0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (33/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Keempat
Sama Seperti Musa Meninggikan Ular, Demikian Juga Anak MAnusia Harus Ditinggikan

 (Lebih dulu di “Bible Alone”-Jumat, 3 September 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 32

Itu sebabnya di sepanjang perjanjian lama tidak akan pernah ditemukan relasi Allah dengan manusia bersimpangan dengan konsepsi pendeta Dr. Erastus yang menyatakan Allah bercela di hadapan iblis sehingga IA menciptakan manusia dengan agenda yang melibatkan manusia untuk melakukan pembuktian corpus delicti melawan iblis untuk menutupi kebercelaan Allah. Sebaliknya, Allah berkuasa atas umatnya, segenap manusia, segenap kejahatan di dunia ini dalam cara yang begitu keras, yaitu pembinasaan seketika pada apapun yang dikehendaki-Nya, dengan sebuah tujuan agar umat-Nya mengenal Siapakah IA yang tak berkenan pada kejahatan dalam IA begitu mengasihi umat-Nya. Tetapi sebelum kita melihat kedaulatan pemerintahan Allah dalam menghukum hingga membinasakan apapun juga kejahatan di dunia yang telah menjadi wilayah kekuasaan iblis tanpa iblis itu sendiri dapat menentang Allah, mari terlebih dahulu kita melihat siapakah Allah berdasarkan penyingkapannya kepada nabi Musa:

Keluaran 33:17-23 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."


Keluaran 34:1-8 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan. Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu. Tetapi janganlah ada seorangpun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorangpun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapipun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu." Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.

Kepada Musa, Allah telah bukan saja memperkenalkan siapakah Ia tetapi menyatakan Ia mulia tak bercela dan tak dapat didekati siapapun juga yang tak sekudus-Nya atau ia binasa. Bahkan di sini kekudusan-Nya tidak memerlukan bukti atau corpus delicti untuk menunjukan apakah kesalahan atau kejahatannya sehingga harus binasa dihadapannya selain kekudusan-Nya sendiri itulah hakim bagi siapapun dan apapun juga. Itu sebabnya Musa, sekalipun, membutuhkan kasih karunia (bukan perlindungan) berupa tindakan kasih Tuhan yang begitu kudus untuk mengasihinya sebagai yang dikasihi-Nya dan dikehendaki-Nya utuk mengenal-Nya: " Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.” 



Karena ini adalah natur penghakiman Allah, bahwa penghakiman itu secara absolut berdasarkan kekudusan-Nya semata, maka kita bisa memahami siapakah Yesus kala ia bersabda seperti ini:


Yohanes 6:22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak

Yohanes 6:27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.


Kepada Musa, bahkan, Allah juga memperkenalkan eksistensinya di dalam alam semesta ini sebagai satu-satunya yang berdaulat dan berkuasa dan tak ada satupun baik apapun dan siapapun yang dapat menahan dirinya dan yang dapat membuat dirinya harus memperhitungkan apapun dan siapapun di luar dirinya sebagai yang wajib diperhitungkan pada apapun dan siapapun itu selain ia hanya akan memperhitungkan pada dirinya yaitu apakah yang telah menjadi rancangannya berdasarkan maksud dan pikirannya serta bagaimanakah semua itu terjadi dan terwujud sebagaimana maksud dan pikirannya. Perhatikanlah bagaimana Allah menyatakan dirinya kepada Musa:” TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Juga jelas terlihat bahwa kepada Musa, Allah sama sekali tak menunjukan adanya problem kebercelaannya di hadapan iblis, sebab sejak di taman Eden, penghakiman dan penghukumannya telah dilakukan dan sedang berlangsung hingga pada puncaknya sebagaimana yang ia telah pikirkan dan maksudkan telah dan harus terjadi.


Itu sebabnya segala instruksi atau sabda Allah kepada umatnya senantiasa berpusat pada Ia mahakudus tak bercela yang mengasihi manusia agar tidak hidup didalam dosa tetapi di dalam hidup berdasarkan mengasihi-Nya dan mentaati-Nya yang akan menutun mereka kepada berkat-Nya:


Ulangan 28:1-14 Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu….


