0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (3N)


“Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya”
Oleh: Martin Simamora


Bacalah lebih dulu bagian 3M

Perbuatan-perbuatan baik atau luhur atau penjunjungan relasi dan  persaudaran yang bermoral mulia sesama manusia, memang sebuah hal yang masih tetap dimiliki oleh manusia-manusia. Hati nurani yang masih bekerja didalam keberdosaan manusia, itulah menjadi pandu moralitas, sehingga di dalam dunia yang kian lama semakin pekat dengan kejahatan, hati nurani berjuang keras menahan laju  gerak berbagai hasrat jahat di dalam diri setiap manusia sehingga setiap manusia dan setiap masyarakat masih memiliki penghargaan, pengharapan dan kemauan untuk mempraktikan nilai-nilai luhur di dalam kehidupan mereka. Perhatikan hal berikut ini:

Roma 2:14-15 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela

Sehingga di dunia ini, pada orang-orang lain yang bahkan tak beriman kepada Yesus Kristus, tak pernah mendengarkan atau mengimani keutamaan-keutamaan iman dan kebenaran Kristen,tak perlu menjadi heran dan menjadi ditakjubkan, terdapat orang-orang yang  sangat berbudi pekerti luhur dan memiliki standard-standard dan praktik-praktik moral yang begitu hidup dan begitu menyejukan bagi manusia-manusia yang membutuhkan kasih sayang dan kemanusiaan yang menaungi, melindungi dan bahkan membentengi dari diskriminasi dan intimidasi yang mengancam eksistensi dan jiwa mereka. Hal ini terjadi oleh sebab: hukum Taurat – isinya- ada tertulis di dalam hati  dan  suara hati mereka. Realita semacam ini sangat mungkin  terjadi dan sudah menjadi kenyataan bahwa orang-orang yang mengaku Kristen, mengaku murid Kristus, mengaku telah diselamatkan dan mengaku pasti masuk sorga  bahkan berperilaku bukan saja lebih buruk namun brengsek. [Poin inilah yang menjadi sudut tajam bagi pendeta Dr. Erastus Sabdono untuk mengajarkan bahwa dengan demikian bahkan orang-orang  Kristen yang demikian-brengsek atau bahkan menjadi teladan bagi lingkungan sendiri gagal- tak kan pernah masuk sorga, apalagi sekedar dunia baru]

Namun demikian, disaat yang sama, harus diperhatikan bahwa hukum Taurat –isinya- yang tertulis didalam hati dan suara hati  pada orang-orang  dari bangsa lain yang tak beriman kepada Yesus Kristus, tidaklah memerintah dan berkuasa penuh didalam diri mereka, sebagai manusia-manusia yang murni atau steril dari hasrat-hasrat dosa. Itulah sebabnya digambarkan bahwa isi hukum Taurat yang bekerja didalam diri mereka bekerja didalam sebuah pertarungan pada internal dirinya sendiri:

-Saling menuduh
-Saling membela

Apa yang hendak ditunjukan oleh Paulus, kebenaran hukum Taurat atau moralitas-moralitas Allah itu tidak dapat diikuti atau dipatuhi dalam sebuah kemerdekaan untuk berkehendak sekalipun nurani, suara hati dan pikiran telah begitu tahu bahwa sebuah baik dan benar untuk dilakukan, sementara yang lainnya tidak baik dan benar untuk dilakukan. Ini satu catatan penting yang sama pentingnya untuk diperhatikan.

Apakah teks  firman, semacam ini, secara khusus menunjukan sebuah kebedaan yang begitu khusus yang memisahkan? Bahwa manusia-manusia yang tak pernah mendengarkan Injil atau menolak kebenaran Kristus, dengan demikian memiliki kebenarannya tersendiri tanpa Kristus, berdasarkan perbuatan-perbuatan baiknya, dan itu menjadi dasar penghakiman apakah masuk masuk ke dunia yang akan datang? Seperti  yang telah diajarkan pendeta Dr.Erastus Sabdono pada paragraph 20 Keselamatan Di Luar Kristen-03”:

Bagi orang yang tidak mengenal Injil atau tidak mendengar Injil dengan benar, perbuatan baik adalah ciri atau tanda seseorang memberi diri untuk diperkenan masuk dunia yang akan datang (Mat 25:31-46). Ini berarti mereka mendengar hati nurani mereka dan melakukan apa yang tertulis dalam hati nurani mereka, yaitu Torat Tuhan (Rom 2:12-15).

