0 Menghakimi Keilahian Kristus Di Dalam Pikiran Para Manusia:

Oleh: Martin Simamora

Bagaimana Bisa Ia  Manusia Sekaligus Penyelamat &  Sumber Keselamatan Tunggal Kekal?

Yesus telah menjadi subyek pembicaraan, perdebatan hingga pertengkaran [misalkan: “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”- Yoh 6:52-53] mengenai siapakah dirinya.  Sementara bagi Yesus, apapun yang dibicarakan, apapun yang diperdebatkan dan dipertengkarkan mengenainya, fakta-fakta demikian tak sama sekali menunjukan ketiadaan apa yang disebut sebagai kebenaran absolut,sebagaimana tersingkap di kebisingan kesimpangsiuran dirinya dalam pikiran-pikiran para manusia:

Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Yohanes 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga

Yesus bukan saja menyatakan kemutlakan dirinya seolah-olah ia adalah salah satu di antara kebenaran-kebenaran yang dapat dijumpai di dunia ini. Keabsolutannya bahkan bukan berdasarkan interpretasi ayat-ayat suci oleh manusia, tetapi interpretasi oleh dan pada dirinya sendiri sebagai sumber kehidupan atau teks-teks suci itu sendiri, seolah [semua manusia] dalam pandangan Yesus tak memiliki kehidupan. Tetapi itu belum puncak tertingginya, karena tak cukup jika ia hanyalah manusia diantara manusia-manusia ini saja, ia menyatakan dirinya dari sorga yang tinggal diantara manusia-manusia: “sebab Aku telah turun dari sorga.”
      

Keabsolutan dari sorga [ini tentu saja jika anda tak meragukan bahwa Ia datang atau berasal dari atas- dari Allah: “Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia-Ibrani 1:6"; “Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat”-Ibrani 2:7; “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku”-Ibrani 10:5] menghadapi rejeksi atau penolakan yang melahirkan berbagai spekulasi atau relativitas pada apa  yang dinyatakan absolut  oleh mulut Yesus. Produk-produk pemikiran manusia menghakimi Yesus beserta kebenarannya:

Yohanes 6:41-42 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Bagaimana dapat terjadi sebuah kebenaran absolut dari Allah menjadi sebuah kerelatifan belaka? Hal ini dapat terjadi sebab kemampuan manusia-manusia untuk menerima kebenaran dari sorga tidak ada sama sekali, untuk menerima kebenaran suci bukan pada teks-teks  yang turun dari langit tetapi dari seorang manusia yang datang dari Allah atau yang turun dari sorga [Yohanes 3:13] merupakan kemustahilan, sebagaimana disingkapkan oleh manusia itu sendiri:” Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal?


Pada dasarnya tak ada yang mengenal Yesus, siapa yang mereka kenal adalah ibu bapanya, sehingga kebenaran absolut tersebut hanya mampu dicerna berdasarkan persepsi masing-masing manusia [bukan sebagaimana kehendak Allah], itulah tunas relativisme yang melahirkan berbagai bentuk perlawanan terhadap kehendak Allah di dalam Kristus.


Apakah relativisme diakomodasi oleh Sang Kristus sebagai sebuah jembatan untuk membangun harmoni kebenaran yang dari Allah? Tidak. Sementara ia hidup ditengah-tengah relativisme kebenaran atau pluralisme iman tanpa kekerasan dari dirinya, Ia tetap membangun komunikasi atau mengkomunikasikan kebenarannya yang absolut, tak sama sekali ia melakukan modifikasi  berwujud pelunakan-pelunakan dan tak juga ia melakukan pemaksaan kebenaran itu. Apa yang dilakukannya, menyatakan kebenaran-Nya tetaplah absolut  ditengah-tengah relativisme itu dengan cara mendudukan kebenaran-Nya pada tempatnya yang mulia, yaitu di tangan Allah, sehingga beginilah ia bersabda:

Yohanes 6:43 Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.


