0 Pengudusan – Mustahil Dilakukan Secara Manusia! (Roma 7) – Bagian 1/2





Photo Credit: FreeFotoUK
Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M


Pengantar

Dua ekstrem harus selalu dihindari dalam kehidupan Kristen. Pertama apa yang kerap disebut sebagai “antinomianisme” atau “libertinisme.” Pada dasarnya, kesalahan ini berpusat pada konsep bahwa hukum terbaik adalah tanpa hukum sama sekali.


Kekristenan yang Orthodoks selalu dituding  sebagai penganjur  kesesatan ini, karena keyakinan mereka bahwa manusia diselamatkan sepenuhnya tanpa upaya-upaya manusia dan sepenuhnya diatas dasar iman. Fakta buruknya  adalah: beberapa orang Kristen secara nyata-nyata telah menganjurkan ‘antinomianisme.’  Mereka meyakini bahwa karena kita tidak lagi berada dibawah hukum, tetapi dibawah anugerah (bandingkan dengan Roma 6:15 ‘Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!’), kita menjalani kehidupan  Kristen kita ‘sebagai  Roh yang memimpin kita,’ dan  hal memimpin itu terlepas sama sekali dari Alkitab  secara absolut. Tanpa pengecualian, cara ini telah menuntun pada kehidupan yang ceroboh dan penuh dengan perbuatan dosa.



Pada  ujung lainnya yang berlawanan dari spektrum kesalahan ini adalah legalisme. Legalisme berupaya untuk menghasilkan hidup yang saleh melalui penerapan serangkaian regulasi-regulasi dan larangan-larangan tertentu. Legalisme menyatakan bahwa untuk mendapatkan perkenanan  Tuhan adalah  dengan menjalankan peraturan-peraturan. Sering sekali  peraturan-peraturan ini jauh lebih ketat daripada peraturan-peraturan dari Hukum Musa Perjanjian Lama. Pada pokoknya, legalisme berupaya menghasilkan pengudusan melalui upaya-upaya manusia.




Legalisme dapat tampil menjadi sebuah keharusan. Menempatkan dirimu dalam sebuah tempat dimana orang  Yahudi saleh berada , dibesarkan  untuk  menghormati dan melaksanakan Hukum. Ketika seorang Yahudi  telah diselamatkan, adalah hal yang alami baginya untuk meneruskan pelaksanaan banyak hal terkait Judaisme. Tetapi ketika Tuhan mulai menyelamatkan orang-orang non Yahudi dan menambahkan mereka kedalam jemaat Yahudi hingga pada titik jumlah mereka melampaui jumlah orang-orang Yahudi, bayangkan  pertemuan-pertemuan yang harus digelar oleh para pemimpin  jemaat Yahudi ini. Dapatkah mereka mempercayai bahwa Tuhan secara radikal akan mentransformasi orang-orang kafir ini hingga ke titik dimana mereka tidak membahayakan semua hal dimana gereja berdiri diatasnya?

Berangkali anda dan saya dapat dengan lebih  baik mengenali hal ini jika kita memvisualisasikan sebagai jemaat lama dari sebuah gereja Alkitab  yang sangat konservatif dan sangat orthodox. Tiba-tiba  Tuhan mulai bekerja secara dramatis dalam komunitas kita dan menyelamatkan lusinan orang-orang Hippi yang jorok, berantakan dan  rambut gondrong tak terurus—dan yang  paling buruk dari semuanya, mereka memutuskan untuk bergabung dengan gereja kita. Pada Minggu pertama mereka datang dengan kekuatan penuh, dengan kaki telanjang dan dengan pakaian yang sobek-sobek. Tidakkah kita akan secara serius menimbang untuk menegakkan sejumlah aturan bagi mereka yang menjadi anggota gereja kita?  Tentu saja, kita akan melakukanya. Kita akan   menerapkan sejumlah kode etik mendasar dengan dalih untuk melindungi kesaksian gereja kita,dan, tentu saja, reputasi Tuhan kita. Dan, dalam melakukan hal ini, kita dapat menjadi legalis, persis sebagaimana orang-orang Kristen Yahudi pada abad pertama.

