0 Pembahasan I PETRUS 3:18-20 (2)



Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


pembahasan I PETRUS 3:18-20 (2)


Bacalah lebih dulu bagian 1

5) Yesus, melalui Roh Kudus, melakukan pemberitaan kepada roh-roh yang dalam penjara setelah kebangkitanNya, atau pada waktu kenaikanNya ke surga.


Louis Berkhof: “Bavinck considers this untenable and interprets the passage as referring to the ascension, which he regards as a rich, triumphant, and powerful preaching to the spirits in prison” (= Bavinck menganggap ini tidak bisa dipertahankan dan menafsirkan bahwa teks ini menunjuk pada kenaikan, yang ia anggap sebagai suatu pemberitaan / khotbah yang kaya, menang dan berkuasa kepada roh-roh dalam penjara) - ‘Systematic Theology’, hal 341.


Catatan:
yang dimaksud dengan ‘this’ / ‘ini’ dalam kutipan di atas adalah penafsiran Berkhof tentang 1Pet 3:18-20. Tetapi dari buku Bavinck yang lain, yang saya kutipkan di bawah ini, kelihatannya Bavinck mempunyai 2 kemungkinan pandangan, dan ia tidak menganggap pandangan Berkhof sebagai tidak dapat dipertahankan. Sebaliknya ia tetap menganggapnya sebagai suatu kemungkinan.



Herman Bavinck: “in 1Peter 3:19-21 Peter in any event is not speaking of what Christ did between His death and resurrection; he is speaking, rather, of what Christ did through His Spirit before the incarnation in the days of Noah, or of what He did after His resurrection when He was already made alive in the Spirit. There is in Scripture not the slightest ground for teaching a spatial descent into hell” (= dalam 1Pet 3:19-21 Petrus sama sekali tidak berbicara tentang apa yang Kristus lakukan antara kematian dan kebangkitanNya; tetapi ia berbicara tentang apa yang Kristus lakukan melalui RohNya sebelum inkarnasi pada jaman Nuh, atau tentang apa yang Ia lakukan setelah kebangkitanNya pada waktu Ia sudah dihidupkan dalam Roh) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 365.



Dari kata-kata Berkhof di atas kelihatannya Bavinck menganggap bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke surga itu sendiri dianggap sebagai suatu pemberitaan kepada roh-roh yang dalam penjara. Kalau benar demikian, saya berpendapat bahwa penafsiran Bavinck yang diceritakan oleh Berkhof ini sebagai suatu penafsiran yang menarik. Tetapi dari buku Bavinck yang lain dikatakan sebagai berikut: “He (Peter) says that Christ after having been quickened by the spirit went up into heaven (for the words ‘went’ and ‘is gone’ of 1Peter 3:19 and 22 the Greek has the same word, so that the addition in verse 22 of ‘into heaven’ simply designates where He went), and that at His ascension He preached to the spirits in prison His victory, and took His place at the right hand of God, angels and authorities and powers being made subject to Him” [= Ia (Petrus) berkata bahwa Kristus, setelah dihidupkan oleh roh, naik ke surga (untuk kata-kata ‘pergi’ dan ‘naik’ dari 1Pet 3:19 dan 22 bahasa Yunani mempunyai kata yang sama, sehingga penambahan kata-kata ‘ke sorga’ dalam ay 22 hanya menunjukkan kemana Ia pergi), dan bahwa pada kenaikanNya Ia memberitakan kemenanganNya kepada roh-roh dalam penjara, dan mengambil tempatNya di sebelah kanan Allah, dan malaikat-malaikat dan pemerintah-pemerintah dan kuasa-kuasa dibuat tunduk kepadaNya] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 373.



Penafsiran ini kelihatannya sama / sangat mirip dengan penafsiran Herman Hoeksema yang berkata sebagai berikut: “the apostle is not speaking here at all of a personal descent of Christ into prison after His crucifixion and before His resurrection, but of a going to preach to the spirits that were in prison after His resurrection and through the Spirit. ... ‘spirits in prison’ ... this so very clearly refers to the ungodly in Noah’s day, ... the apostle does not speak with one word, nor even suggest in any way, that these spirits in prison were delivered and taken to heaven by Christ. The text simply informs us that He ‘preached’ to them. And the word used here for ‘preached’ does not mean at all that He preached the gospel unto them, but simply that He proclaimed, announced, something as a herald” (= sang rasul di sini sama sekali tidak sedang berbicara tentang turunnya Kristus secara pribadi ke dalam penjara setelah penyaliban dan sebelum kebangkitanNya, tetapi tentang kepergian untuk memberitakan kepada roh-roh yang ada dalam penjara setelah kebangkitanNya dan melalui Roh. ... ‘roh-roh dalam penjara’ ... ini begitu jelas menunjuk kepada orang-orang jahat pada jaman Nuh, ... sang rasul tidak berbicara dengan satu katapun, atau bahkan mengusulkan dengan cara apapun, bahwa roh-roh dalam penjara ini dibebaskan dan dibawa ke surga oleh Kristus. Text ini hanya memberi informasi kepada kita bahwa Ia ‘memberitakan / berkhotbah’ kepada mereka. Dan kata yang digunakan di sini untuk ‘memberitakan / berkhotbah’ sama sekali tidak berarti bahwa Ia memberitakan Injil kepada mereka, tetapi hanya bahwa Ia memberitakan atau mengumumkan sesuatu sebagai seorang utusan / pejabat yang bertugas untuk mengumumkan) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 410.


Catatan: kalau Bavinck mengatakan bahwa pemberitaan tersebut terjadi pada saat ‘kenaikan’, maka Hoeksema mengatakan ‘setelah kebangkitan’. Dan dalam buku yang sama, hal 411, Hoeksema mengatakan “after His resurrection and exaltation” (= setelah kebangkitan dan pemuliaanNya). Tidak jelas apa yang ia maksud dengan ‘exaltation’ (= pemuliaan), karena dalam Kristologi ini bisa menunjuk pada kebangkitan, kenaikan, duduknya di sebelah kanan Allah, maupun kedatangan keduakalinya sebagai Hakim (yang terakhir ini tidak mungkin merupakan maksud dari Hoeksema).



6) Roh dari manusia Yesus memberitakan Injil di Hades kepada orang-orang yang mati dalam ketidakpercayaan pada jaman Nuh.

a)   Yang memberitakan Injil adalah roh dari manusia Yesus.
Pulpit Commentary: “It should read, ‘in the spirit,’ not ‘by the Spirit.’ There is no reference here to the work of God the Spirit, to whom elsewhere the resurrection of Christ is attributed; it is here simply a contrast between Christ’s flesh and his spirit. His spirit did not die; it was raised by the death of the flesh into new energy, and he became able to do what before was impossible. He had often thought of this: ‘I, if I be lifted up from the earth, will draw all men unto me.’” [= Itu harus ditafsirkan / dimengerti sebagai ‘dalam roh’, bukan ‘oleh Roh’. Ini tidak berhubungan dengan pekerjaan Allah Roh (Kudus), yang di tempat lain dikatakan membangkitkan Kristus; di sini ini hanya menunjukkan kontras antara daging Kristus dan rohNya. RohNya tidak mati; rohNya diangkat oleh kematian daging ke dalam kekuatan / tenaga yang baru, dan Ia jadi bisa melakukan apa yang sebelumnya mustahil. Ia telah sering memikirkan ini: ‘Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu’] - hal 157.

Seorang penafsir lain dari Pulpit Commentary (hal 133-135) juga mengatakan bahwa 3:18 berbicara bukan tentang Roh Kudus, tetapi tentang roh dari manusia Yesus.


Pulpit Commentary: “Thus the literal translation is, ‘Being put to death in flesh, but quickened in spirit.’ ... by pneuma  in this verse we are to understand, not God the Holy Ghost, but the holy human spirit of Christ. In the flesh he was put to death, but in his spirit he was quickened” [= Karena itu terjemahan hurufiahnya adalah: ‘Dibunuh dalam daging, tetapi dihidupkan dalam roh’. ... kita harus menafsirkan kata pneuma  (PNEUMA = roh) dalam ayat ini tidak menunjuk kepada Allah Roh Kudus, tetapi kepada roh yang suci dari manusia Yesus. Dalam daging Ia dibunuh, tetapi dalam roh Ia dihidupkan] - hal 133.


