0 Lazarus dan Orang Kaya (2)

Oleh : Pdt. Budi Asali, M.Div



Lazarus dan Orang Kaya (2)

Bacalah  lebih dulu bagian 1

6)   Keadaan itu bersifat permanen / tidak bisa berubah (ay 25-26).


Ay 25-26: “(25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (26) Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang”.


Orang kaya itu minta Abraham menyuruh Lazarus memberinya setetes air, tetapi Abraham menolak permintaan itu (ay 25), dan mengatakan bahwa ada jurang yang tak terseberangi di antara surga dan neraka, sehingga tidak ada yang bisa menyeberang, baik dari surga ke neraka maupun dari neraka ke surga (ay 26). Ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang-orang di surga, seandainya mereka ingin, tak akan bisa membantu / meringankan penderitaan orang-orang yang ada di neraka, dan ini bahkan juga menunjukkan bahwa sekali masuk surga akan selama-lamanya di surga dan sekali masuk neraka akan selama-lamanya di neraka!

  • Barnes’ Notes: “How can men believe that there will be a restoration of all the wicked to heaven? The Saviour solemnly assures us that there can be no passage from that world of woe to the abodes of the blessed. ... If there is any thing certain from the Scripture, it is, that they who enter hell return no more; they who sink there, sink for ever” (= Bagaimana manusia bisa percaya bahwa di sana akan ada suatu pemulihan dari semua orang-orang jahat ke surga? Sang Juruselamat dengan khidmat meyakinkan kita bahwa di sana tidak ada jalan lintas dari dunia kesengsaraan ke tempat kediaman dari orang-orang yang diberkati. ... Jika ada sesuatu yang pasti dari Kitab Suci, itu adalah, bahwa mereka yang masuk ke neraka tidak akan kembali lagi; mereka yang tenggelam di sana, tenggelam selama-lamanya) - hal 235.

  • Norval Geldenhuys (NICNT): “After death the time of grace is past - their fate has been sealed finally and forever” (= Setelah kematian waktu kasih karunia telah lewat -nasib mereka telah disahkan untuk terakhir-kalinya dan selama-lamanya) - hal 426.

  • Louis Berkhof: “Scripture represents the state of the unbelievers after death as a fixed state. The most important passage that comes into consideration here is Luke 16:19-31.” (= Kitab Suci menggambarkan keadaan orang-orang yang tidak percaya setelah kematian sebagai suatu keadaan yang tetap. Text yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam persoalan ini adalah Luk 16:19-31) - ‘Systematic Theology’, hal 693.

Kepermanenan keberadaan di surga dan di neraka ini bertentangan dengan:


a)  Ajaran yang mengatakan adanya ‘second chance’ (= kesempatan kedua),

yang mengatakan bahwa kalau seseorang sampai mati tidak percaya Yesus, maka nanti akan diberi kesempatan kedua, dimana mereka akan di injili di tempat penantian.


Juga ajaran Andereas Samudera, yang mengatakan bahwa setelah seseorang mati, rohnya bisa gentayangan dan merasuk orang yang masih hidup, dan roh ini bisa di injili dan bisa bertobat dan diselamatkan.

Ini semua adalah ajaran sesat, dan jelas bertentangan dengan cerita ini, karena dalam cerita ini orang kaya itu langsung masuk ke neraka, dan sekalipun di sana ia jelas sekali menyesal / bertobat, tetapi ia tidak bisa diselamatkan / diampuni!


  • Lenski memberi komentar tentang ay 26 dengan kata-kata sebagai berikut: “The sense of the statement is that death decides forever, it either heaven or hell. This is not stressed by those who believe in the realm of the dead and make room for conversions in its lower part and thus a transfer into the higher part (= Arti dari pernyataan ini adalah bahwa kematian menentukan selama-lamanya, atau surga atau neraka. Ini tidak ditekankan oleh mereka yang percaya pada dunia orang mati dan membuat kemungkinan untuk pertobatan-pertobatan di bagian yang lebih rendah dan lalu suatu perpindahan ke bagian yang lebih tinggi) - hal 857.

