0 LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (4)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.


Jadi orang-orang ini ada di dalam gereja tetapi Kristus tidak ada di dalam mereka / mereka ada di luar Kristus. Karena itulah mereka harus percaya dan menerima Dia di dalam hati / hidup mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat....Dan sebetulnya ini tidak masuk akal. Jikalau dikatakan bahwa manusia mencari Allah, itu seolah-olah menunjukkan bahwa Allahlah yang hilang dan karenanya manusia berusaha menemukan Dia. Tetapi faktanya adalah manusialah yang terhilang dan Allahlah yang mencarinya. Juga kalau manusia mencari Allah, bagaimana ia bisa menemukannya? Mustahil!....


Yoh 6:44 - Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku,….


Yoh 6:65 - “…. Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya”.


Kalau begitu mengapa seseorang tidak percaya kepada Yesus? Karena Allah tidak menarik dia / mengaruniakan kepadanya. Lalu salah siapa? Allah? Tidak!


Rom 9:14-16 – (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.


Khotbah Minggu : 18 Agustus 2013
Serial Khotbah 7 Jemaat (Part 7d)
LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU

Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkanengkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agarengkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangankelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supayaengkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlahhatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Akumakan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang,ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telahmenang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga,hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Kita sudah membahas 6 hal tentang jemaat Laodikia ini yakni kota dan jemaat Laodikia, gelar Kristus sang pemberi Surat, kondisi rohani jemaat Laodikia, respon Tuhan terhadap kondisi “suam-suam kuku”, penyebab dan akibat dari kondisi kesuaman rohani, bagaimana caranya menjadi panas secara rohani. Sekarang kita akan membahas point terakhir dari jemaat Laodikia ini yakni janji Tuhan kepada jemaat Laodikia.


VI. JANJI TUHAN BAGI JEMAAT LAODIKIA.
Setelah Tuhan mengadakan penilaian terhadap jemaat Laodikia, mengecamnya, menunjukkan respon-Nya dan memberikan solusi terhadap kondisi mereka, Ia menutup surat- Nya kepada jemaat ini dengan memberikan janji bagi mereka.


Kalau kita perhatikan teks kita maka janji Tuhan kepada jemaat Laodikia ini terbagi menjadi 2 bagian :



a. Janji Tuhan berkenaan dengan kehidupan di masa kini.
Pada bagian sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa salah satu cara menjadi panas secara rohani adalah orang harus percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kondisi suam-suam kuku bisa diakibatkan oleh keadaan di mana orang hanya menjadi Kristen KTP saja tanpa pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ini dibuktikan dengan Tuhan berada di luar mereka :



Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, …”


Jadi orang-orang ini ada di dalam gereja tetapi Kristus tidak ada di dalam mereka / mereka ada di luar Kristus. Karena itulah mereka harus percaya dan menerima Dia di dalam hati / hidup mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nah, kalau orang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ada janji Yesus bagi mereka :


Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.



Dari ayat ini terlihat bahwa janji Tuhan kepada mereka yang menerima Dia adalah Ia akan masuk mendapatkan mereka dan makan bersama-sama dengan mereka. Tapi sebelum saya bahas janji ini, ada baiknya kita pelajari ayat ini lebih dalam dan saya akan bahas bagian ini frase demi frase :


- Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok….

Kata-kata ini menunjukkan bahwa keselamatan sebenarnya adalah inisiatif Allah sendiri. Perhatikan bahwa di sini bukan digambarkan manusia yang berdiri di depan pintu Tuhan dan mengetuk, tetapi Tuhanlah yang berdiri di depan pintu manusia dan mengetuk.



Albert Barnes - Ungkapan ini membuktikan bahwa usaha perdamaian dimulai dengan Sang Juruselamat. Bukan orang berdosa yang keluar untuk menemui Dia atau mencari Dia, tetapi adalah Sang Juruselamat yang menunjukkan diri-Nya sendiri pada pintu hati, seakan-akan Ia ingin menikmati persahabatan manusia.... Keselamatan, dalam Kitab Suci, tidak pernah digambarkan dimulai oleh manusia.



Kata-kata Albert Barnes di atas : “Keselamatan, dalam Kitab Suci, tidak pernah digambarkan dimulai oleh manusia” tepat sekali. Dalam Kej 3, pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka mereka tidak mencari Allah (Kej 3:6-7). Sebaliknya pada waktu mereka mendengar kedatangan Allah, maka mereka justru bersembunyi (Kej 3:8). Allahlah yang mencari mereka dengan memanggil : “Di manakah engkau?” (Kej 3:9). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah tidak tahu di mana mereka berada. Allah hanya mau mereka datang kepadaNya dan mengaku dosa.



