0 Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus(5)



Oleh: Martin Simamora

Kemerdekaan Orang Kristen Di Dalam Kristus(5)


Bacalah lebih dulu bagian  4

Dan Yesus  tak terhindarkan memang telah menjadi gravitasi  utama  bagi kehidupan rohani dan keagamaan bangsa Yahudi kala itu, yang menciptakan sebuah daya tarik teramat kuat, menciptakan titik-titik daya tarik yang kian membesar  entah dalam bentuk oposisi atau dalam bentuk penerimaan  bangsa Yahudi yang mendasarkan kehidupan rohaninya pada hukum Taurat-kitab Musa, kitab para nabi, dan Mazmur. Kitab-kitab sejenis yang juga  diterima sangat baik oleh Yesus Kristus (Baca Lukas 24:24-27, Lukas 24:44; bandingkan dengan Lukas). Tentu saja Yesus memiliki pandangan yang amat berbeda dalam memandang semua kitab tersebut. Inilah yang menyebabkan kesenjangan dan konflik tajam dalam berbagai dialog atau interaksi antara Yesus dengan ahli-ahli Taurat. Sehingga kerap, tak aneh mencobai atau mencari kesalahan  Yesus  adalah motivasi yang amat mendominasi jiwa mereka.


Yesus bukan saja memiliki cara pandang yang berbeda terhadap Kitab suci, namun dia sendiri telah menyatakan  bahwa dirinya adalah penggenap apa yang telah dituliskan di dalam Kitab suci itu. Yesus pada dasarnya adalah penggenap ‘global’ Kitab suci, kita tak bisa mengatakan bahwa dia penggenap hukum Taurat belaka, membatasinya hanya pada penggenap atas perintah-perintah,atuaran-aturan dan nubuat-nubuat, namun dia pada dasarnya penggenap atau penentu dalam makna totalitas terhadap perjalanan alam semesta ini (bandingkan dengan Markus 13:1-31, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”). Yesus  bukan sekedar Penggenap namun Dia Yang Berfirman bagaimana perjalanan alam semesta dan kesudahannya.



Lukas 10:22-24 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."


Untuk memahami siapakah Yesus dan  memahami bahwa dialah yang sedang dituliskan oleh Kitab suci telah menjadi semakin sukar oleh sebab, setidaknya 2 hal:

(1)Tidak semua mata dapat melihat siapakah Yesus sebagai “dia yang telah menerima SEMUA yang telah diserahkan oleh Bapa.” Semua orang kala itu dipastikan dapat melihat Yesus, namun pasti tidak semua  dapat melihat siapakah Yesus sesungguhnya
(2)Semua yang dituliskan dan dinantikan untuk dilihat dan didengarkan atau diketahui secara utuh oleh para nabi, tetaplah tinggal dalam keadaan demikian- tak pernah mereka berjumpa dengan penggenapan atas apa yang telah mereka terima dan imani. Apa yang dituliskan oleh para nabi adalah  tulisan-tulisan ilahi yang menantikan penggenapannya atau pewujudannya yang bahkan melampaui pemahaman mereka sendiri. Sehingga membaca Kitab suci (Perjanjian Lama) dan menolak Sang Mesias adalah sebuah kefatalan, dan untuk dapat menerima Sang Mesias sangat bergantung pada keberkenan Anak. Kepada siapakah Anak berpaling, dia akan dapat memahami  Yesus. Sebuah “penjara” yang begitu kokoh mengurung umat manusia, bergantung  atau mengikuti hukum Musa atau Taurat merupakan  kondisi yang meneguhkan bahwa manusia membutuhkan pembebasan tak hanya dari belenggu dosa itu tetapi pembebasan dari belenggu kebutaan mata iman akan siapakah Yesus.


Kontradiksi tajam dan rivalitas sengit yang membaluti jiwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus memburu Yesus, sebuah bukti bahwa mereka tidak pernah melek dan tetap buta (bandingkan dengan Lukas 10:21)sekalipun kedua bola mata mereka dapat melihatnya bahkan berinteraksi dalam sebuah interaksi yang kompleks. Sebuah bukti betapa kegelapan itu membelenggu sehingga menolak (Yohanes 1:11) dia yang telah dijanjikan dan dituliskan di dalam Kitab suci mereka sehingga membutuhkan Pembebasan.




