0 TRANSFIGURASI Bagian 4 Selesai: Lantas, Siapakah Yesus itu Menurutmu?


Mia Tavonatti's "Crucifixion" at the DeVos Place
http://mosaicartsource.wordpress.com

Bacalah terlebih dahulu bagian 1 di sini  bagian 2 di  sini dan bagian 3 di sini


Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M

Penggambaran Tuhan Tentang Yesus
(Lukas 9:28-36)



Disini, kemudian, adalah latar belakang transfigurasi. Kepemimpinan Yahudi telah menolak Yesus dan telah merencanakan kematian-Nya.  Mayoritas luas Judaisme mengapresiasi-Nya dengan tinggi, tetapi tidak cukup tinggi. Murid-murid   telah percaya bahwa Dia  pasti Mesias dan Anak Allah, hanya saja pemahaman atas implikasi-implikasi yang timbul sebagai akibat dari apa yang telah mereka akui masih samar-samar. Sukacita atas pujian yang Yesus berikan terhadap pengakuan Petrus dengan cepat menjadi tidak ada nilainya oleh deklarasi Yesus bahwa Dia harus  segera mati, dan  menjadi tanggungjawab mereka, jika mereka mau menjadi murid-murid-Nya, maka mereka harus bersedia untuk melakukan hal yang sama.

Sekarang enam atau delapan hari kemudian [“Matius dan Markus menyatakan  interval  enam hari (Matt. 17:1; Mark. 9:2). Lukas mencatat ‘kira-kira delapan hari’ (Luk. 9:28), yang berangkali menunjukan bahwa dia menghitung hari-hari dimana dua episode tersebut  berlangsung serta juga interval hari yang sesungguhnya diantara dua peristiwa itu. Metode  perhitungan inklusif ini tidaklah asing didalam kitab suci.” Everett F. Harrison, A Short Life of Christ (Grand Rapids: Eerdmans, 1968), hal. 150.], Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk ambil bagian berdoa. “Gunung yang  tinggi” itu (Matius 17:1 ; bandingkan dengan Lukas 9:28), oleh banyak ahli diduga sebagai Gunung Hermon
[“ Lokasi transfigurasi secara tradisi menurut  gereja Yunani adalah Tabor, dimana mereka setiap  tahun, pada 6 Agustus, mengadakan Perayaan Transfigurasi, Thaborium. Tetapi ini hal yang sangat mustahil, karena Tabor hampir  sejauh 50 mil ( lebih kurang 80,4 Km) dari Kaesarea-Filipi dan Yesus pada saat itu sedang menghindari Galileas. Puncak gunung ini juga terdapat benteng dan bukan tempat yang cocok untuk peristiwa ini. Apalagi, Markus menyatakan bahwa Yesus tidak “melalui Galilea”—dimana disinilah G. Tabor berada—sampai nanti. Lokasi yang paling mungkin untuk peristiwa yang menakjubkan ini adalah salah satu dari  bagian  yang lebih rendah dari Gunung Hermon yang  berlapis salju. Terlihat dari segala arah dari daratan  hingga ke Selatan,  Laut Mati. Tidak ad tempat lain yang  sesuai di seantero Palestina  selain dari lereng-lereng gunung yang terkenal ini,  sejuk dan segar dengan angin malam sepoi-sepoi dari puncak-puncak tingginya yang berlapis salju, dimana kesunyian memerintah, dan salah satu pemandangan termegah dari segenap sejarah dan alam terpampang dihadapan mereka.” Shepard, The Christ of the Gospels, hal. 314.]. Beberapa faktor nampaknya memperlihatkan bahwa peristiwa ini berlangsung pada malam hari [“Sumber-sumber kami tidak mengatakan apakah transfigurasi berlangsung pada  siang atau malam hari,  tetapi beberapa faktor mendukung ide bahwa peristiwa ini berlangsung pada malam hari.  Tidurnya para murid menunjukan kearah ini,  sebagaimana Lukas mencatat bahwa Yesus pergi untuk berdoa. Kita tahu dari beberapa catatn lain dalam Injil-Injil bahwa  Yesus biasanya menjauh untuk berdoa pada saat-saat malam.  Kemudian ada pertimbangan bahwa mereka turun dari  gunung pada  hari berikutnya (Luk. 9:37).” Harrison, A Short Life of Christ,hal. 154.]. Selagi Yesus berdoa, murid-murid tidur. Kita tidak perlu menjadi terlalu rumit pada tiga hal, pertama  kita kerap melakukan hal yang sama, dan kedua, karena hari dimana mereka mendaki telah menguras fisik mereka. Saya akan membayangkan bahwa doa-doa Yesus  terutama berpusat untuk murid-murid-Nya pada saat-saat kritis ini. Mereka sedang bergumul dengan identitas Yesus sebagai Mesias dan kepastian Yesus akan kematian yang  akan terjadi. Jika saya benar dalam  berpendapat bahwa doa yang dipanjatkan Yesus terutama terkait untuk murid-murid-Nya ,maka kita harus  memandang transfigurasi sebagai sebuah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan, dan sebuah peristiwa telah dirancang untuk kepentingan kita.




