0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (36/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Keempat
Dengan Jalan Demikian Allah Telah Menggenapkan Apa Yang Telah Difirmankan-Nya Dahulu

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Kamis, 9 September 2016- telah diedit dan dikoreksi)

Bacalah lebih dulu: “bagian 35

Jika semua mau memperhatikan  dua tabel pertama dan satu tabel lainnya, maka begitu jelas terlihat apakah yang Yesus Sang Mesias miliki dan apakah yang tak dimiliki manusia dalam sebuah takaran yang tak dapat diukurkan oleh manusia. Sebab, siapakah yang sanggup menakarkan apa yang dimiliki Yesus menjadi satuan-satuan ukur yang dapat diupayakan manusia sehingga juga dimiliki? Dalam cara yang begitu gamblang, Yesus telah menunjukan “siapakah ia” dan “apakah tujuannya datang ke dalam dunia ini” dalam sabda dan kuasa penuh otoritas yang menempatkan setiap manusia adalah hamba-hamba ketakberdayaan pada apa yang paling tidak diinginkannya: maut. Tentu ini memang benar-benar otentik, misalkan saja:


Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"- Matius 19:16

 Atau

Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."- Yohanes 6:33-34


Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."- Yohanes 4:15


Yang mana pada ketiga peristiwa di atas tersebut, mengangkat pertanyaan terbesar dan terpenting bagi manusia: apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?


Pertanyaan yang menjadi jembatan emas bagi terbangunnya sebuah relasi bagi manusia terhadap Yesus Sang Mesias, dimana pada “jembatan emas yang ada karena Yesus,” Yesus adalah jalan sekaligus tujuan tunggal untuk tempat bertanya dan sumber untuk menerima jawaban kebenaran pasti yang berkenan pada Allah. Ketika Yesus Sang Mesias telah menjadi salah satu rujukan diantara para rabi atau guru-guru agama bagi manusia untuk bertanya, akankah Yesus memberikan jawaban yang merupakan salah satu dari banyak jawaban di antara guru-guru agama Yahudi? Akankah Yesus Sang Mesias memberikan semacam racikan moralitas dan perbuatan-perbuatan baik yang akan mengisi dan memberikan bobot aktual pada kehidupan  rohani dan keberimanan mereka yang berporos pada pembangunan diri, terlepas dari Yesus Sang Mesias?



Tiga jawaban atau tanggapan Yesus terhadap tiga situasi dalam teks-teks di atas, telah menunjukan bahwa Ia menyentralkan dirinya secara absolut dan ialah jawaban dan ialah sumber kehidupan kekal, sehingga jika berbicara apa yang harus dilakukan, maka jawabannya bukan seset komposisi  moralitas dan perbuatan-perbuatan baik berbasis kitab suci, sehingga itu semua akan memberikan sebuah bobot yang berkualitas tinggi dan mulia pada kehidupan rohani dan keberimanan orang tersebut, tetapi instruksi ini: “datanglah kepadaku,” sebagaimana pada jawaban-jawaban atas 1 pertanyaan dan 2 permintaan di atas tadi:

═Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."- Matius 19:21  


═Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.- Yohanes 6:35


═tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."-Yohanes 4:14


Inilah yang merupakan pondasi dan sumber tujuan kedatangan Yesus Sang Mesias ke dalam dunia ini, berdasarkan siapakah ia terhadap manusia, siapakah ia terhadap problem “bagaimana memperoleh hidup kekal.”


Mengapa ini begitu penting bagi orang-orang Yahudi untuk begitu dipedulikan selama hidup di dunia? Karena kehidupan Israel bersentral pada bagaimana kehidupan mereka secara total dalam kesepenuhan hidupnya tunduk pada sabda dan kehendak Tuhan, sebab kehidupan mereka pada dasarnya fana atau akan menuju kebinasaan pada akhirnya.  Bagaimana dalam kehidupan demikian mereka berjuang untuk taat pada Allah dan firman-Nya, sebagaimana terlihat pada representasi ayat-ayat berikut ini:


═Amsal 11:30 Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang. [“pohon kehidupan” sebagaimana pada Kejadian 3:24]


═Mazmur 39:1-7 Pikirku: "Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku." Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat. Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku: "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti. Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.