  • William Hendriksen: “it will become clear that the one great truth here emphasized is that once a person has died, his soul having been separated from his body, his condition, whether blessed or doomed, is fixed forever. There is no such thing as a ‘second’ chance” (= akan menjadi jelas bahwa satu kebenaran besar / agung yang ditekankan di sini adalah bahwa sekali seseorang telah mati, setelah jiwanya terpisah dari tubuhnya, kondisinya, apakah diberkati atau dikutuk, tetap selama-lamanya. Tidak ada hal yang disebut ‘kesempatan kedua’) - hal 785.

b)   Ajaran yang mengatakan bahwa hukuman di neraka itu hanya bersifat sementara.

Maksudnya, kalau orang masuk neraka, maka setelah sekian waktu, dimana Allah merasa hukuman orang itu sudah cukup, maka orangnya akan diangkat dari neraka dan dimasukkan ke surga. Ini ajaran salah / sesat, dan jelas bertentangan dengan cerita yang sedang kita bahas ini!

Saya ingin memberikan beberapa kutipan kata-kata Spurgeon dari khotbahnya tentang Luk 16:26 yang diberi judul ‘The Bridgeless Gulf’ (= Jurang pemisah yang tidak mempunyai jembatan).

  • Charles Haddon Spurgeon: “Human ingenuity has done very much to bridge great gulfs. Scarcely has the world afforded a river so wide that its floods could not be overleaped; or a torrent so furious that it could not be made to pass under the yoke. High above the foam of Columbia’s glorious cataract, man has hung aloft his slender but substantial road of iron, and the shriek of the locomotive is heard above the roar of Niagara.This very week I saw the first chains which span the deep rift through which the Bristol Avon finds its way at Clifton; man has thrown his suspension bridge across the chasm, and men will soon travel where only that which hath wings could a little while ago have found a way. There is, however, one gulf which no human skill or engineering ever shall be able to bridge; there is one chasm which no wing shall ever be able to cross; it is the gulf which divide the world of joy in which the righteous triumph, from that land of sorrow in which the wicked feel the smart of Jehovah’s sword. ... there is a great gulf fixed,so that there can be no passage from the one world to the other” (= Kepandaian manusia telah menjembatani banyak jurang besar. Hampir tidak ada sungai yang begitu lebar yang tidak bisa diseberangi; atau aliran air yang deras yang tidak bisa dilalui. Di atas air terjun Kolumbia, manusia telah menggantung jalan dari besi, dan bunyi lokomotif terdengar di atas gemuruh Niagara. Minggu yang baru lalu ini saya melihat rantai pertama membentang antara Bristol Avon dan Clifton; manusia telah membuat jembatan menyeberangi jurang itu, sehingga manusia segera bisa menyeberangi jurang yang dulunya hanya bisa diseberangi oleh burung yang bersayap. Tetapi ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh kepandaian dan teknologi manusia; ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh sayap manapun; itu adalah jurang yang memisahkan dunia sukacita dalam mana orang-orang benar menang; dari tanah kesedihan dalam mana orang-orang jahat merasakan tajamnya pedang Yehovah. ...disana terbentang suatu jurang yang besar sehingga tidak bisa ada jalan dari satu dunia ke dunia yang lain) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 414.


  • Charles Haddon Spurgeon: “The lost spirits in hell are shut in for ever” (= Roh-roh yang terhilang dalam neraka dikurung untuk selama-lamanya) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III,‘The Parables of Our Lord’, hal 418.


  • Charles Haddon Spurgeon: “You do not like the house of God; you shall be shut out of it. You do not love the Sabbath; you are shut out from the eternal Sabbath” (= Engkau tidak menyukai rumah Allah; engkau akan dihalangi untuk memasukinya. Engkau tidak mencintai Sabat; engkau dihalangi untuk memasuki Sabat yang kekal) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parablesof Our Lord’, hal 419-420.
Catatan:  kata-kata ini berhubungan dengan Ibr 4:1-11.