Beberapa karakteristik utama dari peristiwa ini diangkat dari catatan Lukas :


(1)Kemuliaan yang terpancar keluar dari Yesus Kristus diperlihatkan untuk sementara. “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.” (Lukas 9:29).



Ketika pribadi kedua Tritunggal mengambil bagi diri-Nya sendiri  tubuh manusia, kemuliaan-Nya telah diselubungi, sehingga nabi ini dapat dengan tepat berkata, “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya” (Yesaya 53:2b).



Diseluruh pelayanan bumi-Nya, manusia menantang Yesus untuk memanifestasikan  kemilau dan keagungan-Nya sebagai  Mesias, tetapi  apa yang terselubungi  itu adalah atribut-atribut Tuhan, itu adalah karakter-Nya, yang Dia sangat inginkan untuk singkapkan. Pada  satu kesempatan ini, selubung kemanusiaan-Nya untuk sesaat diangkat dan  kemilau serta keagungan ilahi-Nya menyeruak keluar.


(2)Musa dan Elia  terlihat bersama dengan Yesus. Tidak diragukan, kita harus memahami kehadiran dua orang ini sebagai simbolik  hukum Perjanjian Lama dan nabi-nabi. Musa, yang  oleh pemimpin-pemimpin Yahudi  dikatakan bahwa mereka adalah murid-murid Musa ( Yohanes 9:28), disini, bukan sebagai Anak Allah, tetapi hanya sebagai seorang hamba[“ Kehadiran Musa disini menegaskan bahwa didalam Yesus bayang-bayang Hukum telah dipenuhi dan sekarang telah ditarik. Di  Yerusalem  orang-orang masih  bertengkar,  bukan semata karena hukum Musa, tetapi tradisi-tradisi dari para  tua-tua, imam-imam dan para pemimpin yang masih besilang pendapat mengenai persepuluhan  mint dan jintan, sementara disini di gunung sang pemberi hukum itu sendiri, dengan kehadirannya mengakui bahwa Yesus adalah yang dimuliakan, Dia yang segera disalibkan atas nama Hukum, telah  mewujudkan didalam diri-Nya sendiri apa yang selama ini hanyalah merupakan  tanda atau isyarat, termasuk didalamnya  tata cara di masa lalu.” Morgan, The Crises of the Christ, hal. 238-239.]. Didalam Yesus, baik Hukum dan nabi-nabi menemukan penggenapan mereka.