Kita tahu bahwa  kebenaran Daud di hadapan Allah memang bukan berdasarkan kebenaran yang diperjuangkannya di hadapan Allah, sebab sebetulnya, Ia pun seharusnya berakhir sama dengan  raja Saul, raja yang digantikan Daud, mati! “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."- 2 Samuel 7:15-16


Tetapi dalam hal ini pun, yang selama-lamanya adalah “keluarga atau keturunan” bukan manusia Daud sendiri; “Kerajaan” tetapi Daud sebagai raja tidak selama-lamanya;  “takhta Daud” tetapi Daud sendiri tidak akan mendudukinya dalam keabadian.” Kasih setia Tuhan bagi Daud “kokoh selama-lamanya,” dengan demikian, tidak sedang menunjukan kehidupan manusia yang selama-lamanya  sebagaimana pada Sang Mesias dan yang dibawanya masuk ke dalam dunia oleh Mesias yang adalah Sang Firman yang menjadi manusia sehingga barangsiapa yang menerima dirinya akan benar-benar memiliki hidup selama-lamanya sebagai sebuah kasih karunia:

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"- Yohanes 11:25-26


Siapakah Yesus Kristus dan apakah tujuannya datang ke dalam dunia ini, dengan demikian, memang memiliki kuasa atas takhta pemerintahan yang berdomisili di dunia ini dan kuasanya memang harus bekerja di dunia ini sebagaimana ia secara relasi pada setiap individu yang menjadi percaya kepada-Nya. Yesus sendiri meletakan dirinya sebagai penggenapKeluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya” yang sejak  Daud telah disingkapkan Allah, bahwa Kerajaan Israel pada keturunan Daud akan berlangsung berdasarkan “mendapatkan kasih setia Tuhan” sebagai pondasi bagi terjadinya “kokoh untuk selama-lamanya” dalam makna generas-generasi Daud akan terus bertakhta  pada takhta Daud, bukan kekekalan seorang raja. Inilah  problem keras saat  tokoh atau pemimpin Yahudi berhadapan dengan Yesus dalam soal Dia Yang menduduki takta Daud selama-lamanya. Bagi orang Yahudi “selama-lamanya” dalam makna dari generasi ke generasi dinasti Daud selama-lamanya, bukan satu raja selama-lamanya. Sang Mesias menjelaskan bahwa Dialah penggenapnya dalam cara yang lebih mulia dari apapun yang dipahami kemanusiaan para guru agama Yahudi. Yesus mengajarkan kebenaran ini, dengan berkata: “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat” (Markus 12:35-27) yang mana ini sedang menunjukan bahwa  Sang Mesias adalah penerus takhta Daud atau keturunan Daud secara biologis dan sekaligus dialah satu-satunya, yang tak pernah terjadi pada suksesor-suksesor terdahulu,  raja yang abadi di dunia sebagaimana kekal di sorga.



Ini menunjukan bahwa setelah Yesus Kristus, tidak akan ada lagi  keluarga Daud yang akan menduduki takhta Daud, sebab Yesus adalah kekal dan bahkan sumber kehidupan kekal bagi manusia. Taktha Daud, dengan demikian, ketika di duduki oleh Yesus, telah membuat Kerajaan Daud di bumi ini adalah satu-satunya ketetapan Allah yang dapat memberikan kehidupan kekal. Kebenaran dan titah Sang Raja adalah kebenaran dan hidup. 