Tetapi bagaimanapun juga di sini kita melihat suatu prinsip yang sudah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya, yaitu Allahlah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya! Juga dalam Luk 19:10, Yesus berkata :

Luk 19:10 - Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.


Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya. Dalam Roma 3:11 juga dikatakan bahwa :


Roma 3:11 - Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.


Semua ini membuktikan bahwa memang bukan manusia yang mencari Allah tetapi Allahlah yang mencari manusia.


William Barclay - Kita melihat permohonan Kristus. Ia berdiri di ambang pintu hati manusia dan mengetuk. Fakta baru yang unik yang dibawa kekristenan ke dalam dunia ialah bahwa Allah adalah pencari manusia. Tidak ada agama lain yang mempunyai visi mengenai Allah yang mencari manusia. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 218-219).



Kata-kata Barclay ini juga benar sekali. Kekristenan adalah satu-satunya agama yang mengajarkan bahwa bukan manusia yang mencari Allah tetapi Allahlah yang mencari manusia. Ini salah satu perbedaan kekristenan dengan semua agama di seluruh dunia.



Thomas Arnold - Perbedaan antara kekristenan dan semua sistem agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia. (‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal. 95).




Ya! Semua agama mengajarkan bahwa manusia harus mencari Allah. Dan sebetulnya ini tidak masuk akal. Jikalau dikatakan bahwa manusia mencari Allah, itu seolah-olah menunjukkan bahwa Allahlah yang hilang dan karenanya manusia berusaha menemukan Dia. Tetapi faktanya adalah manusialah yang terhilang dan Allahlah yang mencarinya. Juga kalau manusia mencari Allah, bagaimana ia bisa menemukannya? Mustahil! Tetapi kalau Allah yang mencari manusia, mustahil Ia tidak menemukannya.


Tetapi bagaimana dengan sejumlah ayat Kitab Suci yang menyuruh manusia mencari Allah?


Yes 55:6 - Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!


Maz 105:4 - Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!


Lihat juga ayat-ayat lainnya seperti : 1 Taw 16:11; Maz 27:8; Amos 5:4,6. Ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah ini, tidak menunjukkan bahwa manusia bisa mencari Allah atau ada manusia yang mencari Allah. Manusia mungkin sekali ikut agama tertentu untuk mencari keselamatan. Mereka bisa saja mencari berkat Tuhan. Tetapi manusia tidak mungkin mencari Allah. Sebetulnya manusia bias mencari Allah, tetapi itu baru bisa terjadi kalau Allah sudah terlebih dahulu mencari dia dan bekerja di dalam dirinya, sehingga ia lalu mencari Allah. Kalau Allah tidak mencari manusia lebih dulu dan bekerja di dalam diri manusia itu, maka manusia itu tidak akan mencari Allah.



William Barclay – Jauh pada abad ke-12, Santo Bernardus sering mengatakan kepada para biarawannya, "Sepagi apa pun kalian bangun dan menaikkan doa di kapel, pada pagi hari yang dingin di pertengahan musim dingin, atau bahkan di tengah malam buta, kalian akan selalu menjumpai Allah sudah bangun sebelum kalian, la menantikan kalian - yah, Dialah yang telah membangunkan kalian untuk mencari wajah-Nya." (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 219).



Jadi, prinsip yang benar tetap adalah ‘Allah mencari manusia’, bukan ‘manusia mencari Allah’. Kalau ada orang yang mencari Allah dan menemukan-Nya, artinya Allah telah lebih dahulu mencari dan menemukannya dan menarik dia kepada-Nya.



Anonim – Sekarang telah kutemukan Dia yang menemukanku.



Karena itu janganlah kita lupa bersyukur kepada-Nya karena bahkan untuk percaya kepada Dia pun, kita perlu ditarik oleh-Nya. Untuk menemukan Dia pun, kita terlebih dahulu dicari / ditemukan oleh Dia.



- jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku…
Kata-kata ini memang ditujukan kepada jemaat / gereja Laodikia secara umum, tetapi perhatikan bahwa di sana tidak dikatakan “jikalau kalian mendengar suara-Ku” melainkan “jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku…” Jikalau pencarian / ketukan Tuhan ini dan penerimaan terhadap Dia menentukan keselamatan, maka ini menunjukkan bahwa keselamatan itu bersifat pribadi.



William Hendriksen - Perhatikan bahwa dikatakan ‘jika ada orang ...’. Tuhan menunjukkan diri-Nya sendiri kepada individu-individu. Keselamatan merupakan suatu persoalan yang sangat bersifat pribadi.


