0 KUASA TUHAN (4) :Kuasa Tuhan dalam Kehidupan Orang-Orang Percaya/Kudus

Daniel di gua singa. Karya Briton Rivière.
Daniel 6:26-27
(26)Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa."

Tuhan dapat melakukan apapun (Omnipotent) entah kita mempercayainya atau tidak. Tetapi jelas sangat penting bahwa kita memang mempercayai Dia omnipotent. Pemahaman seseorang terhadap kuasa  Tuhan akan mentransformasi pemikiran dan tindakan-tindakannya. Pertimbangkanlah ilustrasi-ilustrasi bagaimana kuasa Tuhan telah mengubah kehidupan sejumlah orang didalam  Alkitab.

Pertama, mari kita arahkan perhatian kita kepada Abraham. Dia adalah seorang manusia yang di permulaan hidupnya, memiliki keraguan yang sedemikian buruknya terhadap kuasa Tuhan. Tetapi pada akhirnya, dia sendiri percaya  pada kuasa Tuhan yang memampukannya bertindak dalam sebuah cara yang membuatnya menjadi sebuah model atau  teladan  iman bagi semua orang Kristen.

Di awal-awal  kehidupannya, Abraham kurang  percaya terhadap kuasa Tuhan. Dia melakukan perjalanannya menuju tanah Kanaan dalam kepatuhan terhadap  apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya :
Bacalah bagian terdahulu sebelumnya :


Kejadian 12:1-3
(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Tetapi ketika kelaparan melanda tanah tersebut, Abraham memutuskan pergi ke Mesir, sebuah keputusan yang nampaknya tidak lahir dari iman  kepada kuasa Tuhan atau janji-janji Tuhan. Ketika dia dan  Sarai tiba disana, mereka bersepakat tentang bagaimana mereka tidak seperti bagaimana biasanya mereka berperilaku dihampir sepanjang pernikahan mereka, lihat :

Kejadian 20:1-2
(1) Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing. (2) Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: "Dia saudaraku," maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.

Mereka  menipu orang-orang lain mengenai hubungan mereka berdua. Hal ini terlihat dari kata-kata Abraham dalam :

Kejadian 12:11-13
(11) Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. (12) Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. (13) Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau."

Dan

Kejadian 20:11-13
(11) Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. (12) Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. (13) Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku."

Abraham khawatir  ketika dia membawa isterinya ke   negeri asing. Karena  “tidak ada takut akan Tuhan di  negeri itu” :

Kejadian 20:11
(11) Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku

Abram berpikir  kuasa Tuhan nampaknya tidak berdaya. Nampaknya Abraham berpikir bahwa kuasa Tuhan  memadai untuk melindungi dia hanya jika dia berada di tempat yang benar dan ketika masyarakat di tempat itu takut akan Tuhan.

Betapa bodohnya sekarang kita memandang pemikiran Abram. Tuhan tidak hanya melindungi Abram, Tuhan juga melindungi Sarai, isteri Abram. Abram tetap hidup, dan Sarai tidak menjadi isteri orang lain. Abram juga makmur di tempat-tempat asing ini, yang membuatnya tidak hanya sekedar dapat hidup tetapi  menjadi lebih kaya, lihat :

Kejadian 12:20-13:2
(20) Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya…(2) Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

Kejadian 20:14-16
(14) Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya. (15) Dan Abimelekh berkata: "Negeriku ini terbuka untuk engkau; menetaplah, di mana engkau suka." (16) Lalu katanya kepada Sara: "Telah kuberikan kepada saudaramu seribu syikal perak, itulah bukti kesucianmu bagi semua orang yang bersama-sama dengan engkau. Maka dalam segala hal engkau dibenarkan."

Faktanya, Tuhan  sangat  berkuasa untuk menutup  rahim setiap wanita yang tinggal dalam kerajaan Abimelekh di Gerar, Kejadian 20:17-18:

(17) Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak. (18) Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu.

Abram tidak percaya bahwa kuasa Tuhan sanggup untuk memampukan dia dan isterinya untuk melahirkan seorang anak laki-laki karena mereka telah  bertambah tua, dan Sarai mandul. Sehingga Abram mencari cara untuk melahirkan seorang anak laki-laki dengan cara yang lebih mudah, pertama dengan mengangkat seorang budak sebagai anaknya laki-laki, Kejadian 15:2

(2) Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."

Dan kemudian dengan menghasilkan seorang anak laki-laki dengan mengambil pembantu isterinya, Hagar, sebagai wanita lain dalam hidupnya selain isterinya sendiri (Kejadian 16). Tuhan  memiliki maksud  untuk memberikan seorang anak laki-laki dalam sebuah cara yang dapat mendemonstrasikan kuasa-Nya, dengan memberikan  kelahiran seorang anak laki-laki secara ajaib dalam usia mereka yang telah lanjut melalui seorang perempuan yang mandul disepanjang kehidupannya.