  • Charles Haddon Spurgeon: “As nothing can come from hell to heaven, so nothing heavenly can ever come to hell. ... Nay, Lazarus is not permitted to dip the tip of his finger in water to administer the cooling drop to the fire-tormented tongue. Not a drop of heavenly water can ever cross that chasm. See then, sinner, heaven is rest, perfect rest - but there is no rest in hell; it is labour in the fire, but no ease, no peace, no sleep, no calm, no quiet; everlasting storm; eternal hurricane; unceasing tempest. In the worst disease, there are some respites: spasms of agony, but then pauses of repose. There is no pause in hell’s torments” (= Sebagaimana tidak ada apapun yang bisa datang dari neraka ke surga, demikian juga tidak ada apapun yang bisa datang dari surga ke neraka. ...Tidak, Lazarus tidak diijinkan untuk mencelupkan ujung jarinya dalam air untuk memberikan tetesan penyejuk kepada lidah yang disiksa oleh api. Tidak setetes air surgawi pun bisa menyeberangi jurang itu. Maka, lihatlah orang berdosa, surga adalah istirahat, istirahat yang sempurna - tetapi tidak ada istirahat dineraka; itu merupakan pekerjaan berat dalam api, tetapi tidak ada kesenangan, tidak ada damai, tidak ada tidur, tidak ada ketenangan; yang ada adalah angin topan selama-lamanya, badai yang kekal, angin ribut yang tidak henti-hentinya. Dalam penyakit yang terburuk, ada istirahat, kekejangan dari penderitaan, tetapi lalu istirahat yang tenang. Tetapi tidak ada istirahat dalam siksaan neraka) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 421.

  • Charles Haddon Spurgeon: “Heaven is the place of sweet communion with God ...There is no communion with God in hell. There are prayers, but they are unheard; there are tears, but they are unaccepted; there are cries for pity, but they are all an abomination unto the Lord” (= Surga adalah tempat persekutuan yang manis dengan Allah ... Tidak ada persekutuan dengan Allah dalam neraka. Di sana ada doa-doa, tetapi mereka tidak dijawab; ada air mata, tetapi tidak diterima; ada jeritan untuk belas kasihan, tetapi semuanya merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi Tuhan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 421.

  • Charles Haddon Spurgeon: “heaven’s blessings cannot cross from the celestial regions to the infernal prison-house. No, it is sorrow without relief, misery without hope, and here is the pang of it - it is death without end” (= berkat-berkat surgawi tidak bisa menyeberang dari daerah surgawi ke rumah penjara neraka. Tidak, ituadalah kesedihan tanpa keringanan, kesengsaraan tanpa pengharapan, dan inilah kepedihannya - itu adalah kematian tanpa akhir) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 422.

  • Charles Haddon Spurgeon: “There is only one thing that I know of in which heavenis like hell - it is eternal. ‘The wrath to come, the wrath to come, the wrath to come,’ for ever and for ever spending itself, and yet never being spent” (= Hanya ada satu hal yang saya ketahui dimana surga itu seperti neraka, yaitu bahwa itu bersifat kekal. ‘Murka yang akan datang, murka yang akan datang, murka yang akan datang’ untuk selama-lamanya dan selama-lamanya menghabiskan dirinya sendiri, tetapi tidak pernah habis) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 422.

Kalau ada saudara yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, renungkanlah kata-kata Spurgeon yang mengerikan ini, dan cepatlah datang kepada Kristus sebelum terlambat!


7)   Penyesalan tidak ada gunanya dalam kehidupan setelah kematian (ay 27-31).

-
"ilustrasi"

Kalau orang kaya itu begitu ingin bahwa saudara-saudaranya diinjili dan diselamatkan, maka pasti ia sendiri juga sangat ingin untuk diselamatkan. Mungkin ia berpikir: Andaikata aku dulu mau mempedulikan Injil yang diberitakan oleh pendeta / orang kristen itu kepadaku ...’. Neraka penuh dengan ‘andaikata’ tetapi semua ‘andaikata’ ini sia-sia! Kalau mau bertobat dan percaya kepada Yesus, lakukanlah sekarang! Dalam kehidupan setelah kematian, penyesalan dan semua ‘andaikata’, tidak berguna!

  • Norval Geldenhuys (NICNT): “The Saviour related this parable not in order to satisfy our curiosity about life after death but to emphasis vividly the tremendous seriousness of life on this side of the grave - on the choice made here by us depends our eternal weal or woe” (= Sang Juruselamat menceritakan perumpamaan ini bukan untuk memuaskan keingintahuan kita tentang kehidupan setelah kematian, tetapi untuk menekankan dengan gamblang / hidup keseriusan yang sangat hebat dari kehidupan pada sisi ini dari kubur -pada pilihan yang kita buat di sini, tergantung kemakmuran / kesejahteraan atau kesengsaraan kekal kita) - hal 427.

  • Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents the coming final judgment as determined by the things that were done in the flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the intermediate state” [= Itu (Kitab Suci) juga selalu menggambarkan bahwa penghakiman terakhir nanti ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara bahwa hal ini tergantung dengan cara apapun pada apa yang terjadi pada saat antara kematian seseorang dan kedatangan Yesus yang keduakalinya] - ‘Systematic Theology’, hal 693.

2Kor 5:10 - Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.

  • Ini ayat yang sangat jelas dan kuat dalam persoalan ini. Penghakiman Kristus pada akhir jaman nanti hanya tergantung pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya / dalam tubuhnya, bukan pada apa yang dilakukannya setelah ia mati / ada di luar tubuhnya.

  • Jadi, seandainya penginjilan terhadap orang mati itu memungkinkan untuk dilakukan, dan seandainya orang mati itu bisa bertobat dan percaya kepada Yesus, itu tetap tidak akan diperhitungkan dalam penghakiman akhir jaman. Yang diperhitungkan hanyalah tindakan-tindakannya selama ia berada dalam tubuhnya.

  • Karena itu, kalau mau bertobat / percaya kepada Kristus, lakukan itu sekarang! Jangan menunda, karena besok mungkin sudah terlambat!
IV) Mengapa Lazarus masuk surga dan orang kaya masuk neraka?

1)   Apakah ay 25 menunjukkan bahwa Lazarus masuk surga karena Lazarus miskin dan menderita selama hidupnya di dunia, sedangkan orang kaya masuk neraka karena selama didunia hidupnya enak? Jadi setelah kematian keadaan lalu dibalik?

  • Ay 25: “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”.

Sepintas lalu kelihatannya ay 25 menunjukkan hal itu. Tetapi tidak, pasti bukan itu alasannya. Ini terlihat dari fakta bahwa Abraham kaya semasa hidupnya, tetapi ia toh masuk surga! Dan bisa saja seseorang miskin di dunia, dan setelah mati lalu masuk neraka!


Mari kita melihat beberapa kutipan dari tafsiran Calvin tentang ay 25 ini.

  • Calvin: “When it is said that heis tormented in hell, because he had received his good things in his lifetime, we must not understand the meaning to be, that eternal destruction awaits all who have enjoyed prosperity in the world. On the contrary, as Augustine has judiciously observed, poor Lazarus was carried into the bosom of rich Abraham, to inform us, that riches do not shut up against any man the gate of the kingdom of heaven, but that it is open alike to all who have either made a sober use of riches, or patiently endured the want of them. All that is meant is, that the rich man, who yielded to the allurements of the present life, abandoned himself entirely to earthly enjoyments, and despised God and His kingdom, now suffers the punishment of his own neglect” (= Pada waktu dikatakan bahwa ia disiksa dalam neraka, karena ia telah menerima hal-hal baiknya dalam hidupnya, kita tidak boleh mengerti bahwa artinya adalah bahwa kehancuran kekal menunggu semua yang disini menikmati kemakmuran dalam dunia ini. Sebaliknya, seperti telah diamati oleh Agustinus dengan bijaksana, Lazarus yang miskin dibawa ke dada Abraham yang kaya, untuk memberi informasi kepada kita bahwa kekayaan tidak menutup terhadap siapapun pintu gerbang kerajaan surga, tetapi bahwa itu terbuka secara sama bagi semua yang atau telah menggunakan kekayaan dengan waras, atau dengan sabar menanggung ketiadaan dari kekayaan. Semua yang dimaksudkan adalah, bahwa orang kaya, yang menyerah pada daya tarik dari hidup yang sekarang ini, membuang dirinya sendiri sepenuhnya pada penikmatan duniawi, dan meremehkan Allah dan kerajaanNya, sekarang menderita hukuman dari pengabaiannya sendiri) - hal 189.

  • Calvin: “When it is said of Lazarus, on the other hand, that he enjoys comfort, because he had suffered many distresses in the world, it would be idle to apply this to all whose condition is wretched; because their afflictions, in many cases, are so far from having been of service to them, that they ought rather to bring upon them severer punishment. But Lazarus is commended for patient endurance of the cross, which always springs from faith and a genuine fear of God; for he who obstinately resists his sufferings, and whose ferocity remains unsubdued, has no claim to be rewarded for patience, by receiving from God comfort in exchange for the cross” (= Sebaliknya, pada waktu dikatakan tentang Lazarus, bahwa ia menikmati hiburan, karena ia telah menderita banyak penderitaan dalam dunia ini, merupakan sesuatu yang tak berdasar untuk menerapkan hal ini kepada semua yang kondisinya buruk; karena penderitaan mereka, dalam banyak kasus, bukannya melayani mereka tetapi malahan membawa kepada mereka hukuman yang lebih berat. Tetapi Lazarus dipuji untuk sikap menahan salib yang sabar, yang selalu muncul dari iman dan suatu rasa takut yang asli terhadap Allah; karena ia yang dengan tegar tengkuk menolak penderitaan-penderitaannya, dan yang kegarangannya tetap tidak ditundukkan, tidak berhak untuk diberi pahala untuk kesabaran, dengan menerima dari Allah penghiburan untuk mengganti salibnya)- hal 190.