John Stott – Ini merupakan seruan / permohonan yang bersifat pribadi. Kata-kata ini tidak ditujukan kepada gereja tetapi kepada setiap individu. (What Christ Think of the Church, hal.123).


Karena itu jangan pernah mimpi bisa “nunut” pada keselamatan orang lain, bahkan orang tua saudara. Saudara sendiri harus mendengarkan suara Tuhan Yesus dan beriman kepada-Nya, atau saudara akan masuk ke neraka selama-lamanya.


-dan membukakan pintu….
Kata-kata ini berarti orang membuka pintu hatinya dan percaya / menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Tetapi satu hal yang perlu diwaspadai di sini adalah bahwa kata-kata ini tidak boleh diartikan seolah-olah keselamatan manusia itu bergantung pada diri manusia itu sendiri terlepas dari Tuhan di mana manusia itu mau dan sanggup membuka pintu hatinya sendiri. (Ini tafsiran Arminian!)


Albert Barnes - Ini juga mengakui kebebasan manusia. Diserahkan kepada dia apakah ia akan mendengar suara Sang Penebus atau tidak; dan apakah ia akan membuka pintu dan menerima-Nya atau tidak. Ia berbicara cukup keras dan cukup jelas, untuk didengar, tetapi Ia tidak mendobrak pintu jika pintu itu tidak dibuka dengan sukarela. ... Bisa ditambahkan bahwa ini merupakan suatu hal yang mudah.


Tidak ada yang lebih mudah dari pada membuka pintu pada waktu seseorang mengetok; ... kemudahan dari syarat-syarat keselamatan digambarkan oleh kata-kata ‘mendengar suaraNya’, dan ‘membukakan pintu’.



Jadi Albert Barnes mengatakan bahwa manusia mampu untuk membukakan pintu, dan bahkan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang mudah. Tapi hal ini tidak sesederhana itu. Kita harus memperhatikan ayat-ayat yang lain dalam Kitab Suci yang mengajarkan bahwa tanpa pekerjaan Tuhan dalam diri seseorang, orang itu tidak mungkin bisa percaya. Misalnya :


Yoh 6:44 - Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku,….



Ayat ini menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk datang kepada Yesus dengan kekuatannya sendiri. Juga menunjukkan bahwa datang atau tidaknya manusia kepada Yesus sebetulnya tidak tergantung manusia itu sendiri tetapi tergantung Allah, yaitu apakah Ia mau ‘menarik’ manusia itu atau tidak. Dan dalam menarik, Ia tidak pernah menarik dengan paksa melainkan bekerja sedemikian rupa dari dalam sehinggaorangnya pada akhirnya akan mau datang dengan sukarela seolah-olah dialah yang berinisiatif untuk datang pada Kristus.



Calvin - Memang, tentang jenis tarikan, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau.

Perhatikan juga ayat lainnya :


Yoh 6:65 - “…. Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya”.



Ayat ini juga menunjukkan bahwa dengan kekuatannya sendiri manusia tidak akan bisa datang kepada Kristus. Ia hanya bisa datang kepada Kristus kalau itu ‘dikaruniakan’ oleh Bapa kepadanya.


Kalau begitu mengapa seseorang tidak percaya kepada Yesus? Karena Allah tidak menarik dia / mengaruniakan kepadanya. Lalu salah siapa? Allah? Tidak! Karena Allah tidak mempunyai kewajiban untuk menarik / mengaruniakannya sama seperti saudara tidak bisa disalahkan / dituntut ke pengadilan karena tidak memberikan uang kepada pengemis di jalanan. Tapi kalau begitu Allah tidak adil? Tidak!


Rom 9:14-16 – (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.



Persoalannya kita tidak tahu siapa yang dikaruniakan dan siapa yang tidak. Jadi tidak usah pedulikan hal itu. Yang harus saudara pedulikan adalah bahwa saudara disuruh untuk membuka pintu hati kita untuk Yesus / percaya Yesus. Jadi percayalah kepada Yesus. Kalau itu bisa terjadi, itu karena pekerjaan Allah dalam diri saudara. Jadi memang benar bahwa kita harus membuka pintu hati kita untuk menerima Kristus, kita harus beriman kepada-Nya tetapi semua itu tidak bisa kita lakukan dari diri kita sendiri kalau Ia tidak bekerja dan mengaruniakannya kepada kita.

Fil 1:29 - Sebab kepada kamu dikaruniakan …untuk percaya kepada Kristus….

Kis 11:18 – “…."Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."


Bandingkan pula Wah 3:20 (yang menyuruh kita / manusia) membuka hatinya dengan Kis 16:14 yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang membuka hati Lidia. Karena itu sekali lagi, jika saudar bisa percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, itu bukan karena kehebatan / kemampuan saudara tetapi semata-mata pekerjaan Allah karena kasih karunia-Nya. Jadi jangan kita menjadi sombong dan merasa diri hebat. Ingat nasihat Paulus :


Efs 2:8-9 – (8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.



