0 Apa yang Baru Pada Perjanjian Baru - Bagian 5 Selesai

NatGeo-Photo  by Mehmet Fatih Yaldız

Bacalah Terlebih dahulu pada bagian 1 di sini  ,bagian 2 di sini ,bagian 3 di sini dan bagian 4 di sini sehingga anda dapat memahaminya, dan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh ikutilah artikel yang ditulis secara serial

Oleh : Bob Deffinbaugh, Th.M


Kovenan atau Perjanjian Baru Telah Dibuat Dengan Israel dan Yehuda


(8) Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: "Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda(Ibrani 8:8)


Jika Kovenan  atau Perjanjian Baru telah dibuat dengan  kaum Israel dan Yehuda, maka pertanyaan yang kemudian mengemuka, “Bagaimana kemudian orang-orang Bukan Yahudi turut menikmati berkat-berkat ini?” Ini terlihat dari  perkataan Yesus Kristus dalam Lukas 22:20  dan  pernyataan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11:25 dan 2 Korintus 3 bahwa gereja telah masuk kedalam berkat-berkat  Kovenan atau Perjanjian Baru. Bagaimana, kemudian hal ini dapat terjadi? Bagaiamana bisa orang-orang Bukan Yahudi dan gereja masuk kedalam  janji-janji yang telah dibuat untuk orang Israel dan Yehuda?Kita menemukan petunjuk-petunjuk penting  untuk jawabannya dalam Kitab Roma:


(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel,(7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu."(8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (Roma 9:6-8)




(14) Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.(15) Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.(16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua (Roma 4:14-16) [Dua contoh orang Bukan Yahudi yang  telah masuk kedalam berkat-berkat Israel melalui iman, dan bukan  oleh karena keturunan, adalah Rahab   wanita  pelacur (Ibrani 11:31) dan Rut (Lihat kitab Rut). Dalam Perjanjian Baru kita temukan dalam Matius 8:5-13]

Dari dua teks di kitab Roma ini, kita melihat bahwa berkat-berkat Perjanjian Tuhan tidak dibagikan berdasarkan pada  keturunan seseorang. Dari Roma 9, kita melihat bahwa  TIDAK semua keturunan  jasmaniah Abraham adalah  benar-benar orang Israel. Dari Roma 4, kita   belajar bahwa orang-orang Bukan Yahudi yang, seperti Abraham, percaya kepada Kristus adalah anak-anak  Abraham. Jadi sekalipun Kovenan atau Perjanjian Baru telah dibuat dengan kaum Israel dan Yehuda, kita dapat dengan mudah  melihat bagaimana orang-orang percaya sejati dapat dicakupkan dalam bekat-berkat Kovenan atau Perjanjian Baru.


Dengan mengatakan hal ini,  saya percaya bahwa teks kunci Alkitab ditemukan dalam  Roma 11:


(11) Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.(12) Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka.(13) Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,(14) yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka.(15) Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati?(16) Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.(17) Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,(18) janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.(19) Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas.(20) Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!(21) Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.(22) Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.(23) Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.(24) Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.(25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.(26) Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.(27) Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka."(28) Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.(29) Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.(30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,(31) demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.(32) Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.(Roma 11:11-32)



Berkat-berkat dari Kovenan Baru dijanjikan kepada   orang-orang Israel dan Yehuda, tetapi orang-orang Yahudi yang tidak percaya telah membuka pintu  bagi penginjilan bagi orang-orang Bukan Yahudi. Dalam periode waktu sekarang ini yang kita ketahui sebagai “ waktu bagi orang-orang Bukan Yahudi,” ada lebih banyak orang-orang bukan Yahudi yang  beriman daripada orang-orang Yahudi[Lihat  Lukas 21:24; Roman  11:25.]. Ketika “waktu bagi orang-orang Bukan Yahudi” telah sampai pada kesudahannya, Tuhan akan  kembali mengarahkan perhatian kepada orang-orang Yahudi, dan kemudian banyak orang Yahudi yang akan menjadi percaya kepada Yesus sebagai Mesias yang telah dijanjikan. Hal ini  nampaknya akan terjadi setelah Tribulasi Besar[Lihat  Yeremia 30:1-9;  Lihat juga Lukas 21:24 dalam konteks.]



Kesimpulan



Ada banyak pelajaran yang dapat dipelajari dari teks kita, namun terlebih dahulu biarkan saya menyimpulkan dengan menyebutkan  sejumlah hal untuk pertimbanganmu.



