0 Nabi-Nabi Palsu-1 (bagian 3 selesai) : Pemimpin Gereja Waspadailah Mereka & Jangan Anggap Sepele!

kita  harus bersiap menghadapi nabi-nabi palsu  hari ini, persis seperti orang-orang Israel yang mengantisipasi keberadaan mereka di masa lampau. Yesus telah memperingatkan nabi-nabi palsu  ( Matius 7:15-23; 24:23-25) sebagaimana juga yang dilakukan Paulus (Kisah Para Rasul 20:28-31), dan Petrus ( 2 Petrus 2: 1 dan seterusnya), dan Yohanes ( 1 Yohanes 4:1).  Mereka tidak hanya mendatangi kita dari luar ( 2 Yohanes 1 :4-11) tetapi juga dari dalam ( Kisah Para Rasul 20:28-31; 2 Petrus 2:12-22). Beberapa  jemaat  ini  akan menyambut nabi-nabi palsu  dengan sangat baik (Matius 24:24; 2 Tesalonika 2:9).


Ketika Masalah Mendekat ke Rumah Kita


Ulangan 13:6-11
(6) Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, (7) salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, (8) maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, (9) tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. (10) Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. (11) Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu.

Merupakan soal tersendiri menghukum mati seorang nabi palsu yang tidak kita kenal baik, seseorang yang tidak akrab dengan kita. Menjadi soal yang lebih serius lagi untuk  bersikap secara keras dengan seorang  nabi palsu yang  merupakan anggota keluarga kita. Disinilah kepatuhan terhadap perintah-perintah Tuhan menjadi demikian menyakitkan. Tuhan dalam hal ini  ingin memastikan bahwa apa yang Dia minta secara umum untuk  diterapkan    pada peristiwa-peristiwa yang spesifik.


Bacalah terlebih dahulu bagian-bagian sebelumnya :

Nabi-Nabi Palsu-1 (bagian1) 

Nabi-Nabi Palsu-1 (bagian 2) : Menguji Nabi-Nabi Palsu

Hal ini perlu karena kita memiliki  sebuah kecenderungan untuk melepaskan  perintah-perintah umum dari situasi-situasi spesifik. Mari saya gambarkan. Saya tidak tahu berapa kali saya telah berbicara dengan seseorang yang datang kepada saya untuk  berkonsultasi karena sejumlah masalah dengan pasangan atau dengan  anak. Mereka mengatakan kepada saya  dengan mengungkapkan dosa yang  mereka telah perbuat, dan bertanya apa yang harus dilakukan. Ketika saya  tanya apakah mereka menerapkan Matius 18:15-20, mereka kerap melihat  saya dengan tercengang. Mereka percaya bahwa instruksi umum ini berlaku untuk hubungan-hubungan lainnya (dengan anggota jemaat lain di gereja mereka, atau dengan bos/rekan sekerja yang Kristen), tetapi mereka nampaknya tidak memegang instruksi-instruksi ini untuk  juga diterapkan pada keluarga. Karena kecenderungan untuk “melepaskan”  tindakan spesifik dari perintah-perintah umum, Tuhan bergerak dari perintah-perintah yang bersifat umum terkait nabi-nabi palsu ke situasi-situasi yang sangat khusus. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Israel jika “nabi palsu” yang muncul adalah seorang anggota keluarga mereka? Ulangan 13:6-11 memberitahukan kepada mereka dalam  hal-hal yang sangat spesifik.

Matius 18:15-20
(15) Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.(16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. (18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (19) Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. (20) Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."


Apakah nabi palsu itu seorang saudara laki-laki, seorang anak laki-laki atau seorang anak perempuan, atau isterimu, atau seorang sahabat dekat, Tuhan menginstruksikan orang-orang Israel untuk berurusan dengan setiap nabi palsu yang muncul sebagaimana Tuhan telah perintahkan di ayat 1-5. Apapun tuhan yang mereka perkenalkan, entah tuhan yang berasal dari daerah sekitar atau dari tempat jauh (dengan anggapan bahwa beribadah kepada tuhan ini tidak terlalu dianggap berbahaya), apakah tuhan yang diperkenalkan itu sudah dikenal atau sama sekali baru, orang yang  menyembah dan melayani Tuhan  tidak diperbolehkan mendengarkan kepada  orang yang dikasihi ini namun telah berpaling dari Tuhan  untuk mengikuti tuhan  yang lain.

