0 Apakah Kristus Satu-Satunya Jalan?-1 (bagian 1) : Jalan Sempit Vs Banyak Jalan Menuju Tuhan

Beragam orang mendaki  melalui rute-rute yang berbeda,beberapa orang dengan jalur melingkar dan yang lainnya dengan jalur yang lebih langsung tetapi pada akhirnya mereka semua akan berkumpul di puncak gunung. Idenya adalah bahwa setiap orang yang berada di puncak akan menyadari pendakian-pendakian ini pada akhirnya adalah pencarian yang sama. Kita semua bertemu di puncak dan  apapun  tuhannya, sesuai dengan bagaimana anda menentukan siapakah Tuhan itu, kita semua berkata, oh, jadi semua agama sebenarnya mengenai tuhan yang sama atau mengenai  hal yang sama.


Isu ini , tentang bagaimana Kristus dapat menjadi satu-satunya  jalan menuju Tuhan merupakan salah satu keberatan  paling  pelik yang mengemuka. Topik ini lazim dipertanyakan terkait dengan isu-isu mengapa orang-orang tak bersalah menderita. Tetapi sekarang, saya berpendapat, pertanyaan ini berangkali telah menjadi   rintangan-rintangan terbesar.

Mengapa anda  menganggap bahwa  Kristus satu-satunya jalan adalah benar? Saya pikir ini terkait  bertumbuhnya pluralisme dan isu toleransi. Kami telah mendiskusikan  hal ini dalam sejumlah kasus dalam budaya masyarakat kita  yang telah mendidik kita untuk menganggap bahwa  toleransi didefinisikan   bersepakat dengan orang atau setidaknya bersepakat dengan pandangan mereka  sehingga memiliki legitimasi yang sama dengan pandanganmu. Artinya ini adalah egalitarian ( sebuah pandangan bahwa setiap orang setara sehingga memiliki hak-hak dan kesempatan-kesempatan yang sama-red) manakala diberlakukan pada kebenaran maka kebenaran itu seiring perjalanan waktu (sesuai dengan perkembangan zaman). Dengan kata lain, kita  menjadi  egaliter terkait kebenaran. Ini  menarik bahwa  kita masih kerap bersikap elitis ketika  berurusan dengan orang tetapi menjadi egaliter ketika berurusan dengan kebenaran.

Dalam pandangan saya, seharusnya hal sebaliknya yang terjadi. Kita harus menjadi elitis ketika bersikap pada kebenaran dan menjadi egaliter dalam memandang atau bersikap kepada orang. Artinya, perlakukanlah orang-orang dalam sebuah cara yang toleran  yang diperlihatkan sebagai mengasihi dan mempedulikan orang dan sepakat untuk terkadang tak bersepakat tetapi didalam pengertian bahwa ketika kita tidak bersepakat pada sebuah kebenaran maka tidak berarti saya sedang menolak anda sebagai pribadi.


Entah bagaimana orang  cenderung menyatakan bahwa tidak bersepakat dengan pemikiran anda sama dengan menolak anda sebagai seorang pribadi.  Saya tidak tahu darimana  pemikiran semacam ini datang tetapi anggapan semacam ini  bukanlah masalah utama yang sebenarnya. Anggapan yang demikian dapat melenyapkan semua kemungkinan debat dan dialog di masa lampau. Anda memiliki ide yang lebih baik bahwa debat dan dialog adalah hal yang baik. Sekarang, mari kita memperkarakannya bersama. (Yesaya 1:18) Mari kita memikirkan hal-hal ini secara menyeluruh dan mari kita mengambil sebuah kesempatan untuk  menentukan pilihan-pilihan evaluasi di  “pasar” ide-ide untuk melihat yang manakah yang bisa kita pegang dan manakah yang tidak. Itulah yang  sesungguhnya sedang kita lakukan disini sekarang.

Keinginan saya di waktu kebersamaan kita ini  hanyalah untuk mengungkapkan ketimbang untuk memaksakan. Ada sebuah  perbedaan yang teramat besar antara dua hal tersebut. Saya tidak perlu berpikir bahwa saya harus memanipulasi atau mengendalikan atau memancing agar anda mau menerima pandangan utama saya. Tujuan saya tidaklah terutama pada upaya mengubah pikiran anda, dengan mengungkapkan kepada anda sejumlah perspektif biblikal. Kita bisa jadi beragam dalam perjalan-perjalanan rohani kita, namun setidaknya adalah hal baik bagi kita untuk   memikirkan hal-hal ini secara seksama. Terutama ketika terkait dengan pribadi dan karya Yesus Kristus yang akan saya jelaskan, dapat dikatakan figur yang paling unik yang pernah  menjelajahi pelataran kemanusiaan dan kita akan membuat sejumlah komentar terkait hal ini.

