0 Providence / Penentuan Dosa dan Tanggung Jawab Manusia (1)

By. Pdt. Budi Asali, M.Div

-


I. Pendahuluan & Definisi
A) Pendahuluan.

1)   Doktrin Providence of God / Providensia Allah ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita.


Calvin:

  • “Ignorance of Providence is the ultimate of all miseries; the high­est blessedness lies in the knowledge of it” (= Ketidaktahuan ten­tang Providensia adalah asal mula semua kesengsaraan; berkat yang terbesar terletak dalam pengenalan tentang providensia)- ‘Institutes of the Christian Religion’,Book I, Chapter XVII, No 11.


  • “Nothing is more profitable than theknowledge of this doctrine”(= Tidak ada yang lebih berguna dari pada pengenalan tentang doktrin ini) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 3.

Saya menuliskan hal ini pada bagian ‘Pendahuluan’ untuk memotivasi saudara mempelajari doktrin Providence of God ini. Tentang apa pentingnya / kegunaannya doktrin ini bagi kita, akan saya bahas di belakang (pelajaran VII).

Sekalipun doktrin Providence of God ini penting, tetapi doktrin ini tidak boleh diajarkan secara sembarangan kepada sembarang orang, karena:


  • Doktrin ini termasuk ‘makanan keras’ yang tidak cocok untuk bayi kristen, apalagi untuk orang yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

  • Doktrin ini bisa ditanggapi secara salah, khususnya kalau diajarkan kepada orang yang belum waktunya belajar doktrin ini.Ini saya bahas di belakang pada pelajaran VI, no 7.
Karena itu jangan menyebarkan ajaran ini / memberikan buku ini, kecuali kepada orang kristen yang sudah dewasa dalam iman, dan yang sudahmempelajari doktrin dasar Reformed yang lain, seperti Kedaulatan Allah,Predestinasi, dsb.

2)   Siapa saja tokoh-tokoh yang mempercayai / mengajarkan doktrin Providence of God ini?


Doktrin ini dipercaya dan diajarkan oleh: Agustinus, JohnCalvin, Martin Luther, Jerome Zanchius, John Owen, Charles Hodge, R. L. Dabney, Louis Berkhof, Loraine Boettner, William G. T. Shedd, Herman Hoek­sema, Herman Bavinck, G. C. Berkouwer, B. B. Warfield, John Murray, Gresham Machen, WilliamHendriksen, Arthur W. Pink, dsb. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satupun orang Reformed yang sejati yang tidak mempercayai doktrin ini. Juga doktrin ini masuk dalam Westminster  Confession of Faith, yang merupakan pengakuan iman dari gereja-gereja Reformed / Presbyterian di Amerika.


Catatan: untuk membuktikan kata-kata saya ini, maka di bagian belakang / terakhir buku ini saya memberikan banyak kutipan, baik dari Westminster Confession of Faith maupun dari Calvin dan dari para ahli theologia  Reformed.

Karena itu saya berpendapat bahwa:

  • orang yang mengaku dirinya Reformed, tetapi tidak percaya pada doktrin ini, sebetulnya paling banter hanyalah orang yang Semi-Reformed!

  • Jika ada orang mengatakan bahwa ajaran ini adalah ajaran Hyper-Calvinisme, maka itu berarti orang itu tidak mengerti apa Calvinisme itu, atau lebih jelek lagi,orang itu adalah seorang pemfitnah!


B) Definisi ‘Providence’.

Kalau dilihat dalam kamus, maka ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’. Tetapi dalam Theologia,‘Providence’ berarti lebih dari sekedar‘pemeliharaan baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana.Setidaknya itulah pandangan B. B. Warfield yang berkata:

“Hisworks of providence are merely the execution of His all-embracing plan” (= PekerjaanNya dalam providensia semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal.281.

Jadi sekalipun Providence berbeda dengan Rencana Allah, tetapi  keduanya berhubungan sangat erat.