Kita melihat secara jelas betapa Ia sangat sentral dalam kehidupan bukan saja pada bangsa Israel tetapi juga segenap bumi (maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu) sehingga ketaatan yang dituntut Allah kepada umat-Nya, sejak semula, semata-mata ketaatan untuk mentaati Tuhan demi berkat keselamatan mereka sendiri dan demi kemuliaan nama TUHAN itu sendiri dihadapan manusia-manusia. Tidak ada sama sekali problem pembuktian corpus delicti yang membutuhkan manusia atau umat-Nya, sebab Ia tak berdaya menyediakannya sendiri.


Sementara memang terlihat begitu menyolok bahwa Allah melimpahkan berkat-berkat jasmaniah yang melimpah kepada umat-Nya, itu bukan sama sekali sedang menunjukan betapa Allah dalam perjanjian lama sedang membangun relasi rohani dengan bangsa Israel secara  dangkal ketimbang dengan  bangsa Yahudi pada era perjanjian baru. Mengapa dikatakan demikian? Sebab konsekuensi tidak mentaati bukan belaka membatalkan berkat semacam “diberkatilah buah kandungmu, hasil bumimu” sehingga tidak membahayakan kesejahteraan dan keamanan keselamatan jiwa, kecuali jasmaniah saja. Tidak demikian! Sebab beginilah dampak dari tidak mentaati itu:


Ulangan 28:15-46 Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau: Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang. Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu. Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku. TUHAN akan melekatkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa. Juga langit yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawahpun menjadi besi. TUHAN akan menurunkan hujan abu dan debu ke atas negerimu; dari langit akan turun semuanya itu ke atasmu, sampai engkau punah. TUHAN akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu. Bersatu jalan engkau akan keluar menyerang mereka, tetapi bertujuh jalan engkau akan lari dari depan mereka, sehingga engkau menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. Mayatmu akan menjadi makanan segala burung di udara serta binatang-binatang di bumi, dengan tidak ada yang mengganggunya. TUHAN akan menghajar engkau dengan barah Mesir, dengan borok, dengan kedal dan kudis, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh. TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal, sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong. Engkau akan bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi orang lain akan menidurinya. Engkau akan mendirikan rumah, tetapi tidak akan mendiaminya. Engkau akan membuat kebun anggur, tetapi tidak akan mengecap hasilnya………. (34) Engkau akan menjadi gila karena apa yang dilihat matamu. …… (45) Segala kutuk itu akan datang ke atasmu, memburu engkau dan mencapai engkau, sampai engkau punah, karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepadamu; (46) semuanya itu akan menjadi tanda dan mujizat di antaramu dan di antara keturunanmu untuk selamanya."


Bukan sama sekali soal Allah dalam perjanjian lama dangkal dalam membangun pondasi relasi dengan manusia berdasarkan cara kita menakarkannya pada janji-janji berkat yang melulu duniawi, tetapi dalam cara demikianlah Allah mengajarkan manusia untuk tidak mengejar berkat-berkat duniawi sebagai motivasi hidup mengikut Tuhan tetapi harus berdasarkan mengasihi-Nya dan siapakah Ia!  Yesus Kristus sendiri telah menunjukan dirinya adalah Sang Firman  yang telah memberkati Israel yang juga menuntut sebuah relasi yang menuntut ketaatan sekalipun ia memberkati mereka. Bandingkanlah dengan episoden ini: Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.- Yohanes 6:25-36.



Jika mengasihi-Nya maka  pondasi relasi yang diusahakan manusia adalah berdasarkan pondasi yang Allah bangunkan, yaitu “mendengarkan suara Tuhan dan memperhatikan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepada-Mu.” Sebuah kehidupan relasi yang juga dibawa Yesus ke dalam dunia, hanya saja berdasarkan dirinya Sang Pembawa Kasih Karunia Bapa bagi dunia yang berkenan atau menerima kebenaran-Nya: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yohanes 14:15). Bukan kebenaran atau kehidupan berdasarkan ketaatan kepada hukum Taurat secara tak bercela.










