0 KEJATUHAN MANUSIA ! (Bagian 1)


flickr.com


Pengantar

Andaikan kejatuhan manusia  harus terjadi  pada era kita saat kini, siapapun sulit membayangkan konsekuensi-konsekuensinya. Saya akan membayangkan bahwa lembaga pembela kemerdekaan sipil semacam American Civil Liberties Union akan dengan segera  mengajukan tuntutan—melawan Tuhan dan dalam upaya membela Hawa dan suaminya(urutannya memang demikian), Adam. Tuntutan hukumnya berangkali akan ditekankan pada dasar-dasar dari sebuah tindakan pengusiran illegal. “Dan pada akhirnya,”kita akan diberitahukan bahwa,”dugaan tindakan  dosa ini telah dilakukan didalam sebuah taman pribadi, dan   oleh sepersetujuan dua orang dewasa.” Namun dari semuanya kita akan diberitahukan bahwa tindak kriminal tersebut (jika memang benar-benar ada tindakan semacam ini) dan penghukuman  sepenuhnya diluar  kewajaran. Mungkinkah Tuhan  benar-benar serius menanggapi  isi tuntutan yang dilaporkan ini? Karena hanya oleh sebuah gigitan pada semacam “buah terlarang” pria dan wanita ini diusir dan akan menderita  berbagai konsekuensi  di seumur hidupnya? Dan lebih daripada ini, bahwa terkait dengan tindakan satu orang ini dan semua umat manusia menderita berbagai hal jahat yang kita alami?

Mereka yang tidak memandang Alkitab secara serius atau secara literal mengalami sedikit kesulitan disini. Mereka pada dasarnya akan menyatakan bab ke 3 Kitab Kejadian sebagai sebuah mitos. Bagi mereka bab 3  semata sebuah kisah yang simbolik yang berupaya keras untuk mencatat hal-hal sebagaimana adanya.  Detail-detail kisah  kejatuhan bukan masalah  Karena detail-detail tersebut bukanlah fakta,  tetapi fiksi.


Kelompok Injili berangkali cenderung untuk  menghibur diri mereka sendiri dengan mengingatkan bahwa kisah ini merupakan kisah lampau dan  jauh. Karena kejatuhan manusia telah terjadi diwaktu  yang lampau sekali, kita  cenderung untuk tidak  menghadapi isu-isu yang menyolok mata kita dari nas ini.

Namun sejumlah pertanyaan serius tetap mengemuka dalam hubungannya dengan kejatuhan  manusia. Mengapa,misalnya, harus Adam yang diasumsikan penanggungjawab  utama ketika Hawa adalah karakter utama dalam kisah tersebut?Membahasakan pertanyaan ini dalam istilah-istilah yang lebih masa kini, mengapa Adam dipersalahkan kala Hawa sendiri yang  bercakap-cakap?




Lebih lanjut, kita harus memberikan perhatian kepada beratnya konsekuensi-konsekuensi atas dimakannya buah terlarang itu dalam sorotan  bahwa masalah ini  lebih sebuah hal yang agak sepele. Apakah  yang demikian jahatnya mengenai dosa ini sehingga membawa tanggapan yang demikian keras dari Tuhan?

Struktur bab-bab pertama dari Kitab Kejadian menuntut penggambaran  kejatuhan manusia. Dalam Kejadian 1 dan 2 kita membaca sebuah penciptaan yang sempurna yang mendapatkan pengesahan Tuhan sebagai ciptaan yang baik  (bandingkan dengan Kejadian 1:10,12,18,21). Pada bab 4 kita menemukan  kecemburuan dan pembunuhan. Pada bab-bab selanjutnya umat manusia menjadi semakin buruk saja. Apakah  yang telah terjadi? Kejadian 3 menjawab  pertanyaan ini.



Dan  demikianlah bab ini  vital karena bab ini menjelaskan dunia dan masyarakat sebagaimana  yang kita lihat saat ini. Bab ini memberitahukan kita strategi-strategi Setan dalam menggoda manusia.  Kejadian 3 menjelaskan dasar-dasasr  bagi nas-nas Perjanjian Baru  yang membatasi wanita mengambil posisi-posisi kepemimpinan didalam gereja. Kejadian 3  menantang kita untuk mempertimbangkan apakah kita akan melanjutkan “kejatuhan” sebagaimana yang telah dilakukan Adam dan isterinya.