Dipenjara Dalam Ketakberdayaan
Sehingga dapat dikatakan secara pasti bahwa secara alami manusia memang tak berdaya untuk dapat mengikut Yesus  sebagai Sang Terang atau Sang Penerima Segala Sesuatu. Yesus memang harus  jauh lebih besar dan lebih mulia daripada Musa dan hukum Musa itu sendiri. Namun kedatangan Yesus  ke dunia ini bukanlah sebuah kedatangan yang menyingkapkan kemuliaannya dalam sebuah kemuliaan aslinya atau kasat mata. Mari kita perhatikan hal-hal berikut ini:

Yohanes 1:1-3
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.


Teks Yohanes 1:1-3 sedang memperlihatkan kemuliaan alami yang dimiliki oleh Sang Firman, begitu megah dan begitu mulia. Sebuah keagungan yang teramat sukar untuk dibayangkan oleh manusia pada betapa sentralnya Ia “tanpa Dia  tidak ada seseuatupun.”  Terpisah darinya, tanpa keberadaanya tidak ada sesuatupun. Begitulah keagungan Sang Firman.


Sampai pada momentum:

Yohanes 1:14  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, maka seketika itu juga segala kemuliaan yang seharus memancar terik menyilaukan telah diredupkan oleh kemanusiaan yang diadakan baginya, sehingga Sang Firman yang sebelumnya ada bersama-sama dengan Allah kini diam di antara kita.


Sebuah perendahan yang tak terukurkan: sebelumnya bersama dengan Allah, kemudian diam di antara manusia. Sebuah  kedahsyatan rencana Allah terhadap manusia sehingga Allah menghendaki Sang Firman menjadi Anak Tunggal Bapa.

Dan ini adalah hal yang teramat sukar bagi manusia untuk dapat menerima dia apalagi mau menyembah dia dengan penuh semarak. Bahkan kala kelahirannya, hanya bala tentara sorga yang tahu sekali bahwa Dia yang telah menjadi manusia adalah Dia yang  harus ada di dalam penciptaan. Mari lihat momentum kemuliaan-Nya setelah menjadi manusia yang direfleksikan oleh bala tentara sorga yang meninggalkan sorga sesaat, ini adalah momentum satu-satunya para malaikat menyembah dengan semarak kemuliaan sorga:

Lukas 2:10-15 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga...”

Hanya malaikat-malaikat   yang  mengetahui siapakah bayi itu sejatinya. Seorang bayi yang diagung-agungkan oleh para malaikat bukan karena bayi itu perlu dimuliakan, namun pada dasarnya bayi itu adalah “Firman yang bersama-sama dengan Allah.” Sekalipun Sang Firman menjadi manusia, tak sama sekali Sang Firman kehilangan kemuliaan-Nya. Para malaikat tahu sekali didalam kemanusiaannya yang sejati (telah lahir- Lukas 2:6, seorang bayi, terbaring di dalam) dan membutuhkan perlindungan orang tuanya, lazimnya bayi-bayi manusia, dia tetaplah yang berhak menerima hormat dan kemuliaan yang teragung sebagaimana dia sebelumnya.


Dan Injil Yohanes sejak semula telah memberikan  pertolongan bagi kita terkait relasi Yesus dan hukum Taurat. Bahwa Yesus adalah Sang Pembebas. Beginilah Injil Yohanes memberikan pernyataan singkat namun gamblang  dan sangat prinsip:

Yohanes 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.


Rasul Yohanes pada pembukaan Injilnya secara frontal memberikan perbandingan yang sangat memuliakan diri Yesus Kristus:

(1)Hukum Taurat diberikan oleh Musa
(2)Kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus



Jika Musa berkata dan menyampaikan hukum Taurat  sebagai seorang  nabi yang mendengarkan dan menerimanya dari Tuhan untuk kemudian diteruskan. Maka Yesus berkata dan menyampaikan firman sebagai dia sendiri yang berfirman:

Yohanes 12:49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.