  • Calvin: “To sum up the whole, they who have patiently endured the burden of the cross laid upon them, and have not been rebellious against the yoke and chastisements of God, but, amidst uninterrupted sufferings, have cherished the hope of a better life, have a rest laid up for them in heaven, when the period of their warfare shall be terminated. On the contrary, wicked despisers of God, who are wholly engrossed in the pleasures of the flesh, and who, by a sort of mental intoxication, drown every feeling of piety, will experience, immediately after death, such torments as will efface their empty enjoyments” (= Untuk meringkas seluruhnya, mereka yang dengan sabar telah menanggung beban dari salib yang diletakkan pada diri mereka, dan tidak memberontak terhadap kuk dan hajaran dari Allah, tetapi di tengah-tengah penderitaan-penderitaan yang terus menerus, telah memegang dalam pikirannya pengharapan tentang kehidupan yang lebih baik, mempunyai suatu istirahat yang disimpan di surga bagi mereka disurga, pada waktu masa peperangan mereka diakhiri. Sebaliknya, penghina-penghina yang jahat dari Allah, yang sepenuhnya dipikat / diasyikkan dalam kesenangan-kesenangan daging, dan yang, oleh suatu jenis kemabukan mental, menenggelamkan setiap perasaan kesalehan, akan mengalami, segera setelah kematian, siksaan-siksaan yang akan menghapuskan kenikmatan-kenikmatan kosong mereka) - hal 190.

2)   Kalau begitu mengapa Lazarus masuk surga dan mengapa orang kaya masuk neraka?

a)    Untuk orang kaya.

1.   Ia  jelas mempunyai banyak dosa, khususnya dosa pasif, dimana ia tidak menolong Lazarus.
William Barclay: “As someone said, ‘It was not what Dives did that got him into gaol; itwas what he did not do that got him into hell.’ ... It is a terrible warning that the sin of Dives was not that he did wrong things, but that he did nothing” [= Seperti dikatakan seseorang: ‘Bukan apa yang dilakukan oleh Dives (= orang kaya) yang memasukkannya ke dalam penjara; tetapi apa yang tidak dilakukannya yang memasukkannya kedalam neraka’. ... Merupakan suatu peringatan yang mengerikan bahwa dosa Dives bukanlah bahwa ia melakukan hal-hal yang salah, tetapi bahwa ia tidak melakukan apa-apa] - hal 214.

Adam Clarke: “our blessed Lord has not represented this man as a monster of inhumanity, but merely as an indolent man, who sought and had his portion in this life, and was not at all concerned about another” (= Tuhan yang terpuji tidak menggambarkan orang ini sebagai suatu monster yang kejam, tetapi semata-mata sebagai seorang manusia yang malas / tidak berbuat apa-apa, yang mencari dan mendapatkan bagiannya dalam hidup ini tetapi tidak peduli sama sekali kepada orang lain) - hal 464.
Bandingkan dengan:
  • Yak 4:17 - “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.

  • Mat 25:41-45 - “(41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang disebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. (42) Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; (43) ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. (44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? (45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”.


Karena itu pada saat memikirkan dosa, jangan hanya memikirkan hal salah apa yang saudara perbuat, tetapi pikirkan juga hal baik apa yang tidak saudara lakukan, seperti:

  • tidak ke gereja. 
  • tidak belajar Firman Tuhan. 
  • tidak berdoa. 
  • tidak melayani Tuhan / memberitakan Injil. 
  • tidak mengasihi Allah. 
  • tidak menolong orang yang membutuhkan pertolongan. 
  • dan sebagainya.

