0 “Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya” (3Q-3g3)

Oleh: Martin Simamora



Bacalah lebih dulu bagian 3Q-3g2

“Pohon” Yesus Kristus sejak mula dalam pengajarannya di bukit, sudah menunjukan penghakiman beserta penghukumannya yang begitu tajam terhadap semua “pohon” kebenaran yang berasal dari dunia,  kesemuanya itu berasal dari  bawah dan, bagi Yesus, hanya dirinya dan pengajarannya yang berasal dari atas. Sang Kristus,dengan demikian, menyatakan bahwa dia adalah Tuan atas segala perkataannya, bahwa Ia adalah Tuhan atas segenap perkataannya -berkuasa untuk mengajar/memerintahkan apa yang dikatakannya sebagai yang secara sempurna ia sendiri menggenapinya, berkuasa untuk menghakiman segala apapun yang berada diluar dirinya dan menolak kebenarannya dalam cara yang sesantun sekalipun.

Dalam hal tersebut, kesempurnaan hukum atau kehendak Allah yang kudus tak lagi dijumpai dan terletak dalam huruf-huruf  hukum Taurat dan kitab-kitab nabi [Yohanes 5:39-40], tetapi pada diri  Yesus sebagai penggenap dan perkataan Yesus yang adalah hukum dan kehendak Allah kudus yang sempurna- perkataannya adalah firman yang tertulis itu sendiri [ Yohanes 5:46-47]. Sehingga,  firman  kehendak Allah yang sempurna dan kudus itu kini hadir atau menghadirkan dirinya dihadapan  para manusia sebagai Dia yang secara langsung bersabda. Sang Kudus dihadapan semua manusia yang berdosa. Inilah dia Sang Kristus kala hadir atau datang ke dunia ini, inilah dia adanya kala mengajar dan menghakiman segala sesuatu di dalam pengajarannya di bukit kala itu.


Kehadiran Allah, yang megah, di puncak gunung Sinai, sekarang terjadi kembali, tetapi tidak perlu ada yang mati seketika sehingga meregang nyawa karena mendekat kepada Allah [Keluaran 19:9-12] yang sedang meyabdakan segenap hukum dan segenap kehendak-Nya yang kudus berkat Sang Firman yang datang mengambil wujud manusia yang membungkus segenap kemuliaan-Nya dalam tubuh daging yang dirajut oleh Roh Kudus [Ibrani: 1:6,10:5; Mat 1:18; Luk 1:35] di dalam kandungan ibu-Nya, Maria.

Namun demikian, Sang Kristus sendiri telah menyampaikan penghakimannya dan vonis kematian yang telah dipastikannya terjadi, sebagaimana yang telah kita  pelajari. Penghakiman Yesus pada semua manusia: “hanya dirinya yang berkuasa menggenapi dalam  kesempurnaan hingga ”satu iota”-pun tak kan terlalaikan di sepanjang dunia dan alam semesta ini ada,” adalah penghadiran dan kehadiran kekudusan Allah yang tak dapat didekati oleh siapapun. Hanya saja, kini Allah sendiri datang mendekati manusia itu di dalam Yesus untuk menyatakan penghakiman manusia itu adalah kematian kekal atau “tidak dapat masuk ke dalam pintu kerajaan sorga.”


Sekarang semua mata harus tertuju kepada Yesus Sang penggenap sempurna dan kudus atas apa yang tak pernah bisa dan mampu untuk digenapi oleh manusia secara sempurna dan kudus. Apakah keunggulan Yesus yang begitu menjulang dan mutlak sehingga Ia berkata “Aku datang untuk menggenapi” dan kemudian ia malah menghakimi  “pohon” para ahli Taurat dan para orang Farisi, “pohon”  para nabi palsu, dan “pohon” kebenaran luhur dunia ini?? Perkataan Yesus berikut ini menjelaskannya dalam cara yang sangat kokoh: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya- Yoh 4:34.”