BIS – Allah mengasihi kalian, itu sebabnya Ia menyelamatkan kalian karena kalian percaya kepada Yesus. Keselamatan kalian itu bukanlah hasil usahamu sendiri. Itu adalah anugerah Allah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan dirinya mengenai hal itu


Kita sudah membahas sejumlah frase dalam ayat 20 ini dan sekarang mari kita perhatikan janji yang diberikan Kristus kepada mereka yang membuka pintu hati bagi Dia.


Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.


Dari ayat ini jelas bahwa kalau seseorang membuka pintu hatinya bagi Kristus, maka Kristus akan masuk ke dalam hati / hidup orang itu dan makan bersama-sama dengan dia.


Apa artinya ini? Kita bisa mengetahui ini dari latar belakang pemikiran orang Yahudi bahwa makan bersama selalu berarti persekutuan yang akrab / intim yang dilandasi dengan kasih dan kepercayaan. Itulah sebabnya Yesus dikritik oleh orang Farisi dan ahli Taurat karena Ia makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa.
 -
Jamuan makan malam
Credit : npr.org

Luk 15:2 - Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.


Karena dengan makan bersama ini Yesus dianggap bersekutu, akrab, intim, penuh kasih dan kepercayaan dengan orang-orang berdosa. Itulah sebabnya Petrus diprotes oleh orang-orang Yahudi karena makan bersama-sama dengan orang non Yahudi.


Kis 11:2-3 – (2) Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. (3) Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."


Karena dengan makan bersama ini Petrus dianggap bersekutu, akrab, intim, penuh kasih dan kepercayaan dengan orang-orang non Yahudi. Itulah sebabnya Petrus berbuat munafik di hadapan orang Yahudi karena takut diketahui makan bersama-sama dengan orang non Yahudi.


Gal 2:12 - Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.


Karena dengan makan bersama ini Petrus takut dianggap bersekutu, akrab, intim, penuh kasih dan kepercayaan dengan orang-orang non Yahudi. Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat Korintus untuk tidak makan bersama-sama dengan orang-orang jahat yang munafik / pura-pura baik.


1 Kor 5:11 - Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.


Karena dengan makan bersama ini orang-orang Korintus dianggap bersekutu, akrab, intim, penuh kasih dan kepercayaan dengan orang-orang munafik. Jadi makan bersama dalam budaya Yahudi kuno adalah persekutuan yang dilandasi dengan keakraban, keintiman yang penuh dengan kasih.
Bandingkan :

Brooklyn Museum - The Last Supper Judas Dipping his Hand in the Dish (La Céne. Judas met la main dans le plat) - James Tissot.jpg -wikimedia

Maz 41:10 – Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku telah mengangkat tumitnya terhadap aku.


BIS – Bahkan kawan karib yang paling kupercayai, orang yang makan bersamaku, telah menghina aku.


Ayat ini membicarakan pengkhianatan seorang sahabat yang karib tetapi jelas menunjukkan bahwa orang yang makan bersama itu adalah orang yang karib dan dipercaya. Perlu juga diketahui bahwa bahasa Yunani (sama dengan bahasa Inggris) menggunakan kata-kata berbeda untuk makan pagi, siang dan malam. Dan orang Yahudi makan 3 kali sehari tetapi menu dan sikonnya berbeda. Makan pagi (“AKRATISMA” ; Ing. Breakfast). Ini biasanya hanyalah roti kering yang dicelupkan dalam anggur dan dimakan. Tak ada senda gurau dan santai-santai di sini karena mereka harus segera bekerja. Makan siang (“ARISTON”; Ing. Lunch). Biasanya tidak dilakukan di rumah tetapi cukup makan ringan di pinggir jalan, di emperan gedung, atau di pojok-pojok kota. Juga tak ada santai-santai di sini karena mereka harus kembali bekerja. Makan malam (“DEIPNEO”; Ing. Dinner). Ini adalah makan yang utama, makan yang sungguh-sungguh, yang dinikmati dengan relaks/santai, bersenda gurau bersama keluarga dan sahabat, karena semua pekerjaan hari itu sudah selesai.



Simon Kistemaker – Makanan itu dinikmati….. setelah jam kerja, dalam suasana tenang dan persekutuan yang erat. Ini adalah waktu bercakap-cakap, pada waktu itu berbagai topik didiskusikan, gelak tawa terdengar, dan nasehat diberikan untuk menyelesaikan masalah.