Apakah  pendeta Erastus sedang mengajarkan  hal ini sebagaimana yang  dimaksudkan atau diajarkan oleh Paulus?



Tidak Ada Yang Benar Dihadapan Allah Berdasarkan Melakukan Hukum Taurat

Faktanya, teks firman Roma 2:12-15 sama sekali bukan mengangkat sebuah kebedaan yang memisahkan dasar kebenaran  pada orang-orang beriman kepada Kristus dan yang tak beriman kepada Kristus. Mari kita lihat terlebih dahulu:

Roma 2:12-15 (12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.(13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. (14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.(15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.


Apakah faktanya? Perhatikan poin-poin berikut ini:
-Semua orang berdosa       
-Semua orang [tanpa hukum Taurat] binasa [tanpa hukum Taurat]
-Semua orang [dibawah hokum Taurat] dihakimi [oleh hukum Taurat]

Sama sekali tak ada pembedaan yang menunjukan pada bagaimana keselamatan dapat diperoleh, sebab pada dasarnya Roma 2:12-15 membicarakan KEBINASAAN SEMUA ORANG BERDOSA.

Bahkan bagi bangsa Israel yang memiliki hukum Taurat, tak membuat keistimewaan itu lantas membuat mereka kebal atau steril dari sebuah vonis yang mematikan: orang berdosa. Sebuah vonis legal yang membuat Israel tak berbeda sama sekali dengan orang-orang yang tak memiliki hukum Taurat kala mereka berdosa. Mengapa? Karena, hukum Taurat memiliki sebuah tuntutan yang harus dipenuhi: “yang melakukan hukum Taurat, yang akan dibenarkan.”

Hukum Taurat bukan sekedar untuk dimiliki dan bukan untuk sekedar diperdengarkan namun harus dilakukan atau menjadi hidup atau memerintah atau berkuasa atas segenap kehidupan mereka.

Terkait bangsa-bangsa lain yang tak memiliki hukum Taurat, dinyatakan oleh Paulus, bilamana oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka itu menunjukan isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati dan pikiran mereka. Ada 2 hal yang yang sangat luar biasa dalam hal ini:

1.Sekalipun Israel adalah penerima dokumen moralitas manusia yang dikehendaki Allah, pada bangsa-bangsa lain, Allah yang sama juga menjadi sumber moralitas bagi mereka, walau dalam cara yang sangat jauh [tak memiliki hubungan berdasarkan perjanjian oleh Allah  dengan Allah bagi mereka]. Tak ada selain Allah yang dapat menuliskan hukum-hukum moralitas itu di dalam hati dan pikiran bangsa-bangsa yang tersebar di bola bumi, jika bukan Dia.

2.Bangsa-bangsa lain dengan demikian, bilamana ia melakukan isi hukum Taurat, maka memiliki kesamaan dengan Israel pada dasar kebenaran dihadapan Allah: yang melakukan isi hukum Taurat, yang akan dibenarkan.“ Jadi penghakiman berdasarkan pada apakah melakukan  isi hukum Taurat. 

Sekarang,malahan, bangsa-bangsa lain yang pada hati dan pikirannya memiliki kerja isi hukum Taurat, malah hidup dan matinya sangat ditentukan oleh tuntutan yang bersumber dari  hukum Taurat itu sendiri. Pada poin ini, rasul Paulus sedang menunjukan hukum Taurat otentik diberikan kepada Musa, memang benar hanya bagi Musa, sehingga merupakan kekhususan, namun sekaligus keuniversalan sebab Allah dalam cara yang sangat jauh menuliskan kandungan dan tuntutan hukum Taurat itu di dalam hati dan pikiran mereka. Hati dan pikiran bangsa-bangsa lain memiliki moralitas ilahi didalam diri mereka sehingga pada setiap bangsa akan ditemukan moralitas atau kebijakan-kebijakan lokal yang menakjubkan, sebab Allahlah yang menjadi sumbernya. Inilah dasar paling fundamental untuk berlangsungnya penghakiman akhir atas segala bangsa berdasarkan kebenaran yang bersumber pada hukum Taurat.