Kehidupan Kristus tak memerlukan komposisi dunia ini. Ia  tak memerlukan selingan; Ia tak memerlukan hiburan karena jenuh melulu soal Tuhan dan soal melakukan kehendak-Nya. Betapa kehidupan yang menjenuhkan, memuakan dan begitu asing jika kita melihat pada siapapun kehidupan seorang yang menyebutkan dirinya Kristen. Tidak! Ia tak perlu seperti itu sebab bagi Yesus, hal-hal semacam itu adalah makanan pembuka, makanan pokok,makanan penutup,hiburan, bersantai, dan bergembira. Semuanya serba “melakukan dan menyelesaikan” kehendak dan pekerjaan-Nya. Nampak jelas, Yesus memang memiliki apa yang tak dimiliki manusia manapun. Yesus hidup dengan hanya makan “melakukan” dan “menyelesaikan.” Sementara manusia, bagi manusia hal semacam itu terlampau mengada-ada untuk merupakan sebuah kebenaran, sementara bagi Yesus itu tak mengada-ada dan bahkan menyatakan dirinya memiliki makanan yang hanya ada padanya- satu-satunya yang mempunyai itu hanya dia:

Yohanes 4:30-34 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.


Yesus adalah jenis manusia yang begitu berbeda sekalipun ia datang dengan kemanusiaan yang sama sebagaimana manusia pada umumnya. Tubuh daging Yesus memiliki kebutuhan  atau kelaparan mendasar untuk mengunyah dan mencerna makanan yang berasal dari sorga, dan tidak ada yang terbuang atau menjadi sampah yang harus dikeluarkan oleh tubuh manusia, sebab makanan yang sedang dibicarakan oleh Yesus adalah melakukan dan menyelesaikan kehendak Bapa.


Ketika Ia berkata :

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya- Matius 5:17”



Maka yang sedang Yesus sampaikan:“inilah makananku.” Inilah kebutuhan dan kelaparan mendasarnya bahkan dalam ia mengenakan tubuh jasmani ini. Ini harus membuat perhatian setiap manusia bergeser secara tajam kepada Yesus, bergerak meninggalkan Kitab karena ia sedang membicarakan hukum Taurat sebagai yang begitu sempurna dan begitu melezatkan dan begitu menyehatkan atau membugarkan kehidupannya. Sementara bagi manusia, itu adalah perkara yang sukar, yang berat dan akan senantiasa gagal untuk menyelesaikannya, sebab tak pernah merupakan makanan satu-satunya! Yesus bukan saja melakukan apa yang disebut sebagai sentralitas keilahian atau ke-Allah-an ada pada dirinya dengan pengajaran atau deklarasi-deklarasi diri yang merupakan  hanya ada pada Allah saja, tetapi juga menunjukan bahwa sentralitas kehidupan dan tujuan kehidupannya ada pada apa yang dikehendaki Bapa. Namun sentralitas disini tidak boleh diperlakukan pada Yesus sebagai Ia berjuang untuk mengarahkan dirinya sedemikian rupa sebab ada pada bagian-bagian dirinya yang memberontak dan melawan kehendak Allah itu sehingga di dalam dirinya ada kehendak yang bercokol dan berbiak di dalam hati dan pikiran yang memberontak dan melawan apa yang seharusnya dilakukan. Tidak, karena Ia mengatakan “inilah makananku.”


“Inilah makananku”  diantaranya adalah “Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi.” Satu-satunya yang dapat berkata terkait relasi dirinya dengan segenap sabda Allah sebagai makanan, hanya Yesus!  Sebagai satu-satunya diantara manusia-manusia yang berkata “inilah makananku” Ia menghakimi dan memvonis.


Sehingga tak aneh jika kemudian Yesus pada pengajaran berikutnya  yang bernuansa memberikan makanan yang sayangnya tak dapat diterima oleh selera maka manusia dan apalagi untuk dihargai sebagai yang memang menentukan kekekalan manusia [jadi penghargaan pada Yesus bukan sekedar tidak melancarkan penentangan secara fisik yang mengancam jiwa, sekalipun menolak. Sekalipun sopan ,ternyata, kita akan melihatnya, Yesus memerintahkan penjatuhan penghakiman bahkan  terhadap kota si penolak] dalam sebuah pengajaran yang sangat tak lazim bagi telinga dan hasrat manusia.





