0 HukumTaurat Vs Dosa -Bagian 1

Sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu membaca  "Pengudusan - Mustahil Dilakukan Secara Manusia!" di sini

Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M


Pengantar

Orang akan merasakan emosi-emosi yang campur aduk  terhadap Hukum Taurat (terkadang dituliskan hanya “Hukum”) ketika perihal ini dijumpai dalam  Buku Roma. Karena didalam Roma kita mendapatkan sekaligus “kabar baik” dan “kabar buruk” terkait Hukum tersebut, Pertimbangkanlah dua perspektif yang berbeda dari Hukum ini   yang diperlihatkan oleh Paulus didalam Roma :


Kabar Baik
(1)Hukum berisikan “perintah-perintah dari Tuhan”(3:2)
(2)Hukum mendefinisikan dosa dan kebenaran (7:7) dan  membawa kesaksian  akan kebenaran Tuhan dalam Kristus ( 3:21-22)
(3)Hukum diberikan untuk memberikan   hidup (7:10; lihat Imamat 18:5)
(4) Hukum itu rohani (7:14); Hukum itu kudus dan benar dan baik ( 7:12)


Kabar Buruk
(1)Mengenal Hukum itu tanpa mematuhi perintah-perintahnya hanya membuat seseorang lebih bersalah ( Roma 1:32-2:29)
(2)Hukum itu tidak dapat menyelamatkan manusia  tetapi hanya dapat menghukum manusia (Roma 3:9-20)
(3)Hukum mendatangkan murka Tuhan (4:15)
(4)Hukum datang sehingga dosa  akan bertambah ( Roma 5:20)
(5)Syarat-syarat Hukum dipenuhi oleh mereka yang berjalan didalam  Roh ( Roma 8:4)
(6)Hasrat-hasrat penuh dosa dibangkitkan oleh Hukum itu ( Roma 7:5,8)
(7)Dosa menggunakan  Hukum itu  untuk membunuh kita (Roma 7:11)



Tidak mengherankan bahwa orang-orang berdosa tidak memiliki cinta terhadap Hukum, khususnya Hukum Tuhan. Semua manusia dilahirkan   sebagai orang-orang berdosa, telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa mereka. Mereka membenci Tuhan dan Hukum-Nya (Lihat Efesus 2:1-3). Manusia biasa tidak dapat memahami Hukum ( Lihat 1 Korintus 2) dan  secara aktif berupaya untuk menentang dan menyingkirkannya ( Roma 8:7-8). Namun demikina  orang-orang  tidak percaya menghina Hukum Tuhan bukanlah hal yang mengherankan. Apa yang menyedihkan adalah jumlah orang-orang Kristen yang  menghina Hukum Tuhan. Hukum Tuhan dipandang  oleh sejumlah orang-orang Kristen sebagai sesuatu yang jahat, sesuatu yang  patut kita singkirkan.  Pemikiran semacam ini yang paling sopan terkait Hukum Tuhan adalah Hukum itu  kuno, sudah digantikan oleh anugerah.

Pada sisi  lainnya, banyak dosa dipandang sebagai sesuatu yang baik dan diinginkan. Ini memang benar bagi mereka yang tidak percaya.  Tetapi kembali disini bahkan orang-orang Kristen dapat tergoda untuk memandang dosa sebagai sesuatu  yang baik dan diinginkan, seperti halnya Hawa yang telah  melihat pohon kematian sebagai yang didambakan, tak hanya memandanginya tetapi juga untuk memakannya sehingga dia dapat menjadi seperti Tuhan, mengenal yang baik dan yang jahat. Hukum Tuhan secara konsisten menerima pandangan-pandangan buruk dari dunia, sementara dosa digembar-gemborkan dengan pandangan-pandangan  atau ulasan-ulasan yang  hebat. Hukum Tuhan dipandang dengan hina, atau dengan  toleransi, sementara dosa dianggap menjadi yang diinginkan dan menarik. Jika kita harus melepaskan Hukum itu,jangan pernah kita coba-coba untuk  melakukannya.