Nabi palsu, tak peduli sedekat apapun hubungan kita miliki dengan mereka, haruslah dibunuh (dalam konteks  teks ini). Kepatuhan terhadap perintah ini tidak hanya  membebaskan bangsa Irael dari sebuah bahaya  si jahat, tetapi  hal  ini juga  menjadi sebuah contoh bagi bangsa-bangsa lainya dan berperan sebagai sebuah peringatan kepada siapapun yang berupaya menyesatkan orang-orang lain dari Tuhan.


Perjalanan  yang Jauh  dari  Tuhan


Ulangan 13:12-18
(12) Apabila di salah satu kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diam di sana, kaudengar orang berkata: (13) Ada orang-orang dursila tampil dari tengah-tengahmu, yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal, (14) maka haruslah engkau memeriksa, menyelidiki dan menanyakan baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di tengah-tengahmu, (15) maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya. (16) Seluruh jarahan harus kaukumpulkan di tengah-tengah lapangan dan harus kaubakar habis kota dengan seluruh jarahan itu sebagai korban bakaran yang lengkap bagi TUHAN, Allahmu. Semuanya itu akan tetap menjadi timbunan puing untuk selamanya dan tidak akan dibangun kembali. (17) Dari barang-barang yang dikhususkan itu janganlah apapun melekat pada tanganmu, supaya TUHAN berhenti dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, menunjukkan belas kasihan-Nya kepadamu, mengasihani engkau dan membuat jumlahmu banyak, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. (18) Sebab dengan demikian engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, untuk berpegang pada segala perintah-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahmu."

Kepatuhan terhadap perintah-perintah Tuhan terkadang mudah. Ada dua situasi dimana perintah untuk membunuh nabi-nabi palsu teramat sulit.

Pertama ketika hal ini melibatkan  para sahabat  atau keluarga. Kita baru saja mengulasnya di Keluaran 13:6-11. Kedua ketika  masalah ini jauh dari kita, dimana kita berpikir masalah ini akan sangat sulit berdampak pada kita. Jika tetangga sebelah  rumah saya rumahnya terbakar, saya pasti akan sangat peduli dengan musibah itu. Saya tidak hanya menelepon petugas pemadam kebakaran dan melaporkan kebakaran, saya akan pergi keluar rumah dengan sebuah selang air, membantu untuk memadamkan api. Saya  melakukannya tidak hanya karena saya  ingin menolong tetangga saya, tetapi juga karena api itu dapat menjalar membakar rumahku  juga jika tidak  dipadamkan segera. Sekarang ketika  rumah seseorang di sebuah kota kecil yang tidak jauh, atau di kota lainya, saya tidak berupaya untuk terlibat, karena kejadiannya jauh dan nampaknya tidak akan memberi  efek buruk pada saya.


Hal yang sama  juga demikian terkait dengan nabi-nabi palsu dan ayat 12-18 membahas ini. Nabi-nabi palsu itu seperti kanker. Jika mereka diizinkan untuk ada dalam satu bagian dalam Israel, kejahatan mereka berangkali akan meluas ke bagian-bagian  lain pada bangsa ini.

Jauh tidak menjadi  faktor bagaimana Israel yang saleh merespon si jahat.  Bahkan jika sebuah masalah potensial muncul di kota yang jauh, orang Israel yang telah belajar  mengenai hal jahat ini harus bertindak tegas dalam menghadapi situasi ini. Oleh karena itu, tidak seorang Israel boleh mengabaikan sebuah informasi dari petunjuk apapun atau sebuah rumor mengenai hal jahat ini, sekalipun hal jahat ini bisa jadi  ada di lokasi yang jauh.