Mari kita mendengarkan hal berikutnya, sabda pengajarannya:

Hal Yang Kudus dan Berharga:
Matius 7:6 Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.

Disini Yesus mengajarkan apa yang berharga bukanlah hal apapun yang berasal dari dunia ini tetapi apa yang berasal dari Allah dan yang hanya ada pada dan dibawa oleh Kristus ke dalam dunia ini. Apa yang begitu menggusarkan dan begitu terlarang adalah memberikannya kepada anjing dan babi. Kedua hewan ini secara umum memang dipandang  sebagai yang sangat direndahkan, terutama  dalam tindakan-tindakan rohani. Beberapa catatan di dalam Alkitab menunjukannya:

- Dalam  kasus Allah menjatuhkan tulah kepada bangsa Mesir. Mesir saat itu adalah lawan yang sedang dihukum:

Keluaran 11:7 Tetapi kepada siapa juga dari orang Israel, seekor anjingpun tidak akan berani menggonggong, baik kepada manusia maupun kepada binatang, supaya kamu mengetahui, bahwa TUHAN membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel.


-Dalam kasus Allah menetapkan   daging-daging ternak yang  mati karena diterkam bintang buas menjadi sangat terlarang dan tidak kudus, daging ternak yang demikian itu harus dilemparkan kepada anjing:

Keluaran 22:31 Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing."


-Anjing, hewan yang digunakan sebagai kata untuk menunjukan sebuah penghinaan dan perendahan yang sangat nista :

1 Samuel 17:43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.


2Samuel 3:8 Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: "Kepala anjing dari Yehudakah aku? Sampai sekarang aku masih menunjukkan kesetiaanku kepada keluarga Saul, ayahmu, kepada saudara-saudaranya dan kepada sahabat-sahabatnya, dan aku tidak membiarkan engkau jatuh ke tangan Daud, tetapi sekarang engkau menuduh aku berlaku salah dengan seorang perempuan?


2Samuel 9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"


2Samuel 16:9  Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: "Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya."


1Raja-Raja 21:19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu."


Mazmur 22:16  Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.

2Petrus 2:21-22 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."


Filipi 3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,



-Sementara hewan Babi [hutan] di dalam Alkitab menyimbolkan atau menunjuk pada ketidak-kudusan, sebagaimana pada anak domba menyimbolkan pengudusan. Ketidak-kudusan begitu terlarang untuk didekati apalagi untuk dinikmati dalam kehidupan ini:

Imamat 11:7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.


Ulangan 14:8 Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya. [bukan sekedar memakan dagingnya namun bahkan bangkainya, jika terkena saja, sudah cukup membuat seseorang begitu najisnya. Jadi ini bukan soal makan yang substansial]


Yesaya 66:3 Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka,[ sekali lagi, ini bukan soal makan memakannya, yang substansial. Sebab apa yang terlarang untuk dimakan pada hakikatnya menunjuk  atau menyimbolkan pada tindakan-tindakan manusia yang begitu menjijikan bagi Allah. Binatang-binatang ciptaan Allah ini {babi dan anjing), dengan demikian dibuat untuk maksud  menunjukan hal-hal yang menjijikan dan tidak kudus sehingga sangat terlarang untuk didekati dan apalagi dinikmati]


“Memberi” untuk anjing dan “melempar” untuk babi. Ini adalah 2 tindakan yang menggambarkan bagaimana manusia pada umumnya memberikan makan kepada 2 jenis hewan yang berbeda satu sama lain. Yang satu  dengan sebuah tata cara yang menunjukan sebuah kedekatan atau sebuah relasi yang lebih akrab: memberi-sebuah tindakan memberikan makanan dengan tangan dan mendekatinya. Sementara itu, pada yang satu lagi, dalam sebuah tata cara melempar- sebuah tindakan member makanan dengan tangan namun jelas bukan dalam cara mendekati sebagaimana jika “memberi”. Tentu saja  pada umumnya  relasi manusia terhadap 2 macam hewan ini memiliki semacam kasta relasi atau keintiman  yang begitu jauh, anjing sangat lazim disebut sebagai “sahabat terbaik manusia” karena memang demikian adanya hewan yang  cerdas dan memiliki pengenalan dan kesetiaan kepada tuannya. Tetapi, apa yang menarik disini dan menjadi sentral pengajaran Yesus di sini adalah pada apa yang diberikan.


