0 Apa yang Anda Benci Tentang Yesus? – Bagian 2 Selesai



Bagian 1 : Kerap kali ketika saya bertatap muka dengan orang-orang non Kristen dalam sebuah dialog rohani, merupakan hal yang umum untuk mendengarkan   sebuah keluhan berantai tentang gereja, perilaku orang-orang Kristen munafik, dan seterusnya. Beberapa kritisme benar adanya sementara yang  lainnya tidak memiliki dasar kebenarannya....

Seorang skeptik  Bertrand Russel  menuliskan kalimat berikut ini yang ada didalam bukunya berjudul Why I am Not a Christian : “Ada sebuah ketimpangan serius bagi  pemikiran saya  terkait karakter moral Kristus dan itu adalah bahwa Dia percaya akan adanya neraka.  Saya  sendiri tidak merasakan  bahwa siapapun juga yang benar-benar berbelas kasihan  dapat percaya pada  penghukuman kekal…orang akan menemukan sebuah amarah pendendam secara berulang terhadap  orang-orang yang  tidak mendengarkan  khotbah Yesus…saya harus katakana  bahwa saya memikirkan semua doktrin ini, bahwa api neraka  sebuah penghukuman bagi dosa, adalah sebuah doktrin kejam.”



Ada sebuah tren yang mengemuka yaitu universialisme, sebuah ide yang mengajarkan semua orang akan menghabiskan kekekalan bersama dengan Tuhan  dan tidak seorangpun yang akan menderita. Akan tetapi sebuah pembacaan  pada injil-injil  tidak sedikitpun memberikan  keraguan bahwa  Yesus percaya pada  keberadaan neraka secara harfiah; Dia bahkan mengajarkan bahwa  beberapa orang akan menghabiskan kekekalannya di sana. Namun demikian beberapa orang Kristen menganut  pada pandangan universialis dan mencoba untuk  menyebarluaskan isu dengan merujuk pada bapa gereja perdana, Origen yang mengklaim bahwa Neraka  pada dasarnya sebuah “pengajaran” dan proses penyucian dari api purgatori. Contoh terbaru dan paling terlihat adalah buku berjudul Love Wins karya Rob Bell.

Akan tetapi tidak ad exegesis   atau penjelasan kitab suci, tak peduli sehebat apapun disimpangkan, dapat menaklukan pengajaran Yesus yang sangat jelas.  Ini dapat sama   eksplisitnya  seperti   kalimat penutup Yesus dalam khotbah di bukit dimana Dia berkata :” Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya"(Matius 7:13-14).

Atau, neraka adalah sesuatu  yang lebih  halus manakala Kristus  mengutip Mazmur :” Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu” (Lukas 20:42-43).

Yesus secara konsisten dan konstan  mereferensikan penghakiman dan Neraka, dan karena  hal ini  beberapa orang meninggalkan Dia.  Tetapi mereka seharusnya tak berlaku demikian; justru mereka semestinya bergegas merangkul-Nya karena Dia adalah keselamatan mereka ( 1 Tesalonika 5:9).

Mereka yang  mempertanyakan bagaimana  Tuhan yang kasih (Yesus) dapat mengirimkan siapa saja ke Neraka  akan mengabaikan dua hal kunci.  Pertama, mereka gagal  menyadari bahwa semua dosa  terlebih dahulu bersifat vertikal sebelum horisontal . Dosa semacam ini tindakan melawan Tuhan yang kekal, dan  karenanya, dosa semacam ini kekal dan menuntut penghukuman kekal.

Ini tidak seharusnya mengejutkan siapapun juga  sebab keadilan dan  tingkat penghukuman kerap dikaitkan kepada status atau pentingnya orang yang menjadikan target .  Sebagai sebuah contoh, tindakan  yang mengancam  kehidupan saya dan tidak ada tindakan legal yang nyata  terhadap anda.  Tetapi dalam hal mengancam kehidupan  presiden  maka  anda akan  dengan segera  ditahan dan  menghilang dari masyarakat untuk jangka waktu panjang.