Tetapi Legalisme adalah hal yang salah baik secara teologi dan praktek. Legalisme tidak hanya melanggar prinsip anugerah, tetapi juga tidak memiliki dampak. John Warwick Montgomery melaporkan: “…ironisnya, oleh karena itu, pemisahan (kita dapat mengatakan legalisme disini) biasanya menghasilkan secara telak hal-hal jahat yang dicoba untuk dilawan! Gereja fundamental  di kota  saya  tumbuh besar, secara efektif menjaga anak-anak mudanya dari segala bentuk entertain, sukses menghasilkan angka kelahiran di luar pernikahan tertinggi dari gereja manapun dalam masyarakat setempat!”[ John Warwick Montgomery, Principalities and Powers (Minneapolis: Bethany Fellowship, 1973), hal. 170.]

Perihal  legalisme inilah yang Paulus  bentangkan untuk tidak lagi bekerja dalam Roma 7. Kita semua telah melihat semua manusia, baik orang-orang Yahudi (Roma 2) dan orang-orang bukan Yahudi (Roma1) telah dihukum kepada murka  Allah yang  kekal, karena mereka telah menolak penyataan yang tersedia bagi mereka. Apa yang tidak dapat dilakukan manusia dengan upaya-upayanya, Tuhan telah melakukannya dalam  kematiannya yang bersifat substitusi dan kebangkitan Yesus Kristus (Roma 3). Pembenaran tidak oleh perbuatan-perbuatan kita, tetapi diatas dasar iman, sebagaimana  kasus Abraham yang telah digambarkan (Roma 4). Menggambarkan buah dan akar pembenaran-justifikasi (Roma 5), Paulus beranjak ke demonstrasi kebenaran Tuhan dalam kehidupan Kristen (Roma 6-8). Pada bab 6, Paulus menegakkan keharusan pengudusan. Secara teologia, inilah satu-satunya praktek yang konsisten dengan posisi kita didalam Kristus, telah mati terhadap dosa dan telah dibangkitkan  kepada hidup yang baru dalam  Yesus Kristus (Roma 6:1-14). Praktisnya, inilah (legalisme)  satu-satunya alternatif  lain untuk terbelenggu kepada dosa, karena apakah dosa atau apakah Kristus yang akan menjadi Tuan kita? (Roma 6:15-23).

Pada Roma 7, Paulus menjelaskan Hukum dan hubungannya terhadap pengudusan. Pada ayat 1-6, Paulus menggambarkan bawa kita merdeka dari Hukum. Pada ayat 7-12, Paulus akan  memaparkan pembelaan,  dalam kaitan bahwa Hukum itu sendiri adalah kudus, adil dan baik. Pada ayat 13-25, Paulus akan menjelaskan mengapa Hukum mustahil bagi orang Kristen untuk menjadi dikuduskan oleh Hukum tersebut. Disini kita akan menemukan mengapa legalisme tidak akan  pernah menguduskan siapapun.

Merdeka dari Hukum
Roma 7:1-6
Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.


ALKITAB   versi NET
Or do you not know, brothers and sisters (for I am speaking to those who know the law), that the law is lord over a person as long as he lives? For a married woman is bound by law to her husband as long as he lives, but if her husband dies, she is released from the law of the marriage. So then, if she is joined to another man while her husband is alive, she will be called an adulteress. But if her husband dies, she is free from that law, and if she is joined to another man, she is not an adulteress. So, my brothers and sisters, you also died to the law through the body of Christ, so that you could be joined to another, to the one who was raised from the dead, to bear fruit to God. For when we were in the flesh, the sinful desires, aroused by the law, were active in the members of our body to bear fruit for death. But now we have been released from the law, because we have died to what controlled us, so that we may serve in the new life of the Spirit and not under the old written code.

Kata pertama pada ayat 1 (dalam Alkitab  versi NET) “or-atau” mengindikasikan kepada kita betapa eratnya kaitan ayat-ayat ini dengan apa yang telah Paulus ajarkan dalam Roma 6. Kematian kita didalam Kristus telah menetapkan kita sebagai mati terhadap dosa, Paulus telah mengajarkan pada Roma 6 (ayat 1-12). Sekarang Paulus menggambarkan bagaimana kematian kita didalam Kristus memerdekakan kita dari Hukum. Pada ayat 1, kita menemukan prinsipnya; pada ayat 2 dan 3, kita mendapatkan gambaran prinsip ini dalam dunia pernikahan; dan pada ayat 4-6,kita diberikan aplikasi pengudusan kita.


