0 Providence / Penentuan Dosa dan Tanggung Jawab Manusia (10)

By. Pdt. Budi Asali, M.Div

-
Bacalah Lebih dahulu bagian 9

Charles Hodge,‘SystematicTheology’, vol I
:
  • “By this is meant that from the indefinite number of systems, or series of possible events, present to the divine mind, God determined on the futurition or actual occurrence  of the existing order of things, with all its changes, minute as well as great, from the beginning of time to all eternity. The reason, therefore, why any event occurs, or, that it passes from the category of the possible into that ofthe actual, is that God has so decreed” (= Dengan ini dimaksudkan bahwa dari sejumlah sistem yang tidak tertentu jumlahnya, atau dari seri-seri peristiwa yang mungkin terjadi,yang ada dalam pikiran ilahi, Allah menentukan kejadian sungguh-sungguh dari urut-urutan hal-hal yang ada, dengan semua perubahan-nya, kecil maupun besar,dari permulaan waktu sampai pada kekekalan. Karena itu, alasan mengapa suatu peristiwa terjadi, atau, bahwa itu berpindah dari kategori ‘mungkin’ menjadi ‘sungguh-sungguh’, adalah karena Allah menetapkannya demikian) - hal 537.

  • “Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his origina lintention”(= Perubahan rencana timbul atau karena kekurangan hikmat atau karena kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan dari maksud / rencana yang semula) - hal 538-539.
    "Ilustrasi"
    Ini adalah foto gunung api Sarychev di kepulauan Kuril -Rusia yang
    sedang meletupkan cendawan asap  besar. Gambar ini diambil dari stasiun
    luar angkasa ISS- Credit : The Telegraph
  • “The decrees of God are certainly efficacious, that is, they render certain the occurrence of what He decrees. Whatever God foreordains, must certainly come to pass. ... All events embraced in the purpose of God are equally certain, whether He has determined to bring them to pass by his own power, or simply to permit their occurrence through the agency of his creatures. ... Some things He purposes to do, others He decrees to permit to be done. He effects good, He permits evil. He is the author of the one, but not of the other”


    (= Ketetapan-ketetapan Allah pasti menghasilkan apa yang diinginkan, artinya, ketetapan-ketetapan itu membuat pasti kejadian yang Ia tetapkan. Apapun yang Allah tentukan lebih dulu, pasti akan terjadi. ... Semua peristiwa yang tercakup dalam rencana Allah sama pastinya, apakah Ia telah menetapkan untuk melaksanakan mereka dengan kuasaNya sendiri, atau sekedar mengijinkan terjadinya mereka melalui makhluk-makhluk ciptaanNya sebagai agen. ... Sebagian hal-hal Ia rencanakan untuk Ia lakukan, yang lain Ia tetapkan untuk mengijinkan untuk terjadi. Ia mengadakan /menjalankan kebaikan, Ia mengijinkan kejahatan. Ia adalah pencipta dari yangsatu, tetapi bukan dari yang lain)
    - hal 540-541.
  • “... the unity of God’s plan. If that plan comprehends all events, all events stand in mutual lrelation and dependence. If one part fails, the whole may fail or be thrown into confusion”(= ... kesatuan rencana Allah. Jika rencana itu mencakup semua peristiwa, maka semua peristiwa saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain. Jika satu bagian gagal, seluruhnya bisa gagal atau kacau) - hal 541.


  • “The doctrine of the Bible is, that all events, whether necessary or contingent, good or sinful, are included in the purpose of God, and that their futurition or actual occurrence is rendered absolutely certain” (= Doktrin dari Alkitab adalah, bahwa semua peristiwa, apakah mutlak perlu atau bersifat tergantung / kebetulan, baik atau berdosa, tercakup dalam rencana Allah, dan bahwa sungguh-sungguh terjadinya mereka digambarkan pasti secara mutlak) - hal 542.