Itu sebabnya tujuan Yesus datang ke dalam dunia ini, juga bukan berkaitan dengan sangkaan pendeta Erastus bahwa Allah bercela dihadapan iblis sehingga membutuhkan partisipasi manusia untuk menjadi corpus delicti yang diasumsikannya sebagai membangun karakter ilahi pada setiap anak-anak Allah sehingga dapat menjadi bukti kejahatan atau corpus delicti yang membungkam iblis, tetapi sebagaimana Sang Mesias sendiri telah berkata: Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:17-18) sebab pada faktanya tidak ada penggenapan secara tak bercela oleh manusia selain berdasarkan pemilihan Tuhan saja:


Bilangan 16:1-35 Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?" Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia. Dan ia berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya: "Besok pagi TUHAN akan memberitahukan, siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat kepada-Nya…… (20) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: Pisahkanlah dirimu dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejap mata….. (28) Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu. Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: "Jangan-jangan bumi menelan kita juga!" Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.



Keselamatan Allah berdasarkan ketaatan pada hukum-hukum Tuhan oleh manusia, hanya menunjukan ketakberdayaan manusia. Sejak Musa, keselamatan bahkan pada keselamatan nyawa dari kematian jasmani telah berlangsung berdasarkan tindakan kasih  karunia Allah, yaitu berdasarkan pemilihannya saja, tepat sebagaimana yang kita saksikan pada kitab Bilangan. Dan ini  bukan hal yang baru pasca hukum Taurat, karena keselamatan berdasarkan kasih karunia dari tengah-tengah pembinasaan telah dilakukan-Nya sejak sebelum Musa naik ke gunung Sinai:


Ulangan 21:4-9 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak." Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.


Relasi Allah dengan umatnya berporos pada diri-Nya dengan segenap kemahakudusan-Nya, kemahasempurnaan-Nya, kebesaran kasih setia-Nya untuk mengasihi dan memberkati serta kemahakudusan-Nya yang tak dapat berkompromi sedikit saja dengan dosa, selain dibinasakan!


Sejak semula pasca  kejatuhan di taman Eden, sebelum Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima hukum Tuhan yang kudus, keselamatan jiwa umat-Nya tidak pernah terjadi berdasarkan ketaatan tak bercela pada hokum-hukum kudus-Nya tetapi tindakan kasih karunia-Nya dan didalam kasih karunia-Nyalah kemudian kekudusannya ditegakan dan dibangunkan di dalam diri setiap yang menjadi pilihan-Nya atau yang dipisahkan-Nya dari dunia ini.


Relasi Allah dengan manusia, dengan demikian, tak pernah sama sekali seperti yang diajarkan oleh pendeta Erastus Sabdono. Allah tak pernah sama sekali memperhitungkan apapun dan siapapun di luar dirinya sendiri, sebab hanya dialah dasar kebenaran dan hanya dialah yang menjadi sumber ketaatan dan dasar menyelenggarakan hidup. Allah tak pernah kehidupannya didikte atau dikendalikan sesaat saja oleh semacam ketakberdayaan, sebab Allah senantiasa berdaya terhadap ketakberdayaan manusia terhadap kekudusan-Nya dan ketakberdayaan manusia terhadap perhambaan maut  yang terjadi sejak peristiwa kejatuhan manusia di taman Eden.