Hal Prinsip (ayat 1). Prinsipnya adalah ini: Hukum memiliki otoritas dan yuridiksi hanya atas mereka yang masih hidup. Implikasinya, kemudian, bagi kita yang telah diperhitungkan telah mati didalam Kristus tidak lagi berada dibawah otoritas Hukum.



Gambarannya (ayat 2-3). Pernikahan adalah sebuah lembaga yang diatur oleh Hukum. Hukum mendeklarasikan bahwa seorang wanita menjadi pezinah yang menikahi pria lain sementara suami pertamanya masih hidup. Tetapi jika suaminya mati, Hukum yang mengikatnya pada pernikahan yang pertama tidak lagi memiliki otoritas atasnya, dan karenanya dia bebas untuk menikahi pria yang dia pilih. Kematian membebaskan wanita yang telah menikah dari Hukum yang terkait dengan pernikahan itu.



Aplikasinya (ayat 4-6). Tidak ada ilustrasi tanpa kekurangan-kekurangan, dan ilustrasi ini  juga bukan pengecualian. Analogi wanita yang telah menikah tidak secara tepat berhubungan dengan kematian orang Kristen terhadap Hukum, karena orang Kristen telah mati, tetapi dalam kasus wanita yang telah menikah, yang telah mati adalah suaminya. Namun demikian, tujuannya jelas. Kita telah mati didalam Kristus  terhadap dosa dan terhadap tuntutan-tuntutan mustahil dari Hukum yang telah menghukum kita kepada kematian. Kematian dan kebangkitan kita dalam Kristus telah membebaskan kita dari  yuridiksi dan otoritas Hukum itu, dan kita kini bebas untuk memilih tuan yang lain, Tuhan Yesus Kristus, yang telah bangkit dari kematian[Implikasinya karena Kristus dibangkitkan dari kematian, tidak lagi menjadi mati,maka persatuan antara Kristus dan orang Kristen adalah kekal, hal yang berlawanan dengan seorang pria dan wanita didalam pernikahan], untuk menghasilkan buah bagi Tuhan. Betapa bodohnya untuk kembali kepada perbudakan Hukum dan dosa!Betapa ini adalah sebuah pemikiran yang sangat membahagiakan menjadi terikat kepada Tuhan!


Dan dengan demikian kita kini melihat implikasi-implikasi dari kematian, penguburan dan kebangkitan kita didalam Kristus. Kita telah dilepaskan dari Hukum sebagai sebuah pengawas yang kejam. Kita bebas untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan.

Sebuah Pembelaan atas Hukum


Roma 7:7-12
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.


Alkitab versi NET

What shall we say then? Is the law sin? Absolutely not! Certainly, I would not have known sin except through the law. For indeed I would not have known what it means to desire something belonging to someone else if the law had not said, “Do not covet.” But sin, seizing the opportunity through the commandment, produced in me all kinds of wrong desires. For apart from the law, sin is dead. And I was once alive apart from the law, but with the coming of the commandment sin became alive 10 and I died. So I found that the very commandment that was intended to bring life brought death! 11 For sin, seizing the opportunity through the commandment, deceived me and through it I died. 12 So then, the law is holy, and the commandment is holy, righteous, and good.

Tetapi tidakkah Paulus terlampau jauh dalam hal ini? Tidakkah Paulus telah menyiratkan bahwa Hukum adalah sesuatu yang tidak baik (jahat), tetapi sesuatu yang jahat? Bukankah ini  persis apa yang ditudingkan oleh para penentang-orang-orang Yahudi terhadap apa yang sedang dilakukan  Paulus (Kisah Para Rasul 21:28 ‘"Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!")? Mengantisipasi tudingan ini, Paulus mengajukan pertanyaan ini terhadap penentangnya pada ayat 7” Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak!”  Tanggapan Paulus ini adalah salah satu yang sungguh menakjubkan :” Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Roma 7:7b).