Yesus tak menanggulangi  kesenjangan yang tajam itu dengan  harmonisasi berdasarkan penyelarasan kebenarannya agar dapat diproses oleh pikiran atau kemampuan manusia-manusia untuk mengenali berdasarkan kapasitas kemanusiaannya. Yesus,bahkan, memang menyadari, begitu sempurna, realita manusia kala diperhadapkan dengan kebenaran dirinya yang bersumber dari Allah, ini terlihat pada: “jangan kamu bersungut-sungut.” Menariknya lagi, saat Yesus mengajak  mereka untuk menerima kebenaran itu sebagaimana apa adanya dan tidak menakarnya dengan kemanusiaan mereka, pun Yesus tidak juga bersungut-sungut pada dirinya sendiri melihat kegagalan para manusia yang membuahkan relativisme melawan dirinya, sebab ia sendiri sangat tahu bahwa satu-satunya yang bisa mengatasi kesenjangan kebenaran yang dilahirkan relativitas kebenaran dalam ukuran-ukuran manusia adalah Bapa-Nya sendiri - Allah sendiri, dengan bersabda: “tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.”


Setiap kali Yesus menyatakan kebenaran pada dirinya maka harus disertai dengan Allah yang bertindak- yaitu: menarik- untuk mengatasi relativisme kebenaran yang menjadi belenggu pikiran manusia untuk dapat mendatangi kebenaran-Nya yang absolut, sehingga pikirannya memiliki kemerdekaan untuk memutuskan bahwa memang Yesus satu-satunya kebenaran itu. Mengapa Yesus berkata: “Jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku?” Setidak-tidaknya ada 2 hal yang  sedang Yesus tunjukan:

1.Ketakberdayaan manusia yang total untuk mendatangi Yesus sebagai kebenaran absolut

2. Kebenaran Yesus bukanlah berasal dari dunia ini dan bukan gagasan atau filsafat manusia suci di dunia ini


Bapa yang menarik manusia itu, sebab manusia tak memiliki kehidupan dan kebenaran Allah pada dirinya, sehingga sekalipun memiliki kemampuan berpikir atau menalar atau membuat pertimbangan-pertimbangan saksama, itu sama sekali tak menunjukan sebuah divinitas atau keilahian  pada manusia untuk mengenali kebenaran Allah dan mengenali siapakah Yesus. Itu sebabnya, apa yang tersisa pada manusia hanyalah meraba kebenaran dalam kebutaan kebenaran yang berwujud “relativitas kebenaran” yang hanya dapat menghasilkan: “Bukankah ia ini Yesus, anak Yusuf yang ibu bapanya kita kenal? Sebaiknya-baiknya mereka mengenali Yesus maka hanyalah beragam persepsi atau identifikasi akan siapakah dia [seperti halnya ini: “Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah- Lukas 9:18-20" sebagaimana di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang beridentitas relatif, maka demikian Yesus; sebagaimana Andi anak Mardi bukan Andi anak Marlon, pun demikian Yesus memiliki jati diri atau kebenaran pada dirinya sendiri yang absolut] dalam rabaan indera-indera manusianya tanpa dapat menjamah keilahian-Nya.


Bagi Yesus, tindakan Allah yang demikian merupakan satu-satunya jalan keluar atas kesenjangan pengenalan akan dirinya. Satu-satunya, agar manusia-manusia dapat mengenali dirinya sebagaimana adanya, bahwa ia: “datang dari sorga.” Hanya dapat diatasi oleh tindakan Allah atas  ketakberdayaan yang menghasilkan relativitas dalam memandang dan memahami apa yang dinyatakan oleh Yesus adalah absolut namun ditolak manusia-manusia itu.


Pikiran manusia atau kemampuan manusia untuk berpikir dalam kejernihan dan penuh pertimbangan memang sungguh diperlukan, demikian juga dengan kemampuan manusia untuk membuat keputusan yang dapat menuntunnya kepada kebenaran atau keputusan yang tepat haruslah dilakukan, sebab tanpa itu semua maka manusia akan menghadapi dan menemukan masalah tanpa kemampuan untuk menanggulanginya dalam kehidupan sehari-harinya. Namun pada problem Yesus, Sang Kristus sendiri tak melihat aspek intelektualitas atau kesehatan jiwa manusia sebagai yang perlu diperbaiki seolah hanya pada bagian ini masalahnya, lalu manusia itu setelah diperbaiki pada bagian tersebut dibiarkan berdiri sendiri untuk membuat keputusan yang dapat menghakimi kebenaran yang datang dari Allah- apakah benar dari Allah dan apakah aku memerlukannya?