Pulpit Commentary juga mengatakan bahwa pada saat Yesus mati “that spirit passed into a new life ... was quickened in his holy human spirit - quickened to new energies, new and blessed activities” (= roh itu pindah / beralih ke dalam hidup yang baru ... dihidupkan dalam roh manusiaNya yang suci - dihidupkan pada tenaga yang baru, aktivitas-aktivitas yang baru dan diberkati) - hal 133.



Pulpit juga berkata bahwa pemberitaan dalam 1Pet 3:19 itu tidak mungkin menunjuk pada pemberitaan Kristus melalui Nuh ataupun rasul-rasul, tetapi betul-betul menunjuk pada pemberitaan yang dilakukan oleh Kristus sendiri. Sebagai argumentasi, ia menekankan kata-kata ‘Ia pergi’.


Pulpit Commentary: “He went. The Greek word (POREUTHESIS)  occurs again in ver. 22, ‘who is gone into heaven.’ It must have the same meaning in both places; in ver. 22 it asserts a change of locality; it must do the like here. ... it can scarcely mean here that, without any such change of place, Christ preached, not in his own Person, but through Noah or the apostles. ... himself in the spirit, he preached to spirits” [= ‘Ia pergi’. Kata Yunaninya ( POREUTHEIS) muncul lagi pada ay 22, ‘naik ke sorga’. Kata itu harus mempunyai arti yang sama di kedua tempat itu; dalam ay 22 itu menyatakan suatu perpindahan tempat, maka kata itu juga harus berarti seperti itu di sini. ... di sini kata itu tidak mungkin berarti bahwa tanpa perpindahan tempat Kristus berkhotbah / memberitakan, bukan dalam Pribadi / DiriNya sendiri, tetapi melalui Nuh atau rasul-rasul. ... dalam keberadaanNya sendiri dalam roh, Ia berkhotbah / memberitakan kepada roh-roh] - hal 133-134.

Pulpit Commentary: “The hypothesis that Christ preached through the instrumentality of Noah does not adequately represent the participle poreuthesis (= Dugaan bahwa Kristus berkhotbah melalui Nuh sebagai alat tidak secara cukup mewakili participle POREUTHEIS) - hal 136.

Catatan: saya berpendapat argumentasi / serangan ini sama sekali tidak kuat. Jangan lupa bahwa Kristus memang satu dengan orang percaya yang adalah tubuhNya sehingga Ia sering mengidentikkan diriNya dengan mereka. Bandingkan dengan Luk 10:16  Kis 9:4.


b)   Yang diinjili adalah roh-roh dari orang-orang yang sudah mati pada jaman Nuh.
Ia juga mengatakan bahwa 1Pet 3:20 memberikan pembatasan tentang roh-roh ini. Jadi bukannya seadanya roh di Hades diinjili, tetapi hanya roh-roh orang yang mati karena banjir pada jaman Nuh. Mengapa hanya kepada mereka? Ia mengatakan bahwa ini pasti dinyatakan kepada rasul-rasul, tetapi tidak kepada kita, sehingga merupakan suatu misteri bagi kita. Ia menduga bahwa pada saat banjir itu terjadi, memang ada orang-orang yang betul-betul mengeraskan hati, tetapi tidak semua demikian. Ada yang bersikap ragu-ragu tetapi diam. Juga mungkin ada banyak remaja dan anak kecil, dan mungkin ada yang bertobat pada saat mau mati.


Pulpit Commentary: “The preaching and the condition of the hearers are mentioned together; they were spirits when they heard the preaching. It seems impossible to understand these words of preaching through Noah or the apostles to men who passed afterwards into the state of disembodied spirits. And he preached in the spirit. The word seem to limit the preaching to the time when the Lord’s soul was left in Hades (Acts 2:27)” [= Pemberitaan dan kondisi dari para pendengar disebutkan bersama-sama; mereka adalah roh-roh pada waktu mereka mendengar pemberitaan itu. Kelihatannya tidak mungkin untuk menafsirkan kata-kata ini sebagai pemberitaan melalui Nuh atau rasul-rasul kepada orang-orang yang setelah itu lalu mati dan menjadi roh-roh yang tidak mempunyai tubuh. Dan Ia berkhotbah / memberitakan dalam roh. Kata ini kelihatannya membatasi pemberitaan pada saat dimana jiwa Tuhan ditinggalkan di Hades (Kis 2:27)] - hal 134.


Catatan: saya berpendapat bahwa dalam Kis 2:27,31 kata HADES (diterjemahkan ‘dunia orang mati’) harus diartikan sebagai ‘kuburan’, karena konteksnya berhubungan dengan kebangkitan Kristus.



Pulpit Commentary: “It cannot mean the whole realm of the dead, but only that part of Hades in which the souls of the ungodly are reserved unto the day of judgment. ... The verse now before us (verse 20) limits the area of the Lord’s preaching: without it we might have supposed that he preached to the whole multitude of the dead, or at least to all ungodly dead whose spirits were in prison. Why does St. Peter specify the generation that was swept away by the Flood? Did they need the preaching of the Christ more than other sinful souls? or was there any special reason why that grace should be vouchsafed to them rather than to others? The fact must have been revealed to the apostle; but evidently we are in the presence of a mystery into which we can see only a little way” [= Itu tidak bisa diartikan seluruh alam / dunia orang mati, tetapi hanya bagian dari Hades dalam mana jiwa-jiwa dari orang jahat disimpan sampai hari penghakiman. ... Ayat yang ada di hadapan kita sekarang (ay 20) membatasi daerah pemberitaan Tuhan kita: tanpa itu kita bisa menganggap bahwa Ia berkhotbah kepada semua orang mati, atau setidaknya kepada semua orang mati yang jahat yang rohnya ada dalam penjara. Mengapa Petrus mengkhususkan generasi yang dihancurkan oleh Air Bah? Apakah mereka membutuhkan pemberitaan Kristus lebih dari jiwa-jiwa berdosa yang lain? atau apakah ada alasan khusus mengapa kasih karunia itu harus diberikan kepada mereka dan bukannya kepada yang lain? Fakta itu pasti telah dinyatakan kepada sang rasul; tetapi jelas bahwa kita ada di hadapan sebuah misteri ke dalam mana kita hanya bisa melihat sedikit] - hal 134.

c)   Ini betul-betul suatu penginjilan yang memungkinkan pertobatan.
Pulpit Commentary menambahkan (hal 135) bahwa pemberitaan Yesus ini bukan hanya sekedar suatu proklamasi / pemberitaan hukuman yang tidak memberi kesempatan / kemungkinan bertobat, tetapi betul-betul suatu penginjilan yang memungkinkan pertobatan. Ia berkata bahwa berdasarkan 1Pet 4:6 maka memang pertobatan mereka itulah yang menjadi tujuan Yesus.

Pulpit Commentary: “There had been a preacher among them then - Noah, ‘a preacher of righteousness;’ but they heeded him not. ... The ‘prison’ must be the end of unbelief and disobedience; the word suggests fearful thoughts and dark unsatisfied questions. The Lord preached even there; he brought, we may be sure, the glad tidings of salvation: may we not venture to trust, in humble hope, that some who had not listened to Noah, the preacher of righteousness, listened then to Christ, the Preacher of salvation?” (= Sudah ada seorang pengkhotbah di antara mereka pada saat itu - Nuh, ‘si pemberita kebenaran’; tetapi mereka tidak mempedulikannya. ... ‘Penjara’ pastilah merupakan tujuan dari ketidakpercayaan dan ketidaktaatan; kata itu menunjukkan pemikiran-pemikiran yang menakutkan dan pertanyaan-pertanyaan yang gelap dan tak terpuaskan. Tuhan berkhotbah bahkan di sana; kita boleh yakin bahwa Ia membawa kabar baik tentang keselamatan: tidakkah kita boleh berspekulasi / memberanikan diri untuk percaya, dalam pengharapan yang rendah hati, bahwa sebagian yang tidak mendengarkan Nuh, si pemberita kebenaran, mendengarkan kepada Kristus, si Pemberita Keselamatan?) - hal 145.