Yesus berkata, sekalipun anjing dan babi digambarkan menerima perlakukan berbeda pada tindakan mengasupkan makanan, namun di sini, benda yang diberikan sungguh bernilai  mulia: “barang kudus” dan “mutiara.”


Sebagaimana  perendahan yang begitu nista pada anjing dan penajisan pada babi di dalam Alkitab, pada hakikatnya merupakan sebuah penunjukan atau penyimbolan pada yang tak kudus atau menjijikan bagi Allah, sehingga jika anda memang umat-Nya maka anda harus hidup didalam kehidupan Allah yang demikian, dalam memandang bahwa kekudusan tak boleh dicemari dengan berbagai kecemaran dunia. Maka pada Matius 7:6, anjing dan babi yang diberikan “mutiara” dan “barang kudus,” pun merupakan sebuah penyimbolan. “Anjing dan babi” menyimbolkan manusia-manusia yang dipenuhi berbagai kenajisan dunia ini dan dipandang sangat nista oleh Yesus [itu sebabnya Yesus menyimbolkannya dengan binatang-binatang yang ditetapkan Allah untuk menyimbolkan kenajisan atau ketakudusan]. Dan “barang yang kudus” dan “mutiara” dengan demikian menunjukan pada  jenis [makanan] yang kudus dan dari Allah. Dimiliki oleh para  murid Kristus.


Murid-murid Yesus  memiliki jenis makanan “barang yang kudus” dan “mutiara,” yang merupakan benda-benda bernilai mulia oleh karena diri benda itu sendiri memang “terlahir” sebagai mulia adanya atau dengan kata lain pada hakikatnya kudus dan mulia – pada hakikatnya sekalipun “barang mulia” itu ada didalam perut bumi dan ada di dalam lautan, tersembunyi dan terbungkus oleh alam, benda-benda itu sendiri tetap mulia adanya sekalipun untuk sementara waktu tak berkilau [ bandingkan hal ini dengan Ibrani 2:7,9; Ibrani 10:5] sebab masih terbungkus oleh materi alam. Ini adalah jenis makanan atau benda yang diberikan dan dilemparkan kepada binatang-binatang tadi, yang hanya ada pada Yesus saja, dan bukan merupakan makanan lahiriah manusia – manusia- [ yang semuanya begitu najis bagi Allah dan kenajisannya tak tertolongkan sebab semua manusia berdosa ini disimbolkan dengan anjing dan babi yang merupakan hewan-hewan ciptaan Tuhan dan telah ditetapkan Tuhan untuk menyimbolkan ketak-kudusan di bumi di hadapan-Nya]- yang dapat dicerna oleh kemampuan pencernaan manusia dan diserap oleh sistem metabolisme manusia, atau dengan kata lain apa yang diberikan oleh Allah kepada manusia, bukan sesuatu yang dapat diterima dan dihargai begitu tinggi sehingga yang ada di dalam genggaman tangannya hanya yang datang dari Allah dan dianugerahkan atau diberikan kepada manusia sebagai pemberian untuk diterima. Dan, tentu saja babi dan anjing di sini beserta pemberian mutiara dan barang kudus merupakan sebuah penggambaran situasi atau keadaan terkait manusia-manusia [hal yang tak aneh dalam alkitab menggunakan dunia hewan untuk penggambaran-penggambaran  dalam pengajaran atau sabda-sabdanya, misalkan saja:  “burung” di udara –Matius 6:26 yang menunjukan pada bagaimana manusia-manusia pengikut Kristus dapat belajar dari burung-burung di udara yang percaya sekali dengan pemeliharaan kehidupan oleh Bapa; “domba” – Yohanes 10:27  yang menunjuk bagaimana Ia menggambarkan murid-muridnya itu begitu dekat berelasi dengan dirinya sebagai Gembala atas para dombanya; “ular-ular beludak”- Matius 23:33 yang menunjuk pada manusia-manusia ahli Taurat dan orang Farisi uang sangat berbahaya; “Anak Domba”- Yohanes 1:29 yang menunjuk pada Yesus Kristus  datang untuk menjadi kurban dari Allah untuk menebus dosa manusia yang telah ditebus Bapa melalui kurban tunggal Yesus Kristus].