Pertama, Kovenan Baru mengasumsikan keberdosaan manusia dan ketidakmampuan Hukum taurat untuk menyelamatkan orang-orang berdosa yang terhilang dan menarik mereka mendekat kepada Tuhan. Hanya ada satu alasan bagi Perjanjian Lama  menjadi dikesampingkan dan digantikan oleh sebuah Kovenan Baru: Kovenan Lama tidak berhasil. Hukum ( Alias Kovenan Lama)  telah mengerjakan sebuah pekerjaan yang luar biasa dalam menyingkapkan dosa manusia; tetapi apa yang tidak dapat dilakukannya adalah untuk menyingkirkan penghukuman atau kehadiran dosa.



(19) Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.(20) Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. (Roma 3:19-20)



Saya   belum lama ini telah mendengarkan kesaksian seorang penulis Kristen terkenal. Dia menggambarkan  hari-hari ketidakpercayaannya sebagai melakukan peperangan dengan Tuhan. Secara khusus, orang ini memiliki sebuah masalah dengan pemikiran  semua orang sebagai orang-orang berdosa. Kemudian, didalam providensia Tuhan, dia telah berjumpa dengan seorang Kristen yang telah memperbandingkan Kekristenan dengan setiap agama lainnya. Orang ini berkata bahwa setiap agama lain berkata,”lakukan.” Semua sistem agama lain memiliki seperangkat persyaratan yang harus diusahakan oleh manusia  agar selamat, beberapa diantaranya menetapkan standard yang  jauh lebih tinggi daripada yang lainnya. Dan beberapa agama lainnya, seperti Unitarianisme,  berkata”Lakukanlah menurut caramu.” Tetapi  semua agama mengatakan kepada manusia bahwa mereka harus ‘melakukan’ sesuatu.



“Kekristenan,” orang Kristen ini menjelaskan,”adalah satu agama iman yang  berkata ,”sudah selesai.” Bukan apa yang kita “lakukan,” tetapi apa yang Yesus Kristus  telah “lakukan.” Dan penulis Kitab Ibrani akan menambahkan, “Dia telah melakukannya  satu kali untuk selama-lamanya.” Kovenan Baru menyingkapkan baik  kegagalan  manusia berdosa untuk cukup “melakukan”  yang menyenangkan Tuhan dan  kegagalan Perjanjian Lama karena Perjanjian ini tidak pernha “selesai.”




Kedua, Perjanjian Baru menyingkapkan  hati Tuhan. Banyak orang cenderung untuk berpikir  adanya dua Tuhan :” Tuhan pemarah dan pendendam di Perjanjian Lama” dan  “Tuhan yang pemurah dan pengampun-Yesus di Perjanjian Baru. Tetapi kebenarannya adalah bahwa  Bapa dan Anak adalah Satu, dan  keduanya dengan senang hati untuk mengampuni dosa dan untuk menarik manusia mendekat dalam persekutuan.


(8) TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.(9) Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.(10) Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,(11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;(12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.(13) Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.(14) Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.(Mazmur 103:8-14)


(10) Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya. (1) Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.(2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. (Yunus 3:10-4:2)



(16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.(17) Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:16-17)



(1) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,(2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.(3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,(4) yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.(1 Timotius 2:1-4)



(9) Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.( 2 Petrus  3:9)

Perjanjian Baru konsisten  dengan  hasrat dan  kesukaan Tuha untuk melihat orang-orang berdosa terhilang diperdamaikan dengan diri-Nya. Ini tidak hendak mengatakan ( apakah didalam Perjanjanjian Lama atau Baru) Tuhan tidak membenci dosa atau  tidak ada hal seperti penghukuman kekal bagi mereka yang menolak keselamatan yang telah Dia sediakan dalam Anak-Nya.


(6) Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu(7) dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala,(8) dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita.(9) Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya,(10) apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai.(2 Tesalonika 1:6-10)



Kovenan Baru  mengekspresikan anugerah Tuhan dan kesukaan-Nya  dalam mengampuni orang-orang berdosa dan memperdamaikan mereka dengan diri-Nya sendiri, tetapi janj-janji kovenan ini hanya untuk mereka yang masuk kedalam berkat-berkat kovenan ini melalui iman kepada Yesus. Mereka yang menolak Yesus dan Kovenan Baru akan mengalami murka Tuhan. Poin utama yang saya sedang   ungkapkan di sini adalah bahwa Kovenan Baru menawarkan pengharapan kepada orang-orang berdosa yang terhilang, sebuah pengharapan yang tidak kita jumpai dalam Kovenan atau Perjanjian Lama.