Perhatikanlah pernyataan-pernyataan Sang Mesias, Raja Orang Yahudi berikut ini:


Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.- Yohanes 5:24

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Yohanes 6:47-48

Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.- Yohanes 6:50

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."- Yohanes 6:51

“Yang kuberikan itu ialah daging-Ku” merupakan pernyataan tergamblang oleh Yesus tentang dirinya sendiri bahwa  sabda dan kebenaran hidup keselamatan dari Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan hidup kematian tidak terletak secara terisolasi pada sabda yang didengarkan dan yang penaatannya harus diperjuangkan hingga terwujud atau melembaga atau hingga pada akhirnya membebaskan diri si pengikut Yesus dari maut, terbukti telah sempurna penaatannya. Tidak seperti itu, tetapi  berdasarkan presentasi tubuh-Nya sebagai sebuah sabda yang bekerja pada setiap orang mati dalam perbudakan maut untuk menerima pemerdekaan dari iblis.
 




Pada “Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" telah menunjukan bahwa Yesus memenuhi aspek keturunan secara biologis atau keturunan keluarga Daud, sekaligus, pada saat yang sama, adalah Dia adalah Yang Kekal tak bermula dan tak berkesudahan.  Ia memang datang sebagai penerus takhta Daud yang tak hanya berkedudukan di bumi untuk memiliki pengaruh secara politik di dunia, tetapi terutama, pada kala itu, mengangkat atau mengemukakan dirinya sebagai Raja yang berkuasa atas kerajaan iblis. Perhatikan ini: “Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” (Matius 15:21-28). Ini adalah episode yang menakjubkan dan sekaligus menggemparkan, sebab di sini Yesus sebagai penerus takhta Daud memang benar-benar menunjukan ia adalah Raja bagi siapakah dan ia  adalah Raja dari sebuah kerajaan yang hanya akan melayani dan membela rakyatnya atau semua kepunyaannya saja, sehingga inilah jawaban yang keluar dari mulut Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”


Perempuan Kanaan ini begitu mengenali bahwa ia bukanlah warga Kerajaan Israel yang rajanya sekarang berdiri di hadapannya; ia tahu dan sadar sekali bahwa dirinya adalah seorang Kanaan yang tak pantas menerima kesejahteraan dan menerima  pertolongan dari sang Raja Israel itu. Namun perempuan Kanaan itu memohon sebuah belas kasihan yang tak lazim dan tak mungkin untuk dilakukan bahkan oleh para pemimpin imperium dahsyat manapun juga yang ada di dunia ini, sebab yang dimintakan perempuan Kanaan itu membutuhkan kuasa yang berkuasa dan berotoritas absolut atas setan yang merasuki anak perempuannya. Sama sekali bukan kekuatan militeristik, politis dan apalagi pada dunia rasional manusia.


Perempuan Kanaan itu berkata kepada Sang Raja Kerajaan Israel, Anak Daud itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya," yang menunjukan bahwa ia tahu siapakah ia dihadapan raja dari sebuah Kerajaan Asing  baginya tetapi berkuasa atas semua manusia tak peduli ia bukan warga-Nya, asalkan saja Sang Raja mau sekedar berbelas kasihan padanya walau itu sekedar remah-remah!


Perempuan Kanaan itu benar-benar memiliki kesadaran diri bahwa sebagai warga asing pada sebuah kerajaan bangsa tertentu itu, tak ada sedikit saja bagi Sang  Raja sebuah dasar atau kewajiban (sebagaimana, kini era modern, pemerintah Indonesia tak berkewajiban dalam cara apapun untuk harus memberikan kesejahteraan pada seorang warga negara India sebagaimana kepada warga Negara Indonesia itu sendiri) untuk berbuat baik baginya; ia sadar sekali bahkan ketika Sang  Raja menginjinkannya berdiam di sekitar meja makan bagi rakyat-Nya untuk menantikan jatuhan berkat-berkat-Nya bagi rakyatnya, itu sebuah keluarbiasaan  yang mampu untuk membebaskan puterinya.