A. T. Robertson: “Bigg has no doubt that the event recorded took place between Christ’s death and his resurrection and holds that Peter is alluding to Christ’s Descensus ad Inferos ... Bigg argues strongly that Christ during the time between his death and resurrection preached to those who once heard Noah (but are now in prison) and offered them another chance and not mere condemnation” [= Bigg tidak meragukan bahwa peristiwa yang dicatat (dalam 1Pet 3:19 ini) terjadi di antara kematian dan kebangkitan Kristus, dan percaya bahwa Petrus sedang menyinggung tentang turunnya Kristus ke neraka ... Bigg berargumentasi dengan kuat bahwa Kristus berkhotbah di antara kematian dan kebangkitanNya kepada mereka yang pernah mendengar Nuh (tetapi yang sekarang ada dalam penjara) dan menawarkan kepada mereka kesempatan sekali lagi, dan bukan semata-mata memberikan pengecaman / penghukuman] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 6, hal 117.

Keberatan:

1.   Benarkah Yesus sendiri (roh manusiaNya) yang memberitakan Injil?
Penafsir Pulpit Commentary di atas menafsirkan bahwa kata-kata ‘yang telah dibunuh dalam keadaanNya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh’ [RSV: ‘being put to death in the flesh, but made alive in the spirit’ (= dibunuh dalam daging, tetapi dihidupkan dalam roh)] menunjukkan suatu kontras antara daging / tubuh Kristus dan roh dari manusia Yesus. Dengan kata lain, ia berkata bahwa kata ‘dibunuh’ ditujukan kepada ‘daging / tubuh Kristus’, sedangkan kata ‘dihidupkan’ ditujukan kepada ‘roh manusia Yesus’. Tetapi perlu diingat bahwa kematian Kristus tidak bisa ditujukan terhadap tubuhNya saja, tetapi kepada seluruh kemanusiaanNya, yang berarti mencakup roh manusiaNya.

Tentang teori yang mengatakan bahwa Yesus sendiri betul-betul turun ke Hades untuk memberitakan Injil, seorang penafsir lain dari Pulpit Commentary menentangnya dan mengatakan bahwa berdasarkan Luk 23:43,46 maka harus disimpulkan bahwa antara kematian dan kebangkitan, roh dari manusia Yesus itu ada di surga.


Pulpit Commentary: “It is thought by some that after our Lord’s death (possibly in the interval between his death and resurrection) his disembodied spirit passed into the unseen world, and preached the gospel to the disobedient dead. Now, if that be the proper meaning of the words, if they cannot mean anything else, we must accept it. That the words taken by themselves will bear that meaning cannot probably be denied: then why should we hesitate to adopt it? I might remind you that as far as those three days are concerned, we seem to be told that they were spent in Paradise with the Father and the redeemed. ‘This day,’ he said to the penitent thief, ‘thou shalt be with me in Paradise;’ ‘Father,’ he said, ‘into thy hands I commend my spirit: and having said thus, he gave up the spirit.’” [= Beberapa orang beranggapan bahwa setelah kematian Tuhan kita (mungkin di antara kematian dan kebangkitanNya) rohNya yang tanpa tubuh berpindah ke dunia yang tak terlihat, dan memberitakan Injil kepada orang-orang mati yang tidak taat. Jika itu adalah arti yang benar dari kata-kata ini, jika kata-kata itu tidak bisa mempunyai arti yang lain, maka kita harus menerimanya. Mungkin tidak bisa disangkal bahwa kata-kata itu, ditinjau dari sudut kata-kata itu sendiri, bisa memberikan arti seperti itu. Jadi mengapa kita harus ragu-ragu untuk menerimanya? Saya bisa mengingatkan engkau bahwa tentang 3 hari yang dipersoalkan, kelihatannya kita diberitahu bahwa hari-hari itu dihabiskan dalam Firdaus dengan Bapa dan orang-orang yang sudah ditebus. Ia berkata kepada penjahat yang bertobat: ‘hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’; dan Ia berkata: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu / rohKu’. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya / rohNya] - hal 158.


2.  Tentang penginjilan terhadap orang-orang jaman Nuh yang sudah mati, dan kemungkinan pertobatan mereka, penafsir lain dari Pulpit Commentary ini berkata sebagai berikut:
“Then, if this passage does mean that Christ preached to the dead, it only speaks of the dead in the days of Noah; it seems incredible that these comparative few should be singled out from the great mass of mankind for so great a blessing. I might remind you, too, that if these words mean that the impenitent dead have a second chance, they stand alone in Scripture, at least as far as I am aware. But weightier than all is the fact that the plain teaching of this book is to the contrary” [= Lalu, jika teks ini memang berarti bahwa Kristus berkhotbah kepada orang-orang mati, teks ini hanya berbicara tentang orang-orang mati pada jaman Nuh; kelihatannya tidak masuk akal bahwa orang-orang yang relatif sedikit ini harus dikhususkan dari kelompok besar umat manusia untuk berkat yang sebesar itu. Saya bisa mengingatkanmu juga, bahwa jika kata-kata ini berarti bahwa orang mati yang tidak bertobat mempunyai kesempatan yang kedua, maka kata-kata ini berdiri sendirian dalam Kitab Suci, setidaknya sejauh yang saya ketahui. Tetapi lebih berat dari semua adalah fakta bahwa ajaran yang jelas dari kitab ini bertentangan dengannya] - hal 158.


Catatan: tidak jelas apa yang dimaksud olehnya dengan ‘kitab’. Mungkin itu menunjuk pada Alkitab. Saya juga berpendapat bahwa seluruh Alkitab bertentangan dengan doktrin tentang ‘second chance’ (= kesempatan kedua).


7)  Ini menunjuk pada pemberitaan (Injil) di dunia orang mati. Pemberitaan Injil ini dilakukan oleh Yesus, tanpa mempersoalkan apakah itu roh ilahiNya atau roh manusiaNya. Juga penginjilan ini diberikan bukan hanya bagi orang-orang yang mati pada jaman Nuh. Ada yang berkata semua orang akan diinjili lagi; ada yang mengatakan hanya orang-orang yang dalam hidupnya tidak pernah mendengar Injil yang akan diinjili oleh Yesus.

William Barclay: “This passage has lodged in the creed in the phrase: ‘He descended into hell.’ We must first note that this phrase is very misleading. The idea of the New Testament is not that Jesus descended into hell but that he descended into Hades. Acts 2:27, as all newer translations correctly show, should be translated not: ‘Thou wilt not leave my soul in hell,’ but, ‘Thou wilt not abandon my soul to Hades.’ The difference is this. Hell is the place of the punishment of the wicked; Hades was the place where all the dead went” (= Teks ini telah ditempatkan dalam pengakuan iman dalam ungkapan: ‘turun ke dalam neraka’. Pertama-tama kita harus memperhatikan bahwa ungkapan ini sangat menyesatkan. Gagasan dari Perjanjian Baru bukanlah bahwa Yesus turun ke dalam neraka tetapi bahwa Ia turun ke dalam Hades. Kis 2:27, seperti yang ditunjukkan oleh semua terjemahan yang lebih baru, seharusnya tidak diterjemahkan: ‘Engkau tidak akan meninggalkan jiwaKu dalam neraka’ tetapi ‘Engkau tidak akan meninggalkan jiwaKu di Hades’. Inilah perbedaannya. Neraka adalah tempat penghukuman orang jahat; Hades adalah tempat kemana semua orang mati pergi) - hal 236.


Catatan: saya berpendapat bahwa:
kata-kata ‘turun ke neraka’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli tidak menyesatkan selama kita menafsirkannya secara benar. Calvin tidak menganggap bahwa Yesus betul-betul turun kemanapun. ‘Turun ke neraka’ itu terjadi pada saat Yesus ada di kayu salib dan berteriak: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’.

Hades bukanlah tempat netral kemana semua orang akan pergi. Dalam banyak ayat Kitab Suci, kata ‘Hades’ menunjuk pada ‘neraka’. Dalam Kis 2:27 kata ‘Hades’ menunjuk pada ‘kuburan’.

William Barclay: “The Jews had a very shadowy conception of life beyond the grave. They did not think in terms of heaven and of hell but of a shadowy world, where the spirits of men moved like grey ghosts in an everlasting twilight and where there was neither strength nor joy. Such was Hades, into which the spirits of all men went after death” (= Orang-orang Yahudi mempunyai konsep yang sangat kabur tentang kehidupan di balik kubur. Mereka tidak berpikir tentang surga dan neraka, tetapi tentang dunia yang kabur, dimana roh-roh manusia bergerak seperti hantu-hantu kelabu dalam cahaya remang-remang yang kekal, dan dimana tidak ada kekuatan ataupun sukacita. Demikianlah keadaan Hades, ke dalam mana roh-roh dari semua manusia pergi setelah kematian) - hal 236-237.