Sebagaimana anjing dan binatang apapun tak kan tertarik dengan benda-benda mulia semacam itu, sebab  binatang tak memiliki  kemampuan apresiatif yang bagaimanapun terhadap “mutiara” dan “barang kudus” adalah mulia dan berharga sangat mahal. Benda-benda mulia semacam itu bukan merupakan kegairahan bagi mereka, bukan merupakan hal yang bernilai dan mulia. Binatang-binatang memiliki benda-benda kemuliaannya tersendiri yang sangat berbeda bagi kehidupan manusia yang dapat mengapresiasi bahwa memang mutiara adalah benda mulia.


Pohon kebenaran Yesus sedang mengajarkan  bahwa manusia tak akan pernah oleh dirinya sendiri dan upaya yang dikerahkannya sendiri untuk kemudian memiliki kemampuan  alami yang bagaimanapun untuk dapat mengapresiasi hal-hal mulia dari Allah- sebuah pemberian yang mahal dari Allah [bandingkan dengan 1Petrus 1:18-19], sehingga oleh dirinya sendiri, oleh pendengarannya sendiri, dan oleh kemampuan akalinya dapat mendatangi [dapat mengenali bahwa Yesus yang merupakan pemberian Allah adalah mulia dan kudus – mutiara dan barang kudus dan mengambilnya menjadi kepunyaan yang begitu berharga dan luar biasa mahal untuk dimiliki]Yesus sebagaimana dikehendaki Bapa: didalam Kristus saja apa yang mulia dan kudus itu dimiliki. Inilah perihal terpokok yang Yesus sedang tunjukan dalam Matius 7:6, hal yang menjadi kehakikatan manusia terkait keselamatan itu, manusia mendapatkan keselamatannya dari dan berdasarkan tindakan kehendak Allah atas dirinya [Itu sebabnya terkait hal ini Yesus berkata itu adalah tindakan Allah sama sekali: Yoh 6:36-40, 65; Yoh 10:21-24; Ibrani 1:1-3; 1Petrus 1:10-12].


Mengapa hal ini tak terelakan, atau mengapa harus secara total bergantung pada Allah? Karena terkait kehendak Allah bagaimana keselamatan manusia harus terjadi di dalam dan hanya oleh Yesus Kristus, maka, manusia itu memiliki sebuah keadaan naturalnya tepat seperti halnya pada babi dan anjing [satu jenis hewan  yang dikenal sebagai nyaris pemakan  apa saja termasuk kotoran manusia, sementara satu lagi adalah hewan yang cerdas dan intuitif bahkan dapat dilatih sebagai bukan saja menjadi sahabat yang baik bagi manusia, tetapi menjadi bagian penting dalam peran-peran strategis kemanusiaan] yang memang buta walau matanya dapat melihat bahwa itu Mutiara dan memiliki hakikat nilai yang begitu mulia sehingga mengambilnya. Manusia tak memiliki kemampuan mengapresiasi dan mengambil baginya sendiri, mutiara kebenaran dan kehidupan dari sorga itu.


Demikianlah keadaan manusia-manusia itu digambarkan terkait “makanan yang ada pada Yesus itu.” Jika Yesus memberikan makanan yang hanya ada pada dirinya, maka itu bagaikan Yesus dan juga para murid sedang berhadapan dengan babi dan anjing.



Dengan Mutiara dan Barang Kudus itu adalah makanan atau pemberian yang hanya ada pada Yesus, lalu apakah jenisnya? Perhatikan penjelasan Yesus terkait makanan mulia yang tak boleh diberikan kepada babi dan anjing:

Yohanes 6:48-51,53  Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.