2.   Ia tidak percaya.

a.   Ini sebetulnya terlihat dari seluruh Kitab Suci yang secara jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang akan masuk neraka adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus!

b.   Ketidak-percayaannya juga terlihat dari fakta bahwa dalam cerita ini ia tidak diberi nama / tidak mempunyai nama.
Bandingkan dengan Wah 20:15 - “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

Dalam cerita ini orang kaya itu tidak mempunyai nama; itu menunjukkan ia bukan orang percaya.

c.   Ketidak-percayaannya juga terlihat dari fakta bahwa ia tidak mendengar / mempedulikan Firman Tuhan.
Ay 29: “Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu”.
  • Tentang ay 29 ini, Norval Geldenhuys (NICNT) berkata: “From these words it follows that the rich man was lost because he did not listen to the Law and the Prophets, and not because he was rich”(= Dari kata-kata ini terlihat bahwa orang kaya itu terhilang karena ia tidakmendengarkan pada Hukum Taurat dan kitab para nabi, dan bukan karena ia kaya) - hal 430.

Kata-kata ini memang masuk akal, karena Abraham mengatakan bahwa supaya kelima saudara orang kaya itu tidak menyusulnya ke neraka, mereka harus mendengar pada hukum Taurat dan kitab para nabi. Jadi, orang kaya itu sendiri, seandainya dalam hidupnya di dunia ia mendengar padahukum Taurat dan kitab para nabi, ia tentu tidak akan berada dalam neraka pada saat ini. Tetapi ternyata ia berada dalam neraka, dan itu membuktikan bahwa dalam hidupnya ia tidak mendengar, atau tidak mempedulikan hukum Taurat dan kitab para nabi (Firman Tuhan). Dan ini jelas menunjukkan ketidak-percayaan, karena iman timbul dari pendengaran.
  • Ro 10:17 - “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

d.   Ketidakpercayaannya tidak berubah sekalipun ada peringatan baginya pada saat Lazarus mati.

  • The Bible Exposition Commentary: New Testament: “The fact that Lazarus died first was a strong witness to the rich man, a reminder that one day he would also die, but even a death at his very doorstep did not melt the man’s heart” (= Fakta bahwa Lazarus mati dulu merupakan suatu kesaksian yang kuat kepada orang kaya itu, suatu peringatan bahwa suatu hari ia juga akan mati, tetapi bahkan kematian di pintu rumahnya tidak mencairkan hati orang ini).

Dalam konteks  Kitab Suci maka jelaslah bahwa ketidak-percayaannya ini harus lebih ditekankan dari pada dosanya. Mengapa? Karena semua orang mempunyai banyak dosa, baik aktif maupun pasif. Itu tidak menghalangi mereka masuk ke surga asal mereka mau percaya kepada Kristus. Tetapi orang yang tidak percaya kepada Kristus, betapapun baik / saleh hidupnya dan betapapun sedikitnya dosanya, akan masuk ke neraka, karena ia tetap adalah orang berdosa yang harus dihukum untuk dosa-dosanya.

b)   Untuk Lazarus.
Ia pasti juga adalah orang berdosa, tetapi ia adalah orang yang percaya. Dari mana kita tahu hal itu?

  1. Dari seluruh Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hanya orang percaya kepada Yesus yang bisa masuk ke surga!
  2. Dalam cerita ini Lazarus mempunyai nama.
  • Wah 20:15 - “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
Lazarus mempunyai nama; itu menunjukkan ia orang percaya. Sudahkah nama saudara tertulis dalam kitab kehidupan?

V) Tanggapan kita.


1)   Untuk orang yang belum percaya.
Cepatlah bertobat dan percaya kepada Kristus.
  • Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.
  • Kis 10:43 - “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’”.

a)   Jangan mencari mujijat dulu baru mau percaya. Mengapa?

1.   Karena Tuhan tidak selalu mau memberi mujijat.

Dalam kasus kelima saudara orang kaya itu, tidak dilakukan mujijat supaya mereka bertobat.
Bandingkan dengan

  • 1Kor 1:22-23 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

2.   Tuhan menggunakan firman, bukan mujijat, untuk mempertobatkan orang.
  • Ay 30-31: “(30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

  • Calvin: “all that is here affirmed by Christ is, that even the dead could not reform, or bring to a sound mind, those who are deaf and obstinate against the instructions of the law” (= semua yang ditegaskan di sini oleh Kristus adalah, bahwa bahkan orang mati tidak bisa mereformasi, atau membawa pada pikiran yang sehat, mereka yang tuli dan tegar tengkuk terhadap pengajaran-pengajaran dari hukum Taurat).