Barclay lalu memberikan ayat-ayat di bawah ini sebagai dasar:
Yes 38:18 - “Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaanMu”.


Maz 6:6 - “Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepadaMu; siapakah yang akan bersyukur kepadaMu di dalam dunia orang mati?”.


Maz 30:10 - “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepadaMu dan memberitakan kesetiaanMu?”.


Maz 88:11-13 - “Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela. Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.


Maz 115:17 - “Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke tempat sunyi,”.


Pengkhotbah 9:10 - “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi”.


Catatan: kita harus hati-hati dengan penafsiran dari ayat-ayat di atas ini. Sebetulnya artinya tidaklah seperti yang dikatakan oleh Barclay. Bandingkan dengan kata-kata Louis Berkhof di bawah ini.

Louis Berkhof: “The passages which seem to teach that the dead are unconscious are clearly intended to stress the fact that in the state of death man can no more take part in the activities of this present world” (= teks-teks yang kelihatannya mengajarkan bahwa orang-orang mati tidak mempunyai kesadaran secara jelas dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa dalam keadaan kematian manusia tidak lagi bisa ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas dari dunia sekarang ini) - ‘Systematic Theology’, hal 689.



William Barclay: “If Christ descended into Hades and preached there, there is no corner of the universe into which the message of grace has not come. There is in this passage the solution of one of the most haunting questions raised by the Christian faith - what is to happen to those who lived before Jesus Christ and to those to whom the gospel never came? There can be no salvation without repentance but how can repentance come to those who have never been confronted with the love and holiness of God? If there is no other name by which men may be saved, what is to happen to those who never heard it? This is the point that Justin Martyr fastened on long ago: ‘The Lord, the Holy God of Israel, remembered his dead, those sleeping in the earth, and came down to them to tell them the good news of salvation.’ The doctrine of the descent into Hades conserves the precious truth that no man who ever lived is left without a sight of Christ and without the offer of the salvation of God” (= Jika Kristus turun ke Hades dan berkhotbah di sana, tidak ada sudut di seluruh alam semesta yang tidak dicapai oleh berita kasih karunia. Dalam text ini ada pemecahan dari salah satu dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering dipertanyakan oleh iman Kristen - apa yang akan terjadi dengan mereka yang hidup sebelum Yesus Kristus dan mereka yang tidak pernah mendengar Injil? Tidak bisa ada keselamatan tanpa pertobatan, tetapi bagaimana pertobatan bisa datang kepada mereka yang tidak pernah dihadapkan dengan kasih dan kesucian Allah? Jika tidak ada nama lain dengan mana manusia bisa diselamatkan, apa yang akan terjadi dengan mereka yang tidak pernah mendengarnya? Inilah yang dipegang oleh Justin Martyr pada jaman dulu: ‘Tuhan, Allah yang Kudus dari Israel, mengingat orang-orang matiNya, mereka yang tidur dalam bumi, dan turun kepada mereka untuk memberitahu mereka kabar baik dari keselamatan’. Doktrin tentang turun ke Hades ini mengawetkan kebenaran yang berharga bahwa tidak seorangpun yang pernah hidup yang dibiarkan tanpa melihat Kristus dan tanpa penawaran keselamatan dari Allah) - hal 242.


Pulpit Commentary: “I know the tenacity with which we cling to the hope that those who have never heard the gospel shall hear it, if not here, hereafter; and that many have cherished this hope, partly on the strength of these words. My hope of that is not less because I do not see it encouraged here. I know God well enough, and I know this book well enough, to know that no man will be condemned because of Adam’s sin; through Christ every man stands on a fair footing; the condemning sin is rejection. Then the Saviour must be presented to each hereafter, if not here. I cling to the hope that the preaching of the Saviour on the other side of the grave will bring multitude to heaven who died without a gospel. But for you who have the gospel now, this is your day of grace; with you, salvation is now or never” [= Saya tahu tentang kegigihan / ketekunan dengan mana kita berpegang pada pengharapan bahwa mereka yang tidak pernah mendengar Injil akan mendengarnya, jika tidak di sini, di alam baka; dan bahwa banyak orang berharap-harap, sebagian pada kekuatan dari kata-kata ini. Harapanku tentang hal itu tidak lebih sedikit sekalipun aku tidak melihatnya dikuatkan di sini (dalam 1Pet 3:18-20). Saya mengenal Allah dengan cukup baik, dan saya mengenal Kitab ini dengan cukup baik, untuk tahu bahwa tidak ada manusia yang akan dihukum karena dosa Adam; melalui Kristus setiap manusia berdiri pada tempat berpijak yang adil / sama; dosa yang menyebabkan penghukuman adalah penolakan (terhadap Kristus). Jadi Kristus harus disampaikan kepada setiap orang, jika tidak di sini, di alam baka. Saya berpegang pada pengharapan bahwa khotbah dari sang Juruselamat di balik kubur akan membawa banyak orang, yang mati tanpa Injil, ke surga. Tetapi untuk engkau yang mempunyai Injil itu sekarang, inilah hari kasih karuniamu; bagi engkau keselamatan itu sekarang atau tidak sama sekali] - hal 158.


Catatan: bedanya penafsir ini dengan yang lain dalam grup ini adalah:
ia sebetulnya beranggapan bahwa 1Pet 3:18-20 ini tidak mendukung pandangannya ini (perhatikan bagian yang saya garisbawahi), tetapi lucunya ia tetap mempercayai pandangan tersebut, tanpa memberikan dasar Kitab Sucinya.


ia berpendapat bahwa yang nanti akan diinjili oleh Kristus hanyalah orang-orang yang pada masa hidupnya tidak pernah mendengar Injil. Sedangkan untuk orang yang di dunia ini sudah mendengar Injil, kesempatannya hanyalah di dunia ini saja, tidak akan ada ‘second chance’ (= kesempatan yang kedua).


Kesalahan dari penafsir ini:
ia berkata bahwa tak ada orang dihukum karena dosa Adam. Bandingkan dengan Ro 5:18-19 - “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.


melalui Kristus setiap orang mendapatkan kedudukan yang sama / adil.


R. C. Sproul: “The hue and cry the Calvinist usually hears at this point is ‘That’s not fair!’ But what is meant by fairness here? If by fair we mean equal, then of course the protest is accurate. God does not treat all men equally. Nothing could be clearer from the Bible than that. God appeared to Moses in a way that he did not appear to Hammurabi. God gave blessings to Israel that he did not give to Persia. Christ appeared to Paul on the road to Damascus in a way he did not manifest himself to Pilate” (= Teriakan-teriakan yang biasanya didengar oleh orang Calvinist pada titik ini adalah ‘Itu tidak adil!’ Tetapi apa yang dimaksud dengan keadilan di sini? Kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah ‘sama’, maka tentu protes itu benar. Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus) - ‘Chosen By God’, hal 155.


Tetapi siapa yang mengatakan bahwa kata ‘adil’ harus berarti ‘memperlakukan semua dengan sama rata’? Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak harus berarti ‘memperlakukan semua secara sama rata’. Perumpamaan dalam Mat 20:1-15 itu jelas menunjukkan bahwa tuan itu tidak memperlakukan para pekerja itu secara sama rata, karena ia lebih bermurah hati kepada pekerja yang masuk belakangan. Tetapi pada waktu pekerja golongan pertama memprotesnya, ia berkata: “aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau” (Mat 20:13).


dosa yang menyebabkan penghukuman hanyalah penolakan secara sadar terhadap Kristus. Bandingkan juga dengan kata-kata Louis Berkhof di bawah (keberatan point 4, kutipan ke 5).

Andereas Samudera termasuk dalam golongan yang mempercayai adanya Pemberitaan Injil oleh Yesus kepada orang-orang yang sudah mati, dan adanya kemungkinan bertobat bagi orang-orang itu. Tetapi selain itu, ia juga percaya bahwa:
a)   Kita harus meneladani Tuhan Yesus dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah mati.
b)  Ia percaya bahwa roh orang mati bisa gentayangan di dunia ini dan merasuk orang hidup, dan roh orang mati ini bisa diinjili.