Perempuan Kanaan itu tidak hanya mengenali Yesus sebagai raja dengan yuridiksi politik hanya bagi bangsa Israel tetapi sebagai raja dengan Yuridiksi yang tak terbatas pada semua manusia terkait pembebasan dari perbudakan setan! Itu sebabnya Yesus pun pernah menyatakan bagaimana dominasinya atas pemerintahan iblis dihadapan rakyatnya atau domba-dombanya yang terhilang, bahwa ia adalah Raja Kerajaan Allah yang menggunakan sebuah kerajaan dunia yang seharusnya dibinasakan  namun hidup berdasarkan kasih setia janji-Nya untuk bisa hadir memerintah di dunia ini atas manusia-manusia dunia dari segala bangsa dan suku, dan untuk menaklukan pemerintahan iblis beserta kerajaannya atas dunia dan semua manusia dari segala bangsa dan suku, sebagaimana yang dinyatakan oleh Yesus Sang Mesias sendiri  saat baru saja mengusir penghulu setan:

“Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat. Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud." Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, iapun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.- Matius 12:22-28


Ia datang untuk apa dan siapakah ia,dalam Sang Firman telah menjadi manusia dan telah tinggal diantara manusia (Yohanes 1:1,14), dengan demikian sangat erat dan tak terpisahkan dengan 2 natur kerajaannya sebagaimana 2 natur pada Sang Raja: natur Ia adalah raja dari kerajaan Israel dan natur Ia  adalah raja dari kerajaan Allah yang berkuasa dan berotoritas atas kerajaan iblis yang secara  frontal dinyatakannya dengan berkata: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Terkait ini, rasul Paulus menyatakan Sang Raja  memiliki  2 natur, yaitu biologis yang menunjukan bahwa ia secara politik adalah dari dinasti Daud, dan ke-Allah-annya yang menunjukan bahwa ia adalah Allah itu sendiri atau Anak Allah berdasarkan kesaksian  nabi-nabi:

Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” –Roma 1:2-4.


Apa yang menjadi mahkota pada apakah tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia ini berdasarkan Siapakah Ia,  sementara ia tak menyanggah sama sekali aspek politik bahwa ia adalah raja dari sebuah kerajaan tertentu pada sebuah bangsa di bumi ini dalam sebuah pernyataan yang sangat tajam menanggapi seruan perempuan KANAAN:


"Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud

Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel

"Tuhan, tolonglah aku."

Yesus: Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing


Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya

Yesus: Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki



Tetapi harus dicamkan, ia juga terhadap domba-domba terhilangnya telah menghadirkan dirinya sebagai Sang Raja Israel yang berotoritas atas dosa/maut dan iblis- yang berkuasa atas kehidupan kekal atau hidup yang dimerdekaan dari perbudakan maut atau dosa ketimbang sebagai Raja Israel yang berotoritas secara politis sementara memang ia memiliki pengaruh secara politis di eranya.  