  • Calvin: “Some would desire that angels should descend from heaven; others, that the dead should come out of their graves; others, that new miracles should be performed every day to sanction what they hear; and others, that voices should be heard from the sky. But if God were pleased to comply with all their foolish wishes, it would be of no advantage to them; for God has included in his word all that is necessary to be known, and the authority of this word has been attested and proved by authentic seals. Besides, faith does not depend on miracles, or any extraordinary sign, but is the peculiar gift of the Spirit, and is produced by means of the word. Lastly, it is the prerogative of God to draw us to himself, and he is pleased to work effectually through his own word” (= Sebagian orang menginginkan supaya malaikat-malaikat turun dari surga; yang lain supaya orang mati keluar dari kubur; yang lain supaya mujijat-mujijat yang baru dilakukan setiap hari untuk menyetujui / mendukung apa yang mereka dengar; dan yang lain supaya suara terdengar dari langit. Tetapi seandainya Allah berkenan untuk menuruti semua keinginan tolol mereka, itu tidak akan ada gunanya bagi mereka; karena Allah telah memasukkan dalam firmanNya semua yang perlu untuk diketahui, dan otoritas dari firman ini telah diperlihatkan dan dibuktikan oleh meterai-meterai yang otentik / asli. Disamping itu, iman tidak tergantung pada mujijat-mujijat, atau tanda luarbiasa apapun, tetapi merupakan pemberian khusus dari Roh, dan dihasilkan dengan menggunakan firman. Terakhir, merupakan hak khusus dari Allah untuk menarik kita kepada diriNya sendiri, dan Ia berkenan untuk bekerja secara efektif melalui firmanNya).

  • Tentang kata-kata orang kaya dalam ay 30, William Hendriksen berkata: “How wrong he was! Someone from the dead did actually appear to the people. And his name was Lazarus (though not the Lazarus of the parable). The story is found in John 11. Was the result that everybody was converted? Not at all. The result was that Christ’s enemies planned to put to death the risen Lazarus (John 12:10), and were more determined than ever to destroy Jesus (John 11:47-50). ... Jesus rose from the dead. But those who refused to believe Moses and the Prophets were not convinced, and certainly not converted. Read Matt. 28:11-15” [= Alangkah salahnya ia! Seseorang dari orang mati betul-betul muncul kepada orang-orang. Dan namanya adalah Lazarus (sekalipun bukan Lazarus dari perumpamaan ini). Cerita itu ditemukan dalam Yoh 11. Apakah ini menyebabkan setiap orang bertobat? Sama sekali tidak. Hasilnya adalah bahwa musuh-musuh Kristus merencanakan untuk membunuh Lazarus yang bangkit itu (Yoh 12:10), dan lebih berketetapan hati dari sebelumnya untuk menghancurkan Yesus (Yoh 11:47-50). ... Yesus bangkit dari antara orang mati. Tetapi mereka yang menolak untuk percaya kepada Musa dan nabi-nabi tidak diyakinkan, dan pasti tidak bertobat. Bacalah Mat 28:11-15] - hal 787.
  • Yoh 11:47-53 - “(47) Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: ‘Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. (48) Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.’ (49) Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: ‘Kamu tidak tahu apa-apa, (50) dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.’ (51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwaYesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. (53) Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia”.


  • Yoh 12:9-11 - “(9) Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkanNya dari antara orang mati. (10) Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, (11) sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus”.

  • Mat 28:11-15 - “(11) Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kotadan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. (12) Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu (13) dan berkata: ‘Kamu harus mengatakan, bahwa murid-muridNya datang malam-malam dan mencuriNya ketika kamu sedang tidur. (14) Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.’ (15) Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini”.