Sementara teks kita dalam Roma 7  bukan satu-satunya nas yang dapat kita gunakan untuk memperlihatkan  dosa yang mengerikan dan keindahan Hukum Tuhan, nas ini merupakan salah satu yang  berisikan pernyataan-pernyataan yang paling memikat hati terkait kenyataan ini. Kata-kata Paulus dalam Roma 7:7-13 dimaksudkan untuk meyakinkan pembacanya bahwa Hukum itu merupakan  karunia yang menakjubkan dari Tuhan dimana orang percaya dapat dan semestinya bersukacita, dan bahwa dosa adalah sebuah  kejahatan yang mengerikan dimana dunia akan lebih baik tanpa dosa. Kala kita mempelajari kata-kata Paulus, perhatikan secara khusus pada kata-kata  yang memperlihatkan keindahan Hukum dan kata yang  memperlihatkan keburukan dosa.


Latar Belakang


Paulus telah memfokuskan pada topik pembenaran pada bab pertama  dari  Roma. Sekarang pada Roma 5-8 perhatian kita beralih kepada alur pembenaran menuju pengudusan.  Roma 5 adalah hal yang mendasar. Pada 11 ayat pertama Paulus mendeskripsikan manfaat-manfaat pembenaran. Pada ayat 12-21 dia menguraikan dasar-dasar hidup benar. Kebenaran dari Kristus yang menyingkirkan dan menaklukan dosa Adam dan konsekuensi-konsekuensinya bagi semua yang percaya kepada Kristus  dengan iman. Pada Roma 6 Paulus memperlihatkan  perlunya kita untuk  menjalani kebenaran  Kristus dan kebodohan untu terus menerus dalam perbudakan dosa. Pada Roma 7:1-6 Paulus beranjak ke dimensi lainnya  pada karya Yesus Kristus untuk kepentingan kita—Kematiannya tidak hanya untuk dosa tetapi untuk Hukum. Kita telah mati bagi Hukum, didalam Kristus, dan kita telah dibebaskan dari  kepenguasaan dosa atas diri kita ( lihat Roma 6:14).

Kata-kata Paulus mengindikasikan sebuah koneksi yang sangat erat antara dosa dan Hukum. Karena hal inilah, orang dapat menjadi secara keliru menyimpulkan bahwa Hukum itu sendiri adalah jahat dan benar bahwa Hukum adalah masalah utama kita. Sebuah konklusi semacam ini akan disambut terutama oleh mereka penganut Libertian, yang dengan senang menyingkirkan Hukum itu semuanya. Jika Hukum itu adalah dosa, maka kita kita lebih baik untuk  menolaknya semuanya.

Hubungan antara Hukum dan dosa  dekat, tetapi untuk menyimpulkan bahwa Hukum adalah dosa akan menjadi sebuah kesalahan yang mengerikan. Pada ayat 7-13 Paulus berupaya memperlihatkan bahwa sementara Hukum dan dosa berkaitan, keduanya sangat berbeda. Hukum itu benar; dosa adalah   hal jahat menyeramkan. Natur  jahat pada dosa adalah bukti  didalam dosa bahwa dosa  berupaya menggunakan Hukum, yang adalah baik, untuk mencapai tujuan-tujuan jahatnya.

Jika Roma 7:7-13 mengklarifikasi hubungan antara dosa dan Hukum itu, ayat-ayat 14-25 mengeksplorasi hubungan antara Hukum dan  keinginan daging. Disini Paulus  mengontraskan natur rohani  Hukum dengan natur  keinginan daging  manusia. Hal ini akan diangkat pada studi kita selanjutnya.


Struktur Teks

Struktur teks kita berkisar disekitar dua pertanyaan yang Paulus tanyakan dan jawab pada Roma 7:7-13. “Apakah Hukum adalah dosa?” pertanyaan pertama, ditemukan pada Roma 7:7. Pertanyaan kedua dicatat dalam  Roma 7:13: ”Apakah Hukum bertanggungjawab atas kematianku?” Kedua pertanyaan, jika dijawab dalam kalimat afirmasi, akan  menyiratkan  bahwa Hukum adalah sebuah kesalahan, sesuatu  yang mana manusia lebih baik tanpanya. Paul us secara tegas menolak kedua proposisi atau dalil dan memperlihatkan kebaikan Hukum dan  kejahatan dosa.



Pertanyaan Satu : Apakah Hukum  adalah Dosa?


Roma 7:7-12
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.