LeonMorris (NICNT) - tentang 2Tes 2:11: “Godis not to be thought of as sitting passively by while all this is going on. Invariably the Bible pictures Him as taking part in the world’s drama. Indeed, the world’s drama is nothing other than the working out of His purposes”(= Allah tidak boleh dipikirkan sebagai duduk secara pasif sementara semua ini  berjalan / berlangsung. Alkitab selalu menggambarkan Dia sebagai ikut ambil  bagian dalam drama dunia ini. Memang, drama dunia ini tidak  lain dari pelaksanaan rencanaNya) - hal 233.

G. C. Berkouwer kelihatannya memberikan definisi tentang ‘Providence’ yang agak berbeda ketika ia berkata:

“...the Heidelberg Catechism when it, in Lord’s Day 10, describes Providence as the almighty and omnipresent power of God by which He upholds and governs all things(= ... Katekismus Heidelberg pada waktu katekismus itu, pada Hari Tuhan ke 10 ,menggambarkan Providensia sebagai kuasa Allah yang maha kuasa dan maha ada dengan mana Ia menopang dan memerintah segala sesuatu) - ‘Studies In  Dogmatics: The Providence of God’, hal 50.

Definisi dari G. C. Berkouwer ini mirip dengan definisi Calvin tentang ‘Providence’, karena Calvin berkata:

“...providence means not that by which God idly observes from heaven what takes place on earth, but that by which, as keeper of the keys, he governs all  events


(= ... providensia tidak berarti sesuatu dengan mana Allah dengan bermalas-malasan / tak berbuat apa-apa mengawasi dari surga apa yang terjadi dibumi, tetapi sesuatu dengan mana, seperti seorang penjaga kunci, Ia  memerintah segala kejadian) - ‘Institutes of the Christian Religion’,Book I, Chapter XVI, no 4.


Sedangkan John Owen menganggap bahwa ‘Providence’ merupakan semua pekerjaan Allah di luar diriNya.

John Owen:“Providence is a word which, in its proper signification, may seem to comprehend all the actions of God that outwardly are of him, that  have any respect unto his creatures, all his works that are not ad intra, essentially belonging unto the Deity”(= Providensia adalah suatu kata yang, dalam artinya yang benar, kelihatannya meliputi semua tindakan Allah yang ada di luar diriNya, yang berkenaan dengan ciptaanNya, semua pekerjaan-pekerjaanNya yang tidak termasuk ad intra, yang secara hakiki merupakan  milik Allah) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal31.

Catatan: pekerjaanyang termasuk ad intra adalah  pekerjaan-pekerjaan di dalam diri Allah Tritunggal, seperti ‘the eternal generation of the Son’ dan ‘the eternal procession of the Holy Spirit’.


II. Providence tidak mungkin gagal

A)      Rencana Allah sudah ada dalam  kekekalan.

Allah mempunyai rencana, dan seluruh rencana Allah itu sudah ada / sudah direncanakan dalam kekekalan.
Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya  secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk  masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita meren­canakan untuk masuk  perguruan tinggi tertentu.


Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita  merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa meren­canakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu.Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan. Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh rencanaNya  sejak semula!


Dasar Kitab Suci:

  • 2Raja 19:25- “Bukankah  telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah  merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.
  • Maz 139:16- “mataMu  melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.
  • Yes 25:1- “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.
  • Yes 37:26- “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.
  • Yes 46:10- “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai,dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan”.
  • Mat25:34 - “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”.
  •  Ef 1:4-5- “(4)Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan,supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.
  • 2Tes 2:13- “Akantetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu,saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam  kebenaran yang kamu percayai”.
  • 2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.


John Owen:  “If God’s determination concerning any thing should have atemporal original, it must needs be either because he then perceived somegoodness in it of which before he was ignorant, or else because some accident did affix a real goodness to some state of things which it had not from him; neither of which, without abominable blasphemy, can be affirmed, seeing he knoweth the end from the beginning”


(= Jika penentuan Allah tentang sesuatu apapun mempunyai  asal usul dalam waktu, itu pasti disebabkan atau karena Ia pada saat itu melihat suatu kebaikan dalam hal itu yang tidak diketahuiNya sebelumnya, atau karena ada suatu kecelakaan yang melekatkan kebaikan yang sungguh-sungguh pada  suatu keadaan yang tidak datang dari Dia; yang manapun dari dua hal ini tidak bisa ditegaskan tanpa melakukan suatu penghujatan yang menjijikkan, karena Ia mengetahui akhirnya dari semula)
- ‘The Works of John Owen’, vol 10,hal 20.