Yesus selalu mengaitkan secara ketat antara dirinya dan apa yang dikatakan sebagai yang memiliki  keotoritasan setara. Hanya jika dia yang berkata maka pasti secara jitu tak akan salah. Yesus sedang menempatkan dirinya sangat khusus melampaui nabi-nabi yang paling dihormati bangsa Yahudi, (ini bukan hendak menyatakan bahwa nabi-nabi lain dalam Perjanjian Lama dapat salah dengan firmanyang diterimanya, namun selalu ada sebuah ruang besar yang terpisah antara para nabi Perjanjian Lama dengan Allah yang bersabda kepadanya. Pada Yesus tak ada ruang terpisah semacam itu) Yesus menegaskan bahwa dia jauh lebih mulia dan lebih besar daripada Musa. Bukankah Musa menuliskan tentang dia, sang Mesias?


Dan puncak  kemuliaan  manusia Yesus telah secara vulgar dikemukakan oleh Yesus sendiri, perkataan-perkataannya berikut ini pada dasarnya menunjukan bahwa dia “pada mulanya adalah Firman”- Yohanes 1:1. Mari kita perhatikan pernyatan-pernyataan Yesus berikut ini:


Yohanes 12:46- (46)Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan[bandingkan dengan Yohanes 1:4.5] (47) Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.(48) Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.  


Yesus berkata bahwa menolak perkataannya adalah menolak dirinya. Menolak dirinya akan berdampak pada penghakiman pada akhir zaman. Apa yang mencengangkan, Yesus berkata : “firman yang telah Kukatakan” adalah hakimnya.” Antara dirinya dan firmannya sama kudusnya dan akan mendatangkan konsekuensi fatal kala menolaknya. Firman di sini telah menjadi begitu diindetikan dengan diri Yesus, firman bukan semata apa yang dikatakan atau difirmankannya! Dia telah menempatkan dirinya menjadi yang tertinggi dan termulia, dan  rasul Yohanes jitu menggambarkan apa yang terjadi dengan kedatangan Sang Firman ke dalam dunia ini, yang masuk kedalam kemanusian sejati: hukum Taurat diberikan oleh Musa, kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus.”



Dan memang manusia tak berdaya untuk melihat siapakah Yesus sejatinya. Manusia kala itu dan sekarang akan sukar untuk menerima Yesus sebagai yang lebih besar daripada Musa, sebagaimana telah diungkapkan oleh Yohanes dan dideklarasikan oleh Yesus.


Bahkan sekalipun sukar untuk menolak Yesus, namun kegelapan telah membutakan mereka- kuasa dosa  telah membuat mereka  untuk lebih memilih kehormatan di hadapan manusia dan agar tidak dikucilkan, ketimbang untuk menerima kebenaran:


Yohanes 12:42 “Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.” 


Sebuah kondisi yang sangat mirip dengan orang kaya (pada bagian sebelumnya) yang lebih memilih  mempertahankan kepemilikannya ketimbang melepaskannya agar mendapatkan apa yang diinginkannya;sekalipun menginginkan kehidupan kekal namun tak berdaya untuk melangkah mendatanginya-sekalipun amat dekat dengannya- malahan pergi meninggalkannya atau mengabaikannya. Manusia-manusia memang tak berdaya, bukan sekedar isapan jempol namun memang demikianlah jiwa manusia itu. Manusia yang dibelunggu kegelapan tak akan sanggup menerima Yesus (sekali lagi: Yohanes 1:9-11) sekalipun mujizat dipertontonkan:


Yohanes 12:37  Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya



Kegelapan telah membutakan dan kegelapan telah membuat manusia untuk menolak Yesus (Yohanes 1:11); kegelapan telah mebuat manusia tak mengenali Yesus (Yohanes1:10).  Kegelapan itu memang telah membuat manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang:


Yohanes 3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.