Pandangan seperti ini tidak pernah saya dapati dalam buku tafsiran manapun.

Keberatan terhadap pandangan ke 7 ini: 

1.   Hal sepenting itu tidak mungkin diajarkan dengan cara yang begitu sedikit dan kabur.

Kalau memang Yesus melakukan penginjilan kepada orang-orang mati, apalagi kalau kita juga diwajibkan untuk melakukan hal itu, maka itu jelas merupakan sesuatu yang amat sangat penting dalam theologia Kristen, sehingga tidak mungkin diberitakan begitu sedikit dan dengan cara yang sangat kabur karena sukarnya ayat ini.


2.   Pertobatan hanya bisa terjadi kalau orang-orang itu didoakan. Kalau demikian, apakah kita juga harus mendoakan orang-orang mati?
Bandingkan dengan 1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.


Ayat ini mengatakan bahwa kalau ada seorang yang melakukan dosa yang membawa maut (mungkin yang dimaksud adalah dosa menghujat Roh Kudus yang tidak bisa diampuni - bdk. Mat 12:31-32), maka kita tidak perlu berdoa untuk orang itu. Kalau orang yang melakukan dosa yang membawa maut saja tidak boleh didoakan, bagaimana mungkin sekarang kita harus berdoa untuk orang yang sudah ada di dalam maut?


3.   Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan binasa / masuk neraka.
Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.
Yeh 3:18 ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mendengar peringatan itu tetap akan mati dalam kesalahannya.


Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.
Kalau orang yang tidak mempunyai hukum Taurat dikatakan ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’ (artinya ia tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, tetapi dihakimi berdasarkan suara hati / hati nurani mereka - bdk. Ro 2:14-15. Tetapi mereka tetap akan binasa), maka bisalah disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai Injil atau tidak pernah mendengar Injil akan binasa tanpa Injil (artinya mereka tidak akan dihakimi berdasarkan Injil, tetapi mereka tetap akan binasa).


Ro 10:13-15 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.
Teks ini memberikan suatu rangkaian: orang yang berseru kepada Tuhan akan selamat, tetapi bagaimana bisa berseru kalau tidak percaya, dan bagaimana percaya kalau tidak pernah mendengar, dan bagaimana mendengar kalau tidak ada yang memberitakan? Kalau rangkaian ini dibalik, maka akan didapatkan: kalau tidak ada yang memberitakan, maka orangnya tidak bisa mendengar. Kalau tidak mendengar, ia tidak bisa percaya. Kalau ia tidak percaya, ia tidak bisa berseru. Dan kalau ia tidak bisa berseru maka ia tidak bisa selamat. Jadi kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa selamat!
Jadi, semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan mati dalam dosanya.



4.   Perhatikan serentetan kutipan dari Louis Berkhof di bawah ini.

Louis Berkhof: “During the nineteenth century several theologians, especially in England, Switzerland, and Germany, embraced the idea that the intermediate state is a state of further probation for those who have not accepted Christ in this life. This view is maintained by some up to the present time and is a favourite tenet of the Universalists” [= Dalam abad ke 19 beberapa ahli theologia, khususnya di Inggris, Swiss, dan Jerman, mempercayai gagasan bahwa intermediate state (masa / keadaan antara kematian dan kebangkitan) merupakan suatu masa percobaan lebih lanjut untuk mereka yang belum menerima Kristus dalam hidup ini. Pandangan ini dipertahankan oleh sebagian orang sampai saat ini dan merupakan suatu ajaran / pendapat favorit dari para penganut Universalisme] - ‘Systematic Theology’, hal 681.


Louis Berkhof: “The theory of the so-called ‘second probation’ found considerable favour in the theological world of the nineteenth century. ... This theory is to the effect that salvation through Christ is still possible in the intermediate state for certain classes or, perhaps, for all; and that this is offered on substantially the same terms as at present, namely, faith in Christ as Saviour. Christ is made known to all who still need Him unto salvation, and acceptance of Him is urged on all. No one is condemned to hell without being subjected to this test, and only they are condemned who resist this offer of grace. The eternal state of man will not be irrevocably fixed until the day of judgment. The decision made between death and the resurrection will decide, whether one will be saved or not. The fundamental principle on which this theory rests, is that no man will perish without having been offered a favorable opportunity to know and accept Jesus. Man is condemned only for the obstinate refusal to accept the salvation that is offered in Christ Jesus. Opinions differ, however, as to the persons to whom the gracious opportunity to accept Christ will be offered in the intermediate state. The general opinion is that it will certainly be extended to all children who die in infancy, and to the adult heathen who in this life have not heard of Christ. The majority hold that it will even be granted to those who lived in Christian lands, but in this present life never properly considered the claims of Christ. Again, there is great diversity of opinion as to the agency and the methods by which this saving work will be carried on in the future. Moreover, while some entertain the largest hope as to the outcome of the work, others are less sanguine in their expectations ” [= Teori yang disebut ‘masa percobaan yang kedua’ ini mendapatkan banyak dukungan dalam dunia theologia abad ke 19. ... Teori ini kira-kira mengatakan bahwa keselamatan melalui Kristus tetap dimungkinkan dalam intermediate state (masa / keadaan antara kematian dan kebangkitan) untuk golongan-golongan tertentu atau mungkin untuk semua orang; dan pada pokoknya ini ditawarkan dengan syarat-syarat yang sama seperti pada saat ini, yaitu iman kepada Kristus sebagai Juruselamat. Kristus diberitahukan kepada semua yang tetap membutuhkanNya untuk keselamatan, dan semua orang didesak untuk menerima Dia. Tak seorangpun dihukum dalam neraka tanpa mengalami test ini, dan hanya mereka yang menolak penawaran kasih karunia ini yang akan dihukum. Keadaan kekal manusia tidak akan menjadi pasti / tertentu dan tak bisa berubah sampai hari penghakiman. Keputusan yang dibuat di antara kematian dan kebangkitan akan menentukan, apakah seseorang akan diselamatkan atau tidak] - ‘Systematic Theology’, hal 692.



Louis Berkhof: “This theory is founded in part on general considerations of what might expected of the love and justice of God, and on an easily understood desire to make the gracious work of Christ as inclusive as possible, rather than on any solid Scriptural foundation. The main Scriptural basis for it is found in 1Pet. 3:19 and 4:6, which are understood to teach that Christ in the period between His death and resurrection preached to the spirits in hades. But these passage furnish but a precarious foundation, since they are capable of quite a different interpretation” (= Teori ini didasarkan sebagian pada pertimbangan umum tentang apa yang bisa diharapkan dari kasih dan keadilan Allah, dan pada suatu keinginan yang bisa dimengerti untuk membuat pekerjaan kasih karunia Kristus mencakup sebanyak mungkin orang, tetapi tidak didasarkan pada dasar Kitab Suci yang kokoh / kuat. Dasar Kitab Suci utama untuk ini didapatkan dalam 1Pet 3:19 dan 4:6, yang dimengerti sebagai mengajarkan bahwa Kristus pada masa di antara kematian dan kebangkitanNya berkhotbah kepada roh-roh di Hades. Tetapi text-text ini hanya memberi dasar yang tidak pasti / tidak bisa dibenarkan, karena text-text ini memungkinkan suatu penafsiran yang sangat berbeda) - ‘Systematic Theology’, hal 692-693.


Louis Berkhof: “And even if this passage did teach that Christ actually went into the underworld to preach, His offer of salvation would extend only to those who died before His crucifixion” (= Dan bahkan jika text-text ini memang mengajarkan bahwa Kristus betul-betul pergi ke dunia orang mati untuk berkhotbah, penawaran keselamatanNya hanya akan diberikan kepada mereka yang mati sebelum penyalibanNya) - ‘Systematic Theology’, hal 693.

Catatan: tetapi Andereas Samudera percaya bahwa jaman inipun Kristus bisa pergi ke sana lagi untuk memberitakan Injil (buku ‘Dunia Orang Mati’ hal 57-59).