Ketiga, Kovenan Baru adalah injil, dan injil adalah sungguh-sungguh kabar baik. Dalam satu hal, pernyataan ini  semata adalah sebuah pengulangan dari dua poin pertama diatas. Dalam sejumlah cara  dimana injil dapat disampaikan. Belum alam, “Empat Hukum Spiritual” telah menjadi instrument dalam membawa orang-orang  untuk beriman kepada Yesus. Beberapa orang, seperti saya, lebih suka dengan pendekatan yang terkadang dikenal sebagai “Jalan Roma.” Ini adalah sebuah tinjauan singkat dari penyampaian injil yang Paulus ungkapkan dalam Kitab Roma. Tetapi kita dapat juga menyampaikan injil secara sangat  jelas hanya dengan mengulas janji-janji ( dan asumsi-asumsi) dari Perjanjian Baru:



Masalah besar manusia adalah dosanya yang membuatnya tidak mungkin baginya untuk menyenangkan Tuhan.


Kovenan Lama—melaksanakan perintah-perintah Tuhan—tidak membawa  manusia dekat kepada Tuhan.



Untuk menyelamatkan manusia, Tuhan memulai dari  dalam diri manusia, memberikan manusia sebuah hati yang baru, hati yang mengasihi Tuhan dan hati yang menjaga Firman-Nya.


Kovenan Baru tidak didasarkan pada apa yang dapat kita lakukan, tetapi terhadap apa yang Yesus telah lakukan dengan mati di posisi kita dan dengan menanggung  penghukuman yang pantas bagi kita.

Roh Kudus memampukan manusia untuk melakukan apa yang kita tidak dapat lakukan dengan kekuatan kita sendiri



Dengan membersihkan dosa-dosa kita dan memberikan kita sebuah hati yang baru dan Roh-Nya, Tuhan memampukan orang-orang Kristen untuk mendekat kepada Dia dalam sebuah persekutuan yang intim.


Keempat, mereka yang berpaling kepada Kovenan Lama dan berupaya menyenangkan Tuhan dengan  memelihara Hukum taurat menolak Kovenan Baru dan  dengan demikian  keselamatan oleh anugerah yang telah Tuhan sediakan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Dengan menjalankan Hukum taurat, mereka menolak satu-satunya ketentuan Tuhan untuk keselamatan dan memilih untuk mengikuti sebuah kovenan yang hanya  dapat menghukum.



 
Kelima, Kovenan Baru  memiliki kemuliaan  yang jauh lebih besar daripada Kovenan Lama,dan Kovenan Baru memiliki kuasa untuk mentransformasi  hidup. Jadi ini adalah kunci untuk  keselamatan. Saya akan mengungkapkan hal ini dalam kalimat yang berbeda: Kovenan Baru adalah kunci untuk menginjili sebuah dunia yang tersesat. Kita  harus sangat berhati-hati disini bahwa metoda-metoda penginjilan kita tidak menekankan apa yang harus orang lakukan. Mengangkat sebuah tangan,menandatangani sebuah kartu, berjalan di lorong, atau mengulangi sebuah doa yang diucapkan seseorang (walaupun  tindakan –tindakan ini sendiri tidaklah buruk) bukan apa yang menyelamatkan seseorang. Apa yang menyelamatkan kita adalah bersetuju dengan Tuhan bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang tersesat, dan percaya kepada kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai satu-satunya sarana-saran yang melaluinya kita dapat diselamatkan.



(28) Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"(29) Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."(Yohanes 6:28-29)



(12) Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."(Kisah Para Rasul 4:12)



(5) pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,(6) yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,(7) supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. (Titus 3:5-7)


Saya percaya kita harus membawa ini selangkah lebih maju. Tidak hanya orang-orang berdosa yang terhilang itu tidak diselamtkan oleh usaha-usaha mereka; mereka juga tidak diselamatkan oleh upaya-upaya kita.  Dengan kata lain, kita tidak dapat menghasilkan iman didalam diri orang-orang lain. Kita tidak dapat menyelamatkan orang-orang yang terhilang; hanya Tuhan yang dapat.  Memang benar, tentu saja, bahwa Tuhan memiliki maksud untuk menyelamatkan manusia oleh kesaksian orang-orang kudus :


(14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?(15) Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Roma 10:14-15)



Dengan mengatakan  hal ini, bukanlah tehnik-tehnik kita atau kepintaran kita berbicara yang mengubah hati orang-orang berdosa yang tersesat. Kita diwajibkan untuk memproklamasikan injil kepada orang-orang berdosa yang tersesat dan mempercayakan Tuhan untuk menyelamatkan mereka.  Untuk ini kita tidak perlu cerdik,  menggunakan metoda-metoda manipulative para penjaja atau reklame:


(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.(2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.(3) Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.(4) Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,(5) supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. ( 1 Korintus 2:1-5)





(17) Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.( 2 Korintus 2:17)

(1) Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. (2) Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.( 2  Korintus 4:1-2)


Kita telah melihat dari Yeremia 31 bahwa Kovenan Baru dimulai oleh karya Tuhan didalam hati manusia melalui Roh Kudus. Dalam 2 Korintus 3, Paulus memberikan sebuah paparan hebat mengenai supremasi Kovenan Baru atas yang Lama, memperlihatkan betapa Kovenan Baru bergantung pada kerja Roh Tuhan, bukan pada upaya-upaya kita, atau dengan memusatkan semata pada hal-hal eksternal.