Tetapi secara alami, ketika kita mendekati pertanyaan ini, keberatan yang segera mengemukan adalah bagaimana Kristus dapat menjadi satu-satunya jalan menuju Tuhan yang berarti jalan yang terlampau sempit. Beberapa orang akan berkata bahwa karena agama pada dasarnya sama, beberapa orang merasa apakah hal  agama mana yang  saya yakini sungguh penting? Bukankah keyakinan agama merupakan preferensi personal atau sesuatu yang dibawa sejak  lahir atau sebuah perkiraan bahwa 75% dari dunia ini bukan Kristen, dapatkah mereka semua salah?  Gagasan semacam ini mengemuka. Yesus berangkali satu-satunya jalan bagi anda tetapi bagaimana hal ini membuat Yesus satu-satunya jalan bagi setiap orang?

Anda lihat, sudah ada sejumlah variasi keberatan. Ketika pertanyaan ini mengemuka sehingga kita harus mempertimbangkan bahwa ada 3 pilihan dasar.

Seorang dapat berkata bahwa jalan  menuju Tuhan tidak sempit dan untuk meninjau keseluruhan isu dan untuk  mengatakan yang sesungguhnya, sebagaimana  dilakukan beberapa orang bahwa Kekristenan telah diredefinisi didalam banyak kelompok menjadi begitu inklusif sehingga  Kekristenan meliputi kebenaran  apapun.


Pertanyaannya adalah : apakah hal itu  sungguh-sungguh dapat diterima didalam ide Kekristenan sejati atau Kekristenan orthodoks  yang historis dan apakah  ide inklusifitas itu bersesuaian atau  apakah ide tersebut bertalian secara logis/koheren atau tidak. Pilihan lainnya adalah jika jalan menuju Tuhan sempit pastilah ini salah. Pilihan ketiga adalah :kesempitan  jalan ini tidak  membuatnya menjadi salah atau benar. Pertanyaanya adalah apakah hal ini benar atau tidak. Ketika C.S. Lewis meletakan imannya pada Kristus, pada puncaknya dia menyampaikan bahwa ia menjadi percaya bukan karena ia ingin menjadi  percaya. Faktanya, Kristen  bertentangan dengan apa yang disukainya secara amat luar biasa. Kecenderungan yang ada didalam dirinya adalah untuk menentangnya. Faktanya, ujarnya, saya sudah sangat dipuaskan selama ini, saya ateis yang sombong. Kemudian semua sahabat ini, orang-orang  yang menjadi sahabat saya,  terus saja mendesak-desak  saya. Seorang atheis, katanya, kini  tidak akan pernah menjadi terlampau hati-hati di hari-hari ini! Anda mungkin membaca sesuatu, anda mungkin berlari ke sesuatu yang bisa jadi faktual dan memang demikian. Ini bukan sesuatu yang benar-benar dia inginkan tetapi ini adalah sesuatu  yang memeluknya dengan lembut. Ini bukan seperti pengalaman Paulus. Dia benar-benar bertarung melawan seluruh hal ini. Hal ini terjadi kala Kristus meletakan tangannya diatasnya—yang telah menjadi pengalaman yang tak terbantahkan dalam  kehidupannya. Sehingga Lewis telah sampai pada pandangan dimana dia berkata, anda harus memahami, hal ini bukan karena nilai pragmatis apapun yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh Kekristenan, hal ini bukan karena saya  merasakan hal yang baik  mengenai Kristen, atau kekristenan adalah sesuatu yang ingin saya yakini, saya  tanpa direncanakan menjadi seorang Kristen karena saya tanpa direncanakan percaya bahwa Kristen adalah benar. Tidak ada alasan lain saya menjadi percaya tetapi karena saya tanpa rencana berpikir Kristen adalah benar. Saya telah diyakinkan bahwa ada sebuah  hal tulus bagi Kekristenan diantara pilihan-pilihan pandangan dunia. Hal semacam ini yang telah menjadi dasar  bukti yang terbaik dari semua pandangan dunia yang ada.

Mari kita melihat pada pilihan pertama bahwa jalan menuju Tuhan tidak sempit.


Argumenku disini bahwa pandangan semacam ini dapat berkonflik dengan klaim-klaim yang sangat eksklusif oleh Kristus. Sekarang ini  beberapa orang cerdas dan mereka berupaya mendefinisi ulang klaim-klaim eksklusif yang diucapkan Kristus atau mencoba mengatakan bahwa, ya…sepertinya Dia mengatakan demikian tetapi Dia tidak sungguh-sungguh bermaksud demikian, gereja menjejalkan kata-kata itu kedalam mulut Yesus.