Manusia yang terbelenggu oleh dosa itu, semakin nyata keadaannya oleh kedatangan Sang Terang. Hukum Taurat memang membuktikan bahwa manusia tak berdaya di dalam memenuhi tuntutannya oleh sebab dosa yang hidup didalamnya dan bukan dirinya sendiri (kita telah melihat ini pada bagian-bagian sebelumnya). Apa yang membedakannya adalah: manusia dapat berpura-pura atau berkamuflase sebagai pelaku atau pemenuh tuntutan hukum Taurat tanpa dapat diketahui kebenarannya dan tanpa dapat diketahui kesejatiannya oleh manusia-manusia lain, sehingga dipuji walau sebetulnya Tuhan menyatakannya sebagai munafik. Namun kala Sang Terang datang maka dia tak hanya menegaskan keadaan manusia yang tak berdaya oleh kuasa kegelapan namun juga membongkar ketakberdayaan/kemunafikan manusia memenuhi tuntutan hukum Taurat. Ketika Sang Terang datang namun ditolak, maka sang Terang segera membongkar keadaan mereka secara  gamblang, orang tak bisa berpura-pura dihadapannya. Hukum Taurat boleh “tak berdaya” karena kemunafikan mereka dalam menjalankan hukum Taurat, namun Yesus menelanjangi kekurangajaran mereka terhadap hukum Taurat, mari perhatikan berikut ini:


Matius 23:1-10 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya (2) Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya (3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.(4) Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.(5) Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;(6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;(7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8)Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.(9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.(10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.


Yesus sedang mengukur atau menghakimi  ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ini luar biasa oleh sebab Yesus telah menempatkan dirinya menjadi hakim atas mereka. Yesus menjadi Hakim atas “hakim-hakim” yang dikecam Yesus sebagai amat munafik. Apa yang luar biasa adalah Yesus menjaga martabat kemuliaan dan kekudusan firman yang disampaikan oleh para munafik ini: “turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka.” 



TETAPI Yesus tidak sedang menyuruh para murid untuk mengikut Hukum Taurat; Yesus sedang berkata bahwa apa yang  diajarkan adalah benar, sama benarnya ketika Yesus bersepakat dengan ahli-ahli Taurat akan hukuman yang semestinya ditimpakan pada perempuan berzinah, sebab baik didalam hukum Taurat dan di dalam dirinya, berzinah tetaplah dosa! Tak ada perbedaan atau penurunan moral ketika Yesus berkata ikutlah Aku, dan bukan memerintahkan ikutilah hukum Taurat sekalipun akan ada hadir di dunia ini bersamamu. Dalam Matius 23, kita melihat bagaimana Yesus berkata “hanya satu Rabimu.” Yesus sedang meletakan dirinya sebagai satu-satunya Rabi yang benar, Rabi yang berkata dan secara sempurna bertindak didalam kata-katanya. Yesus bukanlah Rabi yang mengikatkan beban-beban namun tidak menyentuhnya. Ketika Yesus  berkata “alangkah Sukarnya untuk masuk ke Kerajaan Sorga” sehingga tidak ada yang dapat diselamatkan, maka  Yesus sendiri pada akhirnya akan menyelesaikan  problem ini atau Yesus sendiri meletakan sumber penanggulangan masalah ini pada dirinya sendiri. Sehingga dapat dipahami ketika Yesus bahwa pemimpinmu hanya satu Mesias. Dia satu-satunya Rabi (ῥαββί- rabbi) yang juga satu-satunya Mesias (christos). Tak ada Rabi yang dapat  sekaligus menjadi Mesias selain Yesus.