    "Penyaliban Kristus"
    Artis : Tintoretto- 1568, Credit: wikipaintings.org
  • “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebihdulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab)- hal 544.


  • “With regard to the sinful acts of men, the Scriptures teach, (1) That they are so under the control of God that they can occur only by His permission and in execution of His purposes. He so guides them in the exercise of their wickedness that the particular forms of its manifestation are determined by His will” [= Berhubungan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, Kitab Suci mengajar, (1) Bahwa mereka ada di bawah kontrol Allah sedemikian rupa sehingga mereka bisa terjadi hanya oleh ijinNya dan dalam pelaksanaan rencana-rencanaNya. Ia begitu mengarahkan mereka dalam melakukan kejahatan mereka sehingga bentuk khusus / tertentu dari perwujudannya ditentukan oleh kehendakNya] - hal 589.

Charles Hodge,‘Systematic Theology’, vol II:

"Ilustrasi"
Nebula "Mata Kucing"-NGC6543, berjarak 3000 tahun cahaya dari bumi
Ini adalah Citra Hubble setelah  cermin teleskop ini diperbaiki
Credit: The Telegraph
  • “As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other,but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception”


    (= Sebagaimana Allah mengerjakan rencana tertentu dalam dunia lahiriah / jasmani, adalah wajar untuk mengambil kesimpulan bahwa hal itu juga benar berkenaan dengan dunia moral dan rohani. Bagi mata seorang yang tidak berpendidikan langit merupakan bintang-bintang yang kacau. Ahli perbintangan / ilmu falak melihat keteraturan dan sistem dalam kekacauan ini; semua benda-benda bersinar yang terang dan jauh itu mempunyai tempat dan orbit tetap yang ditetapkan; semua begitu diatur sehingga tidak satupun mengganggu yang lain, tetapi masing-masing diarahkan menurut suatu konsep yang luas dan besar / indah)
    - hal 313.


  • “And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself”(= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) - hal 320.


  • If He foreordains whatsoever comes to pass, then events correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs” (= Jika Ia menentukan lebih dulu apapunyang akan terjadi, maka peristiwa-peristiwa akan cocok / sama dengan rencanaNya; dan adalah bertentangan dengan akal dan Kitab Suci untuk menganggap bahwa ada kontradiksi atau ketidakcocokkan antara apa yang Ia maksudkan dan apa yang sungguh-sungguh terjadi)- hal 323.

  • “Whatever occurs, He for wise reasons permits to occur. He can prevent whatever He sees fit to prevent. If, therefore, sin occurs, it was God’s design that it should occur. If misery follows in the train of sin, such was God’s purpose. If some men only are saved, while others perish, such must have entered into the al lcomprehending purpose of God”


    (= Apapun yang terjadi, Ia mengijinkan hal itu terjadi karena alasan yang bijaksana. Ia bisa mencegah apapun yang Ia anggap layak untuk dicegah. Karena itu, jika dosa terjadi, adalah rencana Allah bahwa itu terjadi. Jika kesengsaraan menyusul dalam rentetan dosa, maka demikianlah rencana Allah. Jika sebagian orang saja yang diselamatkan, sementara yang lain binasa, maka semua itu pasti telah masuk ke dalam rencana Allah yang meliputi segala sesuatu)
    - hal 332.


  • God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty ortheir responsibility(= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - hal 332.


William G. T. Shedd, ‘Calvinism: Pure & Mixed’:

  • “When God executes his decree that Saul of Tarsus shall bea vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spiritto will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall bea vessel of wrath fitted  for destruction’, he does not work efficiently within him to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul”


    [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh KudusNya ‘untuk mau/ menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran/ benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan karena itu ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telahditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda,tetapi kebinasaan Yudas sudah ditentukan lebih dahulu dan bebas dari kebetulan,sama seperti pertobatan Saulus]
    - hal 31.

    "ILUSTRASI"
    Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error - William G.T. Shedd
  • “Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, a sin the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’”


    (= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy,‘Aku membuat damai dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’)
    - hal36.
Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dariYes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkandari KJV.