[Yesus sendiri tidak menolak bahwa Ialah Raja penerus takhta Daud bahkan Ia sendiri telah memasuki Yerusalem sebagai Sang Raja Israel pembawa Damai bagi rakyatnya: "Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai. Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia” (Yohanes 12:12-16). Ini bukan sekedar sambutan bagi Sang Raja Israel secara politis-secara biologis  tetapi sekaligus  sebagaimana yang telah Allah firmankan harus terjadi: “seperti ada tertulis: Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keleda, yang merupakan nubuat yang dituliskan oleh Nabi Zakharia:” Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Zakaria 9:9). Sementara Yesus memaklumatkan bahwa dialah yang dimaksudkan oleh para nabi-nabi Israel: Sang Raja Israel yang datang dari atau yang diurapi Allah berdasarkan tulisan para nabi kudus-Nya, ia menolak segala bentuk pemaklumat dirinya sebagai  raja Israel berdasarkan pemikiran-pemikiran kekuasaan atau politik dan kesejahteraan duniawi, seperti pada  2 kasus ini: “Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri”(Yohanes 6:12-15) dan “Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya" (Yohanes 6:25-27). Konflik pengharapan berdasarkan siapakah Raja itu dan apakah tujuan Raja itu menajam begitu runcing saat Sang Raja berada di atas kayu salib: “Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. (Matius 27:37-44, yang merupakan peristiwa yang begitu memilukan dan begitu menghempaskan penyambutan penuh kemuliaan di Yerusalem telah berubah menjadi penyambuat penuh penistaan sebelum ia ditinggikan dari atas bumi pada sebuah tiang kayu-kayu salib: Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan”(Matius 27:27-31). Ia datang ke Yerusalem sebagai Raja Yahudi penerus takta Daud selama-lamnya dan telah ditinggikan dalam 2 natur peninggian sebagaimana ia adalah Sang Raja yang memiliki 2 natur: ia telah ditinggikan sebagai raja Yahudi dalam sebuah kemegahan jasmaniah menggenapkan apa yang telah ditulskan para nabi dan sekaligus tak dapat dipisahkan: ia telah ditinggikan sebagai Raja dari Kerajaan Allah, Anak Allah yang harus ditinggikan dari atas bumi ini pada salib untuk menaklukan maut dan iblis sehingga ia memerintah sebagai satu-satunya pemberi hidup dan satu-satunya Pembebas dari perhambaan maut, sebagaimana ia sendiri mengajarkannya berkali-kali-diantaranya: “Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan" (Matius 20:17-19). Raja Israel- Sang Penerus takhta Daud selama-lamanya telah menggenapi 2 aspek “kerajaan dirinya raja” namun sama sekali tak ada yang dapat memahaminya. Yesus secara terbuka telah menunjukan begitulah Sang Raja dimuliakan di Yerusalem: “Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:23-24)… Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini (Yohanes 12:27)… dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati (Yohanes 12:32-33). Satupun tidak ada yang dapat mengertinya sebab tak satupun memahami hukum Taurat sebagaimana dirinya: “Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi” (Yohanes 12:34-35)]



Mari perhatikan hal-hal berikut ini:

Yohanes 8:21-36 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."


Orang-Orang Yahudi senantiasa memandang keistimewaan politisnya atau kebangsaan biologisnya yang bernama “kami adalah keturunan Abraham” untuk menyanggah vonis Yesus: mereka  bukan orang-orang merdeka sehingga tidak akan mengetahui kebenaran yang membuat mereka dimerdekakan.


Itu adalah vonis yang berat namun telak, menunjukan keterbudakan pada pemerintahan dosa. Mereka buta atas realitas  aktual ini. Mereka, bagi Sang Raja, adalah budak sekalipun berkata: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata; kamu akan merdeka?



Apakah tujuan kedatangan Yesus kedalam dunia ini, maka kemuliaannya adalah: Ia datang sebagai Sang Mesias Yang Membebaskan, tetapi jelas terlihat bahwa apa yang menjadi pembebasan Yesus oleh  kerajaannya sendiri bukan pada aspek politis, sosial, budaya dan segala macam kekontemporeran semacam: menjadi merdeka untuk hidup dalam dosa, merdeka untuk hidup dalam ketakberdayaan homoskeskualitas, merdeka untuk hidup dalam ketakberdayaan seks pada anak-anak dibawah umur, merdeka untuk hidup didalam penyimpangan-penyimpangan kejiwaan, dan lain sebagainya yang merupakan kehidupan yang tak berdasarkan kekudusan Allah.


Bagi Yesus, sementara ia juga adalah raja yang memiliki aspek politisnya, namun tak ada kekuatan politis dunia ini yang dapat mengatasi problem keterbudakan manusia pada dosa dan maut! Inilah problem yang mengerikan yang menjajah mereka atau domba-dombanya, jadi bukan  imperium-imperium di dunia ini sementara mereka berada dalam pendudukan imperium Romawi.