Sang Mesias sekaligus Rabbi dan Sang Mesias sekaligus Pemimpin atas kebenaran-kebenaran hukum Musa. Yesus sedang menunjukan betapa, bahkan, para ahli Taurat yang mengajarkan kebenaran adalah orang-orang celaka, sebagai konsekuensi alami bagi manusia-manusia yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. Perhatikan kecaman-kecaman Yesus berikut ini:


Matius 23:13-36 (13) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.(14) (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)(15) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.(16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.(17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?(18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.(19) Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?(20) Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.(21) Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.(22) Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.(24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.(25) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.(26) Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.(27) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.(28) Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.(29) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh(30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.(31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.(32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!(33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?(34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,(35) supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.(36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"


Dan kecaman dan penghakiman teramat keras ini bukanlah penghakiman seorang manusia Yesus yang emosional. Ini adalah penghakiman seorang Hakim Yesus yang pasti benar, penghakiman yang dilakukan oleh Dia yang mengutus nabi-nabi dan orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat, yang akan mereka bunuh! Dan Yesus menutupnya dengan sebuah pengahkiman atas Yerusalem (Lukas 23:37-39).


Dapatkah anda membayangkan betapa marahnya Yesus? Kecaman-kecamannya dalam kata-katanya adalah deskripsi tajam dan sangat keras. Saya berpendapat ini adalah sebuah bentuk kemurkaan Yesus yang disebabkan oleh tindakan mereka yang mengaku sebagai Rabi, mengaku sebagai Pemimpin namun hidup didalam kemunafikan berdarah dan menjauhkan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan. Ini adalah Tuhan yang berhadap-hadapan langsung dengan para penentang kehendaknya yang kudus. Hal serupa yang dapat anda temukan pada Yohanes 2:14.


[Yohanes 2:14-21  Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.]


Yesus dengan demikian  telah mendiskualifikasi atau melucuti semua kepemimpinan yang mengarahkan kepada kebenaran berdasarkan perbuatan-perbuatan untuk memenuhi hukum Taurat, dengan menelanjangi secara menyilaukan ketakberdayaan para guru dan para pemimpin itu melakukan apa yang diinstruksikan oleh hukum Taurat, sebab di dalam belenggu dosa. Lihatlah bagaimana Yesus berkata kepada para ahli Taurat tersebut: “Celakalah, orang munafik, ular-ular, keturunan ular beludak, orang buta, orang bodoh, pemimpin buta.” Bagaimana bisa ahli Taurat dan orang Farisi adalah ular-ular dan orang-orang buta? Hukum Taurat memang kudus dan benar namun tak menjadikan mereka kudus dan benar, sebaliknya menelanjangi keberadaan mereka. Yesus mempertegas apa yang telah dikerjakan oleh Hukum Taurat dengan kecaman-kecaman dan penghakiman-penghakimannya yang  menghancurkan wibawa dan kehormatan mereka. Yesus telah mencabut posisi mereka sebagai Rabi dan Pemimpin oleh sebab mereka telah menyerongkannya. Tak ada yang benar, selain Yesus saja.


Yesus bukan sekedar menyatakan bahwa  hanya dia  Rabi yang benar, namun juga hanya dia Sang Mesias itu. Menegaskan bahwa Yesus memahami dan sedang menegaskan  ketakberdayaan manusia  untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat, sebab manusia dikuasai oleh dosa, manusia menjadi mati karena dosa berkuasa. Dosa tak mungkin melayani kebenaran-kebenaran didalam Hukum Taurat, dosa telah melemahkan manusia untuk  melayani kebenaran hukum Taurat. Manusia  telah dilemahkan oleh dosa sehingga kasih kepada Tuhan dan sesama manusia adalah sesuatu  yang asing,  atau dilakukan sebagai seorang munafik oleh ahli-ahli Taurat tersebut:


Lukas 10:26-28 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."

Sebuah pertanyaan yang dilemparkan ahli-ahli Taurat dalam sebuah motivasi jiwa yang dibelenggu oleh dosa (Lukas 10:25), sebagai keturunan ular beludak mereka sedan menyiasati Yesus dengan menyalahgunakan dan memanipulasi kekudusan hukum Taurat. Menurutmu mungkinkah seorang  ular beludak dapat  memenuhi perintah Yesus ini?

Selamat membaca, merenungkan dan mencoba untuk menjawabnya. Kita akan berjumpa pada kesempatan berikutnya di dalam kemurahan Tuhan.


Bersambung ke bagian 6
AMIN
Segala Kemuliaan  Hanya Bagi TUHAN

P O P U L A R - "Last 7 days"