Louis Berkhof: “They also refer to passages which, in their estimation, represent unbelief as the only ground of condemnation, such as John 3:18,36; Mark 16:15,16; Rom. 10:9-12; Eph. 4:18; 2Pet. 2:3,4; 1John 4:3. But these passages only prove that faith in Christ is the way of salvation, which is by no means the same as proving that a conscious rejection of Christ is the only ground of condemnation” (= Mereka juga menunjuk pada text-text yang dalam penilaian mereka, menunjukkan ketidak-percayaan sebagai satu-satunya dasar penghukuman, seperti Yoh 3:18,36; Mark 16:15,16; Ro 10:9-12; Ef 4:18; 2Pet 2:3,4; 1Yoh 4:3. Tetapi ayat-ayat ini hanya membuktikan / menetapkan bahwa iman kepada Kristus merupakan jalan keselamatan, yang sama sekali tidak sama dengan mengatakan bahwa penolakan secara sadar terhadap Kristus merupakan satu-satunya dasar penghukuman) - ‘Systematic Theology’, hal 693.


Ini sesuatu yang harus sangat ditekankan. Ayat-ayat yang mengatakan bahwa orang yang tidak percaya kepada Kristus akan dihukum, bukannya berarti bahwa ketidak-percayaan kepada Kristus merupakan satu-satunya dasar penghukuman, tetapi berarti bahwa iman kepada Kristus merupakan satu-satunya jalan melalui mana kita bisa diselamatkan. Jadi, merupakan sesuatu yang salah untuk mengatakan bahwa ketidak-percayaan secara sadar atau penolakan secara sadar terhadap Kristus merupakan satu-satunya dasar penghukuman. Setiap dosa, bahkan dosa asal, merupakan alasan yang cukup bagi Allah untuk menghukum orang tersebut.


Louis Berkhof: “The fundamental principle of this theory, that only the conscious rejection of Christ and His gospel, causes men to perish, is un-Scriptural. Man is lost by nature, and even original sin, as well as actual sins, makes him worthy of condemnation” (= Prinsip dasar dari teori ini, bahwa hanya penolakan secara sadar terhadap Kristus dan InjilNya, yang menyebabkan manusia binasa, merupakan sesuatu yang tidak Alkitabiah. Manusia pada dasarnya terhilang, dan bahkan dosa asal, maupun dosa-dosa yang dilakukan seseorang, membuatnya layak mendapatkan penghukuman) - ‘Systematic Theology’, hal 693.


Louis Berkhof: “Scripture represents the state of the unbelievers after death as a fixed state. The most important passage that comes into consideration here is Luke 16:19-31.” (= Kitab Suci menunjukkan keadaan dari orang-orang yang tidak percaya setelah kematian sebagai keadaan yang tetap. Teks yang paling penting yang dipertimbangkan di sini adalah Luk 16:19-31) - ‘Systematic Theology’, hal 693.


Catatan: khususnya perhatikan Luk 16:25-26 - “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang”.
Seluruh cerita tentang Lazarus dan orang kaya ini jelas bertentangan dengan ajaran yang mengatakan adanya kemungkinan pertobatan setelah kematian. Orang kaya itu tidak pernah diinjili di Hades, dan sekalipun ia jelas sekali menyesal, tetapi tidak ada pengampunan baginya.


Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents the coming final judgment as determined by the things that were done in the flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the intermediate state” [= Itu (Kitab Suci) juga selalu menunjukkan / menggambarkan bahwa penghakiman akhir yang mendatang itu ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara tentang hal ini sebagai tergantung dengan cara apapun pada apa yang terjadi dalam intermediate state (keadaan antara kematian dan kebangkitan)] - ‘Systematic Theology’, hal 693.

Untuk mendukung pandangannya ini, Louis Berkhof memberikan banyak ayat Kitab Suci tetapi saya menganggap bahwa hanya satu yang betul-betul cukup kuat, yaitu 2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

Ayat ini menunjukkan bahwa penghakiman Kristus nanti tergantung hanya pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, bukan pada apa yang dilakukannya setelah ia mati.



Calvin: “it is an indubitable doctrine of Scripture, that we obtain not salvation in Christ except by faith; then there is no hope left for those who continue to death unbelieving” (= merupakan suatu doktrin / ajaran yang sudah pasti dari Kitab Suci, bahwa kita tidak mendapat keselamatan dalam Kristus kecuali oleh iman; maka tidak ada pengharapan yang tersisa untuk mereka yang terus tidak percaya sampai mati) - hal 113.

Kesimpulan: pandangan ke 7 ini jelas merupakan pandangan sesat yang berbahaya. Pandangan ini menyebabkan orang beranggapan bahwa pertobatan maupun penginjilan bukanlah sesuatu yang bersifat urgent / mendesak. Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa setelah kematian tidak ada kesempatan untuk mendengar Injil ataupun bertobat. Karena itu kalau saudara belum sungguh-sungguh percaya / diselamatkan, cepatlah percaya kepada Yesus sebelum terlambat. Dan kalau saudara mau memberitakan Injil kepada seseorang lakukanlah secepatnya sebelum terlambat.


8)Pemberitaan ini terjadi melalui Nuh, pada saat orang-orang itu masih hidup.

a)  Siapa yang memberitakan Injil?
Golongan ke 8 ini terbagi menjadi 2 bagian, yang pertama mengatakan bahwa yang memberitakan adalah Roh Kudus melalui Nuh, yang kedua mengatakan yang memberitakan adalah Roh ilahi Yesus melalui Nuh.
Adanya 2 golongan ini sudah terlihat dari adanya 2 macam penterjemahan dalam 1Pet 3:18.


3:18 - Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaanNya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,”.



KJV: ‘For Christ also hath once suffered for sins, the just for the unjust, that he might bring us to God, being put to death in the flesh, but quickened by the Spirit (= Karena Kristus juga telah menderita sekali untuk dosa-dosa, orang yang benar untuk orang yang tidak benar, supaya Ia bisa membawa kita kepada Allah, dibunuh dalam daging, tetapi dihidupkan oleh Roh).
NIV: ‘For Christ died for sins once for all, the righteous for the unrighteous, to bring you to God. He was put to death in the body but made alive by the Spirit (= Karena Kristus mati untuk dosa-dosa sekali untuk selamanya, orang benar untuk orang yang tidak benar, untuk membawa kamu kepada Allah. Ia dibunuh dalam tubuh tetapi dihidupkan oleh Roh).
RSV: ‘For Christ also died for sins once for all, the righteous for the unrighteous, that he might bring us to God, being put to death in the flesh but made alive in the spirit (= Karena Kristus juga mati untuk dosa-dosa sekali untuk selamanya, orang benar untuk orang yang tidak benar, supaya Ia bisa membawa kita kepada Allah, dibunuh dalam daging tetapi dihidupkan dalam roh).
NASB: ‘For Christ also died for sins once for all, the just for the unjust, in order that He might bring us to God, having been put to death in the flesh, but made alive in the spirit (= Karena Kristus mati untuk dosa-dosa sekali untuk selamanya, orang benar untuk orang yang tidak benar, supaya Ia bisa membawa kita kepada Allah, setelah dibunuh dalam daging, tetapi dihidupkan dalam roh).


Jadi dari keempat terjemahan bahasa Inggris ini ada 2 penterjemahan, yaitu ‘by the Spirit’ (= oleh Roh), dan ‘in the spirit’ (= dalam roh).


Kalau dipilih terjemahan ‘by the Spirit’ (= oleh Roh), maka ini menunjuk kepada Roh Kudus, sedangkan kalau dipilih terjemahan ‘in the spirit’ (= dalam roh), maka ini menunjuk kepada Roh ilahi Yesus.