Sudahkah kita menanyai Paulus  dengan pertanyaan ,”Apakah Hukum adalah dosa?” Tanggapan tegas dan segera akan mengakibatkan kekecewaan seketikan dengan menanyakan hal semacam ini. Tidak seorangpun semesntinya pernah menyimpulkan bahwa Hukum adalah dosa! Hukum Taurat memang memiliki hubungan yang dekat dengan dosa dan kematian. Kenapa lagi kematian terhadap Hukum ( Roma 7:1-6) menjadi sarana yang melaluinya kita dibebaskan dari perbudakan dosa ( Roma 6:14) dan  hukuman kematian (Lihat Roma 7:10)? Paulus akan mendemonstrasikan kebaikan Hukum dengan menununjukan  maksudnya yang  penuh kebaikan (Roma 7:7-13) dan natur rohaninya ( Roma 7:14-25).



Pendekatan Paulus dalam teks kita ini adalah untuk mengontraskan Hukum dan dosa. Dia pertama-tama akan memperlihatkan maksud baik dan tujuan Hukum,  sebagaimana  telah diberikan Tuhan, dan kemudian mengontraskan  penggunaan jahat dimana Hukum telah  ditempatkan sedemikian oleh dosa. Hukum dimaksudkan untuk mendefiniskan dosa dan jadinya untuk membuat dosa menjadi nyata ( Roma 7:7-8). Dosa memperalat Hukum, menggunakannya untuk melipatgandakan dosa (Roma 7:8). Hukum dimaksudkan untuk memelihara dan mempromosikan hidup, tetapi dosa menggunakannya untuk membunuh kita (Roma 7:8). Hukum diberikan kepada manusia untuk menyingkapkan kebenaran kepada manusia; dosa telah menggunakan Hukum untuk memperdaya kita ( Roma 7:11).

Apakah Hukum adalah sesuatu yang jahat, sesuatu yang yang sebaiknya kita enyahkan? Hampir dapat dipastikan tidak! Benar, Hukum merupakan sarana yang melaluinya dosa diidentifikasi sehingga kita diperhitungkan dengan dosa. Paulus menegaskan bahwa dia tidak  akan memiliki pengetahuan spesifik akan dosa-dosa tanpa keberadaanya diidentifikasi  oleh Hukum. Hukum menandai   ladang ranjau rohani yang akan kita hadapi dalam kehidupan sehingga kita dapat menghindarinya. Hukum tidak mengidentifikasikan hal yang baik sebagai dosa sehingga kita menjauhkan diri untuk menikmati hal yang baik, tetapi mengindentifikasi hal yang jahat sehingga kita dapat terhindar dari konsekuensi-konsekuensi penderitaan dosa. Tiang-tiang rambu  peringatan Hukum disekeliling air beracun sehingga kita tidak meminumnya.

Kata-kata Paulus dalam ayat 8-10 mengontraskan hubungan Hukum  terhadap dosa dan hubungan Hukum terhadap Paulus. Sebelum Hukum itu dating, dosa telah mati. Setelah Hukum itu datang, dosa menjadi hidup. Sebelum Hukum itu dating, Paulus hidup. Tetapi setelah Hukum itu dating, Paulus mati. Kontras ini dapat digambarkan  dengan sangat baik sebagai berikut :



Dosa Mati

Paulus Hidup

Datangnya  Hukum

Dosa Hidup

Paulus mati
 
Paulus memilih sebuah dosa spesifik, dan sebuah  perintah spesifik, untuk menggambarkan maksudnya bahwa Hukum mengindentifikasi dosa. Perintah itu adalah :”Jangan mengingini milik orang lain” (Roma 7:7, lihat Keluaran 20:17; Ulangan 5:21)



Disini Paulus menyarikan  perintah yang disampaikan dalam detail yang lengkap dalam Hukum Taurat . Baik dalam Keluaran dan Ulangan dimana perintah ini dicatat, Tuhan sedang memberikan contoh-contoh perbuatan menginginkan milik orang lain yang dilarang: menginginkan rumah milik orang lain, isterinya,pembantunya, dan seterusnya.[Ada sedikit  variasi  antara perintah yang dinyatakan dalam Keluaran 20:17 dan yang dinyatakan dalam Ulangan 5:21. Saya berpendapat ini untuk menekankan area-area spesifik terkait mengingini milik orang lain yang semata bersifat gambaran]

Perintah ini memberikan kepada kita  sebuah definisi  mengingini milik orang lain: mengingini milik orang lain adalah berhasrat untuk memiliki sesuatu  yang menjadi milik kepunyaan orang lain, yang tidak dapat  menjadi milik kita  secara sah. Perintah untuk tidak mengingini milik orang lain sebagai dosa,  hasrat untuk memiliki secara salah atas sesuatu  milik kepunyaan orang  lain dan menginstruksikan mereka yang mau mematuhi Tuhan untuk tidak menanggapi hasrat-hasrat jahat semacam ini.