Allah tak memperbaiki manusia agar kemudian manusia-manusia itu dapat menghakimi-Nya; Allah tak pernah memberikan kapasitas untuk menghakimi diri-Nya apalagi kebenaran-Nya dalam kehendak dan pewujudan bagaimana keselamatan dari-Nya berwujud. Tak sama sekali seperti itu. Ini sebuah kepastian dan bukan spekulasi sebagaimana disingkapkan oleh Yesus:


▀Yohanes 6:39-40 Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Jikapun Yesus dianggap datang untuk memperbaiki sebuah keping kesadaran dalam diri manusia agar kemudian dapat mengenali siapakah diri sebenarnya, maka dipastikan kualitas perbaikan oleh-Nya adalah sebuah karya  yang divinitas atau bersifat ilahi sehingga pasti tidaklah kemudian manusia itu melakukan kesalahan dengan mengatakan Yesus itu adalah Elia atau nabi-nabi lainnya, tetapi Mesias yang datang dari Allah. Identifikasi jitu sebagaimana pada Petrus. Jikapun Yesus diperlakukan hanya melakukan perbaikan agar seorang manusia dapat secara individual membuat keputusannya sendiri terhadap hal divinitas semacam ini, maka divinitas yang dikerjakan didalam individu itu, seharusnyalah bekerja dalam sebuah kemampuan identifikasi presesi untuk mengenali Juruselamatnya, bukan untuk kemudian menghakiminya, sebab tak pernah Allah mengerjakan sesuatu dari dirinya untuk kemudian menghina dirinya berdasarkan perbuatannya tadi. Dan faktanya, Yesus bukan melakukan apapun yang  telah saya skenariokan di atas, sebab faktanya setiap manusia yang dapat mengenali Yesus bukan belaka “anak Yusuf” tetapi Anak Allah, adalah dia yang dilahirkan dari tindakan Allah memberikan atau menyerahkan orang tersebut  kepada Yesus dengan sebuah kepastian dalam perjalanan hidup keberimanannya di bumi ini: tidak hilang dan dibangkitkan oleh Yesus pada akhir zaman.



Relativitas atau kekaburan kebenaran hanya teratasi oleh tindakan Allah yang demikian, dan didalam Allah bertindak, terbenam, di dalam jiwa manusia itu, kehendak-Nya, yaitu: agar manusia itu memiliki pengenalan pada siapakah Yesus sesungguhnya sehingga datang kepadanya untuk beriman, bukan untuk menghakimi siapakah dia atau benarkah ia adalah sebagaimana telah dikatakan Allah kepadaku saat ia menarikku dari dunia ini ke dalam genggaman tangan-Nya untuk diserahkan kepada Yesus? Tidak ada lagi relativitas dalam peristiwa ini, sebab kehendak-Nya jelas dan tanpa bayang-bayang: “supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.”



Tak pernah ada satu kali saja ada seorang manusia yang diambil Allah dari dunia untuk diserahkan kepada Yesus, pada akhirnya hilang. Jangan ada yang hilang di sini, sangat terkait dengan rencana Allah atasnya melalui Yesus: “supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”


Manusia-manusia percaya yang demikian, memang masih hidup dan berjalan di muka bumi ini. Bukan yang enak, mulus, menyenangkan, lunak apalagi menerima kekhususan-kekhususan sorgawi yang memanjakan. Tidak sama sekali. Namun sekalipun demikianjangan ada yang hilangtak perlu menjadi relatif. Seolah itu hanya absolut bagi Tuhan namun relatif bagi manusia, karena  tidak demikian adanya. Yesus sejak semula mengatasi relativitas dalam dunia manusia itu berdasarkan karya atau tindakan Allah, bukan pada kekuatan manusia, maka memang sejak saat itu kemanusiaan manusia-manusia percaya atau beriman kepada Yesus tak pernah diandalkan oleh Allah sebagai jangkar keselamatan manusia itu, tetapi diri-Nya saja yang menjadi jangkar keselamatan dan keamanannya dari berbagai risiko atau ancaman yang sama sekali tak berada didalam kendali manusia itu, sebagaimana dinyatakan oleh Yesus, perhatikan hal-hal yang dikemukakan Yesus berikut ini:


▀Matius 10:19-20 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.


▀Yohanes 17:14-15 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.