"Ilustrasi"
Nothing comes to pass contrary to his decree.
Nothing
happens by chance
  • Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’; and yet occurs through the agency of the unforced and self-determining will of man as the efficient”


    (= Tidak ada yang terjadi bertentangan dengan ketetapanNya.Tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Bahkan kejahatan moral, yang Ia benci dan larang, terjadi oleh ‘rencana yang ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah’; tetapi terjadi melalui perantaraan dari kehendak manusia yangtidak dipaksa dan ditentukan sendiri sebagai sesuatu yang efisien)
    - hal 37.



William G. T. Shedd, ‘Shedd’sDogmatic Theology’, vol I:

"Ilustrasi"The Zhongxian Changjiang Bridge in
Chongqing municipality, China
God willeth not one thing now, and
another anon;
but once, and at once, and always
  • God willeth not one thing now, and another anon; but once, and at once, and always, he willeth all things that he willeth; not again and again, nor now this, now that; nor willeth afterwards, what before he willed not, nor  willeth not, what before he willed; because such a will is mutable; and no mutable thing is eternal”


    (= Allah tidak menghendaki sesuatu hal sekarang, dan sebentar lagi menghendaki yang lain; tetapi sekali, dan serentak,dan selalu, Ia menghendaki semua hal yang ia kehendaki; bukannya lagi dan lagi,atau sebentar ini sebentar itu; atau menghendaki setelahnya apa yang tadinya tidak Ia kehendaki, atau tidak menghendaki apa yang tadinya Ia kehendaki; karena kehendak seperti itu bisa berubah / tidak tetap; dan tidak ada hal yangbisa berubah / tidak tetap yang kekal)
    - hal 395.
Catatan: kata-kata di atas ini ia kutip dari kata-kata Augustine(dari buku ‘Confession’, XII. xv.).


  • “The Divine decree is formed in eternity, but executed in time. ... the Divine decree, in reference to God, are one single act only” (= Ketetapan ilahi dibentuk dalam kekekalan, tetapi dilaksanakan dalam waktu. ... ketetapan ilahi, dalam hubungannya dengan Allah, adalah satu tindakan saja) - hal 394.


  • “The Divine decree is the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first decide what shall come to pass, he can not know what will come to pass. An event must be made certain, before it can be known as a certain event. ... So long as anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind”



    (= Ketetapan ilahi adalah syarat yang perlu dari pengetahuan lebih dulu dari Allah.  Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus dipastikan, sebelum peristiwa itu bisa diketahui sebagai peristiwa yang tertentu. ... Selama sesuatu tidak ditetapkan, maka sesuatu itu bersifat tergantung / mungkin dan kebetulan. Itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu)
    - hal 396-397.


"Ilustrasi"
Tim Khusus Pemburu Preman Polres Jakarta Barat
  • The Divine decree is universal. It includes ‘whatsoever comes to pass,’ be it physical or moral,good or evil”(= Ketetapan ilahi adalah universal. Itu mencakup ‘apapun yang akan terjadi’,apakah itu bersifat fisik atau moral, baik atau jahat) - hal 400.
  • “The Divine decree Is immutable. There is no defect in God, in knowledge, power, and veracity. His decree can not therefore be changed because of ignorance, or of inability to carry out his decree, or of unfaithfulness to his purpose”


    (=Ketetapan ilahi itu tetap / tak berubah. Tidak ada cacat dalam Allah, dalam pengetahuan, kuasa, dan kebenaran /ketelitian. Karena itu, ketetapanNya tidak bisa diubah karena ketidaktahuan,atau ketidakmampuan untuk melaksanakan ketetapanNya, atau ketidaksetiaan pada rencanaNya)
    - hal 401.


  • “For the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are of course all of them certain events”


    (= Untuk pikiran ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari makhluk kekal untuk mana tidak ada urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present / sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa yang pasti)
    - hal 402.