Eddy Fances – Waktu makan malam adalah terpanjang dibandingkan makan pagi (Yunani : “Akratisma”) maupun makan siang (Yunani : “Ariston”). (Wahyu Kepada Rasul Yohanes, hal. 93).



Nah, dalam Wah 3:20 ini kata “makan” di sana menggunakan kata Yunani “DEIPNEO” yang berarti makan malam.

--



Note : Di sini KJV dan mayoritas Alkitab bahasa Inggris tidak menggunakan kata “dinner” tetapi “sup” atau “supper” yang menunjuk pada makan yang lebih malam daripada “dinner”. Di Amerika misalnya, mereka menyebut dinner untuk acara makan malam yang dimulai lebih awal dan supper juga untuk acara makan malam tetapi dimulai lebih terlambat dari waktu biasanya. Sedangkan di Australia dinner merupakan sebutan untuk santapan utama pada makan malam, dan supper disebutkan untuk santapan ringan dan santapan-santapan lainnya setelah waktu makan malam; di mana di Amerika hal ini disebut “Late Night Snack”.


Kristus berjanji bukan untuk sekedar makan bersama orang-orang yang menerima Dia tetapi makan malam (“DEIPNEO”) yang penuh dengan kesungguhan dan dinikmati dengan sebuah suasana relaks dan intim. Dengan demikian jikalau Kristus berjanji bahwa Ia akan masuk dan makan malam bersama-sama dengan orang-orang yang mendengar ketukan-Nya dan membukakan pintu bagi-Nya, artinya adalah bahwa Ia akan menjalin hubungan yang penuh dengan keakraban, keintiman dan kasih dengan mereka.

George Eldon Ladd - Jadi ayat ini mencakup janji persekutuan yang paling intim yang dimungkinkan.



William Hendriksen - Kristus dan orang percaya makan bersama-sama, yang di Timur merupakan suatu petunjuk tentang persahabatan yang khusus dan tentang hubungan perjanjian. Dengan kata lain, orang percaya mempunyai persekutuan yang mulia dengan Juruselamat dan Tuhannya ... Persekutuan itu dimulai bahkan dalam hidup yang sekarang ini.


Ya, inilah janji-Nya! Apabila kita membuka hati dan menyambut Dia, Ia berjanji akan menjalin hubungan yang penuh dengan keakraban dan keintiman dalam kasih dan persekutuan dengan kita. Dan tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan karena memiliki hubungan yang karib / intim seperti ini dengan Tuhan, pencipta alam semesta ini yang adalah Juruselamat kita.


Ayub 29:4 – “….ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku…”

Maz 25:14 - TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, danperjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Orang tentu akan bahagia jikalau ia bisa karib / akrab dengan orang-orang terkenal / orang kaya / pejabat negara dan makan bersama-sama dengan mereka. Tetapi janji di sini bukanlah suatu keakraban / kekariban dengan seorang manusia yang fana tetapi dengan Tuhan sendiri. Tidakkah ini sesuatu yang luar biasa?


Karena itu bagi yang belum percaya Yesus, ingatlah bahwa saudara adalah musuh Allah (Rom 5:10; 8:7). Biar pun saudara ada dalam gereja dan aktif pelayanan, saudara dimusuhi-Nya. Karena itu bukalah hati saudara untuk menerima Dia sehingga saudara berhenti menjadi musuh-Nya dan malah menjadi kekasih-Nya dan hidup dalam persekutuan yang indah dan akrab dengan-Nya. Bagi saudara yang sudah percaya pada Yesus, berbahagialah saudara karena saudara adalah orang dekat-Nya Tuhan. Saudara adalah sahabat karib-Nya. Berusahalah untuk menjaga hubungan yang karib ini dengan selalu bersekutu dengan Tuhan.



b. Janji Tuhan berkenaan dengan kehidupan di masa yang akan datang.
Sang Juruselamat tidak hanya berjanji terkait dengan kehidupan saat ini, Ia juga berjanji terkait kehidupan yang akan datang, kehidupan di dalam kekekalan.


Wah 3:21 - Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.


Robert H. Mounce - Janji tentang duduk bersama Kristus pada takhta-Nya sepenuhnya bersifat eskatologi / berhubungan dengan akhir zaman. (New International Commentary of the NT, hal.130).


Ya, janji-Nya adalah kita yang sudah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat akan duduk bersama dengan Dia di atas takhta-Nya.

David Iman Santoso – “…janji ini adalah janji yang terhormat, terindah dan termulia dari semua janji yang diberikan dalam keenam surat yang terdahulu. (Membaca dan Memahami Kitab wahyu, hal. 77).


Takhta Kristus adalah takhta pemerintahan dan itu berarti orang percaya pun akan memerintah bersama-sama dengan Kristus. Bandingkan :


Mat 19:28 - Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.