Keistimewaan Israel pada dasarnya dimaksudkan agar apa yang dimiliki dalam  keontentikan dapat juga diajarkan kepada bangsa-bangsa lain yang untuk sementara waktu telah memiliki moralitas ilahi yang  jauh didalam diri mereka. Keistimewaan  menerima hukum moralitas ilahi agar  semua bangsa pun menerima dan hidup berdasarkan moralitas ilahi tersebut. Perhatikan hal yang ditunjukan oleh rasul Paulus berikut ini:

Roma 2:17-24 (17)Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah,(18) dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak,(19) dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,(20) pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.(21) Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?(22) Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?(23) Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?(24) Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."

Perhatikan seksama! Israel  itu: bersandar  kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, tahu akan kehendak-Nya, diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, sehingga menjadi dasar yang kokoh untuk mengajarkan orang-orang lain atau bangsa-bangsa lain.

Mengapakah, jika telah dikatakan pada bangsa-bangsa lain pun isi hukum Taurat ada terdapat di dalam hati dan pikiran mereka, masih perlu diajarkan hukum Taurat otentik? Maka jawabnya: karena dalam hukum Taurat terdapat kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.


Apakah maksudnya dengan  kegenapan segala kepandaian dan kebenaran? Kegenapan kebenaran? Apakah itu? Penjelasan Yesus terhadap kitab-kitab Musa sunguh sangat vital:
Yohanes 5:39-40;46 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.

Hukum Taurat yang diterima oleh Musa adalah sumber kebenaran moralitas, dan orang-orang Israel diajar dan dididik berdasarkan segala perintah dan hukum dan sabda Allah yang dapat mereka temukan dalam Kitab-Kitab Musa [dan juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab nabi dan Mazmur]. Israel memiliki hal ini, sementara itu, bangsa-bangsa lain tidak memilikinya.


Sehingga  hukum Taurat pada dasarnya bukan sekedar  didikan dan ajaran moralitas, tetapi mengetahui kehendak Allah. Mengetahui kehendak Allah berarti memiliki relasi dengan Allah yang memberikan hukum dan menjadi pemimpin dan penuntun bagi Israel. Moralitas dengan demikian bukan koin emas hukum Taurat, namun mengenal Allah dengan segala kehendak-Nya sehingga melakukannya berdasarkan pengenalan atau relasi atau hubungan yang penuh dengan percaya atau iman.

Apa yang membuat Israel gagal memenuhi tuntutan hukum Taurat pun disebabkan mereka melakukannya tanpa sebuah pengenalan akan kehendak Tuhan, sebab mereka hanya sekedar mengajar, sekedar berkata, sekedar merasa jijik terhadap dosa namun miskin tindakan yang selaras dengan apa yang diajarkan, dengan apa yang dikatakan, dan dengan apa yang dinilai sebagai menjijikan. Mereka tak memiliki sebuah relasi yang ,merasuki kehidupan mereka, tetapi sekedar legalistik.  Hidup bersama hukum, bukan bersama dengan Allah yang telah menjadi sumber moralitas itu.

Apa yang tak dapat dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, dengan demikian, adalah KEGENAPAN KEBENARAN DAN KEPANDAIAN. Mereka dengan demikian tak memiliki kabar baik keselamatan yang akan datang dari Allah kelak. Hanya kebenaran-kebenaran moralitas dan tanpa janji Mesianik yang merupakan kandungan dalam pengajaran Musa:

Lukas 24:26-27 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Kita baru saja melihat 3 hal teramat agung:
1.Universalitas kebenaran berdasarkan hukum Taurat bagi segala bangsa

2.Penghakiman  berdasarkan hukum Taurat, bukan saja bagi Israel tetapi juga bagi bangsa lain

3.Kabar baik atau Injil dalam Kitab-Kitab Musa, dengan demikian, juga ditujukan bagi bangsa-bangsa lain

Di sini, memang jelas bahwa penghakiman berdasarkan perbuatan baik pasti berlangsung. Bangsa-bangsa lain pun, sekalipun tidak berada dalam jangkauan fisik hukum Taurat pasti tak dapat mengelak kala Ia pun dihakimi berdasarkan kebenaran yang senilai dengan kehendak dan maksud Allah di dalam kitab-kitab Musa. Dan itu termasuk pada keselamatan hanya melalui  Yesus Kristus, dengan demikian.