Sedemikian baiknya perintah ini, dosa memelintir dan menyimpangkan perintah ini, menggunakan perintah ini dalam sebuah cara untuk menghasilkan semua macam terkait mengingini milik orang lain. Perintah yang sama sekali menyatakan untuk tidak mengingini milik orang lain, yang diberikan untuk menyingkapkan dosa mengingini milik orang lain, dosa telah menggunakan untuk mereproduksi dirinya sendiri berkali-kali. Perintah yang diberikan untuk memanifestasikan dosa disalahgunakan oleh dosa untuk melipatgandakan dosa.

Dengan demikian tujuan Paulus disini menjadi dapat dinyatakan : Hukum itu baik. Dosa itu jahat, sebagaimana  hal itu terlihat dalam cara dosa menggunakan Hukum utuk menghasilkan dosa selanjutnya dan kematian. Hukum itu bukan dosa, karena Hukum menyingkapkan dosa. Seperti halnya x-ray bukan sebuah tumor semata karena x ray menyingkapkan sebuah tumor, Hukum bukan dosa karena hokum menyingkapkan dosa. Karena itu apa yang baik  juga tidak dapat menjadi jahat. Hukum  itu baik.

Mengapa Paulus memilih perintah yang melarang mengingini milik orang lain dibandingkan dengan beberapa perintah lainya? Apakah Paulus memilihnya secara acak perintah ini, atau adakah alasana khusus mengapa dia memilihnya? Saya yakin  Paulus dengan sengaja  memilih perintah  jangan mengingini milik orang lain  karena alasan-alasan yang penting. Pertimbangkan alasan-alasan ini mengapa jangan mengingini milik orang lain merupakan sebuah dosa yang serius dan signifikan.



(1)Mengingini milik orang lain adalah sebuah hal didalam hati. Ini  bukan sebuah soal yang dapat dinilai dari tampilan luar. Pembunuhan dan mencuri adalah tindakan dosa yang kasat mata dimana dapat segera dikenali  oleh siapapun yang melihat bukti  jasad seseorang atau barang-barang yang  hilang. Mengingini milik orang lain adalah sebuah dosa di hati dan pikiran. Kita dapat mengingini milik orang lain, dan tak seorangpun pernah mengetahuinya. Legalisme  cenderung untuk bercokol pada hal-hal eksternal, sementara Kemerdekaan Kristen sejati adalah sebuah soal di hati [Lihat Lukas 16:15]. Paulus oleh karena itu menghindari sebuah contoh yang bersifat kasat mata, sebaliknya dia memilih sebuah contoh yang tidak dapat diketahui dengan segera, sebuah dosa yang terjadi dalam hati dan pikiran.


(2)Mengingini milik orang lain adalah salah satu karakteristik dosa-dosa keinginan daging. Daging kita memiliki seleranya yang kerap  berkonflik dengan kehendak Tuhan yang disingkapkan [ Sebagai contoh, Setan telah  berupaya untuk memancing selera Tuhan kita, dalam keadaan kelaparan menggodanya untuk bertindak secara mandiri terlepas dari kehendak  Bapa untuk memuaskan seleranya. Respon Yesus adalah ada hal-hal yang  lebih penting daripada roti jasmaniah atau memuskan selera jasmani ini (lihat Matius 4:1-4).]. Selera-selera atau nafsu-nafsu, atau hasrat-hasrat kerap merupakan nafsu-nafsu daging yang terlarang ( Lihat Galatia 5:16,19; Efesus 2:3; 2 Petrus 2:10). Dosa kerap menguasai daging kita dengan membujuk nafsu-nafsu daging.