Topik pembicaraan adalah  keluarnya atau perginya Yesus ( ayat 31 “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem”). Pilihan istilah “eksodus” untuk mengungkapkan kepergiannya ( pada alkitab versi expanded : “They appeared in ·heavenly glory [glory], talking about his departure [Greek: exodos,  berangkali mengingat akan eksodus dari Mesir, dan merujuk pada kematian Yesus,kebangkitan, dan kenaikan] which he ·would soon bring about [was about to fulfill/accomplish] in Jerusalem)  bukan kebetulan, seperti halnya Musa yang telah memimpin orang Israel memasuki berkat-berkat yang telah dijanjikan Tuhan  dengan melewatkan  mereka melalui  air kematian. Walaupun ada keserupaan antara dua orang ini dengan Yesus [“…  dua orang ini memiliki banyak kesamaan umum dengan Yesus dari Nazaret. Musa memperlihatkan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban dihadapan Israel didalam nama Tuhan, tetapi sedikit  gunanya. Orang Israel keras kepala dengan ketidakpercayaannya dan gagal untuk memasuki tanah perjanjian karena ketidakpercayaannya.  Yesus   memiliki penerimaan yang sama untuk perbuatan-perbuatan hebatnya. Dan seperti Musa yang  mengantarai Israel ditengah-tengah ancaman penghakiman dan kegagalan, bersedia memberikan nyawanya jika mereka dapat diselamatkan, demikian juga Yesus meratap penuh belas kasih terhadap Yerusalem. Elia adalah nabi yang kesepian, bahkan ketika  dikelilingi oleh orang banyak di Gunung Karmel, Yesus, juga, dalam banyak hal  seorang figur  yang tersendirikan, sekalipun dia memiliki pengikut populer . Dia berdoa sendirian, menderita sendirian, dan mati sendirian. Dua nabi itu memiliki kesamaan dengan Yesus dalam  hal bagaimana pelayanan mereka diakhiri. Elia secara supernatural diangkat  untuk masuk  dalam ke surga dalam  kemuliaan, sekalipun hal ini adalah penggambaran kenaikan Juru selamat kedalam kemuliaan. Seperti Elia yang dapat memberikan rohnya kepada  Elisa, demikian juga dengan kenaikan Yesu yang mencurahkan  roh-Nya kepada murid-murid.” Harrison, A Short Life of Christ, hal. 156.]. Perbedaannya jauh lebih besar, karena di sini satu orang  jauh lebih superior  dibandingkan dengan dua orang. Sementara dua nabi tersebut adalah orang-orang besar, mereka adalah manusia dengan kaki yang terbuat dari tanah. Penebusan mereka terletak sepenuhnya pada karya Kristus  dimasa mendatang di kayu salib bagi mereka. Betapa melegakan semestinya percakapan yang  berlangsung ini bagi Yesus, karena sekalipun murid-murid tidak dapat memahami kebenaran dan signifikansi kematian-Nya yang mendekat, kedua orang  yang muncul dari masa lalu ini memahaminya.


(3)Kita diberikan sebuah gambaran yang  jelas akan kebodohan murid-murid. Sementara Yesus telah berdoa dengan sungguh-sungguh, mereka tidur. Kita tidak tahu berapa lama percakapan tersebut berlangsung antara ketiganya  sebelum akhirnya murid-murid menyadari apa yang telah berlangsung. Berangkali   itu adalah kilauan  pancaran cahaya  dari Yesus  yang akhirnya membangunkan mereka, tetapi apapun detail persisnya yang diinformasikan oleh teks kepada kita adalah: bahwa mereka  bingung dan grogi,  berada jauh dari sebuah gambaran  tiga orang itu yang tersaji  begitu saja di mata mereka, tetapi sangat realistik  dan seperti hidup.  Tanggapan Petrus semata merupakan konfirmasi verbal atas kebenaran yang sama. Petrus adalah seorang pemercaya   yang  kokoh dalam slogan “Jangan hanya berdiri disana, katakan sesuatu.” (Itu sebabnya  mengapa kita semua dapat mengenali dia dengan baik). Berangkali berharap  untuk melanggengkan atau memperpanjang kemuliaan dari momen itu, Petrus mengajukan tiga kemah untuk dibangun, satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia (ayat 33). Sebagaimana akan Petrus akui, itu merupakan   perkataan yang bodoh, dan perkataan yang  ceroboh menempatkan Yesus dan dua tamu itu dalam level yang sama. Kita dapat sepenuhnya bersyukur untuk interupsi ilahi yang  mencegah Petrus untuk mengatakan  hal  yang lebih bodoh lagi.


(4)Kesaksian Tuhan. Pada ayat 18 dan 19 penggambaran Yesus oleh orang banyak  telah dicatat, pada ayat 20  kesaksian dari para murid. Pada ayat 34 dan 35 adalah penggambaran yang diberikan  Allah Bapa tentang Yesus: “Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”



Pengakuan besar  yang diucapkan oleh Petrus dan dipuji oleh Yesus telah diotentikan secara ilahi oleh suara surga dari  awan. Sungguh benar Yesus adalah Anak Allah, Mesias Israel, karena Tuhan  telah mengatakan demikian. Sementara suara dari Surga pada pembaptisan Yesus dimaksudkan untuk kepentingan Yohanes, untuk mengidentifikasi Yesus sebagai  Juru selamat, suara di dalam peristiwa ini  terutama untuk kepentingan murid-murid.

Sebagai tambahan untuk identifikasi  Yesus adalah Anak Allah yang resmi, ada sebuah perintah   yang tegas  untuk memperhatikan pengajaran-Nya. Sementara  mereka mungkin sulit untuk menduga kata-kata Yesus, mereka harus memperhatikan pada apa yang Dia katakan. Berangkali disinilah  sebuah teguran diberikan pada Petrus karena  kata-katanya yang tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan. Kata-kata  yang diucapkan Juru selamat  tidak hanya harus didengar, tetapi dipatuhi (sebagaimana kata “dengar: kerap dikemukakan dalam Kitab suci).