Kita telah membicarakan mengenai hal ini sedikit dengan keseluruhan isu ini mengenai Yesus menjadi sebuah mitos atau sebuah legenda ketika kita membicarakan diawal tentang Alkitab dan keandalannya.

Tetapi pada dasarnya disini hendak mengatakan bahwa apa yang dilakukan merupakan pemaksaan pada material untuk merekonstruksikan atau seorang dapat lebih baik mengatakan untuk mendekonstruksikan teks tersebut (klaim-klaim Yesus yang  sangat eksklusif) agar sesuai dengan  parameter-parameter moderen yang lebih berkonteks pluralistik.



Sebagaimana yang kita ketahui, kita sedang hidup didalam sebuah budaya dimana kebenaran saat ini  agaknya dikondisikan (disesuaikan) secara sosial ketimbang sesuatu yang obyektif. Dalam sebuah budaya postmoderen, yang pada kenyataannya ultra moderen, ide  tersebut pada dasarnya adalah : segala sesuatu itu bergantung pada apapun yang menjadi panutan. Apa  yang benar  bagi anda bisa jadi tidak benar bagi saya. Kita akan membicarakan mengenai hal ini segera tetapi mari kita lihat setidaknya teks-teks itu sendiri terlebih dahulu.


Berikut ini adalah apa yang sering orang kira.  Bisa jadi ada sebuah gunung dan  selagi kita mendaki dan terus mendaki gunung ini menuju puncaknya, ada  jalan-jalan berbeda untuk mendaki gunung ini. Beragam orang mendaki  melalui rute-rute yang berbeda,beberapa orang dengan jalur melingkar dan yang lainnya dengan jalur yang lebih langsung tetapi pada akhirnya mereka semua akan berkumpul di puncak gunung. Idenya adalah bahwa setiap orang yang berada di puncak akan menyadari pendakian-pendakian ini pada akhirnya adalah pencarian yang sama. Kita semua bertemu di puncak dan  apapun  tuhannya, sesuai dengan bagaimana anda menentukan siapakah Tuhan itu, kita semua berkata, oh, jadi semua agama sebenarnya mengenai tuhan yang sama atau mengenai  hal yang sama.


Hanya saja terlihat berbeda dalam budaya kita sendiri. Agama sering dipaparkan dalam  cara semacam  ini atau cara lainnya mereka menggunakan ilustrasi roda. Kita melihat pada roda dan beragam aspek-aspek dan ketika kita melihat pada pusat roda, kita kembali melihat bahwa kita semua sebenarnya  seperti bergerak menuju pusat yang sama, entah berangkali kita mengetahui atau tidak apakah itu. Ada sejumlah catatan yang diberikan yang berasal dari  alam  pluralistik yang berkata, tak  ada satupun jalan seseorang dapat mengenali  tuhan seperti apakah ini, bagaimana anda tahu bahwa Tuhan tidak dapat dikenali? Segera anda harus menyadari bahwa  mereka menggunakan sejumlah fakta untuk menampar dan membuat klaim-klaim sangat spesifik bahwa bermacam orang yang  membuat klaim-klaim  mengenal Tuhan pada dasarnya orang yang tertipu sama sekali.

Dengan kata lain anda tidak dapat bersikap netral sama sekali pada hal ini. Disini saya menilai bahwa jenis pandangan semacam ini tidak mempertimbangkan klaim-klaim dan  mandat-mandat Kristus.


Pada Yohanes 3:18, sebuah pernyataan yang dibuat Kristus,” Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah..” Kerap, Yesus akan berbicara atas dirinya sendiri sebagai Anak Manusia atau Anak Allah. Dia memilki klaim yang sangat kuat  yang Dia buat. Pada Yohanes 8:24 Dia berkata,” Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Kembali ini adalah sebuah klaim yang sangat kuat.

Banyak orang berkata, baiklah,Yesus tidak pernah sungguh-sungguh telah berbicara banyak mengenai dirinya sendiri tetapi   meskipun  Dia tidak benar atau meskipun dia tidak hidup atau meskipun  Dia tidak dibangkitkan dari kematian, pengajaran-pengajaran Yesus tetap masih benar. Ini adalah apa yang menjadi posisi yang dipegang oleh Gandhi. Gandhi berkata bahwa dia mengagumi pengajaran-pengajaranya sedemikian besarnya sehingga sekalipun tidak pernah ada  seorang Yesus yang historis, tetap saja pengajaran-pengajarannya benar bagi saya.