Tes besar dalam kehidupan Abraham datang ketika Tuhan memanggilnya untuk membawa anaknya, anak laki-laki dimana dia menaruhkan semua pengharapannya, dan mengorbankannya di  Gunung Moria :

Kejadian 22:1-19
(1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." (2) Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (4) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. (5) Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."…

Disini, Abraham mematuhi Tuhan, dan  Perjanjian Baru memberitahukan kepada kita secara  terang bagaimana Abarham dapat melakukannyadia diyakinkan akan kuasa Tuhan untuk membangkitkan anaknya laki-laki dari kematian :

Ibrani 11:17-19
(17) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (18) walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." (19) Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.


Kata kuncinya adalah “ Tuhan Sanggup.” Keyakinan Abraham bahwa “Tuhan sanggup” merupakan kepercayaannya  kepada kuasa Tuhan untuk membangkitkan dari kematian. Abraham telah mengalami kebangkitan iman, tepat sebagaimana kita harus memilikinya :

Roma 10:9
(9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Pertumbuhan Abraham dalam iman sejalan dengan  kepercayaannya yang meningkat kepada kuasa Tuhan—apakah kuasa untuk memberikan dua orang ini “hal baik sebagaimana hal kematian” dalam kaitan untuk melahirkan seorang anak laki-laki :

Roma 4:18-21
(18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (19) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (20) Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, (21) dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Atau kuasa untuk membangkitkan seorang anak laki-laki dari kematian.

Abraham, yang memulai dengan iman yang kecil akan kuasa Tuhan,  telah bertumbuh memiliki iman yang  besar akan kuasa Tuhan. Dalam beberapa hal, iman Daud akan kuasa Tuhan lenyap seiring waktu. Ketika kita pertama kali diperkenalkan dengan Daud, dia sedang bersiap untuk melakukan pertarungan dengan Goliat, seorang raksasa yang yang dengan sombongnya mengucapkan penghujatan melawan Tuhan. Daud  yakin bukan pada kemampuan-kemampuannya, tetapi pada kemampuan Tuhan untuk membungkam penghujat ini dengan membuatnya mati melalui Daud dan  pengumbannya :

1 Samuel 17:22,26-37
(22) Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat. (26) Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" (27) Rakyat itupun menjawabnya dengan perkataan tadi: "Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia." (28) Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." (29) Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!" (30) Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. (31) Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. (32) Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." (33) Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (34) Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, (35) maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. (36) Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (37) Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

Problem Daud adalah : bahwa dia seperti bangsa Israel, mulai memperhitungkan kepada dirinya sendiri atas apa yang telah Tuhan lakukan melalui kuasa-Nya. Tuhan telah memperingatkan orang-orang Israel mengenai kebanggaan palsu ini :

Ulangan 8:11-14, 17-18:

(11) Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; (12) dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, (13) dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, (14) jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

(17) Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. (18) Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

Saya percaya inilah yang sebenarnya terjadi pada Daud. Terlampau banyak memperhitungkan pada dirinya sendiri untuk  apa yang telah  Tuhan kerjakan,  sepertinya ini telah menyebabkan  dua dosa yang sangat serius dan menghancurkan. Dua kali dalam catatan biografi kegagalan Daud untuk pergi ke medan perang pada saat dimana para raja biasanya pergi ke medang perang :

2 Samuel 11:1-4
(1) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. (2) Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3) Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu." (4) Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.


1 Tawarikh 20:1
(1) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Yoab membawa keluar bala tentaranya, lalu ia memusnahkan negeri bani Amon, kemudian ia maju dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. Yoab memukul kalah Raba dan meruntuhkannya.

1Tawarikh 21:1-4
(1) Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. (2) Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: "Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka." (3) Lalu berkatalah Yoab: "Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?" (4) Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem.

Bisa jadi dua peristiwa ini yang pengisahannya terpisah satu sama lain, merupakan akibat dari kegagalan yang sama pada saat Daud  seharusnya  pergi ke medan perang dengan pasukan-pasukanya namun dia tidak pergi. Dalam kedua kasus, Israel berperang bersama Rabbah. Dalam kedua kejadian ini, di  musim semi ketika para raja lazimnya pergi berperang, Daud tidak pergi. Dia tinggal di kediamannya. Dan akibatnya  dia berakhir di tempat tidur bersama seorang isteri prajuritnya yang loyal dan pada akhirnya berakhir menjadi sebuah  sekutu  rahasia dengan   pasukan musuh,  yang dia gunakan untuk membunuh prajurit bernama Uriah untuk “menyembunyikan” dosanya. Dalam kejadian kedua, Daud menghitung pasukan-pasukannya, yang melahirkan sebuah malapetaka kemarahan  Tuhan terhadap bangsa Israel.