Akan tetapi  Kejadian 3, bukanlah sebuah bab yang akan kita sesali untuk dipelajari. Kejadian 3 memberikan gambaran masuknya dosa kedalam ras manusia dan  kerasnya konsekuensi-konsekuensi ketidakpatuhan manusia. Tetapi dibalik keberdosaan manusia dan  hukuman-hukuman yang menuntut, ada wahyu tentang anugerah Tuhan. Dia mencari orang berdosa dan menyediakan manusia berdosa dengan sebuah selubung  untuk menutup dosa. Dia  menjanjikan seorang Juru selamat  yang melaluinya peristiwa yang sepenuhnya tragis ini akan diubahkan menjadi kemenangan dan keselamatan.



Dosa Manusia
(Kejadian 3:1-7)


Si ular tiba-tiba saja muncul didalam ayat ini secara kasar dan tanpa pengantar. Adam, Hawa, dan  taman  adalah hal-hal yang telah dipersiapkan untuk  kita jumpai, karena sebelumnya  kita telah melihat mereka. Si ular dikatakan menjadi salah satu ciptaan Tuhan, oleh karena itu, kita harus  memahami  makhluk ini secara literal. Meskipun makhluk ini adalah ular yang memang benar-benar ular,  pewahyuan belakangan memberitahukan kepada kita bahwa binatang tersebut telah digunakan oleh Setan, yang digambarkan sebagai seekor naga dan ular (bandingkan dengan II Korintus 11:3; Wahyu 12:9; 20:2).

Sementara kita mungkin berharap tahu jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait asal-usul  kejahatan, Musa tidak memiliki maksud  untuk menyediakan  informasi bagi kita disini. Poin yang ingin Tuhan buat adalah :bahwa kita  berdosa. Mengejar lebih jauh penyebab-penyebab kejahatan hanya akan menyingkirkan tanggungjawab kita atas dosa dari fokus perhatian kita.



Perhatikan secara khusus pendekatan yang diambil Setan disini. Dia tidak datang sebagai seorang ateis, atau sebagai orang  yang sejak semula menantang iman Hawa kepada Tuhan[Saya suka cara Helmut Thielicke menjelaskan hal ini: “Pembukaan dialog ini sepenuhnya saleh, dan si ular memperkenalkan dirinya sebagai seekor binatang yang serius dan religius. Dia tidak berkata:”Saya adalah seekor monster ateistik dan sekarang aku akan mengambil alih  tamanmu, ketakbersalahan dan loyalitasmu, dan menjungkirbalikan semuanya.” Sebaliknya dia berkata: “Anak-anak, hari ini kita akan berbicara mengenai agama, kita akan mendiskusikan hal-hal utama.” How the World Began (Philadelphia: Fortress Press, 1961), hal. 124.]. Setan bisa saja memanifestasikan dirinya sebagai tokoh jahat, tetapi sering kali sebagai  seorang “malaikat terang” ( II Korintus 11:14). Setan kerap berdiri dibelakang mimbar, memegang sebuah Alkitab di tangannya.


Kalimat Setan yang  penuh selidik adalah signifikan. Kata tersebut “sungguh-sungguh”(Kejadian 3 ayat1) menetes dengan sindirian. Efek dari kalimat ini adalah :”Pastilah Tuhan tidak akan mengatakan hal ini, benar kan?” Juga firman Tuhan (tidakkah/tentulah Tuhan berkata,”(ayat 1) adalah menarik. Musa telah menggunakan ekspresi  “TUHAN ALLAH”,“Yahweh Elohim”:


“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah” (Kejadian 3:1).


Tetapi ketika Setan merujuk TUHAN Allah, semata dikatakan Tuhan. Penghilangan ini merupakan petunjuk perilaku  pemberontakan Setan terhadap Tuhan yang Maha Kuasa.



Pendekatan awal Setan adalah  untuk  memperdaya, bukan untuk menyangkal; menyebabkan keraguan-keraguan, bukan ketidakpatuhan. Setan telah datang kepada Hawa sebagai seorang penanya. Dia dengan sengaja  mengacaukan perintah Tuhan, tetapi dalam sebuah cara yang tidak langsung, “Saya berangkali salah disini,  jadi koreksi saya bila saya salah.”