(3)Mengingini adalah  sebuah akar dosa yang kerap menyebabkan dosa-dosa lainya. Mengingini  pada dasarnya terlihat tidak melakukan hal yang membahayakan terhadap siapapun, tetapi  mengingini sangat kerap memberikan motivasi untuk mencuri bahkan membunuh. Menempakan tanda stop pada mengingini adalah “menghentikan dosa lainnya untuk muncul.”


(4)Mengingini adalah dosa yang paling baik untuk menggambarkan pernyataan Paulus yang berbunyi,Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" (ayat 7). Tidak semua dosa adalah criminal. Membunuh, sumpah palsu, dan perampokan adalah dosa-dosa, dan semuanya dianggap sebagai  criminal oleh masyarakat. Hampir semua masyarakat dimanapun di dunia ini, orang akan menemukan hokum yang menentang dosa-dosa ini. Hukum-hukum masyarakat  berfungsi untuk menyadarkan kita bahwa jika aktivitas-aktivitas ini adalah kriminal , maka semua itu adalah salah.


Mengingini adalah sebuah dosa yang hampir semua masyarakat tidak mengganggapnya sebagai sebuah kriminal. Saya tidak pernah  menemukan  ada pemerintah yang memiliki sebuah hukum yang melarang mengingini milik orang lain. Bagi dari penjelasan ini adalah kesulitan mengidentifikasi mengingini dan membuktikan bahwa mengingini  telah menjadi tindakan yang berbahaya, karena mengingini adalah sebuah dosa didalam hati dan pikiran. Alasan lain adalah: hamper semua orang tidak berpikir mengingini milik orang lain benar-benar hal salah. Dalam beberapa masyarakat, seperti masyarakat kita sendiri, ada banyak bentuk mengingini milik orang lain yang sesungguhnya dianjurkan ketimbang sebagai hal yang dikecam.



Semuanya ini mendemonstrasikan maksud Paulus. Kecuali Hukum Tuhan telah mengindentifikasikan mengingini milik orang lain sebagai  sebuah dosa, kita tidak  akan pernah mengenalinya sebagai sebuah dosa. Mengingini milik orang lain seperti sebuah tumor tersembunyi didalam tubuh. Karena mengingini milik orang lain bukan hal yang kasat mata, seperti membunuh, kita tidak mengenali natur dan keberadaannya  yang mematikan . Hukum itu seperti x Rau,menyingkapkannya, apakah itu dan memperingatkan kita bahwa kita harus mengatasinya.

(5)Mengingini milik orang lain digunakan Paulus tidak hanya sebagai sebuah ilustrasi atas prinsip yang sedang dia bentangkan dalam ayat 7 tetapi juga sebagai sebuah tautan pada ilustrasinya dari pengalaman pribadinya dalam ayat 9-11. Mengingini nampaknya diletakkan pada akar kejatuhan manusia di Taman Eden. Pada kisah kejatuhan manusia, setiap pohon di taman itu “menyenangkan dalam pandangan dan baik untuk dimakan” (Kejadian 2:9). Adam dan Hawa diberikan kepemilikan  yang pada dasarnya atas semuanya yang ada didalam taman itu dengan pengecualian pada satu pohon, pohon pengetahuan  dari yang baik dan  yang jahat, buah yang dilarang untuk dimakan oleh mereka (lihat Kejadian 2:16-17). Setan secara sukses mengarahkan perhatian dan hasrat  Hawa pada buah dari pohon itu. Akibatnya adalah bahwa dia menjadi terarah hanya pada buah dari pohon terlarang itu sebagai  menyenangkan dalam pandangan dan baik untuk dimakan,” dan, sebagai tambahan , “dapat membuatnya menjadi bijak” (Kejadian 3:6). Dosa pertamanya, oleh karena itu, jelas adalah nafsu dagingnya—berhasrat atas apa yang  bukan milik kepunyaanya, yang tidak dapat menjadi miliknya secara sah atau benar.

Inilah yang menjadi pemahamanku bahwa Paulus menggunakan dosa mengingini milik orang lain sebagai sebuah ilustrasi karena ini mempersiapkan pembacanya untuk ilustrasi yang dicatat dalam ayat 9-11. Perhatikanlah  kata-kata Paulus dalam ayat-ayat ini secara seksama:



Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku.


Selanjutnya: Pertanyaan  Dua : Apakah  Hukum Bertanggungjawab atas Kematianku ( 7:13)



The Loveliness of the Law and the Ugliness of Sin (Romans 7:7-13) | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"