Loraine Boettner, ‘TheReformed Doctrine of Predestination’:


Solar System
Credit; nasa.gov
  • Since the universe had its origin in God and depends on Him for its continued existence it must be, in all its parts and at all times, subject to His control so that nothing can come to pass contrary to what He expressly decrees or permits. Thus the eternal purpose is represented as an act of sovereign predestination or foreordination, and unconditioned by any subsequent fact or change in time.Hence it is represented as being the basis of the divine foreknowledge of all future events, and not conditioned by that foreknowledge or by anything originated by the events themselves”


    (= Karena alam semesta mempunyai asal usulnya dalam Allah dan tergantung kepadaNya untuk keberadaan seterusnya, maka alam semesta itu harus, dalam semua bagian-bagiannya dan pada setiap saat, tunduk pada kontrolNya sedemikian rupa sehingga tidak ada apapun bisa terjadi bertentangan dengan apa yang Ia secara jelas tetapkan atau ijinkan. Jadi rencana kekal digambarkan sebagai suatu tindakan dari predestinasi atau penentuan lebih dulu yangberdaulat, dan tidak disyaratkan oleh fakta atau perubahan apapun yang terjadi berikutnya dalam waktu. Karena itu maka hal itu digambarkan sebagai dasar dari pengetahuan lebih dulu dari Allah tentang semua peristiwa yang akan datang, dan tidak disyaratkan oleh pengetahuan lebih dulu itu atau oleh apapun yang ditimbulkan oleh peristiwa itu sendiri)
    - hal 14.

  • “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” (= Orang yang menganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; orang Arminian berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang spesifik; tetapi orang Calvinist mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang spesifik yang mencakup semua peristiwa /kejadian dalam semua jaman) - hal22-23.

  • “His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestina­tion. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and over ruled for the divine glory” (= Pemilihan rencanaNya, atau penetapanNya supaya penciptaan terjadi sesuai urut-urutan ini, kami sebut penentuan lebih dulu atau predestinasi dari Allah. Bahkan tindakan-tindakan berdosa dari manusia tercakup dalam rencana ini. Mereka itu dilihat lebih dulu, diijinkan,dan mempunyai tempat mereka yang persis / tepat. Mereka dikontrol dan dikuasai untuk kemuliaan ilahi) - hal24.


  • “Even the sinful acts of men are included in the plan and are over ruled for good” (= Bahkan tindakan-tindakan berdosa manusia termasuk dalam rencana ini dan dikuasai untuk kebaikan) - hal 29.


    "Ilustrasi (CWIS Canon"
    Although the sovereignty of God is universal and absolute,
    it is not the sovereignty of blind power
  • “Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one.Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, orchance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self?Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left”


    (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yangmenolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada)
    - hal 32.


  • “But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise,and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled withman’s free agency. All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do”


    (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia. Semua yang perlu kita ketahui adalah bahwa Allah memang memerintah atas ciptaanNya dan bahwa penguasaan / kontrolNya atas mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pemaksaan terhadap mereka. Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: Allah memberikan dorongan / bujukan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan dirinya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan)
    - hal 38.


  • “The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case,be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders theevents certain, while foreknowledge presupposes that they are certain” (= Keberatan Arminian terhadap penentuanlebih dulu, mengandung / menghasilkan kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah.  Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan pengetahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu)- hal 42.


  • “Common sense tells us that no events can be foreknown unless by some means, either physical ormental, it has been predetermined. Our choice as to what determines the certainty of  future events narrows down to two alternatives – the foreordination of the wise and merciful heavenly Father, or the working of blind, physical fate”(= Akal sehat memberitahu kita bahwa tidak ada peristiwa apapun yang bias diketahui lebih dulu kecuali hal itu telah ditentukan lebih dulu dengan cara tertentu, baik secara fisik atau mental / pikiran. Pilihan kita berkenaan dengan apa yang menentukan kepastian dari peristiwa-peristiwa yang akan datangmenyempit menjadi hanya dua pilihan / kemungkinan - penentuan lebih dulu dari Bapa surgawi yang bijaksana dan penuh belas kasihan, atau pekerjaan dari nasib/ takdir fisik yang buta) - hal 42.