Nah semestinya Hawa tidak pernah memulai percakapan itu. Percakapan itu sepenuhnya merupakan  penyimpangan dari rantai otoritas Tuhan. Rantai itu adalah Adam, Hawa, ciptaan. Adam dan Hawa harus mengekspresikan peraturan Tuhan atas ciptaan-Nya ( Kejadian 1:26). Hawa pastilah tak diragukan akan menolak pembicaraan semacam itu jika percakapan itu tidak dilakukan dalam sebuah cara yang telah diadakan oleh Setan.


Apakah Setan  memulai dengan menantang aturan Tuhan atau iman Hawa kepada Tuhan, pilihannya akan menjadi mudah jika demikian. Tetapi setan secara keliru telah menyampaikan  perintah  Tuhan itu. Dia telah menyampaikan pertanyaan sehingga kelihatan bahwa dia telah salah informasi dan harus dikoreksi. Sedikit dari kita dapat menghindari godaan untuk memberitahukan kepada orang lain bahwa mereka salah. Dan demikian juga disini, keajaiban dari segala keajaiban, Hawa mulai melakukan percakapan  untuk meniti jalan ketidakpatuhan meskipun dimaksudkan bahwa dia sedang membela Tuhan dihadapan si ular.

Tidakah anda memperhatikan bahwa Setan tidak menyebutkan baik pohon kehidupan atau pohon pengetahuan akan yang baik dan jahat?Betapa ini sebuah serangan yang terselubung!Pertanyaannya membawa pohon terlarang menjadi pusat pemikiran Hawa, tetapi tanpa sedikitpun menyebutkannya. Hawa termakan. Dengan pertanyaanya, Setan tidak berhasil membangun percakapan dengan Hawa, tetapi dia juga telah mengalihkan mata Hawa dari ketetapan-ketetapan kemurahan Tuhan dan menyebabkan dia  untuk hanya berpikir pad larangan Tuhan. Setan tidak ingin kita untuk memikirkan secara mendalam anugerah Tuhan, tetapi dengan penuh sentimen  merenungkan  larangan-larangan-Nya.



Dan dalam cara yang persis seperti inilah, apa yang tidak terlihat itu telah berlangsung didalam benak Hawa. Hawa telah memperlihatkan perubahan sikapnya dengan sejumlah gejala yang “Freudian slips”- sebuah kesalahan verbal  atau ingatan. Sekalipun Tuhan berkata ,” Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas”(Kejadian 2:16), Hawa berkata, “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami maka”(Kejadian 3:2), Hawa menghilangkan “semua”dan “dengan bebas”, dua buah kata yang menekankan kemurahan Tuhan.

Seperti halnya Hawa yang  memiliki sebuah impresi yang sudah terdistorsi akan kerasnya larangan Tuhan pada buah pohon pengetahuan  akan baik dan jahat. Dia-Hawa  telah mengungkapkan instruksi Tuhan dengan kata-kata ini :” Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati”(Kejadian 3:3).  Tetapi Tuhan telah  berkata, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17).



Meskipun  membesar-besarkan larangan pada titik dimana dia mengatakan bahkan meraba pohon sudah merupakan kejahatan, Hawa  tanpa disadarinya telah  meremehkan penghukuman Tuhan dengan menghilangkan kata “pastilah,” dan dengan tidak menyampaikan bahwa  kematian akan datang  pada hari pelanggaran dilakukan. Dengan kata lain, Hawa telah memberikan penekanan kepada kekerasan Tuhan, tetapi meremehkan fakta bahwa penghukuman akan dilaksanakan dengan pasti dan segera.

Serangan pertama Setan pada perempuan   yang merupakan seorang pencari agama, dalam sebuah upaya untuk menciptakan keraguan-keraguan mengenai kebaikan Tuhan dan untuk  mengarahkan perhatiannya pada apa yang  dilarang sebagai berlawanan dengan semua yang telah diberikan secara bebas. Serangan  kedua merupakan serangan berani dan nekat. Sekarang dalam situasi tipu daya dan keraguan ada penyangkalan, yang diikuti dengan  fitnahan akan karakter Tuhan. :” "Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3:4).



Bersambung ke Bagian II



The Fall of Man (Genesis 3:1-24) | diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora





P O P U L A R - "Last 7 days"