Berpikir bahwa Hukum itu adalah hal berdosa, sama seperti menyatakan bahwa x-Ray itu adalah hal jahat, hanya karena Hukum itu  memiliki semacam hubungan dengan kanker. Sebuah x Ray adalah baik dan bermanfaat karena pada dasarnya akan menyingkapkan apa yang fatal terhadap manusia  jika tidak ditangani. Demikian juga, Hukum mengekspos dosa dalam diri manusia,yang harus ditangani melalui darah Yesus Kristus.



Dalam ayat-ayat ini, Paulus telah memberikan sebuah gambaran spesifik dari pengalaman dirinya sendiri.Jika Hukum tidak melarang  untuk mengingini milik orang lain, maka Paulus tidak akan mengenali dosa mengingini milik orang lain didalam hatinya. Dosa mendapatkan pegangan dalam kehidupan Paulus melalui perintah ini, “Jangan mengingini…sesamamu” (Keluaran 20:17). Dosa mengambil kesempatan melalui jalan masuk yang disediakan oleh Hukum itu.[ Kata ‘kesempatan’ pada ayat 8 digunakan dalam bahasa Yunani kuno dalam sebuah pengertian bersifat militer pada sebuah “operasi-operasi pangkalan militer” dan dalam makna literal, ‘mengisyaratkan.’ Hukum memberikan dosa peluang yan telah dinanti-nantikan. Bandingkan dengan  William Sanday and Arthur Headlam, The Epistle to the Romans (Edinburgh: T & T Clark, 1902), hal. 179.]


Paulus sedang menggambarkan pengalamannya sendiri bagaimana dosa mengambil keuntungan atas jalan masuk yang disediakan Hukum itu. Ada beberapa  cara untuk memahami apa yang sedang digambarkan oleh Paulus, tetapi penjelasan yang paling alami  nampaknya adalah bahwa Paulus sedang mengaitkan pengalamannya sebagai seorang pemuda Yahudi kala dia menjadi seorang ’putera dari Perintah-Perintah itu’ pada usia 13 tahun hingga saat ini, Paulus  tidak menyadari dosanya sendiri, tetapi sekali dia telah menyadari tuntutan Hukum itu,”Jangan Mengingini,” semua jenis hasrat jahat mencuat dari dalam dirinya.



Terlepas dari Hukum,”dosa telah mati” (ayat 8), tidak dalam makna bahwa dosa tidak dapat ada, tetapi bahwa dosa sudah  tidak bekerja, sampai dimunculkan oleh Hukum. Saya pernah diberikan beberapa benih kacang manis yang aslinya berasal dari benih-benih kacang manis yang ditemukan di makan Raja Tut. Kini  benih-benih itu yang pada dasarnya berasal dari makam  yang telah  terbengkalai selama ribuan tahun, namun ketika  benih itu ditanam di lingkungan tanah dan air yang tepat, mereka tumbuh hidup. Demikian juga dengan dosa. Dosa telah ada didalam hati Paulus, tetapi  itu terjadi ketika dia menyadari Hukum itu dan tuntutan-tuntutan kebenarannya bahwa dosa ini menjadi berbuah penuh. Hukum itu menyingkapkan dosa.

Dalam ayat 7-12, kita mendapatkan  tiga macam hubungan antara dosa dan Hukum. (1)Hukum mendefinisikan dosa; (2)Hukum itu menghukum dosa;dan (3) Hukum memprovokasi dosa.



Ketika seseorang (Dan Tarbox dalam hal ini) menderita sakit berat dalam waktu yang lama, kita semua tahu ada yang salah, tetapi tidak seorangpun tahu apakah itu. Apa yang diperlukan adalah sesuatu yang dapat memunculkan gejala-gejala atau beberapa indikasi yang pasti akan sumber penyakitnya. Sesuatu itu adalah x Ray yang pada akhirnya akan mengungkapkan sesuatu yang sedang tumbuh disekitar paru-parunya. Kini perawatan telah dilakukan. Kanker dosa tidak akan pernah terungkap tanpa Hukum, dan demikianlah Hukum disingkapkan : kudus dan benar dan baik (ayat 12)



Selanjutnya : Pelaku Kejahatan Sesungguhnya disingkapkan (Roma 7:7-12)



Sanctification-Humanly Impossible! (Roma 7) | diterjemahkan dan diedit oleh :Martin Simamora




P O P U L A R - "Last 7 days"