  • “Yet unless Arminianism denies the foreknowledge of God, it stands defenseless before the logical consistency of Calvinism; for foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination”(= Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) - hal 44.


  • “This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed” (= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada) - hal 45.


Herman Hoeksema, ‘Reformed Dogmatics’:


Sun Earth day
- Credit : NASA
  • “For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world” (= Untuk alasan yang sama Alkitab selalu menekankan fakta bahwa Allah menentukan segala sesuatu dan mengetahui mereka sejak sebelum dunia dijadikan) - hal157.

  • “Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission indistinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds ofmen is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power  without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have aplace in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught bythe Word of God. For it is certainly according to the deter­minate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with the Gentiles and Israel,are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to servethe cause of God’s covenant”



    (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijinmensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bias menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah. Karena adalah pasti bahwa sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dari Allah bahwa Kristus dipakukan di kayu salib, dan bahwa Pilatus dan Herodes, dengan orang-orang non Yahudi dan Israel, berkumpul bersama-sama menentang anak Yesus yang kudus. Karena itu lebih baik berkata bahwa Tuhan juga dalam rencanaNya membenci dosa danmenentukan hal itu supaya apa yang Ia benci itu terjadi sehingga Ia bias menyatakan kebencianNya atas hal itu dan untuk melayani penyebab dari perjanjian Allah)
    - hal158.



Herman Bavinck, ‘The Doctrine of God’:
  • “All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man” (= Semua kejadian / peristiwa termasuk /tercakup dalam rencana itu, bahkan juga tindakan-tindakan berdosa dari manusia) - hal 342.

  • “God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, ...”(= Ketetapan Allah adalah rencana kekalNya dengan mana Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi. Kitab Suci dimana-mana menegaskan bahwa apapun yang ada dan yang akan terjadi merupakan realisasi dari pemikiran dan kehendak Allah, dan mempunyai asal mula dan gagasannya dalam rencana atau ketetapan kekal) - hal369.


  • “Furthermore, God’s thought, embodied in creation, cannot be conceived of as an uncertain idea, doubtful of realization; it is not a ‘bare knowledge’ that receives its contents from creation; it is not a plan, a project, or purpose whose execution can be frustrated”(= Selanjutnya, pikiran Allah, diwujudkan dalam ciptaan, tidak bisa dimengerti sebagai gagasan yang tidak pasti, realisasi yang meragukan; itu bukan ‘sekedar suatu pengetahuan lebih dulu’ yang menerima isinya dari ciptaan; itu bukanlah suatu rencana, suatu proyek, atau suatu tujuan yang pelaksanaannya bisa bias digagalkan / dihalangi) - hal 370.

  • “God’s counsel is no more an act that pertains to the past than is the generation of the Son; it is eternal, divine act, eternally finished, yet continuing forevermore, apart from and raised above time. Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a longtime God would have been without purpose and without a will; neither is it aplan once for all completed and finished and simply awaiting execution. But God’s decree is the eternally active will of God: it is the willing and purposing God himself; it is not something accidental to God, but being God’s will in action, it is one with his essence. It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will.Nevertheless, all this does not conceal the fact that God’s decree is an‘immanent work’ determined by nothing else than by God himself, and distinct in character from God’s works in time, Acts 15:18; Eph 1:4”