Memang dalam Kitab Suci ada ayat yang seolah-olahmenunjukkan bahwa Allah merencanakan suatu rencana tertentu dalam waktu (bukan  dalam kekekalan). Misalnya:


Yer 18:11 - Sebab itu,katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Beginilah firmanTUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamudan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing  bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmudan perbuatanmu!.


Tetapi pada waktu Allah berbicara dalam ayat ini, jelas Ia  sedang menyesuaikan diriNya dengan kapasitas / pengertian manusia. Kontextnya  sendiri juga demikian; baca Yer 18:8,10 yang mengatakan maka menyesallah Aku.



B)      Rencana Allah itu tidak mungkin berubah / gagal.

Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa  mengubah rencanaNya, dan percaya bahwa rencana Allah bisa gagal. Sebetul­nya ini merupakan suatu penghinaan bagi Allah, karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya!
Orang Reformed percaya bahwa rencanaAllah tidak mungkin berubah ataupun gagal.

Charles Hodge:“Change of purpose arises either from the want of wisdom or  from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be  with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention”


(= Perubahan rencana timbul atau karena  kekurangan hikmat atau karena kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas  dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang  tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan  jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan dari maksud / rencana yang semula)
- ‘SystematicTheology’, vol I, hal 538-539.


John Owen:“Whatsoever God hath determined, according to the counsel of  his wisdom and good pleasure of his will, to be accomplished, to the praise of  his glory, standeth sure and immutable” (= Apapun yang Allah telah tentukan, menurut rencana hikmatNya dan kerelaan kehendakNya, untuk terjadi, untuk memuji kemuliaanNya,berdiri teguh dan tetap / tak berubah)- ‘The Works of John Owen’, vol 10,hal 20.


William Hendriksen:“God’s eternal decree is absolutely unchangeable and is sure  to be realized”(= Ketetapan kekal Allah secara mutlak tidak bisa berubah dan pasti akan terwujud) - ‘The Gospel of John’, hal 250.


William G. T. Shedd mengutip kata-kata Augustine (dari buku ‘Confession’, XII. xv.) yang berbunyisebagai berikut:

“Godwilleth not one thing now, and another anon; but once, and at once, and always, he willeth all things that he willeth; not again and again, nor now this, now  that; nor willeth afterwards, what before he willed not, nor willeth not, what before he willed; because such a will is mutable; and no mutable thing is  eternal”(= Allah tidak menghendaki sesuatu hal sekarang, dan sebentar lagi menghendaki yang lain; tetapi sekali, dan serentak, dan selalu, Ia menghendaki semua hal  yang ia kehendaki; bukannya lagi dan lagi, atau sebentar ini sebentar itu; atau  menghendaki setelahnya apa yang tadinya tidak Ia kehendaki, atau tidak  menghendaki apa yang tadinya Ia kehendaki; karena kehendak seperti itu bisa  berubah; dan tidak ada hal yang bisa berubah yang kekal) - ‘Shedd’s DogmaticTheology’, vol I, hal 395.

Ada banyak alasan / dasar yang menyebabkan kita harus  percaya bahwa Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya atau gagal dalam mencapai  rencanaNya, yaitu:


1)   Adanya ayat-ayatyang secara jelas menunjukkan bahwa rencana Allah tidak mungkin gagal, seperti:

  • Bil 23:19- “Allah  bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia  menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

  • 1Sam 15:29- “Lagi  Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia  bukan manusia yang harus menyesal”.
  • Maz 33:10-11- “(10)TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku  bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya  turun-temurun”.
  • Yer 4:28- “Karena  hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku  telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan  tidak akan mundur dari pada itu”.

2)   Kemahatahuan Allah.
Pada waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu apakah  rencanaNya akan berhasil atau gagal? Kalau Ia tahu bahwa rencanaNya akan  gagal, lalu mengapa Ia tetap merencanakannya?



3)   Kemahabijaksanaan  Allah.
Kebijaksanaan Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana  yang terbaik. Kalau rencana ini lalu diubah, maka akan menjadi bukan yang terbaik.Ini tidak mungkin!