Bagi Yesus pendudukan imperium Romawi bukanlah tuan atas kemautan Israel dan semua manusia, tetapi:  ketidakmengenalan mereka akan kebenaran yang Yesus sampaikan. Sang Mesias bahkan menunjukan secara gamblang pada imperium yang jauh lebih mematikan daripada segala imperium jasmaniah di sepanjang peradaban dunia ini. Perhatikan perkataan atau sabda Yesus berikut ini:


Yohanes 8:42-44 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.



Jelas terlihat bahwa Sang Raja dan Kerajaan-Nya yang hadir sebagai Ia Sang Firman telah turun ke dalam dunia ini dalam rupa manusia (Yohanes 1:1,14), telah menunjukan bahwa  kedatangannya  memiliki tujuan untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan iblis. Di sini menjadi terlihat bahwa Israel dan segala bangsa di dunia ini memiliki problem yang sama, yaitu didalam perbudakan iblis.


Perbudakan iblis yang sedang dikemukakan oleh Yesus, tak perlu atau tak harus ditandai dengan ciri-ciri otentik kerasukan Setan seperti pada kasus puteri dari seorang ibu  berkebangsaan Kanaan dan pada seorang buta dan bisu yang kerasukan penghulu setan, tetapi berdasarkan pada apakah mengerti sehingga menerima kebenaran perkataan atau sabda/firman Yesus, sebagaimana Yesus menyatakan bahwa fenomena ini adalah realitas manusia dalam perbudakan iblis: Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.



Apa yang menjadi misi atau tujuan Yesus  kedalam dunia pada totalitasnya atau pada kesatuannya adalah merupakan tujuan pemerintahan Allah di dunia ini. Ia berfokus pada problem manusia yang berada di dalam perbudakan iblis atau pada problem abadi manusia yang bertautan dengan iblis. Mengapa Allah  berkuasa penuh untuk berurusan dengan problem manusia terhadap iblis dan dosa? Karena Allah tak memiliki problem dengan iblis dan dosa.


Sehingga memang benar, bahwa pada dasarnya memang bisa saja dibinasakan seketika saja kedua problem itu. Tetapi sekalipun demikian, tidak sebagaimana logika pendeta Dr. Erastus Sabdono mempersepsikan dan mengantisipasi  bahaya, yang merupakan kegusaran jiwa pendeta Erastus Sabdono  yang telah dirupakannya dalam wujud konsepsi yang berbunyi:


Pernah timbul pertanyaan yang sulit untuk menemukan jawabnya : Mengapa ketika Lusifer beserta para malaikat yang dihasutnya memberontak kepada Allah, Allah tidak segera membinasakan mereka seketika itu juga dan menghukumnya ? Kalau pada waktu mereka memberontak, Allah segera atau seketika itu membinasakan mereka,maka tidak akan ada kejatuhan manusia dalam dosa. Dunia tidak akan menghadapi bencana oleh sepak terjang Lusifer dan para malaikat yang jatuh tersebut.”




Sementara ia terus menyelam ke kedalaman pemikiran dan perenungannya, ia mengabaikan realitas iblis di taman Eden yang telah dihakimi, dihukum dan dikutuk [bacalah “bagian 32”] namun tidak dibinasakan segera, karena Allah telah memasukan ke dalam sejarah manusia yang berada dalam perbudakan iblis: pikiran-Nya dan kehendak penyelamatan-Nya sebagai Allah pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, yang telah ditetapkannya harus berlangsung sebagaimana dikehendaki-Nya untuk terjadi dan digenapi secara pasti, yaitu: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya"- Kejadian 3:15, pada sebuah waktu yang telah ditetapkan-Nya.


Perhatikan penjelasan  yang disampaikan rasul Kristus ini:


Kisah Para Rasul 3:18-22 Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu.