    (= Rencana Allah, sama seperti tindakanBapa memperanakkan Anak, bukanlah suatu tindakan yang berhubungan dengan waktulampau; tetapi itu adalah suatu tindakan ilahi yang kekal, sudah selesaidilakukan secara kekal, tetapi tetap berlangsung selama-lamanya, terpisah daridan diangkat di atas waktu. Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh suatu periode pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk suatu waktu yang lama Allah ada tanpa rencana dan tanpa kehendak; jugaitu bukanlah suatu rencana yang sudah dilengkapi dan diselesaikan sekali untukselamanya dan hanya menunggu pelaksanaan. Tetapi ketetapan Allah merupakankehendak yang aktif secara kekal dari Allah: itu adalah Allah yang menghendaki dan merencanakan sendiri; itu bukan sesuatu yang tidak bersifat hakiki yang ditambahkan pada diri Allah, tetapi merupakan kehendak Allah yang beraksi, ituadalah satu dengan hakekatNya. Adalah mustahil untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa rencana dan tanpa suatu kehendak yang aktif dan operatif. Sekalipun demikian, semua ini tidak menyembunyikan fakta bahwa ketetapan Allah adalah suatu ‘pekerjaan yang tetap ada ’ yang ditetapkan bukan oleh sesuatu yang lain apapun selain Allah sendiri, dan berbeda dalam sifatnya dengan pekerjaanAllah dalam waktu, Kis 15:18; Ef 1:4)
    - hal370.
Catatan: saya tidak pernah membaca tentang adanya ahli theologia Reformed lain yang mempunyai pandangan seperti yang dikatakan Bavinck di awal kutipan ini.



Herman Bavinck, ‘Our Reasonable Faith’:
  • The fact that things and events, including the sinful thoughts and deeds of men, have been eternally known and fixed in that counsel of God does not rob them of their own character but rather establishes and guarantees them all, each in its own kind and nature and in its own context and circumstances. Included in that counsel of God are sin and punishment, but also freedom and responsibility, sense of duty and conscience, and law and justice. In that counsel of God everything that happens is in the very same context it is in when it becomes manifest before our eyes.The conditions are defined in it quite as well as the consequences, the means quite as much as the ends, the ways as the results, the prayers as the answers to prayer, the faith as the justification, sanctification, and glorification”



    (= Fakta bahwa hal-hal dan peristiwa-peristiwa, termasuk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, telah diketahui dan ditetapkan secara kekal dalam rencana Allah,tidak menghapuskan karakter mereka sendiri tetapi sebaliknya meneguhkannya dan menjamin semuanya, masing-masing dalam jenisnya dan sifatnya sendiri dan dalam konteks dan keadaannya sendiri. Termasuk dalam rencana Allah itu dosa dan penghukuman, tetapi juga kebebasan dan tanggung jawab, perasaan kewajiban dan hati nurani, dan hukum dan keadilan. Dalam rencana Allah itu segala sesuatu yang terjadi ada dalam konteks yang sama seperti pada waktu itu terwujud di depanmata kita. Dalam rencana Allah itu syarat ditetapkan sama seperti akibat /konsekuensi, caranya maupun tujuannya, jalannya maupun hasilnya, doanya maupun jawaban doanya, imannya maupun pembenaran, pengudusan dan pemuliaannya)
    - hal 163.


John Murray, ‘Collected Writings of John Murray’, vol II:
  • “It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass” (= Adalah benar bahwa semua pilihan dan tindakan kita ditentukan lebih dulu, dan hanya tindakan-tindakan yang ditentukan lebih dulu yang akan terjadi)- hal 64.

  • “The foreknowledge of God presupposes certainty of occurrence; his foreordination renders all occurrence certain; by his providence what is foreordained is unalterably put into effect” (= Pengetahuan lebih dulu dari Allah mensyaratkan adanya kepastian dari kejadian-kejadian /peristiwa-peristiwa; penentuan lebih dulu yang tersembunyi membuat semua kejadian / peristiwa itu pasti; oleh providensiaNya apa yang ditentukan lebih dulu itu dilaksanakan / diberlakukan secara tidak berubah) - hal 65-66.