Perhatikan baik-baik. Tindakan memberi dan melemparkan pada anjing dan babi adalah penggambaran pemberian atau pemberitaan diri Yesus kepada manusia-manusia yang semuanya berada didalam pelukan maut [bandingkan dengan Ibrani 2:13-15]. Manusia-manusia itu bisa jadi,  begitu cerdasnya dan begitu baik dan hangat sehingga kala berelasi dengan manusia yang semacam ini dapat berlangsung begitu akrab dan dekat, namun sekalipun manusia itu cerdas dan berbudi luhur, pemberian mahal ini malah tidak menimbulkan  hasrat untuk menerima sebagai yang akan memuaskan selama-lamanya. Sebaliknya, akan diabaikan, tak dihargai dan malah, bahkan pada era Yesus  sendiri secara langsung sedang memberikan “mutiara” dan “barang kudus”-Nya sendiri, malah dipersengketakan dalam  penolakan keras. Perhatikan berikut ini:


Yohanes 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."

Yohanes 6:41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."

Yohanes 6:42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Marilah berdiam sejenak. Sebagaimana anjing dan babi tak dapat mengenali Mutiara dan Barang Mulia sebagai hal yang tak semestinya diinjak-injak dan tak semestinya menimbulkan serangan berbahaya kepada pemberinya, yang terjadi sebaliknya karena itu bukan apa yang dimaui, pun demikian pada semua manusia!


Mari berdiam sejenak. Sebagaimana anjing dan babi dapat mengamuk karena tak diberikan apa yang merupakan hasrat perutnya atau yang dapat menghapuskan  rasa lapar pada perutnya, namun diberikan Mutiara dan Barang mulia, maka pun demikian pada manusia, kala Yesus  memberikan roti yang begitu tidak roti: tubuh dagingnya sendiri. Bukankah ini menjijikan dan memuakan? Bagaimana bisa  membicarakan makanan yang dapat mengenyangkan selama-lamanya adalah dirinya sendiri:

Yohanes 6:35 "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Matius 7:6 bukan hendak mengatakan bahwa semua manusia yang tak mau percaya dengan Kristus adalah anjing-anjing dan babi-babi. Tidak demikian, sama sekali! Apa yang hendak ditunjukan oleh Yesus kepada para muridnya, begitulah adanya manusia terhadap kebenaran yang ada pada dirinya, yang disampaikannya, dan yang adalah dirinya sendiri! Situasi yang mengurung manusia kala memandang dan mendengarkan pengajaran Yesus sebagai kehendak Allah itu sendiri, tepat seperti yang dialami dunia binatang kala manusia memberikan Mutiara kepada hewan-hewan. Sekalipun mulia pasti diabaikan atau belaka diendus dan kemudian dibiarkan tergeletak  begitu saja dan diinjak-injak oleh kawanan para binatang yang ada di dunia ini.


Realita semacam ini , pada derajat  sempurna digambarkan di dalam Alkitab sebagai memang kekhasan substansial manusia   kala ia berdiri dihadapan Allah, tak kuasa untuk  mengenali diri Allah dan melakukan segenap kehendak-Nya:


Mazmur 73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.


Mazmur 49:18-21 Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya. Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.


Pengkhotbah 3:18 Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang."


Mengapa Yesus  memberikan solusi yang bersifat negatif  atas masalah yang tak tersembuhkan ini-mustahil diatasi, semustahil membuat masyarakat binatang secara keseluruhan dapat mengenali mutiara adalah mutira, sebagaimana masyarakat manusia pada umumnya!


Solusi negatif, sebab yang dilindungi adalah nilai kemuliaan “mutiara” dan keamanan para pemberi mutiara:
- supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya
- supaya  jangan ia berbalik mengoyak kamu


Tinggalkanlah/hentikanlah/janganlah paksakan pemberitaan  kepada mereka, sekali terlihat sebuah penolakan.


Situasi ini akan sangat jelas dipahami, dengan memperhatikan perintah-perintah Yesus  kepada para muridnya, yang semacam ini:

Matius 10:1-2,4-5 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, (4) Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. (5) Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."


Jika anda adalah murid-murid Kristus sejati maka anda  memiliki makanan sorga itu [melakukan kehendak Bapa di dalam kehidupan dunia dihadapan semua manusia], dan sangat penting anda mengetahui 2 hal ini:

►Pertama: setiap murid Kristus memiliki nilai kemuliaan yang harus anda jaga kemuliaannya, sebab itu bukan milikmu tetapi Kristus: “keluarlah dari kota.”