Mengapa Allah menarik seseorang, sementara membiarkan yang lainnya bersungut-sungut [“Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku?- Yohanes 6:43-44] pun hal yang tak dapat dikenali oleh manusia secara sempurna sebagaimana adanya dalam benak Bapa, selain spekulasi para manusia yang akhirnya melahirkan sebuah relativisme pada bagaimana seseorang  bisa percaya dan yang lainnya tidak demi mengharmonikan hal-hal yang sukar untuk diraba oleh pemikiran para manusia, sementara Allah telah menyajikan sebuah kepastian: kasih karunia Bapa: “Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." - Yohanes 6:65. Dan untuk mengerti kasih karunia itu sendiri, ternyata membutuhkan kasih karunia itu sendiri agar tak menjadi bersungut-sungut.


Mahkota keilahian Kristus ada pada manusia-manusia yang diserahkan Bapa kepadanya agar datang menjadi percaya, sementara  Kemuliaan keilahian Kristus itu sendiri ada pada peristiwa salib  yang telah ditetapkan Allah harus terjadi, karena disitulah semua orang yang diserahkan oleh Allah ke dalam tangannya menikmati kasih karunia yang membebaskan diri mereka dari kuasa maut itu sendiri:

▀Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

▀Ibrani 2: 9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.



Kasih karunia Allah itu begitu berlimpah bagi manusia tetapi sebagaimana hanya Allah yang dapat mengalami maut bagi semua manusia, maka hanya Allah saja yang dapat membawa banyak orang kepada kemuliaan.



Inilah adalah sudut tajam kebenaran pada keabsolutan keselamatan hanya oleh Allah dalam Yesus Kristus dan keabsolutan kepastian keselamatan yang dapat dialami oleh manusia. Sebagaimana manusia tak dapat mengenali keabsolutan kebenaran dalam Kristus sehingga hanya oleh tindakan Bapa saja seorang manusia dapat terlepas dari relativitas atau kekaburan kebenaran tunggal, maka demikian juga kasih karunia itu hanya dapat menghampiri manusia sejauh Allah membawa manusia-manusia itu kepada Kristus. Kristus mengalami maut bagi semua manusia, yang mana semua manusia itu adalah  banyak manusia yang dibawa Allah kepada kemuliaan. Sentralitas Kristus dan keilahian Kristus dalam kemanusiaan pada hakikatnya merupakan sinar kemuliaan keselamatan yang Allah lakukan.



Itu sebabnya Yesus disebut Pokok Keselamatan manusia yang menunjukan kebergantungan total manusia  untuk dapat mendatangi Allah, jika tak melalui Yesus maka mustahil. Sebuah keimamatan yang tentu saja memastikan tak ada satupun yang dapat menghampiri Allah tanpa Kristus sebagai imam yang mau atau bersedia memperdamaikanmu dengan Allahnya:


Ibrani 5:5-7 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek." Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.


Keilahian Kristus dalam kemanusiaannya tak pernah bersifat relatif sekalipun pikiran manusia menghakiminya sebagai sebuah kebenaran yang relatif. Bahkan bukan saja keabsolutan itu bukan saja terletak pada siapakah Yesus, bukan saja mengenai kepastian keselamatan, tetapi juga kepada siapakah keselamatan itu sesungguhnya ditujukan:

Ibrani 7:24-25 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.