  • “The question here is that of the divine causality in connection with sin. ... There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. ... The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history - the crucifixion of our Lord - was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall”
    [= Yang dipertanyakan di sini adalah tentang penyebab ilahi dalam hubungannya dengan dosa. ... Ada penetapan lebih dulu atau penentuan lebih dulu dalam hubungannya dengan dosa. Kejatuhan Adam ditentukan lebih dulu oleh Allah dan karena itu kepastiannya dijamin. ... Dosa pertama, seperti semua dosa yang lain, dilakukan dalam batas-batas kuasa Allah yang menopang segala sesuatu, mengarahkan dan memerintah. Di luar ruang lingkup penentuan lebih dulu dan providensiaNya kejatuhan itu tidak akan bisa terjadi. Kejahatan terbesar dalam sejarah -penyaliban Tuhan kita - dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah (Kis 2:23). Demikian juga dengankejatuhan ke dalam dosa] - hal 72-73.



Gresham Machen, ‘The Christian View of Man’:
  • “How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple.The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan” (= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam rencana kekal Allah; tidak ada sedikitpun yang terjadi di luar rencana kekalNya) - hal 35.


Arthur Pink, ‘The Sovereignty of God’:
  • “To declare that the Creator’s original plan has been frustrated by sin, is to dethrone God. To suggest that God was taken by surprise in Eden and that He is now attempting to remedy an unforeseen calamity, is to degrade the Most High to the level of a finite, erring mortal”
    (= Menyatakan bahwa rencana orisinil dari sang Pencipta telah digagalkan oleh dosa, sama dengan menurunkan Allah dari tahta. Mengusulkan bahwa Allah dikejutkan di Eden dan bahwa Ia sekarang sedang mencoba mengobati bencana yang tadinya tidak terlihat, sama dengan merendahkan Yang Maha Tinggi sampai pada tingkat manusia yang terbatas dan bisa salah)- hal 21-22.



Arthur Pink, ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross”:
  • “It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events - a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two male factors, all unknown to himself, he was but putting into execu­tion the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should benumbered with the transgressors’ (Isa 53:12). ...Not a single word of God can fall to the ground .‘Forever, O LORD, Thy word is settled in heaven’ (Ps 119:89). Just as God had or­dained, and just as He had announced, so it came to pass”


    [= Bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari segala hari, atau dalam hubungannya dengan Peristiwa di antara segala peristiwa -suatu Hari dan Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tentukan terjadi persis seperti yang Ia tentukan, dan tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 krimi­nil, tanpa ia sendiri sadari,ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyata­kan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkansebagai pemberontak / pelanggar (Yes 53:12). ... Tidak satupun dari firmanAllah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Maz 119:89 - diterjemahkan dari KJV). Persis sepertiyang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan, begitulah halitu terjadi]
    - hal 24-25.


J. I. Packer, ‘Evangelism & The Sovereignty of God’:
  • “The prayer of a Christian is not an attempt to force God’s hand, but a humble acknowledgment of helplessness and dependence”(= Doa orang kristen bukanlah suatu usaha untuk memaksa tangan Allah, tetapi suatu pengakuan yang rendah hati tentang ketidakberdayaan dan ketergantungan) - hal 11.
  • “For it is not true that some Christians believe in divine sovereignty while others hold an opposite view. What is true is that all Christians believe in divine sovereignty, but some are not aware that they do, and mistakenly imagine and insist that they reject it”(= Karena tidak benar bahwa sebagian orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi sedangkan yang lain memegang pandangan yang sebaliknya. Yang benar adalah bahwa semua orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi, tetapi sebagian tidak menyadari hal itu, dan secara salah membayangkan dan berkeras bahwa mereka menolaknya)- hal 16.
  • “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes, indeed, in the same text. ... Man is a responsible moral agent, though he is also divinely controlled; man is divinely controlled, though he is also are sponsible moral agent”(= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan bersama-sama dalam Alkitab yang sama; kadang-kadang bahkan dalam teks  yang sama. ... Manusia adalah agen moral yang bertanggung  jawab, sekalipun ia juga dikontrol oleh Allah; manusia dikontrol oleh Allah, sekalipun ia juga adalah agen moral yang bertanggung jawab) - hal 22-23.