Kabar atau berita apapun mengenai  hal jahat ini yang sampai ditelinga seseorang harus disikapi secara serius. Saya teringat dengan tiang-tiang petunjuk di bandara-bandara diseluruh dunia, yang   dibaca seperti ini : “Menyebutkan senjata-senjata atau bom-bom apapun  dengan maksud apapun akan dianggap  secara sangat serius.” Dengan kata lain, para penumpang diperingatkan agar mereka lebih tidak coba-coba membuat candaan mengenai sebuah bom, atau mereka akan mendapatkan diri mereka sendiri berhadapan dengan sebuah kesulitan yang sangat besar.

Tingkat keseriusan yang sama harus diambil dalam merespon rumor-rumor nabi-nabi dan ibadah-ibadah  palsu, dimanapun di Israel. Rumor itu harus diinvestigasi secara  hati-hati untuk melihat jika ada substansi apapun terkait nabi-nabi palsu.

Ayat 12-18 memperkenalkan 3  faktor tambahan untuk apa yang telah diperintahkan dalam ayat 1-5.

Pertama,  si jahat yang ditangani sekarang berada di jarak yang jauh dan tersembunyi. Tidak didalam rumah seseorang atau keluarga ( seperti pada ayat 6-11), tetapi di beberapa kota yang jauh lokasinya. Kedua, hal jahat itu baru sebatas dugaan, dan oleh karena itu harus diinvestigasi. Karena dugaan hal jahat ini jauh jaraknya, hal ini dilaporkan sebagai sebuah rumor, dan bukan sebagai fakta. Sekalipun  sebuah rumor, dan sekalipun   berada di tempat yang jauh, dugaan ini harus disikapi secara serius. Terakhir,  si  jahat bukan hanya satu nabi palsu. Hal jahat sudah  meluas ke seluruh kota, sehingga seluruh kota itu harus dihancurkan untuk melenyapkan bangsa yang berasal dari si jahat. Tidak hanya orangnya, tetapi semua  kepunyaan mereka, harus dihancurkan. Singkatnya, kota  orang Israel yang telah jatuh kedalam ibadah palsu harus dihadapi dalam cara yang sama persis dengan perlakuan yang ditimpakan pada kota-kota orang Kanaan,

Kesimpulan

Orang dapat menarik sebuah nafas lega,  mengatakan pada dirinya sendiri bahwa perintah ini diberikan kepada bangsa Israel berabad-abad yang lalu. Karena mereka tinggal di tanah Kanaan   sudah lama dan  sangat jauh, dan karena kita sekarang  hidup dalam  sebuah  dispensasi yang berbeda, tentu saja kita tidak diwajibkan menjalankan perintah-perintah ini, bukan? Jawabannya dapat dipastikan demikian sehingga kita tidak memberlakukan perintah-perintah ini persis seperti orang-orang Israel masa lalu yang wajib menerapkannya. Jika demikian adanya, lalu apakah tujuannya mempelajari teks ini? Mari saya berikan beberapa cara dimana teks kita ini memiliki keterkaitan dengan kita yang hidup di zaman sekarang  ini.

Pertama, teks kita ini menerangi  pembacaan Perjanjian Lama. Ketika kita sampai pada kisah Bileam di kitab Bilangan, kita akan melihat bahwa Bileam adalah seorang nabi palsu. Kita akan mengerti mengapa nabi-nabi palsu begitu berbahaya dan mengapa Tuhan pada akhirnya mengambil nyawa nabi ini. Kita akan melihat bagaimana orang-orang Israel harus berurusan dengan nabi-nabi palsu, dan mengapa bangsa ini jatuh kedalam penghakiman ilahi  karena  pemujaan berhala yang mereka  lakukan. Teks kita ini bersama dengan Ulangan 18, mempersiapkan kita untuk studi kita tentang nabi-nabi Perjanjian Lama.

