang  Samaria itu kala menolong orang?Pernahkah anda membawa ke rumah  atau membawa ke rumah sakit korban kejahatan dan anda menanggung sepenuhnya, tanpa anda mengetahui latar belakangnya? Sehingga ada sebuah resiko dalam menolong semacam ini. Dia merawatnya dan tidak meninggalkanya; dia menanggung berapapun biaya itu tak peduli apakah itu akan menguras keuangannya:” Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali


Tak sekedar menanggung biaya pengobatan hingga tuntas,namun menanggung kekurangannya. Si Samaria akan mengganti semua uang  belanja untuk kebutuhan proses penyembuhan korban, yang dikeluarkan oleh si pemilik penginapan. Dia, orang Samaria itu, akan kembali untuk itu.


Siapakah yang dirawatnya? Seorang asing yang tak dikenalinya. Seperti apakah dia merawat orang asing tersebut? Seperti dia merawat dirinya, bahwa dia memastikan yang  terbaik tak peduli semahal apapun yang  harus ditanggungnya. Bagaimana dengan saya dan anda? Saya masih harus belajar sangat banyak untuk dapat seperti orang Samaria tersebut, atau lebih tepatnya saya harus belajar banyak bagaimana dapat hidup dalam kasih Kristus sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Yesus. Orang Samaria telah menjadi reflektor mengasihi sesamamu manusia yang  sukses mendemonstrasikan kebenaran kasih Tuhan yang dahsyat, dalam narasi Yesus.


Memang mengejutkan, jika Yesus memunculkan seorang Samaria sebagai seorang yang memiliki kasih. Sama mengejutkannya dengan seorang Imam dan seorang Lewi yang digambarkan Yesus sebagai tak peduli atas keadaan seorang korban. Orang Samaria, Seorang Imam, dan Seorang Lewi dapat dikatakan adalah orang-orang yang masih atau pernah (orang Samaria)  memiliki atau mengecap kebenaran hukum Taurat. Orang Samaria yang dipandang rendah ternyata digambarkan oleh Yesus sebagai yang berhenti dan menolong secara total- dalam sebuah kesegenapan!


Menutup narasinya yang diakhiri dengan demonstrasi perbuatan mengasihi yang sangat keras dan sangat totalitas, Yesus kemudian bertanya kepada si ahli Taurat itu: siapakah dari ketiga tokoh tersebut adalah sesama bagi si korban?(Lukas 10:36). Dan kembali secara benar, si ahli Taurat dapat menjawab benar: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”  Untuk kemudian Yesus, juga kembali memberi perintah yang sama untuk kedua kalinya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Si ahli Taurat bagi Yesus, sama sekali  belum memenuhi tuntutan hukum Taurat. Dia hanya mengetahui kebenaran namun tak  pernah berbuat. Tepat seperti 2 orang Yahudi dalam perumpamaan atau narasi yang disampaikan oleh Yesus tersebut, tahu namun tak berbuat apapun. Bisa berbicara kasih dengan fasih namun hampa perbuatan.


Bagaimana bisa, dia masih menyangka dapat atau malah beranggapan dirinya sudah berhasil memenuhi tuntuan hukum Taurat, sementara  dia sama sekali belum berbuat seperti dimintakan Taurat? Dan kita dapat secara pasti tanpa spekulasi, menyatakan bahwa memang benar si ahli Taurat belum sama sekali dapat memenuhi tuntutan hukum Taurat, bahkan sejak pertama kali dia bertanya:
(1) Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus- Lukas 10:25
(2) Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"-Lukas 10:29
Sang Rabi Sang Mesias telah mengetahui sedari awal, bahwa sang ahli Taurat tak berdaya untuk berbuat apapun terkait tuntutan hukum Taurat. Jika dia berharap dari perbuatannya untuk dapat memiliki kehidupan kekal maka niscaya dia gagal, tepat seperti yang dialami oleh orang kaya yang juga gagal untuk mengasihi Tuhan sebab dia lebih mencintai kekayaannya-sehingga dia lebih memilih harta dan meninggalkan kehidupan kekal yang didambakannya.


Penggambaran Yesus bagaimana wujud mengasihi sesama manusia yang demikian keras, luas dan melibatkan seluruh kehidupanmu dalam sebuah kedalaman yang  hebat, tak dapat ditawar-tawar sebab itu adalah  gambaran terbaik darinya tentang bagaimana mengasihi sesama dalam sebuah ketotalitasan, sebagaimana juga sebuah  totalitas dalam mengasihi Tuhan,kala Yesus menyuruh orang kaya itu untuk menjual apa yang dimilikinya untuk kemudian mengikutnya dan memperoleh hidup yang kekal. Sang Rabbi telah memberikan interpretasi yang begitu mulia atas hukum kasih dalam Kitab Musa. Hal yang tak diajarkan oleh ahli Taurat apalagi untuk dipraktikan.

Mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri dalam versi Sang Terang Sang Rabbi adalah sebuah kehendak Allah yang begitu mulia dan tak ada manusia yang dapat memenuhinya sehingga dapat memiliki kehidupan kekal dengan  melakukannya.


Orang Samaria adalah sesama manusia bagi korban. Dalam hal ini, sama sekali tak hendak mengatakan bahwa  walaupun seorang itu hidup dalam penyembahan berhala atau bukan orang percaya  akan dapat memiliki hidup kekal asalkan dia dapat berbuat baik  sebagaimana yang Yesus tuntut. MENGAPA? Sebab mengasihi sesamamu manusia tak dapat dilepaskan dari mengasihi Allah. Allah yang telah memberikan kasihnya yang terbesar bagi manusia (Yohanes 3:16).



Harus menjadi catatan yang sangat penting bahwa dalam Lukas 10:16 Yesus menegaskan kesentralan pengajarannya atau firmannya yang tak dapat dilepaskan dengan dirinya sendiri:
Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."

Tak ada satupun pengajaran atau firman dan kandungan pengajaran atau firman yang boleh diinterpretasikan sebagai dasar untuk melepaskan keselamatan berdasarkan perbuatan baik terlepas dari keberimanan kepada Yesus. Menolak Yesus adalah menolak Dia yang mengutus Aku. Sehingga orang Samaria yang baik hati, di dalam narasi Yesus, tidak sedang diarahkan oleh Yesus untuk menggagaskan keterlepasan dari diri Yesus sendiri sebagai satu-satunya yang harus diikuti agar memiliki kehidupan kekal.  Yesus senantiasa memastikan bahwa semua pengajarannya atau firmannya, termasuk didalam perumpamaan ini, tak dapat dilepaskan dari dirinya. 


Selamat membaca dan merenungkannya.


Bersambung ke Bagian 7
AMIN
Segala Kemuliaan Hanya Bagi TUHAN

Rujukan:
Terkait Orang Samaria :

P O P U L A R - "Last 7 days"