4)   Kemahakuasaan Allah.
Manusia sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa  mengubah rencananya karena ia tidak maha kuasa, sehingga tidak mampu untuk  mencapai / melaksanakan rencananya. Tetapi Allah yang maha kuasa tidak mungkin  gagal mencapai rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya! Ini terlihatdari ayat-ayat di bawah ini:

  • Yes 14:24,26-27- “(14)TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang  Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27)TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

  • Yes 25:1- “YaTUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur  bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.

  • Yes 37:26 - “Bukankah telah  kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah  merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa  engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

  • Yes 43:13- “Juga seterusnya Aku  tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku  melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.


5)   Kedaulatan Allah.
Kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah  rencanaNya, karena perubahan rencana membuat Ia menjadi tergantung pada situasi  dan kondisi (tidak lagi berdaulat).


C)      Providence / pelaksanaan Rencana Allah tidak mungkin gagal.

Dasar Kitab Suci dari pandangan ini:

  • Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub   kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu,  dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.
  • Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta  alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud,demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan  terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh  bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN  semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya  telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

  • Yes 46:10-11 - “(10) yang  memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang  belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala  kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur,dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah  mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya,  maka Aku hendak melaksanakannya”.

Charles Hodge:“If He foreordains whatsoever  comes to pass, then events  correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose  that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs” (= Jika Ia menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi,maka peristiwa-peristiwa akan cocok / sama dengan rencanaNya; dan adalah  bertentangan dengan akal dan Kitab Suci untuk menganggap bahwa ada kontradiksiatau ketidak  cocokkan antara apa yang Ia maksudkan dan apa yang sungguh-sungguhterjadi) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 323.

Contoh:

1)   Allah merencanakan supaya Rut dan Boas menikah dan dari pernikahan itu mereka menurunkan Yesus /Mesias.
Kelihatannya Rencana Allah ini sukar terlaksana karena Rut  ada di Moab  dan Boas ada di Yehuda. Tetapi Allah yang maha kuasa itu mengatur sehingga hal  itu akhirnya terjadi juga, sehingga mereka menikah dan akhirnya menurunkanYesus (baca Rut 1-4).

2)   Allah merencanakanbahwa Yesus akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1 Luk 2:1-7). Kelihatannya Rencana Allah yang satu ini akan gagal,karena Maria sudah hamil besar dan pada saat itu ia masih ada di Nazaret.  Tetapi Allah mengatur dengan menggerakkan hati kaisar untuk mengadakan sensus  (bdk. Amsal 21:1) sehingga Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem dan  akhirnya Yesus lahir di Betlehem.




D)      Problem ‘Allah menyesal’.

Ada banyak ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah  menyesal, seperti Kej 6:5-6  Kel 32:7-14  1Sam 15:11a,35b Yes 38:1,5  Yer 18:8  Yunus 3:10  Amos 7:3,6. Apakah ini berarti bahwa  Allah mengubah RencanaNya? Saya menjawab: Tidak!

Penjelasan:

1)   Prinsip Hermeneutics yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menafsirkan suatu bagian Kitab Suci sehingga  bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci.

a)   Karena itu, maka penafsiran  ayat-ayat pada point D)  ini tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat padapoint B) dan C) di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa kata-kata ‘Allahmenyesal’ dalam ayat-ayat di sini memang menunjukkan bahwa Allah mengubah rencanaNya, maka jelas bahwa ayat-ayat ini akan bertentangan denganayat-ayat pada point B) dan C) di atas.

b)   Juga dalam Kitab Suci adabanyak ayat yang menyatakan bahwa Allah tidak mungkin menyesal. Contoh:

  •  Bil 23:19 - Allah  bukanlah  manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak  manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya,atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

  • 1Sam 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak  tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.’”.

  • Maz 110:4 - “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkauadalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.’”.

  • Yeh 24:14 - “Aku, TUHAN, yang mengatakannya. Hal itu akan datang, dan Aku yang  akan membuatnya. Aku tidak melalaikannya dan tidak merasa sayang, juga tidak  menyesal. Aku akan menghakimi engkau menurut perbuatanmu, demikianlah  firman Tuhan ALLAH.’”.