Kedua, Teks yang kita pelajari ini menginformasikan  betapa bahayanya nabi-nabi palsu itu sesungguhnya, bagaimana mereka bisa dikenali, dan bagaimana seharusnya kita menghadapi mereka.  Tentu saja, saya tidak bermaksud bahwa kita melempari mereka dengan batu pada nabi-nabi palsu masa kini yang mempraktekan atau memperkenalkan agama-agama lain. Saya tidak  bermaksud bahwa kita harus belajar dari teks kita bahwa Tuhan menginginkan umatnya untuk bertidak cepat dan tegas ketika mereka berjumpa dengan seorang nabi palsu.  Perjanjian Baru memiliki banyak hal yang mennyatakan nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu. Sementara kita tidak disuruh membunuh nabi-nabi palsu ini, kita harus menyingkirkan mereka dari dalam gereja. Dan apakah mereka ini dekat dengan kita, atau mereka ini ada di tempat yang jauh, kita harus melihat bahaya yang mereka berikan, dan oleh karena itu berkomitmen pada diri sendiri untuk bertindak tegas untuk menyingkitkan pengaruh dan pengajaran mereka dari  gereja.

Dengan mengatakan hal ini, saya berupaya mendekatkan teks ini lebih dekat lagi dengan rumah kita. 


Hal terutama dari semuanya, kita  harus bersiap menghadapi nabi-nabi palsu  hari ini, persis seperti orang-orang Israel yang mengantisipasi keberadaan mereka di masa lampau. Yesus telah memperingatkan nabi-nabi palsu  ( Matius 7:15-23; 24:23-25) sebagaimana juga yang dilakukan Paulus (Kisah Para Rasul 20:28-31), dan Petrus ( 2 Petrus 2: 1 dan seterusnya), dan Yohanes ( 1 Yohanes 4:1).  Mereka tidak hanya mendatangi kita dari luar ( 2 Yohanes 1 :4-11) tetapi juga dari dalam ( Kisah Para Rasul 20:28-31; 2 Petrus 2:12-22). Beberapa  jemaat  ini  akan menyambut nabi-nabi palsu  dengan sangat baik (Matius 24:24; 2 Tesalonika 2:9). Kita harus secara konstan  mewaspadai para pria atau perempuan semacam ini, yang akan berupaya menuntun kita kepada kesesatan. Sebagai sebuah  indikator , kita dapat mengantisipasi apakah  mereka nabi-nabi palsu  dengan memperhatikan apakah mereka menambahkan atau mengurangi   yang tertulis dalam kitab suci ( lihat Ulangan 12:32; Wahyu 22:18-19), atau mereka akan berupaya memelintirkan  nats-nats kitab suci ( 2 Petrus 3:14-18)

Nabi-nabi palsu mengatakan kepada kita apa yang ingin kita dengarkan, dan mereka memanfaatkan  tabiat keberdosaan kita. Mereka  menyentuh hasrat-hasrat dan kedagingan kita, menjanjikan apa yang tidak dapat  mereka  berikan :

2 Petrus 2:17-19
(17) Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat. (18) Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan. (19) Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.

Nabi-nabi palsu ini adalah sebuah ujian iman kita dan komitmen kita kepada Tuhan. Orang-orang semacam ini tidak menjadi perhatian para pemimpin gereja; para pemimpin gereja seharusnya memberikan perhatian yang terutama pada para nabi palsu, kita semua harus waspada sehingga mereka tidak memperdaya kita, dan kita mengikuti mereka untuk melukai kita sendiri. Dan ketika kita menjadi sadar akan keberadaan mereka, kita harus melibatkan diri kita sendiri untuk menghadapi mereka.

Pertahanan kita sederhana dan jelas. Kita harus melakukan seperti apa yang dilakukan orang-orang Israel lampau sebagaimana diinstruksikan. Kita  harus percaya dan  menaati. Kita harus secara konstan ada didalam Firman-Nya, mempelajari Firman, mengajarkan Firman Tuhan kepada orang lain dan mematuhi perintah-perintahanya. Mari kita  berkomitmen untuk melakukan hal ini  secara  tepat, untuk memercayai dan mematuhi Tuhan, kepada kemuliaanya, dan untuk kebaikan kita.

Bagian1 SELESAI

False Prophets, Part1 , Study By : Bob Deffinbaugh | diterjemahkan oleh : Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"