0 Waktu Bagi Israel Untuk Membuat Keputusan! (Bagian 3 Selesai) : Kala Percaya Bukan Sekedar Percaya

Bacalah terlebih dahulu bagian 1 di sini dan bagian 2 di sini



Oleh :  Bob Deffinbaugh, Th.M






Reaksi Populer
(Yohanes 6:60-65)




Pengajaran mengenai roti hidup  menyingkapkan bahwa  konsep Yesus mengenai Kerajaan Allah  berbeda sama sekali  dengan  harapan-harapan umum/populer  yang diyakini oleh massa di Israel. Sebagai akibatnya, ada reaksi negatif, “Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" (Yohanes 6:60)



Orang banyak ini tidak menjadi  gusar karena mereka tidak dapat memahami apa yang Yesus telah katakan tetapi karena secara tepat mereka memahami perkataan Yesus dengan sangat baik. Tidak sukar untuk memahaminya tetapi sukar untuk  menjalankan kehidupan dalam pemahaman demikian, karena penjelasan Yesus   tidak selaras dengan pandangan-pandangan mereka  terhadap Kerajaan Allah ,yang telah  terdistorsi.

Sekali lagi Yesus tidak berupaya memodifikasi atau meninjau ulang doktrin-Nya  agar  tidak kehilangan dukungan populer. Dia sebaliknya malah mempertajam isu tersebut. Jika mereka menjadi terjatuh dengan pengajaran-Nya  betapa  lebih  tertekannya lagi mereka pada saat kenaikan Yesus untuk kembali  berada di sebelah kanan Bapa (ayat 62).



Mereka memilih untuk memahami firman Tuhan dalam cara  yang hampir-hampir teramat literal, sementara perkataan Yesus  lebih bersifat metafora. Yesus tidak mengajarkan untuk memakan diri-Nya dalam arti daging harfiah, tetapi menjadikan diri  dan pekerjaan-Nya sebuah bagian vital dari diri  mereka (Yohanes 6 ayat 63  Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup”) [“Ide memakan, sebagai sebuah metafora untuk menerima makanan rohani dan manfaat-manfaat yang mengalir daripadanya, merupakan  hal yang sangat umum bagi orang-orang Yahudi. ‘Dalam literature Rabinik, instruksi sakral menyebutkan roti dan mereka yang sangat ingin menyerapnya diperintahkan untuk memakannya.’ Pada alkitab bahasa Inggris ‘Thy words were found and I did eat them’ (Jer. 15:16). Dalam Talmud Hilel dikatakan: ‘Mesias  kelihatannya tidak akan datang ke Israel, karena orang-orang Israel telah  memakannya pada  hari-hari Hizkia.’ Para Rabi telah  menyatakan instruksi mereka sebagai “tempat berdiam roti seutuhnya.’ Adalah umum mengatakan dikalangan Yahudi :’dimasa Mesias orang-orang Israel akan diberi makan oleh-Nya.’” Shepard, The Christ of the Gospels, hal. 275.]. Masalah sesungguhnya, sebagaimana selalu demikian, adalah ketidakpercayaan (ayat 64), seperti juga pada kasus Yudas. Mereka kelihatannya murid-murid sejati, tetapi dalam kenyataannya hanyalah para pencari sensasi dan pecundang, mencari pemberian. Ketidakpercayaan mereka memang adalah hal yang telah diduga  karena  mereka  hanya dapat menjadi percaya  oleh sarana-sarana penarikan oleh Bapa (ayat 65).



Keputusan 12 Murid
(6:66-71)



Mereka yang mengikut Yesus disebut  “murid-murid” (bandingkan dengan ayat 66), tetapi garis pemisah harus ditarik . Ketika orang banyak telah mendengarkan percakapan itu maka mereka pergi dalam ketidakpercayaan. Ketika murid-murid Yesus diberikan kesempatan untuk pergi meninggalkan Yesus, Petrus menjawab mewakili 12 murid, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yohanes 6:68-69).



Inilah jawaban paling intim dari para pengikut Yesus. Mereka tidak memiliki pilihan lain, karena Dialah satu-satunya  yang memiliki kata-kata  hidup yang kekal. Namun, sekalipun pada titik  semcam ini,penghianatan Yesus oleh Yudas sudah diketahui Guru (ayat 70-71).




Kesimpulan dan Aplikasi



Mengacu pada  sejarah, memberi  makan 5.000 orang dan percakapan mengenai Roti Hidup merupakan gelombang   sentimen  negatif yang menjauhkan Yesus sebagai Mesias.  Dengan kematian Yohanes Pembaptis, setiap mata tertuju kepada Yesus sebagai penerusnya.  Tetapi pengajaran Yesus menjelaskan bahwa Dia tidak datang untuk menyelaraskan dengan pemikiran popular mengenai Mesias.

Aplikasinya bagi kita saat ini, adalah sangat menarik untuk memperhatikan bahwa didalam penyajian Yesus akan dirinya sebagai Mesias, Dia telah menolak untuk mengakomodasi  keseluruhan ide-ide dan pengharapan-pengharapan mereka yang bersifat materialistik . Betapa berbedanya dengan hari dan zaman kita ketika para pria dan perempuan memproklamasikan Injil, tidak didalam kondisi-kondisi tuntutan-tuntutan moral injil, tetapi dalam pemahaman kenikmatan-kenikmatan material. Kita menyuarakannya seolah-olah Tuhan menjanjikan sebuah kehidupan utopia  dengan berkat-berkat istimewa  dan bersinambung bagi  siapapun yang memberikan setidaknya pujian bagi Kristus.

Fokus injil   Kristus sesungguhnya bukan pada soal pemuasan dan gratifikasi (mengimbali) pada diri sendiri, tetapi lebih kepada pengorbanan dan kematian. Yesus telah datang untuk mati bagi dosa-dosa manusia dan hanya pada mereka yang telah menerima penderitaan Juru selamat akan memerintah bersama dengan Dia. Demikian besarnya pemisah dalam Kekristenan.Banyak dari mereka yang  menyebutkan nama Kristus dan yang menyebut diri mereka   orang-orang Kristen. Tetapi ketikan masalah penderitaan datang,  mereka dengan cepat menyelesaikan dengan cara mereka sendiri, mengabaikan/meninggalkan Yesus (bandingkan dengan Markus 4:16-17).




Kemudian, juga, kita diingatkan dengan nas ini bahwa keselamatan tidak datang semata oleh  mental yang bagus, memberi hormat pada Yesus dengan  cara menyentuh ujung topi (sebagai orang baik, seorang guru yang baik, dan lain-lain), tetapi dengan berlutut, dengan penerimaan yang aktual dan personal akan  diri dan perbuatan Yesus   pada salib Kalvari. Ini bukan sekedar soal percaya kepada Dia, tetapi mempercayakan seluruh keberadaan diri dan hidup kepada Dia saja untuk keselamatan kekal.



Selesai



Israel’s Hour of Decision (John 6:1-71)| diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora


P O P U L A R - "Last 7 days"