Bagaimana kesempurnaan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus itu? Sempurna, tidak memerlukan penyokongan atau penopangan dari perjuangan manusia untuk melengkapi keimamatan  yang diselenggarakan oleh Yesus yang menguduskanmu--[semenjak pengudusan adalah karyanya oleh tubuhnya dan darahnya sebagai sebuah rencana Allah bahkan sebelum dirimu dan dunia ini eksis (1Pet 1:18-19) maka memang sama sekali kontribusi manusia begitu nihil]-- di hadapan Allah -- [perhatikan, dikatakan manusia tak dapat melakukan apapun juga untuk membuat keimamatan Kristus semakin efektif, bukan hendak mengatakan dengan begitu kehidupan seorang Kristen tanpa  keberbuahan atau masa bodoh saja tanpa memperhatikan bagaimana ia hidup sebagai anak-anak Bapa (misalkan: kehidupan yang kian lama kian serupa dengan Kristus yang  kehidupannya sepenuh bagi kehendak Bapa - tak ada sama sekali kehendak dirinya (inilah yang membuat Yesus satu-satunya manusia mulia,kudus,baik, sempurna layak di hadapan Allah bahkan pada dirinya sendiri, sebab hanya dia dalam keadaannya sebagai manusia tak pernah sedikit saja kehendak dirinya sendiri yang memerintah "Yohanes 4:34; 6:38"); atau hal lainnya lagi: kesetiaan Iman atau ketaatan pada kehendak Bapa hingga kematian menjelang), juga  bukan tanpa pendedikasian yang harus dibangunnya hari demi hari, sebaliknya,sudah sepatutnya terjadi dan dibangunkan sebagai sebuah kehidupan baru dari Kristus Penebusnya. Tapi, di sini, yang hendak ditekankan dan dijulangkan, dalam kesemua buah-buah kehidupan  yang memuliakan Allah tersebut, yang diajarkan itu, yang dinasihatkan dengan tak jemu-jemu itu, yang harus menjadi kehidupan aktif di dalam diri oleh anak-anak Tebusan Allah itu, kesemuanya itu sama sekali tidak memberikan kontribusi (bukankah dikatakan: itu semua sebagai buah-buah yang dihasilkan kehidupan dalam Kristus: Yohanes15:1-8),atau menolong atau memperkokoh pada kesempurnaan atau kepastian keamanan keselamatannya sendiri oleh dirinya sendiri, tidaklah demikian! Sebab hanya Allah yang dapat mengamankan masa depan keamanan keselamatanmu dalam Kristus dan kesetiaanmu hingga kesudahannya, bahkan yang lebih penting kesetiaan Yesus kepada janjinya sendiri atasmu. Bukankah pada dasarnya kita bersetia, bertekun dan bersemangat bagi Allah berlandaskan pada karya keselamatan-Nya yang telah tuntas dan janjinya bagi setiap orang percaya bahwa dimana Ia berada disitulah orang percaya pilihan-Nya berada?- Bukankah Bapa berkehendak jangan ada yang hilang kala ia menyerahkan mereka kepada Yesus?]-- Sang Imam Besar itu. Bagaimana bisa ada manusia dapat datang  atau menghampiri Imam Besar semacam ini:


Ibrani 7:26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.


Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,


Tak ada manusia yang dapat mendatangi dia. Kasih Karunia bukan sebuah kesederhanaan atau sebuah kemuliaan keselamatan dalam konsepsi manusia sehingga manusia dapat bekerja  didalamnya  olehnya sendiri untuk mengupayakan. Kasih karunia pada dasarnya sebuah kasih Allah yang begitu besar yang hadir dalam kemuliaan penghakiman-Nya: betapa manusia begitu mati untuk dapat sedikit saja menguduskan dirinya, sampai-sampai memerlukan seorang Imam Besar dari sorga dan kini ,Ia sudah bertakhta di sorga  setelah menguduskan banyak manusia yang telah diserahkan kepadanya untuk dikuduskan olehnya.


Yesus sendiri berkata: mustahil ada yang dapat datang atau mendatangi dirinya di kediamannya itu:

Yohanes 7:33-34 Maka kata Yesus: "Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada."


Yohanes 8:21 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang."


Perhatikan baik-baik. Setelah Yesus menuntaskan karya keselamatan oleh kasih karunia Allah, apakah kemudian manusia-manusia dapat mencari dan menemukannya begitu saja? Tanpa kasih karunia dari Bapa? Tidak bisa, sebab Yesus berkata: kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu.” Mengapa? Apakah karena manusia itu kurang serius,bermain-main, tidak segenap dirinya? Bukan itu, tetapi oleh realitas yang tak bisa diatasi oleh manusia itu selain kalau Allah bertindak atasnya. Inikan tidak dapat diatasi oleh siapapun manusia itu: “sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.”


Perhatikan, apa yang sedang  dimaksudkan oleh Yesus pada keseluruhannya, tidak dapat dipahami oleh manusia secara mandiri: Jika memahami maksud Yesus saja manusia tak berdaya maka terlebih lagi keselamatan yang datang darinya:

Yohanes 7:35-36 Orang-orang Yahudi itu berkata seorang kepada yang lain: "Ke manakah Ia akan pergi, sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Dia? Adakah maksud-Nya untuk pergi kepada mereka yang tinggal di perantauan, di antara orang Yunani, untuk mengajar orang Yunani? Apakah maksud perkataan yang diucapkan-Nya ini: Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan bertemu dengan Aku, dan: Kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada?"



Jika memahami maksud Yesus saja manusia tak berdaya maka terlebih lagi keselamatan yang datang darinya, bagaimana keselamatan itu menjadi sebuah kepastian yang datang dari Allah:


Yohanes 7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!