Sekarang mari kita perhatikan kedua golongan ini:

1.Yang memberitakan adalah Roh Kudus, melalui Nuh.
Louis Berkhof: “This passage is supposed to refer to the descent into hades and to state the purpose of it. The Spirit referred to is then understood to be the soul of Christ, and the preaching mentioned must have taken place between His death and resurrection. But the one is just as impossible as the other. The Spirit mentioned is not the soul of Christ but the quickening Spirit, and it was by that same life-giving Spirit that Christ preached. The common Protestant interpretation of this passage is that in the Spirit Christ preached through Noah to the disobedient that lived before the flood, who were spirits in prison when Peter wrote, and could therefore be designated as such” (= Text ini dianggap menunjuk kepada penurunan ke Hades dan menyatakan tujuan penurunan itu. ‘Roh’ yang dipersoalkan dianggap sebagai jiwa dari Kristus, dan pemberitaan yang disebutkan pasti terjadi antara kematianNya dan kebangkitanNya. Tetapi keduanya sama tidak mungkinnya. ‘Roh’ yang disebutkan bukanlah jiwa dari Kristus tetapi Roh yang menghidupkan, dan oleh Roh pemberi hidup yang samalah Kristus berkhotbah / memberitakan. Penafsiran Protestan yang umum tentang text ini adalah bahwa dalam Roh, Kristus memberitakan melalui Nuh kepada orang-orang yang tidak taat yang hidup sebelum air bah, yang adalah roh-roh dalam penjara pada saat Petrus menulis, dan karena itu bisa disebut / dinamakan seperti itu) - ‘Systematic Theology’, hal 341.


Jay E. Adams: “Peter now supports his contentions about suffering by referring to Christ’s sufferings, but almost immediately moves to a discussion of the death of Christ in relationship to those who are disobedient to the gospel, citing (as an example) the pre-flood population that failed to heed Noah’s preaching and (as a consequence) ended up in God’s prison” [= Sekarang Petrus mendukung pendiriannya tentang penderitaan dengan menghubungkannya dengan penderitaan Kristus, tetapi ia lalu berpindah pada suatu diskusi tentang kematian Kristus dalam hubungannya dengan mereka yang tidak taat pada Injil, menyebutkan (sebagai contoh) penduduk sebelum air bah yang gagal untuk memperhatikan khotbah / pemberitaan Nuh dan (sebagai konsekwensinya) berakhir dalam penjara Allah] - ‘Trust and Obey: A Practical Commentary on First Peter’, hal 113.


Jay E. Adams: “‘Christ was put to death in the flesh.’ That is to say, His death was a truly physical one; He was genuinely human. That means He had a human body in which He dies. But He was ‘made alive by the Spirit’ (not in the spirit). That the Holy Spirit (not Christ’s human spirit) in view is clear from the next verse. It was ‘by this Spirit’ (rather than in the flesh) that, long ago in Noah’s time, He went and preached to those who are now disembodied spirits (cf. usage in Heb. 12:23) locked up in prison (not merely kept in detention) as punishment. ... It was by the same Holy Spirit that He went and preached (cf. 4:6). Just as Paul can say in Ephesians 2:17 that Christ preached (after His resurrection and ascension) through the apostles, so too can Peter say that He preached to the antediluvian world by the Spirit through Noah” [= ‘Kristus dibunuh dalam daging’. Maksudnya, kematianNya betul-betul merupakan suatu kematian fisik; Ia adalah manusia yang sejati. Itu berarti Ia mempunyai tubuh manusia dalam mana Ia mati. Tetapi Ia ‘dihidupkan oleh Roh’ (bukan ‘dalam roh’). Bahwa yang dimaksud adalah Roh Kudus (bukan roh manusia Yesus) adalah jelas dari ayat selanjutnya. Adalah ‘oleh Roh ini’ (bukannya dalam daging), lama berselang pada jaman Nuh, Ia pergi dan berkhotbah / memberitakan kepada mereka yang sekarang adalah roh-roh yang tidak mempunyai tubuh (bdk. penggunaannya dalam Ibr 12:23) ditahan / dikunci dalam penjara (bukan semata-mata ditawan) sebagai hukuman. ... Adalah dengan Roh yang sama Ia pergi dan berkhotbah / memberitakan (bdk. 4:6). Sama seperti Paulus bisa berkata dalam Ef 2:17 bahwa Kristus memberitakan (setelah kebangkitan dan kenaikanNya) melalui rasul-rasul, demikian juga Petrus bisa berkata bahwa Ia berkhotbah / memberitakan kepada dunia sebelum air bah, oleh Roh, melalui Nuh] - ‘Trust and Obey: A Practical Commentary on First Peter’, hal 114.


Ef 2:17 - Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’”.


Ia juga menambahkan bahwa Nuh disebut sebagai pemberita kebenaran dalam 2Pet 2:5 - dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik”.


Jay E. Adams: “In verse 20, Peter tells us why these disembodied spirits are now being punished by imprisonment: it is because they disobeyed God’s word at that time when God’s patience was waiting in the days of Noah, while he was building an ark. During the 120 years prior to the flood, God’s Spirit was at work with men (Gen 6:3) presumably through Noah’s preaching. God’s patience is great; He waited 120 years, during which Noah also was building the ark” [= Dalam ayat 20, Petrus memberitahu kita mengapa roh-roh yang sudah terpisah dari tubuhnya ini sekarang dihukum dalam penjara: yaitu karena mereka tidak mentaati Firman Allah pada saat itu dimana kesabaran Allah sedang menunggu pada jaman Nuh, sementara ia sedang membangun sebuah bahtera. Selama 120 tahun sebelum air bah, Roh Allah bekerja dengan manusia (Kej 6:3) jelas melalui khotbah dari Nuh. Kesabaran Allah besar; Ia menunggu 120 tahun, dan selama waktu itu Nuh juga membangun bahtera] - ‘Trust and Obey: A Practical Commentary on First Peter’, hal 115.


2.Yang memberitakan adalah Logos, melalui Nuh.

Barnes’ Notes: “‘Being put to death in the flesh’. As a man; in his human nature. Comp. Notes, Rom. 1:3,4. There is evidently a contrast here between ‘the flesh’ in which it is said he was ‘put to death,’ and ‘the spirit’ by which it is said he was ‘quickened.’ ... The use of this phrase would suggest the thought at once, that though, in regard to that which was properly expressed by the phrase, ‘the flesh,’ they died, yet that there was something else in respect to which they did not die. ... The only proper inquiry, then, in this place is, What is fairly implied in the phrase, ‘the flesh’? Does it mean simply ‘his body,’ as distinguished from his human soul? or does it refer to him as a man, as distinguished from some higher nature, over which death had no power? Now, that the latter is the meaning seems to me to be apparent, for these reasons: (1.) It is the usual way of denoting the human nature of the Lord Jesus, or of saying that he became incarnate, or was a man, to speak of his being in the flesh. See Rom. 1:3: ‘Made of the seed of David according to the flesh.’ John 1:14: ‘And the Word was made flesh.’ 1Tim. 3:16: ‘God was manifest in the flesh.’ 1John 4:2: ‘Every spirit that confesseth that Jesus Christ is come in the flesh, is of God.’ 2John 7: ‘Who confess not that Jesus Christ is come in the flesh.’ (2.) So far as appears, the effect of death on the human soul of the Redeemer was the same as in the case of the soul of any other person; in other words, the effect of death in his case was not confined to the mere body or the flesh. Death, with him, was what death is in any other case - the separation of the soul and body, with all the attendant pain of such dissolution. It is not true that his ‘flesh,’ as such, died without the ordinary accompaniments of death on the soul, so that it could be said that the one died, and the other was kept alive” [= ‘Dibunuh dalam daging’. Sebagai manusia; dalam hakekat manusiaNya. Bdk. Catatan, Ro 1:3,4. Jelas ada kontras di sini antara ‘daging’ dalam mana Ia dikatakan dibunuh, dan ‘roh’ oleh mana Ia dikatakan ‘dihidupkan’. ... Penggunaan ungkapan ini segera menimbulkan pemikiran bahwa sekalipun berkenaan dengan apa yang dinyatakan oleh ungkapan ‘daging’ mereka mati, tetapi ada sesuatu yang lain berkenaan dengan mana mereka tidak mati. ... Pertanyaan yang tepat di tempat ini adalah: Apa yang dimaksud dengan ungkapan ‘daging’? Apakah ini sekedar berarti ‘tubuhNya’, yang dibedakan dengan jiwa manusiaNya? atau itu menunjuk pada Dia sebagai manusia, yang dibedakan dari hakekat yang lebih tinggi, atas mana kematian tidak mempunyai kuasa? Bagi saya jelas bahwa yang terakhir ini yang merupakan arti yang benar, dengan alasan: (1.) Mengatakan Ia ada dalam daging merupakan cara yang lazim untuk menunjuk kepada hakekat manusia dari Tuhan Yesus, atau untuk mengatakan bahwa Ia berinkarnasi, atau bahwa Ia adalah manusia. Lihat Ro 1:3: ‘yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud’. Yoh 1:14: ‘Dan Firman itu telah menjadi daging’. 1Tim 3:16: ‘Allah dinyatakan dalam daging’. 1Yoh 4:2: ‘Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging, adalah dari Allah’. 2Yoh 7: ‘yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging’. (2.) Sejauh yang terlihat, akibat dari kematian pada jiwa manusia dari sang Penebus adalah sama seperti dalam kasus dari jiwa orang lain; dengan kata lain, akibat kematian dalam kasusNya tidak dibatasi hanya pada tubuh atau daging. Kematian bagiNya adalah sama seperti kematian bagi orang lain - pemisahan jiwa dengan tubuh, dengan semua rasa sakit yang menyertai pemisahan itu. Tidak benar bahwa ‘daging’Nya mati tanpa disertai kematian pada jiwaNya, sehingga dikatakan bahwa yang satu mati tetapi yang lain tidak] - hal 1422.