Kedua, siapapun yang meragukan  kompas moral Yesus pada topik Neraka seharusnya mengerti  keterkaitan yang unik antara belas kasihan  dan keadilan Tuhan. Merupakan fakta bahwa didalam setiap agama atau iman di dunia ini—selain daripada Kristen—ketuhanan  dipertanyakan kala memberikan belas kasihan  dalam menegakan keadilannya.


Tetapi hal semacam ini  malah melawan kerangka-kerangka moral pada diri kita sebagaimana juga dengan sistem  legal. Kita tidak akan pernah berpikir seorang hakim yang benar membiarkan seorang pencuri atau  pembunuh pergi bebas  (tanpa pertanggungjawabab atas tindak kejahatannya) begitu saja  dikarenakan perbuatan-perbuatan baik yang mereka lakukan di masa  lalu. Para pelaku kejahatan  harus menerima  ganjaran atas seluruh  tindak kejahatannya.

Kekristenan berbeda. Dalam kekristenan Tuhan memberikan belas kasih melalui keadilan-Nya. Kebenarannya adalah bahwa kita semua telah berdosa terhadap Tuhan yang kekal dan  kita layak menerima Neraka yang dikatakan Yesus. Tetapi karena  Tuhan adalah Kasih dan mengasihi kita, Dia menyediakan belas kasihan dan sebuah jalan untuk melepaskan diri dari penghukuman kekal.


Tetapi Tuhan juga adil. Seseorang harus membayar ganjaran dosa, dan Yesus dengan suka rela memberikan dirinya untuk menerima peluru itu bagi kita semua. Kita hanya  harus percaya kepada-Nya untuk menerima karuni tersebut.

Pada intinya, Kristus telah mati bagi Gereja-Nya, tetapi Dia juga mati bagi Tuhan sehingga memuaskan keadilan-Nya. Paulus mengungkapkan fakta ini ketika dia berkata , “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.  Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma 3:25-26).

Apakah Yesus “jahat” karena Dia  mengajarkan  hal  tentang Neraka? Tidak. Dia  tak  terbayangkan baiknya  kala berbicara tentang kebenaran tersebut. Dia menyediakan belas kasihan dan kasih dari Tuhan  di satu sisi dan memuaskankeadilan Tuhan di saat yang sama bagi mereka yang  percaya kepada-Nya.

Apa   yang tidak disukai tentang Yesus?
Setelah musuh-musuh-Nya melemparkan segala sesuatu  dan mencuci kesalahan pada-Nya, hasil akhir dari enam pengadilan   agama dan sekular  ilegal  disimpulkan  dalam kata-kata Pilatus,  “ Saya tidak menemukan kesalahan pada orang ini” (Lukas 23:4). Walaupun beberapa pihak  masih berupaya untuk  mencoreng karakternya, kesimpulan yang sama juga dianut oleh mereka yang mendekati Dia dengan sebuah  hati dan pikiran yang tulus.

Ketika memutuskan bagaimana untuk memotret Yesus dalam karyanya yang terkenal  Chronicles of Narnia ,C.S. Lewis memilih cara berikut ini, yang mana saya pikir merupakan  karya  hebat dalam menggambarkan   natur dan kebaikan Kristus :


“Apakah dia—cukup aman?  Aku akan merasa  lebih gugup  untuk menemui seekor singa.”
“Kamu bisa sayang, dan jangan berbuat salah,” kata ibu Beaver, “jika ada siapapun juga  yang dapat tampil didepan Aslan tanpa lututnya bergemelutuk,  mereka  jelas lebih berani dibandingkan dengan hampir semua atau sebagian yang  memang bodoh.”
“Jadi dia tidak  aman?” Kata Lucy


“Aman?” Ujar  pak Beaver.” Tidakkah kamu dengarkan apa yang dikatakan bu Beaver kepadamu? Siapa yang mengatakan   apapun tentang aman?” Tentu dia tidak aman. Tetapi dia baik.”

What don’t you like about Jesus? - Part 2 | diterjemahkan oleh Martin Simamora

Apabila anda berminat untuk lebih dalam mengetahui tentang Universialisme yang diajarkan Rob Bell, bisa mempelajari slide berikut ini :










P O P U L A R - "Last 7 days"