2 Tim 2:12 - jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia…”


1 Kor 6:2-3 – (2) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?…. (3) Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikatmalaikat?...”




Wah 20:4,6 – (4) Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah;…dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun (6) … mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya


Bahwa orang percaya akan turut memerintah bersama dengan Kristus, akan menghakimi dunia, menghakimi orang-orang Israel, menghakimi malaikat dan menjadi raja dalam kerajaan 1000 tahun, ini adalah ajaran/doktrin yang sukar yang tidak akan saya jelaskan di sini. Tetapi inti dari janji ini adalah bahwa orang-orang percaya akan mendapatkan sebuah kemuliaan / kehormatan yang luar biasa dalam kerajaan Tuhan. Jika setelah mati dan bangkit dan kembali ke surga, Kristus duduk di sebelah kanan Bapa-Nya dan itu berarti bahwa Ia memiliki tempat yang sangat mulia dan terhormat, demikian juga kita yang menang akan duduk di atas takhta-Nya yang berarti kita akan dimuliakan dan dihormati dalam kerajaan-Nya.



Simon Kistemaker - Tuhan Yesus melihat ke depan dan mengatakan kepada kita bahwa ketika kita menang, maka kita akan diundang oleh Kristus untuk duduk di samping-Nya. Sungguh itu merupakan suatu kemuliaan.

Ini memang sesuatu yang masih abstrak bagi kita tetapi semuanya akan jelas kalau kita sudah sampai di sana. Di dunia ini mungkin saudara tidak / kurang, tidak / kurang dihargai, tetapi asal saudara menjadi orang yang percaya kepada Kristus, saudara akan dihargai, dihormati dan dimuliakan di surga. Inilah janji Kristus bagi orang-orang yang menang.

Adalah menarik untuk membandingkan 2 janji Kristus ini. Janji yang pertama (ayat 20) berkaitan dengan kehidupan saat ini (di mana kita akan mempunyai hubungan yang akrab / karib dengan Kristus) dan janji yang kedua (ayat 21) berkaitan dengan kehidupan yang akan datang (di mana kita akan dihargai / dihormati dalam kerajaan Tuhan). Perhatikan kesan yang diberikan dalam janji yang pertama (ayat 20) di mana itu digambarkan terjadi di dalam ‘rumah’ kita sendiri.


Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.


Jadi gambarannya adalah Kristus hendak masuk ke dalam rumah kita. Ketika kita membuka pintu ‘rumah’ kita maka Dia akan masuk ke dalam rumah kita itu, Dia akan makan bersama dengan kita dan makanannya adalah makanan kita sebagai tuan rumah. Tetapi dalam janji yang kedua, kesan yang ditimbulkan bukanlah dalam rumah kita tetapi di dalam rumah / kerajaan-Nya.


Wah 3:21 - Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.


Takhta Tuhan jelas ada dalam rumah / kerajaan Tuhan sehingga janji ini akan digenapi dalam rumah / kerajaan Tuhan. Perhatikan juga bahwa ide tentang masuk ke dalam rumah / kerajaan Tuhan, duduk di atas takhta-Nya dan memerintah bersama Dia sebagaimana yang sudah digambarkan dalam penjelasan di atas terkait di dalamnya juga makan bersama.


Luk 22:29-30 – (29) Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa- Ku menentukannya bagi-Ku, (30) bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.


Luk 14:15 - "….Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."


Perhatikan frase “kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku” (Luk 22:30) dan “dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15) menunjukkan bahwa yang dimakan dan diminum bukanlah makanan kita di rumah kita tetapi makanan dan minuman- Nya di rumah / kerajaan-Nya.



Jadi perbandingannya luar biasa. Dalam ayat 20, kitalah yang membuka pintu ‘rumah’ kita dan Kristus masuk ke dalamnya. Tetapi dalam ayat 21 Kristuslah yang membuka pintu rumah-Nya dan kitalah yang masuk ke dalamnya. Dalam ayat 20 kitalah yang menyambut Kristus tetapi dalam ayat 21, Kristuslah yang menyambut kita. Dalam ayat 20 kitalah yang menjamu Kristus tetapi dalam ayat 21 Kristuslah yang menjamu kita. Dalam ayat 20 kita makan bersama dengan Kristus makanan kita tetapi dalam ayat 21 kita makan bersama dengan Kristus makanan-Nya. Tentu saja semua ini tidak boleh diartikan secara hurufiah Tetapi perbandingan-perbandingan ini saling terkait dalam hubungan sebab akibat.