Namun, sekali lagi, apakah dengan demikian, jika bangsa-bangsa lain itu pada akhirnya sama sekali menolak  kabar baik  atau bahkan tak pernah sama sekali mendengarkan Injil memiliki dasar kebenaran yang dapat membawanya, setidak-tidaknya, masuk ke dalam dunia baru sebagai masyarakat kerajaan Allah?

Melanjutkan pembacaan Roma ini, maka anda akan menemukan  fakta ini:”

Roma 3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Apakah tidak ada di sini menunjuk pada semua manusia di bola bumi ini? Maka jawabannya ya? Tetapi apakah dasar hukumnya untuk menyatakan semua orang tidak ada yang benar? Jelas, berdasarkan hukum-hukum Allah. Bukankah, hanya Israel saja yang memiliki dasar hukum itu? Benar, namun tadi telah ditunjukan bahwa isi hukum Taurat dapat bekerja pada diri orang-orang bangsa lain dalam hati dan pikirannya, dan itulah dasar legal penghakimannya. Bagaimana jika sama sekali tak ada? Paulus menunjukan, jika demikian yang terjadi pada bangsa-bangsa lain, maka mereka akan binasa tanpa hukum Taurat [Roma 2:12].

Hal- hal termegahnya adalah:
-Allah adalah sumber moralitas bagi manusia berdosa

-Allah adalah sumber hukum bagi manusia berdosa

-Manusia tak memiliki sumber moralitas dan hukum pada dirinya sendiri untuk bahkan menyelamatkannya dari kehancuran peradaban dirinya sendiri sebagai konsekuensi nurani dan pikiran yang tak memiliki natur moralitas yang dapat mengendalikan kejahatan-kejahatan manusia [ perang, konflik, kebencian, kriminalitas, dan lain-lain].

-Manusia sepenuhnya bergantung pada Allah, mulai dari perkara moralitas diri hingga mengenal apakah kehendak Allah yang harus dilakukan,

-Apa yang dituntut Allah bukan sekedar menjadi manusia yang bermoral baik dan murni, tetapi mengenal kehendak Allah, sebagaimana dikatakan tadi, dalam hokum Taurat terdapat kegenapan kebenaran dan kepandaian.


Sehingga ada 2 hal istimewa terkait “tidak ada  yang benar, seorang pun tidak”:

(1)Fakta tak ada  satu manusia yang benar merupakan realita yang telah dituliskan oleh Allah sendiri : “seperti ada tertulis,” merupakan realita global dimana dasar penghakimannya berdasarkan moralitas Allah dan apakah melakukan kehendak Allah atas seluruh manusia, sebab kebenara hukum Taurat juga menjangkau hati dan pikiran orang-orang bangsa lain. 

Bandingkan dengan ini:

Mazmur 14:1 "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.

Mazmur 14:2 TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.

Mazmur 14:3 Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

Mazmur 53:1  Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah!" Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.

Mazmur 53:2 Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.

Mazmur 53:3 Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.


(2)Pernyataan “tidak ada yang benarditujukan baik untuk  bangsa-bangsa lain yang tak memiliki Taurat namun oleh dorongan dirinya sendiri melakukan apa yang dituntut dalam isi hukum Taurat, dan juga kepada orang-orang Yahudi itu sendiri sebagai penerima hukum Taurat. Penghakiman ini didasarkan pada moralitas hukum Taurat baik pada Israel dan bangsa-bangsa lain yang hati dan pikirannya memiliki isi hukum Taurat itu.

Sehingga Roma 2:12-15 sama sekali tidak menunjukan adanya  kebenaran dihadapan Allah pada orang-orang bukan Israel, sebaliknya berdasarkan tuntutan hukum Taurat yang sama: yang melakukan hukum Taurat, yang akan dibenarkan, itulah dasarnya. Perhatikan berikut ini:

Yakobus 2:10-11 (10)Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.(11) Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.