(4) Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.(5) Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.(6) Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.(7) Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian(8) betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!(9) Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.(10) Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti.(11) Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan.(12) Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian( 2 Korintus 3:4-12)


Dan demikianlah kita melihat bahwa Kovenan Baru tidak hanya kabar baik bagi orang-orang berdosa yang tersesat, tetapi kovenan ini juga merupakan kabar besar bagi mereka yang mau membagikan iman mereka kepada orang-orang lain. Kovenan Baru membawa keselamatan melalui karya Tuhan didalam hati orang-orang berdosa.


Keenam, ketika kita merayakan Meja Tuhan setiap minggu, kita sedang merayakan apa yang Tuhan telah lakukan melalui Kristus dan pelayanan keimamatan-Nya dari Perjanjian Baru.


(20) Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. (Lukas 22:20)

(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti(24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"(25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"(26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.( 1 Korintus 11:23-26)




Roti tidak beragi karena itu menyimbolkan kesempurnaan Yesus yang  terus-menerus /tanpa henti ketika Dia mengambil kemanusiaan dalam inkarnasi-Nya. Sebagaimana penulis Ibrani telah menekankannya, Yesus Kristus telah telah mengambil tubuh manusia agar dapat  menjadi  Imam Besar yang sempurna. Untuk dapat melakukan hal ini, Dia haruslah sepenuhnya  tanpa dosa. Itu sebabnya pengorbanan hewan-hewan ( yang merupakan bayang-bayang kedatangan Yesus Kristus) harus tak bercela. Pengorbanan-Nya di Kalvari hanya akan memberi manfaat kepada kita jika “ Domba Allah” tanpa cela (dosa). Roti  tidak  beragi menyimbolkan kesempurnaan  Yesus Kristus yang tanpa dosa, sehingga pengorbanannya adalah bagi dosa-dosa kita, dan bukan dosanya sendiri.




Anggur menyimbolkan darah Yesus Kristus  yang telah dicurahkan pada kita di Kalvari. Seperti dikatakan penulis Kitab Ibrani, bukan oleh darah korban hewan-hewan sehingga kita sudah  dibersihkan dari dosa tetapi oleh  korban  satu kali dan untuk selama-lamanya  dari  darah Yesus Kristus  sehingga kita sudah dibersihkan:


(11) Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, --(12) dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.(13) Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,(14) betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.(15) Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.(Ibrani 9:11-15)




(10) Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.(11) Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.(12) Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah,(13) dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.(14) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.(Ibrani 10:10-14)

Karya Yesus Kristus tersebut telah merekonsiliasikan orang-orang berdosa terhadap Tuhan:


(18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.(19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.(2 Korintus 5:18-19lihat juga Efesus 2:1-10)


Karya Kristus juga  telah merekonsiliasi orang-orang  Yahudi dan orang-orang Bukan Yahudi dalam Kristus:


(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --(12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.(14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,(15) sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,(16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.(17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",(18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.(19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,(20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.(21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.(22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.(Efesus 2:11-22)



Pada era Perjanjian Baru, Perjamuan Tuhan pada dasarnya adalah sebuah  perjamuan,  sebuah jamuan  santap dalam konteks sebuah jamuan makan  lengkap (lihat 1 Korintus 11:17-34). Turut serta dalam sebuah santapan  di atas sebuah meja merupakan salah satu  dari bentuk-bentuk  persekutuan yang paling intim dalam budaya  setempat ( dan dihampir semua budaya lainnya). Jadi, juga menyantap makanan, dan merupakan simbol-simbol, karena kita sedang merayakan kesatuan kita dengan diri Yesus Kristus:


(16) Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?(17) Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.(1 Korintus 10:16-17)

Dan demikian jugalah pertanyaan saya kepada anda, sahabatku, pada dasarnya adalah ini:”Sudahkah anda masuk kedalam berkat-berkat yang telah dijanjikan pada Kovenan Baru—pengampunan dosa-dosamu, berkat   yaitu hati yang baru, dan suka cita mendekat kepada Tuhan didalam Kristus?” Jika anda belum memilikinya, mengapa tidak memilikinya hari ini, hanya dengan mengakui kebutuhanmu akan keselamatan dan dengan percaya kepada karya Yesus Kristus bagi kepenting orang-orang berdosa yang terhilang, membuat sebuah jalan keselamatan menjadi mungkin?



Akhir dari  Judul ini

What's New About the New Covenant (Hebrews 8:6-13)|diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora






P O P U L A R - "Last 7 days"