Relasi Allah dengan manusia sejak sebelum hukum Taurat dan setelah hukum Taurat adalah kasih karunia. Kasih karunia yang lahir dari kemahakudusan Allah dalam Ia mengasihi manusia, untuk menanggulangi ketakberdayaan manusia untuk mentaati secara tak bercela hukum-hukum kudus Allah, dan ketakberdayaan manusia atas pemerintahan maut oleh iblis. Itu sebabnya Yesus Sang Mesias ketika datang ke dalam dunia ini, juga sama sekali tak membicarakan pembuktian corpus delicti atau Allah bercela di hadapan iblis sehingga membutuhkan anak-anak manusia yang mau menjadi corpus delicti atau bukti kejahatan yang memberatkan iblis. Sebab memang tak pernah terjadi sebagaimana sangkaan pendeta Erastus dalam pengajarannya yang bernama “pembuktian corpus delicti.” Yesus sebaliknya menunjukan relasi manusia dan Allah ada  pada satu-satunya kebenaran: Allah adalah mahakudus dan mahakasih yang ingin menyelamatkan manusia dari perhambaan maut akibat pemberontakan manusia terhadap hukum dan ketetapan kudus Allah terhadap manusia. Perhatikan sabda Yesus  berikut ini:


Yohanes 3:13-15 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.


Dengan demikian, keselamatan berdasarkan kasih karunia dan bukan berdasarkan ketaatan pada hukum Taurat, bukan sama sekali kebenaran yang bertentang dengan Allah sejak era Musa, tetapi sebuah keniscayaan yang harus Allah lakukan sehingga  setiap janji berkat dan keselamatan dari-Nya terpenuhi. Bukan hanya Musa yang menunjukan realitas ini, tetapi nabi Yesaya pada  Kitab  Yesaya bab 53 yang telah disajikan pada bagian 32 juga menunjukan keselamatan berdasarkan kasih karunia yang menggenapi tuntutan Taurat: seorang manusia yang menjadi kurban untuk penebusan manusia-manusia yang dimurkai Allah, sehingga selamat:

Yesaya 53:9-10 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.


Itu sebabnya, berdasarkan hukum Taurat dan kitab para nabi, berdasarkan sabda Yesus Sang Penggenap hukum Taurat dan kitab para nabi, telah menunjukan apakah sejatinya relasi Yesus terhadap manusia-manusia yaitu anak-anak Allah di dunia ini, yaitu:


Galatia 3:19-25 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran--sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu--dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.


Galatia 3:10-13 Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"


Kita harus memperhatikan bahwa senantiasa Allah yang mahakasih, mahakudus dan bertindak menyelamatkan manusia bukan berdasarkan ketaatan hukum Taurat, akan senantiasa menjadi sentral kehidupan saya dan anda di dalam kasih-Nya yang telah menebus saya dan anda. Itulah satu-satunya agenda Allah bagi manusia yang hidup di dalam kasih karunia Allah. Tidak ada agenda lain apapun juga terkait problem iblis, seolah-olah Allah bercela dihadapan iblis seperti yang diusung dalam ajaran pembuktian corpus delicti. Satu-satunya agenda kudus bagi manusia-manusia tebusan Kristus yang disampaikan oleh rasul Paulus adalah:

Galatia 6:4-10 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.


Kehidupan kita bersentral pada Allah yang kudus dan mengasihi dalam cara memberikan kasih karunia, dan didalam kehidupan semacam ini, kekudusan Allah hanya dapat ditegakan secara tak bercela jika kita mengasihi secara otentik pada orang-orang yang juga telah dikasihi Allah dalam cara kasih karunia-Nya sebagaimana  pada diriku dan mungkin juga anda. Pada kehidupan semacam inilah gereja Tuhan di dunia dapat menghadirkan secara nyata terang Kristus di dunia “biarkanlah gandum dan lalang tumbuh bersama.” Dengan kata lain, semua orang yang tak menerima Yesus dan tak mengakui keselamatan yang datang dari Kristus dapat melihat kehidupan berbuat baik yang tak jemu-jemu itu telah dilakukan didalam sebuah kehidupan yang telah ditebus dari maut untuk masuk ke dalam kehidupan pengampunan dan pengudusan Allah. Pada momen seperti ini saja sabda Kristus yang berbunyi "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:14-16)" dapat digenapi di dunia ini oleh anak-anak Allah.




Itulah agenda saya dan anda sebagai anak-anak Allah, bukan sama sekali menjadi corpus delicti terkait Allah bercela dihadapan iblis.


Bersambung ke bagian 34


Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah


P O P U L A R - "Last 7 days"