Jika hati dan pikiran seorang bangsa lain memiliki, misalkan, 3 kebenaran moralitas Allah maka ia harus melakukan semuanya tanpa ada satu  di antaranya yang gagal, jika salah satu gagal walau yang lain ia “berprestasi” pada moralitas-moralitas lainnya, tetap dikatakan sebagai pelanggar hukum juga.  Kerja hukum Allah yang demikian membuat seorang berbudi pekerti luhur dapat tak ada bedanya dengan seorang pembunuh berantai, dalam pandangan dan standard Allah. Inilah moralitas Allah yang sebetulnya melampaui moralitas belaka sebab tak ada pembedaan yang bagaimanapun. Demikianlah yang dimaksud yang melakukan hukum Taurat, yang dibenarkan.


Sehingga,  pernyataan  firman yang begitu tajam dan dapat menyinggung orang-orang bermoral, yaitu: “tidak ada yang benar, seorang pun tidak,” memang bekerja melampaui kerja moralitas manusia. Apalagi  kalau pengharapan kebenaran berdasarkan hukum Taurat itu pada moralitas-moralitas Allah yang telah dikemilaukan Kristus hingga pada puncak kemuliaan moralitas itu:

Matius 5:21-22 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. [Bacalah “tinjauan bagian 1A” dan “tinjauan bagian 1G”]

Maka memang secara alamiah, kerja hukum Taurat yang menuntut pelaksanaan secara total pada semua lini moralitas yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh manusia, maka hasilnya hanya menunjukan keberdosaan demi keberdosaan manusia. Tak pernah ada manusia yang berkata secara lantang: saya manusia tanpa kelemahan, atau, saya manusia yang hanya memiliki sisi kuat saja, tak ada sisi lemahnya, itulah manusia. Sebaik-baiknya manusia dan seteladan-teladannya manusia, ia memiliki zona-zona  rapuhnya. Sementara hukum Taurat tidak memiliki toleransi atau adaptasi yang bagaimanapun terhadap keadaan manusia ini. Hukum Taurat dengan demikian begitu sempurna mengekspos keberdosaan dan ketakberdayaan manusia untuk membangun kebenaran dihadapan Allah bahkan dalam kegigihan yang bagaimanapun juga.

Perhatikan berikut ini:
Roma 3:20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.


Roma 5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak


Roma 7:13 Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

Hukum Taurat pada prinsipnya hendak menyingkapkan realita semua manusia: orang-orang Israel dan semua orang dari berbagai bangsa lainnya yang  berada didalam perbelengguan dosa:

Roma 7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

Hukum Taurat yang tidak menoleransi hakikat manusia yang tak sempurna dan tak bersifat rohani, pada akhirnya menyingkapkan mengapa hukum Taurat yang rohani dan baik itu malah mendatangkan kekelaman bagi diri manusia itu. Mendatangkan kekelaman karena konsekuensi tak dapat memenuhi “dibenarkan karena melakukan.”

Problem terbesar dan tak terpecahkan pada manusia untuk memenuhi tuntutan moralitas Allah adalah ini:

Roma 7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

Paulus secara jitu menunjukan apakah maksud “terjual di bawah kuasa dosa” bahwa sekalipun aku ini memang memiliki kehendak namun realitanya tak pernah kehendak di dalam diriku  menang bagi kehendak Allah, yaitu melakukan  tuntutan-tuntutan hukum kudus Allah.

Kala, misalkan, aku tak berzinah, maka pada lini lain dosa telah kuperbuat tak peduli setersembunyi apapun didalam hati dan pikiran. Padahal satu saja gagal dipenuhi maka telah menjadikan aku seorang pelanggar.


Manusia memiliki kehendak namun tak merdeka, sebab pada dasarnya manusia telah terjual dibawah kuasa dosa.


