0 Nilai Agung dalam Kebangkitan Yesus Kristus – Bagian 2

Michelangelo's Last Judgement-
Ressurection of the dead

Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M


Bacalah terlebih dahulu bagian 1 di sini



Kebangkitan Yesus Kristus Sebuah Keharusan



Kebangkitan Yesus Kristus signifikan karena  merupakan hal yang harus terjadi. Ada beberapa alasan mengapa kebangkitan  perlu terjadi, dan kita akan mempertimbangkan beberapa diantaranya dibawah ini:



(1)Kebangkitan Kristus diperlukan untuk membuktikan  Klaim Yesus Kristus   . Yesus Kristus secara nyata telah mengklaim sebagai Anak Allah, yang merupakan dasar mengapa  para pemimpin-pemimpin agama  berkonspirasi untuk membunuhnya (bandingkan dengan Yohanes 19:7). Kebangkitan merupakan bukti bahwa  Yesus Kristus yang  telah mengklaim menjadi : Anak Allah :



dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita (Roma 1:4)




(2) Kebangkitan Kristus diperlukan untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus telah menyelesaikan apa yang telah Dia janjikan. Kematian Yesus saja  tidak akan memadai, karena kematian oleh identifikasi diri kita dengan Dia dalam kematian, penguburan, dan kebangkitanlah sehingga kita  diselamatkan.


Roma 5:9-10
Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!



Pada  1 Korintus bab 15,  merupakan bab  yang berisikan kebangkitan agung dalam Perjanjian Baru, Paulus menyatakan bahwa tanpa kebangkitan Kristus, kita tidak akan memiliki pengharapan :



1 Korintus 15:13-14; 16-17:
Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.



Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.

Pada pesan yang disampaikan Petrus saat Pentakosta, Petrus  telah mengajarkan bahwa kebangkitan Kristus oleh Bapa (melalui Roh Kudus) merupakan  peninggian Tuhan terhadap ;Anak-Nya, pesan yang dibawa-Nya, dan karya-Nya :



KIsah Para   Rasul 2: 23-24, 32-33,36

Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.  Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.



Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:  Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."


(3) Kebangkitan merupakan sebuah hal yang diperlukan  agar dapat menggenapi nubuatan  biblikal.  Pada Kisah Para Rasul bab 2 Petrus  menyatakan bahwa kebangkitan merupakan keharusan secara biblikal, mengutip  kata-kata Daud dalam Mazmur 16:10:




sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan” (Kisah Para Rasul 2:27; bandingkan dengan 13:33).




Petrus menyatakan dari Mazmur 16 bahwa Daud tidak merujukan hal itu untuk dirinya sendiri, tetapi sebaliknya Mazmur 16 merujuk kepada Anaknya, Messias, yang akan Tuhan bangkitkan dari kematian. Ayat-ayat   Perjanjian Lama dipahami oleh para rasul untuk memprediksikan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus dengan demikian sebuah keharusan yang biblikal.

(4) Kebangkitan Kristus  juga merupakan keharusan yang bersifat logika. Dalam pesannya pada Kisah Para Rasul bab kedua, Petrus juga menyatakan bahwa kebangkitan Kristus, Messias, juga merupakan  sebuah   keharusan biblikal yang logis.



Kisah Para Rasul 2:24
Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”



Petrus   mengemukakan bahwa tidak mungkin bagi Tuhan  untuk tetap tinggal didalam kubur dan membusuk, sebagaimana lazimnya dialami manusia. Karena pada dasarnya adalah Tuhan, Kristus tidak dapat  terus ada didalam kubur itu, mati.


(5)Kebangkitan Kristus adalah  vital karena  merupakan sebuah elemen yang diperlukan pada iman  yang menyelamatkan. Baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, iman yang menyelamatkan merupakan iman didalam Tuhan yang dapat dan akan membangkitkan manusia dari kematian. Sebuah studi yang cermat dari bab 11 pada Ibrani akan memperlihatkan bahwa iman orang-orang kudus Perjanjian Lama merupakan iman kebangkitan [Saya sangat mendorong pembaca untuk mempelajari bab ini pada kitab Ibrani   dan mencatat betapa pentingnya istilah (atau konsep dari) kematian . Penulis berupaya  untuk menunjukan dimensi-dimensi iman di masa depan, dan masa depan yang diharapkan oleh orang-orang kudus Perjanjian Lama  yang akan menjadi kehidupan mereka setelah kematian]



Perkenankan saya  untuk menggunakan seorang  tokoh di Perjanjian Lama untuk mendemonstrasikan kebangkitan dalam  dimensi iman, iman Abraham. Ketiadaan iman jenis ini  pada awalnya, terlihat dari keinginan  Abraham untuk mengorbankan kesucian isterinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ketika Abraham dan Sarai mendekati Mesir, dia berkata kepada isterinya :



Kejadian 12:11-13
Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.

Kejadian semacam ini jauh dari sebuah iman  yang percaya pada kebangkitan yang  menjadi bagian  dari diri Abraham. Dia begitu dibelit ketakutan sehingga dia bersedia untuk mengorbankan kesucian isterinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.



Selagi Tuhan terus  bekerja dalam kehidupan Abraham, sebuah iman  yang  percaya akan kebangkitan berbuah. Ketika Tuhan menjanjikan Abram dan Sarai seorang anak di usianya yang lanjut, Abraham percaya pada Tuhan  karena dia telah memiliki sebuah iman yang menyelamatkan dan kebangkitan. Paulus menulis tentang iman Abraham dalam suratnya kepada jemaat di Roma :



Roma 4:19-20
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.  Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah
[Perhatikan bahwa pada ayat 23-25 dari bab yang sama ini Paulus menyamakan insiden ini dengan Abraham dan  iman kebangkitannya dengan iman orang kudus Perjanjian Baru :

“Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita
.]

Kebangkitan Abraham dilakukan dengan menempatkannya dalam tes yang teramat krusial, sekali lagi terkait puteranya. Penulis kitab Ibrani mengatakan kepada kita :



Ibrani 11:17-19
Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Jadi kita dapat melihat bahwa iman  orang-orang kudus Perjanjian Lama adalah sebuah iman kebangkitan. Sehingga demikian juga dengan orang percaya Perjanjian Baru  harus merupakan iman akan kebangkitan. Yesus berkata :



Yohanes 11:25-26
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"


Rasul Paulus menuliskan ini:
… jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Roma 10:9)




Iman pribadi pada kebangkitan Kristus oleh karena itu perlu karena iman ini sebuah elemen vital dalam sebuah iman yang membawa kepada keselamatan.


The Significance of the Resurrection | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora




P O P U L A R - "Last 7 days"