0 HIKMAT TUHAN (2) : “Permulaan Hikmat Adalah Takut akan TUHAN”



The world highest waterfall is angel (Venezuela). It is the world's highest ...
einfopedia.com
Yeremia 51:15-16
Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya Apabila Ia memperdengarkan suara-Nya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.
Setan telah meyakinkan Hawa bahwa memakan buah dari pohon terlarang akan membuatnya  menjadi “ seperti Tuhan, mengenal hal baik dan benar” (ayat 5). Saya khawatir motivasi Hawa bisa  jadi mirip dengan kondisi yang digambarkan Yesaya 14:14. Kebenarannya adalah : bahwa memakan  buah dari “ pohon pengetahuan  mengenai benar dan jahat” tidak akan membuat Hawa  seperti Tuhan.” Memakan buah itu berarti ketidakpatuhan; itu adalah dosa. Tuhan itu  benar dan siapapun  tidak dapat menjadi seperti Dia dengan  cara berbuat dosa. Hawa telah tertipu, sangat tertipu. Sebagaimana yang dinyatakan oleh   Paulus dalam  1Timotius 2:14 : Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.

Tetapi apakah salah bagi Hawa yang berkeinginan untuk menjadi bijak/memiliki hikmat? Tentunya  bukan keinginan  yang jahat untuk menjadi berhikmat, bukan? Ketika  “pengetahuan” adalah pengetahuan dari yang jahat, maka pengabaian adalah  hal tak terelakan. Tetapi apakah Tuhan menginginkan Adam dan Hawa dalam pengabaian? Apakah Tuhan melarangnya menjadi bijak? Tidak sama sekali! Tuhan menginginkan Adam dan  Hawa menjadi bijak terkait apa yang baik dan mengabaikan apa yang jahat:

Bacalah  lebih dahulu bagian sebelumnya :

HIKMAT TUHAN (1) : “Sebab Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu”



Roma 16:19
Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat


Kebijakan Setan adalah sebuah pengetahuan akan yang “jahat” dan yang “baik.” Dan dalam mengetahui hal yang “jahat”, Adam dan Hawa menjadi  terasingkan dari sukacita dari yang “baik.”
Adam dan Hawa telah diberikan setiap kesempatan dan  dorongan oleh Tuhan untuk mengenal  Dia, untuk menjadi seperti Dia, dan menjadi bijak dalam  setiap hal yang baik. Mari kita camkan beberapa cara Tuhan yang membuat semua ini mungkin. Pertama mereka dapat menjadi bijak dalam hal baik dengan menjadi murid-murid penciptaan :
Mazmur 104:24-26
Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya.

Mazmur 136:5
Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya



Amsal 3:19-20
Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.

Amsal 8:22-31
(22)TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. (23)         Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada (24) Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air (25) Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir (26) sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama (27) Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, (28) ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras,(29) ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, (30) aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; (31) aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

Yeremia 10:12
Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya
Yeremia 51:15-16
Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya Apabila Ia memperdengarkan suara-Nya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.


Apakah Adam dan Hawa ingin menjadi bijak? Maka biarlah mereka belajar mengenai penciptaan dimana mereka merupakan bagian dari penciptaan itu. Apakah mereka ingin mengenal yang “baik?” Maka mereka dapat mengetahui hal “baik” didalam penciptaan-Nya :

Kejadian 1:24-25
Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik

Apakah Adam dan Hawa berkeinginan untuk mengenal hal “baik” dan ingin menjadi bijak, seperti Tuhan? Maka biarlah mereka menggunakan setiap keunggulan yang Tuhan berikan kepada mereka didalam  persekutuan komuni yang indah.  Akan terlihat bahwa Tuhan berjalan di Taman setiap hari bersama dengan Adam dan isterinya (Kejadian 3: 8 “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.”). Dan pada waktu itu mereka telah berbuat dosa dengan  tidak mematuhi Tuhan, mereka berupaya menghindari diri mereka dari hadapan Tuhan. Betapa banyaknya yang mereka dapat pelajari mengenai Dia dan dari Dia!