Sehingga dengan demikian, perbuatan baik bukan sebuah solusi untuk melepaskan diri dari kuasa dosa. Jika perbuatan baik itu sangat bergantung pada kehendak manusia dan kemampuan manusia untuk mewujudkan kehendak itu eksis sebagaimana dikehendaki, maka sungguh celaka.  Dua hal menjadi masalah: pertama: kehendak manusia tak dapat melayani kehendak Allah agar terwujud melalui perbuatan-perbuatan yang melayani Allah, dan kedua: kehendak manusia itu harus bekerja dalam tindakan-tindakan yang melayani dan menggenapi hukum-hukum Allah tanpa ada satupun yang terabaikan!


Pada keseluruhan dan pada setiap bagiannya, epistel Roma, tak pernah sama sekali menyatakan bahwa orang-orang yang tak beriman kepada Kristus maka perbuatan baik menjadi ciri atau tanda memberi diri agar diperkenan  masuk ke dunia yang akan datang, sebagaimana diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono, bukan saja melenceng atau menyimpang; bukan saja menyesatkan diukur berdasarkan pengajaran rasul Paulus yang dikutipnya, namun secara fundamental  membengkokkan fondasi iman Kristen itu sendiri:

Roma 3:20-25 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Tidak seorangpun, siapakah mereka? Jelas semua tanpa pengecualian! Baik yang beriman kepada Kristus dan yang tak beriman kepada Kristus tak dapat dibenarkan karena melakukan perbuatan-perbuatan baik? Mengapa? Sudah dijelaskan bahwa: (1)kebenaran taurat bersifat totalitas tanpa ada satu saja yang diabaikan, dan (2)kehendak manusia yang berada didalam perbudakan dosa, membuatnya mustahil untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam sebuah totalitas-tanpa ada satupun yang  terabaikan [=tak berbuat dosa sama sekali, dengan demikian].


Perbuatan-perbuatan baik, dengan demikian bukanlah jalan menuju kebenaran dihadapan Allah sehingga diperkenankan masuk ke dalam dunia yang baru. Dalam kebenaran berdasarkan iman kepada Yesus Kristus, perbuatan-perbuatan baik itu sendiri adalah sebuah kehidupan yang dihasilkan dari keberimanan pada Kristus yang diwujudkan oleh orang-orang beriman  melalui kehendaknya yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatannya yang memuliakan Tuhan. Jadi dalam keberimanan ada sebuah relasi tak terputuskan dengan kehendak manusia beriman untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik; dalam keselamatan berdasarkan iman, kehidupannya akan membuahkan ketaatan kepada Allah berdasarkan pengenalan dan kasih kepada Allah. Perhatikan hal berikut ini:

Roma 6:1-2 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?


Roma 6:6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.


Roma 6:8-9 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.


Roma 6:11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.


Roma 6:12 -14Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Roma 6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

Ketika pendeta Dr. Erastus Sabdono merendahkan Kristus sebagai satu-satunya solusi bagi manusia berdosa, maka dapat dipahami Ia berhenti untuk melakukan pemberitaan Injil Kristus. Kristus tak lagi penting dan sentral. Sebaliknya Ia melakukan reduksi yang sangat berbahaya dengan mengatakan bahwa “orang-orang tak beriman kepada Kristus memiliki ciri perbuatan baik pada dirinya sebagai tanda  memberikan diri diperkenan masuk ke dalam dunia baru.


Jiwa pengajaran yang mengesampingkan pemberitaan Injil kepada mereka yang belum pernah sama sekali mendengarkan Injil dengan demikian turut menyeruak sebagai sebuah konsekuensi pengajaran yang merendahkan Yesus sebagai sumber pembebasan dari perbudakan dosa.


Apakah ada  manusia-manusia yang tak terbelenggu dalam kuasa dosa? Hanya jika takterbelunggu kuasa dosa saja maka  manusia tak memerlukan Yesus. Sehingga ini adalah kondisi universal sebagaimana  hukum Taurat telah menunjukan keberdosaan pada semua manusia tanpa pengecualian kebangsaan atau apapun juga, maka Yesus yang dikandung di dalam kitab-kitab Musa adalah solusi universal bagi dunia ini. Tak ada jalan selain beriman kepada Yesus Kristus.


Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (3”O”):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN




The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross

[oleh seorang teolog yang saya lupa namanya]


P O P U L A R - "Last 7 days"