Catatan: Yoh 1:14  1Tim 3:16 1Yoh 4:2 dan 2Yoh 7 saya terjemahkan dari KJV yang memang memberikan terjemahan hurufiah. Dalam menterjemankan ayat-ayat ini Kitab Suci Indonesia mengubah ‘daging’ menjadi ‘manusia’.


Ro 1:3-4 - “tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.


Tentang Roma 1:3,4 ini Barnes memberikan komentar sebagai berikut:
“He was a descendant of David in his human nature, or as a man. This implies, of course, that he had another nature besides his human; or that, while he was a man, he was also something else; that there was a nature in which he was not descended from David. ... The apostle expressly makes a contrast between his condition according to the flesh, and that according to the spirit of holiness” (= Ia adalah keturunan dari Daud dalam hakekat manusiaNya, atau sebagai seorang manusia. Tentu saja secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa Ia mempunyai suatu hakekat yang lain disamping hakekat manusiaNya; atau bahwa sementara Ia adalah seorang manusia, Ia juga adalah sesuatu yang lain; bahwa di sana ada suatu hakekat dalam mana Ia tidak diturunkan dari Daud. ... Sang rasul dengan jelas membuat suatu kontras antara keadaanNya menurut daging dan keadaanNya menurut roh kekudusan) - hal 544.


“‘According to the spirit of holiness.’ ... It stands in contrast with ‘the flesh,’ ver. 3, ... As the former refers doubtless to his human nature, so this must refer to the nature designated by the title Son of God, that is, to his superior or Divine nature” (= ‘Menurut roh kekudusan’. ... Ini kontras dengan ‘daging’ dalam ay 3, ... Karena yang pertama tak diragukan menunjuk kepada hakekat manusiaNya, maka yang ini pasti menunjuk kepada hakekat yang ditunjuk oleh gelar Anak Allah, yaitu kepada hakekatNya yang lebih tinggi atau hakekat ilahiNya) - hal 545.


Selain Ro 1:3-4, ayat lain yang mirip adalah 1Tim 3:16 - “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.’”.


Sekarang mari kita kembali pada 1Pet 3:18.

Barnes’ Notes: “The conclusion, then, to which we have come is, that the passage means, that as a man, a human being, he was put to death; in respect to a higher nature, or by a higher nature, here denominated ‘Spirit’, (Pneuma,) he was restored to life [= Maka kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa text ini berarti bahwa sebagai seorang manusia, Ia dibunuh; berkenaan dengan hakekat yang lebih tinggi, atau oleh hakekat yang lebih tinggi, di sini disebut ‘Roh’, (Pneuma,) Ia dihidupkan kembali] - hal 1423.
Catatan: yang kurang bisa saya terima dari tafsiran Barnes adalah perubahan dari ‘in respect to’ (= berkenaan dengan) menjadi ‘by’ (= oleh).

Barnes’ Notes: “‘He went.’ To wit, in the days of Noah. No particular stress should be laid here on the phrase ‘he went.’ ... The idea, however, would be conveyed by this language that he did this personally, or by himself, and not merely by employing the agency of another. It would then be implied here that though the instrumentality of Noah was employed, yet that it was done not by the Holy Spirit, but by him who afterwards became incarnate” (= ‘Ia pergi’. Yaitu pada jaman Nuh. Tidak ada penekanan khusus yang harus diberikan di sini pada ungkapan ‘Ia pergi’. ... Tetapi gagasan yang disampaikan oleh istilah ini adalah bahwa Ia melakukan sendiri hal ini, atau oleh diriNya sendiri, dan bukan semata-mata dengan menggunakan orang lain. Jadi dinyatakan secara tak langsung di sini bahwa sekalipun Nuh digunakan sebagai alat, tetapi itu bukan dilakukan oleh Roh Kudus, tetapi olehNya yang belakangan berinkarnasi) - hal 1423.


Sukar untuk menentukan sikap tentang 2 pandangan di atas.

Kalau kita menerima terjemahan ‘by the spirit’ (= oleh Roh), maka ada 2 problem, yaitu:

dari sudut bahasa Yunani kelihatannya ini tidak benar.
kata ‘roh’ tidak mempunyai kata sandang, dan karena itu tidak mungkin menunjuk kepada Roh Kudus.
Tetapi Editor dari Calvin’s Commentary mengatakan: “There are two previous instances of the word ‘spirit,’ when denoting the Holy Spirit, being without the article, that is in chap. 1:2 and 22” (= Ada dua contoh / kejadian sebelum ini dimana kata ‘roh’ menunjuk kepada Roh Kudus, sekalipun tidak mempunyai kata sandang, yaitu dalam pasal 1:2 dan 22) - hal 127.
Catatan: mungkin yang ia maksudkan adalah 1Pet 1:2 dan 1Pet 1:12 (bukan 1Pet 1:22), karena dalam 1Pet 1:22 tidak ada kata ‘roh’.

Dari sudut bahasa Yunani kelihatannya yang benar adalah terjemahan ‘in the spirit’ (= dalam roh), dan kata-kata itu menunjuk kepada LOGOS / roh ilahi Yesus, tetapi problem dengan terjemahan ini adalah bagaimana kata ‘dihidupkan’ bisa diterapkan kepada Logos itu? Menurut saya ada 2 kemungkinan jawaban:

kata ‘dihidupkan’ sekedar diartikan ‘tidak mati’. Petrus menggunakan kata ‘dihidupkan’, bukannya ‘tidak mati’, untuk mengkontraskan kata itu dengan kata ‘dibunuh’.


Pulpit Commentary: “His being put to death was ‘in the flesh’; i.e. on the side of his nature by which he was connected with earth and had a mortal existence. His being quickened is contrasted in being not in the flesh, but ‘in the spirit’; i.e. on the side of his nature by which he was above earth and had an immortal existence” (= Dibunuhnya Ia adalah ‘dalam daging’; yaitu pada bagian hakekatNya dengan mana Ia berhubungan dengan bumi dan mempunyai keberadaan yang bisa mati. Dihidupkannya Ia dikontraskan dengan itu karena terjadi bukan dalam daging tetapi ‘dalam ‘roh’; yaitu pada bagian hakekatNya dengan mana Ia ada di atas bumi dan mempunyai keberadaan yang tidak bisa mati) - hal 168.


di sini digunakan ‘sebutan ilahi’ untuk Kristus, tetapi menggunakan ‘predikat manusia’, seperti dalam ayat-ayat di bawah ini:
Kis 20:28 - “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri”.
NIV: “... the church of God, which he bought with his own blood” (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri).
Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena menterjemahkan ‘darah AnakNya’. Ini dibetulkan dalam TB2 - LAI yang menterjemahkan ‘darahNya’ (menghapus kata ‘Anak’ yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi, yaitu ‘Allah’, tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi, yaitu ‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’, tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
1Yoh 1:1 - “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi, yaitu ‘Firman’ (LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
Dan dalam Kitab Suci juga ada ayat-ayat yang berkebalikan dengan 3 contoh di atas, dimana Kristus diberi ‘sebutan manusia’ tetapi digunakan ‘predikat ilahi’, seperti dalam Mat 9:6 (‘Anak Manusia’ & ‘berkuasa mengampuni dosa’), Mat 12:8 (‘Anak Manusia’ & ‘Tuhan atas hari Sabat’), dan sebagainya.

Bersambung ke bagian3



P O P U L A R - "Last 7 days"