►Kedua: menolak diri seorang pemberita injil [yang sejati dan memiliki pertanggungjawaban yang berintegritas] adalah menolak utusan-utusan Yesus beserta kehendak-Nya dan itu mendatangkan penghukuman yang menantikan mereka


Para murid Yesus bukan sekedar representatif Yesus, namun ia sebagai pemberita Injil terhisap kedalam diri Yesus, turut memiliki nilai kemuliaan Yesus yang tak dikenali oleh dunia. Perhatikan hal berikut ini:

Lukas 10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."



Penolakan terhadap pemberitaan Injil dan pemberita injil, bukanlah perkara normatif, etiket, atau  bahkan sebuah problem hukum domestik “agama” Kristen saja, sebab dalam hal ini Yesus tidak sedang bicara soal regulasi domestik sebuah “cult,” tetapi sebuah kehendak Allah Pencipta Langit bumi ini. Perhatikan dengan sangat hati-hati kala Yesus menutup ketetapan terkait “Mutiara” ini dengan:

Barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku


Kini penolakan para manusia pada pemberita dan pemberitaan Injil Yesus Kristus yang telah disalibkan, mati, dan telah bangkit, dan telah naik ke sorga, kini menjadi sebuah penolakan terhadap kehendak Bapa yang kudus!


Itu sebabnya Yesus memberikan perintah “kebaskanlah debu  kota dari kakimu.” Penolakan seseorang dapat mendatangkan malapetak pada  kotanya!



Matius 7:6 dengan demikian pada hakikatnya merupakan sebuah penghakiman oleh Yesus terhadap semua  manusia  beserta kebenarannya sendiri. Sekaligus merupakan perintah kepada para muridnya untuk bukan saja melakukan penghakiman, tetapi mendatangkan dan menetapkan penghakiman  itu telah berlangsung pada saat itu juga: “kebaskanlah debunya dari kakimu.” Yesus melontarkan penghakiman dan vonis penghakiman pada siapa yang tidak menerima dirinya, dalam 2 cara yang menyebabkannya menjadi hukum yang berlaku di segenap penjuru dunia hingga kesudahan dunia ini. Perhatikanlah hal berikut ini:


Yohanes 8:24 Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu."


Yohanes 16:7-9  Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;


Jika situasi manusia itu begitu mematikannya, seperti  halnya binatang yang mustahil untuk diharapkan menghargai mutiara adalah mutiara-benda mulia, lalu, apakah lagi dasarnya bagi Yesus untuk datang kedalam dunia ini memberitakan dirinya adalah SUMBER KEHIDUPAN kekal yang harus dimakan-harus diterima sebagai  satu-satunya yang mulia di jagad semesta ini?


Jawaban atas masalah mustahil [bandingkalah perihal ini dengan Mat 19:20-22, 23-26] ini, ada di dalam sabda Yesus berikutini dan sekaligus  fondasi pengajaran Yesus, yang merupakan kehendak Allah sendiri yang disampaikan oleh Yesus kepada manusia:


Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.


Kemustahilan itu hanya dapat disudahi oleh Allah dengan sebuah tindakan yang hanya datang dari Allah dan hanya dapat berlangsung  atau terjadi di dalam dan oleh Yesus, untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai oleh Bapa: menyerahkan kepada dirinya.


Pola ini adalah pola tunggal dan berlangsung hingga kesudahan  atau keakhiran alam semesta yang jatuh kedalam dosa ini. Mengapa? Karena ini saja atau ini satu-satunya dasar bagi Yesus untuk membangkitkan semua orang yang keselamatannya dikerjakan oleh Bapa pada akhir zaman kelak! Untuk memberikan hidup baru  bersama Allah setelah kebangkitan untuk menerima kesempurnaan hidup bersama Yesus.


Ingat! Inilah satu-satunya ketentuan keselamatan dari Bapa yang melahirkan kebangkitan untuk menerima kehidupan kekal, bukan untuk menerima hukuman kekal!


Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen”(3Q-3g4):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”


AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN







The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross


[oleh seorang teolog yang saya lupa namanya]


P O P U L A R - "Last 7 days"