Interpretasi  dan Aplikasi

Transfigurasi Yesus adalah sebuah titik krusial dalam hidup dan pelayanan Kristus karena  kedua hal tersebut merangkumkan pelayanan terdahulu dan  mendahului kematian-Nya. Sebagaimana G. Campbell  Morgan  secara jitu menyatakan demikian :



“Transfigurasi Yesus merupakan penyempurnaan kehidupan kemanusiaan-Nya, semua hal natural yang telah mendahului transfigurasi. … disini, setidaknya, kemanusiaan itu, sempurna dalam penciptaan, sempurna dalam percobaan, disempurnakan dalam kemuliaan. Kehidupan Yesus pasti akan mencapai titik transfigurasi, Tidak bisa lain [G. Campbell Morgan, The Crises of the Christ, p. 229.].



Transfigurasi juga merupakan pendahuluan untuk kematian-Nya, karena dari titik ini Dia berkata dengan terus terang  mengenai kematian-Nya. Wajah-Nya kini tertuju ke Yerusalem. Kemuliaan-Nya harus  melalui penderitaan.

Paling utama, transfigurasi adalah untuk kepentingan tiga murid tersebut. Bagi mereka, transfigurasi adalah sebuah konfirmasi ilahi atas pengakuan  besar  yang meluncur dari mulut Petrus. Tuhan membuktikan benar apa yang Petrus katakan. Bahkan, transfigurasi merupakan sebuah konfirmasi  atas pemikiran Yesus mengenai misi-Nya sebagai Mesias. Ekspektasi umum adalah : bahwa Mesias akan datang, berbajukan kemegahan dan memutuskan  belenggu-belenggu  Roma. Pemikiran semacam ini  sebuah konsep eksklusif materialistik  tentang kerajaan. Yesus telah datang pertama-tama dan terutama untuk menebus manusia dari dosa dengan mati di kayu salib. Aspek-aspek harfiah dan literal mengenai Kerajaan  akan datang, tetapi hanya setelah persiapan-persiapan yang perlu dan  pendahuluan telah selesai.



Maka, juga, transfigurasi Yesus adalah sebuah tafsir ilahi mengenai pengajaran Yesus terkait kedatangan-Nya yang mendekat, murid-murid tidak dapat  merangkai rangkaian-rangkaian  penderitaan dan kemuliaan yang  terlihat bertentangan . Transfigurasi    telah divisualisasikan  untuk tiga murid tesebut bahwa kemuliaan yang  pasti milik Yesus ( dan  juga menjadi milik  mereka dan kita) harus datang melalui penderitaan (Eksodus-Nya). Mereka tidak  sepenuhnya memahami kebenaran ini, tetapi mereka memahaminya, saya percaya, bahwa kedua elemen tersebut, penderitaan dan kemuliaan, adalah esensial bagi tujuan Tuhan untuk Mesias.


Peristiwa ini juga pasti telah menjadi sebuah  penghiburan hebat bagi murid-murid. Pengharapan-pengharapan mereka dalam memasuki kerajaan telah  terlihat menjadi kandas oleh penyataan Yesus akan kematian-Nya yang mendekat di Yerusalem di tangan para pemimpin Yahudi.

Yesus tidak, sebagaimana beberapa pelajar Kitab Suci, mengajarkan bahwa tidak akan ada kerajaan yang bersifat  fisik,literal. Sebaliknya, Dia mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya  tidak untuk didirikan saat ini.  Agar tidak sampai kehilangan pandangan  akan kepastian  mengenai kerajaan, transfigurasi telah memberikan semacam “ pandangan pendahuluan” tentang kerajaan. Mereka telah mengecap sebuah contoh kemuliaan yang akan datang. Inilah pengharapan itu, kepastian akan kerajaan yang akan datang, yang telah membantu  mereka  untuk tetap bergerak maju  kala hal-hal sulit menghadang.


Akhirnya, pewahyuan Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus telah membuat orang-orang ini menjadi  rendah hati, memerintahkan mereka  untuk tidak berkata apapun dan mendengarkan pada   Guru. Berangkali disertai dengan kata-kata, “keakraban melahirkan penghinaan.” Hal yang terlihat sebagai kebenaran bagi Petrus. Hubungan Petrus   yang berkepanjangan dengan Yesus telah meluruhkan kepekaannya akan  kagum dan ketakjuban. Ketika kemuliaan dari Tuan terpancar dihadapan matanya, tidak  akan ada lagi ketaksopnan sebagaimana yang diperlihatkannya  ketika  Yesus mengatakan mengenai kematian-Nya. Kewajiban  Petrus adalah untuk jatuh kedalam pengaguman dan ketakjuban dihadapan Tuhan dan  Guru, dan mendengarkan pada setiap kata-Nya.