Apakah Adam dan Hawa berkeinginan untuk menjadi bijak dan mengerti? Maka patuhilah Tuhan :

Ulangan 4:6
Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi
Mazmur 111:10
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Setan telah memperdaya Hawa untuk mempercayai ketidakpatuhan merupakan jalan menuju kebijakan ketika jalan yang sesungguhnya adalah kebalikannya, dan hal ini masih  tetap demikian, dan ini benar. Hikmat bukan penyebab kepatuhan tetapi merupakan akibat dari kepatuhan. Kita mematuhi Tuhan  bukan karena kita cukup bijak untuk mematuhi-Nya, tetapi karena kita percaya kepada Tuhan dan kebijaksanaan-Nya yang diungkapkan didalam perintah-perintah-Nya. Dengan tidak mematuhi Tuhan, Adam dan Hawa membuktikan ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan dan hikmat-Nya   yang tiada batas.

Akhirnya, Adam dan Hawa dapat memiliki kebijakan dengan  memakan buah  dari pohon lain, yang ditempatkan secara menyolok, berangkali ditempatkan secara sangat menyolok, di tengah taman itu—pohon kehidupan. Pemahaman kita akan Kejadian 3 benar-benar dipertajam dengan sebuah pertimbangan dari Amsal 3.

Amsal 3:1-20
(1) Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, (2) karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu (3) Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu (4) maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia (5) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (6) Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (7) Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;(8) itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu (9) Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,(10) maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya  (11) Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. (12) Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. (13) Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian (14) karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas (15) Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya (16) Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan (17) Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata (18) Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.(19) Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, (20) dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan  embun.

Dari pelajaran singkat teks ini, sejumlah kebenaran merupakan bukti itu sendiri dan berperan sebagai sebuah komentar yang sangat membantu pada Kejadian 3 dan kejatuhan manusia. Pertama, kita didorong untuk menginginkan hikmat sebagai sesuatu yang bernilai tertinggi (lihat ayat 13-18). Hikmat Tuhan  harus sangat diinginkan. Setan mengalihkan hasrat-hasrat Hawa menjadi berlawanan terhadap hal seharusnya—yang membawanya dari menuju hikmat menjadi menuju ke kebodohan—dari hidup menuju mati. Kedua, kita telah diberitahukan bahwa hikmat Tuhan adalah bukti dalam peciptaan ( ayat 19-20). Adam dan Hawa  menguasai semua ciptaan  untuk mengajarkan mereka hikmat Tuhan. Tuhan tidak menahan  hikmat-Nya dari mereka, tetapi menyajikannya dihadapan mereka. Ketiga, hikmat tidak mencegah disiplin, tetapi mengakuinya sebagai sebuah bukti kasih akan Tuhan (ayat 11-12). Hawa  dituntun untuk mempercayai hal yang sebaliknya. Setan menyatakan bahwa Tuhan menahan buah terlarang karena Dia egois dan tidak memiliki kasih. Keempat, hikmat adalah akibat dari kepatuhan (ayat 1-2).  Setan telah meyakinkan Hawa bahwa kebijakan  merupakan akibat dari   ketidakpatuhannya. Kelima, untuk memiliki kebijakan yang sejati, kita harus berhenti untuk percaya kepada diri kita sendiri dan pada penilaian kita sendiri  akan apa yang “baik” dan lebih percaya kepada hikmat Bapa dan perintah-perintah-Nya. Keenam, kita seharusnya melihat bahwa hikmat adalah sebuah “ pohon kehidupan” (ayat 2,18). Saya tidak  berpikir bahwa gambar dari sebuah “pohon kehidupan” adalah tanpa tujuan/maksud. Memakan  buah dari “pohon kehidupan” adalah  jalan menuju himat,  dimana itulah sebabnya Setan berupaya mengubah fokus   perhatian dan keinginan Hawa dari pohon ini ke pohon terlarang itu.

Bersambung : Bagian 3

The Wisdom of God Study By: Bob Deffinbaugh | diterjemahkan/diedit oleh : Martin Simamora







P O P U L A R - "Last 7 days"