Jika sebelumnya, Ia berkata: tak ada yang dapat datang ke tempat di mana aku berada, mengapa dia sekarang berkata: “barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Tidakkah dengan demikian, “datang kepada Yesus” bukan lahir dari kealamian manusia untuk datang, tetapi tindakan Allah yang membuat mendatangi Yesus untuk beriman kepadanya, untuk menerima yang hendak diberikan-Nya, bukan untuk menerima darimu dan apalagi untuk menghakimi kebenaran itu dan dapat berujung menolak Yesus.


Datang kepada Yesus memang bukan hal yang dapat diupayakan oleh manusia, sebab dapat datang dan  mendatangi Yesus menyebabkan peristiwa rohani keselamatan manusia itu sendiri:


Yohanes 7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."


Manusia tak dapat menghakimi peristiwa ini dengan pemikirannya, sebab sumber  kebenaran keselamatan ini, bukan pemikiran para manusia, tetapi pemikiran Allah: “barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci.” Tak ada relativitas dalam bagaimanakah seharusnya mempercayai Yesus, karena dikatakan: “percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci.” Sementara dunia ini memiliki buah-buah lebat terkait setinggi apakah Kristus itu diimani, Kitab suci menyatakannya dalam sebuah peristiwa ilahi  yang disebabkan beriman kepada Kristus sebagaimana kehendak Allah-Kitab suci: akan mengalir aliran-aliran air  hidup.


Allahlah yang membawa manusia untuk beriman kepada Kristus tanpa perlu manusia-manusia itu melakukan sesuatu sehingga layak atau pantas mendapatkan anugerah keselamatan, karena itu bukan anugerah jika demikian. Tak ada yang dapat datang ke tempat Ia berada, itu sebuah kegelapan total pada manusia sementara   Yesus Kristus ada di hadapan mereka. Itu memerlukan tindakan Allah menyerahkannya ke dalam Yesus agar dapat percaya kepada Yesus sebagaimana kitab suci menuturkan siapakah dia.


Yesus adalah Imam Besar yang bertakhta di sorga, sekarang ini, di sebelah kanan Yang Maha Tinggi. Bagaimana bisa percaya? Orang tersebut membutuhkan Roh Kudus untuk menghantarkannya kepada Yesus yang kini bertakhta di sorga, bukan kepada Yesus karangan manusia, bukan pada  Yesus menurut filsafat-filsafat dunia ini. Kesalamatan berdasarkan kasih karunia bukan menjadikan manusia dapat bertindak  berdasarkan kemampuannya, tidak sama sekali. Manusia membutuhkan Roh Kudus sementara Ia  dalam perjalanan menuju sorga atau ke tempat di mana Yesus berada:

Yohanes 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.


Orang percaya seumur hidupnya di dunia ini tak dapat memimpin dirinya sendiri  untuk sampai kepada seluruh kebenaran-Nya. Ya.. sebagaimana Allah yang menyerahkan orang percaya untuk datang kepada Yesus dan mengikutnya, maka dalam kepengikutan orang percaya terhadapYesus, Roh Kudus yang memimpinnya. Inilah dasar keamanan keselamatan, yaitu hidup dalam kepemimpinan Roh Kudus. Sebagaimana Yesus dapat diandalkan dalam melaksanakan keselamatan di kayu salib bagi saya dan anda maka Roh Kudus pun sama andalnya dalam melaksanakan  tugasnya. Jangan pernah berpikir bahwa anda terlalu hebat atau terlalu kuat untuk dididik Allah. Sebagaimana anda tak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa maka anda sama tak berdayanya di dalam kehendak Allah yang menaklukan  kehendak-kehendak daging dirimu di sepanjang perjalanan menuju ke tempat di mana Yesus berada.


Di dunia ini, saat ini, pun tak ada kerelatifan dalam keselamatan kekal yang begitu tunggal di dalam Yesus Kristus, sebab Roh Kudus menghakimi relativitas kebenaran itu berdasarkan kebenaran tunggal dalam Yesus sendiri:

Yohanes 16:7-10 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;


Setiap orang Kristen sejati memiliki sebuah kebenaran  tunggal yang juga digemakan oleh Roh Kudus. Jikalau seorang mengaku Kristen tetapi melawan kehendak Roh Kudus itu maka jelas, ia adalah lawan bagi Roh Kudus itu sendiri dalam setiap sabda-Nya kepada dunia ini, di saat ini:

Yohanes 7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya;


Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan






P O P U L A R - "Last 7 days"