Akibat dosa Daud  terlihat menyolok dalam teks-teks Perjanjian Lama. Tujuan saya disini adalah untuk mempertimbangkan mengapa Daud tinggal di rumahnya ketimbang pergi ke medan perang sebagaimana normalnya para raja melakukannya dan  sebagaimana seharusnya dilakukan Daud. Saya menimbang bahwa Daud mulai memperhitungkan pada dirinya sendiri atas kemenangan-kemenangan yang Tuhan  kerjakan melalui kuasa-Nya. Daud nampaknya begitu percaya diri menaklukan musuh-musuhnya sehingga dia bahkan tidak perlu pergi ke medan perang  bersama dengan pasukan-pasukanya. Dia dapat berperan sebagai komandan dan kepala pasukan   sementara diantara lembar-lembar ini, dan  tepat disini, diantara lembar-lembar itu, Daud mengalami kekalahan terbesar dalam kehidupannya. Sehingga oleh sebab itu Daud memerintahkan Yoab dan para pemuka Israel untuk menghitung pasukan-pasukan Israel. Walaupun  Yoab  sangat mendesaknya untuk tidak melakukannya, Daud bersikukuh, dengan konsekuensi besar bagi orang-orang Israel.

Tetapi mengapa menghitung  orang-orang Israel? Untuk alasan yang sama banyak dari kita  yang terus menghitung “keputusan-keputusan yang kita buat untuk Kristus” atau “kehadiran kita minggu ini” ( bukan bahwa itu salah untuk melakukannya). Banyak dari kita ingin memiliki angka-angka karena kita percaya ada kekuatan dalam angka-angka. Daud nampaknya ingin mengetahui jumlah orang-orang Israel sehingga dia dapat merasa yakin  untuk memenangkan pertempuran-pertempuran yang dia lakukan melawan musuh-musuh bangsa Israel. 300 orang  Gideon tidak akan memberikan keyakinan yang besar bagi Daud pada saat seperti ini dalam kehidupannya. Daud nampaknya memandang kemenangan-kemenangan Israel sebagai kemenangan-kemenangannya dan kekuatan Israel pada angka-angka sebagai kekuatannya. Dia  telah menjadi salah. Daud tidak pernah menjadi lebih kuat daripada didalam kelemahan-kelemahannya saat sebagai pemuda, ketika dia berdiri tegap melawan Goliat dalam kuasa Tuhan dan tidak dengan kekuatannya sendiri.

Kehidupan Daniel dan ketiga sahabatnya, sebagaimana tercatat dalam Kitab Daniel, memberikan contoh lainya bagaimana iman  pada kuasa Tuhan menghasilkan pahlawan-pahlawan iman. Ketika Daniel menolak untuk  berhenti berdoa  kepada “Tuhan”-nya,  raja Darius  dengan ragu-ragu memaksa untuk melempar mereka kedalam sebuah sarang singa. Kata-kata  terakhir Darius sebelum dia meninggalkan Daniel dalam kandang singa-singa, “"Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" (Daniel 6:16)

Raja  benar, dan kata-kata yang dia ucapkan untuk menanggapi keyakinan Daniel memberikan nilai kepada yang seharusnya, kepada Tuhan, yang oleh kuasa-Nya, Daniel telah dilepaskan dari “kuasa singa-singa” :

Daniel 6:26-27
(26)Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa."

Demikian juga, melalui iman ketiga sahabat Daniel akan kuasa Tuhan sehingga Nebukadnezar juga membuat pengakuan yang serupa. Nebukadnezar memiliki sebuah patung emas yang besar dimana ditetapkan bahwa semua orang harus menyembah patung itu ketika musisi raja memainkan musik. Sadrakh, Mesakh dan Abednego telah menolak untuk menyembah kepada patung raja, membuat raja kesal dan membuat ancaman ini :

Daniel 3:14-15
(14) berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? (15) Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"


Betapa ini adalah  sebuah tantangan terhadap kuasa Tuhan! Perhatikan respon ketiga sahabat Daniel. Tanggapan pertama mereka yang paling utama adalah sebuah ungkapan iman kepada kuasa Tuhan untuk melakukan apapun yang Dia pilih. Ungkapan kedua adalah sebuah ekspresi penundukan diri sebagai manusia terhadap kehendak Tuhan, yang bisa saja membebaskan mereka dari api atau membebaskan mereka melalui sebuah kematian yang mengerikan (bandingkan dengan Filipi 1:19-24) :

Daniel 3:16-18
(16) Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. (17) Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; (18) tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

Kenyataannya, Tuhan membebaskan  ketiga orang ini dalam sebuah cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Ketimbang menjauhkan mereka dari dalam api, Tuhan membawa mereka melalui api, hidup-hidup, dan tanpa sedikitpun bau asap pakaian mereka (Lihat Daniel 3:27). Nebukadnezar segera belajar  hal lain terkait kuasa Tuhan membandingkannya dengan “kuasanya” sendiri, dia sampai kepada kesadarannya dan mengeluarkan pernyataan ini bagi untuk didengarkan dan diperhatikan :

Daniel 4:1-33, 34-37
(1) Dari raja Nebukadnezar kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang diam di seluruh bumi: "Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! (2) Aku berkenan memaklumkan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang telah dilakukan Allah yang maha tinggi kepadaku. (3) Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya! Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal dan pemerintahan-Nya turun-temurun!... (34) Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. (35) Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: "Apa yang Kaubuat?" (36) Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. (37) Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.


Bersambung : Bagian 5

The Power of God ,Study By: Bob Deffinbaugh | diterjemahkan oleh : Martin Simamora



P O P U L A R - "Last 7 days"