  • “In the Bible, divine sovereignty and human responsibility are not enemies. They are not uneasy neighbours; they are not in an endless state of cold war with each other. They are friends, and they work together



    (= Dalam Alkitab, kedaulatan ilahi dan tanggung jawabmanusia bukanlah musuh. Mereka bukanlah tetangga yang tidak cocok; mereka tidak ada dalam keadaan perang dingin yang tidak ada akhirnya satu dengan yang lain.Mereka adalah teman, dan mereka bekerja sama)
    - hal35-36.



Jerome Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’:
  • “We assert that God did from eternity decree to make man in His own image, and also decreed to suffer him to fall from that image in which he should be created, and thereby to forfeit the happiness with which he was invested, which decree and consequences of it were not limited to Adam only, but included and extended to all his natural posterity”
    (= Kami menegaskan bahwa Allah dari kekekalan menetapkan untuk membuat manusia menurut gambarNya, dan juga menetapkan untuk membiarkannya jatuh dari gambar itu di dalam mana ia diciptakan, dan dengan demikian kehilangan kebahagiaan dengan mana ia dilingkupi / diperlengkapi, dan ketetapan dan konsekuensi tentang hal itu tidak dibatasi pada Adam saja, tetapi mencakup dan mencapai semua keturunan alamiah / jasmaninya) - hal 87-88.


  • “That he fell inconsequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? ... Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, Hecertainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eter­nal,though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether manstood or fell’. But in what a shameful, unwor­thy light does this represent theDeity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are notthe very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial andworthless are subject to the appointment of His decree and the control of Hisprovidence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?”


    (= Bahwa ia jatuh sebagai akibat dari ketetapan ilahi kami buktikan demikian: Allah itu atau menghendaki Adam jatuh,atau tidak menghendaki, atau acuh tak acuh / tak peduli tentang hal itu. Jika Allah tidak menghendaki Adam melanggar, bagaimana mungkin ia melanggar? ...Tentu saja, jika Allah tidak menghendaki kejatuhan itu, Ia bisa, dan tidak diragukan Ia akan mencegahnya; tetapi Ia tidak mencegahnya: jadi, Ia menghendakinya. Dan jika Ia menghendakinya, Ia pasti menetapkannya, karena ketetapan Allah tidak lain adalah meterai dan pengesahan kehendakNya. Ia tidakmelakukan apapun kecuali apa yang telah Ia tetapkan, dan Ia tidak menetapkan apapun yang tidak Ia kehendaki, dan baik kehendak maupun ketetapan adalah kekal secara mutlak, sekalipun pelaksanaan keduanya ada dalam waktu. Satu-satunya cara untuk menghindarkan kekuatan dari pemikiran ini adalah dengan mengatakan bahwa ‘Allah bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli apakah manusia itu jatuh atau tetap berdiri’. Tetapi alangkah memalukan dan tak berharganya terang seperti ini dalam menggambarkan Allah! Mungkinkah bagi kita untuk membayangkan bahwa Allah bisa menjadi penonton yang malas dan tak peduli terhadap salah satu peristiwa yang terpenting yang akan terjadi? Bukankah ‘rambut kepala kita dihitung’? Atau apakah ‘seekor burung pipit jatuh ke tanah tanpa Bapa surgawi kita’? Jika hal-hal yang paling remeh dan tak berharga tunduk pada penentuan ketetapanNya dan pada kontrol dari providensiaNya, betapa lebih lagi manusia,karya terbesar dari ciptaan yang lebih rendah ini?)
    - hal 88-89.
Catatan: Jerome Zanchius sebetulnya tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed, karena ia hidup sejaman dengan Calvin, yaitu tahun 1516-1590, tetapi dalam persoalan ini jelas bahwa pandangannya adalah pandangan Calvinisme.




Ini adalah bagian terakhir dari artikel  yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali, M.Div


P O P U L A R - "Last 7 days"