Maksudnya adalah apa yang dikatakan dalam ayat 21 tidak akan terjadi jikalau tidak terjadi apa yang dikatakan dalam ayat 20. Jikalau kita pernah mau mendengar ketukan Tuhan di pintu ‘rumah’ kita (hati kita), maka Tuhan pun tidak akan pernah mendengar ketukan kita di pintu rumah-Nya. Jikalau kita tidak pernah membuka pintu ‘rumah’ kita (hati kita) maka pintu rumah Tuhan pun tidak akan pernah terbuka bagi kita. Jikalau kita tidak pernah mengundang Kristus masuk dalam ‘rumah’ kita (hati kita), maka Kristus pun tidak akan pernah mengundang kita ke dalam rumah-Nya. Jikalau kita tidak pernah menyambut Kristus Dia di dalam ‘rumah’ kita (hati kita), maka Dia pun tidak akan pernah menyambut kita di dalam rumah-Nya. Jikalau kita tidak pernah duduk makan bersama dengan Dia dalam rumah kita maka kita pun tidak akan pernah duduk makan bersama dengan Dia dalam rumah-Nya apalagi memerintah bersama dengan Dia.


John Stott – Jika kita mengundang Kristus masuk ke rumah hati kita, Ia akan membawa kita masuk ke rumah Bapa-Nya. Lebih lanjut, jika kita mengundang Kristus duduk di pinggir meja, Ia akan mengijinkan kita duduk bersama di takhta-Nya. (What Christ Think of the Church, hal.126).


Karena itu janganlah keraskan hati saudara jikalau Tuhan mengetuk. Bukalah pintu hatimu dan terimalah Yesus.


John Stott – Di sini terdapat alternatif yang amat penting bagi setiap orang yang bijaksana. Bersikap ragu-ragu, rasa puas akan diri dan acuh tak acuh terhadap hal-hal mengenai Allah adalah membuktikan bahwa orang yang bersangkutan sama sekali bukan seorang Kristen dan menjadi demikian tidak diperkenan oleh Kristus sehingga ia berada dalam bahaya akan ditolak dengan keras. Tetapi seorang yang bersikap ikhlas dalam kesetiaannya kepada Kristus, membuka pintu dan menyerah total kepada-Nya, kepadanya akan diberikan hak istimewa makan bersama Dia di bumi dan memerintahkan bersama Dia di sorga. Di sini terdapat pilihan yang tidak dapat kita hindarkan. Kita harus membuka lebar pintu untuk-Nya atau menutupnya di depan Dia. (What Christ Think of the Church, hal.126).


Maukah saudara menerima tawaran kasih Tuhan ini?


Pada tanggal 22 November 1840 seorang di kota Massachusetts Amerika lahirlah seorang bayi yang lalu diberi nama Daniel W. Whittle. Sejak masa kecilnya Daniel sudah tertarik dengan segala sesuatu yang berbau militer dan karena itu pada usianya yang ke 20 ia lalu bergabung dengan Infanteri Illionis 72 dengan pangkat Letnan Dua. Ia lalu terlibat dalam sejumlah perang di antaranya perang saudara Amerika dan ia tertembak dan mengalami luka yang serius di Vicksburg di mana tangannya putus dan nyawanya terancam.



Ia lalu dirawat di Rumah Sakit dan setelah hampir sembuh, ia mencari-cari sesuatu untuk dibaca. Ia kemudian menemukan Alkitab Perjanjian Baru dan membacanya. Walaupun kata-kata dalam Alkitab itu begitu menggema di hatinya, ia belum siap menerima Kristus. Tidak lama setelah itu, seorang perawat Rumah Sakit membangunkannya dan berkata bahwa ada seorang tahanan yang sedang sekarat yang meminta seseorang berdoa untuknya. Whittle sebenarnya keberatan mendoakan tahanan itu, tapi perawat itu berkata, "Saya kira Anda seorang Kristen karena saya lihat Anda membaca Alkitab". Akhirnya, Whittle bersedia mendoakan anak muda itu. Anak muda itu menjadi tenang dan memegang tangan Whittle erat-erat sementara ia berdoa dan mengatakan janji-janji Tuhan kepadanya. Ketika Whittle berdiri, anak muda itu pun meninggal. Wajahnya yang semula sangat menderita berubah menjadi penuh sukacita dan damai. Whittle heran mengapa ada orang bisa tenang dan bahagia pada saat mati? Entah kenapa ia lalu berharap bisa bertemu lagi dengan anak muda itu di sorga kelak. Ini membawa dia membuka hatinya pada Yesus.