Permasalahannya adalah, pengajaran-pengajaran Yesus selalu tentang dirinya sendiri—tanpa malu-malu, secara konstan merujuk kembali kepada diri-Nya. Dia tidak hanya berbicara mengenai hal-hal umum tetapi Dia berkata, “Kecuali kamu percaya bahwa AKU ADALAH  DIA, maka kamu akan mati dalam dosa-dosamu. Pada Yohanes 14:6, Yesus berkata,” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup; Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Saya juga menerima sebagaimana berbagai pendiri agama-agama dunia lainnya yang menyatakan  bahwa ada sebuah keunikan  radikal pada  Kristus dalam sejumlah hal terkait hal ini. Beberapa orang mempromosikan pengajarannya sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan. Tetapi sebagaimana saya telah katakan di awal, Kristus mempromosikan dirinya sendiri sebagai jalan itu sendiri ketimbang serangkaian pengajaran-pengajaran. Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa   pengajarannya hanya  meneruskan pengajaran-pengajaran yang  dikatakan berasal dari berbagai nabi, dan beberapa lagi   berkata bahwa kebenaran  disampaikan dengan banyak cara ,Yesus sangat spesifik dalam hal ini.


Yesus tidak hanya spesifik  mengenai eksklusifitasnya tetapi juga  mengenai ketuhanannya dan  kedudukannya yang unik. Dia membuat pernyataan yang sangat berani ini :

Yohanes 8:19b
“Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku." Dia yang tidak mengenal Aku, tidak mengenal Bapa-Ku.

Tentu saja ini adalah sebuah klaim yang sangat kuat dan dapat dilihat pada teks lain di Matius 11. Teks ini tepat sebelum teks penting yang telah kita dengarkan :


Matius 11:28-30
(28) Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (30) ebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Pikulah kuk yang Kupasang—terima—Yesus secara konstan berbicara tentang menerima diri-Nya. Ayat  tepat sebelum ini , berkata :

Matius 11:27
Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Jadi  anda telah mendapatkan klaim sangat kuat semacam ini yang setidaknya harus diperhitungkan. Pada Yohanes 14:9, Yesus berkata :

” Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”

Frasa yang baru saja kita singgung, AKULAH DIA ( I AM) , kerap dalam huruf tebal, kembali dan selalu kembali  ditemukan diseluruh  nats kitab suci dalam Perjanjian Baru sebagai pernyataan klaim yang dibuat Yesus. Klaim AKULAH DIA ,bahwa Dia sedang membuat hubungan  dengan klaim yang diberikan kepada Musa. Dalil ini telah diberikan kepada Musa di  semak yang terbakar dan  anda mengingat kembali ketika Musa berkata di Keluaran 3 :

Keluaran 3:14
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.

Itu adalah nama Satu-Satunya  yang ada. Dia ada didalam dan dari Diri-Nya sendiri. Dia tidak memandang kepada apapun untuk  asal mulanya. Ketika Yesus berkata orang-orang Yahudi :

Yohanes 8:58
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

Bagaimana menurut anda mereka bereaksi terhadap kalimat semacam ini? Ngomong-ngomong, Yesus tidak berkata, saya kebetulan ada atau Aku adalah Dia (I am He), Dia berkata  AKULAH DIA (I AM).


Di tempat lain, ketika mereka datang mencari Dia dan ada sebuah kelompok, sejumlah 600 ora diantaranya bersenjata, dan mereka dating di malam hari, sebagaimana anda mengingat kembali di Taman Getesemani, untuk menangkap Dia, mereka datang bersenjata dengan penerangan lentera-lentera, tombak-tombak, obor-obor dan sebagainya.

Yohanes 18:4b : "Siapakah yang kamu cari?"


Yohanes 18:5a : “Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia (I AM) [catatan: pada alkitab-alkitab anda mungkin apa yang dikatakan Yesus dalam huruf miring tetapi frasa ini adalah “ego eime- Akulah Dia)


Yohanes 18:6, “Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Sesuatu yang sangat penuh dengan kuasa telah terjadi.

Pada kasus lain (Yohanes  8:57-59), ketika Yesus berkata, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada . Orang-orang Yahudi  keberatan dengan pernyataan Yesus dan berkata , "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"  Mereka mengambil batu dan hendak melempari dia dengan batu sampai mati untuk penistaan karena mereka memahami bahwa klaim semacam ini  dapat  menjadikan diri Yesus sama/setara dengan  Tuhan.


Bersambung ke Bagian 2

Is Christ the OnlyWay? – Part 1, Dr Ken Boa | diterjemahkan oleh : Martin Simamora


Terkait isu ini, anda mungkin tertarik membaca ini :

P O P U L A R - "Last 7 days"