  • Zakh 8:14 - “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: ‘Kalau dahulu Aku  telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam”.
  • Ibr 7:21 - “tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan oleh Dia yang berfirman  kepadaNya: ‘Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau  adalah Imam untuk selama-lamanya’”.

2)   ‘Allah menyesal’adalah bahasa Anthropopathy.
Kitab Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism  (bahasa yang menggam­barkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaanmanusia). Kalau Kitab Suci menggunakan bahasa Anthropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul demikian.

Misalnya pada waktu dikatakan tangan Allah tidak kurang panjang (Yes 59:1), atau pada waktu dikatakan mata TUHAN ada di segala tempat (Amsal 15:3), ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempunyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh(Yoh 4:24).

Contoh lain adalah Kel 31:17b - “sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat”. NIV menterjemahkanseperti Kitab Suci Indonesia,tetapi KJV, RSV, NASB menterjemahkan secara berbeda.

KJV: ‘for in six days the LORD made heaven andearth, and on the seventh day he rested, and was refreshed (= karena dalam enam hari TUHAN membuat  langit dan bumi, dan pada hari ketujuh Ia beristirahat, dan segar kembali).

Jelas bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat ini seakan-akan  Allahnya loyo setelah bekerja berat selama enam hari, dan lalu setelah  beristirahat pada hari yang ketujuh, Ia lalu segar kembali / pulih kekuatanNya! Ayat ini hanya menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia yang bisa  letih, dan bisa segar kembali.

Demikian juga pada waktu Kitab Suci menggunakan  Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia), maka kita tidak boleh mengartikan bahwa Allahnya betul-betul sepertiitu. Contohnya adalah ayat-ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.



Perlu juga saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu. Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia  menyangka gadis itu seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah,barulah ia tahu akan adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang  tadinya tidak ia ketahui. Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri  gadis itu.



Tetapi Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah  tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!



Kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena  terjadinya sesuatu hal, maka maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak  menyenangkan Allah. Calvin mengatakan bahwa ‘Allah menyesal’ hanya menunjukkan perubahan tindakan.


Calvin: “Now the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to  consider that this expression has been taken from our  human experience; because  God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled  and angered. So we ought not to understand anything else under the word‘repentance’ than change of action, ...”


(= Cara penyesuaian adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala kekacauan pikiran, tetapi Ia menyaksikan bahwa Ia marah terhadap orang-orang berdosa.Karena itu setiap saat kita mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan  penghakiman, menunjukkan diri seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain  perubahan tindakan, ...)
- ‘Institutes of the Christian Religion’,Book I, Chapter XVII, no 13.

3)   Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti bahwa hal itu ditinjau darisudut pandang manusia.

Illustrasi:
Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah piki­ran/ rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa  ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.

Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang  dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudutAllah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan /penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.


4)   Kel 32:7-14,secara khusus menunjukkan bahwa kata-kata ‘Allah menyesal’ atau ‘menyesallah TUHAN’ (ay 14) tidak  bisa diartikan secara hurufiah, karena kalau diartikan secara hurufiah, maka bagian ini menunjukkan bahwa Allah menyesal setelah dinasehati oleh Musa!


Kel 32:7-14- “(7) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, turunlah,sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. (8) Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’


(9) Lagi firman TUHAN kepada Musa:‘Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. (10) Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murkaKu bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat  menjadi bangsa yang besar.’ (11) Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN,Allahnya, dengan berkata: ‘Mengapakah, TUHAN, murkaMu bangkit terhadap umatMu,yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?


(12) Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa  mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh  mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murkaMu  yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umatMu. (13) Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel,hamba-hambaMu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diriMu  sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak  bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan  kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.’ (14) Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatNya”
.


Catatan:  lebih-lebih kalau kita melihat dalam terjemahan KJV/RSV, dimana untuk kata‘menyesal’ digunakan kata ‘repent’ (= bertobat), ini menjadi makin tidakmasuk akal.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata-kata ‘Allah menyesal’dalam Kitab Suci, tidak menunjukkan bahwa Allah bisa mengubah rencanaNya!


Bersambung ke Bagian 2



P O P U L A R - "Last 7 days"