Dampak dari transfigurasi pada rasul Petrus dirangkumkan oleh interpretasinya yang diinspirasi dalam suratnya yang kedua:



(13) Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. (14) Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (15) Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu. (16) Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. (17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (18) Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (19) Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. ( 2 Petrus 1:13-19)

Peristiwa ini memiliki implikasi dan aplikasi bagi kita  pada hari ini. Pertama dan yang terpenting  tentu saja pasti pertanyaan, “Apakah  sangkaanmu  terhadap Yesus?  Ini adalah pertanyaan yang akan membagi  manusia pada hari-hari Tuhan kita, dan itu adalah pertanyaan yang  membelah manusia di  sepanjang kekekalan. Dia adalah Juru selamat, Mesias, Anak Allah. Dia adalah Satu yang telah mati sehingga ada dapat hidup. Sudahkah  kamu datang untuk mempercayakan seluruh dirimu kepada Yesus, tidak hanya sebagai orang yang baik, tidak hanya sebagai seorang nabi, tetapi sebagai satu-satunya  Anak Allah yang dikasihi, penanggung dosa-dosa dunia?



Sebuah cerita mengatakan bahwa  Thomas Carlyle [Dikutip oleh  James S. Stewart, The Life and Teachings of Jesus Christ, (Nashville: Abingdon, Festival Ed., 1978), hal. 135.], yang pada saat jelang kematiannya, telah membaca kata-kata Kristen yang melegakan dari ayat pertama pada injil Yohanes 14:”Janganlah gelisah hatimu. …Didalam rumah Bapaku ada banyak tempat tinggal.” Ya,” orang berduka yang hancur, “ jika anda adalah Tuhan, anda punya hak untuk berkata demikian: tetapi jika kamu hanyalah seorang manusia, apa lagi yang dapat anda ketahui dibandingkan dengan kami semua?” Dan juga, kamu lihat bahwa penggambaran Yesus  membuat berbagai perubahan didalam dunia.

Bagi kita yang  telah   percaya kepada Dia, kita harus memperhatikan kata-kata Bapa, “Dengarkanlah Dia.” Saya tidak yakin bahwa kita telah memberikan banyak perhatian kepada kata-kata Yesus seperti kita telah mengingat ayat-ayat kitab suci. Apakah kita melakukan studi firman Tuhan sebagai bagian utama dalam hari kita? Tuhan berkata bahwa kita harus.



Juga ada kesimpulan, sebuah kata kata bagi kita mengenai hidup dan setelah kehidupan. Kita melihat dalam kedua orang tersebut, Musa dan Elia, bahwa mereka yang telah mempercayakan dirinya kepada Juru selamat masih hidup,  memiliki kesadaran, sadar akan apa yang sedang terjadi. Lebih daripada ini,mereka dapat dikenali, walaupun kita tidak tahu bagaimana murid-murid telah mengenali mereka adalah Musa dan Elia. Sehingga saya beranggapan bahwa kita akan dapat mengenali orang-orang yang kita kasihi dalam kemuliaan.

Saya diingatkan dalam teks mengenai pentingnya  berdoa. Pengakuan besar yang terlontar dari mulut Petrus telah didahului oleh doa, selagi transfigurasi itu berlangsung. Doa adalah sebuah bagian vital dalam kehidupan Yesus, sebagaimana  juga seharusnya bagi kita.

Akhirnya, ada sebuah pelajaran besar bagi orang-orang Kristen mengenai penderitaan. Penderitaan adalah sebuah hal esensial, bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman Kristen. Penderitaan adalah  salah satu dari  prasyarat-prasyarat dasar pemuridan. Penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan, tidak hanya bagi Tuhan kita, tetapi bagi  kita. Penderitaan baru kemuliaan, sejauh yang dikemukakan Kitab suci. Soal penderitaan tidak akan pernah dapat dijelaskan pada tatar manusia sepenuhnya. Hal ini hanya dapat dipahami dari perspektif Tuhan. Dan  demikianlah bagi ketiga murid tersebut di gunung Transfigurasi. Dan begitu juga  harusnya dengan kita.



Selesai


The Transfiguration (Luke 9:18-36)| diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora  

P O P U L A R - "Last 7 days"