Yang mana ini beranjak dari sabda Yesus sendiri kepada para rasulnya sewaktu ia di dunia:

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."- Lukas 10:23-24


Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?"- Yohanes 5:46-47



Mengapa iblis tak dibinasakan segera?
Jawaban langsung untuk pertanyaan atau problem pendeta Erastus Sabdono ini adalah pada bagaimana Allah menautkan secara langsung apa yang disabdakannya tepat secara langsung pada kesudahan iblis yang harus berjalan dibawah pemerintahan firman-Nya, atau ”dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi.”


Yesus atau momen penggenapan “Sang Firman menjadi manusia dan tinggal diantara manusia” (Yohanes 1:1,14) adalah pusaran tunggal yang menjelaskan mengapakah iblis tak dibinasakan seketika pemberontakan terjadi, dibiarkan berlama-lama.


Bahkan agenda utama Allah terkait penghukuman dan pembinasaan iblis, bukan pada manusia. Itupun Allah tak bercelah di hadapan iblis sehingga membutuhkan manusia yang mau dan berkualitas untuk menjadi barang bukti kejahatan iblis atau corpus delicti, berdasarkan pembangunan dan pencapaian kepemilikan karakter ilahi, agar pantas! Sehingga  apa yang dikatakan dan diajarkan sebagai agenda Allah dalam penciptaan manusia,sebagaimana ajaran pendeta Erastus:




Adalah sebuah kesalahan fatal yang menyesatkan siapapun yang diajarkan, sebab bahkan Sang Mesias sendiri tak pernah mengajarkan. Para rasul Kristus pun tidak. Bukan karena mereka lebih bodoh dan masih primitif, sebab Roh Kudus yang menuntun mereka sebagai yang diutus Bapa bagi mereka, adalah Allah. Allah kekal dan mahatahu dan bebas dari kesalahan yang bagaimanapun!

Tetapi memang telah Allah letakan pada Yesus Kristus:”keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Itu sebabnya terkait mengapa Ia datang ke dalam dunia ini, Yesus telah menyatakan berkaitan dengan keselamatan manusia yang terletak pada dirinya sendiri:


Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.- Yohanes 3:16-18


Yesus Sang Mesias, juga telah menyatakan bahwa Ialah yang berkuasa untuk melemparkan penguasa dunia ini, yaitu iblis yang memperbudak manusia melalui kematiannya sebagaimana para nabi telah menuliskannya:


Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.- Yohanes 12:23-24


Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.- Yohanes 12:27


Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;- Yohanes 12:31


Bahkan setelah peristiwa Salib dan darah Kristus yang telah menguduskan  para pengikut Kristus dari dosa, tak segera juga iblis dibinasakan, itu dikarenakan bahwa pembinasaan iblis harus dilakukan terkait dengan waktu atau saatnya bagi Yesus Sang Raja untuk menuai segala kepunyaannya yang segera diikuti pembinasaan iblis:


Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan….  Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Matius 25:31-34,


Berdasarkan Yesus Sang Mesias, maka: satu-satunya penyebab tunggal iblis tak segera dibinasakan sekalipun ia telah usai melakukan penyucian (Ibrani 1:1-3) adalah bagaimana ia sendiri menempatkan saat yang mana Ia dating ke dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, akan bersemayam di atas takhta kemuliaa-Nya untuk menghakimi segala bangsa dan memisahkan domba-domba kepunyaannya dari kebinasaan yang telah dipersiapkan, pertama-tama, bagi iblis dan malaikat-malaikatnya.


Pada pokoknya Allah tak memiliki agenda bagi manusia terkait bagaimana iblis akan dibinasakan, tetapi agenda semacam itu ada di tangan kekuasaan Yesus Sang Raja, sementara anak-anaknya tak sama sekali dibebani untuk membangun karakter ilahi untuk tujuan membantu Allah dari kebercelahannya dihadapan iblis, dengan cara menjadi bukti kejahatan iblis berdasarkan membangun karakter ilahi tadi (yang mana membangun karakter ilahi dan memilikinya, sama sekali bukan barang bukti kejahatan atau corpus delicti yang membungkam iblis!).


Bersambung ke bagian37

Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah



P O P U L A R - "Last 7 days"