  • The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Though miracles can attest to the authority of the preacher, they cannot produce either conviction or conversion in the hearts of the lost. Faith that is based solely on miracles is not saving faith (John2:23-25). A man named Lazarus did come back from the dead, and some of the people wanted to kill him! (see John 11:43-57; 12:10) Those who claim that there can be no effective evangelism without ‘signs and wonders’ need to ponder this passage and also John 10:41-42” [=Sekalipun mujijat-mujijat bisa meneguhkan otoritas dari si pengkhotbah, mujijat-mujijat itu tidak bisa menghasilkan keyakinan atau pertobatan dalam hati dari orang-orang yang terhilang. Iman yang didasarkan semata-mata pada mujijat-mujijat bukanlah iman yang menyelamatkan (Yoh 2:23-25). Seseorang bernama Lazarus betul-betul kembali dari antara orang mati, dan beberapa dari orang-orang itu ingin membunuhnya! (Lihat Yoh 11:43-57; 12:10). Mereka yang mengclaim bahwa di sana tidak mungkin ada penginjilan yang efektif tanpa ‘tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban’ perlu merenungkan teks  ini dan juga Yoh 10:41-42].

  • Yoh 2:23-25 - “(23) Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam namaNya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya. (24) Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diriNya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, (25) dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia”.

  • Yoh 10:41-42 - “(41) Dan banyak orang datang kepadaNya dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.’ (42) Dan banyak orang di situ percaya kepadaNya”.

  • Norval Geldenhuys (NICNT): “These last words of the parable were undoubtedly uttered by the Saviour with a view to His own resurrection. The sign for which the Jews had so often asked would be given by His resurrection, but He knew that even this would not move the worldly-minded to a saving faith in Him. And this was abundantly proved by the actual course of events”(= Kata-kata terakhir dari perumpamaan ini tidak diragukan diucapkan oleh sang Juruselamat dengan suatu pandangan pada kebangkitanNya sendiri. Tanda yang telah begitu sering diminta oleh orang-orang Yahudi akan diberikan oleh kebangkitanNya, tetapi Ia tahu bahwa bahkan ini, tidak akan menggerakkan pikiran duniawi pada suatu iman yang menyelamatkan kepadaNya. Dan ini secara berlimpah-limpah dibuktikan oleh jalannya peristiwa-peristiwa dalam realitanya) - hal 427.


b)         Sekarang kita mempunyai Kitab Suci lengkap, bukan hanya Perjanjian Lama.
Calvin: “The division of the word of God, which Abraham makes into the Law and the Prophets, refers to the time of the Old Testament. Now that the more ample explanation of the Gospel has been added, there is still less excuse for our wickedness, if our dislike of that doctrine hurries us in every possible direction, and, in a word, if we do not permit ourselves to be regulated by the word of God” (= Pembagian firman Allah, yang Abraham buat menjadi hukum Taurat dan nabi-nabi, menunjuk pada jaman Perjanjian Lama. Sekarang bahwa lebih banyak penjelasan dari Injil telah ditambahkan, di sana ada lebih sedikit lagi dalih / alasan untuk kejahatan kita, jika ketidak-senangan kita tentang ajaran/ doktrin itu menggerakkan kita ke setiap arah yang memungkinkan, dan singkatnya, jika kita tidak mengijinkan diri kita sendiri untuk diatur oleh firman Allah) - hal 193.


Dengan Perjanjian Lama saja seseorang seharusnya sudah bisa percaya (ay 29-31), dan kalau ia tidak percaya itu adalah salahnya sendiri, dan itu membuat ia masuk neraka selama-lamanya. Apalagi bagi kita pada jaman sekarang, yang mempunyai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru! Kitab Suci ini, khususnya Perjanjian Barunya, memberitahu kita tentang kematian Yesus untuk dosa-dosa kita dan bahwa dengan percaya kepada Yesus kita pasti selamat, dan bahwa itu adalah satu-satunya jalan ke surga! Adanya terang yang lebih besar ini, memberikan kita tanggung jawab yang juga lebih besar (Luk 12:47-48)! Karena itu cepatlah percaya, sebelum terlambat.


2)   Untuk saudara yang sudah percaya tetapi hidup menderita.
Penderitaan bisa disebabkan karena dosa. Jadi periksalah hidup saudara. Kalau memang ada dosa, bertobatlah.

Tetapi penderitaan belum tentu karena dosa. Bisa saja penderitaan muncul justru karena saudara taat kepada Tuhan, seperti dalam kasus Ayub. Kalau ini kasus saudara, maka jangan menganggap Tuhan tidak adil. Jangan hanya melihat bagian yang kelihatan, lihatlah / renungkanlah bagian yang tidak kelihatan dalam cerita ini.

Tetaplah ikut Tuhan dalam suka maupun duka. Nanti saudara akan bertemu Dia dalam Kerajaan Surga.




-AMIN-


P O P U L A R - "Last 7 days"