Beberapa saat setelah itu ia lalu keluar dari militer dengan pangkat Mayor sehingga ia lebih dikenal setelahnya sebagai Mayor Whittle. Ia lalu melamar kerja menjadi bendahara di sebuah perusahaan bernama Elgin Watch Company. Di sana ia bekerja selama 10 tahun. Ia lalu bertemu dengan penginjil terkenal DL. Moody. Moody yang tahu bakat besar Mayor Whittle dalam dunia musik dan tarik suara lalu membujuknya untuk keluar dari pekerjaannya dan membantunya dalam kampanye-kampanye pemberitaan Injil secara fulltime.



Melalui pergumulan yang panjang akhirnya ia mengikuti saran Moody. Bersama Moody ia lalu dikenal sebagai seorang penginjil tetapi yang paling menyolok darinya adalah dalam hal musik dan puji-pujian. Ia lalu bertemu dengan Philip P. Bliss dan bersamanya menggubah banyak lagu pujian dalam kampanye penginjilan bersama Moody. Sayang, beberapa saat kemudian (tahun 1876) Philip P. Bliss meninggal dalam kecelakaan kereta api di Ohio. Bliss mempunyai seorang teman bernama James McGranahan yang juga sangat menyolok kemampuannya dalam dunia musik. Bliss berkali-kali mendesak James McGranahan untuk menyerahkan diri bagi Tuhan di dalam pelayanannya tetapi James McGranahan selalu saja menolak. Pada malam sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya, Philip P. Bliss menulis surat untuk James McGranahan yang bunyinya “Berhentilah menyabit, dan bekerjalah bagi Tuhan”.


Pada besok harinya setelah kecelakaan naas itu, James McGranahan muncul di lokasi kecelakaan, di sanalah dia bertemu dengan Mayor Whittle. Pada saat itu Whittle pun berkata pada McGranahan : “Tuhan telah memilih engkau untuk melanjutkan pelayanan Philip P. Bliss”. James McGranahan pun akhirnya menyerahkan diri secara fulltime untuk melayani Tuhan dalam dunia musik bersama dengan Mayor Whittle di mana Mayor Whittle menciptakan lagu-lagu penginjilan (sekitar 200 lagu) dan McGranahan yang menggubah musiknya. Mayor Whittle akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 4 Maret 1901 dalam usia 61 tahun tapi hasil kerjasama dengan James McGranahan masih kita warisi sampai hari ini seperti lagu “I know Whom I Have believe” (Aku tahu Siapa yang kupercaya) yang dalam Kidung Jemaat tercatat pada nomor 387 : “Kuheran Allah mau memberi rahmat-Nya padaku dan Kristus sudi menebus yang hina bagaiku! Namun 'ku tahu yang kupercaya dan aku yakin 'kan kuasa-Nya, Ia menjaga yang kutaruhkan hingga hariNya kelak! Juga lagu “There Shall Be Showers Of Blessing” yang tercatat dalam Kidung Jemaat nomor 403 : “Hujan berkat kan tercurah itulah janji kudus….”.



Dalam sebuah perenungan tentang Wah 3:20 di mana Tuhan Yesus mengetuk pintu hati manusia dan meminta masuk, Mayor Whittle pun menulis sebuah lagu dengan judul “Have you any room for Jesus” (reffnya: “Room for Jesus, King of Glory! Hasten now His Word obey) yang kita kenal hari ini dengan judul “Adakah tempat bagi Yesus”.

 Ada tempat bagi Yesus, yang menanggung dosamu
Mengetuk dan minta masuk, maukah sambut Tuhan-Mu


Reff. B’rilah tempat bagi Yesus, s’karang turut sabda-Nya
Bukalah pintu hatimu dan terimalah Yesus


Untuk kerja dan kesenangan, hati kita tercurah
Tapi untuk Tuhan Yesus, kita pun menghindarlah


Janganlah lalaikan waktu, suara Yesus terdengar
Waktu inilah yang patut, s’karang sambutlah Tuhan


Tempat waktu pun b’ri s’karang, segera t’rima rahmat-Nya
Bila Tuhan ambil nyawa, tiada lagi jemputan



[Catatan editor Anchor,   dikarenakan tidak ada versi bahasa Indonesia yang bagus maka versi klasik ini yang ditampilkan, namun bila pembaca tertarik untuk meresapi lagu ini dalam kalbu anda, adalah baik  menyanyikan dengan teks lagu bahasa Indonesia yang ada di "atas" dengan iringan piano pada video ini]


Ya, berilah tempat bagi Yesus dalam rumah hatimu maka Ia pun akan beri tempat bagimu dalam rumah-Nya di surga. Duduklah bersama Dia di meja makanmu, dan Ia akan duduk bersamamu di atas takhta-Nya. Maukah saudara?
- AMIN -

P O P U L A R - "Last 7 days"